Jawaban Uts Komnet 1 Dan 2

Oleh Mugiarti Mugiarti

15 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Uts Komnet 1 Dan 2

JAWABAN UTS
Nama

: Mugiarti

NIM

: 14111610034

Kelas

: Biologi A/7

Mata Kulia

: KOMNET

Dosen

: Ipin Arifin M.Pd

Jawaban
1. Model ADDIE adalah salah satu model desain sistem pembelajaran yang memperlihatkan
tahapan-tahapan dasar sistem pembelajaran yang sederhana dan mudah dipelajari. Model ini
terdiri dari lima fase atau tahap utama, yaitu:
a.

Analysis / Analisis
Analisis merupakan langkah pertama dari model desain sistem pembelajaran ADDIE.
Langkah analisis melalui dua tahap yaitu :


Analisis Kinerja
Analisis Kinerja dilakukan untuk mengetahui dan mengklarifikasi apakah masalah
kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program
pembelajaran atau perbaikan manajemen. Contoh: Kurangnya pengetahuan dan
ketrampilan menyebabkan rendahnya kinerja individu dalam organisasi atau
perusahaan, hal ini diperlukan solusi berupa penyelenggaraan program
pembelajaran. dua pertanyaan kunci yang yang harus dicari jawabannya, yaitu :
a)

Apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, dibutuhkan oleh siswa?

b) Apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, dapat dicapai oleh siswa?


Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan untuk menentukan
kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari oleh siswa untuk
meningkatkan kinerja atau prestasi belajar. Hal ini dapat dilakukan apabila
program pembelajaran dianggap sebagai solusi dari masalah pembelajaran yang
sedang dihadapi.

Jika hasil analisis data yang telah dikumpulkan mengarah kepada pembelajaran sebagai
solusi untuk mengatasi masalah pembelajaran yang sedang dihadapi, selanjutnya
perancang program pembelajaran melakukan analisis kebutuhan dengan cara menjawab
beberapa pertanyaan lagi. Pertanyaannya sebagai berikut :
a) Bagaimana karakteristik siswa yang akan mengikuti program pembelajaran? (learner
analysis )
b) Pengetahuan dan ketrampilan seperti apa yang telah dimiliki oleh siswa?(pre-requisite
skills)
c) Kemampuan atau kompetensi apa yang perlu dimiliki oleh siswa? (task atau goal
analysis)
d) Apa indikator atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan bahwa siswa
telah mencapai kompetensi yang telah ditentukan setelah melakukan pembelajaran?
(evaluation and assessment)
e) Kondisi seperti apa yang diperlukan oleh siswa agar dapat memperlihatkan
kompetensi yang telah dipelajari? (setting or condition analysis)
b.

Design / Desain
Desain merupakan langkah kedua dari model desain sistem pembelajaran ADDIE.
Langkah ini merupakan Inti dari langkah analisis krn mempelajari masalah kemudian
menemukan alternatif solusinya yang berhasil diidentifikasi melalui langkah analisis
kebutuhan dan Langkah penting yang perlu dilakukan untuk, menentukan pengalaman
belajar yang perlu dimilki oleh siswa selama mengikuti aktivitas pembelajaran. Serta
langkah yang dapat mengatasi masalah kesenjangan kemampuan siswa.
Kesenjangan kemampuan disini adalah perbedaan kemampuan yang dimilki siswa
dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki siswa. Misalnya siswa tidak dapat
mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan setelah mengikuti proses pebelajaran.
Pada langkah ini perancang perlu memperhatikan kemampuan dan kompetensi khusu
yang dimiliki siswa, indicator untuk mengukur keberhasilan siswa mencapai tujuan yang
diinginkan, dan bahan ajar yang dapat mendukung proses pembelajaran tersebut.

c.

Development / Pengembangan
Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat, membeli, dan memodifikasi bahan
ajar. Dengan kata lain mencakup kegiatan memilih, menentukan metode, media serta

strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam menyampaikan materi atau
substansi program. Dalam melakukan langkah pengembangan, ada dua tujuan penting
yang perlu dicapai. Antara lain adalah :
a) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya.
b) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran.
d.

Implementation / Implementasi
Tujuan utama dari langkah Implementasi ini antara lain :




Membimbing siswa untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
Menjamin terjadinya pemecahan masalah / solusi untuk mengatasi kesenjangan
hasil belajar yang dihadapi oleh siswa.
Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, siswa perlu memilki
kompetensi – pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - yang diperlukan.

Dalam langkah keempat ini perancang harus memikirkan tentang bagaimana metode
pembelajaran yang efektif untuk digunkan dalam proses belajar dan strategi apa yang
diterapkan agar mampu menarik minat siswa dalam pembelajaran materi tersebut.
e.

Evaluation / Evaluasi
Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap program
pembelajaran. Evaluasi terhadap program pembelajaran bertujuan untuk mengetahui
beberapa hal, yaitu : Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari keikutsertaan
dalam program pembelajaran. Dan keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat
adanya peningkatan kompetensi siswa setelah mengikuti program pembelajaran.

Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Model ini terdiri atas
enam langkah kegiatan yaitu:
-

Analyze Learners

Dalam langkah ini, pembuatan media yang akan digunakan dalam pembalajaran harus
disesuaikan dengan ciri-ciri belajar siswanya. 3 hal penting yang dapat digunakan untuk
mengenali ciri belajar siswanya yakni berdasarkan ciri-ciri umum, keterampilan awal
khusus dan gaya belajar.
-

States Objectives
Langkah kedua dari model ASSURE adalah menetapkan tujuan pembelajaran.
Objectives adalah sebuah pernyataan tentang apa yang akan dicapai, bukan bagaimana
untuk mencapai. Pernyataan tujuan harus spesifik.

-

Select Methods, Media, and Material
Langkah ini merupakan langkah dimana pemilihan metode, media dan bahan ajar yang
harus sama atau dapat mendukung satu sama lain sehingga proses pembelajaran tersebut
dapat berlangsung secara sistematis

-

Utilize Media and materials
Langkah berikutnya adalah penggunaan media dan bahan ajar oleh siswa dan guru.
Media yang sudah dipilih harus diterapkan dalam pembelajaran sesuai dengan metode
atau strategi belajarnya. Setelah itu guru menyiapkan bahan ajar yang sudah dibuat
sebelumnya berdasarkan kondisi siswa dan lingkungan yang ada. Bahan ajar yang
disiapkan sebelumnya antara lain materi pembelajaran, RPP dan tugas-tugas yang akan
dikerjakan oleh siswa.

-

Require Learner Participation
Partisipasi berisi kegiatan siswa dalam pembelajaran di dalam kelas diawali dengan
kesiapan siswa untuk belajar. Berirsi tentang bagian dari proses belajar mengajar itu
berlangsung. Contohnya adalah mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti dan akhir
kegaiatan dalam pembelajaran. Diharapkan dalam proses pembelajaran tersebut terdapat
partisipasi siswa dalam bentuk apapun misalnya memberikan pendapat, menanyakan
sesuatu yang tidak dimengerti. Untuk itu, pemilihan media dan strategi yang tepatpun
akan berpengaruh.

-

Evaluate and Revise
Komponen terakhir model ASSURE untuk pembelajaran yang efektif adalah evaluasi
dan revisi.

a. Mengukur prestasi siswa. Penilaian terhadap siswa dilakukan oleh guru mulai dari
awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran.
b. Mengevaluasi media dan metode. Untuk mengevaluasi metode dan media
pembelajaran bisa digunakan diskusi kelas, wawancara perorangan dan pengamatan
perilaku siswa. Mengevaluasi media dilakukan pada akhir pembelajaran untuk
melihat ketercapaian pesan untuk memantapkan pengetahuan siswa.
Model Kemp pengembangan perangkat merupakan suatu lingkaran yang berkelanjutan.
Namun karena kurikulum yang berlaku secara nasional di Indonesia berorientasi pada
tujuan, maka seyogyanya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan. Dalam desain yang
dikembangkan oleh kemp, tujuan pembelajaran bukanlah hal pertama yang harus ditentukan
ketika menyusun perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dikembangkan
mulai dari identifikasi masalah pembelajaran, kemudian dilakukan analisis karakteristik
siswa, analisis tugas, dilakukan penyusunan tujuan pembelajaran, pengurutan isi materi,
pemilihan strategi pembelajaran yang tepat, membuat desain pesan, mengembangkan
pembelajaran, dan terakhir adalah mengevaluasi instrumen. Keseluruhan proses tersebut
harus dilakukan evaluasi. Proses evaluasi kemudian dijadikan dasar sebagai proses revisi
atau perbaikan. Berbagai proses tersebut juga membutuhkan layanan pendukung dan
implementasi dari manajemen proyek.
Langkah-langkah pengembangan desain pembelajaran model Kemp, terdiri dari delapan
langkah, yakni:

a. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau kompetensi dasar, yaitu tujuan
umum yang ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok bahhasan.

b. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain
untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa
memungkinkan untuk mengikuti program, serta langkah-langkah apa yang perlu
diambil.

c. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional dan terukur (dalam
KTSP adalah indikator). Dengan demikian siswa akan tahu apa yang harus
dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa ia telah berhasil.

Bagi guru, rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan/keberhasilan
dan pemilihan materi/bahan belajar yang sesuai.

d. Menentukan materi/bahan ajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus
(indikator) yang telah dirumuskan. Masalah yang sering dihadapi guru-guru adalah
begitu banyaknya materi pelajaran yang harus diajarkan dengan waktu yang terbatas.
Demikian juga, timbul kesulitan dalam mengorganisasikan materi/bahan ajar yang
akan disajikan kepada para siswa. Dalam hal ini diperlukan ketepatan guru dalam
memilih dan memilah sumber belajar, materi, media, dan prosedur pembelajaran
yang akan digunakan.

e. Menetapkan penjajagan atau tes awal (pressessment). Ini diperlukan untuk
mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa dalam memenuhi prasyarat belajar
yang dituntut untuk mengikuti program pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Dengan demikian, guru dapat memilih materi yang diperlukan tanpa harus
menyajikan yang tidak perlu, sehingga siswa tidak menjadi bosan.

f. Menetukan strategi belajar mengajar, media dan sumber belajar. Kreteria umum
untuk pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksiomal
khusus (indikator) tersebut, adalah efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan,
melalui suatu analisis alternatif.

g. Mengoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan, meliputi biaya, fasilias,
peralatan, waktu dan tenaga.

h. Mengadakan evaluasi. Evaluasi ini sangat perlu untuk mengontrol dan mengkaji
keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu siswa, program pembelajaran, alat
evaluasi (tes), dan metode/strategi yang digunakan.
Model Pembelajaran Hanafin & Peck. Model Hanafin dan Peck merupakan salah satu dari
banyak model desain pembelajaran yang berorietasi produk. Model berorientasi produk
adalah model desain pembelajaran utuk menghasilkan suatu produk, biasanya media
pembelajaran. Menurut Hanafin dan Peck merupakan model desain pembelajaran terdiri dari
tiga fase yaitu Need Assessment (Fase Analisis Keperluan), Design (Fase Desain), dan
Develop/Implement (Fase Pengembangan dan Implementasi). Dalam model ini disetiap fase
akan dilakukan penilaian dan pengulangan.

1. Need Assessment. Analisis kebutuhan merupakan sebuah proses yang didefinisikan

sebagai sebuah kebutuhan pendidikan dan ditentukan sesuai dengan prioritasnya. Jadi
pada intinya, proses ini merupakan proses untuk menentukan hal utama dari apa yang
dibutuhkan dalam pendidikan.
2. fase desain (Design). Hanafin dan Peck menyatakan fase desain bertujuan untuk

mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaidah yang paling baik untuk mencapai
tujuan pembuatan media tersebut. Dokumen tersebut dapat berupa story board. Jadi,
hasil dari need assessment kemudian dituangkan ke dalam sebuah papan dan caranya
dengan mengikuti aktifitas yang sudah dianalisis dalam need assessment sebelumnya.
Dokumen ini nantiya akan memudahkan kita dalam menentukan tujuan pembuatan
media pembelajaran, karena merupakan sebuah papan. Dalam fase kedua ini, tidak lupa
dilakukan tes atau penilaian sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan
implementasi. Hanafin dan Peck telah menggambarkan bahwa harus ada timbal blik dari
setiap fase, hal ini mungkin membuat kita mudah megetahui kesalahan yang kita buat
dan menjadi pembelajaran untuk kita.
3. Fase terakhir dari model Hanafin dan Peck adalah pengembangan dan implementasi.

Hanafin dan Peck mengatakan aktivitas yang dilakukan pada fase ini ialah penghasilan
diagram alur, pengujian, serta penilain formatif dan sumatif. Penilaian formatif ialah
penialain yang dijalankan saat proses pengembangan media berlangsung, sedangkan
penilaian sumatif dijalankan pada akhir proses. Pada fase ini media dikembangkan dan
pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah dibuat berdasarkan analisis
kebutuhan dan desain yang telah dijalankan.

2. Desain Peembelajaran berdasarkan teori belajar
A. Belajar Menurut Behavioristik
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia
dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting
adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa
saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan
siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara
stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan
tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa
yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus
dapat diamati dan diukur.
Analisis Tentang Teori Behavioristik
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan
tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang
siswa dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik
biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagianbagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian
tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997)
Aplikasi Teori Behavioristik dalam
Kegiatan Pembelajaran Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi
arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya,
mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku
tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku
akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik

ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas
“mimetic”, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang
sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran
menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari
bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga
aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan
pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari
beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar,
media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan
berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti,
tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer
of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar.
B. Belajar Menurut Sibernetik
Belajar menurut teori sibernetik adalah pengolahan informasi. Menurut teori
sibernetik : Tidak ada satu proses belajarpun yang ideal untuk segala situasi dan cocok
untuk setiap siswa. Proses belajar ditentukan oleh proses. Hakekat manajemen
pembelajaran berdasarkan teori belajar Sibernetik adalah usaha guru untuk membantu
siswa mencapai tujuan belajarnya secara efektif dengan cara mefungsikan unsur-unsur
kognisi siswa.
Teori Belajar Menurut Beberapa Tokoh. Menurut Pask dan Scott, cara Menurut
Pask dan Scott, cara berpikir ada 2, yaitu: 1. Pendekatan serialis yaitu pendekatan sama
dengan pendekatan algoritmik. pendekatan algoritmik. 2.Cara berpikir menyeluruh
(wholist) 2.Cara berpikir menyeluruh (wholist) adalah adalah berpikir berpikir yang yang
cenderung cenderung melompat ke depan, langsung ke melompat ke depan, langsung ke
gambaran lengkap sebuah sistem gambaran lengkap sebuah sistem informasi. Siswa tipe
wholist atau informasi. Siswa tipe wholist atau menyeluruh cenderung mempelajari

menyeluruh cenderung mempelajari sesuatu dari tahap yang paling umum sesuatu dari
tahap yang paling umum kemudian bergerak ke yang lebih khusus. kemudian bergerak ke
yang lebih khusus.
C. Belajar Menurut Classical Conditional
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan
netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan.Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov
dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejalagejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat
Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan
maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru
akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu.
Teori classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru
dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Dengan adanya
stimulus berupa hadiah (reward) yang diberikan kepada peserta didik dapat
menumbuhkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa lebih tertarik pada guru, artinya
tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh , tertarik pada mata pelajaran yang
diajarkan, mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatianya terutama
pada guru, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan selalu terkontrol
oleh lingkungan. Contohnya yaitu pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam
kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi
pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap
yang ditunjukkan gurunya.
Sebagai contoh untuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda
mempunyai pasangan yang “sangat suka (UCR)” dengan coklat (UCS). Disetiap anda
bertemu (CS) dengan kekasih anda maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih anda,
secara otonom dia akan sangat suka dengan coklat pemberian anda. Berdasarkan teori,
ketika hal itu dilakukan secara berulang-ulang, selanjutnya cukup dengan bertemu
dengan anda tanpa memberikan coklat, maka secara otonom pasangan anda akan sangat

suka (CR) dengan anda, hal ini dapat terjadi karena pembentukan perilaku antara UCS,
CS, UCR, dan CR seperti ekperimen yang telah dilakukan oleh Pavlov.
Belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus
dan respon. Perubahan perilaku dapat berujud sesuatu yang konkret atau yang non
konkret, berlangsung secara mekanik memerlukan penguatan.
Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa
hal seperti tujuan pembelajaran, sifat meteri pelajaran, karakteristik siswa, media dan
fasilitas pembelajaran yang tersedia. Adapun contoh aplikasi teori belajar behaviorisme
menurut Pavlov adalah pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan
belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian
terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang
ditunjukkan gurunya. Pada awal masuk kelas, guru memberikan kenyamanan pada siswa
sehingga siswa merasa aman untuk melanjutkan pembelajaran. Sebagai pembukaan guru
dapat bertanya kepada siswa tetang kabar mereka, keluarga, hewan peliharaan/hal
pribadi dalam hidup mereka dan apakah siswa sudah siap untuk belajar.Dalam
pembukaan pembelajaran guru memberikan motivasi, untuk memberikan stimulus guru
dapat memberikan makanan kecil pada siswa apabila siswa dapat menjawab pertanyaan
(respon).Hal ini untuk membangkitkan semangat siswa untuk menjawab pertanyaan.
Dengan demikian bila stimulus ini terjadi terue- menerus akan menjadikan siswa menjadi
aktif dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran guru hendaknya menjadikan lingkungan belajar yang
nyaman dan hangat, sehingga kelas menjadi satu kesatuan (saling berhubungan) dengan
emosi positf (adanya hubungan persahabatan/kekerabatan) Guru berusaha agar siswa
merespek satu sama lain pada prioritas tinggi di kelas, misalnya, pada diskusi kelas guru
merangsang siswa untuk berpendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan.
Pada pembelajaran dalam tanya jawab, guru berusaha membuat siswa berada
dalam situasi yang nyaman dengan memberikan hasil (positf outcome – masukan positif).
Misalnya, jika siswa diam/tidak aktif, maka guru bisa memulai dengan pertanyaan ”apa
pendapatmu tentang masalah ini”, atau bagaimana kamu membandingkan dua contoh
ini”. Dengan kata lain, guru memberi pertanyaan yang dapat memancing siswa untuk
berpendapat.

Judul: Jawaban Uts Komnet 1 Dan 2

Oleh: Mugiarti Mugiarti


Ikuti kami