Jawaban Uts Sosiologi Antropologi Gizi

Oleh Novi Yana

142,5 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Uts Sosiologi Antropologi Gizi

JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI NAMA : Noviyana NIM : P21331118057 KELAS : D4-2B DOSEN PEMBIMBING : Adilita Pramanti, S. Sos, M.Si 1. Peran sosiologi antropologi gizi dalam perubahan budaya makan masyarakat di Indonesia Pengertian sosiologi menurut Max Weber adalah sebagai ilmu yang mempelajari tindakan sosial untuk menjelaskan sebab-akibat fenomena sosial yang diteliti. Sosiologi menurut William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial. Dan menurut J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers, sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur- struktur dan proses- pross kemasyarakatan yang bersifat stabil. Sedangkan antropologi menurut Koentjaraningrat ialah studi tentang umat manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai warna, bentuk fisik masyarakat dan budaya yang dihasilkan. Antropologi menurut William A. Haviland adalah studi tentang umat manusia , berusaha untuk membuat generalisasi yang berguna tentang orang- orang dan perilaku mereka untuk serta untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap dari keragaman manusia. Dan menurut Rifhi Siddiq, antropologi adalah sebuah ilmu yang mendalami semua aspek yang terdapat pada manusia yang terdiri atas berbagai macam konsepsi kebudayaan, ilmu pengetahuan, norma, seni, linguistic dan lambing, tradisi, teknologi, dan kelembagaan. Jadi dari segi faktor, fungsi, dan urgensi sosiologi antropologi pada dasarnya dapat membantu memecahkan masalah-masalah sosial budaya dan perencenaan pembangunan dalam masyarakat. Untuk memperbaiki masalah gizi di Indonesia maka perlu dicari tau apa saja penyebabnya, dan dalam mempelajari ilmu antropologi masyarakat akan tahu bagaimana solusi dalam menyelesaikan permasalahan gizi yang terjadi di Indonesia. Dalam perubahan budaya makan masyarakat di Indonesia, peran sosiologi antropologi gizi dapat mempelajari budaya makan atau konsumsi masyarakat pada suatu daerah yang dipengaruhi oleh sebab-akibat tertentu. Langkah-langkah untuk mengubah budaya makan masyarakat di Indonesia yang sesuai dengan situasi negara dan masyarakat saat ini dapat dilakukan dengan cara mengenal terlebih dahulu bagaimana adat-istiadat maupun kebiasaan makan masyarakat pada daerah tersebut. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai macam suku dengan budaya yang berbeda-beda. Maka dari itu, cara melakukan perubahan budaya makan atau konsumsi masyarakat pada setiap daerah juga berbeda. Situasi atau keadaan negara juga berpengaruh terhadap perubahan budaya makan atau konsumsi masyarakat. Karena situasi negara mempengaruhi kualitas dan kuantitas bahan pangan yang tersedia di negara tersebut. Untuk melakukan perubahan budaya makan atau konsumsi masyarakat, sesuaikan terlebih dahulu bagaimana situasi negara saat itu dan bahan pangan apa yang tersedia dalam jumlah yang cukup banyak dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau untuk semua kalangan masyarakat. Agar perubahan budaya makan atau konsumsi masyarakat dapat dilakukan secara merata di seluruh daerah dari segala kelas ekonomi sosial, sehingga mengurangi jumlah masalah gizi di Indonesia. Jika situasi atau keadaan negara sedang dalam perang akan menghambat proses distribusi bahan pangan yang akan mengakibatkan terbatasnya ketersediaan bahan pangan yang dimiliki. Selain itu, jika kuantitas bahan pangan yang dibutuhkan tidak memenuhi dengan keinginan pasar, maka akan terjadi pelonjakan harga yang signifikan dan mengakibatkan masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi yang mereka butuhkan dan akan mengakibatkan masalah gizi di negara tersebut. 2. Pola makan masyarakat berdasarkan perilaku sosial Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Sri Karjati, 1985). Sedangkan pola makan menurut Suhardjo sebagai cara seseorang atau sekelompok orang untuk memilih makan dan mengonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh- pengaruh fisiologis, psikologis, budaya, dan sosial. Sumber lain mengatakan bahwa pola makan didefinisikan sebagai karakteristik dari kegiatan individu dalam memenuhi kebutuhannya akan makanan, sehingga kebutuhan fisiolgis, sosial, dan emosionalnya dapat terpenuhi (Sulistyoningsih, 2011). Pola makan merupakan suatu kebiasaan makan seseorang yang dapat dipengaruhi oleh perilaku sosial, lingkungan, maupun keturunan. Pola makan dapat berubah seiring bertambahnya pengetahuan, perubahan lingkungan, dan perilaku dari setiap individu. Faktor yang membentuk pola makan pada masyarakat diantaranya adalah:  Pengetahuan Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi mengakibatkan timbulnya masalah gizi dengan berbagai manifestasinya dalam masyarakat. Masih banyak masyarakat yang memiliki pola makan yang kurang tepat karena kurangnya pengetahuan tentang gizi yang dimiliki.  Sosial budaya Sosial budaya menandakan bahwa keadaan yang dibicarakan penduduk maupun kelakuannya, salah satunya adalah mengkonsumsi makanannya (Vitahealth, 2004). Keadaan sosial budaya suatu masyarakat membentuk pola makan seseorang karena kebiasaan ataupun adat-istiadat pada daerah tersebut.  Ekonomi Keadaan ekonomi seseorang juga berpengaruh dalam membentuk pola makan. Semakin baik keadaan ekonomi individu, semakin baik pula makanan yang dikonsumsi. Sebaliknya, semakin rendah keadaan ekonomi individu maka semakin terbatas makanan yang dikonsumsi.  Gaya hidup Seiring berjalannya waktu berdampak pada perubahan gaya hidup yang dapat membentuk pola makan baru seseorang. Gaya hidup modern seperti zaman sekarang yang serba cepat dengan mengefisienkan waktu tanpa harus menunggu lama yaitu dengan adanya makanan cepat saji dapat mempengaruhi pola makan dan kesehatan masyarakat.  Ketersediaan bahan pangan Ada atau tidaknya bahan pangan juga mempengaruhi pola makan seseorang. Bahan pangan yang terbatas dengan kualitas rendah dapat menimbulkan masalah gizi pada masyarakat.  Usia Usia atau golongan umur juga mempengaruhi karena pola makan setiap kelompok umur berbeda – beda. Semakin tua umur atau usia seseorang, kebutuhan makanan yang dikonsumsi juga semakin banyak. Contoh pola makan sehat untuk kelompok umur anak-anak (7-9 tahun): Makan pagi : Sandwich isi telur, susu, dan buah potong (apel) Snack pagi : Dadar gulung Makan siang : Nasi, ayam goreng, sayur bayam, tempe orek, dan salad buah Snack siang : Kue sus, es krim Makan malam : Nasi, semur daging, capcay, tahu goreng, dan buah potong (pisang) 3. Judul : Pembagian Tanggung Jawab dalam Membentuk Pola Makan pada Keluarga Peran keluarga dalam membentuk pola makan berpengaruh sangat besar. Orang tua bertanggung jawab dengan makanan apa yang akan dikonsumsi oleh anak dan keluarganya, kapan mereka harus memulai makan, dan dimana mereka makan. Makanan yang dikonsumsi setiap keluarga berbeda-beda sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga dan jumlah keluarga yang dimiliki. Semakin baik keadaan ekonomi, semakin baik pula makanan yang dikonsumsi. Dalam setiap keluarga memiliki waku makan yang berbeda pula, ada keluarga yang memutuskan untuk makan pagi pukul 08.00 dan ada pula yang memutuskan pukul 07.00. Itu semua tergantung kesepakatan keluarga. Dimana mereka akan makan juga suatu kesepakatan yang harus disepakati bersama. Apakah dalam suatu keluarga akan makan bersama di ruang makan atau makan terpisah di ruangan mereka masingmasing. Sedangkan peran anak dalam membentuk pola makannya adalah dengan menentukan berapa banyak makanan yang ingin dikonsumsi dan memilih apakah ia akan makan atau tidak. Seberapa banyak makanan yang dikonsumsinya merupakan tanggung jawab dan hak anak itu sendiri. Namun, ada pula dalam beberapa keluarga yang harus berbagi makanan karena ketersediaan porsi yang terbatas dalam keluarga tersebut. Sehingga jumlah porsi yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan. Anak juga dapat memilih apakah dia ingin makan atau tidak, tergantung keputusannya masing-masing. Banyak anak di luar sana yang memilih tidak makan hanya karena makanannya yang tidak sesuai dengan selera mereka, padahal banyak anak yang tidak makan bukan karena tidak mau tetapi tidak ada makanan yang dapat dikonsumsi. Tujuan dan urgensi serta pengaruh terhadap perkembangan pola konsumsi dan gizi masyarakat menurut gambar di atas yaitu menata dan mengatur bagaimana pola makan yang sesuai dalam keluarga. Agar pola dan kebiasaan makan dalam keluarga lebih teratur dan sesuai dengan gizi seimbang. Karena dalam keluarga makanan yang dikonsumsi lebih terjamin kualitasnya dibandingkan makanan yang dibeli dari tempat makan. Dengan pola makan berdasarkan gambar, peran orang tua dalam mengatur makanan yang akan dikonsumsi berpengaruh besar terhadap pola makan anak- anaknya saat besar nanti. Gambar 2 Judul: Pertanian Lokal Pertanian lokal di Indonesia dapat dikembangkan dengan memajukan kearifan lokal, yang merupakan tradisi dan budaya bercocok tanam masyarakat. Penggunaan teknologi juga dapat lebih dikembangkan untuk memajukan pertanian lokal. Agar bahan pangan di Indonesia tidak terus menerus diimpor atau dipasok dari negara lain. Karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan. Dengan mengembangkan pertanian lokal, meningkatkan tidak hanya kuantitas namun juga kualitas bahan pangan dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan teknologi yang ada. Indonesia dapat menjadi negara swasembada pangan ataupun dengan sumber daya alam berupa bahan pangan yang dapat diekspor ke mancanegara. Pertanian merupakan salah satu sector kunci perekonomian Indonesia. Meskipun kontribusi sector pertanian telah menurun secara signifikan dalam setengah abad terakhir, tetapi sector pertanian masih memberikan pendapatan bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia. Ditinjau dan diatur oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, sekitar 30 % lahan Indonesia digunakan untuk pertanian. Semakin bertambahnya tahun, lahan pertanian di Indonesia semakin berkurang dan diganti fungsinya menjadi gedung pencakar langit ataupun bangunanbangunan yang bersifat modern demi mengikuti perkembangan arus moodernisasi yang terjadi. Dampak buruknya semakin berkurang lahan pertanian dan perkebunan yang dijadikan bangunan lain. Indonesia terletak di daerah tropis sehingga mengalami hujan dan mendapatkan sinar matahari yang cukup sepanjang tahunnya, yang merupakan elemen penting untuk pertanian maupun perkebunan. Indonesia adalah penghasil utama dari berbagai produk pertanian tropis. Komoditas pertanian penting di Indonesia meliputi minyak sawit, karet alam, kakao, kopi, teh, singkong, beras, dan rempah-rempah tropis. Dengan banyaknya bahan pangan yang dapat tumbuh di Indonesia memungkinkan Indonesia untuk menjadi salah satu negara yang dapat mengekspor produk pertanian Indonesia ke negara lain. Untuk mewujudkan harapan tersebut diperlukan kerjasama dan koordinasi dari berbagai pihak, tidak terkecuali masyarakat Indonesia. Memajukan sector pertanian, meningkatkan kualitas yang sesuai dengan pasar internasional, dan memperluas pangsa pasar akan berdampak pada meningkatnya kemakmuran masyarakat Indonesia. Pertanian memang identik dengan pedesaan, namun bukan berarti di perkotaan tidak bisa dikembangkan sector pertanian. Meski perekonomiannya lebih ditopang oleh sector jasa dan industry bukan berarti aktivitas pertanian benar-benar lenyap dari ibu kota. Hal ini tercermin dari sumbangsih sector pertanian yang mencapai 0,09 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta pada tahun 2015. Berdasarkan pengamatan, jumlah rumah tangga usaha pertanian (petani) di ibu kota mencapai lebih dari 12 ribu rumah tangga. Mereka disebut petani karena melakukan kegiatan pertanian dengan motif usaha atau sebagai sumber penghidupan, bukan hanya sekedar hobi atau kesenangan belaka. Aktivitas yang banyak dilakukan oleh petani ibu kota adalah budaya tanaman hortikultura (sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman obat obatan). Tujuan dan urgensi dari pertanian lokal sangatlah penting bagi kemajuan negara terutama di Indonesia. Pertanian lokal dapat meningkatkan pendapatan negara, dan dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara swasembada pangan serta tidak perlu mengimpor atau menunggu pasokan bahan pangan dari negara lain. Karena dengan mengembangkan pertanian lokal dapat meningkatkan kuantitas bahan pangan di Indonesia. Selain itu dengan memajukan pertanian lokal, dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat Indonesia dan megubah kelas ekonomi masyarakat Indonesia lebih merata dari sabang hingga merauke. Karena sector pertanian tidak hanya dapat dikembangkan di pedesaan saja, di perkotaan pun sector pertanian dapat dilakukan dengan aktivitas yang lebih ringan.

Judul: Jawaban Uts Sosiologi Antropologi Gizi

Oleh: Novi Yana


Ikuti kami