Makalah Kontruksi.docx

Oleh Tiya Humaira

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Kontruksi.docx

MAKALAH
KONSTRUKSI
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KESELAMATAN
KERJA
PRODI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SEMESTER VI

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2:
1. INDRA NURDIYANTO
2130015002
2. TYAS AUVA PAREVI
2130015010
3. MIRTHA ADITIA P
2130015012
4. RISWANDA IMAWATI
2130015017
5. DWIANA MEIDESTI S
2130015021
6. DIANA ERLITA S
2130015027
7. NADYA OLIEVIA H
2130015036
8. TITIN MASRUROH
2130015037
9. ERICHA YUNARAYA I
2130015039
10. SA’DIYAH NUR Q
2130015041
11. ULIN PUSPAWINA
2130015043
12. TIYA NOPETA SARI
2130015049
13. ACHMAD SAKHOWI
2130015053
14. ALINAWATI LAILA M
2130015054
15. NURMA MARGARET W 2130015055
DOSEN :
MERRY SUNARYO,S.KM.,M.KKK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2018

HALAMAN JUDUL
MAKALAH
KONSTRUKSI
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KESELAMATAN
KERJA
PRODI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SEMESTER VI

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2:
1. INDRA NURDIYANTO
2130015002
2. TYAS AUVA PAREVI
2130015010
3. MIRTHA ADITIA P
2130015012
4. RISWANDA IMAWATI
2130015017
5. DWIANA MEIDESTI S
2130015021
6. DIANA ERLITA S
2130015027
7. NADYA OLIEVIA H
2130015036
8. TITIN MASRUROH
2130015037
9. ERICHA YUNARAYA I
2130015039
10. SA’DIYAH NUR Q
2130015041
11. ULIN PUSPAWINA
2130015043
12. TIYA NOPETA SARI
2130015049
13. ACHMAD SAKHOWI
2130015053
14. ALINAWATI LAILA M
2130015054
15. NURMA MARGARET W 2130015055
DOSEN :
MERRY SUNARYO,S.KM.,M.KKK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2018

KATA PENGANTAR
Alhamdulilah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas
rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Keselamatan
Kerja.
Dalam penyelesaian makalah ini penyusun banyak mendapatkan bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu melalui kata pengantar ini penyusun
mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini dan tidak lupa pula
penyusun mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dosen pengajar mata kuliah Keselamatan Kerja, Ibu Merry Sunaryo, S.KM.,
M.KKK.
2. Rekani-rekan kami yang banyak membantu namun tidak dapat kami sebutkan
satu per satu.
Semoga Allah SWT memberikan balasanatas semua keikhlasan dan bantuan yang
diberikan kepada penyusun. Akhir kata penyusun berharap makalah ini bermanfaat
bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Surabaya, 2 Maret 2018

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................1
1.1

Latar Belakang.......................................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah..................................................................................................3

1.3

Tujuan Penulisan....................................................................................................3

1.4

Manfaat Penulisan..................................................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................4
2.1 Definisi Keselamatan Kesehatan Kerja (K3).............................................................4
2.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3)........................................................4
2.3 Konstruksi....................................................................................................................5
2.3.1 Definisi Konstruksi................................................................................................5
2.3.2 Definisi Proyek Konstruksi...................................................................................6
2.3.3 Jenis-Jenis Proyek Konstruksi.............................................................................6
2.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi.........................................................7
2.5 Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi.......................................8
2.5.1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.................8
2.5.2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.01/Men/1980......9
2.6 Peralatan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Proyek Konstruksi
...........................................................................................................................................10
2.7 Risiko Kecelakaan Kerja pada Proyek Konstruksi.................................................13
2.8 Keadaan Darurat pada Proyek Konstruksi.............................................................15
2.8.1Emergency Exit/ Jalur Evakuasi Darurat...........................................................15
2.9 Gempa Bumi...............................................................................................................16
2.9.1 Definisi Gempa Bumi..........................................................................................16
2.9.2 Pengaruh Gempa Pada Konstruksi Bangunan.................................................16
2.10 Alat Pelindung Diri (APD)...................................................................................17
2.10.1 Definisi Alat Pelindung Diri (APD)..................................................................17

2.10.2 Syarat-Syarat Alat Pelindung Diri (APD).......................................................18
2.11 Kecelakaan Kerja.....................................................................................................18
2.11.1 Definisi Kecelakaan Kerja................................................................................18
2.11.2 Teori Kecelakaan Kerja........................................................................................19
2.11.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja.............20
BAB III PEMBAHASAN.....................................................................................................22
3.1 Kasus Eksternal..........................................................................................................22
3.2 Kasus Internal............................................................................................................26
3.2.1 Briefing Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)..........................................26
3.2.2 Potensi Gempa Bumi di Kampus Unusa Tower................................................27
3.2.3 Tertimpah Barang Bawaan Pekerja Dari Atas.................................................28
BAB IV PENUTUP..............................................................................................................31
4.1

Kesimpulan...........................................................................................................31

4.2

Saran.....................................................................................................................34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi,
dapat membahayakan manusia dan juga dapat mengakibatkan kerugian material.
Kecelakaan kerja yang terjadi di proyek-proyek kontruksi juga menjadi salah satu
faktor penyebab utama terhentinya aktifitas pekerjaan proyek. Risiko kegagalan
(risk of failures) selalu ada pada setiap aktifitas pekerjaan dan saat kecelakaan
kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya, dapat mengakibatkan efek
kerugian (loss). Maka dari itu sebisa mungkin untuk mencegah dan mengurangi
potensi bahaya yang ada. Kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja adalah
suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu
tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang mengakibatkan
cidera atau kemungkinan akibat lainnya (Heinrich, Petersen, dan Roos, 1980).
Dari beberapa data terkait menyatakan bahwa kecelakaan kerja di Indonesia
masih cukup tinggi sehingga perlunya untuk di prioritaskan dalam mengurangi
angka kecelakaan kerja. Angka kecelakaan kerja di Indonesia masih tinggi.
Menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan,
hingga akhir 2015 telah terjadi kecelakaan kerja sebanyak 105.182 kasus.Untuk
kasus kecelakaan berat yang mengakibatkan kematian tercatat sebanyak 2.375
kasus dari total jumlah kecelakaan kerja.Dirjen Pembinaan Pengawasan
Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3)
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Muji Handaya mengatakan, jumlah
kecelakaan kerja dari tahun ke tahun mengalami tren peningkatan.Untuk total
jumlah kecelakaan kerja siap tahunnya mengalami peningkatan hingga 5%.
Beberapa kecelakaan kerja yang terjadi tahun lalu antara lain kasus peledakan
dan kebakaran di PT Mandom Indonesia, jatuhnya pesawat lift dengan korban
pekerja PT Nestle Indonesia, robohnya crane di gedung Mitra I Malang dan
1

kecelakaan kerja di Alfamart Pekanbaru.Pada tahun lalu jumlah kasus kecelakaan
kerja yang sudah masuk dalam ranah penyelidikan dan dinyatakan sudah Lengkap
(P-21) jumlahnya mencapai 81 perusahaan.Penyebab utama terjadinya kecelakaan
kerja adalah masih rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di
kalangan industri dan masyarakat. Selama ini penerapan K3 seringkali dianggap
sebagai cost atau beban biaya, bukan sebagai investasi untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja.
Menurut Depnakertrans jawa timur (2014) menyatakan bahwa dari data PT.
Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) angka kecelakaan kerja di Indonesia
masih tergolong tinggi, tahun 2006 terjadi 95.624 kasus kecelakaan kerja dan
tahun 2007 terjadi sebanyak 83.714 kasus. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak
93.823 kasus, dengan jumlah pekerja yang sembuh 85.090 orang, sedangkan yang
cacat total 44 orang. Menurut Runtu (2016) berdasarkan data Kementrian
Kesehatan jumlah kasus kecelakaan kerja tertinggi tahun 2014 adalah Sulawesi
Selatan, Riau, dan Bali, sedangkan jumlah pekerja yang sakit akibat kerja
tertinggi tahun 2014 adalah Bali. Sektor konstruksi merupakan penyumbang
kecelakaan tertinggi, yakni 31,9% dari total kecelakaan yang terjadi berjenis
kasus antara lain jatuh dari ketinggian 26%, terbentur 12%, dan tertimpa alat 9%,
maka

semua

proyek

pembangunan

konstruksi

haruslah

ditingkatkan

pengawasannya, agar angka kecelakaan kerja di bidang konstruksi dapat
diminimalkan.
Kecelakaan kerja masih sangat tinggi terutama di bidang kontruksi, selain
membahayakan

nyawa

manusia

juga

menelan

banyak

kerugian

pada

perusahannya. Di Indonesia sudah ada hukum- hukum aturan tentang keselamatan
dan kesehatan kerja (K3) yaitu undang-undang keselamatan kerja no.1 tahun
1970. Aturan - aturan yang telah diputuskan oleh pemerintah merupakan suatu
acuan untuk mengurangi angka kecelakaan kerja, tetapi masih banyak perusahanperusahan yang mengabaikannya. Sehingga masih banyak kecelakan terjadi dan
bahkan tidak dilaporkan ke pihak Depnakertrans. Berbagai masalah kecelakan di
tempat kerja terutama di bidang kontruksi yang saat ini Indonesia sedang

2

membangun gedung-gedung pencakar langit di berbagai tempat. Maka makalah
ini di buat untuk memberikan gambaran mengenai

bagaimana cara

meminimalkan kecelakaan kerja di bidang kontruksi baik di internal gedung
maupun di eksternal gedung, serta media promosi untuk mengurangi kecelakan
atau K3 di tempat kerja.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang akan
dibahas adalah :
1. Bagaimana mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja di gedung UNUSA

Tower?
2. Apa saja risiko-risiko yang ada di gedung UNUSA Tower?
3. Bagaimana langkah-langkah yang di lakukan jika terjadi keelakaan di

gedung UNUSA Tower?
1.3 Tujuan Penulisan
Dari pemasalahan yang ada maka adapun tujuan yang ingin dicapai penulis
adalah :
1. Untuk mengetahui identifikasi risiko kecelakaan kerja di gedung UNUSA

Tower
2. Untuk mengetahui risiko-risiko yang ada di gedung UNUSA Tower
3. Untuk mengetahui langkah-langkah yang di lakukan jika terjadi

kecelakaan di gedung UNUSA Tower?
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari tujuan penelitian yaitu:
1. Memberikan informasi mengenai risiko kecelakaan kerja yang dapat

terjadi di gedung UNUSA Tower
2. Dapat dimanfaatkan untuk langkah-langkah penanganan kecelakaan yang

memungkinkan terjadi kecelakaan di gedung UNUSA Towe
3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Keselamatan Kesehatan Kerja (K3)
Menurut Kepmenaker Nomor 463/MEN/1993, Keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang
lainnya di tempat kerja/perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta
agar setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
Secara filosofis, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) diartikansebagai
suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan jasmani maupunrohani
tenaga kerja, pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan
budaya menuju masyarakat adil dan makmur. Sedangkan secara keilmuan K3
diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Husni,
2006).
Keselamatan kerjamenunjukan kondisi yang aman atau selamat dari
penderitaan, kerusakan, ataukerugian ditempat kerja, sedangkan kesehatan kerja
menunjukan pada kondisibebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit
yang disebabkanlingkungan kerja. Keselamatan kerja terdiri dari dua aspek, yaitu
aspek lingkungan kerja dan lingkungan fisik. Lingkungan kerja bisa berupa
kebakaran, patah tulang, untuk lingkungan fisik merupakan kebutuhan dari
perlengkapan pada tubuh karyawan (Mangkunegara, 2009).
Konsep dasar mengenai keselamatan dan kesehatan kerja adalah perilaku
yang tidak aman karena kurangnya kesadaran pekerja dan kondisi lingkungan
yang tidak aman.
2.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3)
Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep. 463/MEN/1993,
tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah mewujudkan masyarakat
danlingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, sehingga akan tercapai;
4

suasanalingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman dengan keadaan tenaga
kerjayang sehat fisik, mental, sosial, dan bebas kecelakaan.
Tujuan dari penerapanmanajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah
(Sedarmayanti, 2011) :
1. Sebagai

alat

mencapai

derajat

kesehatan

tenaga

kerja

yang

setinggitingginya,baik buruh, petani, nelayan pegawai negeri atau pekerja
bebas.
2. Sebagai upaya mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan akibat
kerja, memelihara dan meningkatkan efisiensi dan daya produktivitas
tenagamanusia, memberantas kelelahan kerja dan melipat gandakan gairah
sertakenikmatan kerja.
3. Memberi perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan, supaya
terhindardari

bahaya pengotoran

bahan proses

industrialisasi

yang

bersangkutan danperlindungan masyarakat luas dari bahaya yang mungkin
ditimbulkan olehproduk industri.
2.3 Konstruksi
2.3.1 Definisi Konstruksi
Konstruksi

merupakan

suatu

kegiatan

membangun

sarana

maupunprasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah
konstruksijuga dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada
sebuah area ataupada beberapa area.Walaupun kegiatan konstruksi dikenal
sebagai satu pekerjaan,tetapi dalam kenyataannya konstruksi merupakan
satuan kegiatan yang terdiri daribeberapa pekerjaan lain yang berbeda.
Pada umumnya kegiatan konstruksi diawasi oleh manajer proyek,
insinyurdisain, atau arsitek proyek. Orang-orang ini bekerja didalam
kantor, sedangkanpengawasan lapangan biasanya diserahkan kepada
mandor proyek yangmengawasi buruh bangunan, tukang kayu, dan ahli
bangunan lainnya untukmenyelesaikan fisik sebuah konstruksi.Dalam
melakukan suatu konstruksi biasanya dilakukan sebuahperencanaan

5

terpadu. Hal ini terkait dengan metode menentukan besarnya biayayang
diperlukan, rancang-bangun, dan efek lain yang akan terjadi seperti
peralatanpenunjang K3 saat pekerjaan konstruksi dilakukan. Sebuah jadwal
perencanaanyang baik akan menentukan suksesnya sebuah pembangunan
terkait denganpendanaan, dampak lingkungan,ketersediaan peralatan
perlindungan diri,ketersediaan material bangunan, logistik, ketidaknyamanan publik terkait denganadanya penundaan pekerjaan konstruksi,
persiapan dokumen dan tender, dan lainsebagainya.Bidang konstruksi
adalah suatu bidang produksi yang memerlukankapasitas tenaga kerja dan
tenaga mesin yang sangat besar, bahaya yang seringditimbulkan umumnya
dikarenakan faktor fisik.
2.3.2 Definisi Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya
satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Dalam
rangkaian kegiatan tersebut, terdapat suatu proses yang mengolah sumber
daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Proses
yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihakpihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan
antara pihak-pihak yang terlibat dalam sutu proyek dibedakan atas
hubungan fungsional dan hubungan kerja. Dengan banyaknya pihak yang
terlibat dalam proyek konstruksi maka potensi terjadinya konflik sangat
besar sehingga dapat dikatakan bahwa proyek konstruksi mengandung
konflik yang cukup tinggi (Ervianto, 2005).
2.3.3 Jenis-Jenis Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi dapat dibedakan menjadi dua jenis kelompok
bangunan, yaitu (Ervianto, 2005):
1. Bangunan gedung : rumah, kantor, pabrik dan lain-lain. Ciri-ciri
kelompok bangunan ini adalah :
a. Proyek konstruksi menghasilkan tempt orang bekerja atau tinggal.

6

b. Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang relatif sempit dan kondisi
pondasi pada umumnya sudah diketahui.
c. Manajemen dibutuhkan, terutama untuk progressing pekerjaan.
2. Bangunan sipil : jalan, jembatan, bendungan, dan infrastruktur lainnya.
Ciri-ciri dari kelompok bangunan ini adalah :
a. Proyek konstruksi dilaksakan untuk mengendalikan alam agar
berguna bagi kepentingan manusia.
b. Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang luas atau panjang dan
kondisi pondasi sangat berbeda satu sama lain dalam suatu proyek.
c. Manajemen dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan.
2.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi
Masalah kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan salahsatu aspek
perlindungan tenaga kerja yang sekaligus melindungi asetperusahaan. Hal ini
tercermin dalam pokok-pokok pikiran danpertimbangan dikeluarkannya undangundang No.1 tahun 1970 tentangkeselamatan kerja yaitu bahwa setiap tenaga
kerja berhak mendapatkanperlindungan atas keselamatan dalam melakukan
pekerjaan, dan setiaporang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin
pulakeselamatannya serta sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakansecara
aman dan efisien , sehingga proses kerja berjalan lancar (Aditama,2006).
Standar dan prosedur keselamatan yang tinggi adalah sasaran yangingin
dicapai dengan sepenuh tenaga seperti sasaran manajemen lainnya.Tujuan
kebanyakan proyek pembangunan adalah meningkatkankesejahteraan umum
penduduk dari Negara yang bersangkutan, denganmemelihara aspek-aspek
pendukung dalam penyelenggaraan proyek;mulai dari pekerja, alat bantu kerja
sampai dengan material konstruksi. Haltersebut menimbulkan asumsi yang
sewajarnya apabila peningkatankinerja dan optimalisasi prosedur K3 dapat
dimulai dari penyediaan alatperlindungan diri yang tepat bagi pekerja konstruksi,
agar kesehatan dankeselamatan mereka tetap terpelihara dengan baik.

7

2.5 Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi
Di Indonesia pemerintah telah membuat dan menetapkan peraturanperaturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja. Peraturan tersebut dibuat
untuk memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja dan merupakan suatu
legal hukum yang harus dipenuhi oleh industri konstruksi di Indonesia. Berikut
akan diuraikan contoh peraturan-perturan tentang keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) di Indonesia yang berkaitan dengan industri konstruksi dalam
pelaksanaan proyek.
2.5.1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
menyebutkan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan
atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan
hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. Orang
lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya.
Tempat kerja dalam hal ini adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau
terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau sering
dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat
sumber-sumber bahaya. Termasuk pula didalamnya semua ruangan,
lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau
yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
Yang diatur dalam undang-undang ini adalah keselamatan kerja dalam
segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di
dalam air, maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan
hukum Republik Indonesia. Dengan peraturan perundangan ditetapkan
syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan, pengangkutan,
peredaran,

perdagangan,

pemasangan,

pemakaian,

penggunaan,

8

pemeliharaan, penyimpanan bahan, barang, produk teknis, aparat produksi
yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi
suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas, praktis yang
mencakup bidang konstruksi, perlengkapan alat-alat perlindungan,
pengujian dan pengesahan, produk teknis dan aparat produksi guna
menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri dan keselamatan tenaga
kerja yang melakukannya, serta keselamatan umum.
Peraturan perundangan ini mengatur kewajiban dan hak tenaga kerja,
yaitu memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai
pengawas dan ahli keselamatan kerja, memakai alat-alat perlindungan diri
yang diwajibkan, serta memenuhi dan menaati semua syarat-syarat K3
yang diwajibkan.
Dengan majunya industrialisasi, mekanisme, elektrifikasi, modernisasi,
maka terjadi peningkatan intensitas kerja para pekerja. Hal tersebut
memerlukan pengerahan tenaga secara intensif pula dari para pekerja.
Kelelahan, kurang perhatian terhadap hal-hal lain, serta kehilangan
keseimbangan merupakan akibat dan menjadi sebab terjadinya kecelakaan.
Selanjutnya dengan peraturan yang maju akan dicapai keamanan yang
baik dan realistis, yang merupakan faktor yang sangat penting untuk
memberikan kenyamanan bekerja bagi para pekerja, hingga pada akhirnya
nanti akan mampu meningkatkan mutu pekerjaan, peningkatan produksi
dan produktivitas kerja.
2.5.2

Peraturan

Menteri

Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi

Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi

No.Per.01/Men/1980
Peraturan

Menteri

No.Per.01/Men/1980 menyebutkan, kenyataan menunjukkan banyak terjadi
kecelakaan, akibat belum ditanganinya pengawasan keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) secara mantap dan menyeluruh pada pekerjaan

9

konstruksi bangunan, sehingga perlu diadakan upaya untuk membina
norma

perlindungan

kerjanya.

Dengan

semakin

meningkatnya

pembangunan dengan penggunaan teknologi modern, harus diimbangi pula
dengan upaya keselamatan tenaga kerja atau orang lain yang berada di
tempat kerja. Sebagai pelaksanaan Undang-undang No.1 tahun 1970
tentang keselamatan kerja, dipandang perlu untuk menetapkan ketentuanketentuan yang mengatur mengenai keselamatan dan kesehatan kerja pada
pekerjaan Konstruksi Bangunan.
Pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan harus diusahakan
pencegahan atau dikurangi terjadinya kecelakaan atau sakit akibat kerja
terhadap tenaga kerjanya. Sewaktu pekerjaan dimulai harus segera disusun
suatu unit keselamatan dan kesehatan kerja, hal tersebut harus
diberitahukan kepada setiap tenaga kerja. Unit keselamatan kerja tersebut
meliputi usaha-usaha pencegahan terhadap: kecelakaan, kebakaran,
peledakan, penyakit akibat kerja, pertolongan pertama pada kecelakaan dan
usaha-usaha penyelamatan.
Peraturan

ini

menetapkan

ketentuan-ketentuan

yang

mengatur

mengenai keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan konstruksi
bangunan, yaitu tentang tempat kerja dan alat-alat kerja, perancah
(scaffold), tangga dan tangga rumah, alat-alat angkat, kabel baja, tambang,
rantai, peralatan bantu, mesin-mesin, peralatan konstruksi bangunan,
konstruksi di bawah tanah, penggalian, pekerjaan memancang, pekerjaan
beton, pembongkaran pekerjaan lainnya, serta penggunaan perlengkapan
penyelamatan dan perlindungan diri.
2.6 Peralatan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Proyek
Konstruksi
Dalam bidang konstruksi, ada beberapa peralatan yang digunakan untuk
melindungi seseorang dari kecelakaan ataupun bahaya yang mungkin bisa terjadi
dalam proses konstruksi. Peralatan ini wajib digunakan oleh seseorang yang

10

bekerja dalam suatu lingkungan konstruksi. Namun, tidak banyak yang
menyadari betapa pentingnya peralatan-peralatan ini untuk digunakan.
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah dua hal yang sangat penting. Oleh
karenanya, semua pelaksana proyek berkewajiban menyediakan semua keperluan
peralatan/perengkapan perlindungan diri atau Personal Protective Equipment
(PPE) untuk semua karyawan yang bekerja, yaitu (Ervianto, 2005):
1) Pakaian Kerja
Tujuan pemakaian pakaian kerja ialah melindungi badan manusia
terhadap pengaruh-pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai
badan. Mengingat karakter lokasi proyek konstruksi yang pada umumnya
mencerminkan kondisi yang keras maka selayaknya pakaian kerja yang
digunakan juga tidak sama dengan pakaian yang digunakan oleh karyawan
yang bekerja dikantor.
2) Sepatu Kerja
Sepatu kerja merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap pekerjaan
konstruksi perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bebas
berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan
oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup keras
supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa benda dari atas.
3) Kacamata Kerja
Kaca mata pengaman digunakan untuk melindungi mata dari debu kayu,
batu atau serpih besi yang berterbangan di tiup angin. Mengingat partikelpartikel debu berukuran sangat kecil yang terkadang tidak terlihat/kasat
mata. Oleh karenanya, mata perlu diberikan perlindungan. Tidak semua jenis
pekerjaan membutuhkan kaca mata kerja. Namun pekerjaan yang mutlak
membutuhkan perlindungan mata adalah pengelasan.
4) Penutup Telinga
Alat ini digunakan untuk melindungi telinga dari bunyi-bunyi yang
dikeluarkan oleh mesin yang memiliki volume suara yang cukup keras dan

11

bising. Namun demikian, bukan berarti seorang pekerja tidak dapat bekerja
bila tidak menggunakan alat ini. Kemungkinan akan terjadi gangguan pada
telinga tidak dirasakan saat itu, melainkan pada waktu yang akan datang.
5) Sarung Tangan
Sarung tangan sangat diperlukan untuk beberapa jenis kegiatan. Tujuan
utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari bendabenda keras dan tajam selama menjalankan kegiatan. Namun, tidak semua
pekerjaan memerlukan sarung tangan. Salah satu kegiatan yang memerlukan
sarung tangan adalah mengangkat besi tulangan, kayu. Pekerjaan yang
bersifat berulang seperti mendorong gerobak cor secara terus menerus dapat
mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan gagang pada
gerobak.
6) Helm
Helm sangat penting digunakan sebagai pelindung kepala, dan sudah
merupakan keharusan bagi setiap pekerja konstruksi untuk menggunakan
dengan benar sesuai peraturan yang dikeluarkan dari pabrik pembuatnya.
Keharusan mengenakan helm lebih dipentingkan bagi keselamatan si pekerja
sendiri mengingat kita semua tidak pernah tahu kapan dan dimana bahaya
akan terjadi. Helm ini digunakan untuk melindungi kepala dari material
konstruksi yang jatuh dan panas matahari. Namun sering kita lihat bahwa
kedisiplinan para pekerja untuk menggunakannya masih rendah yang
tentunya dapat membahayakan diri sendiri. Kecelakaan saat bekerja dapat
merugikan pekerja itu sendiri maupun kontraktor yang lebih disebabkan oleh
kemungkinan keterlambatan pekerjaan.
7) Masker
Pelindung bagi pernapasan sangat diperlukan untuk pekerjaan
konstruksi mengingat kondisi lokasi proyek itu sendiri. Berbagai material
konstruksi berukuran besar sampai kecil yang merupakan sisa dari suatu
kegiatan, seperti serbuk kayu sisa dari kegiatan memotong kayu,
mengamplas, menyerut kayu. Tentu saja seorang pekerja yang secara terus

12

menerus menghisapnya dapat mengalami gangguan pada pernafasan, yang
akibatnya tidak langsung dirasakan saat itu. Berbagai jenis macam masker
tersedia di pasaran, pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan.
8) Jas Hujan
Perlindungan terhadap cuaca terutama hujan bagi pekerja pada saat
bekerja adalah dengan mengunakan jas hujan. Pada tahap konstruksi
terutama di awal pekerjaan umumnya masih berupa lahan terbuka dan tidak
terlindungi dari pengaruh cuaca, misalnya pada pelaksanaan pekerjaan
pondasi. Pelaksanaan kegiatan di proyek selalu bersinggungan langsung
dengan panas matahari ataupun hujan karena dilaksanaankan di ruang
terbuka. Tujuan utama pemakaian jas hujan tidak lain untuk keselamatan
para pekerja.
9) Sabuk Pengaman
Sudah selayaknya bagi pekerja yang melaksanakan kegiatannya pada
ketinggian tertentu atau pada posisi yang membahayakan wajib mengenakan
tali pengaman. Fungsi utaman tali pengaman ini adalah menjaga seorang
pekerja dari kecelakaan kerja pada saat bekerja pada ketinggian.
10) P3K
Apabila terjadi kecelakaan kerja baik yang bersifat ringan ataupun berat
pada pekerjaan konstruksi, sudah seharusnya dilakukan pertolongan pertama
di proyek. Untuk itu, pelaksanaan kosntruksi wajib menyediakan obatobatan yang digunakan untuk pertolongan pertama.
2.7 Risiko Kecelakaan Kerja pada Proyek Konstruksi
Kecelakaan kerja dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu (Djati,
2006) :
1. Kecelakaan umum
Adalah kecelakaan yang terjadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan
seperti kecelakaan pada waktu hari libur/ cuti, kecelakaan di rumah dll.
2. Kecelakaan akibat kerja

13

Adalah kecelakaan yang berhubungan dengan kerja di perusahaan.
Kecelakaan karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.
Kecelakaan di industri konstruksi termasuk kecelakaan akibat kerja. Industri
konstruksi sangat rawan terhadap kecelakaan kerja. Hal ini disebabkan
karena sifat-sifat khusus konstruksi yang tidak sama dengan industri lainnya
yaitu (DK3N, 2000):
a. Jenis pekerjaan/ kegiatan pada industrikonstruksi pada setiap proyek
sangatberlainan (tidak standar), sangatdipengaruhi oleh bentuk/ jenis
bangunan,lokasi,

kondisi

dan

situasi

lingkungan

kerjaserta

metode

pelaksanaannya.
b. Pada setiap pekerjaan konstruksi terdapatberbagai macam jenis kegiatan
yangseringkali dilaksanakan secara simultandengan tujuan untuk mencapai
target waktuyang tepat sesuai dengan kontrak yangtelah disepakati bersama
antara pemilikdan pelaksana proyek.
c. Masih banyaknya kegiatan konstruksi yangmenggunakan tangan (manual),
yang mungkin tidak dapat dihindari.
d. Teknologi

yang

danbervariasi

menunjang

mengikuti

laju

kegiatankonstruksi

selalu

perkembangankegiatan

berkembang

konstruksi

dan

tergantung darijenis-jenis pekerjaanya.
e. Banyaknya pihak-pihak yang terkait/ ikutambil bagian atau berperan aktif
untukterlaksananya kegiatan konstruksi.
f. Banyaknya tenaga kerja informal yangterlibat pada kegiatan konstruksi
denganturn over yang tinggi sehinggamembutuhkan sistem penanganan
yangkhusus.
g. Tingkat pengetahuan (knowledge) daripekerja konstruksi yang beragam/
tidakmerata,

baik

untuk

pengetahuan

teknispraktis

maupun

tingkat

manajerialkhususnya dalam pengetahuan peraturan/peruandangan yang
berlaku.

14

2.8 Keadaan Darurat pada Proyek Konstruksi
Keadaan darurat (emergency) yang menimpa suatu bangunan gedungadalah
suatu keadaan yang tidak lazim terjadi, cenderung dapat mencelakakan
penghuninya. Keadaan ini dapat diakibatkan oleh alam (misalnya gempa bumi,
tanah longsor, gunung meletus, banjir bandang), atau oleh masalah teknis dan ulah
manusia (kebakaran, runtuhnya gedung akibat kegagalan/ kesalahan konstruksi).
Keadaan darurat pada bangunan adalah: setiap peristiwa atau kejadian pada
bangunan dan lingkungan sekelilingnya yang memaksa dilakukannya suatu
tindakan segera. Dengan perkataan lain, keadaan darurat adalah suatu situasi yang
terjadi mendadak dan tidak dikehendaki yang mengandung ancaman terhadap
kehidupan, aset dan operasi perusahaan, serta lingkungan, oleh karena itu
memerlukan tindakan segera untuk mengatasinya (Balitbang PU, 2000) .
Dari penyataan diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan darurat pada suatu
proyek konstruksi harus jauh-jauh hari diantisipasi dengan benar, bertujuan untuk
keselamatan pekerja dan kelancaran proyek tersebut.
2.8.1Emergency Exit/ Jalur Evakuasi Darurat
Dengan adanya Jalur evakuasi darurat, mempermudah para pekerja
padaproyek konstruksi melakukan penyelamatan diri ke tempat yang aman
saat terjadihal - hal darurat yang tidak diinginkan. Dengan adanya penunjuk
arah yang jelasmenuju titik kumpul yang aman, dapat memberikan rasa
aman dan nyaman bagi pekerja saat melakukan evakuasi. Beberapa Jenis
papan informasi yang digunakan sebagai penunjuk arah jalur evakuasi
darurat.

15

Papan informasi memiliki peranan penting dalam sebuah bangunan,
selain untuk menghindarkan si pekerja bangunan tersesat di dalam
bangunan, papan informasi juga berfungsi sebagai penunjuk arah ketika
keadaan darurat terjadi disebuah bangunan. Peletakan papan informasi
seharusnya mudah terlihat dan informatif sehingga dapat dipahami dan
memudahkan pengguna bangunan untuk mencapai tujuannya.
2.9 Gempa Bumi
2.9.1 Definisi Gempa Bumi
Gempa bumi (earthquakes) merupakan salah satu bencana alam
terbesar bagi umat manusia yang diakibatkan oleh pergerakan kerak bumi
yag menyebabkan banyaknya bangunan yang runtuh yang menyebabkan
banyak korban jiwa yang ditimbulkan akibat bencana tersebut. Selain itu,
gempa bumi adalah gerakan atau getaran pada kulit bumi yang disebabkan
oleh tenaga endogen. Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari
dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit bumi. Tenaga
endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata.
Gempa bumi bisa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi)
(Bayong, 2006).
Pada hakikatnya gempa bumi adalah getaran atau serentetan getaran
dari kulit bumi yang bersifat tidak abadi dan kemudian menyebar ke segala
arah. Kulit bumi bergetar secara kontinyu walaupun relatif sangat kecil.
Getaran tersebut tidak dikatakan sebagai gempa bumi karena sifat
getarannya terus-menerus. Jadi, suatu gempa bumi harus mempunyai waktu
awal dan waktu akhir yang jelas (Mulyo, 2004).
2.9.2 Pengaruh Gempa Pada Konstruksi Bangunan
Dalam keadaan statis, sebuah bangunan hanya memikul beban
gravitasi yaitu beratnya sendiri dan beban hidup. Bila tanah bergetar,
bangunan ini mengalami pengaruh dari getaran itu yang diteruskan keatas

16

melalui pondasinya. Bila sangat kaku, bangunan itu sepenuhnya mengikuti
gerakan dari permukaan tanah.
Namun pada kenyataanya suatu konstruksi bangunan tidak pernah
sangat kaku sehingga tidak dapat sepenuhnya mengikuti pergerakan tanah.
Sehingga timbul percepatan dan kecepatan yang berbeda dari tiap bagian
bangunan. Dalam bukunya yang berjudul Perencanaan Bangunan Tahan
Gempa, Tular menjelaskan ada tiga gaya yang timbul pada bangunan yang
terjadi selama gempa berlangsung, yaitu:
1. Gaya Inertia, yang terjadi akibat masa mengalami percepatan
2. Gaya Redaman, yang terjadi akibat masa mengalami kecepatan.
3. Gaya Pegas, yang terjadi akibat adanya perpindahan relatip diantara
berbagai masa.
2.10 Alat Pelindung Diri (APD)
2.10.1 Definisi Alat Pelindung Diri (APD)
Alat pelindung diri adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang dalam bekerja, yang berfungsi melindungi tenaga
kerja dari bahaya-bahaya secara fisik maupun kimiawi. Alat Pelindung Diri
(APD) adalah seperangkat alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang dalam pekerjaannya yang mengisolasi tenaga kerja
dari bahaya tempat kerja. APD dipakai setelah usaha rekayasa dan cara
kerja yang aman APD yang dipakai memenuhi syarat enak dipakai,tidak
mengganggu kerja memberikan perlindungan efektif terhadap bahaya
(Sartika, 2005).
Menurut OSHA atau Occupational Safety and Health Administration,
personal protective equipment atau alat pelindung diri (APD) didefinisikan
sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau
penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya (hazards) di
tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik,
mekanik dan lainnya.

17

Sedangkan

menurut

peraturan

Menteri

Tenaga

Kerja

Dan

Transmigrasi nomor PER.08/MEN/VII/2010 tentang alat pelindung diri,
Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat APD adalah suatu alat yang
mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya
mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat
kerja. Pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/buruh di tempat
kerja.
2.10.2 Syarat-Syarat Alat Pelindung Diri (APD)
Ada beberapa hal yang menjadikan alat pelindung diri berdampak
negative seperti berkurangnya produktivitas kerja akibat penyakit atau
kecelakaan yang dialami oleh pekerja karena tidak menggunakan alat
pelindung diri tersebut. Oleh sebab itu alat-alat pelindung diri harus
mempunyai persyaratan. Alat pelindung diri yang akan digunakan di
tempat kerja harus memperhatikan beberapa hal, yaitu (Suma’mur, 2009):
1. Berat alat pelindung diri hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut
tidak menyebabkan rasa tidak nyaman yang berlebihan.
2. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel.
3. Alat pelindung diri harus tahan untuk pemakaian lama.
4. Alat pelindung diri tidak menimbulkan bahaya bagi penggunanya.
2.11 Kecelakaan Kerja
2.11.1 Definisi Kecelakaan Kerja
Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebabnya. Oleh
karena ada penyebabnya, sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan,
agar untuk selanjutnya dengan tindakan korektif yang ditujukan kepada
penyebab itu serta upaya preventif lebih lanjut kecelakaan dapat divegah
dan kecelakaan serupa tidak berulang kembali. World Helath Organization
(WHO) mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak dapat
dipersipakan penanggulangan sebelumnya sehingga menghasilkan cedera
yang riil.
18

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No.
03/Men/1998, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak
dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban jiwa
dan harta benda. Sedangkan menurut OHSAS, kecelakaan kerja adalah
suatu kejadian tiba-tiba yang tidak diinginkan yang mengakibatkan
kematian, luka-luka, kerusakan harta benda atau kerugian waktu.
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja,
kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak
dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu
aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia maupun
harta benda. Sedangkan menurut UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan
Sosial Tenaga Kerja, kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi
dalam pekerja sejak berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang
ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
2.11.2 Teori Kecelakaan Kerja
Teori kecelakaan kerja adalah suatu kejadian tiba-tiba yang tidak
diinginkan yang mengakibatkan kematian, luka-luka, kerusakan harta milik
atau kerugian waktu. Salah satu teori yang berkembang untuk menjelaskan
terjadinya kecelakaan kerja menurut H.W Heinrich (1980) yang dikenal
sebagai teori Domino Heinrich. Dalam teori tersebut, yaitu: (1) kondisi
kerja, (2) kelalaian manusia, (3) tindakan tidak aman, (4) kecelakaan, dan
(5) cedera. Kelima faktor ini tersusun seperti kartu domino yang didirikan.
Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga
kelimanya akan roboh secara bersamaan. Ilustrasi ini mirip dengan efek
domino, jika satu bangunan roboh, kejadian ini akan memicu peristiwa
beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain.
Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan
menghilangkan tindakan tidak aman yang merupakan poin ketiga dari lima
faktor penyebab kecelakaan yang menyumbang 98% terhadap penyebab

19

kecelakaan. Jika dianalogikan dengan kartu domino, maka jika kartu nomor
3 tidak ada lagi, seandainya kartu nomor 1 dan 2 jatuh maka tidak akan
menyebabkan jatuhnya semua kartu. Dengan danaya jarak antara kartu
kedua dengan kartu keempat, maka ketika kartu kedua terjatuh tida akan
sampai menimpa kartu nomor 4. Akhirnya kecelakaan pada poin 4 dan
cedera pada poin 5 dapat dicegah.
teori Frank E.Bird Petersen (1985) mendefinisikan kecelakaan sebagai
suatu kejadian yang tidak dikehendaki, dapat mengakibatkan kerugian jiwa
serta kerusakan harta benda dan biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya
kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang batas atau struktur.
Teori ini memodifikasi teori Domino Heinrich dengan mengemukakan
teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan,
anatar lain:
a. Manajemen kurang kontrol
b. Sumber penyebab utama
c. Gejala penyebab langsung
d. Kontak peristiwa
e. Kerugian gangguan (tubuh maupun harta benda)
2.11.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh dua faktor, yaitu
(Suma’mur, 2009):
1. Faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan
meliputi

aturan

kerja,

kemampuan

pekerja

(usia,

masa

kerja/pengalaman, kurangnya kecakapan dan lambatnya mengambil
keputusan) disiplin kerja, perbuatan-perbuatan yang mendatangkan
kecelakaan, ketidakcocokan fisik dan mental. Kesalahan-kesalahan
yang disebabkan oleh pekerja dan karena sikap yang tidak wajar
seperti terlalu berani, sembrono, tidak mengindahkan instruksi,
kelalaian, melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar.

20

Kekurangan kecakapan untuk mengerjakan sesuatu karena tidak
mendapat pelajaran mengenai pekerjaan. Kurang sehat fisik dan
mental seperti adanya cacat, kelelahan dan penyakit. Diperkirakan
85% dari kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh faktor
manusia. Hal ini dikarenakan pekerja itu sendiri (manusia) yang tidak
memenuhi keselamatan seperti lengah, ceroboh, mengantuk, lelah dan
sebagainya.
2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan
alat pelindung, alat pelindung tidak dipakai, alat-alat kerja yang telah
rusak. Faktor mekanis dan lingkungan dapat pula dikelompokkan
menurut keperluan dengan suatu maksud tertentu. Kira-kira sepertiga
dari kecelakaan yang menyebabkan kematian dikarenakan terjatuh,
baik dari tempat yang tinggi maupun di tempat datar. Lingkungan
kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja. Faktor-faktor keadaan
lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan kerja terdiri dari
pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini terletak
pada rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan alat kerja
tidak pada tempatnya, lantai yang kotor dan licin. Ventilasi yang tidak
sempurna sehingga ruangan kerja terdapat debu, keadaan lembab yang
tinggi sehingga orang merasa tidak enak kerja. Pencahayaan yang tidak
sempurna misalnya ruangan gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada
pencahayaan setempat.

21

BAB III

PEMBAHASAN
3.1 Kasus Eksternal
4 Pekerja Tewas Akibat Kecelakaan Proyek DDT di Jatinegara

Sejumlah pekerja mengerjakan pembangunan proyek double-double track (DDT)
Paket A Manggarai-Jatinegara di Jakarta, Kamis (7/9/2017). ANTARA FOTO/Reno
Esnir
51 Shares
Reporter: Andrian Pratama Taher
04 Februari, 2018dibaca normal 1 menit
Perjalanan kereta api dari dan ke Manggarai maupun Jatinegara tidak terganggu usai
kecelakaan. Jatuhnya alat berat jenis crane saat pengerjaan proyek DDT di
Jatinegara mengakibatkan 4 pekerja tewas.
Tirto.id - Sebanyak 4 orang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja saat pengerjaan
proyek double-double track (DDT) di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (4/2/2018)

22

pagi. Kepala Humas Kereta Api Indonesia Edy Kuswoyo menyebutkan kecelakaan
terjadi karena launcher girder DDT terjatuh. "Betul sekitar jam 05.30 WIB, launcher
girder DDT tergelincir, antara Manggarai - Jatinegara, di km 1 + 300 [Matraman],"
kata Edy saat dihubungi Tirto.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sekretaris Camat Jatinegara Sarjono. Ia
membenarkan kabar kecelakaan yang menewaskan 4 orang pekerja pembangunan
tersebut.
"Telah terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan meninggalnya korban 4 orang
pada hari Minggu 04 Februari 2018," ujar Sarjono saat dikonfirmasi.
Kronologi kejadian dijelaskan bahwa saat itu ada 4 orang pekerja yang tengah
menaikkan bantalan rel dengan menggunakan alat berat. "Dudukannya tidak pas
sehingga bantalan rel jatuh menimpa korban tsb yang mengakibatkan keempat korban
meninggal dunia," kata Sarjono.
Menurut informasi Polsek Jatinegara, Sarjono mengungkapkan, empat korban yang
meninggal adalah Jaenudin (44), Dami Prasetyo (25), Jana Sutisna (44), dan Joni
(34). Dami langsung meninggal di tempat karena posisi badan hancur sementara 3
orang lainnya mengalami luka di kepala. Dua orang meninggal di tempat dan dua
lainnya saat dilarikan ke rumah sakit.
Kepolisian juga menyita barang bukti berupa sepatu proyek, helm proyek, rompi
proyek, dan KTP korban. "Selanjutnya barang bukti sesuai tersebut di atas dilakukan
penyitaan dan dibawa ke Polsek Jatinegara untuk proses hukum lebih lajut," kata
Sarjono.
Sementara itu, meskipun membenarkan kecelakaan, Edy Kuswoyo tidak bisa
menyampaikan detail dan kronologis kejadian. Ia pun mengaku kecelakaan tidak akan
mengganggu perjalanan kereta api.

23

"Perjalanan kereta api dari dan ke Manggarai maupun Jatinegara, lancar atau tidak
mengganggu perjalanan kereta baik Kerata Jarak Jauh maupun commuter line," kata
Edy.
Saat ini masih terus dilakukan evakuasi dan petugas masih melakukan penjagaan. Di
lokasi kejadian juga terlihat dipasang garis polisi. Aparat kepolisian juga tengah
melakukan olah kejadian tempat perkara. Kondisi cuaca di lokasi juga gerimis dan
diketahui sejak dini hari sejumlah wilayah Jakarta termasuk Jakarta Timur diguyur
hujan.Kecelakaan kerja sebelumnya juga terjadi pada proyek konstruksi di Jakarta
yaitu box girder LRT (Light Rail Transit) di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur,
roboh pada Senin (22/1/2018) dini hari.
a) Kronologi Kejadian
Terjadi kecelakaan kerja saat pengerjaan proyek double-double track (DDT)
di Jatinegara, Jakarta Timur, kecelakaan kerja yang mengakibatkan meninggalnya
korban 4 orang pada hari Minggu 04 Februari 2018. Empat korban yang
meninggal adalah Jaenudin (44), Dami Prasetyo (25), Jana Sutisna (44), dan Joni
(34). Dami langsung meninggal di tempat karena posisi badan hancur sementara 3
orang lainnya mengalami luka di kepala. Dua orang meninggal di tempat dan dua
lainnya saat dilarikan ke rumah sakit. Kondisi cuaca di lokasi juga gerimis dan
sejumlah wilayah Jakarta termasuk Jakarta Timur diguyur hujan saat itu ada 4
orang pekerja yang tengah menaikkan bantalan rel dengan menggunakan alat
berat. Dudukannya tidak pas sehingga bantalan rel jatuh menimpa korban tsb
yang mengakibatkan keempat korban meninggal dunia.Kepolisian menyita barang
buktiberupa sepatu proyek, helm proyek, rompi proyek, dan KTP korban, korban
menggunakan APD yang lengkap.
b) Analisis dengan Teori faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan
kerja (Suma’mur 2009) :
Berikut adalah berita mengenai pekerja yang mengalami kecelakaan kerja
kontruksi, maka akan dianalisis dengan faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya kecelakaan kerja (Suma’mur 2009) ada dua faktor yakni :

24

1. Faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan kasus diatas
meliputi kelalaian,. Diperkirakan 85% dari kecelakaan kerja yang terjadi
disebabkan oleh faktor manusia. Hal ini dikarenakan pekerja itu sendiri
(manusia) yang tidak memenuhi keselamatan seperti lengah, ceroboh,
mengantuk, lelah dan sebagainya.
2. Faktor mekanik dan lingkunganya, yakni letak mesin. Faktor mekanis dan
lingkungan dapat pula dikelompokkan menurut keperluan dengan suatu
maksud tertentu. Penyebab kecelakaan dapat disusun menurut kelompok
pengolahan bahan, mesin penggerak dan pengangkat, tertimpa beban jatuh.
Kira-kira

sepertiga

dari

kecelakaan

yang

menyebabkan

kematiaan

dikarenakan terjatuh, baik dari tempat yang tinggi maupun ditempat datar.
Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja, lantai yang kotor
dan licin.
Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tahun 1962 kasus diatas
dapat diklasifikasikan dalam kecelakaan kerja sebagai berikut :
a. Berdasarkan jenis pekerjaan
Dari 8 jenis pekerjaan maka kasus diatas masuk dalam kecelakaan
kerja tertimpa benda jatuh.
b. Berdasarkan penyebab
Dari 5 penyebab maka kasus diatas disebabkan angkat angkut,
bantalan rel diletakkan tidak pas pada posisinya.
c. Berdasarkan sifat luka atau kelainan
Dari 10 sifat luka atau kelainan maka kasus diatas masuk dalam
termasuk dalam gegar dan remuk karna posisi korban badan hancur.
d. Berdasarkan letak kelainan atau luka ditubuh
Dari 7letak kelainan atau luka tubuh, kasus kontruksi tersebut masuk
bagian kepala dan badan karna tertimpa bantalan rel

karna 3 orang

mengalami luka di kepala dan badan yang hancur pada salah satu korban
yang meninggal ditempat.

25

3.2 Kasus Internal
3.2.1 Briefing Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
Setiap pekerja mempunyai tanggung jawab yang sama untuk bekerja
dengan aman dan memperhatikan keselamatan. Pada dasarnya kita semua
mengerti potensi bahaya yang mungkin timbul di tempat area kerja kita
masing-masing dan alat-alat pelindung diri apa saja yang harus kita
gunakan. Setiap perusahaan berkewajiban menyediakan dan mencukupi
perlengkapan dan kelengkapan alat pelindung diri. Dengan demikian
diwajibkan pula bagi para staf dan pekerja di lingkungan kerja baik di
industri maupun proyek untuk mengenakannya alat pelindung diri dengan
baik dan benar.
Namun dalam hal ini terdapat tiga pekerja K3 yang sedang di briefing
sebelum melakukan pekerjaannya. Pertama, satu pekerja K3 yang disiplin
menggunakan APD dengan baik dan benar dari ujung kepala hingga ujung
kaki agar tidak terjadi kecelakaan kerja. Kedus, satu pekerja K3 yang tidak
disiplin yang tidak menggunakan APD kemudian yang terakhir terdapat
satu pekerja K3 yang menggunakan APD yang tidak sesuai dengan
prosedur penggunaan APD yang benar.
Dari kejadian diatas dapat dianalisis menggunakan teorinya yang
dikenal sebagai Teori Domino Heinrich. Dalam Teori Domino Heinrich,
kecelakaan terdiri 5, yaitu :
1. Kondisi kerja
Saat briefing dua pekerja menolak untuk menggunakan APD dan
tidak sesuai dengan prosedur APD yang sudah ditetapkan.
2. Kelalaian manusia
Menyepelehkan pentingnya penggunaan APD saat akan melalukan
pekerjaan.
3. Tindakan tidak aman

26

Di tempat kerja akan terjadi potensi bahaya yang akan mungkin
timbul dan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Kondisi inilah yang
akan menimpa para pekerja yang tidak menggunakan APD.
4. Cidera
Cidera yang akan terjadi pada pekerja yang tidak menggunakan
APD akan mengalami kecelakaan kerja baik ringan maupun berat.
3.2.2 Potensi Gempa Bumi di Kampus Unusa Tower
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) merupakan satusatunya kampus NU yang berada di Surabaya. Kampus tower UNUSA
masih dalam tahap pembangunan. Pada reka adegan, kelompok kami
memilih contoh kejadian gempa bumi. Pada saat terjadi gempa bumi
sedang terlaksana proses belajar mengajar di dalam kelas. Pada saat
kejadian tersebut ada 2 pegawai bagian K3 yang bertugas untuk menolong
mahasiswa dan dosen yang masih berada di dalam kelas. Salah satu bagian
k3 tidak memakai APD sedangkan satunya memakai APD. Mahasiswa dan
dosen yang berada di dalam kelas ada yang langsung berhamburan keluar
ada juga yang bersembunyi di bawah meja. Kondisi pada kejadian saat itu
sangat panik pada saat evakuasi pegawai K3 yang memakai APD
mengarahkan mahasiswa dan dosen menuju tangga darurat, sedangkan
pegawai yang tidak memakai APD mengarahkan mahasiswa menuju lift.
Untung pada saat evakuasi mahasiswa dan dosen tidak ada yang mengikuti
pegawai K3 yang memasuki lif. Jadi pada saat kejadian itu hanya petugas
K3 yang tidak memakai APD yang memasuki lift . Akibatnya petugas
tersebut mengalami luka di kepala akibat proses evakuasi dan terkunji di
dalam lif beberapa jam.Ketika sudah berada diluar pegawai K3 langsung
megarahkan menuju di titik kumpul evakuasi
Dari kejadian diatas kelompok kami akan menganalisis menggunakan
Teori Domino Heinrich.Menurut Teori Domino Heinrich kecelakaan terdiri
atas lima faktor yang saling berhubungan :

27

1. Kondisi Kerja
Kondisi yang mengakibatkan pegawai K3 mengalami luka dan
cidera yaitu karena petugas tersebut keras kepala tidak mau memakai
APD, dan ceroboh karena dalam keadaan panik petugas tersebut
mengevakuasi

dirinya

sendiri

dengan

menaiki

lift

sehingga

mengakibatkan terkunci di dalam lift.
2. Kelalaian Manusia
Kelalaian yang dilakukan oleh pekerja K3 yaitu tidak memakai Alat
Pelindung Diri (APD).
3. Tindakan Tidak Aman
a. Dalam kondisi gempa bumi pekerja K3 seharusnya menuju pada
tangga darurat dan tidak menaiki lift karena dalam kondisi tersebut
lift bisa mati mendadak sehingga sulit bagi penolong untuk
melakukan evakuasi.
b. Mahasiswa yang panik sebaiknya berlindung di bawah bangku jika
kondisi sudah aman baru keluar ruangan, tidak langsung keluar
ruangan pada saat gempa terjadi karena bisa mengakibatkan
mahasiswa tertimpa barang.
4. Kecelakaan

a. Tertimpa benda pada saat gempa
b. Terbentur pada saat gempa
c. Terkunci atau terjebak di lift
5. Cedera

a. Kerusakan properti
b. Luka di bagian kepala,tangan, dan kaki dan cidera
3.2.3 Tertimpah Barang Bawaan Pekerja Dari Atas
Pada saat gempa bumi terjadi pekerja yang memakai APD apa adanya
dengan perlengkapan yang tidak sesuai sedang melalukan aktivitas

28

kerjanya yakni membawa barang dengan menaiki tangga dengan barang
bawaan yang terlalu banyak sehingga dapat menutupi pandangan jalannya.
Dari identifikasi bahaya yang telah dilakukan pada penelitian
oleh H.W. Heinrich dengan teorinya yang dikenal sebagai Teori Domino
Heinrich. Dalam Teori Domino Heinrich, kecelakaan terdiri atas lima
faktor yang saling berhubungan:
1. Kondisi kerja
Pada saat bekerja, pekerja membawa barang dengan cara dipapa
dibagian depan menaiki tangga, dengan barang bawaan yang terlalu
banyak dan berat.
2. Kelalaian manusia
Pekerja tidak menggunakan APD yang sesuai, barang bawaan
pekerja terlalu banyak sehingga menutupi jarang pandang sipekerja
yang mengakibatkan pekerja tidak mengetahui kondisi sekitar.
3. Tindakan tidak aman
Pada saat pekerja membawa barang menaiki tangga, tanpa disadari
ada 2 orang pekerja dibelakang dengan kondisi satu menggunakan APD
lengkap, dan satu pekerja tanpa APD yang sedang berjalan menaiki
tangga sambil bercengkrama, kedua orang tersebut tidak tahu jika
sedang dalam kondisi bahaya.
4. Kecelakaan
Dikarenakan jarak pandang yang tertutupi oleh barang bawaan,
akhirnya pekerja tersandung anak tangga dan barang bawaan pekerja
dengan APD tidak sesuai akhirnya jatuh kebawah menimpahi 2 orang
pekerja yang berjalan dibelakang.
5. Cedera.
2 orang pekerja yang ada dibelakang tertimpah barang dari atas,
keduanya terjatuh karena barang menimpahi bagian kepala mereka,
karena 2 orang pekerja tersebut 1 pekerja menggunakan APD lengkap

29

hanya terjatuh namun tidak ada luka, namun 1 pekerja yang tidak
memakai APD mengalami luka parah dibagian kepala.

30

BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Menurut Kepmenaker Nomor 463/MEN/1993, Keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang
lainnya di tempat kerja/perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta
agar setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien. Definisi
Konstruksi adalah suatu kegiatan membangun sarana maupunprasarana. Dalam
sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksijuga dapatdikenal
sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area ataupada beberapa
area.Walaupun kegiatan konstruksi dikenal sebagai satu pekerjaan,tetapi dalam
kenyataannya konstruksi merupakan satuan kegiatan yang terdiri daribeberapa
pekerjaan lain yang berbeda.
Dalam kasus eksternal, menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO)
tahun 1962 kasus tersebut dapat diklasifikasikan dalam kecelakaan kerja sebagai
berikut :
a. Berdasarkan jenis pekerjaan
Dari 8 jenis pekerjaan maka kasus diatas masuk dalam kecelakaan kerja
tertimpa benda jatuh.
b. Berdasarkan penyebab
Dari 5 penyebab maka kasus diatas disebabkan angkat angkut, bantalan rel
diletakkan tidak pas pada posisinya.
c. Berdasarkan sifat luka atau kelainan
Dari 10 sifat luka atau kelainan maka kasus diatas masuk dalam termasuk
dalam gegar dan remuk karna posisi korban badan hancur.
d. Berdasarkan letak kelainan atau luka ditubuh
Dari 7 letak kelainan atau luka tubuh, kasus kontruksi tersebut masuk bagian
kepala dan badan karna tertimpa bantalan rel karna 3 orang mengalami luka di
kepala dan badan yang hancur pada salah satu korban yang meninggal ditempat.
31

Sedangkan kesimpulan yang didapat dalam kasus internal yang lokasinya
berada dalam kampus UNUSA Tower sendiri adalah saat pekerja tidak mau
menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) :
1. Kondisi kerja
Saat briefing dua pekerja menolak untuk menggunakan APD dan tidak
sesuai dengan prosedur APD yang sudah ditetapkan.
2. Kelalaian manusia
Menyepelehkan pentingnya penggunaan APD saat akan melalukan
pekerjaan.
3. Tindakan tidak aman
Di tempat kerja akan terjadi potensi bahaya yang akan mungkin timbul dan
dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Kondisi inilah yang akan menimpa
para pekerja yang tidak menggunakan APD.
4. Cidera
Cidera yang akan terjadi pada pekerja yang tidak menggunakan APD akan
mengalami kecelakaan kerja baik ringan maupun berat.
Adapula risiko bahaya yang terjadi saat ada gempa bumi di kampus UNUSA
Tower dan pekerja tidak menggunakan APD:
1. Kondisi Kerja
Kondisi yang mengakibatkan pegawai K3 mengalami luka dan cidera yaitu
karena petugas tersebut keras kepala tidak mau memakai APD, dan ceroboh
karena dalam keadaan panik petugas tersebut mengevakuasi dirinya sendiri
dengan menaiki lift sehingga mengakibatkan terkunci di dalam lift.
2. Kelalaian Manusia
Kelalaian yang dilakukan oleh pekerja K3 yaitu tidak memakai Alat
Pelindung Diri (APD).
3. Tindakan Tidak Aman
a. Dalam kondisi gempa bumi pekerja K3 seharusnya menuju pada tangga
darurat dan tidak menaiki lift karena dalam kondisi tersebut lift bisa mati
mendadak sehingga sulit bagi penolong untuk melakukan evakuasi.

32

b. Mahasiswa yang panik sebaiknya berlindung di bawah bangku jika
kondisi sudah aman baru keluar ruangan, tidak langsung keluar ruangan
pada saat gempa terjadi karena bisa mengakibatkan mahasiswa tertimpa
barang.
4. Kecelakaan
a. Tertimpa benda pada saat gempa
b. Terbentur pada saat gempa
c. Terkunci atau terjebak di lift
5. Cedera
a. Kerusakan properti
b. Luka di bagian kepala,tangan, dan kaki dan cidera
Kemudian pada saat gempa bumi terjadi pekerja yang memakai APD apa
adanya dengan perlengkapan yang tidak sesuai sedang melalukan aktivitas
kerjanya yakni membawa barang dengan menaiki tangga dengan barang
bawaan yang terlalu banyak sehingga dapat menutupi pandangan jalannya, hal
ini dapat menimbulkan beberapa bahaya kecelakaanyaitu :
1. Kondisi kerja
Pada saat bekerja, pekerja membawa barang dengan cara dipapa
dibagian depan menaiki tangga, dengan barang bawaan yang terlalu banyak
dan berat.
2. Kelalaian manusia
Pekerja tidak menggunakan APD yang sesuai, barang bawaan pekerja
terlalu banyak sehingga menutupi jarang pandang sipekerja yang
mengakibatkan pekerja tidak mengetahui kondisi sekitar.
3. Tindakan tidak aman
Pada saat pekerja membawa barang menaiki tangga, tanpa disadari ada
2 orang pekerja dibelakang dengan kondisi satu menggunakan APD
lengkap, dan satu pekerja tanpa APD yang sedang berjalan menaiki tangga

33

sambil bercengkrama, kedua orang tersebut tidak tahu jika sedang dalam
kondisi bahaya.
4. Kecelakaan
Dikarenakan jarak pandang yang tertutupi oleh barang bawaan,
akhirnya pekerja tersandung anak tangga dan barang bawaan pekerja
dengan APD tidak sesuai akhirnya jatuh kebawah menimpahi 2 orang
pekerja yang berjalan dibelakang.
5. Cedera.
2 orang pekerja yang ada dibelakang tertimpah barang dari atas,
keduanya terjatuh karena barang menimpahi bagian kepala mereka, karena
2 orang pekerja tersebut 1 pekerja menggunakan APD lengkap hanya
terjatuh namun tidak ada luka, namun 1 pekerja yang tidak memakai APD
mengalami luka parah dibagian kepala.
4.2 Saran
Pekerja kontruksi harus memakai APD yang sudah disediakan demi
keselamatan diri sendiri, agar saat terjadi kecelakaan kerja seperti tertimpa
barang, atau saat ada gempa bumi perkerja tidak terkena reruntuhan bangunan
karena pekerja sudah menggunakan APD dengan baik dan benar. Kemudian saat
terjadinya

gempa,

alangkah

baiknya

untuk

tidak

menggunakan

lift,

tetapimenggunakantangga darurat untuk menelamatkan diri.

34

DAFTAR PUSTAKA

Aditama. 2006. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Indonesia.
Bayong, Tsuyono. 2006. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya-UPI.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengembangan PU, Standar
Nasional Indonesia. 2000. SNI 03-2834-2000 Tata Cara Pembuatan Rencana
Campuran Beton Normal. Bandung: Balitbang PU.
Dewan Keselamatan & Kesehatan Kerja Nasional (DK3N). 2000. Keselamatandan
Kesehatan Kerja di Indonesia 1990-2000. Prosiding Satu Abad K3 di
Indonesia. Jakarta.
Djati, I. 2006. Bagaimana Mencapai Zero Accident di Perusahaan. Prosiding
Seminar K3 di RS. Persahabatan, UIpress.
Ervianto, I.W. 2005. Manajemen Proyek Konstruksi Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi.
E. Bird, Jr, Frank and L. 1985. Germain. Practical Loss Control Leadership.
International Loss Control Institute.
Heinrich, H.W.1980. Industrial Accident Prevention. New York : McGraw-Hill
Book Company.
Husni, Lalu. 2006. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
https://tirto.id/daftar-kecelakaan-proyek-infrastruktur-pada-awal-2018-cE4M,,
diakses 3 maret 2018.
http://disnakertrans.jatimprov.go.id, diakses 3 maret 2018
http://ohsas-18001-occupational-health-and-safety.com, diakses 7 Maret 2018.
https://id.wikipedia.org/wiki/Konstruksi, diakses 8 Maret 2018.
Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyo, Agung. 2004. Pengantar Ilmu Kebumian. Bandung: Pustaka Setia.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 08. (2010). Alat Pelindung
Diri. Jakarta.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER.03/MEN/1998. Tata Cara Pelaporan

dan Pemeriksaan Kecelakaan. Jakarta.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. PER.02/MEN/1980 Tentang
Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan
Kerja. Sekretariat Kabinet RI. Jakarta.
Sartika. 2005. Gambaran Penggunaan Pelaksanaan Program Penggunaan Alat
Pelindung Diri di Bagian Produksi Non Penecilin di PT. Alphafarma. Laporan
Magang. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok.
Undang-Undang
No.
1
Tahun
1970,
T.
(t.thn.).
http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/berita/5769/Jumlah-kecelakaan-kerjadi-Indonesiamasih-tinggi.html.

2

Judul: Makalah Kontruksi.docx

Oleh: Tiya Humaira


Ikuti kami