Makalah Kontruksi.docx

Oleh Tiya Humaira

450,1 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Kontruksi.docx

MAKALAH KONSTRUKSI DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KESELAMATAN KERJA PRODI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SEMESTER VI DISUSUN OLEH KELOMPOK 2: 1. INDRA NURDIYANTO 2130015002 2. TYAS AUVA PAREVI 2130015010 3. MIRTHA ADITIA P 2130015012 4. RISWANDA IMAWATI 2130015017 5. DWIANA MEIDESTI S 2130015021 6. DIANA ERLITA S 2130015027 7. NADYA OLIEVIA H 2130015036 8. TITIN MASRUROH 2130015037 9. ERICHA YUNARAYA I 2130015039 10. SA’DIYAH NUR Q 2130015041 11. ULIN PUSPAWINA 2130015043 12. TIYA NOPETA SARI 2130015049 13. ACHMAD SAKHOWI 2130015053 14. ALINAWATI LAILA M 2130015054 15. NURMA MARGARET W 2130015055 DOSEN : MERRY SUNARYO,S.KM.,M.KKK FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA 2018 HALAMAN JUDUL MAKALAH KONSTRUKSI DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KESELAMATAN KERJA PRODI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SEMESTER VI DISUSUN OLEH KELOMPOK 2: 1. INDRA NURDIYANTO 2130015002 2. TYAS AUVA PAREVI 2130015010 3. MIRTHA ADITIA P 2130015012 4. RISWANDA IMAWATI 2130015017 5. DWIANA MEIDESTI S 2130015021 6. DIANA ERLITA S 2130015027 7. NADYA OLIEVIA H 2130015036 8. TITIN MASRUROH 2130015037 9. ERICHA YUNARAYA I 2130015039 10. SA’DIYAH NUR Q 2130015041 11. ULIN PUSPAWINA 2130015043 12. TIYA NOPETA SARI 2130015049 13. ACHMAD SAKHOWI 2130015053 14. ALINAWATI LAILA M 2130015054 15. NURMA MARGARET W 2130015055 DOSEN : MERRY SUNARYO,S.KM.,M.KKK FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA 2018 KATA PENGANTAR Alhamdulilah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Keselamatan Kerja. Dalam penyelesaian makalah ini penyusun banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu melalui kata pengantar ini penyusun mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini dan tidak lupa pula penyusun mengucapkan terimakasih kepada : 1. Dosen pengajar mata kuliah Keselamatan Kerja, Ibu Merry Sunaryo, S.KM., M.KKK. 2. Rekani-rekan kami yang banyak membantu namun tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Semoga Allah SWT memberikan balasanatas semua keikhlasan dan bantuan yang diberikan kepada penyusun. Akhir kata penyusun berharap makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Surabaya, 2 Maret 2018 Penulis DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...............................................................................................................i KATA PENGANTAR............................................................................................................ii DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................1 1.1 Latar Belakang.......................................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................3 1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................................3 1.4 Manfaat Penulisan..................................................................................................3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................4 2.1 Definisi Keselamatan Kesehatan Kerja (K3).............................................................4 2.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3)........................................................4 2.3 Konstruksi....................................................................................................................5 2.3.1 Definisi Konstruksi................................................................................................5 2.3.2 Definisi Proyek Konstruksi...................................................................................6 2.3.3 Jenis-Jenis Proyek Konstruksi.............................................................................6 2.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi.........................................................7 2.5 Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi.......................................8 2.5.1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.................8 2.5.2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.01/Men/1980......9 2.6 Peralatan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Proyek Konstruksi ...........................................................................................................................................10 2.7 Risiko Kecelakaan Kerja pada Proyek Konstruksi.................................................13 2.8 Keadaan Darurat pada Proyek Konstruksi.............................................................15 2.8.1Emergency Exit/ Jalur Evakuasi Darurat...........................................................15 2.9 Gempa Bumi...............................................................................................................16 2.9.1 Definisi Gempa Bumi..........................................................................................16 2.9.2 Pengaruh Gempa Pada Konstruksi Bangunan.................................................16 2.10 Alat Pelindung Diri (APD)...................................................................................17 2.10.1 Definisi Alat Pelindung Diri (APD)..................................................................17 2.10.2 Syarat-Syarat Alat Pelindung Diri (APD).......................................................18 2.11 Kecelakaan Kerja.....................................................................................................18 2.11.1 Definisi Kecelakaan Kerja................................................................................18 2.11.2 Teori Kecelakaan Kerja........................................................................................19 2.11.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja.............20 BAB III PEMBAHASAN.....................................................................................................22 3.1 Kasus Eksternal..........................................................................................................22 3.2 Kasus Internal............................................................................................................26 3.2.1 Briefing Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)..........................................26 3.2.2 Potensi Gempa Bumi di Kampus Unusa Tower................................................27 3.2.3 Tertimpah Barang Bawaan Pekerja Dari Atas.................................................28 BAB IV PENUTUP..............................................................................................................31 4.1 Kesimpulan...........................................................................................................31 4.2 Saran.....................................................................................................................34 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi, dapat membahayakan manusia dan juga dapat mengakibatkan kerugian material. Kecelakaan kerja yang terjadi di proyek-proyek kontruksi juga menjadi salah satu faktor penyebab utama terhentinya aktifitas pekerjaan proyek. Risiko kegagalan (risk of failures) selalu ada pada setiap aktifitas pekerjaan dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya, dapat mengakibatkan efek kerugian (loss). Maka dari itu sebisa mungkin untuk mencegah dan mengurangi potensi bahaya yang ada. Kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya (Heinrich, Petersen, dan Roos, 1980). Dari beberapa data terkait menyatakan bahwa kecelakaan kerja di Indonesia masih cukup tinggi sehingga perlunya untuk di prioritaskan dalam mengurangi angka kecelakaan kerja. Angka kecelakaan kerja di Indonesia masih tinggi. Menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, hingga akhir 2015 telah terjadi kecelakaan kerja sebanyak 105.182 kasus.Untuk kasus kecelakaan berat yang mengakibatkan kematian tercatat sebanyak 2.375 kasus dari total jumlah kecelakaan kerja.Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Muji Handaya mengatakan, jumlah kecelakaan kerja dari tahun ke tahun mengalami tren peningkatan.Untuk total jumlah kecelakaan kerja siap tahunnya mengalami peningkatan hingga 5%. Beberapa kecelakaan kerja yang terjadi tahun lalu antara lain kasus peledakan dan kebakaran di PT Mandom Indonesia, jatuhnya pesawat lift dengan korban pekerja PT Nestle Indonesia, robohnya crane di gedung Mitra I Malang dan 1 kecelakaan kerja di Alfamart Pekanbaru.Pada tahun lalu jumlah kasus kecelakaan kerja yang sudah masuk dalam ranah penyelidikan dan dinyatakan sudah Lengkap (P-21) jumlahnya mencapai 81 perusahaan.Penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja adalah masih rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di kalangan industri dan masyarakat. Selama ini penerapan K3 seringkali dianggap sebagai cost atau beban biaya, bukan sebagai investasi untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Menurut Depnakertrans jawa timur (2014) menyatakan bahwa dari data PT. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) angka kecelakaan kerja di Indonesia masih tergolong tinggi, tahun 2006 terjadi 95.624 kasus kecelakaan kerja dan tahun 2007 terjadi sebanyak 83.714 kasus. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 93.823 kasus, dengan jumlah pekerja yang sembuh 85.090 orang, sedangkan yang cacat total 44 orang. Menurut Runtu (2016) berdasarkan data Kementrian Kesehatan jumlah kasus kecelakaan kerja tertinggi tahun 2014 adalah Sulawesi Selatan, Riau, dan Bali, sedangkan jumlah pekerja yang sakit akibat kerja tertinggi tahun 2014 adalah Bali. Sektor konstruksi merupakan penyumbang kecelakaan tertinggi, yakni 31,9% dari total kecelakaan yang terjadi berjenis kasus antara lain jatuh dari ketinggian 26%, terbentur 12%, dan tertimpa alat 9%, maka semua proyek pembangunan konstruksi haruslah ditingkatkan pengawasannya, agar angka kecelakaan kerja di bidang konstruksi dapat diminimalkan. Kecelakaan kerja masih sangat tinggi terutama di bidang kontruksi, selain membahayakan nyawa manusia juga menelan banyak kerugian pada perusahannya. Di Indonesia sudah ada hukum- hukum aturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yaitu undang-undang keselamatan kerja no.1 tahun 1970. Aturan - aturan yang telah diputuskan oleh pemerintah merupakan suatu acuan untuk mengurangi angka kecelakaan kerja, tetapi masih banyak perusahanperusahan yang mengabaikannya. Sehingga masih banyak kecelakan terjadi dan bahkan tidak dilaporkan ke pihak Depnakertrans. Berbagai masalah kecelakan di tempat kerja terutama di bidang kontruksi yang saat ini Indonesia sedang 2 membangun gedung-gedung pencakar langit di berbagai tempat. Maka makalah ini di buat untuk memberikan gambaran mengenai bagaimana cara meminimalkan kecelakaan kerja di bidang kontruksi baik di internal gedung maupun di eksternal gedung, serta media promosi untuk mengurangi kecelakan atau K3 di tempat kerja. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah : 1. Bagaimana mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja di gedung UNUSA Tower? 2. Apa saja risiko-risiko yang ada di gedung UNUSA Tower? 3. Bagaimana langkah-langkah yang di lakukan jika terjadi keelakaan di gedung UNUSA Tower? 1.3 Tujuan Penulisan Dari pemasalahan yang ada maka adapun tujuan yang ingin dicapai penulis adalah : 1. Untuk mengetahui identifikasi risiko kecelakaan kerja di gedung UNUSA Tower 2. Untuk mengetahui risiko-risiko yang ada di gedung UNUSA Tower 3. Untuk mengetahui langkah-langkah yang di lakukan jika terjadi kecelakaan di gedung UNUSA Tower? 1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari tujuan penelitian yaitu: 1. Memberikan informasi mengenai risiko kecelakaan kerja yang dapat terjadi di gedung UNUSA Tower 2. Dapat dimanfaatkan untuk langkah-langkah penanganan kecelakaan yang memungkinkan terjadi kecelakaan di gedung UNUSA Towe 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) Menurut Kepmenaker Nomor 463/MEN/1993, Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang lainnya di tempat kerja/perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta agar setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien. Secara filosofis, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) diartikansebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan jasmani maupunrohani tenaga kerja, pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur. Sedangkan secara keilmuan K3 diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Husni, 2006). Keselamatan kerjamenunjukan kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan, ataukerugian ditempat kerja, sedangkan kesehatan kerja menunjukan pada kondisibebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkanlingkungan kerja. Keselamatan kerja terdiri dari dua aspek, yaitu aspek lingkungan kerja dan lingkungan fisik. Lingkungan kerja bisa berupa kebakaran, patah tulang, untuk lingkungan fisik merupakan kebutuhan dari perlengkapan pada tubuh karyawan (Mangkunegara, 2009). Konsep dasar mengenai keselamatan dan kesehatan kerja adalah perilaku yang tidak aman karena kurangnya kesadaran pekerja dan kondisi lingkungan yang tidak aman. 2.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3) Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep. 463/MEN/1993, tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah mewujudkan masyarakat danlingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, sehingga akan tercapai; 4 suasanalingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman dengan keadaan tenaga kerjayang sehat fisik, mental, sosial, dan bebas kecelakaan. Tujuan dari penerapanmanajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah (Sedarmayanti, 2011) : 1. Sebagai alat mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggitingginya,baik buruh, petani, nelayan pegawai negeri atau pekerja bebas. 2. Sebagai upaya mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan akibat kerja, memelihara dan meningkatkan efisiensi dan daya produktivitas tenagamanusia, memberantas kelelahan kerja dan melipat gandakan gairah sertakenikmatan kerja. 3. Memberi perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan, supaya terhindardari bahaya pengotoran bahan proses industrialisasi yang bersangkutan danperlindungan masyarakat luas dari bahaya yang mungkin ditimbulkan olehproduk industri. 2.3 Konstruksi 2.3.1 Definisi Konstruksi Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupunprasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksijuga dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area ataupada beberapa area.Walaupun kegiatan konstruksi dikenal sebagai satu pekerjaan,tetapi dalam kenyataannya konstruksi merupakan satuan kegiatan yang terdiri daribeberapa pekerjaan lain yang berbeda. Pada umumnya kegiatan konstruksi diawasi oleh manajer proyek, insinyurdisain, atau arsitek proyek. Orang-orang ini bekerja didalam kantor, sedangkanpengawasan lapangan biasanya diserahkan kepada mandor proyek yangmengawasi buruh bangunan, tukang kayu, dan ahli bangunan lainnya untukmenyelesaikan fisik sebuah konstruksi.Dalam melakukan suatu konstruksi biasanya dilakukan sebuahperencanaan 5 terpadu. Hal ini terkait dengan metode menentukan besarnya biayayang diperlukan, rancang-bangun, dan efek lain yang akan terjadi seperti peralatanpenunjang K3 saat pekerjaan konstruksi dilakukan. Sebuah jadwal perencanaanyang baik akan menentukan suksesnya sebuah pembangunan terkait denganpendanaan, dampak lingkungan,ketersediaan peralatan perlindungan diri,ketersediaan material bangunan, logistik, ketidaknyamanan publik terkait denganadanya penundaan pekerjaan konstruksi, persiapan dokumen dan tender, dan lainsebagainya.Bidang konstruksi adalah suatu bidang produksi yang memerlukankapasitas tenaga kerja dan tenaga mesin yang sangat besar, bahaya yang seringditimbulkan umumnya dikarenakan faktor fisik. 2.3.2 Definisi Proyek Konstruksi Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, terdapat suatu proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihakpihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam sutu proyek dibedakan atas hubungan fungsional dan hubungan kerja. Dengan banyaknya pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi maka potensi terjadinya konflik sangat besar sehingga dapat dikatakan bahwa proyek konstruksi mengandung konflik yang cukup tinggi (Ervianto, 2005). 2.3.3 Jenis-Jenis Proyek Konstruksi Proyek konstruksi dapat dibedakan menjadi dua jenis kelompok bangunan, yaitu (Ervianto, 2005): 1. Bangunan gedung : rumah, kantor, pabrik dan lain-lain. Ciri-ciri kelompok bangunan ini adalah : a. Proyek konstruksi menghasilkan tempt orang bekerja atau tinggal. 6 b. Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang relatif sempit dan kondisi pondasi pada umumnya sudah diketahui. c. Manajemen dibutuhkan, terutama untuk progressing pekerjaan. 2. Bangunan sipil : jalan, jembatan, bendungan, dan infrastruktur lainnya. Ciri-ciri dari kelompok bangunan ini adalah : a. Proyek konstruksi dilaksakan untuk mengendalikan alam agar berguna bagi kepentingan manusia. b. Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang luas atau panjang dan kondisi pondasi sangat berbeda satu sama lain dalam suatu proyek. c. Manajemen dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan. 2.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Masalah kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan salahsatu aspek perlindungan tenaga kerja yang sekaligus melindungi asetperusahaan. Hal ini tercermin dalam pokok-pokok pikiran danpertimbangan dikeluarkannya undangundang No.1 tahun 1970 tentangkeselamatan kerja yaitu bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkanperlindungan atas keselamatan dalam melakukan pekerjaan, dan setiaporang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pulakeselamatannya serta sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakansecara aman dan efisien , sehingga proses kerja berjalan lancar (Aditama,2006). Standar dan prosedur keselamatan yang tinggi adalah sasaran yangingin dicapai dengan sepenuh tenaga seperti sasaran manajemen lainnya.Tujuan kebanyakan proyek pembangunan adalah meningkatkankesejahteraan umum penduduk dari Negara yang bersangkutan, denganmemelihara aspek-aspek pendukung dalam penyelenggaraan proyek;mulai dari pekerja, alat bantu kerja sampai dengan material konstruksi. Haltersebut menimbulkan asumsi yang sewajarnya apabila peningkatankinerja dan optimalisasi prosedur K3 dapat dimulai dari penyediaan alatperlindungan diri yang tepat bagi pekerja konstruksi, agar kesehatan dankeselamatan mereka tetap terpelihara dengan baik. 7 2.5 Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Di Indonesia pemerintah telah membuat dan menetapkan peraturanperaturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja. Peraturan tersebut dibuat untuk memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja dan merupakan suatu legal hukum yang harus dipenuhi oleh industri konstruksi di Indonesia. Berikut akan diuraikan contoh peraturan-perturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Indonesia yang berkaitan dengan industri konstruksi dalam pelaksanaan proyek. 2.5.1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja menyebutkan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. Orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya. Tempat kerja dalam hal ini adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya. Termasuk pula didalamnya semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. Yang diatur dalam undang-undang ini adalah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, 8 pemeliharaan, penyimpanan bahan, barang, produk teknis, aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas, praktis yang mencakup bidang konstruksi, perlengkapan alat-alat perlindungan, pengujian dan pengesahan, produk teknis dan aparat produksi guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri dan keselamatan tenaga kerja yang melakukannya, serta keselamatan umum. Peraturan perundangan ini mengatur kewajiban dan hak tenaga kerja, yaitu memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja, memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan, serta memenuhi dan menaati semua syarat-syarat K3 yang diwajibkan. Dengan majunya industrialisasi, mekanisme, elektrifikasi, modernisasi, maka terjadi peningkatan intensitas kerja para pekerja. Hal tersebut memerlukan pengerahan tenaga secara intensif pula dari para pekerja. Kelelahan, kurang perhatian terhadap hal-hal lain, serta kehilangan keseimbangan merupakan akibat dan menjadi sebab terjadinya kecelakaan. Selanjutnya dengan peraturan yang maju akan dicapai keamanan yang baik dan realistis, yang merupakan faktor yang sangat penting untuk memberikan kenyamanan bekerja bagi para pekerja, hingga pada akhirnya nanti akan mampu meningkatkan mutu pekerjaan, peningkatan produksi dan produktivitas kerja. 2.5.2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.01/Men/1980 Peraturan Menteri No.Per.01/Men/1980 menyebutkan, kenyataan menunjukkan banyak terjadi kecelakaan, akibat belum ditanganinya pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara mantap dan menyeluruh pada pekerjaan 9 konstruksi bangunan, sehingga perlu diadakan upaya untuk membina norma perlindungan kerjanya. Dengan semakin meningkatnya pembangunan dengan penggunaan teknologi modern, harus diimbangi pula dengan upaya keselamatan tenaga kerja atau orang lain yang berada di tempat kerja. Sebagai pelaksanaan Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, dipandang perlu untuk menetapkan ketentuanketentuan yang mengatur mengenai keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan Konstruksi Bangunan. Pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan harus diusahakan pencegahan atau dikurangi terjadinya kecelakaan atau sakit akibat kerja terhadap tenaga kerjanya. Sewaktu pekerjaan dimulai harus segera disusun suatu unit keselamatan dan kesehatan kerja, hal tersebut harus diberitahukan kepada setiap tenaga kerja. Unit keselamatan kerja tersebut meliputi usaha-usaha pencegahan terhadap: kecelakaan, kebakaran, peledakan, penyakit akibat kerja, pertolongan pertama pada kecelakaan dan usaha-usaha penyelamatan. Peraturan ini menetapkan ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan konstruksi bangunan, yaitu tentang tempat kerja dan alat-alat kerja, perancah (scaffold), tangga dan tangga rumah, alat-alat angkat, kabel baja, tambang, rantai, peralatan bantu, mesin-mesin, peralatan konstruksi bangunan, konstruksi di bawah tanah, penggalian, pekerjaan memancang, pekerjaan beton, pembongkaran pekerjaan lainnya, serta penggunaan perlengkapan penyelamatan dan perlindungan diri. 2.6 Peralatan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Proyek Konstruksi Dalam bidang konstruksi, ada beberapa peralatan yang digunakan untuk melindungi seseorang dari kecelakaan ataupun bahaya yang mungkin bisa terjadi dalam proses konstruksi. Peralatan ini wajib digunakan oleh seseorang yang 10 bekerja dalam suatu lingkungan konstruksi. Namun, tidak banyak yang menyadari betapa pentingnya peralatan-peralatan ini untuk digunakan. Keselamatan dan kesehatan kerja adalah dua hal yang sangat penting. Oleh karenanya, semua pelaksana proyek berkewajiban menyediakan semua keperluan peralatan/perengkapan perlindungan diri atau Personal Protective Equipment (PPE) untuk semua karyawan yang bekerja, yaitu (Ervianto, 2005): 1) Pakaian Kerja Tujuan pemakaian pakaian kerja ialah melindungi badan manusia terhadap pengaruh-pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan. Mengingat karakter lokasi proyek konstruksi yang pada umumnya mencerminkan kondisi yang keras maka selayaknya pakaian kerja yang digunakan juga tidak sama dengan pakaian yang digunakan oleh karyawan yang bekerja dikantor. 2) Sepatu Kerja Sepatu kerja merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap pekerjaan konstruksi perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup keras supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa benda dari atas. 3) Kacamata Kerja Kaca mata pengaman digunakan untuk melindungi mata dari debu kayu, batu atau serpih besi yang berterbangan di tiup angin. Mengingat partikelpartikel debu berukuran sangat kecil yang terkadang tidak terlihat/kasat mata. Oleh karenanya, mata perlu diberikan perlindungan. Tidak semua jenis pekerjaan membutuhkan kaca mata kerja. Namun pekerjaan yang mutlak membutuhkan perlindungan mata adalah pengelasan. 4) Penutup Telinga Alat ini digunakan untuk melindungi telinga dari bunyi-bunyi yang dikeluarkan oleh mesin yang memiliki volume suara yang cukup keras dan 11 bising. Namun demikian, bukan berarti seorang pekerja tidak dapat bekerja bila tidak menggunakan alat ini. Kemungkinan akan terjadi gangguan pada telinga tidak dirasakan saat itu, melainkan pada waktu yang akan datang. 5) Sarung Tangan Sarung tangan sangat diperlukan untuk beberapa jenis kegiatan. Tujuan utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari bendabenda keras dan tajam selama menjalankan kegiatan. Namun, tidak semua pekerjaan memerlukan sarung tangan. Salah satu kegiatan yang memerlukan sarung tangan adalah mengangkat besi tulangan, kayu. Pekerjaan yang bersifat berulang seperti mendorong gerobak cor secara terus menerus dapat mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan gagang pada gerobak. 6) Helm Helm sangat penting digunakan sebagai pelindung kepala, dan sudah merupakan keharusan bagi setiap pekerja konstruksi untuk menggunakan dengan benar sesuai peraturan yang dikeluarkan dari pabrik pembuatnya. Keharusan mengenakan helm lebih dipentingkan bagi keselamatan si pekerja sendiri mengingat kita semua tidak pernah tahu kapan dan dimana bahaya akan terjadi. Helm ini digunakan untuk melindungi kepala dari material konstruksi yang jatuh dan panas matahari. Namun sering kita lihat bahwa kedisiplinan para pekerja untuk menggunakannya masih rendah yang tentunya dapat membahayakan diri sendiri. Kecelakaan saat bekerja dapat merugikan pekerja itu sendiri maupun kontraktor yang lebih disebabkan oleh kemungkinan keterlambatan pekerjaan. 7) Masker Pelindung bagi pernapasan sangat diperlukan untuk pekerjaan konstruksi mengingat kondisi lokasi proyek itu sendiri. Berbagai material konstruksi berukuran besar sampai kecil yang merupakan sisa dari suatu kegiatan, seperti serbuk kayu sisa dari kegiatan memotong kayu, mengamplas, menyerut kayu. Tentu saja seorang pekerja yang secara terus 12 menerus menghisapnya dapat mengalami gangguan pada pernafasan, yang akibatnya tidak langsung dirasakan saat itu. Berbagai jenis macam masker tersedia di pasaran, pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan. 8) Jas Hujan Perlindungan terhadap cuaca terutama hujan bagi pekerja pada saat bekerja adalah dengan mengunakan jas hujan. Pada tahap konstruksi terutama di awal pekerjaan umumnya masih berupa lahan terbuka dan tidak terlindungi dari pengaruh cuaca, misalnya pada pelaksanaan pekerjaan pondasi. Pelaksanaan kegiatan di proyek selalu bersinggungan langsung dengan panas matahari ataupun hujan karena dilaksanaankan di ruang terbuka. Tujuan utama pemakaian jas hujan tidak lain untuk keselamatan para pekerja. 9) Sabuk Pengaman Sudah selayaknya bagi pekerja yang melaksanakan kegiatannya pada ketinggian tertentu atau pada posisi yang membahayakan wajib mengenakan tali pengaman. Fungsi utaman tali pengaman ini adalah menjaga seorang pekerja dari kecelakaan kerja pada saat bekerja pada ketinggian. 10) P3K Apabila terjadi kecelakaan kerja baik yang bersifat ringan ataupun berat pada pekerjaan konstruksi, sudah seharusnya dilakukan pertolongan pertama di proyek. Untuk itu, pelaksanaan kosntruksi wajib menyediakan obatobatan yang digunakan untuk pertolongan pertama. 2.7 Risiko Kecelakaan Kerja pada Proyek Konstruksi Kecelakaan kerja dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu (Djati, 2006) : 1. Kecelakaan umum Adalah kecelakaan yang terjadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan seperti kecelakaan pada waktu hari libur/ cuti, kecelakaan di rumah dll. 2. Kecelakaan akibat kerja 13 Adalah kecelakaan yang berhubungan dengan kerja di perusahaan. Kecelakaan karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Kecelakaan di industri konstruksi termasuk kecelakaan akibat kerja. Industri konstruksi sangat rawan terhadap kecelakaan kerja. Hal ini disebabkan karena sifat-sifat khusus konstruksi yang tidak sama dengan industri lainnya yaitu (DK3N, 2000): a. Jenis pekerjaan/ kegiatan pada industrikonstruksi pada setiap proyek sangatberlainan (tidak standar), sangatdipengaruhi oleh bentuk/ jenis bangunan,lokasi, kondisi dan situasi lingkungan kerjaserta metode pelaksanaannya. b. Pada setiap pekerjaan konstruksi terdapatberbagai macam jenis kegiatan yangseringkali dilaksanakan secara simultandengan tujuan untuk mencapai target waktuyang tepat sesuai dengan kontrak yangtelah disepakati bersama antara pemilikdan pelaksana proyek. c. Masih banyaknya kegiatan konstruksi yangmenggunakan tangan (manual), yang mungkin tidak dapat dihindari. d. Teknologi yang danbervariasi menunjang mengikuti laju kegiatankonstruksi selalu perkembangankegiatan berkembang konstruksi dan tergantung darijenis-jenis pekerjaanya. e. Banyaknya pihak-pihak yang terkait/ ikutambil bagian atau berperan aktif untukterlaksananya kegiatan konstruksi. f. Banyaknya tenaga kerja informal yangterlibat pada kegiatan konstruksi denganturn over yang tinggi sehinggamembutuhkan sistem penanganan yangkhusus. g. Tingkat pengetahuan (knowledge) daripekerja konstruksi yang beragam/ tidakmerata, baik untuk pengetahuan teknispraktis maupun tingkat manajerialkhususnya dalam pengetahuan peraturan/peruandangan yang berlaku. 14 2.8 Keadaan Darurat pada Proyek Konstruksi Keadaan darurat (emergency) yang menimpa suatu bangunan gedungadalah suatu keadaan yang tidak lazim terjadi, cenderung dapat mencelakakan penghuninya. Keadaan ini dapat diakibatkan oleh alam (misalnya gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, banjir bandang), atau oleh masalah teknis dan ulah manusia (kebakaran, runtuhnya gedung akibat kegagalan/ kesalahan konstruksi). Keadaan darurat pada bangunan adalah: setiap peristiwa atau kejadian pada bangunan dan lingkungan sekelilingnya yang memaksa dilakukannya suatu tindakan segera. Dengan perkataan lain, keadaan darurat adalah suatu situasi yang terjadi mendadak dan tidak dikehendaki yang mengandung ancaman terhadap kehidupan, aset dan operasi perusahaan, serta lingkungan, oleh karena itu memerlukan tindakan segera untuk mengatasinya (Balitbang PU, 2000) . Dari penyataan diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan darurat pada suatu proyek konstruksi harus jauh-jauh hari diantisipasi dengan benar, bertujuan untuk keselamatan pekerja dan kelancaran proyek tersebut. 2.8.1Emergency Exit/ Jalur Evakuasi Darurat Dengan adanya Jalur evakuasi darurat, mempermudah para pekerja padaproyek konstruksi melakukan penyelamatan diri ke tempat yang aman saat terjadihal - hal darurat yang tidak diinginkan. Dengan adanya penunjuk arah yang jelasmenuju titik kumpul yang aman, dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pekerja saat melakukan evakuasi. Beberapa Jenis papan informasi yang digunakan sebagai penunjuk arah jalur evakuasi darurat. 15 Papan informasi memiliki peranan penting dalam sebuah bangunan, selain untuk menghindarkan si pekerja bangunan tersesat di dalam bangunan, papan informasi juga berfungsi sebagai penunjuk arah ketika keadaan darurat terjadi disebuah bangunan. Peletakan papan informasi seharusnya mudah terlihat dan informatif sehingga dapat dipahami dan memudahkan pengguna bangunan untuk mencapai tujuannya. 2.9 Gempa Bumi 2.9.1 Definisi Gempa Bumi Gempa bumi (earthquakes) merupakan salah satu bencana alam terbesar bagi umat manusia yang diakibatkan oleh pergerakan kerak bumi yag menyebabkan banyaknya bangunan yang runtuh yang menyebabkan banyak korban jiwa yang ditimbulkan akibat bencana tersebut. Selain itu, gempa bumi adalah gerakan atau getaran pada kulit bumi yang disebabkan oleh tenaga endogen. Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata. Gempa bumi bisa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi) (Bayong, 2006). Pada hakikatnya gempa bumi adalah getaran atau serentetan getaran dari kulit bumi yang bersifat tidak abadi dan kemudian menyebar ke segala arah. Kulit bumi bergetar secara kontinyu walaupun relatif sangat kecil. Getaran tersebut tidak dikatakan sebagai gempa bumi karena sifat getarannya terus-menerus. Jadi, suatu gempa bumi harus mempunyai waktu awal dan waktu akhir yang jelas (Mulyo, 2004). 2.9.2 Pengaruh Gempa Pada Konstruksi Bangunan Dalam keadaan statis, sebuah bangunan hanya memikul beban gravitasi yaitu beratnya sendiri dan beban hidup. Bila tanah bergetar, bangunan ini mengalami pengaruh dari getaran itu yang diteruskan keatas 16 melalui pondasinya. Bila sangat kaku, bangunan itu sepenuhnya mengikuti gerakan dari permukaan tanah. Namun pada kenyataanya suatu konstruksi bangunan tidak pernah sangat kaku sehingga tidak dapat sepenuhnya mengikuti pergerakan tanah. Sehingga timbul percepatan dan kecepatan yang berbeda dari tiap bagian bangunan. Dalam bukunya yang berjudul Perencanaan Bangunan Tahan Gempa, Tular menjelaskan ada tiga gaya yang timbul pada bangunan yang terjadi selama gempa berlangsung, yaitu: 1. Gaya Inertia, yang terjadi akibat masa mengalami percepatan 2. Gaya Redaman, yang terjadi akibat masa mengalami kecepatan. 3. Gaya Pegas, yang terjadi akibat adanya perpindahan relatip diantara berbagai masa. 2.10 Alat Pelindung Diri (APD) 2.10.1 Definisi Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam bekerja, yang berfungsi melindungi tenaga kerja dari bahaya-bahaya secara fisik maupun kimiawi. Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaannya yang mengisolasi tenaga kerja dari bahaya tempat kerja. APD dipakai setelah usaha rekayasa dan cara kerja yang aman APD yang dipakai memenuhi syarat enak dipakai,tidak mengganggu kerja memberikan perlindungan efektif terhadap bahaya (Sartika, 2005). Menurut OSHA atau Occupational Safety and Health Administration, personal protective equipment atau alat pelindung diri (APD) didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya (hazards) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya. 17 Sedangkan menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi nomor PER.08/MEN/VII/2010 tentang alat pelindung diri, Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja. Pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/buruh di tempat kerja. 2.10.2 Syarat-Syarat Alat Pelindung Diri (APD) Ada beberapa hal yang menjadikan alat pelindung diri berdampak negative seperti berkurangnya produktivitas kerja akibat penyakit atau kecelakaan yang dialami oleh pekerja karena tidak menggunakan alat pelindung diri tersebut. Oleh sebab itu alat-alat pelindung diri harus mempunyai persyaratan. Alat pelindung diri yang akan digunakan di tempat kerja harus memperhatikan beberapa hal, yaitu (Suma’mur, 2009): 1. Berat alat pelindung diri hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa tidak nyaman yang berlebihan. 2. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel. 3. Alat pelindung diri harus tahan untuk pemakaian lama. 4. Alat pelindung diri tidak menimbulkan bahaya bagi penggunanya. 2.11 Kecelakaan Kerja 2.11.1 Definisi Kecelakaan Kerja Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebabnya. Oleh karena ada penyebabnya, sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan, agar untuk selanjutnya dengan tindakan korektif yang ditujukan kepada penyebab itu serta upaya preventif lebih lanjut kecelakaan dapat divegah dan kecelakaan serupa tidak berulang kembali. World Helath Organization (WHO) mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak dapat dipersipakan penanggulangan sebelumnya sehingga menghasilkan cedera yang riil. 18 Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. 03/Men/1998, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban jiwa dan harta benda. Sedangkan menurut OHSAS, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian tiba-tiba yang tidak diinginkan yang mengakibatkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda atau kerugian waktu. Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia maupun harta benda. Sedangkan menurut UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi dalam pekerja sejak berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. 2.11.2 Teori Kecelakaan Kerja Teori kecelakaan kerja adalah suatu kejadian tiba-tiba yang tidak diinginkan yang mengakibatkan kematian, luka-luka, kerusakan harta milik atau kerugian waktu. Salah satu teori yang berkembang untuk menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja menurut H.W Heinrich (1980) yang dikenal sebagai teori Domino Heinrich. Dalam teori tersebut, yaitu: (1) kondisi kerja, (2) kelalaian manusia, (3) tindakan tidak aman, (4) kecelakaan, dan (5) cedera. Kelima faktor ini tersusun seperti kartu domino yang didirikan. Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersamaan. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino, jika satu bangunan roboh, kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman yang merupakan poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan yang menyumbang 98% terhadap penyebab 19 kecelakaan. Jika dianalogikan dengan kartu domino, maka jika kartu nomor 3 tidak ada lagi, seandainya kartu nomor 1 dan 2 jatuh maka tidak akan menyebabkan jatuhnya semua kartu. Dengan danaya jarak antara kartu kedua dengan kartu keempat, maka ketika kartu kedua terjatuh tida akan sampai menimpa kartu nomor 4. Akhirnya kecelakaan pada poin 4 dan cedera pada poin 5 dapat dicegah. teori Frank E.Bird Petersen (1985) mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak dikehendaki, dapat mengakibatkan kerugian jiwa serta kerusakan harta benda dan biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang batas atau struktur. Teori ini memodifikasi teori Domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan, anatar lain: a. Manajemen kurang kontrol b. Sumber penyebab utama c. Gejala penyebab langsung d. Kontak peristiwa e. Kerugian gangguan (tubuh maupun harta benda) 2.11.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh dua faktor, yaitu (Suma’mur, 2009): 1. Faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja (usia, masa kerja/pengalaman, kurangnya kecakapan dan lambatnya mengambil keputusan) disiplin kerja, perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kecelakaan, ketidakcocokan fisik dan mental. Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pekerja dan karena sikap yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak mengindahkan instruksi, kelalaian, melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar. 20 Kekurangan kecakapan untuk mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran mengenai pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat, kelelahan dan penyakit. Diperkirakan 85% dari kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh faktor manusia. Hal ini dikarenakan pekerja itu sendiri (manusia) yang tidak memenuhi keselamatan seperti lengah, ceroboh, mengantuk, lelah dan sebagainya. 2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan alat pelindung, alat pelindung tidak dipakai, alat-alat kerja yang telah rusak. Faktor mekanis dan lingkungan dapat pula dikelompokkan menurut keperluan dengan suatu maksud tertentu. Kira-kira sepertiga dari kecelakaan yang menyebabkan kematian dikarenakan terjatuh, baik dari tempat yang tinggi maupun di tempat datar. Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja. Faktor-faktor keadaan lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan kerja terdiri dari pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini terletak pada rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan alat kerja tidak pada tempatnya, lantai yang kotor dan licin. Ventilasi yang tidak sempurna sehingga ruangan kerja terdapat debu, keadaan lembab yang tinggi sehingga orang merasa tidak enak kerja. Pencahayaan yang tidak sempurna misalnya ruangan gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat. 21 BAB III PEMBAHASAN 3.1 Kasus Eksternal 4 Pekerja Tewas Akibat Kecelakaan Proyek DDT di Jatinegara Sejumlah pekerja mengerjakan pembangunan proyek double-double track (DDT) Paket A Manggarai-Jatinegara di Jakarta, Kamis (7/9/2017). ANTARA FOTO/Reno Esnir 51 Shares Reporter: Andrian Pratama Taher 04 Februari, 2018dibaca normal 1 menit Perjalanan kereta api dari dan ke Manggarai maupun Jatinegara tidak terganggu usai kecelakaan. Jatuhnya alat berat jenis crane saat pengerjaan proyek DDT di Jatinegara mengakibatkan 4 pekerja tewas. Tirto.id - Sebanyak 4 orang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja saat pengerjaan proyek double-double track (DDT) di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (4/2/2018) 22 pagi. Kepala Humas Kereta Api Indonesia Edy Kuswoyo menyebutkan kecelakaan terjadi karena launcher girder DDT terjatuh. "Betul sekitar jam 05.30 WIB, launcher girder DDT tergelincir, antara Manggarai - Jatinegara, di km 1 + 300 [Matraman]," kata Edy saat dihubungi Tirto. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sekretaris Camat Jatinegara Sarjono. Ia membenarkan kabar kecelakaan yang menewaskan 4 orang pekerja pembangunan tersebut. "Telah terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan meninggalnya korban 4 orang pada hari Minggu 04 Februari 2018," ujar Sarjono saat dikonfirmasi. Kronologi kejadian dijelaskan bahwa saat itu ada 4 orang pekerja yang tengah menaikkan bantalan rel dengan menggunakan alat berat. "Dudukannya tidak pas sehingga bantalan rel jatuh menimpa korban tsb yang mengakibatkan keempat korban meninggal dunia," kata Sarjono. Menurut informasi Polsek Jatinegara, Sarjono mengungkapkan, empat korban yang meninggal adalah Jaenudin (44), Dami Prasetyo (25), Jana Sutisna (44), dan Joni (34). Dami langsung meninggal di tempat karena posisi badan hancur sementara 3 orang lainnya mengalami luka di kepala. Dua orang meninggal di tempat dan dua lainnya saat dilarikan ke rumah sakit. Kepolisian juga menyita barang bukti berupa sepatu proyek, helm proyek, rompi proyek, dan KTP korban. "Selanjutnya barang bukti sesuai tersebut di atas dilakukan penyitaan dan dibawa ke Polsek Jatinegara untuk proses hukum lebih lajut," kata Sarjono. Sementara itu, meskipun membenarkan kecelakaan, Edy Kuswoyo tidak bisa menyampaikan detail dan kronologis kejadian. Ia pun mengaku kecelakaan tidak akan mengganggu perjalanan kereta api. 23 "Perjalanan kereta api dari dan ke Manggarai maupun Jatinegara, lancar atau tidak mengganggu perjalanan kereta baik Kerata Jarak Jauh maupun commuter line," kata Edy. Saat ini masih terus dilakukan evakuasi dan petugas masih melakukan penjagaan. Di lokasi kejadian juga terlihat dipasang garis polisi. Aparat kepolisian juga tengah melakukan olah kejadian tempat perkara. Kondisi cuaca di lokasi juga gerimis dan diketahui sejak dini hari sejumlah wilayah Jakarta termasuk Jakarta Timur diguyur hujan.Kecelakaan kerja sebelumnya juga terjadi pada proyek konstruksi di Jakarta yaitu box girder LRT (Light Rail Transit) di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, roboh pada Senin (22/1/2018) dini hari. a) Kronologi Kejadian Terjadi kecelakaan kerja saat pengerjaan proyek double-double track (DDT) di Jatinegara, Jakarta Timur, kecelakaan kerja yang mengakibatkan meninggalnya korban 4 orang pada hari Minggu 04 Februari 2018. Empat korban yang meninggal adalah Jaenudin (44), Dami Prasetyo (25), Jana Sutisna (44), dan Joni (34). Dami langsung meninggal di tempat karena posisi badan hancur sementara 3 orang lainnya mengalami luka di kepala. Dua orang meninggal di tempat dan dua lainnya saat dilarikan ke rumah sakit. Kondisi cuaca di lokasi juga gerimis dan sejumlah wilayah Jakarta termasuk Jakarta Timur diguyur hujan saat itu ada 4 orang pekerja yang tengah menaikkan bantalan rel dengan menggunakan alat berat. Dudukannya tidak pas sehingga bantalan rel jatuh menimpa korban tsb yang mengakibatkan keempat korban meninggal dunia.Kepolisian menyita barang buktiberupa sepatu proyek, helm proyek, rompi proyek, dan KTP korban, korban menggunakan APD yang lengkap. b) Analisis dengan Teori faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja (Suma’mur 2009) : Berikut adalah berita mengenai pekerja yang mengalami kecelakaan kerja kontruksi, maka akan dianalisis dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja (Suma’mur 2009) ada dua faktor yakni : 24 1. Faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan kasus diatas meliputi kelalaian,. Diperkirakan 85% dari kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh faktor manusia. Hal ini dikarenakan pekerja itu sendiri (manusia) yang tidak memenuhi keselamatan seperti lengah, ceroboh, mengantuk, lelah dan sebagainya. 2. Faktor mekanik dan lingkunganya, yakni letak mesin. Faktor mekanis dan lingkungan dapat pula dikelompokkan menurut keperluan dengan suatu maksud tertentu. Penyebab kecelakaan dapat disusun menurut kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dan pengangkat, tertimpa beban jatuh. Kira-kira sepertiga dari kecelakaan yang menyebabkan kematiaan dikarenakan terjatuh, baik dari tempat yang tinggi maupun ditempat datar. Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja, lantai yang kotor dan licin. Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tahun 1962 kasus diatas dapat diklasifikasikan dalam kecelakaan kerja sebagai berikut : a. Berdasarkan jenis pekerjaan Dari 8 jenis pekerjaan maka kasus diatas masuk dalam kecelakaan kerja tertimpa benda jatuh. b. Berdasarkan penyebab Dari 5 penyebab maka kasus diatas disebabkan angkat angkut, bantalan rel diletakkan tidak pas pada posisinya. c. Berdasarkan sifat luka atau kelainan Dari 10 sifat luka atau kelainan maka kasus diatas masuk dalam termasuk dalam gegar dan remuk karna posisi korban badan hancur. d. Berdasarkan letak kelainan atau luka ditubuh Dari 7letak kelainan atau luka tubuh, kasus kontruksi tersebut masuk bagian kepala dan badan karna tertimpa bantalan rel karna 3 orang mengalami luka di kepala dan badan yang hancur pada salah satu korban yang meninggal ditempat. 25 3.2 Kasus Internal 3.2.1 Briefing Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) Setiap pekerja mempunyai tanggung jawab yang sama untuk bekerja dengan aman dan memperhatikan keselamatan. Pada dasarnya kita semua mengerti potensi bahaya yang mungkin timbul di tempat area kerja kita masing-masing dan alat-alat pelindung diri apa saja yang harus kita gunakan. Setiap perusahaan berkewajiban menyediakan dan mencukupi perlengkapan dan kelengkapan alat pelindung diri. Dengan demikian diwajibkan pula bagi para staf dan pekerja di lingkungan kerja baik di industri maupun proyek untuk mengenakannya alat pelindung diri dengan baik dan benar. Namun dalam hal ini terdapat tiga pekerja K3 yang sedang di briefing sebelum melakukan pekerjaannya. Pertama, satu pekerja K3 yang disiplin menggunakan APD dengan baik dan benar dari ujung kepala hingga ujung kaki agar tidak terjadi kecelakaan kerja. Kedus, satu pekerja K3 yang tidak disiplin yang tidak menggunakan APD kemudian yang terakhir terdapat satu pekerja K3 yang menggunakan APD yang tidak sesuai dengan prosedur penggunaan APD yang benar. Dari kejadian diatas dapat dianalisis menggunakan teorinya yang dikenal sebagai Teori Domino Heinrich. Dalam Teori Domino Heinrich, kecelakaan terdiri 5, yaitu : 1. Kondisi kerja Saat briefing dua pekerja menolak untuk menggunakan APD dan tidak sesuai dengan prosedur APD yang sudah ditetapkan. 2. Kelalaian manusia Menyepelehkan pentingnya penggunaan APD saat akan melalukan pekerjaan. 3. Tindakan tidak aman 26 Di tempat kerja akan terjadi potensi bahaya yang akan mungkin timbul dan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Kondisi inilah yang akan menimpa para pekerja yang tidak menggunakan APD. 4. Cidera Cidera yang akan terjadi pada pekerja yang tidak menggunakan APD akan mengalami kecelakaan kerja baik ringan maupun berat. 3.2.2 Potensi Gempa Bumi di Kampus Unusa Tower Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) merupakan satusatunya kampus NU yang berada di Surabaya. Kampus tower UNUSA masih dalam tahap pembangunan. Pada reka adegan, kelompok kami memilih contoh kejadian gempa bumi. Pada saat terjadi gempa bumi sedang terlaksana proses belajar mengajar di dalam kelas. Pada saat kejadian tersebut ada 2 pegawai bagian K3 yang bertugas untuk menolong mahasiswa dan dosen yang masih berada di dalam kelas. Salah satu bagian k3 tidak memakai APD sedangkan satunya memakai APD. Mahasiswa dan dosen yang berada di dalam kelas ada yang langsung berhamburan keluar ada juga yang bersembunyi di bawah meja. Kondisi pada kejadian saat itu sangat panik pada saat evakuasi pegawai K3 yang memakai APD mengarahkan mahasiswa dan dosen menuju tangga darurat, sedangkan pegawai yang tidak memakai APD mengarahkan mahasiswa menuju lift. Untung pada saat evakuasi mahasiswa dan dosen tidak ada yang mengikuti pegawai K3 yang memasuki lif. Jadi pada saat kejadian itu hanya petugas K3 yang tidak memakai APD yang memasuki lift . Akibatnya petugas tersebut mengalami luka di kepala akibat proses evakuasi dan terkunji di dalam lif beberapa jam.Ketika sudah berada diluar pegawai K3 langsung megarahkan menuju di titik kumpul evakuasi Dari kejadian diatas kelompok kami akan menganalisis menggunakan Teori Domino Heinrich.Menurut Teori Domino Heinrich kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan : 27 1. Kondisi Kerja Kondisi yang mengakibatkan pegawai K3 mengalami luka dan cidera yaitu karena petugas tersebut keras kepala tidak mau memakai APD, dan ceroboh karena dalam keadaan panik petugas tersebut mengevakuasi dirinya sendiri dengan menaiki lift sehingga mengakibatkan terkunci di dalam lift. 2. Kelalaian Manusia Kelalaian yang dilakukan oleh pekerja K3 yaitu tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD). 3. Tindakan Tidak Aman a. Dalam kondisi gempa bumi pekerja K3 seharusnya menuju pada tangga darurat dan tidak menaiki lift karena dalam kondisi tersebut lift bisa mati mendadak sehingga sulit bagi penolong untuk melakukan evakuasi. b. Mahasiswa yang panik sebaiknya berlindung di bawah bangku jika kondisi sudah aman baru keluar ruangan, tidak langsung keluar ruangan pada saat gempa terjadi karena bisa mengakibatkan mahasiswa tertimpa barang. 4. Kecelakaan a. Tertimpa benda pada saat gempa b. Terbentur pada saat gempa c. Terkunci atau terjebak di lift 5. Cedera a. Kerusakan properti b. Luka di bagian kepala,tangan, dan kaki dan cidera 3.2.3 Tertimpah Barang Bawaan Pekerja Dari Atas Pada saat gempa bumi terjadi pekerja yang memakai APD apa adanya dengan perlengkapan yang tidak sesuai sedang melalukan aktivitas 28 kerjanya yakni membawa barang dengan menaiki tangga dengan barang bawaan yang terlalu banyak sehingga dapat menutupi pandangan jalannya. Dari identifikasi bahaya yang telah dilakukan pada penelitian oleh H.W. Heinrich dengan teorinya yang dikenal sebagai Teori Domino Heinrich. Dalam Teori Domino Heinrich, kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: 1. Kondisi kerja Pada saat bekerja, pekerja membawa barang dengan cara dipapa dibagian depan menaiki tangga, dengan barang bawaan yang terlalu banyak dan berat. 2. Kelalaian manusia Pekerja tidak menggunakan APD yang sesuai, barang bawaan pekerja terlalu banyak sehingga menutupi jarang pandang sipekerja yang mengakibatkan pekerja tidak mengetahui kondisi sekitar. 3. Tindakan tidak aman Pada saat pekerja membawa barang menaiki tangga, tanpa disadari ada 2 orang pekerja dibelakang dengan kondisi satu menggunakan APD lengkap, dan satu pekerja tanpa APD yang sedang berjalan menaiki tangga sambil bercengkrama, kedua orang tersebut tidak tahu jika sedang dalam kondisi bahaya. 4. Kecelakaan Dikarenakan jarak pandang yang tertutupi oleh barang bawaan, akhirnya pekerja tersandung anak tangga dan barang bawaan pekerja dengan APD tidak sesuai akhirnya jatuh kebawah menimpahi 2 orang pekerja yang berjalan dibelakang. 5. Cedera. 2 orang pekerja yang ada dibelakang tertimpah barang dari atas, keduanya terjatuh karena barang menimpahi bagian kepala mereka, karena 2 orang pekerja tersebut 1 pekerja menggunakan APD lengkap 29 hanya terjatuh namun tidak ada luka, namun 1 pekerja yang tidak memakai APD mengalami luka parah dibagian kepala. 30 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Menurut Kepmenaker Nomor 463/MEN/1993, Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang lainnya di tempat kerja/perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta agar setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien. Definisi Konstruksi adalah suatu kegiatan membangun sarana maupunprasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksijuga dapatdikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area ataupada beberapa area.Walaupun kegiatan konstruksi dikenal sebagai satu pekerjaan,tetapi dalam kenyataannya konstruksi merupakan satuan kegiatan yang terdiri daribeberapa pekerjaan lain yang berbeda. Dalam kasus eksternal, menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tahun 1962 kasus tersebut dapat diklasifikasikan dalam kecelakaan kerja sebagai berikut : a. Berdasarkan jenis pekerjaan Dari 8 jenis pekerjaan maka kasus diatas masuk dalam kecelakaan kerja tertimpa benda jatuh. b. Berdasarkan penyebab Dari 5 penyebab maka kasus diatas disebabkan angkat angkut, bantalan rel diletakkan tidak pas pada posisinya. c. Berdasarkan sifat luka atau kelainan Dari 10 sifat luka atau kelainan maka kasus diatas masuk dalam termasuk dalam gegar dan remuk karna posisi korban badan hancur. d. Berdasarkan letak kelainan atau luka ditubuh Dari 7 letak kelainan atau luka tubuh, kasus kontruksi tersebut masuk bagian kepala dan badan karna tertimpa bantalan rel karna 3 orang mengalami luka di kepala dan badan yang hancur pada salah satu korban yang meninggal ditempat. 31 Sedangkan kesimpulan yang didapat dalam kasus internal yang lokasinya berada dalam kampus UNUSA Tower sendiri adalah saat pekerja tidak mau menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) : 1. Kondisi kerja Saat briefing dua pekerja menolak untuk menggunakan APD dan tidak sesuai dengan prosedur APD yang sudah ditetapkan. 2. Kelalaian manusia Menyepelehkan pentingnya penggunaan APD saat akan melalukan pekerjaan. 3. Tindakan tidak aman Di tempat kerja akan terjadi potensi bahaya yang akan mungkin timbul dan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Kondisi inilah yang akan menimpa para pekerja yang tidak menggunakan APD. 4. Cidera Cidera yang akan terjadi pada pekerja yang tidak menggunakan APD akan mengalami kecelakaan kerja baik ringan maupun berat. Adapula risiko bahaya yang terjadi saat ada gempa bumi di kampus UNUSA Tower dan pekerja tidak menggunakan APD: 1. Kondisi Kerja Kondisi yang mengakibatkan pegawai K3 mengalami luka dan cidera yaitu karena petugas tersebut keras kepala tidak mau memakai APD, dan ceroboh karena dalam keadaan panik petugas tersebut mengevakuasi dirinya sendiri dengan menaiki lift sehingga mengakibatkan terkunci di dalam lift. 2. Kelalaian Manusia Kelalaian yang dilakukan oleh pekerja K3 yaitu tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD). 3. Tindakan Tidak Aman a. Dalam kondisi gempa bumi pekerja K3 seharusnya menuju pada tangga darurat dan tidak menaiki lift karena dalam kondisi tersebut lift bisa mati mendadak sehingga sulit bagi penolong untuk melakukan evakuasi. 32 b. Mahasiswa yang panik sebaiknya berlindung di bawah bangku jika kondisi sudah aman baru keluar ruangan, tidak langsung keluar ruangan pada saat gempa terjadi karena bisa mengakibatkan mahasiswa tertimpa barang. 4. Kecelakaan a. Tertimpa benda pada saat gempa b. Terbentur pada saat gempa c. Terkunci atau terjebak di lift 5. Cedera a. Kerusakan properti b. Luka di bagian kepala,tangan, dan kaki dan cidera Kemudian pada saat gempa bumi terjadi pekerja yang memakai APD apa adanya dengan perlengkapan yang tidak sesuai sedang melalukan aktivitas kerjanya yakni membawa barang dengan menaiki tangga dengan barang bawaan yang terlalu banyak sehingga dapat menutupi pandangan jalannya, hal ini dapat menimbulkan beberapa bahaya kecelakaanyaitu : 1. Kondisi kerja Pada saat bekerja, pekerja membawa barang dengan cara dipapa dibagian depan menaiki tangga, dengan barang bawaan yang terlalu banyak dan berat. 2. Kelalaian manusia Pekerja tidak menggunakan APD yang sesuai, barang bawaan pekerja terlalu banyak sehingga menutupi jarang pandang sipekerja yang mengakibatkan pekerja tidak mengetahui kondisi sekitar. 3. Tindakan tidak aman Pada saat pekerja membawa barang menaiki tangga, tanpa disadari ada 2 orang pekerja dibelakang dengan kondisi satu menggunakan APD lengkap, dan satu pekerja tanpa APD yang sedang berjalan menaiki tangga 33 sambil bercengkrama, kedua orang tersebut tidak tahu jika sedang dalam kondisi bahaya. 4. Kecelakaan Dikarenakan jarak pandang yang tertutupi oleh barang bawaan, akhirnya pekerja tersandung anak tangga dan barang bawaan pekerja dengan APD tidak sesuai akhirnya jatuh kebawah menimpahi 2 orang pekerja yang berjalan dibelakang. 5. Cedera. 2 orang pekerja yang ada dibelakang tertimpah barang dari atas, keduanya terjatuh karena barang menimpahi bagian kepala mereka, karena 2 orang pekerja tersebut 1 pekerja menggunakan APD lengkap hanya terjatuh namun tidak ada luka, namun 1 pekerja yang tidak memakai APD mengalami luka parah dibagian kepala. 4.2 Saran Pekerja kontruksi harus memakai APD yang sudah disediakan demi keselamatan diri sendiri, agar saat terjadi kecelakaan kerja seperti tertimpa barang, atau saat ada gempa bumi perkerja tidak terkena reruntuhan bangunan karena pekerja sudah menggunakan APD dengan baik dan benar. Kemudian saat terjadinya gempa, alangkah baiknya untuk tidak menggunakan lift, tetapimenggunakantangga darurat untuk menelamatkan diri. 34 DAFTAR PUSTAKA Aditama. 2006. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Indonesia. Bayong, Tsuyono. 2006. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya-UPI. Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia. 2000. SNI 03-2834-2000 Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Bandung: Balitbang PU. Dewan Keselamatan & Kesehatan Kerja Nasional (DK3N). 2000. Keselamatandan Kesehatan Kerja di Indonesia 1990-2000. Prosiding Satu Abad K3 di Indonesia. Jakarta. Djati, I. 2006. Bagaimana Mencapai Zero Accident di Perusahaan. Prosiding Seminar K3 di RS. Persahabatan, UIpress. Ervianto, I.W. 2005. Manajemen Proyek Konstruksi Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi. E. Bird, Jr, Frank and L. 1985. Germain. Practical Loss Control Leadership. International Loss Control Institute. Heinrich, H.W.1980. Industrial Accident Prevention. New York : McGraw-Hill Book Company. Husni, Lalu. 2006. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. https://tirto.id/daftar-kecelakaan-proyek-infrastruktur-pada-awal-2018-cE4M,, diakses 3 maret 2018. http://disnakertrans.jatimprov.go.id, diakses 3 maret 2018 http://ohsas-18001-occupational-health-and-safety.com, diakses 7 Maret 2018. https://id.wikipedia.org/wiki/Konstruksi, diakses 8 Maret 2018. Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyo, Agung. 2004. Pengantar Ilmu Kebumian. Bandung: Pustaka Setia. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 08. (2010). Alat Pelindung Diri. Jakarta. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER.03/MEN/1998. Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan. Jakarta. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. PER.02/MEN/1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja. Sekretariat Kabinet RI. Jakarta. Sartika. 2005. Gambaran Penggunaan Pelaksanaan Program Penggunaan Alat Pelindung Diri di Bagian Produksi Non Penecilin di PT. Alphafarma. Laporan Magang. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970, T. (t.thn.). http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/berita/5769/Jumlah-kecelakaan-kerjadi-Indonesiamasih-tinggi.html. 2

Judul: Makalah Kontruksi.docx

Oleh: Tiya Humaira


Ikuti kami