Makalah Leukosit.docx

Oleh Desti Meiliadi

102,4 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Leukosit.docx

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan tingkat tinggi yang berfungsi sebagai alat transportasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tubuh, pertahanan tubuh dari serangan kuman, dan lain sebagainya. Beda halnyadengan tumbuhan, manusia dan hewan level tinggi punya sistem transportasidengan darah. Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan kematian. Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada tubuh kita yaitu sekitar sepertiga belas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau 5 liter. Jenis sel darah manusia terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan trombosit (keping darah). Sel darah putih (lekosit) merupakan unit yang aktif dari system pertahanan tubuh. Lekosit berfungsi menyediakan pertahanan yang cepat dankuat terhadap setiap agen infeksi yang ada. Terdapat beberapa jenis lekosit, yaitu netrofil, eosinofil, basofil, monosit, limfosit dan megakarosit. Pada orang dewasa terdapat kira-kira 7000 sel darah putih per millimeter kubik. Peran sel darah putih (lekosit) yang begitu penting, sehingga seorang manusia perlu dilakukan pengecekan kadar sel darah putih (lekosit). 1.2 Rumusan Masalah Dari Latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu: 1. Apa Pengertian Lekosit? 2. Berapa Kadar Normal Lekosit dalam Tubuh? 3. Bagaimana Pembentukan Lekosit? 4. Bagaimana Jenis-jenis Lekosit? 5. Apa Faktor Lekosit menjadi Abnormal? 6. Bagaimana cara Pemeriksaan Hitung Lekosit? 7. Apa Sumber Kesalahan dalam Pemeriksaan Lekosit? 1.3 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui Pengertian Lekosit; 2. Untuk mengetahui Kadar Normal Lekosit dalam Tubuh; 3. Untuk mengetahui Cara Pembentukan Lekosit; 4. Untuk mengetahui Jenis-jenis Lekosit; 5. Untuk mengetahui Faktor Lekosit menjadi Abnormal; 6. Untuk mengetahui cara Pemeriksaan Hitung Lekosit; 7. Untuk mengetahui Sumber Kesalahan dalam Pemeriksaan Lekosit. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Lekosit Lekosit (White Blood Cell) adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler/diapedesis. 2.2 Kadar Normal Lekosit Lekosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit daripada eritrosit dengan rasio 1 : 700. Dalam keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat - sekitar 7000-25000 sel per tetes. Dalam setiap milimeter kubil darah terdapat 6000 sampai 10000 (rata-rata 8000) sel darah putih. Dalam kasus leukemia, jumlahnya dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes. Jika jumlahnya lebih dari 11000 sel/mm3 maka keadaan ini disebut Lekositosis dan bila jumlah kurang dari 4000 sel/mm3 maka disebut leukopenia. Nilai normal Lekosit, yaitu: Dewasa : 4.000-11.000/µl; Neonatus (Bayi baru lahir) : 10.000-26.000/µl; Anak umur 1 tahun : 6.000-18.000/µl; Anak umur 4-7 tahun : 5.000-15.000/µl; Anak umur 8-12 tahun : 4.500-13.500/µl 2.3 Pembentukan Lekosit Untuk terbentuknya Lekosit terdapat proses terjadinya pembentukan Lekosit tersebut, terdapat dua proses pembentukan Lekosit, yaitu: 1. Granulopoeisis Perkembangan granulopoeisis dimulai dengan keturunan pertama dari hemositoblas yang dinamakan myeloblas, selanjutnya berdeferensiasi secara berturut – turut melalui tahap, promyelosit, myelosit, metamyelosit batang dan segmen. 2. Limfopoesis Limfosit juga berasal dari sel induk yang potensial seperti sel induk limfosit yang selanjutnya dengan pengaruh unsur – unsur epitel jaringan limfoid akan berdeferensiasi menjadi limfosit. 2.4 Jenis-jenis Lekosit Lekosit memiliki beberapa macam jenis sel yang dapat di identifikasi secara mikroskopik berdasarkan urutan, bentuk inti (nucleus), dan granula dalam sitoplasma. Berdasarkan terdapatnya butiran atau granula dalam sitoplasmanya, lekosit terbagi menjadi dua, yaitu : 1. Granulosit Granulosit, yaitu lekosit yang di tandai dengan kehadiran butiran dalam sitoplasma bila di lihat dengan mikroskop cahaya. Ada tiga jenis granulosit, yaitu eosinofil, basofil, dan netrofil, yang di namai sesuai dengan sifat pewarnaan. A. Eosinofil Eosinofil adalah sel darah putih dari kategori granulosit yang berperan dalam sistem kekebalan dengan melawan parasit multiselular dan beberap infeksi pada makhluk vertebrata. Bersama-sama dengan sel biang, eosinofil juga ikut mengendalikan mekanisme alergi. Eosinofil terbentuk pada proses haematopoiesis yang terjadi pada sumsum tulang sebelum bermigrasi ke dalam sirkulasi darah. Eosinofil mengandung sejumlah zat kimiawi antara lain histamin, eosinofil peroksidase, ribonuklease, deoksiribonuklease, lipase, [[plasminogen] dan beberapa asam amino yang dirilis melalui proses degranulasi setelah eosinofil teraktivasi. Zat-zat ini bersifat toksin terhadap parasit dan jaringan tubuh. Eosinofil merupakan sel substrat peradangan dalam reaksi alergi. Aktivasi dan pelepasan racun oleh eosinofil diatur dengan ketat untuk mencegah penghancuran jaringan yang tidak diperlukan. Individu normal mempunyai rasio eosinofil sekitar 1 hingga 6% terhadap sel darah putih dengan ukuran sekitar 12 – 17 mikrometer. Eosinofil dapat ditemukan pada medulla oblongata dan sambungan antara korteks otak besar dan timus, dan di dalam saluran pencernaan, ovarium, uterus, limpa dan lymph nodes. Tetapi tidak dijumpai di paru, kulit, esofagus dan organ dalam lainnya, pada kondisi normal, keberadaan eosinofil pada area ini sering merupakan pertanda adanya suatu penyakit. Eosinofil dapat bertahan dalam sirkulasi darah selama 8-12 jam, dan bertahan lebih lama sekitar 8-12 hari di dalam jaringan apabila tidak terdapat stimulasi. B. Basofil Basofil adalah granulosit dengan populasi paling minim, yaitu sekitar 0,01 – 0,3% dari sirkulasi sel darah putih. Basofil mengandung banyak granula sitoplasmik dengan dua lobus. Seperti granulosit lain, basofil dapat tertarik keluar menuju jaringan tubuh dalam kondisi tertentu. Saat teraktivasi, basofil mengeluarkan antara lain histamin, heparin, kondroitin, elastase dan lisofosfolipase, leukotriena dan beberapa macam sitokina. Basofil memainkan peran dalam reaksi alergi (seperti asma). C. Neutrofil Neutrofil adalah bagian sel darah putih dari kelompok granulosit. Bersama dengan dua sel granulosit lain: eosinofil dan basofil yang mempunyai granula pada sitoplasma, disebut juga polymorphonuclear karena bentuk inti sel mereka yang aneh. Granula neutrofil berwarna merah kebiruan dengan 3 inti sel. Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri dan proses peradangan kecil lainnya, serta menjadi sel yang pertama hadir ketika terjadi infeksi di suatu tempat. Dengan sifat fagositik yang mirip dengan makrofaga, neutrofil menyerang patogen dengan serangan respiratori menggunakan berbagai macam substansi beracun yang mengandung bahan pengoksidasi kuat, termasuk hidrogen peroksida, oksigen radikal bebas, dan hipoklorit. Rasio sel darah putih dari neutrofil umumnya mencapai 50-60%. Sumsum tulang normal orang dewasa memproduksi setidaknya 100 miliar neutrofil sehari, dan meningkat menjadi sepuluh kali lipatnya juga terjadi inflamasi akut. Setelah lepas dari sumsum tulang, neutrofil akan mengalami 6 tahap morfologis: mielocit, metamielocit, neutrofil non segmen (band), neutrofil segmen. Neutrofil segmen merupakan sel aktif dengan kapasitas penuh, yang mengandung granula sitoplasmik (primer atau azurofil, sekunder, atau spesifik) dan inti sel berongga yang kaya kromatin. Sel neutrofil yang rusak terlihat sebagai nanah. 2. Agranulosit Agranulosit ditandai dengan ketiadaan jelas butiran dalam sitoplasmanya. Agranulosit terbagi atas dua, yaitu limfosit dan monosit. A. Limfosit Limfosit adalah sejenis sel darah putih pada sistem kekebalan makhluk vertebrata. Ada dua kategori besar limfosit, limfosit berbutiran besar (large granular lymphocytes) dan limfosit kecil. Limfosit memiliki peranan penting dan terpadu dalam sistem pertahanan tubuh. Limfosit dibuat di sumsum tulang hati (pada fetus) dengan bentuk awal yang sama tetapi kemudian berdiferensiasi. Limfosit dapat menghasilkan antibodi pada anak-anak dan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. B. Monosit Monosit (bahasa Inggris: monocyte, mononuclear) adalah kelompok darah putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan. Monosit dapat dikenali dari warna inti selnya. Pada saat terjadi peradangan, monosit : 1. Bermigrasi menuju lokasi infeksi; 2. Mengganti sel makrofaga dan DC yang rusak atau bermigrasi, dengan membelah diri atau berubah menjadi salah satu sel tersebut. Monosit diproduksi di dalam sumsum tulang dari sel punca haematopoetik yang disebut monoblas. Setengah jumlah produksi tersimpan di dalam limpa pada bagian pulpa. Monosit tersirkulasi dalam peredaran darah dengan rasio plasma 35% selama satu hingga tiga hari, kemudian bermigrasi ke seluruh jaringan tubuh. Sesampai di jaringan, monosit akan menjadi matang dan terdiferensiasi menjadi beberapa jenis makrofaga, sel dendritik dan osteoklas. Umumnya terdapat dua pengelompokan makrofaga berdasarkan aktivasi monosit, yaitu makrofaga hasil aktivasi hormon M-CSF dan hormon GM-CSF. Makrofaga M-CSF mempunyai sitoplasma yang lebih besar, kapasitas fagositosis yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap infeksi virus stomatitis vesikular. Kebalikannya, makrofaga GM-CSF lebih bersifat sitotoksik terhadap sel yang tahan terhadap sitokina jenis TNF, mempunyai ekspresi MHC kelas II lebih banyak, dan sekresi PGE yang lebih banyak dan teratur. Setelah itu, turunan jenis makrofaga akan ditentukan lebih lanjut oleh stimulan lain seperti jenis hormon dari kelas interferon dan kelas TNF. Stimulasi hormon sitokina jenis GM-CSF dan IL-4 akan mengaktivasi monosit dan makrofaga untuk menjadi sel dendritik. 2.5 Faktor Lekosit Abnormal Presentasi dari sel-sel lekosit dapat memberikan informasi mengenai berbagai keadaan penyakit. Jumlah absolut dari berbagai jenis sel-sel lekosit dapat memberi petunjuk apakah terdapat penyakit sumsum tulang primer, atau apakah kelainan merupakan suatu reaksi terhadap proses penyakit sekunder. Peningkatan jumlah lekosit di atas normal di sebut lekositosis, sedangkan penurunan jumlah lekosit di bawah normal di sebut leukopenia. Variasi jumlah lekosit di pengaruhi oleh : 1. Jumlah yang masuk peredaran darah dan yang keluar dari peredaran darah, di pengaruhi oleh bakteri, endotoksin, besar pori dinding sinusoid, tingkat maturasi sel; 2. Distribusinya; 3. Kombinasi antara jumlah dan distribusi. Indikasi di lakukannya pemeriksaan hitung lekosit adalah tes rutin sebagai bagian dari tes darah lengkap (full blood count), untuk menentukan lekositosis atau leukopenia, dan pemantauan penyakit atau pengobatan. Kadar sel darah putih atau leukosit yang terlalu tinggi atau leukositosis, bisa mengindikasikan: 1. Naiknya produksi leukosit guna melawan infeksi; 2. Reaksi obat-obatan; 3. Penyakit pada sumsum tulang, sehingga produksi leukosit menjadi abnormal; 4. Gangguan sistem imun. Sementara kadar sel darah putih bisa juga turun di bawah normal (kurang dari 3.500 sel per mikroliter darah) karena: 1. Infeksi virus; 2. Kelainan kongenital yang terkait dengan fungsi sumsum tulang; 3. Kanker; 4. Gangguan autoimun; 5. Obat-obatan yang merusak sel darah putih. Kenaikan jumlah lekosit (lekositosis) dapat di jumpai misalnya pada infeksi, inflamasi, anemia, leukimia, reaksi leukemoid, nekrosis jaringan (infark miokardial, sirosis hati, luka bakar, kanker organ, emfisema, ulkus peptikum), penyakit kolagen, penyakit parasitik, stress (pembedahan, demam, kekacauan emosional yang berlangsung lama), keadaan fisiologik (misalnya latihan jasmani berat, akhir kehamilan, waktu partus, neonatus), dan lain-lain. Pengaruh obat misalnya aspirin, heparin, digitalis, epinefrin, litium, histamin, antibiotik (ampicilin, eritromisin, kanamisin, metisilin, tetrasiklin, vankomisin, streptomisin), senyawa emas, prokainamid (pronestyl), triamteren (dyrenium), alopurinol, kalium iodida, derivat hidantoin, sulfonamida (aksi lama). Penurunan jumlah lekosit (leukopenia) dapat di jumpai misalnya pada penyakit hematopoietik (anemia aplastik, anemia pernisiosa, hipersplenisme, penyakit graucher), infeksi virus, malaria, agranulositosis, alkoholisme, systemic lupus erythematosus (SLE), demam tifoid, iradiasi, malnutrisi. Pengaruh obat: penisilin, sefalotin, kloranfenikol, asetaminofen (Tylenol), sulfonamida, propiltiourasil, barbiturat, obat anti kanker, diazepam (valium), diuretik (furosemid [lasix], asam etakrinat [Edecrin]), klordiazepoksid (librium), agen hipoglikemik oral, indometasin (indocin), metildopa (Aldomet), rifampin, fenotiazin. 2.6 Pemeriksaan Hitung Lekosit Hitung lekosit menyatakan jumlah lekosit perliter darah (lesysteme international d’Unites = SI Unit) atau per millimeter kubik atau mikroliter (unit konvensional). Lekosit atau sel darah putih adalah sel yang bulat berinti dengan ukuran 9 – 20 µm, jumlahnya sekitar 4.0 – 11.0 ribu/mm 3 darah. Tempat pembentukannya di sumsum tulang dan jaringan limfatik. Lekosit berasal dari sel bakal (stem cell) dan kemudian mengalami diferensiasi (mengalami pematangan). Lekosit di angkut oleh darah ke berbagai jaringan tubuh tempat sel-sel tersebut melakukan fungsi fisiologiknya. Spesimen yang digunakan pada pemeriksaan hitung jumlah lekosit, yaitu: 1. Darah kapiler atau darah vena EDTA; 2. Tidak ada pembatasan asupan makanan dan minuman pada penderita; 3. Darah tidak boleh diambil pada lengan yang terpasang jalur intra-vena. Metode pemeriksaan hitung lekosit ada dua, yaitu cara manual dan cara elektronik/otomik. Saat ini sudah banyak laboratorium yang menggunakan cara elektronik. Tetapi banyak juga yang masih menggunakan cara manual. 1. Cara Manual Cara manual dilakukan dengan menghitung lekosit secara visual dengan mikroskop. Darah terlebih dahulu diencerkan dengan larutan asam lemah dan perhitungan dilakukan menggunakan bilik hitung (counting chamber). Kesalahan cara ini adalah sebesar 15%. Prinsip dasar pemeriksaan manual, yaitu: darah diencerkan dengan asam lemah, sel-sel selain lekosit akan dilisiskan dan darah menjadi encer sehingga lekosit lebih mudah dihitung. Jumlah lekosit per mikroliter darah ditentukan dengan menghitung sel-sel di bawah mikroskop dan kemudian mengalikannya dengan menggunakan faktor pengali tertentu. Peralatan dan Reagen yang digunakan pada pemeriksaan manual, yaitu: A. Mikroskop; B. Bilik hitung dengan kaca penutupnya; C. Pipet Lekosit beserta karet pembuluhnya. Dapat juga menggunakan mikropipet dengan tip-nya; D. Tabung reaksi; E. Pipet Pasteur; F. Larutan Turk yang berisi asam asetat glacial 15 ml, gentian violet 1% 1 ml, dan aquades add 475 ml. Cara kerja pemeriksaan manual Hitung Lekosit, yaitu: A. Mengencerkan darah dengan larutan Turk; B. Pengenceran dapat menggunakan pipet Thoma lekosit atau tabung, dalam contoh pemeriksaan ini, darah diencerkan 20 kali; C. Pengenceran dengan menggunakan pipet lekosit: i. Pipet lekosit disiapkan, selang karet dipasang pada salah satu ujung pipet yang berada di dekat bagian yang bulat; ii. Sampel darah dicampur baik-baik hingga homogen kemudian diisap dengan pipet lekosit sampai skala 0,5. Darah yang menempel di bagian luar ujung pipet dibersihkan dengan kertas tisu; iii. Dilanjutkan menghisap reagen sampai skala 11. Hindari terjadinya gelembung udara; iv. Ujung pipet ditutup dengan ibu jari dan lepaskan selang karet. Kemudian tutup salah satu ujung pipet dengan ibu jari dan ujung pipet lainnya dengan jari tengah. Kocok tabung selama 2-3 menit supaya homogen. Letakkan pipet di atas meja dan biarkan selama 3-5 menit; D. Pengenceran dengan tabung: i. Ke dalam tabung reaksi yang bersih dan kering diisi larutan Turk sebanyak 190 µl dengan menggunakan mikropipet; ii. Sampel darah dicampur baik-baik hingga homogen kemudian diisap dengan mikropipet 10 µl. Darah yang menempel di bagian luar ujung tip pipet dibersihkan dengan kertas tisu; iii. Tiupkan sampel darah tersebut ke dalam larutan Turk yang telah disiapkan. Bilas pipet dengan cara mengisap dan meniup larutan dengan beberapa kali sampai ujung tip pipet terlihat bersih; iv. Tabung dikocok-kocok beberapa kali supaya homogen. Letakkan tabung pada rak dan biarkan selama 3-5 menit. E. Mengisi bilik hitung dengan sampel yang telah diencerkan: i. Periksa kebersihan permukaan area perhitungan dan kaca penutup, jika terlihat kotor dibersihkan dulu; ii. Letakkan kaca penutup sedemikian rupa sehingga kedua bidang yang dibagi pada bilik hitung tertutup. Agar kaca penutup dapat mudah melekat, kedua tanggul dibasahi sedikit dengan jari tangan basah; iii. Masukkan sampel yang telah diencerkan ke dalam bilik hitung. F. Sampel yang diencerkan dengan pipet lekosit: i. Kocok pipet supaya larutan sampel homogen, lalu buang 3-4 tetes pertama; ii. Posisikan ujung pipet pada tepi permukaan bilik hitung dengan menyentuh pinggir kaca penutup; iii. Biarkan tetesan larutan sampel mengalir perlahan-lahan dengan daya kapilaritasnya. Cairan tidak boleh mengalir ke alur bilik hitung. G. Sampel yang diencerkan dengan tabung: i. Tabung dikocok-kocok beberapa kali supaya homogen; ii. Ambil larutan sampel dengan pipet Pasteur kemudian teteskan ke dalam bilik hitung. Posisikan ujung pipet pada tepi permukaan bilik hitung dengan menyentuh pinggir kaca penutup.Alirkan larutan sampel ke dalam bilik hitung perlahan-lahan. Cairan tidak boleh mengalir ke alur bilik hitung. iii. Letakkan bilik hitung pada tempat yang rata, biarkan selama 2-3 menit unutk memberi kesempatan kepada lekosit mengendap. H. Menghitung Lekosit: i. Meletakkan bilik hitung pada meja preparat mikroskop, gunakan perbesaran 10x. Kurangi cahaya yang masuk dengan menegcilkan diafragma; ii. Pengamatan difokuskan pada bidang-bidang bergaris dalam bilik hitung dan carilah lekosit; iii. Lakukan penghitungan lekosit pada 4 bidang besar bilik hitung. Semua sel yang menempel garis batas sebelah kiri dan atas dihitung, sedangkan semua sel yang menempel garis batas sebelah kanan dan bawah tidak dihitung; iv. Seluruh sel lekosit yang ditemukan dalam 4 kotak besar dicatat kemudian dilakukan penghitungan menggunakan rumus-rumus yang ada untuk menentuka jumlah lekosit permilimeter kubik (mm3) atau mikroliter (µl) darah; v. Jika jumlah sel terlalu rendah, perlu dilakukan penghitungan lagi dengan pengenceran yang diperkecil. Sebaliknya, jika jumlah sel terlalu tinggi, naka pengenceran diperbesar, jika pengenceran menggunakan pipet Thoma Lekosit, maka dapat diganti dengan pipet eritrosit. 2. Cara Elektronik Cara elektronik dewasa ini telah banyak dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin penghitung sel darah (hematology analyzer). Prinsip dasar digunakan yaitu impedansi (resistensi elektrik) dan pembauran cahaya (light scattering/optical scatter). Prinsip impedansi didasarkan pada deteksi dan pengukuran perubahan hambatan listrik yang dihasilkan oleh sel-sel darah saat mereka melintasi sebuah flow cell yang dilalui cahaya. Hasil hitung lekosit dengan analyzer ditampilkan pada lembar hasil sebagai WBC (White Blood Cell). Penggunaan cara elektronik dengan alat penghitung sel darah lebih menguntungkan karena mampu menghitung sel dalam jumlah yang jauh lebih besar, menghemat waktu dan tenaga serta hasil cepat diterima oleh klinisi untuk kepentingan terapi pada pasien. Namun harga tersebut mahal, prosedur pemakaian dan pemeliharaannya harus dilakukan dengan sangat cermat. Disamping itu upaya penjaminan mutu juga harus selalu dilakukan. 2.7 Sumber Kesalahan Pemeriksaan Lekosit Sumber kesalahan yang sering terjadi pada saat pemeriksaan hitung lekosit, yaitu: 1. Tahap Pra-analitik A. Puasa Dua jam setelah makan 800 kalori volume plasma akan meningkat, sebaliknya setelah gerak badan volume akan berkurang. Perubahan volume plasma tersebut akan menyebabkan perubahan jumlah sel/ml darah maupun susunan plasma. B. Obat Penggunaan obat-obatan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi, misalnya adrenalin secara intravena, akan meningkatkan jumlah lekosit. C. Posisi Waktu Pengambilan Perubahan posisi waktu berbaring menjadi berdiri akan mengurangi volume darah, sebaliknya perubahan posisi berdiri menjadi berbaring akan meningkatkan volume darah sebanyak 10-15 %. D. Alat Dalam penggunaan alat pembendung harus hati-hati, karena pembendung yang terlalu lama akan menyebabkan hemokonsentrasi yang mengakibatkan perubahan susunan darah yang diperoleh. Penampungan sampel yang terkontaminasi atau tidak tertutup rapat. 2. Tahap Analitik Pada tahap ini kesalahan dapat berasal dari alat dan kesalahan teknik. Kesalahan pada alat disebabkan volume tidak tetap karena pipet tidak dikalibrasi, penggunaan kamar hitung yang dikotor, basah dan tidak menggunakan kaca penutup khusus. Sedangkan kesalahan pada teknik meliputi volume darah tidak tepat, tidak terjadi pencampuran yang homogen antara darah dan anti koagulan, mengisi kamar hitung secara tidak benar. 3. Pasca Analitik Kesalahan pada tahap ini sifatnya kesalahan administrasi misalnya salah menuliskan hasil BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Lekosit (White Blood Cell) adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Nilai normal Lekosit berbedabeda pada masing-masing umur manusia. Untuk terbentuknya Lekosit terdapat proses terjadinya pembentukan Lekosit tersebut, terdapat dua proses pembentukan Lekosit, yaitu: Granulopoeisis, Limfopoesis. Berdasarkan terdapatnya butiran atau granula dalam sitoplasmanya, lekosit terbagi menjadi dua, yaitu : Granulosit (Eosinofil, Basofil, Neutrofil) dan Agranulosit (Limfosit dan Monosit). Kadar sel darah putih atau leukosit dapat dipicu karena naiknya produksi leukosit guna melawan infeksi, reaksi obat-obatan, penyakit pada sumsum tulang, sehingga produksi leukosit menjadi abnormal, gangguan sistem imun, infeksi virus, kelainan kongenital yang terkait dengan fungsi sumsum tulang, kanker, Gangguan autoimun, dan obat-obatan yang merusak sel darah putih. Metode pemeriksaan hitung lekosit ada dua, yaitu cara manual dan cara elektronik/otomik. Prosedur Kerja Pemeriksaan Hitung Lekosit, yaitu membuat pengenceran, mengisi kamar hitung, dan menghitung jumlah sel. Sumber kesalahan yang sering terjadi pada saat pemeriksaan hitung lekosit, yaitu: Tahap Pra-analitik, Analitik dan Pasca Analitik 3.2 Saran Dengan adanya makalah ini kami berharap kepada mahasiswa agar lebih memahami tentang cara menghitung Lekosit agar kesalahan diagnosis dapat dikurangi. DAFTAR PUSTAKA Sutedjo, AY. 2008. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta: Amara Books. Riswanto. 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Yogyakarta: Alfamedia dan Kanal Media. World Health Organization. 2003. Pedoman Teknik Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Tjokronegoro, Arjatmo & Utama, Hendra. 1992. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine M. 1992. Patofisiologi Konsep Klinis Prosesproses Penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Judul: Makalah Leukosit.docx

Oleh: Desti Meiliadi


Ikuti kami