Jawaban Uts Sosiologi Antropologi Gizi

Oleh Devita Cahya

369,7 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Uts Sosiologi Antropologi Gizi

UJIAN TENGAH SEMESTER SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI Nama : Devita Aliefia Cahya Mawarni NPM : P21331118019 Kampus : Poltekkes Kemenkes Jakarta II Tahun : 2019 1. 1. tingkat ekonomi 4. pola asuh Sosiologi Antropologi Gizi 2. tingkat pengetahuan terhadap gizi 3. ketersediaan bahan pangan Dari bagan diatas dapat dijelaskan faktor sosiologi antroplogi gizi adalah: a. Tingkat ekonomi Tingkat ekonomi merupakan faktor sosiologi antropologi yang mana bisa dibilang adalah faktor yang penting. Mereka yang memiliki tingkat social ekonomi yang tinggi mungkin akan mendapatkan asupan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki tingkat social ekonomi yang rendah. Mereka yang memiliki tingkat social ekonomi yang rendah akan hanya memikirkan bagaimana keluarganya dapat merasa kenyang tanpa mementingkan nilai gizi yang terkandung dari makana yang ia sajikan di rumah tangga. b. Tingkat pengetahuan terhadap gizi Masyarakat yang memiliki pengetahuan terhadap gizi akan berusaha untuk mengatur nilai gizi terhadap makanan yang ia konsumsi dan mengikuti aturan yang mereka pelajari. Sementara itu, masyarakat yang tidak terlalu memiliki pengetahuan terhadap gizi akan lebih memilih sikap bodo amat terhadapa makanan yang akan ia konsumsi asalkan itu tidak menyebabkan penyakit. c. Ketersediaan bahan pangan Ketersediaan bahan pangan juga merupakan salah satu contoh faktor yang mempengaruhi antropologi gizi. Dimana daerah yang memiliki ketersediaan makanan yang rendah seperti apabila daerah tersebut sedang mengalami kemarau panjang atau mengalami musibah seperti bencana alam. Mereka akan mengonsumsi makanan yang bisa dibilang memiliki nilai gizi yang rendah akibat keterbatasan bahan pangan tersebut. Sehingga orang yang mengonsumsi makanan dengan nilai gizi yang rendah akan rentan terhadap penyakit. Sementara itu masyarakat yang daerahnya ketersediaan bahan pangannya melimpah akan memiliki nilai gizi yang tinggi. d. Pola asuh Pola asuh dapat mempengaruhi antropologi gizi. Pola asuh yang tidak baik dapat menyebabkan konsumsi makanan yang ia asup tidak memiliki nilai gizi yang baik. Orang tua seharusnya membiasakan sang anak untuk memakan makanan sesuai dengan pedoman umum gizi seimbang Fungsi antropologi gizi Antropologi gizi memiliki fungsi untuk mengatur gizi masyarakat. Dengan adanya antropologi gizi ini dapat membantu masyarakat dalam menghadapi asupan gizi yang akan ia asup. Urgensi antropologi gizi Pentingnya dari antropologi gizi adalah untuk mengecek atau membandingkan nilai gizi suatu masyarakat di wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya. Kerangka berpikir dalam perubahan budaya makan Indonesia Langkah saya terhadap perubahan budaya makan masyarakat Indonesia adalah dengan cara mengedukasi lebih lanjut masyarakat yang bisa dibilang memiliki pengetahuan yang kurang terhadap gizi. Mereka dididik agar dapat memahami tentang gizi yang baik dan benar. Selain itu, mereka juga sebaiknya diberi tahu bahwa menu karbohidrat tidak hanya melulu hanya nasi dan singkong semata. Mereka juga harus diberi tahu untuk bisa mengolah makanan khas dari hasil tani di daerahnya dengan bervariasi. Mereka juga diajarkan untuk memvariasikan menu makanan tiap harinya dan memenuhi persyaratan pedoman umum gizi seimbang dalam sekali makan. Mereka juga dilatih untuk mengolah bahan pangan khas daerah mereka. Selain itu, dengan mereka dapat mengolah bahan pangan di daerahnya dan dapat menjualnya, mereka dapat menghasilkan uang yang mana dapat berguna untuk meningkatkan tingkat ekonomi warganya yang juga berefek untuk meningkatkan status gizi warga di daerah tersebut. 2. Pola makan adalah pengaturan dalam hal makan yang ditentukan sesuai kebutuhan individu atau kelompok tersebut. Faktor-faktor yang membentuk pola makan pada masyarakat 1. Faktor iklim dan musim Tiap-tiap provinsi di Indonesia memiliki jenis pola makan yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya perbedaan iklim yang menyebabkan perbedaan hasil sumber daya alam dalam bidang pertanian pada tiap-tiap wilayah. Perbedaan musim juga dapat mempengaruhi pola makan masyarakat seperti saat musim hujan, kemarau, musim buah-buahan tertentu dapat merubah pola makan masyarakat tersebut. Contohnya, masyarakat di daerah pegunungan merupakan tempat yang banyaknya hasil pertanian berupa singkong, ubi jalar, dan umbiumbian lainnya. Dengan begitu maka masyarakat di daerah pegunungan akan lebih sering untuk mengkonsumsi hasil sumber daya alam di daerah tersebut. Di daerah pegunungan juga protein hewani yang mereka konsumsi kemungkinan tidak terlalu banyak dalam mengkonsumsi ikan dan seafood karena ikan dan seafood biasanya tidak hidup di wilayah pegunungan sehingga masyarakat di wilayah pegunungan akan memilih sumber protein nabati yang lain sebagai alternatif seperti ayam dan daging. Sementara itu masyarakat di wilayah pantai sumber daya alam hasil lautnya kebanyakan adalah ikan-ikanan, seafood, dan lain sebagainya. Hal ini membuat masyarakat di wilayah pantai akan lebih sering untuk mengkonsumsi makanan yang sumber protein nabatinya berupa ikan. Pengaruh musim juga dapat mempengaruhi pola makan masyarakat. Contohnya apabila saat itu sedang tidak musim buah mangga di wilayah tersebut maka masyarakat akan memilih untuk mencari alternatif yang lain untuk mengubah konsumsi buah mangga tersebut menjadi buah yang lain. 2. Kemampuan daya beli masyarakat Status ekonomi yang berbeda-beda dapat mempengaruhi perbedaan pola makan masyarakat tersebut. Keluarga yang memiliki status ekonomi yang menengah ke atas akan memilih makanan yang relative lebih mahal dan lebih bervariasi. Keluarga yang memiliki status ekonomi yang menengah ke atas akan memilih makanan yang memiliki kandungan gizi dan kualitas yang baik untuk keluarganya. Tetapi, bagi keluarga yang memiliki status ekonomi menengah ke bawah akan hanya memilih makanan yang dapat ia beli karena keterbatasan biaya. Keluarga dengan status ekonomi yang menengah ke bawah tidak terlalu mementingkan nilai gizi suatu makanan yang akan dikonsumsi tetapi mereka hanya memikirkan bagaimana caranya ia bisa kenyang dan tidak lapar dengan bahan makanan yang ia beli dengan keterbatasan biaya tersebut. 3. Selera masyarakat terhadap makanan Masyarakat akan lebih memilih makanan yang sesuai dengan sukai saja. Tiaptiap masyarakat di daerah tertentu memiliki makanan yang disukai atau khasnya masing-masing. Contohnya orang yang keturunan Padang akan lebih memilih untuk makan makanan yang memiliki rasa pedas dan gurih dan juga biasanya mengandung santan. Orang yang keturunan Padang tersebut memiliki kemungkinan untuk tidak sering dalam mengkonsumsi makanan yang manis seperti makana yang biasanya di konsumsi oleh masyarakat yang memiliki keturunan Yogyakarta. Selain itu masyarakat yang berpenghasilan tinggi juga akan memilih makanan yang lebih mahal untuk mempertahankan gengsinya. Sementara masyarakat dengan penghasilan yang rendah tidak terlalu mementingkan itu. 4. Faktor agama dan keyakinan Tiap-tiap agama dan keyakinan juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pola makan masyarakat. Contohnya orang yang beragama islam yang diharamkan untuk mengonsumsi makanan yang berupa babi, dan makanan yang bertaring. Masyarakat beragama islam tidak akan mengonsumsi hal-hal tersebut. Selain itu, masyarakat yang beragama Hindu di Bali memiliki kepercayaan kalau mengkonsumsi sapi itu dilarang karena sapi merupakan bianatang yang suci. Masyarakat yang vegan juga tidak akan mengonsumsi protein hewani apapun karena kepercayaannya untuk mengurangi timbulnya penyakit degenerative lainnya. Pola makan sehat dengan nilai social budaya Untuk masyarakat dengan keturunan Padang dengan usia remaja Pagi : Nasi, ikan balado, sayur sop, buah jeruk Snack : lumpia Siang : nasi, rendang, sayur bayam, buah apel Snack : Pical Malam : nasi, gulai ikan, sayur sop, buah pisang Pola makan diatas ditujukkan unntuk remaja yang keturunan Padang sesuai dengan nilai social budaya yang mana merupakan menu khas Padang 3. Gambar 1 Judul : Satter’s division responsibility Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa orang tua dan juga anak memiliki peran penting dalam memilih makanan yang akan ia konsumsi. Seperti yang tertera pada gambar, salah satu tanggung jawab orang tua adalah “what food are offered” yang mana orang tua terutama ibu akan menyuguhkan makanan untuk keluarganya sesuai dengan apa yang keluarganya sukai. Sang ibu tidak akan menyuguhkan makanan apabila suami atau anaknya tidak menyukai makanan tersebut. Sehingga faktor kesukaan anggota keluarga merupakan faktor yang mempengaruhi menu makanan keluarga yang akan dimakan. Selanjutnya tanggung jawab orang tua yang kedua adalah “when food is offered” yang memiliki maksud dimana orang tua akan menyuguhkan makanan pada waktu tertentu. Seperti contoh apabila sang ayah pulang kerja pada jam 6 sore maka makan malam keluarga akan diadakan kurang lebih jam 7 malam. Hal ini akan terus-menerus yang menimbulkan kebiasaan keluarga tersebut untuk makan malam pada waktu jam 7 malam tersebut. Tanggung jawab orang tua yang terakhir menurut Satter adalah “where food is offered” memiliki arti yang mana orang tua memiliki tanggung jawab dalam menentukan tempat dimana keluarga mereka akan makan bersama di rumah. Orang tua dapat menentukan tempat dimana keluarga mereka akan makan seperti di ruang makan atau pun ruang keluarga. Sehingga perbedaan tempat mereka makan juga dapat mempengaruhi kebiasaan makan anggota keluarga makan tersebut. Selain orang tua, menurut Satter sang anak juga memiliki peran tanggung jawab ketika mereka makan. Yang pertama anak memiliki tanggung jawab berupa “How much to eat”. Dari hal tersebut orang tua atau sang ibu dapat menentukan berapa banyak porsi atau jumlah makan yang dapat dikonsumsi oleh sang anak. Sehingga sang ibu tidak harus memasak makanan yang terlalu banyak apabila sang anak hanya mampu mengonsumsi makan yang sedikit. Tanggung jawab sang anak yang kedua adalah “If they will eat (they may choose not to eat)”. Hal ini dapat diartikan bahwa sang anak dapat memilih apakah makanan yang disuguhkan oleh orang tuanya akan mereka makan atau tidak. Sehingga sang anak bebas untuk makan makanan yang hanya ia sukai dari seluruh menu yang orang tuanya sediakan pada saat itu. Dari gambar tersebut dapat diartikan bahwa pola konsumsi masyarakat kita dimulai dari pembagian tanggung jawab dalam makan di keluarga. Sehingga pola makan di keluarga sebaiknya untuk di atur sedemikian rupa agar dapat menanamkan kebiasaan sang anak dalam pola konsumsi makanan di dunia luar sana. Tujuan: dengan adanya pembagian pertanggung jawaban dalam makanan tersebut memiliki tujuan untuk para anggota dalam keluarga dapat mengatur pembagian tanggung jawabnya dengan baik. Urgensi : pentingnya ada pembagian tanggung jawab dalam memberi makan tersebut untuk membagi peran anggota keluarga pada saat makan Gambar 2 Judul : Peran agroteknologi terhadap konsumsi masyarakat Seperti yang kita ketahui, agroteknologi juga mempengaruhi pola konsumsi masyarakat Indonesia. Yang mana teknologi pangan yang bagus dan sumber daya manusia yang memadai untuk memahami teknologi pangan tersebut dapat meningkatkan hasil pertanian daerah tersebut. Meningkatnya hasil pertanian di daerah tersebut dapat diolah sehingga pola konsumsi masyarakat Indonesia di daerah tersebut dapat terpenuhi. Atau bisa juga hasil pertanian tersebut dapat di olah untuk di jual kembali sehinga warga di daerah tersebut dapat meningkatkan status ekonominya. Dengan meningkatnya stastus ekonomi warga tersebut dapat memperbaiki pola konsumsi masyarakat di daerah tersebut apabila sebelumnya kurang. Selain itu agroteknologi juga dapat berperan dalam meningkatkan status gizi masyarakat di daerahnya. Apabila sang warga telah memiliki bekal untuk mempelajari atau mengetahui cara menggunakan teknologi dalam pengolahan tersebut dengan cara benar, maka akan menghasilkan hasil produksi yang bisa dibilang nilai gizinya tidak terlalu banyak terbuang saat proses pengolahan tersebut. Orang yang mengolah hasil pertanian tersebut juga seharusnya dapat memberikan hasilnya kepada masyarakat yang membutuhkan atau sesuai dengan target yang telah ditetapkan untuk dapat menaikkan pola konsumsi masyarakat di daerah tersebut. Selain pada proses pengolahannya saja tetapi sumber daya manusia tersebut juga harus memahami perawatan pasca panen dari hasil tani tersebut sehingga dapat memberi untung yang berlebih. Tujuan : dengan adanya teknologi pangan yang memadai dan SDM yang handal meiliki tujuan untuk meningkatkan pola konsumsi masyarakat Indonesia Urgensi : pentingnya adanya agroteknologi adalah dapat meningkatkan pola konsumsi masyarakat di Indonesia yang sebenarnya memiliki sumber daya alam yang memadai namun tidak diiringi dengan teknologi pangan dan sumber daya alam yang memadai.

Judul: Jawaban Uts Sosiologi Antropologi Gizi

Oleh: Devita Cahya


Ikuti kami