Makalah Identifikasi.docx

Oleh Bayu Sugara

13 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Identifikasi.docx

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini membawa kesejahteraan

bagi umat manusia di segala bidang kehidupan tetapi juga menimbulkan akibat yang
tidak diharapkan. Salah satu akibat yang tidak diharapkan tersebut adalah
meningkatnya kuantitas maupun kualitas mengenai cara atau teknik pelaksanaan tindak
pidana, khusunya yang berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana dalam usaha meniadakan
sarana bukti, sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para petugas hukum untuk
mengetahui identitas korban.
Dalam proses penyidikan suatu tindak pidana, mengetahui identitas korban
merupakan hal yang sangat penting. Dengan mengetahui identitas korban merupakan
sebagai langkah awal penyidikan sehingga dapat dilakukan langkah-langkah
selanjutnya. Apabila identitas korban tidak dapat diketahui, maka sebenarnya
penyidikan menjadi tidak mungkin dilakukan. Selanjutnya apabila penyidikan tidak
sampai menemukan identitasnya identitas korban, maka dapat dihindari adanya
kekeliruan dalam proses peradilan yang dapat berakibat fatal. Selain itu mengetaui
identitas korban untuk berbagai kehidupan sosial misalnya asuransi, pembagian dan
penentuan ahli waris, akte kelahiran, pernikahan dansebagainya keterangan identitas
mempunyai arti penting pula, yaitu untuk mengetahui bahwa keterangan itu benarbenar keterangan yang dimaksud untuk memperoleh yang menjadi haknya maupun
untuk memenuhi kewajibannya.
Bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak dan tidak terencana
atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola
kehidupan normal atau kerusakan ekosistem sehingga diperlukan tindakan darurat
dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta lingkungannya. Bencana yang
terjadi secara akut atau mendadak dapat berupa rusaknya rumah serta bangunan,
rusaknya saluran air, terputusnya aliran listrik, jalan raya, bencana akibat tindakan
manusia, dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang terjadi secara perlahan-lahan

atau slow onset disaster , misalnya perubahan kehidupan masyarakat akibat menurunnya
kemampuan memperoleh kebutuhan pokok, atau akibat dari kekeringan yang
berkepanjangan, kebakaran hutan dengan akibat asap atau haze yang menimbulkan
masalah kesehatan.
Dalam ilmu kedokteran forensik dikenal pemeriksaan identifikasi yang merupakan
bagian tugas yang mempunyai arti cukup penting. Identifikasi adalah suatu usaha
untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah cirri yang ada pada orang tak
dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama
dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri
itu. Disitulah semua, identifikasi mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi untuk
kepentingan forensic maupun non-forensik.
Makalah ini bertujuan membahas berbagai hal mengenai identifikasi forensik
ataupun identifkasi secara umum meliputi: pengertian, arti penting, macam-macam
pemeriksaan dan cara atau metode serta sistem identifikasi. Hal-hal demikian
diperlukan untuk memperoleh pemahaman pemahaman dalam penanganan dan
pemeriksaan identifikasi yang komprehensif.

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dalam penulisan
makalah t ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah pengertian dari identifikasi forensik?
2. Apa saja dasar - dasar dari pemeriksaan pada identifikasi forensik?
3. .Metode apa yang dipakai dalam identifikasi forensik?
4. Ada berapa jenis pemeriksaan identifikasi foresik?
5. Menyadari betapa pentingnya peran dokter dalam proses identifikasi forensik?

PEMBAHASAN
A.

Definisi Identifikasi

Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun
mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga
diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah
ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa
orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga
dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasiforensik merupakan usaha untuk mengetahui
identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan
proses peradilan.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak
dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana
alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh
manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai
kasus lain seperti penculikan anak, bayitertukar, atau diragukan orangtua
nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang
digunakan memberikan hasil positif.
Dengan diketahuinya jati diri korban, penyidik akan lebih mudah membuat satu
daftar dari orang-orang yang patut dicurigai. Daftar tersebut akan lebih diperkecil lagi
bila diketahui saat kematian korban serta alat yang dipakai oleh tersangka pelaku
kejahatan
B.

metode identifikasi
Dalam pelayanan identifikasi forensik berbagai macam pemeriksaandapat

digunakan sebagai sarana identifikasi. Berdasarkan penyelenggaraan penanganan
pemeriksaannya, maka sarana-sarana identifikasi dapat dikelompokkan:
1.Sarana identifikasi konvensional, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang
biasanya sudah dapat diselenggarakan penanganannya oleh pihak polisi penyidik antara lain:
Ø Metode visual, dengan memperhatikan dengan cermat atas korban, terutama
wajahnya oleh pihak keluarga atau rekan dekatnya, maka jati diri korban dapat

diketahui. Walaupun metoda ini sederhana, untuk mendapat hasil yang diharapkan
perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila keadaan tubuh dan
terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan
yang lanjut. Selain itu perlu diperhatikan factor psikologis, emosi serta latar belakang
pendidikan;

oleh

karena

faktor-faktor

tersebut

dapat

mempengaruhi

hasil

pemeriksaan. Juga perlu diingat bahwa manusia itu mudah terpengaruh oleh sugesti,
khususnya dari pihak penyidik.
Ø

Perhiasan, anting-antign, kalung, gelang serta cincin yang ada pada tubuh
korban, khususnya bila pada perhisan itu terdapat inisial nama seseorang yang
biasanya terdapat pada bagian dalam dari gelang atau cincin; akan membantu
dokter atau pihak penyidik didalam menentukan identitas korban. Mengingat
kepentingan tersebut maka penyimpanan dari perhisan haruslah dilakukan dengan
baik.

Ø

Dokumen, kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, paspor, kartugolongan
darah, tanda pembayaran dan lain sebagainya yang ditemukan dalam dompet atau tas
korban dapat menunjukkan jati diri korban. Khusus pada kecelakaan masal,
perlu diingat akan kebiasaan seseorang di dalam menaruh dompet atau tasnya.
Pada pria dompet biasanya terdapat dalam saku baju atau celana, sedangkan
pada wanita tas biasanya dipegang; sehingga pada kecelakaan masal tas
seseorang dapat terlempar dan sampai pada orang lain yang bukan pemiliknya,
jika hal ini tidak diperhatikan kekeliruan identitas dapat terjadi, khususnya bila
kondisi korban sudah busuk atau rusak.

Ø

Jari, dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari
yang sama, walaupun kedua orang tersebut kembar satu telur. Atas dasar ini,
sidik jari merupakan sarana yang terpenting khususnya bagi kepolisian didalam
mengetahui jati diri seseorang, oleh karena selain kekhususannya, juga mudah
dilakukan secara masal dan murah pembiayaanya. Walaupun pemeriksaan sidik
jari tidak dilakukan dokter, dokter masih mempunyai kewajiban, yaitu untuk
mengambilkan (mencetak) sidik jari, khususnya sidik jari pada korban yang
tewas dan keadaan mayatnya telah membusuk. Teknik pengembangan sidik jari

pada jari telah mengelupas dan memasangnya pada jari yang sesuai pada jari
pemeriksa, baru kemudian dilakukan pengambilan sidik jari, merupakan
prosedur yang harus dikatahui dokter.
Sarana identifikasi medis, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang
diselenggarakan penanganannya oleh pihak medis, yaitu apabila pihak polisi penyidik
tidak dapat menggunakan sarana identidikasi konvensional atau kurang memperoleh
hasil identifikasi yang meyakinkan, antara lain:
a.

Pemeriksaan ciri-ciri tubuh yang spesifik maupun yang non-spesifik
secaramedis melalui pemeriksaan luar dan dalam pada waktu otopsi. Beberapa
cirri yang spesifik, misalnya cacat bibir sumbing atau celah palatum, bekas luka
atau operasi luar (sikatrik atau keloid), hiperpig mentasi daerah kulit tertentu,
tahi lalat, tato, bekas fraktur atau adanya pin pada bekas operasi tulang
atau juga hilangnya bagian tubuh tertentu dan lain-lain. Beberapa contoh
cirinon-spesifik antara lain misalnya tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit,
warna serta bentuk rambut dan mata, bentuk-bentuk hidung, bibir dan
sebagainya.

b.

Pemeriksaan ciri-ciri gigi melalui pemeriksaan odontologis.

c.

Pemeriksaan ciri-ciri badan atau rangka melalui pemeriksaan antropologis,
antroposkopi dan antropometri.

d.

Pemeriksaan golongan darah berbagai sistem: ABO, Rhesus, MN, Keel, Duffy,
HLA dan sebagainya.

e.

Pemeriksaan ciri-ciri biologi molekuler sidik DNA dan lain-lain.
Dikenal ada dua metode melakukan identifikasi yaitu secara komparatif

(membandingkan) dan
membandingkan

data

secara rekonstruksi. Yang dimaksud dengan identifikasi
adalah

identifikasi

yang

dilakukan

dengan

cara

membandingkan antara data ciri hasil pemeriksaan hasil orang tak dikenal dengan
data ciri orang yang hilang yang diperkirakan yang pernah dibuat sebelumnya. Pada penerapan
penanganan identifikasi kasus korban jenasah tidak dikenal, maka kedua data ciri

yang dibandingkan tersebut adalah data post mortem dan data antemortem. Data ante
mortem yang baik adalah berupa medical record dan dental record.
Identifikasi dengan cara membandingkan data ini berpeluang menentukan
identitas sampai pada tingkat individual, yaitu dapat menunjukan siapa jenazah yang
tidak dikenal tersebut. Hal ini karena pada identifikasi dengan cara membandingkan
data, hasilnya hanya ada dua alternatif: identifikasi positif atau negatif. Identifikasi
positif, yaitu apabila kedua data yang dibandingkan adalah sama, sehingga dapat
disimpulkan bahwa jenazah yang tidak dikenali itu adalah sama dengan orang yang hilang
yang diperkirakan. Identifikasi negatif yaitu apabila data yang dibandingkan tidak
sama, sehingga dengan demikian belum dapat ditentukan siapa jenasah tak dienal
tersebut. Untuk itu masih harus dicarikan data pembanding antemortem dari orang
hilang lain yang diperkirakan lagi. Untuk dapat melakukan identifikasi dengan cara
membandingkan data, diperlukan syarat yang tidak mudah, yaitu harus tersedianya
data ante mortem berupa medical atau dental record yang lengkap dan akurat serta
up-to-date, memenuhi kriteria untuk dapat dibandingkan dengan data post
mortemnya. Apabila tidak dapat dipenuhi syarat tersebut, maka identifikasi dengan
cara membandingkan tidak dapat diterapkan.
Apabila identifikasi dengan cara membandingkan data tidak dapat diterapkan, bukan
berarti kita tidak dapat mengidentifikasi. Apabila demikian halnya, kita masih dapat
mencoba mengidentifikasi dengan cara merekonstruksi data hasil pemeriksaan postmortem ke dalam perkiraan-perkiraan mengenai jenis kelamin, umur, ras, tinggi dan
bentuk serta ciri-ciri spesifik badan.
Sebagaicontoh:
a.

Dengan mengamati lebar-sempitnya tulang panggul terhadap kriteria dan
ukuran laki-laki dan perempuan, dapat diperkirakan jenis kelaminnya.

b.

Dengan mengamai interdigitasi dutura-sutura tengkorak dan pola waktu erupsi
gigi, dapat diperkirakan umurnya. Pada kasus infantisid dengan mengukur
tinggi badan ( kepala-tumit atau kepala-tulang ekor) dapat diperkirakan umur
bayi dalam bulan.

c.

Dengan formula matematis, dapat diperhitungkan perkiraan tinggi badan
individu dari ukuran barang bukti tulang-tulang panjangnya.

d.

Dengan perhitungan indeks-indeks dan modulus kefalometri atau kraniometri,
dapat diperhitungkan perkiraan ras dan bentuk muka individu.

e.

Dengan ciri-ciri yang spesifik, dapat menuntun kepada siapa individu yang
memilikinya.Meskipun identifikasi cara rekonstruksi ini tidak sampai
menghasilkan dapat menentukan identitas sampai pada tingkat individual,
namun

demikian

perkiraan-perkiraan

identitas

yang

dihasilkan

dapat

mempersempit dan memberikan arah penyidikan.
Terhadap pola permasalahan kasusnya, dikenal ada tiga macam sistem identifikasi,
yaitu :
1.

Identifikasi sistem terbuka adalah identifikasi pada kasus yang terbuka kepada
siapapun dimaksudkan sebagai si korban tidak dikenal. Pola permasalahan
kasusnya biasanya : kriminal, korban tunggal, sulit diperoleh data ante-mortem,
identifikasinya

biasanya

dilakukan dengan cara

rekonstruksi, contoh:

identifikasi korban pembunuhan tidak dikenal.
2.

Identifikasi sistem tertutup adalah identifikasi pada kasus yang jumlah dan
daftar korban tak dikenalnya sudah diketahui. Pola permasalahan kasus
biasanya: non-kriminal, korban massal, dimungkinkan diperoleh data
antemortem, identifikasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan data,
contoh: identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang menabrak gunung.

3. Identifikasi sistem semi terbuka atau semi tertutup adalah identifikasi pada suatu
kasus yang sebagian korban tidak dikenalnya sudah diketahui dan sebagian
lainnya belum diketahui sama sekali atau belum diektahui tetapi sudah tertentu,
contoh : identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang di Malioboro (semi
terbuka) atau di suatu perumahan (semi tertutup).

+

C.

Dasar-Dasar Identifikasi Forensik
Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengaturidentifikasi

jenazah adalah :
A.Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam
KUHAP pasal 133:
1.

Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menanganiseorang

korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karenaperistiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokterdan atau ahli lainnya.
2.

Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan

secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegasuntuk pemeriksaan luka
atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3.

Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada

rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap
mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi
cap jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
B. Undang-Undang Kesehatan Pasal 791.
Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepadapejabat
pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus
sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU No.8 tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam
undang-undang ini.
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
1. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan.
2. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan.
3. Meminta keteragan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha.
4. Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain.
5. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti.
6. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan.

7.

Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan dengan

tindak pidana di bidang kesehatan.
D.

Jenis-Jenis Pemeriksaan Identifikasi Forensik
Menentukan identitas atau jati diri atas seorang korban tindak pidana yang

berakibat fatal,relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan penentuan jati diri
tersangka pelaku kejahatan. Hal tersebut oleh karena pada penentuan jati
diritersangka pelaku kejahatan semata-mata didasarkan pada penentuan secara visuil,
yang sudah tentu banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga hasil yang
dicapai tidak memenuhi harapan.
Dari sembilan metoda identifikasi yang dikenal, hanya metoda penentuan jati
diri dengan sidik jari (daktiloskopi) yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter,
melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian. Delapan metoda yang lain, yaitu: metode
visual, pakaian, perhiasan, dokumen, medis, gigi, serologi danmetode eksklusi.
Dengan diketahuinya jati diri korban, pihak penyidik dapat melakukan penyidikan
untuk mengungkap kasus menjadi lebih terarah; oleh karena secara kriminologis pada
umumnya ada hubungan antara pelaku dengan korbannya. Daftar tersebut akan lebih
diperkecil lagi bila diketahui saat kematiankorban serta alat yang dipakai oleh
tersangka pelaku kejahatan.
G.

Identitas Personal

Jika identifikasi terhadap jenazah tak dikenal dilakukan dengan menggunakan data
pembanding maka identitas personalnya akan dapat dikenali.Data pembanding
tersebut ialah contoh sidik jari, medical record gigi geligi sertacontoh DNA.
Kehandalan sidik jari (fingerprint) sebagai sarana identifikasi personal disebabkan
karena hampir tak pernah ditemukan dua orang dengan sidik jari yang sama, bahkan
pada orang kembar sekalipun. Secara teoritis, kemungkinan terjadinya dua orang
dengan sidik jari sama adalah sebesar sepersepuluh ribu Trilyun. Selain itu sidik jari
tak mengalami perubahan karena umur. Oleh sebab itu sidik jari yang diambil
beberapa tahun sebelumnya masih dapat dipakai sebagai pembanding.

Jika kulit jari sudah keriput maka pengambilan sidik jari dapat dilkukan sesudah
jaringan dibwah kulit disuntik lebih dahulu dengan cairan parafin, formalin atau air.
Sedang pada mayat yang epidermisnya sudah mengelupas, pengambilan sidik jari
dapat dilakukan dengan hati-hati danberulang-ulang mengingat gambaran sidik jari
pada dermis tidak sejelas gambaransidik jari pada epidermis.
Dalam hal sidik jari tidak mungkin lagi diambil maka pemeriksaan gigi-geligi
menjadi penting. Pada peristiwa kecelakaan pesawat terbang misalnya dimana daftar
manifes penumpang diketahui, identifikasi positif akan mudah dilakukan dengan
membandingkan hasil pemeriksaan itu dengan file dari semua penumpang.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yanghidup maupun
mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut.Identifikasi juga
diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitasseseorang melalui sejumlah
ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa
orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga
dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui
identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan
proses peradilan. Dikenal ada tiga macam sistem identifikasi
Saran
Identifikasi system terbuka, identifikasi sistem tertutup dan identifikasi sistem
semi terbuka atau semi tertutup. Dari sembilan metoda identifikasi yang dikenal,
hanya metoda penentuan jati diri dengan sidik jari (dakti loskopi) yang tidak lazim
dikerjakan oleh dokter, melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian. Delapan metoda
yang lain, yaitu: metode visual, pakaian, perhiasan, dokumen, medis, gigi, serologi
dan metode eksklusi

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. Identifikasi dalam Mind’s Forensic 1th Edition. Bagian Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin 2012
Gani, M.Husni, dr. DSF. Ilmu Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas, Padang, Indonesia 2002
Idries, Abdul Mun’im. Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik.Binarupa
Aksara, Jakarta. 1997.

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan Karunia – Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya,
oleh karena itu kritik, saran, dan masukan, penulis harapkan untuk kesempurnaan
penulisan makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak yang membutuhkannya.

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ........................ . . . . . . . . . . I
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ................... . . . . . . .II
BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ............................ . . . . . . .1
1. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .................................... . . . . 1
2. Permasalahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ................................. . . . . 2
BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . ............................................. . . .
1. Definisi Identifikasi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ....................................... .. . 3
2. Metode Identifikasi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . ............................................. . . .4
3.Identitas Personal . . . . . . . . . . . . . . . . ....................................................... . . . 9
BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ................................... .. . . . . .10
1 . Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . ....................................................... . . . . . .
2 . Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ............................. . . . . . . . .
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ........................................ . . . 11

Judul: Makalah Identifikasi.docx

Oleh: Bayu Sugara


Ikuti kami