Makalah Ipi.docx

Oleh Bayu Su Gara

180,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Ipi.docx

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Islam adalah agama yang mendorong pendidikan. Dalam wahyu pertama yang di sampaikan Malaikat Jibril kepada Muhammad Rasulullah S.A.W memberi isyarat yang berkaitan dengan pendidikan. Diperkuat oleh sabda Rasul yang mengisyaratkan secara tersurat yakni setiap muslim wajib menuntut ilmu. Sangat pentingnya pendidikan dalam Islam tidak mengenal usia dari anak – anak sampai kematian datang kepada diri seorang muslim, itulah akhir dari pencarian ilmu. Lembaga pendidikan pertama dalam Islam adalah rumah. Pada fase Mekkah Rasul Saw dan para sahabatnya menjalankan KBM di rumah Arqam ibn Abi Arqam sebagai lembaga pertama dalam Islam. Di dalamnya Rasul S.A.W mengajarkan wahyu kepada para sahabatnya dengan sistem halaqoh. Rasul saw dan para sahabatnya belajar dan mengajar di rumah tersebut selama 13 tahun. Selanjutnya, pada perkembangan pendidikan Islam pada fase Madinah lembaga – lembaga pendidikan Islam makin pesat kemajuannya. Muncullah lembaga – lembaga pendidikan Islam yang baru yaitu kuttab, suffah, dan Mesjid. Pada masa Bani Umayyah lembaga pendidikan Islam semakin pesat dengan bertambahnya lembaga pendidikan Islam dengan pendidikan istana dan pendidikan rakyat, pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Pada masa pemerintahan Bani Abbasiah inilah masa keemasan pendidikan Islam. Pada tahun 456 H/ 1064 M dengan kemajuan secara SDM dan materi belajar lembaga – lembaga pendidikan Islam awal bertransformasi dari Mesjid, kuttab, dan suffah menjadi Madrasah. Madrasah adalah lembaga pendidikan Islam tertinggi. Di Indonesia telah terjadi Islamisasi pada abad ke-7 klimaknya Islam di Indonesia dapat mendirikan kerajaan – kerajaan yang berlandaskan Islam. Sangat cepatnya gelombang Islamisasi di Indonesia dewasa ini mayoritas demografi di Indonesia menganut agama Islam. Fenomena ini, menyebabkan kebutuhan pendidikan pada masa awal hingga kontemporer kian 1 berkembang pesat. Dalam perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia mengenal dengan nama kuttab, pesantren, dan madrasah . Di makalah yang kita buat ini, akan terfokus pada ketiga lembaga pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia yang tetap eksis di zaman modern ini yaitu kuttab, pesantren, dan madrasah. 2 B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa saja dan Bagaimana Sejarah Institusi Pendidikan Islam? 2. Bagaimana perkembangan lembaga pendidikan islam? C. TUJUAN PENULISAN 1. Menjelaskan Sejarah Institusi Pendidikan Islam! 2. Menjelaskan lembaga pendidikan islam! 3 BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Institusi Pendidikan Islam 1. Sejarah Lembaga Pendidikan Kuttab Di Arab, pada masa pra-Islam sudah mengenal lembaga pendidikan yang bernama kuttab. Masyarakat Arab, khususnya di Mekkah lembaga pendidikan kuttab ialah suatu lembaga pendidikan rendah. Di masa Islam, lembaga pendidikan kuttab ini digunakan sebagai alternatif tempat belajar Al-Quran di samping Mesjid karena, perkembangan umat Islam yang membutuhkan ilmu pengetahuan Islam selain itu di khawatirkan anak – anak yang ingin belajar Islam mengotori Mesjid. Lembaga ini, menjadi tonggak yang penting dalam mencerdaskan generasi muda Islam untuk memahami inti ajaran Islam yakni membaca dan menulis Al-Quran. Setelah Islam menggunakan lembaga pendidikan ini, bentuk dan fungsi kuttab tidak mengalami reformasi. Pada masa awal Islam sampai pada masa Khulafahur rasyidin, secara umum dilaksanakan tanpa ada bayaran. Pada perkembangannya, pada era Bani Umayyah pendidikan bertambah dengan pendidikan istana dan pendidikan rakyat, pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Untuk pendidikan istana guru digaji dengan bayaran tinggi, untuk pendidikan rakyat gratis. Kuttab ada dua bentuk yaitu yang pertama, berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokuskan pada baca tulis dan yang kedua, berfungsi sebagai tempat pendidikan yang mengajarkan Al-Quran dan dasar – dasar keagamaan. Sejak abad ke – 8 M, lembaga ini mulai mengajarkan pelajaran pengetahuan umum di samping pelajaran agama Islam. Hal tersebut terjadi akibat adanya persentuhan antara Islam dengan warisan budaya Helenisme sehingga banyak membawa reformasi di tubuh lembaga pendidikan ini khususnya perubahan dalam kurikulum pendidikannya. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya kuttab dibedakan menjadi dua, yaitu kuttab yang menyuguhkan pelajaran non-agama dan kuttab yang menyuguhkan pelajaran agama. 4 2. Sejarah Lembaga Pendidikan Suffah Lembaga pendidikan Suffah ini disusun menurut sistem pesantren dan madrasah, yang menghasilkan hubungan yang sangat erat dan akrab antara guru dan murid/siswa. Guru disini, disamping sebagai pendidikan dan pengajar juga berfungsi sebagai contoh suri tauladan bagi siswanya dalam menerepkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus sebagai pemimpin dan pembimbing yang membawa para siswanya ke arah mardlatillah di dunia dan akhirat. Disini para siswa akan digembleng selama 4-6 bulan, sehingga mereka menjadi kader mujahid yang tangguh dan militan, yang bisa diharapkan menanamkan dan menyebarkan ide serta cita-cita Islam dikalangan masyarakat dimana mereka akan kembali. Bermaksud mencontoh pola Rosulullah SAW pada awal pergerakan hijrahnya ke Yatsrib, dengan membentuk masyarakat yang Islami dan lembaga pendidikan dan pengkaderan, maka SM. Kartosuwiryo berusaha mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan pengkaderan yang bernama ”Institu Suffah”.Lembaga ini diharapkan menjadi modal utama dalam usaha melahirkan ” Darul Islam” dikemudian hari. Gagasan ini sesungguhnya sudah lama dicanangkan, dicetuskan sejak kongres partai tahun 1937 di Surabaya. 3. Sejarah lembaga pendidikan pesantren. Ditinjau dari segi sejarah, belum ditemukan data sejarah, kapan pertama kali berdirinya pesantren, ada pendapat mengatakan bahwa pesantren telah tumbuh sejak awal masuknya Islam ke Indonesia, sementara yang lain berpendapat bahwa pesantren baru muncul pada masa Walisongo dan Maulana Malik Ibrahim dipandang sebagai orang yang pertama mendirikan pesantren. Apabila ditelusuri sejarah pendidikan di Jawa, sebelum datangnya agama Islam telah ada lembaga pendidikan Jawa kuno yang praktik 5 kependidikannya sama dengan pesantren. Lembaga pendidikan Jawa kuno itu bernama pawiyatan, di lembaga tersebut tinggal Ki Ajar dengan cantrik. Ki Ajar orang yang mengajar cantrik orang yang diajar. Kedua kelompok ini tinggal disatu komplek dan di sini terjadilah proses belajar mengajar. Dengan menganalogikan pendidikan pawiyatan ini dengan pesantern, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk menetapkan bahwa pesantern itu telah tumbuh sejak awal perkembangan Islam di Indonesia khususnya di Jawa. Sebab model pendidikan pesantern itu telah ada sebelum Islam masuk yaitu pawiyatan. Dengan masuknya Islam, maka diperlukan sarana pendidikan, tentu saja model pawiyatan ini dijadikan acuan dengan mengubah sistem yang ada ke sistem pendidikan Islam. Inti dari pesantren itu adalah pendidikan ilmu agama, dan sikap beragama. Karenanya mata pelajaran yang diajarkan semata-mata pelajaran agama. Setelah anak didik telah memiliki kecerdasan tertentu, maka mulailah diajarkan kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik ini juga diklasifikasikan kepada tingkat dasar, menengah dan tinggi. Mahmud Yunus membagi pesantren pada tahap-tahap awal itu kepada empat tingkatan, yaitu : tingkat dasar, menengah, tinggi, dan takhassus. Ditinjau dari segi sejarah, belum ditemukan data sejarah, kapan pertama kali berdirinya pesantren, ada pendapat mengatakan bahwa pesantren telah tumbuh sejak awal masuknya Islam ke Indonesia, sementara yang lain berpendapat bahwa pesantren baru muncul pada masa Walisongo dan Maulana Malik Ibrahim dipandang sebagai orang yang pertama mendirikan pesantren. Apabila ditelusuri sejarah pendidikan di Jawa, sebelum datangnya agama Islam telah ada lembaga pendidikan Jawa kuno yang praktik kependidikannya sama dengan pesantren. Lembaga pendidikan Jawa kuno itu bernama pawiyatan, di lembaga tersebut tinggal Ki Ajar dengan cantrik. Ki Ajar orang yang mengajar cantrik orang yang diajar. Kedua kelompok ini tinggal disatu komplek dan di sini terjadilah proses belajar mengajar. 6 Dengan menganalogikan pendidikan pawiyatan ini dengan pesantern, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk menetapkan bahwa pesantern itu telah tumbuh sejak awal perkembangan Islam di Indonesia khususnya di Jawa. Sebab model pendidikan pesantern itu telah ada sebelum Islam masuk yaitu pawiyatan. Dengan masuknya Islam, maka diperlukan sarana pendidikan, tentu saja model pawiyatan ini dijadikan acuan dengan mengubah sistem yang ada ke sistem pendidikan Islam. Inti dari pesantren itu adalah pendidikan ilmu agama, dan sikap beragama. Karenanya mata pelajaran yang diajarkan semata-mata pelajaran agama. Setelah anak didik telah memiliki kecerdasan tertentu, maka mulailah diajarkan kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik ini juga diklasifikasikan kepada tingkat dasar, menengah dan tinggi. Mahmud Yunus membagi pesantren pada tahap-tahap awal itu kepada empat tingkatan, yaitu : tingkat dasar, menengah, tinggi, dan takhassus. B. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam 1. Lembaga Pendidikan Kuttab Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan serta tuntutan terhadap kebutuhan pendidikan mulai dari usia dini sampai lansia, sekarang masih dapat kita temui di berbagai daerah Sumatera Barat. TPA/TPSA, MDA dan tempat –tempat suluk misalnya, masih merupakan tempat latihan membaca dan menulis, khususnya bidang ilmu agama Islam dan pembelajaran Al-Quran. Berdasarkan de facto, Mira Astuti berpendapat bahwa lembaga pendidikan kuttab sudah ada awal abad VII, yaitu semenjak Syekh Burhanuddin al-Ulakani mengembangkan Islam di Sumatera Barat. 2. Lembaga Pendidikan Suffah M. Kartosuwiryo yang sungguh mengerti akan pentingnya lembaga kaderisasi kepemimpionan, dan yang memberi perhatian pada bidang ini dalam brosur hijarahnya, diberi kepercayaan untuk mendirikan ”suatu lembaga yang direncanakan guna melatih kader-kader pimpinan Islam yang militan” oleh kongres partai saat itu. Tetapi ketika pimpinan PSII memutar haluan politiknya ke parlemen, maka partai tidak ada lagi minat terhadap 7 rencana tersebut. Namun SM. Kartosuwiryo dengan kesungguhan hati meneruskan persiapan guna pembentukan lembaga pengkaderan dan penyesuain gagasan itu dengan pola pejuanagn Rasulullah SAW. Lembaga yang dimaksudkannya tidak lagi terikat dengan PSII lama, pimpinan Abi Kusno cs, yang dirasakannya telah mengkhianati perjuangan umat Islam Indonesia. Lembaga ini akan menjadi lembaga pendidikan yang terikat dan diawasi oleh PSII kedua, tegasnya PSII hijrah. Setelah rencana ini disahkan oleh kongres kedua pada bulan Maret 1940, didirikanlah ”Institut Suffah” yang berlokasi di Malangbong. Dengan institut ini paling tidak ada dua target yang dapat digarap. Petama, membentuk para mujahid, kader-kader militan, yang kuat aqidahnya dan menguasai ilmu Islam, yang nantinya mampu menggerakkan jihad fi sabilillah, termasuk jihad dalam arti fisik- menumbangkan dominasi penguasa-penguasa dzalim, dalam rangka menegakkan daulah islamiyah. Kedua, menciptakan masyarakat yang islami, dengan mulai dari pengenalan dan penerapan nilai dan sistem hidup Islam bagi setiap pribadi. Masyarakat Malangbong dan sekitarnya menjadi obyek dari pelaksanaan program ini, yang bisa diharapkan menjadi basis kekuatan dan pusat komando gerakan jihad umat Islam di kemudia hari. Jihad adalah merupakan tindak lanjut daripada hijrah, sebab sikap hijrah tidak dianggap absah bila tidak diiringi dengan jihad. 3. Lembaga Pendidikan Pesantren Menurut Manfred Ziemek menyebutkan bahwa asal etimologi dari pesantren adalah pesantrian berarti “tempat santri”. Santri atau murid (umumnya sangat berbeda-beda) mendapat pelajaran dari pemimpin pesantren (kiai) dan oleh para guru (ulama atau ustadz). Pelajaran mencakup berbagai bidang tentang pengetahuan Islam. Elemen-elemen pokok pesantren itu adalah : pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik dan kiai. Ada juga yang menyebutkan unsureunsur pokok pesantren itu hanya tiga, yaitu : 1. Kiai yang mendidik dan mengajar, 2. Santri yang belajar, 3. Masjid tempat mengaji. Kelima unsur 8 pokok tersebut bila diuraikan secaraglobal dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Pondok Istilah pondok berasal dari bahasa Arab funduq yangn berarti hotel, tempat bermalam (yunus, 1973:324). Istilah pondok diartikan juga dengan asrama. Dengan demikian, pondok mengandung makna sebagai tempat tinggal. Sebuah pesantren mesti memiliki asrama tempat tinggal santri dan kiai. Di tempat tersebut selalu terjadi komunikasi antara kiai dan santri. Ada beberapa alasan pokok sebab pentingnya pondok dalam satu pesantren, yaitu : pertama, banyaknya santri-santri yang berdatangan dari daerah yang jauh untuk menuntut ilmu kepada seorang kiai yang sudah termasyhur keahliannya. Kedua, pesantern-pesantren tersebut terletak di desa-desa di mana tidak tersedia perumahan untuk menampung santri yang berdatangan dari luar daerah. Ketiga, ada sikap timbale balik antara kiai dan santri, di mana para santri menganggap kiai adalah seolah-olah orang tuanya sendiri. b. Masjid Masjid diartikan secara harfiah adalah tempat sujud karena di tempat ini setidak-tidaknya seorang muslim lima kali sehari semalam melaksanakan shalat. Fungsi masjid tidak saja untuk shalat, tetapi juga mempunyai fungsi lain seperti pendidikan dan lain sebagainya. Suatu pesantren mutlak mesti memiliki masjid, sebab disitulah akan dilangsungkan proses pendidikan dalam bentuk komunikasi belajar mengajar antara kiai dan santri. Pengajian kitab-kitab islam klasik. Kitab-kitab islam klasik yang lebih popular dengan sebutan “kitab kuning”. Kitab-kitab ini ditulis oleh ulamaulama islam pada zaman pertengahan. Untuk tahu membaca sebuah kitab dengan benar, seorang santri dituntut untuk mahir dalam ilmu-ilmu bantu, seperti nahu, syaraf, balaghah, ma’ni, bayan dan lain sebagainya. Kitabkitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan kepada 8 9 kelompok : nahu/syaraf, fikih, ushul fikih, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf, dan etika, serta cabang-cabang ilmu lainnya seperti tarikh dan balaghah c. Santri Santri adalah siswa yang belajar di pesantren, santri ini dapat di golongkan kepada dua kelompok : Santri mukim, yaitu santri yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh yang tidak memungkinkan dia untuk pulang ke rumahnya, maka dia mondok (tinggal) di pesantren. santri kalong, yaitu siswa-siswa yang berasal dari daerah sekitar yang memungkinkan mereka pulang ke tempat kediaman masing-masing. d. Kiai Kiai adalah tokoh sentral dalam satu pesantren, maju mundurnya satu pesantren ditentukan oleh wibawa dan karisma sang kiai. Menurut asal-usulnya, perkataan kiai dalam bahasa Jawa yang dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda :1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang di anggap keramat umpamanya “ kiai garuda kencana” dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keraton Yogyakarta, 2. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya. 3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama islam yang memiliki pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada santrinya. Menurut Dr. Sutomo, ada beberapa aspek yang menarik pada pesantren, yaitu: a. Sistem pondok. Dengan sistem ini, pendidikan, tuntunan, dan pengawasan dapat dilakukan secara langsung. b. Keakraban hubungan antara santri dengan kiyai memungkinkan para kiyai memberikan pengetahuan yang “hidup” pada santrinya. c. Kemampuannya untuk mencetak atau mendidik manusia dalam memasuki semua lapangan pekerjaan secara merdeka dan mandiri. 10 d. Kehidupan kiyai yang sederhana tetapi penuh dengan kesenangan dan kegembiraan, merupakan teladan yang baik bagi orang Indonesia yang pada umumnya masih miskin. e. Sistem pendidikannya yang dapat diselenggarakan dengan biaya murah merupakan sarana yang baik bagi usaha meningkatkan kecerdasan bangsa. 11 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari ketiga lembaga tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan islam merupakan lembaga yang cukup sederhana pada awal mulanya yang dibangun pada zaman Rasulullah SAW, yang pada masa itu islam baru mulai berkembang di Yastrib (Madinah). Demi mengembangkan pola pendidikan rasulullah saw di Indonesia, beberapa relawan membentuk kelembagaan pendidikan islam yang esensinya tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan pada zaman nabi saw dan juga bersifat universal dan berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Dari ketiga lembaga tersebut hanya pendidikan pesantren lah yang paling menonjol. Terbukti dengan menyebarnya pesantren diberbagai pelosok di Nusantara. B. Kritik dan Saran 12 Daftar Pustaka http://ndavia.blogspot.co.id/2013/06/lembaga-lembaga-pendidikan-islam-klasik.html http://khazanahfikiranku.blogspot.co.id/2015/10/lembaga-lembaga-pendidikan-islamdi_29.html http://www.slideshare.net/sadimandimas/institusi-institusi-pendidikan-islam-diindonesia https://id.scribd.com/doc/31768182/Sejarah-Lembaga-Pendidikan-Islam 13 MAKALAH FI’IL MADHI, FI’IL MUDHARI, DAN FI,IL AMAR DIisusun untuk memenuhi salah tugas Mata Kuliah: Bahasa Arab B Dosen: M. Arni, M.Pd.I Disusun oleh: Nama NIM : BAYU SUGARA : 16.42.017965 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALNGKA RAYA KAMPUS II KASONGAN FAKULTAS AGAMA ISLAM PRODY PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TAHUN AKADEMIK 2016/2017 14

Judul: Makalah Ipi.docx

Oleh: Bayu Su Gara


Ikuti kami