Makalah Atenolol

Oleh Putri Dewi

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Atenolol

TUGAS MAKALAH FARMAKOLOGI MOLEKULER
BETA 1 – ADRENERGIK BLOKER

Disusun oleh :
Putri Dewi Riayah

(G1F014030)

Sasmita Laila K.S

(G1F014032)

Ellisa Mahardhika

(G1F014034)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan penyakit yang
mendapat

perhatian

dari

semua

kalangan

masyarakat,

mengingat

dampak

yang

ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang sehingga membutuhkan
penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan terpadu. Penyakit hipertensi
menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitasnya (kematian) yang tinggi.
Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari
berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Berbagai penelitian telah menghubungkan
antara berbagai faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi.Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan tenyata prevalensi (angka kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya
usia. Dari berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,828,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi.
Hipertensi, saat ini terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan
lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain
dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan resiko
penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya olahraga, merokok,
alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya. Sejalan dengan bertambahnya
usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah, tekanan sistolik terus
meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60
tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Salah satu obat
yang digunakan untuk terapi hipertensi adalah golongan beta 1 adrenergik bloker yang akan
dibahas lebih jelas pada makalah ini.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Hipertensi
Pengertian Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah
yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah, terhambat
sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya (Sustrani,2006). Hipertensi adalah
suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal
yang mengakibatkan angka kesakitan atau morbiditas dan angka kematian atau
mortalitas. Hipertensi merupakan keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah di atas normal atau kronis dalam waktu yang lama ( Saraswati,2009).
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan pembuluh
darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. WHO (World Health
Organization) memberikan batasan tekanan darah normal adalah 140/90 mmHg.
Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jenis kelamin (Marliani, 2007).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.
Penyebab Hipertensi
Penyebab hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi essensial
(primer) merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan ada
kemungkinan karena faktor keturunan atau genetik (90%). Hipertensi sekunder yaitu
hipertensi yang merupakan akibat dari adanya penyakit lain. Faktor ini juga erat
hubungannya dengan gaya hidup dan pola makan yang kurang baik. Faktor makanan
yang sangat berpengaruh adalah kelebihan lemak (obesitas), konsumsi garam dapur
yang tinggi, merokok dan minum alkohol.
Penggolongan Hipertensi
Hipertensi dapat didiagnosa sebagai penyakit yang berdiri sendiri, tetapi lebih
sering dijumpai terkait dengan penyakit lain, misalnya obesitas, dan diabetes melitus.
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan,
yaitu:
a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya (Gunawan, 2001). Sebanyak 9095 persen kasus hipertensi yang terjadi tidak diketahui dengan pasti apa

penyebabnya. Para pakar menunjuk stress sebagai tuduhan utama, setelah itu
banyak faktor lain yang mempengaruhi, dan para pakar juga menemukan hubungan
antara riwayat keluarga penderita hipertensi (genetik) dengan resiko untuk
menderita penyakit ini. Onset hipertensi essensial biasanya muncul pada usia
antara 25-55 tahun, sedangkan usia di bawah 20 tahun jarang ditemukan.
Patogenesis hipertensi essensial adalah multifaktorial. Faktor-faktor yang terlibat
dalam pathogenesis hipertensi essensial antara lain faktor genetik, hiperaktivitas
sistem saraf simpatis, sistem renin angiotensin, defek natriuresis, natrium dan
kalsium intraseluler, serta konsumsi alkohol secara berlebihan.
b. Hipertensi renal atau hipertensi sekunder
Yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain (Gunawan, 2001). Pada 510 persen kasus sisanya , penyebab spesifiknya sudah diketahui, yaitu gangguan
hormonal, penyakit jantung, diabetes, ginjal, penyakit pembuluh darah atau
berhubungan dengan kehamilan. Garam dapur akan memperburuk hipertensi, tapi
bukan faktor penyebab. Hipertensi sekunder memiliki patogenesis yang spesifik.
Hipertensi sekunder dapat terjadi pada individu dengan usia sangat muda tanpa
disertai riwayat hipertensi dalam keluarga. Penyebab hipertensi sekunder antara
lain

penggunaan

estrogen,

penyakit

ginjal,

hipertensi

vaskuler

ginjal,

hiperaldosteronisme primer dan sindroma cushing, feokromsitoma, koarktasio
aorta, kehamilan, serta penggunaan obatobatan.
Gejala Hipertensi
Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala
khusus. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati antara lain yaitu :
gejala ringan seperti, pusing atau sakit kepala, sering gelisah, wajah merah, tengkuk
terasa pegal, mudah marah, telinga berdengung, sukar tidur, sesak napas, rasa berat
ditengkuk, mudah lelah, mata berkunang-kunang, mimisan (keluar darah dari hidung).
Berikut adalah klasifikasi hipertensi menurut JNC 2007 :

Klasifikasi

Sistol

Diastol

(mmHg)

(mmHg)

Normal

< 120

<80

Prehipertensi

120 - 139

80 - 89

Hipertensi

Tingkat 1

140 - 159

90 - 99

Tingkat 2

>160

>100

(Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007)
B. Reseptor Adrenergik
Pengertian Reseptor Adrenergik
Reseptor adrenergic merupakan reseptor yang memperantarai berbagai aksi
saraf simpatik (flight, fright or fight responses), meliputi pelepasan energy dari
glukosa, denyut jantung, dilatasi saluran pernapasan, dan pengaturan sirkulasi
perifer. Selama kondisi normal (tanpa stress), reseptor adrenergic berperan dalam
fungsi berbagai system dalam tubuh. Reseptor ini merupakan reseptor bagi
neurotransmitter

golongan

katekolamin,

yaitu

adrenalin/epinefrin

dan

nonadrenalin/nonepinefrin. Epinefrin terutama menstimulasi reseptor beta
adrenergic, sedangkan nonepinefrin menstimulasi terutama reseptor alfa
adrenergic (Ikawati, 2014).
Epinefrin dan nonepinefrin adalah hormone yang disekresikan oleh
glandula adrenal dan disintesis dari prekusornya tirosin dengan bantuan beberapa
enzim, yaitu tirosin hidroksilase, dopa dekarboksilase, dan dopamine beta
hidroksilase (Ikawati, 2014).
Macam - Macam Reseptor Adrenergik
Adrenergic dapat dibagi dalam dua kelompok menurut titik kerjanya di sel
– sel efektor dari organ – ujung, yakni reseptor-alfa dan reseptor-beta. Perbedaan
antara kedua jenis reseptor didasarkan atas kepekaannya bagi adrenalin,
noradrenalin ( NA ), dan isoprenalin. Reseptor-alfa lebih peka bagi NA,
sedangkan reseptor-beta lebih sensitive bagi isoprenalin (Hoffman, 2004).
Diferensiasi lebih lanjut dapat dilakukan menurut efek fisiologisnya yaitu
dalam alfa-1 dan alfa-2 serta beta-1, beta-2, dan beta-3. Uniknya, mereka
terikat pada jenis protein G yang berbeda – beda sehingga menyebabkan respon
seluler yang berbeda. Adapun perbedaan masing – masing reseptor adalah
(Ikawati, 2014) :

Pembeda

Alfa-1

Alfa-2

Distribus Otot polos Pembuluh
i

berbagai

darah,

organ,

ginjal, otak

Beta-1
Jantung

Beta-2
Bronchus

Beta-3
Jaringan
adiposit

liver,
kelenjar
saliva
G-

Gq

Gi

Gs

Gs

Gs, Gi

Transdu

Terganden

Menghamb

Mengaktiva Mengaktivasi Mengaktiva

ksi

g

sinyal

hidrolisis

mengaktiva aktivasi

inositol

si kanal K, PKA

lipid,

menghamb

protein
coupled
pada at

AC, si

AC, AC, aktvasi si
PKA
dan

kanal Ca

mengaktiva at kanal Ca

AC,

aktivasi
PKA

;

menghamb
at AC

si PKC
Respon

Vasokontri

Vasokontri

Meningkatk Bronkorelaks Metabolism

seluler

ksi

ksi

an kekuatan asi

energy,

dan

thermogene

kecepatan

sis

denyut
jantung
Mekanisme Terjadinya Hipertensi
Reseptor beta 1 merupakan reseptor adrenergic utama di jantung dan
transduksi sinyalnya melalui ikatan dengan protein Gs yang mengaktifkan jalur
adenilat siklase. Reseptor ini dapat meningkatkan kontraksi otot jantung dan
frekuensi denyut jantung sehingga dapat menaikkan tekanan dalam darah
(Ikawati,2014).

Gambar 1. Mekanisme terjadinya hipertensi
Pada sistem saraf simpatis terdapat bagian preganglion – ganglion – pasca
ganglion di mana pada bagian pasca ganglion terdapat adrenergik yang
melepaskan neurotransmiter berupa norepinefrin (NE) dan epinefrin (Epi) yang
dapat berinteraksi dengan sel efektor. Norepinefrin sering disebut sebagai agen
vasokontriktor

karena

semua

reseptornya

dapat

memacu

peningkatan

kontraksi. Norepinefrin akan berikatan dengan sel efektor yang berupa reseptor
beta 1 adrenergik di otot jantung, sel pacu jantung dan jaringan konduksi. Ini
merupakan dasar efek ionotropik dan kronotropik positif pada jantung.
Norepinefrin memperkuat kontraksi dan mempercepat relaksasi. Dalam
mempercepat denyut jantung dalam kisaran fisiologis, epinefrin memperpendek
waktu sistolik tanpa mengurangi waktu diastolic. Akibatnya curah jantung
bertambah tetapi kerja jantung dan pemakaian oksigen sangat bertambah
sehingga efisiensi jantung ( kerja dibandingkan dengan pemakaian oksigen )
berkurang (Price, 2005).
Di jantung, aktivasi reseptor beta 1 menyebabkan peningkatan kadar cAMP,
menstimulasi PKA untuk memfosforilasi berbagai protein regulator Ca
(fosfolambam) dan beberapa protein miofilamen (seperti troponin). Troponin

akan menyebabkan efek peningkatan kontraksi otot jantung. Sedangkan
fosfolambam akan mempercepat relaksasi serta frekuensi denyut jantung. Dengan
adanya peningkatan kontraksi otot jantung jantung dan frekuensi dnyut jantung
akan menyebabkan tekanan darah meningkat (Ikawati, 2014).

C. OBAT HIPERTENSI GOLONGAN BETA 2-ADRENERGIK BLOKER
Golongan Sulfonilurea
Merupakan obat hipoglikemik oral yang paling dahulu ditemukan. Sampai beberapa
tahun yang lalu, dapat dikatakan hampir semua obat hipoglikemik oral merupakan
golongan sulfonilurea. Obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea merupakan obat
pilihan (drug of choice) untuk penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal
dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya.
Senyawa-senyawa sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan
hati, ginjal dan tiroid. Obat-obat kelompok ini bekerja merangsang sekresi insulin di
kelenjar pancreas, oleh sebab itu hanya efektif apabila sel-sel β Langerhans pankreas
masih dapat berproduksi. Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian
senyawa-senyawa sulfonilurea disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin oleh
kelenjar pancreas. Sifat perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa,
karena ternyata pada saat glukosa (atau kondisi hiperglikemia) gagal merangsang sekresi
insulin, senyawa-senyawa obat ini masih mampu meningkatkan sekresi insulin.
Oleh sebab itu, obat-obat golongan sulfonilurea sangat bermanfaat untuk penderita
diabetes yang kelenjar pankreasnya masih mampu memproduksi insulin, tetapi karena
sesuatu hal terhambat sekresinya. Pada penderita dengan kerusakan sel-sel β Langerhans
kelenjar pancreas, Pemberian obat-obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea tidak
bermanfaat. Pada dosis tinggi, sulfonilurea menghambat degradasi insulin oleh hati.
Absorpsi senyawa-senyawa sulfonilurea melalui usus cukup baik, sehingga dapat
diberikan per oral. Setelah diabsorpsi, obat ini tersebar ke seluruh cairan ekstrasel.
Dalam plasma sebagian terikat pada protein plasma terutama albumin (70-90%).
(Handoko dan Suharto, 1995; IONI, 2000)
D. MEKANISME AKSI OBAT PADA KANAL ION

BAB 3

1. Puspa Juanega S. (G1F014066)
Pertanyaan : Salah satu kontraindikasi dari obat atenolol adalah bradikardi (lemah
jantung), lalu pilihan obat apa yang cocok jika penderita bradikardi mengalami
hipertensi?
Jawaban : pilihan obat yang tepat adalah carvedilol, golongan alfa beta bloker dan
juga bisoprolol dalam kombinasi dengan ACE inhibitor.
2. Laras Ratna Sari (G1F0140
Pertanyaan : apakah mekanisme kerja dari atenolol ? spesifik ataukah nonspesifik ?
Apakah atenolol menghambat secara penuh ataukah hanya parsial ? dan apakah efek
sampingnya bisa menyebabkan hipotensi ?
Jawaban : atenolol merupakan obat antagonis selektif yang banyak dipakai untuk
antihipertensi (Ikawati,2014). Obat ini menghambat reseptor beta 1 adrenergik secara
parsial, di mana obat dapat digeser dengan obat lain yang memiliki dosis yang lebih
tinggi dari pada dosis yang digunakan. Semua obat antihipertensi akan memiliki efek
samping hipotensi jika obat digunakan tidak sesuai dosis yang diterapkan dan
berlebihan dalam penggunaan.
3. Fatima Nurrachma

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007, Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Universitas
Indonesia, Jakarta.
Gunawan, Lanny, 2001, Hipertensi Tekanan Darah Tinggi, Kanisius, Yogyakarta.
Hoffman BB. 2004. Adrenoceptor-activating & other sympathomimetic drugs, McGraw-Hill,
New York.
Ikawati, Zullies, 2014, Farmakologi Molekuler, UGM Press, Yogyakarta.
Marliani, Lili, T.S., 2007, 100 Questions and Answers Hipertensi, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta.

Price, Sylvia A., 2005, Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit (edisi 6). EGC,
Jakarta.
Saraswati, S., 2009, Diet Sehat untuk Penyakit Asam Urat, Diabetes, Hipertensi dan Stroke,
A Plus, Yogyakarta.
Sustrani, L.S. Alam dan I. Hadibroto, 2004, Diabetes, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sutanto, 2009, Awas 7 Penyakit Degeneratif, Paradigma Indonesia,Yogyakarta.

Judul: Makalah Atenolol

Oleh: Putri Dewi


Ikuti kami