Makalah Psikologi

Oleh Premi Utami

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Psikologi

MAKALAH KELOMPOK
PEMIKIRAN KE ARAH APLIKASI PSIKOLOGI BELAJAR
Untuk melengkapi salah satu tugas mata kuliah PSIKOLOGI PENDIDIKAN dengan dosen
pengampu Ifada Retno Ekaningrum,M.Ag

Di susun oleh :
Premy utami ningsih(146010068)
Mujiyanto(146010102)
Mujib ridwan(146010100)
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG

I. Latar Belakang Masalah
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat, tetapi belajar adalah
suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan
sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk, seperti
perubahan pengetahuanya, sikap dan tingkah laku keterampilan, kecakapanya,
kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaanya. Jadi belajar adalah suatu
proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa.
Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat

melalui situasi yang ada pada siswa. Dalam suatu pembelajaran juga perlu
didukung oleh adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori belajar di
kelompokan dalam tiga kelompok atau aliran meliputi:
(1) Teori Belajar Behavioristik (2) Teori Belajar Kognitif (3) Teori Belajar
Humanistik.
Untuk memahami lebih lanjut maka dalam makalah ini akan membahas mengenai teori
belajar dan implikasi teori belajar psikologi tersebut.
II.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Apa pengertian teori belajar behavioristik, kognitif , dan humanistik ?
2. Bagaimana aplikasi teori belajar behavioristik, kognitif, dan humanistik ?
3. Apa implikasi teori belajar behavioristik, kognitif, dan humanistik ?
• Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah psikologi pendidikan
2. Mengetahui pengertian teori-teori belajar psikologi
3. Mengetahui aplikasi dari teori-teori belajar psikologi
4. Mengetahui bagaimana implikasi teori-teori belajar psikologi dalam
pendidikan

III.PEMBAHASAN
A. Teori Belajar Psikologi Behavioristik
1. Pengertian Teori Belajar Psikologi Behavioristik
Behaviorisme sebagai sebuah teori psikologi dan pembelajaran menjadi berpengaruh
pada awal abad keduapuluh dan mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1950-an dan
1960-an. Teori tersebut berakar dari penelitian Ivan Pavlov di Rusia di sekitar
pergantian abad yang lalu. Psikologi kognitif telah menghasilkan teori kognitif
manusia yang sangat umum yang agak berbeda antara satu peneliti dengan peneliti
lainnya. Konseptualisasi dasar ini pada umumnya disebut “model pemrosesan
informasi manusia”. Gagasan dasarnya adalah bahwa manusia memproses informasi
melalui serangkaian sistem yang berbeda.Teori belajar behavioristik adalah teori
perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons
pelajar terhadap rangsangan. Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam
mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang
subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar
behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai
secara konkret. Belajar menurut teori psikologi belajar behavioristik adalah
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan
respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan
perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan
yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang
baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus

dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di
antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa
diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah
faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat
timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative
reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
1. Aplikasi Teori Belajar Psikologi Behavioristik
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari
beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik
pembelajaran, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang
dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan
adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur
dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar
adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar
atau pembelajaran. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur
pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan
dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini
ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar
diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang
diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus
dipahami oleh murid. Demikian halnya dalam pembelajaran, belajar dianggap
sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari
pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang
terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses
pembelajaran yang harus dicapai oleh para pembelajar. Begitu juga dalam proses
evaluasi belajar pembelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat
diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam
proses evaluasi.
2. Implikasi Teori Belajar Psikologi Behavioristik
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang
memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi,
bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem
pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan
respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar
kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi
dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada
aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan
dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih
banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam
penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan
keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang
pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai
penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang
berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh

sistem yang berada di luar diri pebelajar. Berikut ini merupakan implikasi dari
teori belajar behavioristik :
1. Individualisasi : Perlakuan individual didasarkan pada tugas, ganjaran,
dan disiplin
2. Motivasi : Motivasi belajar bersifat ektrinsik melalui pembiasaan secara
terus-menerus atau melalui re-inforcement.
3. Metode : Metode belajar dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan
keterampilan dan pengetahuan tertentu serta menggunakan teknologi pendidikan
4. Tujuan kurikuler : Tujuan kurikuler memusatkan pada pengetahuan dan
keterampilan akademis serta tingkah laku.
5. Bentuk pengelolaan kelas : Berpusat pada guru, sedangkan hubungan sosial
digunakan sebagai cara berkomunikasi, bukan sebagai tujuan pengajaran.
6. Usaha mengefektifkan kelas : Program pengajaran disusun secara rinci dan
bertingkat, dan proses belajar lebih mengutamakan penguasaan bahan atau
keterampilan.
7. Partisipasi siswa : Secara umum siswa menunjukkan perilaku pasif
8. Kegiatan belajar siswa : Pemahiran keterampilan melalui pembiasaan
bertahap, yaitu melakukan praktek setahap demi setahap secara rinci
9. Tujuan umum : Pendidikan bertujuan mencapai kemampuan mengerjakan sesuatu
atau mencapai tingkat kompetensi tertentu.
B. Teori Belajar Psikologi Kognitif
1. Pegertian Teori Belajar Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif yang dipengaruhi oleh Kurt Lewin, John Dewey, dan Kohler,
mempunyai pandangan bahwa proses belajar pada manusia melibatkan proses
pengenalan yang bersifat kognitif. Cara belajar orang dewasa berbeda dari cara
belajar anak, dimana cara belajar orang dewasa lebih banyak melibatkan kemampuan
kognitif yang lebih tinggi. Untuk menjelaskan proses belajar harus
mempertimbangkan proses kognisi (pengetahuan) yang turut ambil bagian selama
proses balajar berlangsung . Pengenalan terhadap sesuatu secara langsung yang
melibatkan logika ataupun dengan pengalaman disebut discovery atau penemuan,
sedangkan proses belajar yang melibatkan kognisi tingkat tinggi, disebut belajar
dengan intuisi atau mungkin juga melalui wahyu.
2. Aplikasi Teori Belajar Kognitif
Teori Piaget menjelaskan hubungan antara perbedaan individual, tujuan
instruksional, prinsip belajar, dan metode mengajar. Berkaitan dengan
perkembangan kognitif anak, ada dua pendekatan tentang readiness, yaitu tingkat
perkembangan fungsi-fungsi kognitif dan pengetahuan anak pada mata pelajaran.
Dua pendekatan itu akan memberikan pemahaman tentang perencanaan pendidikan yang
tepat. Metode belajar discovery dan reception memberikan tambahan pengertian
tentang cara-cara untuk mencapai tujuan.
Dan tidak semua metode mengajar cocok untuk membantu siswa untuk mencapai
tujuan. Mengajar yang baik adalah melibatkan kecakapan dalam menentukan metode
yang efektif. Teori gestalt banyak memberikan sumbangan menjelaskan hal ini.
Peletak dasar psikologi Gestalt ialah Max Wertheimer, kemudian dikembangkan oleh
Kurt Lewin dengan “cognitive - field psychology” -nya. Psikologi Gestalt
menyusun belajar itu ke dalam pola-pola tertentu. Jadi bukan bagian-bagian.

Sedangkan prinsip-prinsip belajar menurut teori Gestalt adalah sebagai berikut:
Belajar berdasarkan keseluruhan. Individu berusaha menghubungkan suatu
pelajaran dengan pelajaran yang lain sebanyak mungkin.
Belajar adalah suatu proses perkembangan. Manusia sebagai suatu organisme yang
berkembang, kesediannya mempelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh
kematangan jiwa batiniah, tetapi juga perkembangan anak karena lingkungan dan
pengalaman.
Anak didik sebagai organisme keseluruhan. Anak didik belajar tidak hanya
intelektualnya saja, tetapi juga emosional dan jasmaniahnya. Dalam pengajaran
modern, selain mengajar guru juga mendidik untuk membentuk pribadi anak didik.
Terjadi transfer. Jika suatu kemampuan telah dikuasai betul-betul, maka dapat
dipindahkan untuk menguasai kemampuan yang lain.
Belajar adalah reorganisasi pengalaman. Anak akan belajar dari pengalamannya
bahwa kena api itu panas dan bisa membakar. Karena pengalamannya itu, ia tidak
akan mengulangi lagi bermain api.
Belajar harus insight. Adalah seseorang melihat suatu pengertian (insight)
tentang sangkut paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur yang
mengandung suatu problem.
Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan
tujuan.
Belajar berlangsung terus-menerus. Tidak hanya di sekolah, tetapi juga di luar
sekolah melalui pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupannya.
a. Pembelajaran menurut Jean Piaget.
Piaget, mengemukakan tentang perkembangan kognitif anak sesuai dengan
perkembangan usia (= a cognitive developmental perpective). Prinsip teori
Piaget dalam praktek pembelajaran dipaparkan berikut.
Belajar aktif. Dalam kaitan ini ditekankan bahwa untuk membantu perkembangan
kognitif anak, perlu diciptakan kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar
sendiri, dengan misalnya melakukan percobaan, mengajukan pertanyaan dan
mencari jawaban sendiri, membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan
temannya dan sebagainya.
Belajar lewat interaksi sosial. Lewat interaksi sosial, perkembangan kognitif
anak akan bervariasi dan mengarah pada banyak pandangan dengan macam-macam
sudut pandang dan alternatif tindakan.
Belajar akan lebih berkesan lewat pengalaman sendiri.
b. Pembelajaran menurut JA Brunner
Bruner, yang mengembangkan psikologi kognitif dengan menemukan metode belajar
“discovery”. siswa didorong untuk belajar dengan diri mereka sendiri. Siswa
belajar aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, guru mendorong siswa
untuk mempunyai pengalaman-pengalaman dan menghubungkan pengalaman-pengalaman
tersebut untuk menemukan prinsip prinsip bagi diri mereka sendiri.Dalam
pengajaran disekolah, pembelajaran hendaknya mencakup : pengalaman-pengalaman
optimal untuk mau dan dapat belajar dan pensturkturasi pengetahuan untuk
pemahaman optimal dengan memperhatikan beberapa hal berikut :
Penyajian (1) penyajian ikonik dimana pengetahuan disajikan oleh sekumpulan
gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan
sepenuhnya konsep itu, (2) penyajian simbolik berasumsi bahwa kemauan

seseorang lebih memperhatikan preposisi/ pernyataan daripada obyek-obyek yang
memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep.
Ekonomi : Penyajian suatu pengetahuan akan dihubungkan dengan sejumlah
informasi yang dapat disimpan dalam pikiran, dan diproses untuk mencapai
pemahaman.
Kekuasan kekuatan diartikan sebagai kemampuan penyajian itu untuk
menghubung-hubungkan hal-hal yang kelihatannya terpisah-pisah.
Perincian urutan penyajian materi pelajaran.
Cara pemberian “reinforcement”
c. Pembelajaran menurut David Ausable
Ausubel berpendapat jika pengetahuan disusun dan disajikan dengan baik,
siswasiswi akan dapat belajar dengan efektif melalui buku teks dan metode-metode
ceramah. Prinsip-prinsip yang dapat mengefektifkan pembelajaran dikemukakan
berikut:
 Pengaturan awal yang dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan
konsep lama dengan konsep baru yang lebih tinggi maknanya.
 Deferensiasi progresif dimaksudkan bahwa dalam proses belajar bermakna
perlu ada pengembangan dan evaluasi konsep-konsep. Dengan cara
memperkenalkan unsur yang paling umum dulu baru yang lebih mendetail,
berarti pembelajaran dari umum ke kuhsus.
 Belajar super ordinat bermakna bahwa struktur kognitif anak mengalami
pertumbuhan kearah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan
diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut.
 Penyesuaian integratif.
3. Implikasi Teori Belajar Psikologi Kognitif
Adapun Impilikasi Teori Kognitivisme dalam dunia pendidikan yang lebih
dispesifikasikan dalam Pembelajaran sesuai dengan Teori yang telah dikemukan
diatas sebagai berikut:
• Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak;
Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan
baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan
sebaik-baiknya. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi
tidak asing; Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di
dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
diskusi dengan teman-temanya.
• Implikasi Teori Bruner dalam Proses Pembelajaran :
Menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah; anak
akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang
telah dimilikinya; dan dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau
mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai
keseimbangan di dadalam benaknya.
• Impilkasi Teori Bermakna Ausubel
Implikasinya dalam pembelajaran adalah seorang pendidik,, mereka harus dapat
memahami bagaimana cara belajar siswa yang baik, sebab mereka para siswa tidak

akan dapat memahami bahasa bila mereka tidak mampu mencerna dari apa yang mereka
dengar ataupun mereka tangkap.Dan dari ketiga macam teori diatas jelas
masing-masing mempunya implikasi yang berbeda, namun secara umum teori
kognitivisme lebih mengarah pada bagaimana memahami struktur kognitif siswa.

C. Teori Belajar Psikologi Humanistik
1. Pengertian Teori Belajar Psikologi Humanistik
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada
manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari
proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang
pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata
lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling
ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati
dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk
“memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat
tercapai. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika pelajar
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus
berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan
sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para
pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu
masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang
unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
2. Aplikasi Teori Belajar Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses
pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam
pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan
guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan
siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa
untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses
pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri ,
mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang
bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar.
Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat
jelas , jujur dan positif.
3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas
inisiatif sendiri
4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran
secara mandiri
5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya
sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang

ditunjukkan.
6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa,
tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas
segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan.
Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan
sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat
orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa
mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau
etika yang berlaku.
3. Implikasi Teori Belajar Psikologi Humanistik
• Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut
ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas
fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa
(petunjuk).
a)
Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal,
situasi kelompok, atau pengalaman kelas
b)
Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan
perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
c)
Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk
melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan
pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
d)
Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang
paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan
mereka.
e)
Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel
untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
f)
Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan
menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba
untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi
kelompok
g)
Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur
dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang
anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu,
seperti siswa yang lain.
h)
Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan
juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai
suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
i)
Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan
adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
Adapun Implikasi teori belajar humanistik menurut Redja Mudyahardjo terhadap
pendidikan adalah sebgai berikut :
1. Individualisasi : Perlakuan individu didasarkan pada kebutuhan dan

perkembangan individualitas/kepribadian anak,
2. Motivasi : Motivasi belajar bersifat intrinsik dan menekankan pada
pemuasan kebutuhan individu
3. Metode : Dalam praktek pendidikan lebih menekankan pada pendekatan proyek
yang terpaut, menekankan pada mempelajari kehidupan sosial
4. Tujuan kurikuler : Pendidikan lebih memusatkan diri pada pengembangan
sosial, keterampilan berkomunikasi, tanggap pada kebutuhan kelompok dan individu
5. Bentuk pengelolaan kelas : Berpusat pada anak, anak bebas memilih bidang
yang akan dipelajari, sedangkan guru membantu dan bukan mengarahkan
6. Usaha mengefektifkan kelas : Program pengajaran disusun dalam bentuk
topik-topik yang terpadu berdasarkan kebutuhan individual anak
7. Partisipasi siswa : Partisipasi aktif dari siswa sangat diutamakan, dan
anak belajar sambil bekerja
8. Kegiatan belajar siswa : Mengutamakan pada belajar melalui pemahaman dan
pengertian, dan bukan hanya memperoleh pengetahuan belaka
9. Tujuan umum pendidikan : Pendidikan bertujuan mencapai kesempurnaan diri
dan pemahaman.
IV.ANALISIS
Dari beberapa teori psikologi pembelajaran diatas,maka penulis beranalisa bahwa letak
pentingmya ketiga teori tersebut adalah tidak hanya di tujukanuntuk pelajar
SD,SMP,SMA,Namun para Mahasiswapundapat menerapkan teori tersebut,karena sarana
mendidik tidak cukup mengandalkan dari tiga teori saja namun banak cara yang dirasa cocok
dan jitu demi mengantarkan siswa siswi cerdas,bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa.
V.PENUTUP
Simpulan
Secara umum teori belajar di kelompokan dalam tiga kelompok atau aliran
meliputi: Teori Belajar Behavioristik, Teori Belajar Kognitif dan Teori Belajar
Humanistik.
Teori belajar behavioristik adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat
diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan.
Psikologi kognitif yang dipengaruhi oleh Kurt Lewin, John Dewey, dan Kohler,
mempunyai pandangan bahwa proses belajar pada manusia melibatkan proses
pengenalan yang bersifat kognitif.
Teori humanistik ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam
kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar
dalam bentuknya yang paling ideal.
Setiap teori belajar diatas pastinya memiliki dampak yang dapat diterapkan dalam
proses pembelajaran atau pendidikan. Seperti halnya teori belajar behavioristik
dapat berpengaruh pada prosedur-prosedur pengembangan tingkah laku baru dapat
dilakukan dengan reward dan punishment, dan shaping, modelling. Sedangkan teori
humanistic pada Guru memfasilitasi siswa mempelajari dirinya sendiri, memahami
perasaan dan tindakan yang dilakukannya.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Baharuddin, Esa Nur Wahyuni. 2006.
El-Marosy, Azhar. [Online]. 2012. Teori Belajar Kognitivisme dan Implikasinya
Dalam pendidikan.
Wiryokusumo, Iskandar. [Online]. 2009. Behaviorisme, Kognivisme, Dan
Konstruktivisme : Teori Belajar Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran.

Judul: Makalah Psikologi

Oleh: Premi Utami


Ikuti kami