Makalah Bambang

Oleh Sedny Antoni

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Bambang

MAKALAH

HUBUNGAN PENDIDIKAN TERHADAP KARIR

DISUSUN OLEH :

BAMBANG IRAWAN
1114231168

AKADEMI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
(AMIK) DIAN CIPTA CENDEKIA BANDAR LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Semua mahluk hidup pasti selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan
hidupnya, tak terkecuali manusia, dalam usahanya memenuhi kebutuhan
hidupnya selalu bergantung atau membutuhkan kerja sama dengan orang lain.
Ini sebabnya dikatakan manusia adalah mahluk sosial. Sudah sewajarnya
manusia menjalin hubungan kerja sama dengan sesama manusia. Kita pun
mengetahui bahwa disamping manusia sebagai mahluk sosial, ia juga adalah
individu yang karakternya berbeda dengan manusia yang lainnya. Maka di
sinilah pentingnya manajemen sumber daya manusia. Dengan hal tersebut kita
dapat mengatur bagaimana setiap individu yang berbeda watak, fisik, mental,
keinginan dan kebutuhannya dapat bekerja sama dalam mencapai tujuan
organisasi yang dicita-citakan.

Sebagaimana kita pahami bahwa di antara yang terkait dalam suatu organisasi,
maka personil atau pegawai menjadi unsur yang teramat penting, yang mana
personil mempunyai fungsi yang besar, dan itu merupakan fakta yang tak
terelakkan. Tenaga kerja atau karyawan adalah merupakan faktor produksi
yang bersifat senantiasa bergerak dan selalu berubah-ubah, mempunyai akal
dan perasaan serta motivasi, jika tenaga kerja sebagai faktor produksi merasa
senang bekerja dengan penuh semangat dan bergairah, maka dapat dipastikan
bahwa tujuan yang telah ditetapkan perusahaan atau organisasi akan semakin
mudah tercapai.
Sebab kebaikan daripada kinerja seorang karyawan salah satunya bisa ditilik
dari riwayat pekerjaannya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pengalaman,
namun hal tersebut tidak selalu menjamin kinerja yang lebih baik. Sering
terjadi bahwa seorang yang belum dapat dikatakan berpengalaman ternyata
justru memiliki tingkat kinerjayang lebih baik. Tentu semakin lama tingkat

kompetensi semakin tinggi, persaingan antar pegawai semakin lama semakin
ketat. Maka dibutuhkanlah sebuah tingkat pendidikan yang lebih mumpuni,
yang lebih mampu bersaing untuk memasuki dunia keorganisasian dengan
lebih baik.Dengan bertambahnya pengalaman seorang karyawan dalam dunia
kerja, maka akan bertambah pula pengetahuan, ketrampilan, kecakapan dan
kecekatan dalam pengabdian kerjanya di perusahaan.
Dengan demikan semakin banyak pengalaman kerja seseorang atau semakin
lamanya waktu orang tersebut untuk masa bekerja akan dapat meningkatkan
kemampuan kerja sama atau dengan kata lain akan mempengaruhi
peningkatan kinerja orang yang bersangkutan tersebut.Tentu saja pengalaman
memang penting, namun akan lebih optimal jika diimbangi dengan tingkat
pengetahuan yang terus diperbarui. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan terus
menerus berkembang, sama halnya dengan zaman.Masalah baru, alat dan
prosedur baru, serta pekerjaan baru selalu menciptakan kebutuhan baru bagi
perusahaan. Maka, sebuah perusahaan jika tidak ingin tertinggal juga harus
mengikuti perkembangan zaman.
Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya.Walau
pengalaman kerja merupakan faktor yang penting, namun ada juga perusahaan
yang tidak begitu mengutamakan pengalaman kerja dalam penarikan tenaga
baru. Hal ini disebabkan karena adanya anggapan bahwa tanpa pengalaman
kerja, tenaga kerja tersebut dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan atau
kehendak perusahaan.Bilamana perusahaan menginginkan untuk membentuk
seorang karyawan agar perusahaan semakin mengikuti perkembangan zaman,
maka yang dibutuhkan adalah tingkat pendidikan karyawan yang dibutuhkan
oleh perusahaan. Dalam pendidikan terdapat proses yang terus menerus
berjalan dan bukan sesaat saja. Namun pendidikan juga bisa disebut sebagai
usaha untuk meningkatkan pengetahuan umum seseorang termasuk di
dalamnya penguasaan teori untuk memutuskan persoalan-persoalan yang
menyangkut kegiatan pencapaian tujuan perusahaan. Kinerja pegawai sendiri
dapat dijelaskan ke dalam beberapa hal, yaitu kinerja individu yang berfungsi
untuk menilai pekerjaan pegawai pada suatu perusahaan/organisasi yang telah
menetapkan standar kinerja sesuai dengan jenis pekerjaan dan periode waktu.

Kemudian seorang pegawai dituntut untuk memiliki perilaku sesuai dengan
yang diharapkan, sehingga dapat melakukan komunikasi dengan baik dalam
organisasi untuk mencapai standar kinerja yang ditetapkan, dan yang terakhir
adalah ciri atau sifat yang dimiliki pegawai, dalam hal ini umumnya
berlangsung secara bertahap seperti sopan, santun, ramah, penampilan yang
rapi dan sebagainya. Kemudian juga para karyawan ini mempunyai peran
yang sangat penting untuk melangsungkan kelanggengan perusahaan. Kinerja
karyawan yang baik tentu bisa dijadikan salah satu faktor dasar tolak ukur
keberhasilan perusahaan. Dalam hal ini kinerja karyawan mengambil peran
yang sangat penting dalam upaya perusahaan untuk mencapai tujuannya.

Kinerja pegawai dirasakan semakin besar peranannya dalam kehidupan
organisasi, baik di pemerintahan maupun di perusahaan swasta, hal ini
dikarenakan kedudukan pegawai adalah faktor penentu dalam keberhasilan
kegiatan yang telah direncanakan yang sekaligus merupakan sasaran dan
tujuan yang hendak dicapai oleh suatu organisasi. Dalam penulisan ini yang
dibahas secara spesifik adalah mengenai pendidikan para pegawai yang
berijazah akhir Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas
(SMA) dan Penguruan Tinggi (D3 atau S1). Hal ini dikarenakan pendidikan
tersebut berada dalam lingkungan kerja Perusahaan Daerah Aneka Usaha,
Nganjuk.

Banyak diantara pegawai tersebut memiliki masa bekerja yang sudah
sedemikian lama, umumnya diatas lima belas tahun mereka bertahan.
Ironisnya pegawai yang senior tersebut hanya memiliki tingkat pendidikan
SMP dan SMA, sedangkan yang lulusan perguruan tinggi jumlahnya sedikit
sekali. Jikalau hal ini tetap dipertahankan maka tak pelak, mereka akan
memiliki kompetitor-kompetitor dari berbagai sub bidang ilmu yang akan
membuat mereka tertinggal jauh dibelakang. Seperti yang telah kita ketahui
bersama, dari waktu ke waktu zaman semakin berubah, pun juga yang
mengikutinya seperti halnya tuntutan kerja.Bertitik tolak dari hal ini, penting
kiranya dilakukan sebuah kegiatan analisa untuk mengetahui keadaan dalam

suatu perusahaan yang telah ditentukan. Oleh sebab itu skripsi ini dapat dibuat
dengan judul sebagai berikut :

“PENGARUH

TINGKAT

PENDIDIKAN

TERHADAP

KINERJA

KARYAWAN KANTOR PUSAT PERUSAHAAN DAERAH ANEKA
USAHA NGANJUK”.

BAB II
ISI

2.1. Uraian Perspektif Teori tentang Variabel Dan Hubungan Variabel

2.1.1. Definisi Pendidikan
Di dalam pembangunan yang berencana dan bertahap dengan harapan
terjadinya pertumbuhan yang mantab dan stabil, maka perencanaan
pendidikan dan perencanaan tenaga kerja mempunyai peranan yang sangat
menentukan berhasil tidaknya pembangunan itu. Tenaga kerja sebagai
obyek dan juga subyek pembangunan perlu diperhatikan karena tenaga
kerja itu merupakan penggerak utama dari pembangunan itu. Aspek-aspek
tenaga kerja seperti pendidikan dan pembinaan kemampuannya perlu
disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan pembangunan. Adanya suatu
perencanaan

tenaga

kerja

adalah

untuk

mencegah

terjadinya

penghamburan dana dan daya serta meningkatkan produksi dan
produktivitas seoptimal mungkin.
Hal ini diutamakan untuk mencapai tingkat pengelolaan jabatan setinggitingginya.Apabila kesempatan kerja itu telah tersedia timbul masalahmasalah lain berupa soal-soal bagaimana, di mana, oleh siapa, dan kapan
kesempatan kerja itu akan diisi dengan tenaga kerja yang sesuai kuantitas
dan kualitas sehingga tercipta produktivitas yang wajar, sesuai dengan
teknologi yang ada.Kita tidak dapat pula menutup mata terhadap persoalan
urbanisasi yang meningkat, sebagai akibat dari tidak ada atau tidak
menariknya pekerjaan serta tidak betahnya orang-orang yang telah
mencapai usia kerja sebagai lulusan dan drop out dari sekolah-sekolah dan
lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang tinggal di daerah pedesaan.
Padahal di daerah perkotaan belum cukup tersedia lapangan dan
kesempatan kerja yang sesuai untuk menampung mereka.Karena semakin

kompleksnya masalah ini dan agar penanggulangannya dapat lebih
berhasil baik maka perlu dibuat rencana yang menyeluruh mengenai
pendidikan

dan

pembinaan

tenaga

kerja

itu

bagi

usaha-usaha

pembangunan.Sumber daya manusia mencakup semua energi ketrampilan,
bakat dan pengetahuan manusia yang digunakan untuk tujuan produksi
dan jasa-jasa yang bermanfaat. Pendekatan sumber daya manusia
menekankan bahwa tujuan pembangunan ialah memanfaatkan tenaga
manusia sebanyak mungkin dalam kegiatan-kegiatan yang menghasilkan
produk atau jasa.
Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung
seumur hidup.Agar pendidikan dapat dijangkau oleh seluruh rakyat, maka
penyelenggaraan pendidikan adalah menjadi tanggung jawab keluarga,
masyarakat dan pemerintah.Idris (1992 : 102), mendefinisikan pendidikan
adalah sebagai berikut : Serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan
antara manusia dewasa dengan si anak didik secara tatap muka atau
dengan menggunakan media dalam memberikan bantuan terhadap
perkembangan anak seutuhnya, dalam arti supaya dapat mengembangkan
potensinya semaksimal mungkin, agar menjadi manusia dewasa yang
bertanggung jawab.
Menurut Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar untuk
mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
dan/atau

latihan

bagi

peranannya

di

masa

yang akan

datang.

Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
negara dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia
yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani
dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.

2.1.1.1 Jalur-Jalur Pendidikan
Menurut Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989, pendidikan
dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu :
1.Jalur pendidikan sekolah
Merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan
belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan.
Terdiri dari :
a.Pendidikan Umum.
Adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan
peningkatan ketrampilan peserta didik dengan pengkhususan yang
diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir pendidikan.
b. Pendidikan Kejuruan.
Adalah merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk
dapat bekerja dalam bidang tertentu.
c. Pendidikan Luar Biasa.
Merupakan pendidikan yang khusus diselenggarakan untuk peserta didik
yang menyandang kelainan fisik atau mental.
d. Pendidikan Kedinasan.
Merupakan pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam
pelaksanaan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu
Departemen Pemerintah atau Lembaga Pemerintah non Departemen.
e. Pendidikan Keagamaan.
Merupakan pendidikan yang mempesiapkan peserta didik untuk dapat
menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus
tentang ajaran agama yang bersangkutan.
f. Pendidikan Akademik.
Merupakan pendidikan yang diharapkan terutama pada penguasaan ilmu
pengetahuan.
g. Pendidikan Profesional.
Merupakan pendidikan yang diharapkan terutama pada kesiapan
penerapan keahlian tertentu.
2.Jalur Pendidikan Luar Sekolah

Merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui
kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan
berkesinambungan. Pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam
keluarga dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan
ketrampilan.

2.1.1.2 Tingkat/Jenjang Pendidikan
Tingkat atau jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang
akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. (Wikipedia Indonesia,
2009). Jadi yang dimaksud dalam hal ini adalah pendidikan formal atau
akademis. Tingkat / jenjang pendidikan di Indonesia meliputi:
i.Pendidikan Usia Dini
Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah
suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan
rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut. Dalam hal ini dapat berbentuk sekolah playgroup atau taman
kanak-kanak.
ii.Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan)
tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan
menengah, yaitu meliputi Sekolah Dasar (SD) dan sederajat serta Sekolah
Menengah Pertama (SMP) dan sederajat.
iii.Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan
dasar yang harus dilaksanakan minimal 9 tahun, yaitu meliputi Sekolah
Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan
sederajatnya.
iv.Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah
yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor,
dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Mata pelajaran
pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi
semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA.

2.1.1.3 Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan Sumber Daya
Manusia
Pendidikan disini maksudnya adalah pendidikan sekolah dan luar sekolah
yang dilembagakan dan yang tidak dilembagakan.
Sumber daya manusia mencakup semua energi ketrampilan, bakat, dan
pengetahuan manusia yang digunakan untuk tujuan produksi dan jasa-jasa
yang bermanfaat. Pendekatan sumber daya manusia menekankan bahwa
tujuan pembangunan ialah memanfaatkan tenaga manusia sebanyak
mungkin dalam kegiatan-kegiatan yang menghasilkan produk atau jasa.
Peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia ialah
sebagai berikut :
a.Hanya melalui pendidikanlah manusia dapat melaksanakan Pasal 31
UUD 1945, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran” yang
sesuai dengan pembukaan UUD 1945 alinea keempat sebagai tuntunan
konstitusional bagai rakyat Indonesia, yaitu “mencerdaskan kehidupan
bangsa.”
b.Pendidikanlah yang berperan membangun manusia yang akan
melaksanakan transformasi sosial ekonomi yang sesuai dengan tujuan
bangsa Indonesia agar tumbuh dan berkembang atas kekuatan sendiri
menuju masyarakat yang adil dan makmur, sebab pembangunan
memerlukan ketrampilan-ketrampilan untuk menggunakan teknologi maju.
c.Pendidikan besar sekali peranannya dalam pembangunan sumber daya
manusia, yaitu membina manusia menjadi tenaga produktif atau man
power. Itulah sebabnya, ada pendekatan pendidikan yang dikenal dengan
man power approach.
d.Dengan perantaraan pendidikanlah dapat dilaksanakan perubahan sosial

budaya, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, penyesuaian nilai dan
sikap yang mendukung pembangunan, penguasaan berbagai ketrampilan
dalam penggunaan teknologi maju untuk mempercepat proses
pembangunan.
e.Pendidikanlah yang berperan membentuk kepribadian yang berorientasi
kepada prestasi merupakan inti wiraswata, antara lain bekerja dengan
rencana dan berani mengambil resiko yang diperhitungkan dengan baik,
bertanggung jawab atas pekerjaannya, bekerja dengan hasil yang jelas
yang dapat diukur dengan sukses atau gagal.
f.Pendidikanlah yang mampu memberikan sumbangan terhadap manusia
agar manusia dapat memperhitungkan dimensi sumber daya manusia dan
pengembangan lapangan kerja.
g.Pendidikanlah yang berperan untuk memberikan perawatan yang baik
terhadap tenaga kerja yang akan mengisi pembangunan mengenai
kesehatannya, peningkatan kemampunannya, disiplin kerjanya,
pengetahuannya dan ketrampilan-ketrampilannya diperlukan latihan.
h.Pendidikanlah yang membekali manusia agar mampu mengantisipasi
lapangan pekerjaan yang mencukupi, sesuai dengan pertumbuhan
penduduk yang relatif cepat, sehingga teratasi pengangguran dari
kelompok usia kerja, atau terdapat keseimbangan kesempatan kerja dengan
jumlah angkatan kerja.
i.Pendidikanlah yang mampu memberikan sumbangan terhadap manusia di
desa-desa yang hasil kerja dan penghasilannya sebagai sumber daya yang
rendah. Pada umumnya rakyat di desa hidup sebagai buruh, tani yang tidak
mempunyai keahlian, maupun ketrampilan tertentu, hanya hidup dari
nenek moyangnya, dan terutama hanya mengandalkan tulang dan ototnya.
Dengan kata lain, energi dan potensinya tidak berdaya guna dan berhasil.
j.Pendidikan pulalah yang berperan untuk memberikan pedoman kepada
manusia, agar kepada rakyat di desa-desa diberikan pendidikan yang dapat
mengubah sikap dan pandangan hidupnya, tanpa mengubah sifat tradisi
naluri yang baik-baik dan menguntungkan bagi kehidupan dan
penghidupannya, serta memperhatikan sampai seberapa jauh budaya

rakyat desa untuk dapat menerima pendidikan itu. Pada umumnya rakyat
di desa sukar untuk menerima gagasan pembaharuan dari luar, karena
masih kuat ikatan tradisinya, baik terhadap lingkungan alam maupun
terhadap lingkungan sosial budayanya.

2.1.2. Definisi Kinerja Karyawan
Kinerja atau prestasi kerja didefinisikan dalam beragam rumusan, akan tetapi
pengertian kinerja pada umumnya menunjuk pada keberhasilan pegawai dalam
menjalankan tugasnya menurut kriteria yang ditentukan untuk jangka waktu
tertentu.
Kinerja juga merupakan suatu hasil kerja dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas
kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu.
Mangkunegara (2001) telah menyatakan,
Pengertian kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seseorang karyawan dalam kemampuan melaksanakan tugas-tugas sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan oleh atasan kepadanya. Selain itu,
kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dan usaha seseorang yang
dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu.
Pengertian kinerja adalah hasil pegawai yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing. Dalam rangka upaya mencapai tujuan
organisasi bersangkutan sacara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan
moral maupun etika.
Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan/program kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan
visi organisasi. Kinerja karyawan merupakan hasil pegawai, atau
kemampuannya dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan dapat dilihat dari dua
sudut, yaitu kemampuan individu dan kinerja pegawai dalam rangka mencapai
tujuan organisasi pemerintah.
Secara sederhana kinerja diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh seorang

pegawai pada bidang pekerjaan yang ditekuni selama periode waktu tertentu.
Kinerja didefinisikan secara formal sebagai jumlah kualitas dari tugas yang
terselesaikan secara individu, kelompok atau organisasi. Kinerja manajerial
adalah kinerja para individu anggota organisasi dalam kegiatan manajerial yang
meliputi antara lain perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, penyediaan,
pengevaluasian, pengaturan staf, negosiasi, perwakilan dan pengendalian.
Hampir seluruh cara pengukuran kinerja mempertimbangkan 3 aspek, yaitu :
1.Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan.
2.Kualitas, yaitu mutu yang diselesaikan.
3.Ketepatan waktu yaitu kesesuaian dengan waktu yang telah direncanakan.
Pendapat lain dikemukakan Siswanto (1987 : 194-196) yang menyatakan ada 8
indikator yang secara umum digunakan dalam menilai kinerja pegawai, yaitu :
1. Kesetiaan
2. Prestasi kerja
3. Tanggung jawab
4. Ketaatan
5. Kejujuran
6. Kerjasama
7. Prakarsa
8. Kepemimpinan.
2.1.2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Prawirasentono (1999) telah menyatakan,
Efektivitas dan efisiensi. Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita
boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-akibat
yang tidak dicari kegiatan mempunyai nilai yang penting dari hasil yang dicapai
sehingga mengakibatkan ketidakpuasan walaupun efektif dinamakan tidak
efisien. Sebaliknya bila akibat yang dicari-cari tidak penting atau remeh maka
kegiatan tersebut efisien.
Dharma (2005) telah menyatakan,
Otoritas (wewenang). Arti otoritas adalah sifat dari suatu komunikasi atau
perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki (diterima) oleh seorang
anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan suatu kegiatan

kerja sesuai dengan kontribusinya (sumbangan tenaganya). Perintah tersebut
menyatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan dalam
organisasi tersebut.
Juga, disiplin kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati
perjanjian kerja dengan organisasi di mana dia kerja.
Satu hal lagi yang mempengaruhi kinerja adalah inisiatif, yaitu berkaitan dengan
daya dan kreativitas dalam bentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang
berkaitan dengan tujuan organisasi. Jadi, inisiatif adalah daya dorong kemajuan
yang bertujuan untuk mempengaruhi kinerja organisasi.
Mengukur kinerja secara struktur organisasi hal yang dinilai adalah keefektifan
dan tingkat efisiensi struktur organisasi tersebu. Bisa dinilai struktur organisasi
yang ada kurang memenuhi efektifitas, berarti kinerja organisasi tersebut
dianggap tidak memenuhi kebutuhan lagi. Oleh karena itu perlu
dipertimbangkan tentang kemungkinan menyempurnakan struktur sesuai dengan
kebutuhan.
2.1.3 Hubungan Antara Pendidikan dan Kinerja
Pendidikan sekolah yang bersifat umum, pada dasarnya hanya mengakibatkan
penguasaan pengetahuan tertentu, yang tidak dikaitkan dengan jabatan atau
tugas tertentu.
Dengan menempuh tingkat pendidikan tertentu menyebabkan seorang pekerja
memiliki pengetahuan tertentu. Orang dengan kemampuan dasar apabila
mendapatkan kesempatan-kesempatan pelatihan dan motivasi yang tepat, akan
lebih mampu dan cakap untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik,
dengan demikian jelas bahwa pendidikan akan mempengaruhi kinerja karyawan.
Pola pendidikan memberikan kemampuan kepada karyawan untuk :
a.Menyesuaikan dan menyederhanakan situasi yang kompleks.
b.Menganalisa masalah untuk menentukan penyebab yang kritis dalam unit
kerja.
c.Memilih tindakan terbaik untuk memecahkan masalah.
d.Mengantisipasi masalah-masalah sehingga mereka dapat mencegah terjadinya
masalah berikutnya.
Kecepatan dan kecermatan perlu selalu diperhatikan, ditingkatkan dan

dipelihara oleh para karyawan, sehingga dari kombinasi tersebut dapat selalu
berfungsi untuk terus memperbaiki kinerja agar semakin baik. Maka yang
diuntungkan dari hal itu adalah pegawai itu sendiri, pimpinan dan perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah
faktor untuk membangun kinerja karyawan, di samping itu tentunya ada faktorfaktor lain juga berpengaruh terhadap kondisi tenaga kerja.

KESIMPULAN
Seorang karyawan salah satunya bisa ditilik dari riwayat pekerjaannya,
yang dimaksud dalam hal ini adalah pengalaman, namun hal tersebut tidak selalu
menjamin kinerja yang lebih baik. Sering terjadi bahwa seorang yang belum dapat
dikatakan berpengalaman ternyata justru memiliki tingkat kinerja yang lebih baik.
Tentu semakin lama tingkat kompetensi semakin tinggi, persaingan antar pegawai
semakin lama semakin ketat. Maka dibutuhkanlah sebuah tingkat pendidikan yang
lebih mumpuni, yang lebih mampu bersaing untuk memasuki dunia
keorganisasian dengan lebih baik.
Kecepatan dan kecermatan perlu selalu diperhatikan, ditingkatkan dan
dipelihara oleh para karyawan, sehingga dari kombinasi tersebut dapat selalu
berfungsi untuk terus memperbaiki kinerja agar semakin baik. Maka yang
diuntungkan dari hal itu adalah pegawai itu sendiri, pimpinan dan perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah
faktor untuk membangun kinerja karyawan, di samping itu tentunya ada faktorfaktor lain juga berpengaruh terhadap kondisi tenaga kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Bambang irawan, 2013. Hubungan Pendidikan Terhadap Karir, Bandar lampung

Judul: Makalah Bambang

Oleh: Sedny Antoni


Ikuti kami