Jawaban Soal Uas Arsitektur Berkelanjutan

Oleh Dewi Sinta

74 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Soal Uas Arsitektur Berkelanjutan

Nama : Dewi Sinta NIM : 1302013 Prodi : S1- Teknik Arsitektur JAWABAN SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 1) Arsitektur berkelanjutan adalah arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Proses berkelanjutan arsitektur meliputi keseluruhan siklus masa suatu bangunan mulai dari proses pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan. Pembangunan yang berkelanjutan sangat penting untuk diaplikasikan di era modern ini. Menurut (Kibert 1994) ada 6 prinsip mengenai arsitektur berkelanjutan yaitu : 1. Meminimalkan konsumsi sumber daya 2. Memaksimalkan pemanfaatan kembali 3. Menggunakan sumber daya yang terbarukan 4. Melestarikan lingkungan 5. Menciptakan lingkungan yang sehat 6. Menjadikan kualitas sebagai tujuan dalam membangun Dalam penerapan pembangunan berkelanjutan ke-enam prinsip tersebut dapat diuraikan menjadi 3 pokok utama yaitu sebagai berikut : 1. Environmental Sustainability: a. Ecosystem integrity b. Carrying capacity c. Biodiversity Yaitu pembangunan yang mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama karena memungkinkan terjadinya keterpaduan antarekosistem, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti iklim planet, keberagaman hayati, dan perindustrian. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya alam telah mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga lambat tetapi pasti, bumi akan semakin kehilangan potensinya untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari berbagai eksploitasi terhadap alam tersebut. 2. Social Sustainability: a. Cultural identity b. c. d. e. Empowerment Accessibility Stability Equity Yaitu pembangunan yang minimal mampu mempertahankan karakter dari keadaan sosial setempat. Namun, akan lebih baik lagi apabila pembangunan tersebut justru meningkatkan kualitas sosial yang telah ada. Setiap orang yang terlibat dalam pembangunan tersebut, baik sebagai subjek maupun objek, haruslah mendapatkan perlakuan yang adil. Hal ini diperlukan agar tercipta suatu stabilitas sosial sehingga terbentuk budaya yang kondusif. 3. Economical Sustainability: a. Growth b. Development c. Productivity d. Trickle-down Yaitu pembangunan yang relative rendah biaya inisiasi dan operasinya. Selain itu, dari segi ekonmomi bisa mendatangkan profit juga, selain menghadirkan benefit seperti yang telah disebutkan pada aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya. Pembangunan ini memiliki ciri produktif secara kuantitas dan kualitasnya, serta memberikan peluang kerja dan keuntungan lainnya untuk individu kelas menengah dan bawah. Berbagai konsep dalam arsitektur yang mendukung arsitektur berkelanjutan, antara lain dalam efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan lahan, efisisensi penggunaan material, penggunaan teknologi dan material baru, dan manajemen limbah. Dengan demikian, arsitektur berkelanjutan diarahkan sebagai produk sekaligus proses berarsitektur yang erat mempengaruhi kualitas lingkungan binaan yang bersinergi dengan faktor ekonomi dan sosial, sehingga menghasilkan karya manusia yang mampu meneladani generasi berarsitektur di masa mendatang. 2) Dengan menggunakan indikator GBCI saya akan menjelaskan tingkat kebertahanan bangunan yang ada di lingkungan UPI Bandung. Bangunan yang diteliti yaitu gedung FPIPS. Ada beberapa indikator yang menjadi tolak ukur dalam penilaian GBCI diantaranya : 1. Tepat Guna Lahan (Approtiate Site Development / ASD) Berdasarkan kategori tepat guna lahan, bangunan FPIPS ini kurang memenuhi kriteria karena dapat terlihat pada poin poin penilaian di atas bahwa gedung FPIPS ini kurang memiliki lahan hijau (area vegetasi) dan tidak adanya penanggulangan terhadap hama ataupun serangga. Tetapi, untuk infrastruktur pendukung, Aksesibilitas, dan penanganan air limpasan hujan sudah cukup memenuhi karena lokasinya dekat dengan prasarana sarana kota, terdapat fasilitas umum menuju lokasi dan mudah dijangkau, dan terdapat penanganan limpasan air hujan untuk atap maupun halaman. Setelah melihat penilaian dari kategori tepat guna lahan ini, Gedung FPIPS belum termasuk ke dalam sustainable building, karena masih terdapat kriteria kriteria yang belum terpenuhi. 2. Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency & Conservation / EEC) Menurut hasil survey, dalam kategori efisiensi dan konservasi energi, gedung FPIPS mendapat skor 2 dari 15. Artinya gedung ini belum bisa dikategorikan sebagai gedung yang berkelanjutan. Pada indikator mengenai sub metering, UPI memang tidak menyediakan sub metering untuk masing-masing gedung, sehingga wajar jika gedung FPIPS tidak memiliki sub metering, baik untuk lampu, AC, stop kontak, maupun penggunaan listrik yang lain. Begitu juga dengan indikator reduksi panas dan sumber energi terbarukan, yang mendapat nilai 0. Indokator yang terpenuhi di gedung FPIPS ini hanya penggunaan AC. Pengkondisian udara buatan digunakan kurang dari 50% dari seluruh luas bangunan. Bahkan hanya ada beberapa ruangan saja dari ratusan ruangan di sana yang dipasang AC. Meski begitu, suhu di dalam gedung tetap sejuk dan nyaman. 3. Konservasi Air (Water Conservation / WAC) Analisis dari tolak ukur yang telah ada dibandingkan dengan data yang diperoleh menunjukkan bahwa di dalam gedung FPIPS tidak memiliki konservasi air dalam sistem gedungnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal berikut: 1. Tidak terdapat teknologi alat keluaran air yang dapat mengatur penghematan di dalam gedung. 2. Tidak terdapat penampungan air hujan, air hujan yang mengalir dari talang langsung dialirkan ke saluran drainase yang berada di bagian belakang gedung. 3. Tidak terdapat pengolahan daur ulang air limbah. Limbah air yang berasal dari hasil kegiatan pengguna berupa toilet, wastafel, dan tempat pencucian langsung di buang ke sumur resapan. 4. Sumber dan Siklus Material (Material Resource and Cycle / MRC) Bangunan FPIPS dari kategori sumber dan daur material, setelah kami survey dan analisis, sangat tidak sustainable. FPIPS hanya memenuhi indikator menggunakan material dari dalam negeri. 5. Kualitas Udara & Kenyamanan Ruang (Indoor Air Health and Comfort / IHC) Sirkulasi udara bersih Ventilasi alami Pemanfaatan ventilasi alami pada gedung FPIPS menggunakan sistem cross circulation. Namun, hal ini tidak berfungsi secara maksimal karena desain gedung FPIPS menggunakan sistem double loaded sehingga sirkulasi udara tidak berjalan secara baik. Selain itu jendela yang dibuka hanya yang menghadap kea rah luar bangunan sehingga udara di sekiar koridor agak pengap. Ventilasi buatan Penggunaan exhaust fan terdapat disetiap kamar mandi. Hal ini sangat membantu agar terjadi suklus udara di area kamar mandi. Namun di dapur tidak ada exhaust fan. Hal ini dikarenakan intensitas penggunaan dapur yang tidak begitu sering dan kegiatan masak di dapur tidak seperti di rumah pada umumnya. Minimalisasi sumber polutan VOC ( Volatile Organic Compound ) adalah bahan/ senyawa organic yang mudah menguap yang dihasilkan berupa gas dari beberapa bahan padat atau cair seperti timbale atau merkuri yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Penggunaan cat dengan pengencer tiner (solvent based) akan menimbulkan bau yang menyengat dan berpengaruh pada kesehatan. Hal ini tidak bisa kami ketahui apakah cat yang digunakan di gedung FPIPS menggunakan cat dengan VOC rendah atau tidak, karena tidak ada data yang meneyebutkan merek cat yang digunakan. Namun hal ini bisa diamatai dari penggunaanya. Selama berdirinya gedung FPIPS tidak ada keluhan yang menggangu kesehatan yang disebabkan gas pada kandungan cat. Memaksimalkan pencahayaan alami Pencahayaan alami tidak dimanfaatkan secara maksimal di gedung FPIPS. Dengan desain double loaded cahaya pada lorong dan lobi sangat minim. Di lobi kegiatan membaca sangat tidak nyaman karena cahaya yang didapatkan kurang, sedangkan banyak mahasiswa yang membutuhkan area belajar bersama. Tidak ada roof skylight, sehingga ruang di dalam bangunan FPIPS cenderung gelap. Ruangan yang memanfaatkan pencahayaan alami secara maksimal yaitu pada ruangan kelas dan ruangan dosen. Tingkat akustik Sistem parkir terpusat yang dilakuakn UPI sangat membantu meninimalisir kebisingan yang dapat mengganggu kegiatan perkuliahan. Tidak terdengar kebisingan yang dapat megganggu kegiatan perkuliahan. Kebisingan tertinggi di area lobi karena sebagai tempat berkumpul dan area publk mahasiswa untuk berdiskusi. 6. Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Environment Management / BEM) Menurut hasil survey, dalam kategori menejemen lingkungan bangunan, gedung FPIPS UPI mendapat skor 12 dari 14. Artinya gedung ini bisa dikategorikan sebagai gedung yang berkelanjutan. Sebagian besar indikator pada kriteria menejemen lingkungan bangunan terpenuhi di gedung FPIPS ini. 3) Analisis tingkat kebertahanan kampus UPI secara umum dengan menggunakan indikator LEED (Leadership in Energy and Evironmental Design). LEED memiliki 6 indikator penting yang menjadi tolak ukur dalam pembangunan sebuah bangunan, yaitu : 1. Lokasi energi yang dapat diperbarui (On-site renewable energy) & pengoptimalan kinerja energi (Optimized energy performance) Untuk lokasi energi yang dapat diperbarui, ada beberapa bangunan di UPI yang menggunakan panel fotovoltaik (PV) untuk mengurangi dampak lingkungan dan ekonomi yang terkait dengan penggunaan energi yang berlebihan, seperti pada pemasangan panel surya biasanya dipasang pada permukaan atap. 2. Pengelolaan limbah konstruksi (Construction waste management) Menurut Chen (2010) pengelolaan limbah konstruksi dapat menyebabkan peningkatan bahaya pekerja mengalami terkilir, keseleo, dan terluka karena pemisahan limbah material sebelum di masukkan ke dalam wadah dan juga meningkatkan jumlah kemacetan di lokasi konstruksi. Karena di lingkungan UPI ada beberapa proyek konstruksi maka untuk mengatasinya limbah-limbah bekas pakai kosntruksi di kumpulkan di suatu tempat yang jangkauannya jauh dari lalu lalang mahasiswa. Bahkan jalur lalu-lalang kendaraanpun ada yang dialihkan untuk mengurangi bahaya dari limbah konstruksi. Kampus UPI sudah berkelanjutan. 3. Kontrol kualitas limpasan air hujan (Stormwater quality control) Stormwater merupakan air yang berasal dari hujan yang tidak terserap oleh tanah dan kemudian mengalir di jalan-jalan. Perencanaan sistem tradisional kontrol stormwater untuk proyekproyek non-LEED melibatkan sistem penahanan yang memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dan kota setempat. Untuk bangunan hijau dalam mencapai kerdit LEED, kapasitas sistem penahanan 3 stormwater harus ditingkatkan dan harus dibangun bioswales dan detention ponds. Kampus UPI tidak menggunakan indikator LEED ini sehingga stormwater hanya dialirkan melalui selokan-selokan kecil yang tidak jarang menimbulkan banjir yang cukup besar dan mengganggu aktivitas mahasiswa dan lalu lalang kendaraan yang akan memasuki lingkungan kampus UPI. Kampus UPI belum berkelanjutan. 4. Efek pulau panas pada atap (Heat-island effect roof) Pada salah satu bangunan di UPI yang saya anggap berkelanjutan yaitu gedung FPMIPA karena menggunakan lapisan atap reflektif yaitu lapisan yang diaplikasikan untuk atap bangunan agar dapat memantulkan sinar matahari dan meminimalkan panas yang diserap oleh atap pada saat panas. Hal ini membantu mencegah efek pulau panas atau heat island effect (Rajendran dan Gambatese, 2009). Heat island effect adalah wilayah metropolitan yang secara signifikan lebih hangat atau panas dibandingkan dengan daerah sekitar pedesaan akibat aktivitas manusia. Menurut Kohlman Rabbani et al. (2014) dan Radjendran et al. (2009) penggunaan membran TPO pada atap yang dinilai lebih berat, lebih licin saat basah, dan menyilaukan karena pantulan matahari dibanding penggunaan membran EPDM sehingga dapat meningkatkan bahaya terpeleset, jatuh dan tegangan pada mata dalam jangka waktu yang lama. 5. Kontrol sumber polusi dan kimia dalam ruangan (Indoor chemical and pollutant source control) & Pemantauan udara di luar ruangan (Outdoor air delivery monitoring) Untuk kontrol sumber polusi dan kimia dalam ruangan biasanya memerlukan ventilasi, hampir semua bangunan di kampus UPI memiliki ventilasi yang cukup baik, bahkan dibeberapa ruangan khusus ada yang menggunakan AC untuk kontrol udaranya. Pada indikator ini saya kira kampus UPI sudah berkelanjutan. Untuk pemantauan udara di luar ruangan membutuhkan instalasi sistem yang berfungsi memantau udara luar yang masuk dan komposisi udara dalam ruangan. Sistem pemantau akan membunyikan alarm jika kualitas udara dalam ruangan berada di luar toleransi yang telah ditetapkan. Kampus UPI tidak memiliki pemantau udara di luar ruangan. Pada indikator ini saya kira kampus UPI belum berkelanjutan. 6. Pengendalian sistem pencahayaan (Controlability of systems lighting) & penerangan 75% sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan (Daylight 75% of spaces) Untuk Sistem kontrol pencahayaan biasanya memiliki sensor pada ruangan masing-masing. Sensor biasanya dipasang di sudut ruangan dalam rangka untuk memberikan sensor dengan pandangan maksimal ruangan. Bangunan kampus UPI tidak memiliki sensor untuk sistem kontrol ruangan hanya mamaksimalkan cahaya masuk melalui jendela-jendela kaca dan bukaan yang sudah ada. Kampus UPI belum berkelanjutan. Mengacu pada indikator LEED yang sudah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar bangunan yang berada di kampus UPI belum berkelanjutan. Adapun saran untuk Kampus UPI yang lebih berkelanjutan ditekankan kepada kontraktor pemenang tender kampus UPI untuk benar-benar memaksimalkan pekerjaan konstruksi di UPI dengan mengacu pada indikator GBCI dan LEED karena saya yakin biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan Kampus UPI tidak sedikit. Karena bukan hanya keindahan bangunan saja yang menjadi sorotan namun sebenarnya kenyamanan dan keberlanjutan bangunanlah yang menjadi poin terpenting.

Judul: Jawaban Soal Uas Arsitektur Berkelanjutan

Oleh: Dewi Sinta


Ikuti kami