Makalah Sosiologi

Oleh Uyi Yi

187,2 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Sosiologi

MAKALAH TUGAS SOSIOLOGI Dosen pengampu : Dr. M. Mawardi, J. M.Si Disusun Oleh Fitri Yani Nuri Eka Putri Sunilatari M. Harrys Iqbal Adam Hafidz Al Fajar : 1741020051 : 1941020103 : 1941020109 : 1941010205 PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG 2019/2020 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr.wb Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya. Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi. Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi. Terimakasih Wassalamu’alaikum wr.wb Bandar Lampung, Oktober 2019 Penyusun i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................................ i DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG............................................................................... 1 B. RUMUSAN MASALAH........................................................................... 2 BAB II STRAFIKASI SOSIAL A. PENJELASAN MENGENAI STRAFIKASI SOSIAL.......................... 3 B. TERJADINYA STRAFIKASI SOSIAL................................................. 3 C. SISTEM STRAFIKASI SOSIAL............................................................ 5 D. KELAS SOSIAL....................................................................................... 6 E. UNSUR STRAFIKASI SOSIAL............................................................. 7 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN........................................................................................ 10 B. SARAN..................................................................................................... 10 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 11 ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu seperti, ilmu pengetahuan, kekayaan material dan kekuasaan dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang tinggi terhadap hal-hal tersebut, akan menempatkannya pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya sepeti, bodoh, miskin dan jelata. Misalnya jika masyarakat menghargai kekayaan material dari pada kehormatan maka mereka yang memiliki kekayaan tinggi akan menempati kedudukan yang tinggi dibandingkan pihak-pihak lainnya. Gejala tersebut akan menimbulkan lapisan masyarakat yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan berbeda-beda secara vertikal (dari rendah ke tinggi). Secara teoritis, semua manusia dapat dianggap sederajat, namun dalam realitanya hal tersebut tidak demikian adanya. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal (menyeluruh) yang merupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat. Sistem lapisan dengan sengaja dibentuk dan disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Sehingga suatu organisasi masyarakat tidak akan pernah lepas dari terbentuknya lapisan sosial dalam masyarakat tersebut. Filosof Aristoteles (Soekanto, 2003:227) mengatakan bahwa zaman dahulu di dalam negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, yang melarat dan yang berada di tengah-tengah (artinya di tengah-tengah adalah tidak terlalu kaya dan juga tidak melarat). Membuktikan bahwa zaman itu dan sebelumnya orang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas. Barang siapa yang mempunyai sesuatu yang berharga dalam jumlah yang banyak, seperti kendaraan mewah, rumah yang besar, pakaian yang bagus dan lain-lain dianggap masyarakat berkedudukan dalam lapisan atas. Mereka yang hanya sedikit sekali atau tidak memiliki sesuatu yang berharga, dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah. 1 Sistem lapisan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan sebutan stratifikasi sosial (social stratification). Ini merupakan pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Kelas sosial tersebut dibagi dalam tiga kelas yaitu kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class). Adanya lapisan masyarakat sangat berperan penting dalam aktivitas sosial individu atau kelompok dalam suatu organisasi sosial. Tanpa lapisan sosial dalam masyarakat maka masyarakat itu akan menarik untuk dilihat, dikenal, dan dipelajari. Lapisan masyarakat sudah ada sejak dulu, dimulai sejak manusia itu mengenal adanya kehidupan bersama dalam suatu organisasi sosial. Lapisan masyarakat mula-mula didasarkan pada perbedaan seks, perbedaan antara yang pemimpin dan yang dipimpin, golongan budak dan bukan budak, pembagian kerja bahkan pada pembedaan kekayaan. Semakin maju dan rumit teknologi suatu masyarakat, maka semakin kompleks sistem lapisan masyarakat. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan stratifikasi sosial? 2. Apa faktor yang menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial? 3. Apa saja kriteria yang digunakan untuk menggolongkan orang dalam stratifikasi sosial? 4. Apa saja unsur-unsur stratifikasi sosial? 5. Bagaimana sifat-sifat stratifikasi sosial? 6. Bagaimana bentuk-bentuk pelapisan sosial dalam masyarakat? 7. Apa fungsi dari stratifikasi sosial? 8. Bagaimana dampak stratifikasi sosial padakehidupan masyarakat? 9. Apa pengaruh diferensiasi dan stratifikasi sosial terhadap masyarakat? 2 BAB II STRAFIKASI SOSIAL A. Penjelasan Mengenai Stratifikasi Sosial Stratifikasi sosial adalah pengelompokan anggota masyarakat kedalam lapisanlapisan sosial secara bertingkat. Atau definisi strafikasi sosial yaitu merupakan suatu pengelompokan anggota masyarakat berdasarkan statusnya yang dimilikinya. Stratifikasi sosial atau disebut juga dengan pelapisan sosial telah dikenal saat manusia menjalankan kehidupan. Terbentuknya stratifikasi sosial yaitu dari hasil kebiasaan manusia seperti berkomunikasi, berhubungan atau bersosialisasi satu sama lain secara teratur maupun tersusun, baik itu secara individual mapun berkelompok. B. Terjadinya Stratifikasi Sosial 1. Terjadi secara otomatis atau dengan sendirinya Dapat terjadi karena faktor yang sudah ada sejak seseorang lahir, atau proses ini bisa terjadi karena pertumbuhan masyarakat. Seseorang yang menempati lapisan tertentu bukan atas kesengajaan yang dibuat oleh masyarakat atau diriya sendiri akan tetapi terjadi secara otomatis, seperti misalnya keturunan. 2. Terjadi secara sengaja Dapat terjadi dengan sengaja dengan maksud untuk tujuan atau kepentingan bersama. Sistem ini ditentukan dengan adanya wewenang dan juga kekuasaan yang diberikan oleh seseorang atau organisasi. Misalnya seperti diberikan oleh partai politik, perusahaan tempat bekerja, pemerintah dan lain-lain. 3 * Faktor-Faktor yang menentukan adanya stratifikasi sosial : 1. Pemilikan atas kekayaan yang bernilai ekonomis dalam berbagai bentuk dan ukuran : artinya strata dalam kehidupan masyarakat dapat dilihat dari nilai kekayaan seseorang dalam masyarakat 2. Status atas dasar fungsi dalam pekerjaan, misalnya sebagai Dokter, Dosen, Buruh atau pekerja teknis dan sebagainya; semua ini sangat menentukan status seseorang dalam masyarakat. 3. Kesalahan seseorang dalam beragama; jika seseorang sungguh-sungguh penuh dengan ketulusan dalam menjalankan agamanya, maka status seseorang tadi akan dipandang lebih tinggi oleh masyarakat 4. Status atas dasar keturunan, artinya keturunan dari orang yang dianggap terhormat (ningrat) merupakan ciri seseorang yang memiliki status tinggi dalam masyarakat. 5. Latar belakang rasial dan lamanya seseorang atau sekelompok orang tinggal pada suatu tempat. Pada umumnya seseorang sebagai pendirian suatu kampung atau perguruan tertentu, biasanya dianggap masyarakat sebagai orang yang berstatus tinggi terhormat dan disegani 6. Status atas dasar jenis kelamin dan umur seseorang. Pada umunya seseorang yang lebih tua umurnya lebih dihormati dan dipandang tinggi statusnya dalam masyarakat . begitu juga jenis kelamin; laki-laki pada umumnya dianggap lebih tinggi statusnya dalam keluarga dan dalam masyarakat Dari beberapa ciri tersebut kemudian berproses ke dalam berbagai kondisi sosial masyarakat, misalnya perbedaan ciri biologis, etnis, ataupun ras, jika diantaranya terdapat kelompok yang mampu menguasai yang lainnya, maka terjadilah pembedaan status yang menunjuk pada eksistensi strarifikasi sosial. Bisa juga tumbuhnya stratifikasi bermula dari kondisi kelangkaan alokasi hak dan kesempatan, atau perbedaan posisi, kekuasaan dalam waktu yang sama; kesemuanya itu dapat mengakibatkan terbentuknya stratifikasi sosial. 4 Sementara itu Robin Williams J.R. (1960) menyebutkan pokok-pokok pedoman tentang proses terjadinya stratifikasi dalam masyarakat, yaitu sebagai berikut : 1. Sistem stratifikasi sosial mungkin berpokok pada sistem pertentangan dalam masyarakat. Sistem demikian hanya mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat-masyarakat tertentu yang menjadi obyek penyelidikan 2. Sistem stratifikasi sosial dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur sebagai berikut: a. hak-hak istimewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan, wewenang dan sebagainya b. sistem pertentangan yang diciptakan warga-warga masyarakat. c. Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapatkan berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan. d. Lambang-lambang status, seperti misalnya tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan sebagainya e. Mudah atau sukarnya bertukar status f. Solidaritas di antara individu-individu atau kelompok-kelompok sosial yang menduduki status yang sama dalam sistem sosial masyarakat > pola-pola interaksi (struktur cliqe, keanggotaan organsasi) > kesamaan atau perbedaan sistem kepercayaan, sikap dan nilai > kesadaran akan status masing-masing > aktivitas sebagai organ kolektif C. Sistem stratifikasi sosial 1. Stratifikasi sosial tertutup/pelapisan sosial tertutup Yang dimaksud dengan stratifikasi tertutup yaitu stratifikasi yang dimana pada setiap anggota masyarakat tidak bisa pindah ke tingkat sosial yang lebih tinggi ataupun ke tingkat sosial yang lebih rendah. Seperti contohnya pada sistem kasta pada suatu negara atau pada suatu daerah yang dimana terdapat golongan darah biru dan golongan masyarakat biasa. Dalam sistem ini status para anggota masyarakat sudah bersifat permanen dalam tingkatan sosial, di samping hubungannya dengan anggota masyarakat yang lain dibatasi oleh status yang dimilikinya. Sistem stratifikasi tertutup ini sering disebut sebagai sistem yang kaku dan ekstrim, oleh karena seorang yang dilahirkan sebagai penyimpang adat, ia tidak dapat ingkar dan meninggalkannya kemampuan pribadi tidak di perhitungkan dalam menentukan tinggi rendahnya status. 5 Dengan demikian dapat diketahui beberapa ciri dari sistem stratifikasi tertutup, yaitu sebagai berikut: 1. Status ditentukan atas dasar keturunan 2. Status yang diperoleh atas keturunan itu tidak dapat diubah dan berlaku seumur hidup; kecuali karena pelanggaran adat tertentu sehingga seseorang pewaris status tadi dikeluarkan dari golongan adatnya 3. Hubungan antar sesamanya ditentukan atas dasar kesamaan status dengan mengikuti pola perilaku dan tata krama adat yang berlaku 4. Harga diri merupakan pandangan hidup 2. Stratifikasi sosial terbuka/pelapisan sosial terbuka Yang dimaksud dengan stratifikasi sosial terbuka yaitu suatu sistem stratifikasi yang dimana pada setiap anggota masyarakat bisa berpindah-pindah dari satu tingkatan yang satu ke tingkatan lainnya. Seperti contohnya pada tingkatan dunia pendidikan, jabatan pekerjaan, kekuasaan dan lain-lain. Seseorang yang tadinya biasa-biasa saja dapat mengubah nasib dan tingkatan sosialnya menjadi lebih baik atau lebih tinggi lagi, disebabkan seseorang tersebut berusaha keras untuk dapat mengubah nasibnya lebih baik lagi dengan cara sekolah yang tinggi dan memiliki banyak kemampuan sehingga dia mendapatkan kedudukan yang baik dalam pekerjaannya serta menerima upah yang tinggi. D. Kelas Sosial Kelas sosial menurut pandangan Karl Marx adalah statum atau suatu lapisan masyarakat, di mana orang mempunyai kedudukan dan peranan yang sama. Pandangan mereka kemudian mendapatkan dukungan dari Max Weber, yang mengatakan bahwa sebuah kelas terdiri atas orang-orang yang life chances nya sama, ialah kepentingan ekonomis dalam milik barang-barang dan kesempatan mendapatkan penghasilan, menurut syarat-syarat pasaran barang dan tenaga buruh. Dasar terbentuknya kelas itu sendiri menurut Joseph Schumpeter adalah karena kelas diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluankeperluan yang nyata. Ia mengatakan bahwa makna kelas-kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti dengan benar apabila diketahui riwayat terjadinya.Faktor yang utama dalam penentuan kelas sebagaimana dimaksud di atas, adalah jenis aktivitas ekonomis, pendapatan, tingkat pendidikan, tipe rumah tinggi, jenis kegiatan rekreasi jabatan dalam berbagai organisasi dan sebagainya. 6 Masing-masing kelas tersebut mempunyai nilai dan pengakuan yang berbeda menurut pandangan masyarakat, tergantung pada kepentingan pada saat tertentu. Dalam kelompok kelas itupun terdapat perbedaan yang sekaligus menunjukkan tinggi rendahnya status seseorang. Dalam istilah Sosiologi kelas tidak selalu mempunyai pengertian dan dasar yang sama; ada yang didasarkan pada perbedaan pemilikan faktor ekonomi, ada pula yang didasarkan pada nilai kehormatan kemasyarakatan. E. Unsur-unsur Stratifikasi sosial Dalam stratifikasi sosial terdapat dua unsur pokok, yaitu status (kedudukan) dan peranan. Status dan peranan mempunyai hubungan timbal balik yang merupakan unsur penentu bagi penempatan seseorang dalam strata tertentu dalam masyarakat. 1. Status sosial Menurut Mayor Polak (1979), status dimaksudkan sebagai kedudukan sosial seorang oknum dalam kelompok serta dalam masyarakat. Status mempunyai dua aspek, pertama; aspeknya yang agak stabil, dan kedua aspeknya yang lebih dinamis. Polak mengatakan bahwa status mempunyai aspek struktural dan aspek fungsional. Pada aspek yang pertama sifatnya hirarkis, artinya mengandung perbandingan tinggi atau rendahnya secara relatif terhadap status-status lain. Sedangkan aspek yang kedua dimaksudkan sebagai peranan sosial (social role) yang berkaitan dengan status tertentu, yang dimiliki oleh seseorang. Soerjono Soekanto memebedakan status dengan status sosial; status diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial,sehbungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut atau tempat suatu kelompok berhubungan dengan kelompok-kelompok lainnya di dalam kelompok yang lebih besar lagi. Sedangkan status sosial diartikan sebagai tempat seseorang secara umu dalam masyarakatnya sehubungan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya. Dalam kehidupan kelompok masyarakat seseorang senantiasa memiliki status sosial, yaitu merupakan kedudukan individu dalam pergaulan hidup manusia dalam masyarakat. Status sosial seseorang merupakan aspek statis yang berupa derajat atau tingkat kedudukan seseorang dalam masyarakat, dan mempunyai ciri serta perbedaan yang jelas dengan status-status sosial yang lain. 7 Status sosial dapat dibedakan atas dua macam menurut proses perkembangannya, yaitu sebagai berikut:    Ascribed status yaitu status sosial yang diperoleh melalui kelahiran/ keturunan, bukan melalui serangkaian usaha. Achieved status yaitu suatu kedudukan dalam masyarakat yang dapat diperolah dengan usaha-usaha nyata dan disengaja. Usaha ini akan mendapatkan kedudukan yang sifatnya adalah terbuka bagi semua manusai dalam masyarakat, yang dianggap sesuai kemampuan. Assigned status yaitu kedudukan seseorang tentang apa yang diberikan. Artinya, suatu kelompok atau golongan masyarakat akan memberikan kedudukan yang Iebih tinggi secara sukarela kepada seseorang yang berjasa atau memperjuangkan sesuatu demi kepentingan masyarakat yang ada di lingkuangnya tersebut. 2. Peranan sosial Peranan sosial adalah suatu perbuatan seseorang dengan cara tertentu dalam usaha menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan status yang dimilikinya. Seseorang dapat dikatakan berperanan jika ia telah melaksanakan hak dan kewajibannya seseuai dengan status sosialnya dalam masyarakat. Jika seseorang mempunyai status tertentu dalm kehidupan masyarakat, maka selanjutnya ada kecenderungan akan timbul suatu harapan-harapan baru. Dari harapan-harapan ini seseorang kemudian akan bersikap dan bertindak atau berusaha untuk mencapainya dengan cara dan kemampuan yang dimilikinya. Ciri pokok yang berhubungan dengan istilah peranan sosial adalah terletak pada adanya hubungan-hubungan sosial seseorang dalam masyarakat yang menyangkut dinamika dari cara-cara bertindak dengan berbagai norma yang berlaku dalam masyarakat, sebagaimana pengakuan terhadap status sosialnya. Menurut Levinson, bahwa peranan itu mencakup tiga hal, yaitu: Pertama; peranan meliputi norma-norma yang dihubungkannya dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkain peraturanperaturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarkatan. Kedua; Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dala masyarakat sebagai oraganisasi. Ketiga: Peranan juga dapat dikatakan sebagai perikelakuan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat. 8 Dalam pembahasan tentang aneka macam peranan yang melekat pada individuindividu dalam masyarakat, Soerjono mengutip pendapat Marion J. Levy Jr, bahwa ada beberapa pertimbangan sehubungan dengan fungsinya yaitu sebagai berikut: a. Bahwa peranan-peranan tertentu harus dilaksanakan apabila struktur masyarakat hendak dipertahankan kelangsungannya. b. Peranan tersebut seyogianya dilekatkan pada individu yang oleh masyarakat dianggap mampu untuk melaksanakannya. c. Dalam masyarakat kadang-kadang dijumpai individu-individu yang tak mampu melaksanakan perannanya sebagaimana diharapkan oleh masyarakat, oleh karena mungkin pelaksanaannya memrlukan pengorbanan yang terlalu banyak dari kepentingan-kepentingan pribadinya. d. Apabila semua orang sanggup dan mampu melaksanakan perannya, belum tentu masyarakat akan dapat memberikan peluang-peluang yang seimbang. 9 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial merupakan pembedaan masyarakat atau penduduk berdasarkan kelas-kelas yang telah ditentukan. Stratifikasi sosial terbagi menjadi dua kelompok, yaitu stratifikasi tertutup dan terbuka. Stratifikasi tertutup yaitu seseorang ketika sudah tergolong menjadi kelas tinggi, dia tidak akan menjadi kelas bawah dan sebaliknya. Stratifikasi terbuka yaitu seseorang yang berada dikelas bawah bisa naik ke kelas atas dengan usahanya yang bersungguh-sungguh. Dalam dimensi stratifikasi sosial ada 4 yang dapat tergolongkan, yaitu kekayaan, kekuasaan, kehormatan, ilmu pengetahuan. Semuanya akan berdampak terwujudnya hukum rimba, dimana yang tergolong menjadi kelas atas sepenuhnya akan memegang peranan kelas bawah. Di dalam stratifikasi sosial ada tiga pendekatan yang digunakan, yaitu: metode obyektif yang mengarah kepada secara fisiknya, metode subyektif yang mengarah pada kedudukan dalam masyarakat sedangkan metode reputasi mengarah kepada penyesuaian seseorang dalam bermasyarakat. B. Saran Kami mahasiswa/i selaku penyusun makalah, masih dalam proses pembelajaran. Jadi, kami masih membutuhkan bimbingan dari pihak yang terkait. Supaya kedepannya kami bisa terus berupaya untuk lebih belajar lagi dan melakukan perubahan-perubahan menuju sesuatu yang lebih baik. 10 DAFTAR PUSTAKA 1. Hassan Shadily, 1983; Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia, Penerbt: PT. Bina Aksara, Jakarta 2. Mayor Polak, YBAF, 1979; Sosiologi Suatu Buku Pengantar Ringkas, Penerbit: PT. Ikhtiar Baru, Jakarta. 3. Soerjono Soekanto, 1982; Sosiologi suatu pengantar, Penerbit: PT, Rajawali, Jakarta 4. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, 1964; Setangkai Bunga Sosiologi, Penerbit: Fakultas Ekonomi U.I, Jakarta 5. William JR, Robin, 1967; American Society, A Sociological Interpretation Second Edition Revised, New York: Alfred A Knopf 11

Judul: Makalah Sosiologi

Oleh: Uyi Yi


Ikuti kami