Makalah Maternitas

Oleh Madin N A D A L I N A Fathin

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Maternitas

1

PENGERTIAN BAYI BARU LAHIR NORMAL, ADAPTASI FISIOLOGIS, ADAPTASI
LINGKUNGAN
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Maternitas
Yang dibina oleh Ibu Triana Setijaningsih, S.Pd,M.Kes
Oleh
1. Hilda Nuzulurrahma
2. Fuad Nawawi
3. Safety Sheden Sahara
4. Elok Fitria Sungkono
5. Caesar Renda Destyana
6. Madin Nadalina Fathin

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
KEPERAWATAN
D-III KEPERAWATAN, BLITAR
Agustus 2018

2

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
limpahan Rahmat dan Ridha-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Keperawatan Maternitas
yang dibina oleh Ibu Triana Setijaningsih tahun ajaran 2018/2019 semester III, di Politeknik
Kesehatan Kemenkes Malang Prodi DIII Keperawatan Blitar.
Demi kesempurnaan makalah ini, kami memohon kritik dan saran dari pembaca untuk
memberikan tanggapan serta masukan agar makalah yang kami buat berikutnya lebih
sempurna.
Harapan kami, dengan dibuatnya makalah ini, dapat memberikan tambahan wawasan
mengenai pembuatan makalah serta tambahan wawasan mengenai Pengertian Bayi Baru
Lahir Normal, Adaptasi Fisiologis, dan Adaptasi Lingkungan.

Blitar, September 2018

Penulis

3

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

1

DAFTAR ISI

3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

2

1.3 Tujuan

2

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Bayi Baru Lahir Normal

2.2

Pengertian Adaptasi Fisiologis dan Adaptasi Lingkungan

3

BAB III PENUTUP
1.1

Kesimpulan

9

1.2

Saran

10

DAFTAR RUJUKAN

11

BAB I

4

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bayi baru lahir adalah bayi yang berusia 0 hari hingga 28 hari. Di usia ini, kesehatan
bayi baru lahir (neonatus) sangat rentan terhadap berbagai macam gangguan atau masalah,
sehingga perlu mendapatkan perhatian dan penanganan serius. Makanya, tak perlu heran,
sesaat setelah anak lahir akan langsung dilakukan beberapa pemeriksaan kesehatan untuk
mengetahui kondisinya. Contoh dari bayi lahir secara normal dan sehat adalah dengan dilihat
dari keras tangisan, bernapas secaras pontan.
Masa bayi baru lahir (neonatus) ini, dikatakan sebagai masa-masa berbahaya dalam
hidupnya, karena anak harus beradaptasi pada lingkungan yang baru, yang jauh berbeda dari
lingkungan sebelumnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi Bayi Baru Lahir Normal
2. Apa pengertian Adaptasi Fisiologis dan Adaptasi Lingkungan
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi Bayi Baru Lahir Normal
2. pengertian Adaptasi Fisiologis dan Adaptasi Lingkungan
1.4 MANFAAT
1. Untuk lebih mengetahui secara mendalam tentang Bayi Baru Lahir Normal
2. Mengambangkan dan menambah wawasan ilmu tentang pengertian Adaptasi
Fisiologis dan Adaptasi Lingkungan

BAB II

5

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir Normal
Masa neonatal adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (24 hari) sesudah
kelahiran bayi adalah anak yang belum lama lahir, bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari
kehamilan 37 minggu – 42 minggu dan berat badan lahir 2.500 – 4000 gram. Bayi adalah
individu baru yang lahir didunia, dalam keadaannya yang terbatas, maka individu baru baru
ini sangatlah membutuhkan perawatan dari orang lain.
2.2 Pengertian Adaptasi Fisiologis dan Adaptasi Lingkungan
Adaptasi Fisiologis Bayi Baru Lahir
1. Perubahan Sistem Pernafasan
Perkembangan paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx, yang
bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus.
Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun sampai jumlah
bronkiolus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan
adanya bukti gerakan napas sepanjang trimester kedua dan ketiga (Varney’s, halaman 551).
Ketidak matangan paru-paru terutama akan mengurangi peluang kelangsungan hidup bayi
baru lahir sebelum usia kehamilan 24 minggu, yang disebabkan oleh keterbatasan permukaan
alveolus, ketidakmatangan system kapiler paru-paru dan tidak mencukupinya jumlah
surfaktan.
Dua factor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi.
a. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernapasan di otak.
b. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis. Interaksi
antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan
yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi
system-sistem harus berfungsi secara normal. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas

Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
Mengeluarkan cairan dalam paru-paru.

6

Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali Agar alveolus dapat
berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup dan aliran darah ke paru-paru.
Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan jumlahnya akan meningkat
sampai paru-paru matang sekitar 30-34 minggu kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan
permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps
pada akhir pernapasan Tanpa surfaktan, alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap
pernapasan, yang menyebabkan sulit bernapas. Peningkatan kebutuhan energi ini
memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Peningkatan kebutuhan energi
ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini
menyebabkan stress pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu. Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan, mempunyai cairan di dalam paru-parunya. Pada saat bayi melalui jalan
lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang
bayi yang dilahirkan melalui seksio sesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga
dada ini dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan
beberapa kali tarikan napas pertama, udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus bayi baru
lahir. Dengan sisa cairan di dalam paru-paru dikeluarkan dari paru dan diserap oleh pembuluh
limfe dan darah. Semua alveolus paru-paru akan berkembang terisi udara sesuai dengan
perjalanan waktu.
Fungsi system pernapasan dalam kaitanya dengan fungsi kardiovaskuler Oksigenasi yang
memadai merupakan factor yang sangat penting dalam mempertahankan kecukupan
pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami
vasokonstriksi. Pengerutan pembuluh ini berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna
menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigenasi
jaringan, yang akan memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan
menghilangkan cairan paru-paru. Peningkatan aliran darah ke paru-paru akan mendorong
terjadinya peningkatan sirkulasi limfe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan
merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
2. Perubahan Sistem Sirkulasi
Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk
membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim, harus terjadi dua
perubahan besar:

7

a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung.
b. Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh system pembuluh
tubuh. Ingat hokum yang menyatakan bahwa darah akan mengalir pada daerah-daerah yang
mempunyai resistensi yang kecil. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung berpengaruh
pada aliran darah. Oksigen menyebabkan system pembuluh mengubah tekanan dengan cara
mengurangi atau meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah. Hal ini
terutama penting kalau kita ingt bahwa sebagian besar kematian dini bayi baru lahir berkaitan
dengan oksigen (asfiksia). Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam system pembuluh
darah :

1) Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium
kanan menurun. Tekanan atrium kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium
kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu
sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke
paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2) Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan
tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan
terbukanya system pembuluh darah paru-paru (menurunkan resistensi pembuluh darah paruparu). Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan
tekanan pada atrium kanan. Dengan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kiri,
foramen ovale secara fungsional akan menutup. Vena umbilicus, duktus venosus dan arteri
hipogastrika dari tali pusat menutup secara funsional dalam beberapa menit setelah lahir dan
setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung dalam 2-3 bulan.
3. Perubahan Sistem Termoregulasi
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami
stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan
lingkungan rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan ruang
bersalin yang jauh lebih dingin. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat
kulit, sehingga mendinginkan darah bayi. Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu
tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan
hasil penggunaan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh, dan mereka mampu meningkatkan
panas tubuh sampai 100 %. Untuk membakar lemak coklat, seorang bayi harus menggunakan
glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat
tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir dan cadangan lemak coklat ini akan habis

8

dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan, semakin
banyak persediaan lemak coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai
mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh karena itu, upaya pencegahan
kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan
kehilangan panas pada bayi baru lahir. Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun
dibawah 36,0º C. Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 – 37,0 ºC.
Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermia yang disebabkan oleh:
a. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna.
b. Permukaan tubuh bayi relative lebih luas.
c. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.
d. Bayi belum mampu mengatur possisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya
mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi
yaitu 6 – 12 jam pertama setelah lahir. Misal: bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang
selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan disekitar bayi cukup hangat
namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.
4. Perubahan Sistem Metabolisme
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan
penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan
kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu
cepat (1 sampai 2 jam). Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk menyusu ASI secepat
mungkin setelah lahir).
b. Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis).
c. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis). Bayi baru
lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa
dari glikogen (glikogenolisis). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen
yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama
dalam hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang bayi yang
mengalami hipotermia pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan
persediaan glikogen dalam jam pertama kelahiran. Inilah sebabnya mengapa sangat penting
menjaga semua bayi dalam keadaan hangat. Perhatikan bahwa keseimbangan glukosa tidak
sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam pertama pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua
persediaan digunakan pada jam pertama maka otak bayi dalam keadaan beresiko. Bayi baru

9

lahir kurang bulan, lewat bulan, hambatan pertumbuhan dalam rahim dan distress janin
merupakan resiko utama, karena simpanan energi berkurang atau digunakan sebelum lahir.
Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khas meliputi :
kejang-kejang halus
Sianosis
Apnu
Tangis lemah
Tetargis
Lunglai dan menolak makanan.
Bidan harus selalu ingat bahwa hipoglikemia dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka
panjang hipoglikemia ialah kerusakan yang meluas di seluruh sel-sel otak.

5. Perubahan Sistem Gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Refleks gumoh dan
refleks batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi
baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas.
Hubungan antara esophagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang
mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus. Kapasitas lambung sendiri
sangat terbatas, kurang dari 30 untuk seorang bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung
ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan
makan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memeberi ASI on demand. Usus bayi
masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya
kolon. Pada bayi baru lahir kurang efisien dalam mempertahankan air disbanding orang
dewasa, sehingga menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus.
6. Perubahan Sistem Kekebalan Tubuh
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan
terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan
kekebalan alami maupun yang didapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan
tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami
meliputi:
a. Perlindungan oleh kulit membrane mukosa.
b. Fungsi saringan saluran napas.
c. Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus.

10

d. Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu bayi baru
lahir membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada bayi baru lahir sel-sel darah ini masih
belum matang, artinya bayi baru lahir tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi
infeksi secara efisien. Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. Bayi baru lahir yang
lahir dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibody
keseluruhan terhadap antigen asing masih belum bisa dilakukan sampai awal kehidupan anak.
Salah satu tuges utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan system kekebalan
tubuh. Karena adanya defisiensi kekebalan alami dan didapat ini, bayi baru lahir sangat
rentan terhadap infeksi. Reaksi bayi baru lahir terhadap infeksi masih lemah dan tidak
memadai. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan
yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan detekdi dini serta pengobatan
dini infeksi menjadi sangat penting.
Perilaku Bayi Baru Lahir :
1. Menangis
Begitu lahir, bayi harus menangis. Ini merupakan reaksi pertama yang bisa dilakukan.
Dengan menangis, otomatis paru-parunya berfungsi. Paru-paru akan membuka dan mengisap
oksigen. Selain itu, menangis juga sebagai reaksi dari perubahan yang dialami si bayi. Ketika
di kandungan, ia merasakan kehangatan dan kenyamanan; ia merasa terlindungi. Suasana di
rahim pun gelap. Sementara begitu lahir, ia merasakan udara luar yang dingin dan ada cahaya
terang. Perubahan ini disikapinya dengan menangis.
Itu sebab, jika setelah lahir bayi tak menangis, berarti tak normal. Biasanya, ia mengalami
asfiksia, yaitu kurang masukan oksigen ke dalam tubuhnya.
Bahayanya, otak pun akan kekurangan oksigen hingga dapat merusak otak. Kejadian ini
biasanya berkaitan dengan keadaan sejak di kandungan. Maka itu, bila ada sesuatu dengan
kandungan ibu yang bermasalah, harus segera mendapat penanganan yang adekuat dan benar
dari ahlinya. Ini untuk menghindari, salah satunya kejadian bayi tak menangis.
Ketika bayi menangis, anggota geraknya pun ikut aktif. Tangisan bayi yang sehat bila
suaranya keras, bukan merintih atau melengking. Jika suara tangisannya
merintih/melengking, pertanda ada sesuatu pada si bayi atau ia sakit.
Menangis pada bayi juga merupakan ungkapan ekspresinya. Bayi akan menangis lantaran
minta perhatian, lapar, basah popoknya karena BAB/BAK, atau lainnya. Jadi, bayi menangis
tak selalu berarti lapar.

2. Kaget

11

Bayi akan bereaksi seperti kaget. Ini merupakan refleks naluriah. Sejauh refleks ini tak
berlebihan terjadinya, tak masalah. Bila ia kaget, biasanya tubuhnya bergerak semua.
Gerakannya itu harus simetris semua, tak hanya sebagian tubuhnya saja yang bergerak. Kalau
tidak, harus dicurigai ada sesuatu di otaknya. Segera periksakan ke dokter.
Gerak refleks ini bisa karena ia melihat cahaya yang menyilaukan atau lantaran ia sudah bisa
mendengar suara/bunyi yang mengagetkannya. Itu sebab, jika bayi sedang tidur, biasanya
orang di sekitarnya diminta untuk tak terlalu berisik.
Refleks ini masih boleh ada sampai usia 5 bulan. Jika setelah itu masih tetap ada, berarti tak
normal, ada sesuatu pada diri si bayi hingga mesti dicari penyebabnya. Kemungkinan ada
kerusakan di otaknya.

3. Bersin
Jika sesekali atau tak berlebihan, wajar saja. Sebenarnya, bersin pertanda ia ingin
mengeluarkan sesuatu/kotoran dari hidungnya. Lagi pula hidung bayi itu sensitif; dengan
bersin, lubang hidungnya dibersihkan. Jadi, bersin merupakan reaksi bayi untuk pertahanan
tubuhnya. Selain itu, bersin bisa juga karena ia terekspos udara dingin.
Jadi, bersin tak selalu berarti bayi akan flu. Tapi jika keseringan, misal, tiap jam bersin,
memang bisa jadi pertanda si bayi sakit. Mungkin ketularan pilek dari ibunya.
Karena itu, untuk menghindarinya dari sakit, jangan sering-sering menciumi si bayi. Bila di
rumah ada orang dewasa yang sedang sakit, sebaiknya tak mencium bayi dan harus
menggunakan masker.
4. Mengisap
Refleks ini merupakan refleks paling primitif untuk mempertahankan hidup. Lapar atau tidak,
bila kita taruh jari di mulutnya, ia akan mencari dan membuka mulutnya dan jari tersebut
akan diisapnya. Kemampuan inilah yang membuatnya bisa menyusu dan mendapatkan
makanan.
Bila usia kehamilan ibu 34 minggu ke atas dan bayi dilahirkan di usia itu, sudah ada refleks
mengisapnya. Jika refleks ini tak ada, berarti si bayi sakit, apakah infeksi atau sakit berat
lainnya, semisal ada kerusakan otak hingga pusat yang mengatur refleksnya tak berfungsi.
Refleks mengisap akan terus ada sampai dewasa. Maka itu, adakalanya anak usia setahun pun
masih suka mengisap ibu jarinya.

5. Tersedak
Normalnya di tenggorokan ada jalan napas dan jalan makanan atau kerongkongan. Jika bayi
sedang minum/makan, jalan napasnya akan menutup. Pada bayi normal, lahir cukup bulan,

12

dan sehat, ia punya refleks otomatis seperti itu. Jadi, bila kebanyakan minum, ia akan
berhenti dulu, tak akan gelagapan tersedak sampai masuk ke paru-paru. Bayi bisa mengatur
seberapa banyak harus mengisapnya. Jadi, jarang bayi tersedak.
Jika hanya sekali-kali tersedaknya tak apa-apa, asalkan jangan sampai masuk ke jalan napas
dan menyebabkannya biru. Bila sampai tersedak pun ia punya refleks untuk membatukkan.
Kecuali jika bayi dicekoki, kebanyakan bisa tersedak.
Pada bayi yang menyusu ASI, tak mungkin tersedak karena bayi mengisap dan memompa
ASI sesuai isapannya. Tersedak justru lebih sering terjadi pada bayi yang minum susu botol.
Terutama karena posisi dalam memberikan susu botol yang mungkin tak benar/tak hati-hati.
Selain itu, susu akan menetes terus dari dotnya hingga bayi sulit mengatur isapannya.
Akibatnya, jika kebanyakan netesnya, ia jadi gelagapan. Maka itu, dalam menyusui bayi,
mata ibu tak boleh ke mana-mana, harus memperhatikan dengan baik apakah si bayi
mengisapnya dengan enak atau tidak. Bila si bayi tersedak, hentikan dulu menyusunya, lalu
angkat dan sendawakan.
Ada kelainan pada bayi yang membuatnya sering tersedak, misal, refleks isapnya tak ada
karena ia sakit berat dan badannya lemah. Sebab, refleks tersebut akan timbul jika si bayi
sehat. Karena refleksnya itu tak ada lalu dipaksa, hingga membuatnya tersedak. Seharusnya
bayi-bayi seperti ini dipasangkan selang dari mulut ke lambungnya.
Bayi juga bisa tersedak karena kelainan anatomis, misal, fistula esophagus (ada lubang antara
jalan napas dan jalan makan). Jadi, makanan/minuman yang masuk, sebagian masuk ke paruparu hingga membuatnya tersedak. Kelainan ini harus diperbaiki dengan operasi.

6. Mengeluarkan air liur
Air liur diproduksi terus dan harus ditelan. Jika air liur keluar dari mulutnya hanya sekalikali/tak berlebihan, itu normal. Nanti juga lama-lama hilang sendiri sejalan pertambahan
usianya. Tapi, jika air liur sudah terlalu banyak dan berlebihan, berarti ada penyakit. Misal,
ada atresia esophagus (buntunya saluran kerongkongan), hingga bayi tak bisa menelan dan
produksi air liurnya berlebihan. Mengatasinya, dengan operasi. Biasanya kelainan ini harus
dicurigai ada pada bayi bila ibunya dalam kehamilan mengalami polihidramnion atau air
ketuban banyak atau yang orang bilang dengan hamil kembar air.

7. Buang air besar dan buang air kecil
Sebenarnya, bayi di kandungan sudah makan dan ususnya sudah bisa membentuk yang
namanya kotoran. Itu sebab, umumnya bayi baru lahir dalam waktu 24 jam sudah BAB dan
BAK. Jika dalam waktu 48 jam tidak BAB/BAK, berarti ada yang tak beres.
Kalau tidak BAB, mungkin ada sumbatan di jalan ususnya hingga kotoran tak bisa keluar.
Bisa karena memang jalannya buntu atau karena kotoran yang sudah terbentuk di kandungan

13

begitu keras (mekonium plak). Untuk mengeluarkannya, kotoran ini harus distimulasi dan ini
dilakukan di RS.
Pada tiga hari pertama, kotoran bayi masih berwarna hitam kehijauan. Tapi lama-lama
warnanya berubah jadi kuning. Pada bayi yang mendapatkan ASI, frekuensi BAB-nya lebih
sering. Dalam sehari bisa sampai 10 kali, tapi hanya sedikit-sedikit. Jadi, kita tak perlu
bingung dan menganggapnya diare. Yang penting bukan frekuensinya, tapi konsistensinya.
Jika konsistensinya berupa cairan dan jumlahnya banyak, berarti diare.
Kalau tidak BAK, biasanya karena bayi sakit berat (syok) hingga aliran darah ke ginjal
kurang. Dalam keadaan syok, aliran darahnya diutamakan ke otak dan jantung hingga aliran
darah yang ke ginjal kurang. Bayi akan lebih sering BAK jika ia memang banyak minum.
Atau, bisa juga karena udara dingin membuatnya lebih sering BAK. Bisa 10-12 kali ganti
popok dalam sehari. Jika sudah BAK, otomatis cairan tubuhnya berkurang dan bayi pun akan
minta minum kembali. Jadi berikan saja, tak perlu pakai jam-jaman.

8. Tangan dan kaki lebih sering menekuk
Ketika ditaruh dalam posisi telentang, biasanya tubuhnya tak lurus sama sekali, tapi
menekuk di siku tangan dan lututnya. Tubuhnya pun lebih banyak bergerak. Posisi anggota
gerak bayi normal ini, namanya fleksi. Mungkin posisi secara fisiologis ini seperti kala di
kandungan, bayi dalam keadaan meringkuk.
Jadi, posisinya ini tak perlu dikhawatirkan, apalagi sampai membedongnya kuat-kuat
dengan tujuan agar tubuhnya jadi lurus. Biarkan saja. Sebetulnya, bedong digunakan hanya
agar bayi tak kedinginan.
Namun bila tubuhnya menekuk berlebihan, dalam arti menekuk sekali dan tampak kaku atau
tak relaks, namanya spastis. Ini berarti ada saraf yang tak beres. Umumnya, setelah usia 5-6
bulan posisinya mulai tidur lurus. Tapi jika dari awal sudah lurus dan kaku, namanya
ekstensi. Kemungkinan ada sesuatu di otaknya.
9. Melihat ke atas
Bayi baru lahir cuma bisa membedakan terang dan gelap, ada sinar atau tidak. Fungsi
penglihatannya belum sempurna. Jadi, jika bayi tampak seolah sering melihat ke atas,
sebenarnya bukanlah demikian. Itu hanya reaksi karena ada sinar yang membuatnya silau dan
matanya tampak bergerak-gerak. Mungkin karena ia melihat bayangan saja atau sesuatu
seperti bayangan yang bergerak. Usia 2 bulan penglihatannya masih kabur dan buram, ia tahu
hanya ada bayangan. Setelah 4 bulan, barulah penglihatannya lebih jelas.

10. Perut sering tampak bergerak

14

Pernapasan bayi masih dominan dengan menggunakan otot perut. Itu sebab, otot perutnya
akan bergerak. Setelah 6 bulan, pernapasannya berganti dengan otot dada. Maka itu, para ibu
jangan memakaikan gurita/bedong pada bayinya. Sebab, pemakaian gurita/bedong tak hanya
mengekang pergerakan dinding perut, tapi juga gerakan usus untuk mencerna makanan pun
akan terganggu. Bahkan, makanan yang masuk bisa keluar alias muntah lagi. Bila khawatir si
kecil kedinginan, sebaiknya jangan dibedong kuat-kuat, gunakan saja celana, popok dan kaos
singlet. Biarkan bayi bernapas lega.

11. Gumoh/muntah
Tak apa-apa bayi gumoh. Itu bagian dari refleksnya. Apalagi jarak antara kerongkongan
dan jalan nasofaring ini pendek, hingga mudah terjadi gumoh. Gumoh pertanda bayi
kebanyakan minum atau sudah kenyang. Lambung bayi itu kecil, jika makanan/minumannya
terlalu banyak akan membuatnya gumoh.
Bila gumoh terus-terusan, kita tak boleh berpikir terlalu jelek seperti halnya muntah.
Mungkin saja karena kita mencekoki si bayi susu terus. Apalagi kadang bila bayi menangis,
umumnya ibu akan menjejalkan mulut si bayi dengan susu. Padahal, mungkin saja si bayi tak
lapar, tapi pipis atau hanya ingin digendong. Tak apa-apa juga bila gumoh keluar lewat
hidung, selama bayi tak tampak biru. Jika sampai biru dan tersedak, artinya sudah masuk ke
jalan napas.
Kita harus bisa membedakan antara gumoh dan muntah. Gumoh keluar begitu saja dari
mulut dan sedikit. Sedangkan muntah, ada tekanan negatif dari perut mendorong diafragma.
Jika muntahnya hanya sekali, mungkin bisa dipikirkan kekenyangan. Tapi jika muntahnya
lebih dari 3 kali atau setiap minum muntah, mungkin ada obstruksi/sumbatan, baik di sekitar
lambung atau lebih ke bagian bawahnya. Jika demikian, harus dibawa ke dokter. Kalau
ternyata ada obstruksi, harus dilakukan operasi.

12. Tidur
Dalam sehari, bayi baru lahir bisa tidur sampai 18 jam. Bangunnya hanya untuk minum, lalu
tidur lagi. Secara perlahan, makin usia bertambah, waktu tidurnya akan berkurang atau makin
sedikit.
Bayi kalau perutnya kenyang, badan kering dan hangat, ia akan tidur. Kalau tidak, ia gelisah.
Ada juga bayi-bayi yang susah tidurnya, berarti termasuk bayi rewel atau ada sesuatu yang
dirasanya atau sakit. Lebih ekstremnya, jika bayi banyak tak tidurnya alias melotot terus, ia
akan sangat aktif, bertemperamen tinggi, seperti mengamuk, dan sebagainya. Biasanya bayi
seperti ini karena ada keracunan dari sang ibu, misal, ibunya pecandu narkoba. Harus
ditangani dokter untuk pengobatannya.

15

Saat ditidurkan, sebaiknya bayi tak ditaruh telentang tapi menyamping agar jika muntah tak
akan ditelannya. Bayi bisa memilih sendiri posisi tidurnya yang dirasakannya nyaman.

13. Menguap
Normal, jika bayi sesekali menguap, bisa berarti ia mengantuk. Tapi, jika sebentar-sebentar
menguap atau sering, bisa termasuk dalam salah satu sindrom keracunan obat-obatan, misal,
dari ibu yang pecandu narkotika. Harus ditangani dokter untuk pengobatannya.

14. Menggeliat
Menggeliat berarti menggerakkan otot-ototnya. Normal, kok, karena ia belum bisa tengkurap
atau membalikkan badannya, maka gerakannya hanya sebatas menggeliat.
Bayi memang harus banyak bergerak. Di kandungan saja, bayi banyak menendang-nendang.
Hanya, seberapa banyak/aktifnya bergerak, sangat individual sifatnya, entah bayi laki atau
perempuan. Justru kalau bayi diam saja, harus dicurigai, berarti ada sesuatu atau sakit.

15. Tersenyum
Orang tua dulu mengatakan, jika bayi tersenyum berarti sedang tersenyum dengan
saudaranya atau malaikat. Sebenarnya, senyumnya itu tak berarti apa-apa. Apalagi bayi
belum bisa melihat dengan jelas, masih berupa bayangan saja. Bayi tersenyum sekadar
reaksinya menggerakkan otot-otot wajahnya.

16

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan

3.2 Saran
Semoga dengan adanya makalah dari kelompok kami ini, mahasiswa semakin mudah
untuk memahami tentang anatomi dan fisiologi genetalia dalam, dan semoga ilmu nya
bermanfaat.

17

DAFTAR RUJUKAN
1. Blum NJ, Carey WB. Sleep Problem Among Infants And Young Children. Pediatr Rev
1996;3(17):87-92.
2. Keperawatan Maternitas Edisi 4.Jakarta: EGC

Judul: Makalah Maternitas

Oleh: Madin N A D A L I N A Fathin


Ikuti kami