Makalah Drama

Oleh Syahri Adha

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Drama

Makalah drama
D
I
S
U
S
U
N

OLEH
KELOMPOK 2
1 .SYAHRI ADHA
2.NAUFALDI LIKE RAZIKA
3.PRISMA TANTARA
4.NANDA ILHAM
5.KARTINI

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah
Dibuatnya makalah yang berisi tentang drama ini, karena untuk memenuhi tugas bahasa

indonesia. Selain itu mudah-mudahan isi dari makalah ini bermanfaat bagi kita yang
membaca dan mempelajarinya. Serta mudah-mudahan bisa menambah wawasan dan
pengetahuan tentang drama.

1.2. Tujuan
Untuk meningkatkan pembelajaran tentang drama, meningkatkan kemampuan kalian
dalam berbahasa indonesia, secara baik dan benar. Baik secara lisan maupun tertulis. Dan
supaya menambah keterampilan kalian dalam mengapresiasikan sastra.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak.
Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan. Arti pertama dari Dramaadalah kualitas
komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian,
kehebatan (axcting), dan ketegangan pada para pendengar.
Drama adalah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokohtokohnya. Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai
pengertian action. Meskipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama
berbeda dari bentuk kekusastraan lainnya. Novel, cerpen dan balada masing-masing
menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi,
dan merupakan karya sastra yang dicetak. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog; mungkin
ada semacam penjelasannya, tapi hanya berisi petunjuk pementasan untuk dijadikan pedoman
oleh sutradara. Oleh para ahli, dialog dan tokoh itu disebut hauptext atau teks utama;
petunjuk pementasannya disebut nebentext atau tek sampingan.

C. Unsur -unsur Drama

Unsur-unsur dalam drama meliputi :
1) Tema : gagasan/ide/dasar cerita.
2) Alur : tahapan cerita yang bersambungan. Meliputi Pemaparan, pertikaian, penggawatan,
klimaks, peleraian. Dilihat dari cara menyusun : alur maju/lurus, alur mundur, alur sorot
balik, alur gabungan.
3) Tokoh : Pemain/orang yang berperan dalam cerita.
Tokoh dilihat dari watak : protagonis, antagonis, dan tritagonis
Tokoh dilihat dari perkembangan watak : tokoh bulat dan tokoh datar.
Tokoh dilihat dari kedudukan dalam cerita : tokoh utama(sentral) dan tokoh bawahan
(sampingan).
4) Latar : bagian dari cerita yang menjelaskan waktu dan tempat kejadian ketikatokoh
mengalami peristiwa
Latar terbagi dalam :
- latar sosial : latar yang berupa, waktu, suasana, masa, bahasa.
- latar fisik : latar yang berupa benda-benda di sekitar tokoh misal, rumah, ruang tamu, dapur,
sawah, hutan, pakaian/ baju.
5) Amanat : pesan atau sisipan nasihat yang disampaikan pengarang melalui tokoh dan
konflik dalam suatu cerita.
Hal mendasar yang membedakan antara karya sastra puisi, prosa, dan drama adalah pada
bagian dialog. Dialog adalah komunikasi antar tokoh yang dapat dilihat (bila dalam naskah
drama) dan didengar langsung oleh penonton, apabila dalam bentuk drama pementasan.

F. Jenis-jenis Drama
Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
1. Drama Baru / Drama Modern

Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada
mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2. Drama Lama / Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian,
kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain
sebagainya.
Macam-Macam Drama Berdasarkan Isi Kandungan Cerita :
1. Drama Komedi
Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
2. Drama Tragedi
Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
3. Drama Tragedi Komedi
Drama tragedi-komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
4. Opera
Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian.
5. Lelucon / Dagelan
Lelucon adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa
penonton.
6. Operet / Operette
Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
7. Pantomim
Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat
tanpa pembicaraan.
8. Tablau
Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh
dan mimik wajah pelakunya.
9. Passie
Passie adalah drama yang mengandung unsur agama / relijius.
10. Wayang
Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.
MENARASIKAN PENGALAMAN DRAMA
Menarasikan
adalah
pengisahan
suatu
cerita
atau
kejadian;
(nomina).
Menarasikan adalah pengisahan suatu cerita atau kejadian; (nomina). 
Latar
adalah
tempat
waktu
dan
suasana
terjadinya
peristiwa. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adegan adalah pemunculan tokoh baru
atau pergantian susunan (layar) pada pertunjukan wayang; adegan sebagai bagian adegan
yang lebih besar; adegan yang diubah bentuknya dengan disaksikan langsung oleh
penonton.
D
R
A
M
A

Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis
karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara
adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran.
Orang
yang
memainkan
drama
disebut
aktor
atau
lakon. 
Drama juga merupakan cerita fiksi sebagai gambaran kehidupan yang dipentaskan di atas
panggung. Ide cerita bisa diambil dari peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, kejadian
menarik yang pernah kita alami. Apabila kita ingin menyusun pengalaman menarik dlm
bntuk drama, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun dalam bentuk wacana
narasi. Di dalam wacana narasi tsb hendaknya sudah terbentuk kerangka certita berupa
sinopsis. Selanjutnya sinopsis tersebut kita ubah menjadi naskah drama dengan
memerhatikan
beberapa
hal.
A. Plot (alur)
B.
Karakter dapet digambarkan dalam mimik, gerak, dialog, dan penampilan. Karakater
yang muncul dipnggung menunjukan keragaman berupa perbedaan” menyolok (kontras).
Semua karakter tokoh harus dirancangsejak penulisan naskah. Pemain hanya menghayati dan
menjalakn petunjuk dlm naskah dng bntuan sutradara.
.
Drama memiliki dua
a.
b. Aspek pementasan

aspek,

yaitu aspek
Aspek

cerita

dan

aspek

pementasan.
cerita

ASPEK
CERITA
Aspek cerita mengungkapkan peristiwa atau kejadian yang dialami pelaku. Kadang-kadang
pada
kesan
itu
tersirat
pesan
tertentu.
Keterpaduan kesan dan pesan ini terangkum dalam cerita yang dilukiskan dalam drama.
ASPEK
PEMENTASAN
Aspek pementasan drama dalam arti sesungguhnya ialah pertunjukan di atas panggung
berupa pementasan cerita tertentu oleh para pelaku. Pementasan ini didukung oleh dekorasi
panggung, tata lampu, tata musik dsb. Kekhasan naskah drama dari karya sastra yang lain
ialah adanya dialog, alur, dan episode. Dialog drama biasanya disusun dalam bentuk skenario
(rencana
lakon
sandiwara
secara
terperinci).
Bermain peran adalah kegiatan memerankan pribadi orang lain berkenaan dengan
watak/sikap/tingkah laku. Untuk dapat memerankan orang lain tersebut, perlu dibentuk
seorang
tokoh
yang
sesuai
dengan
imajinasi/bayangan.
Pembentukan bayangan/imajinasi tokoh tersebut perlu dijelaskan dalam sebuah karangan
yang
berbentuk
deskripsi.

 Cara Menulis Dialog yang benar

1.

Contoh

penulisan

kalimat

dialog

yang

benar

:

* “Kita akan pergi sekarang.” Aku dan Tono bergegas. *jika akhir kalimat dialog adalah
titik, maka huruf awal kata setelah tanda kutip penutup (“) harus huruf capital/besar+.
* “Semua akan baik-baik saja,” kataku kepada Tono. [jika akhir kalimat dialog adalah koma,

maka huruf awal kata berikutnya setelah tanda kutip penutup (“) adalah huruf kecil+.
*

“Memangnya

kamu

mau

ke

mana?”

tanya

Indah

padaku.

*jika akhir kalimat dialog menggunakan tanda tanya (?), maka huruf awal kata berikutnya
setelah

*

tanda

“Hei,

kutip

penutup

tunggu!”

Teriak

(“)

Udin

digunakan

sambil

huruf

kecil].

ke

arahku.

berlari

*jika akhir kalimat dialog menggunakan tanda seru (!), maka huruf awal kata setelah tanda
kutip

penutup

(“)

dimulai

dengan

huruf

capital/besar].

* Setiap dialog baru, harus dibuat alinea/paragraph baru walau cuma satu kata/kalimat.
Contoh

:

“Aku cemburu padanya!” Seru Ina marah. “Ha? Cemburu pada siapa?” tanyaku penasaran.
2 dialog tersebut tidak dijadikan satu kesatuan, akan tetapi terpisah menjadi 2 baris kalimat.
*

Setiap

“Aku

huruf
pulang,”

awal

kalimat

kataku

dialog

kepada

Roi

harus

capital/besar.

yang

masih

Contoh

:

mematung.

* Tanda koma (,) dan titik (.) diletakkan sebelum tanda kutip penutup, bukan sesudahnya.
Contoh
“Aku

:
bingung

harus

bagaimana,”

kataku

pada

Ratih.

“Aku

berhenti.”

* Setelah tanda tanya (?) dan tanda seru (!) setelah ditutup dengan tanda kutip (“), tidak ada
koma

dan

titik

lagi.

* Tanda kutip dengan kata sebelum dan sesudahnya tidak ada spasi, jadi semuanya disatukan.
Contoh
“Ayo

:
kita

main!”

2. Penggunaan kata ulang harus disertai dengan tanda penghubung (-), kecuali bila karya tulis
berupa puisi maka tidak ada tanda penghubung melainkan seluruh kata harus disatukan.
Contoh : Daun-daun berguguran. [dalam cerpen, novel dll] Daundaun berguguran [dalam
bentuk

puisi]

3. Symbol Horizontal Bar (―) digunakan sebagai separator/pemisah 2 kalimat yang saling
berhubungan.
Contoh

:

… handphone-ku berdering―ada panggilan masuk―saat aku sedang mengobrol dengannya.
4. Penggunaan kata depan―di, ke, dari―untuk penunjukkan tempat ditulis terpisah dari kata
yang mengikutinya, selain itu ditulis bergabung dengan kata yang mengikutinya. Kecuali di
dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh
Aku

:

mengantarkan

surat

itu

kepada

Ima

yang

sedang

berada

di

kantin.

5. Penyisipan kata gaul yang berada di luar dialog harus dimiringkan (italic), sedangkan di
dalam

kalimat

dialog

tidak

dimiringkan.

6. Penggunaan catatan kaki (footnote) untuk menjelaskan kaidah/arti dari bahasa
asing/serapan

dan

bahasa

daerah.

7. Secara tersirat, tanda titik 3 menyatakan ‘koma/menggantung’. Sedangkan tanda titik 4
menyatakan ‘titik/berhenti’. Dalam penulisannya dipisahkan oleh spasi dari kata yang
mengikuti maupun diikutinya. Karena menyatakan koma, maka huruf awal kata setelah tanda
titik 3 adalah huruf kecil, sedangkan setelah tanda titik 4 adalah huruf capital/besar.
8. Penggunaan singkatan umum ditulis dengan huruf capital/besar dan bila ditulis serangkai
dengan kata lainnya maka harus disisipkan tanda penghubung (-). Contoh : SMS-ku telah
sampai
9.

Penulisan

padanya.
kalimat

dialog

tidak

perlu

diitalic

atau

dimiringkan.

10. Imbuhan dan akhiran yang mengiringi bahasa asing/serapan ataupun bahasa daerah
dipisahkan oleh tanda penghubung (-) dan penulisan kata asingnya harus dimiringkan (italic).
Contoh : Me-recall Hanphone-ku, dll

TEKNIK MENULIS NASKAH DRAMA
Apakah Drama
Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia, drama berasal dari bahasa Yunani purba dram,
artinya berbuat. ‘’Pengertian drama merujuk kepada karya tulis untuk teater, setiap situasi
yang mempunyai konflik dan solusi, jenis karya sastra yang berbentuk dialog yang dibuat
untuk tujuan dipertunjukkan di atas pentas (Hasanuddin WS dkk, 2007 : 229).
Naskah drama mempunyai dua dimensi, yakni :
(1) sebagai teks sastra, dan
(2) sebagai seni pertunjukan.
Media Drama
Media (alat) yang dipergunakan untuk pertunjukan drama terbagi atas :
MEDIA PANGGUNG TEATER
Drama yang dipertunjukkan pada sebuah gedung disebut dengan teater. Teater diartikan
sebagai gedung pertunjukan, namun makna ini kemudian diperluas sebagai bentuk
pementasan drama.

Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah drama.
1.
Menentukan Tema.
Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada
penonton. Tema, akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Misalnya tema yang
dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”, maka dalam cerita hal tersebut harus
dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari
cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan.
2.
Menentukan Persoalan (Konflik).
Persoalan atau konflik adalah inti dari cerita teater. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Oleh
karena itu pangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema
yang dikehendaki. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan,” pangkal
persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain
demi kepentingannya sendiri. Persoalan ini kemudian dikembangkan dalam cerita yang
hendak dituliskan.
3.
Membuat Sinopsis (ringkasan cerita).
Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Sinopsis
digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar.
Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada.
4.
Menentukan Kerangka Cerita.

Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Kerangka ini
membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan, konflik, klimaks sampai penyelesaian.
Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga
cerita tidak bertele-tele. William Froug (1993) misalnya, membuat kerangka cerita (skenario)
dengan empat bagian, yaitu pembukaan, bagian awal, tengah, dan akhir. Pada bagian
pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. Bagian awal adalah bagian
pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Bagian
tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. Pada bagian akhir, titik balik
cerita dimulai dan konflik diselesaikan. Riantiarno (2003), sutradara sekaligus penulis naskah
Teater Koma, menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian, yaitu pembuka yang berisi
pengantar cerita atau sebab awal, isi yang berisi pemaparan, konflik hingga klimaks, dan
penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat.
5.
Menentukan Protagonis.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Dengan menentukan
tokoh protagonis secara mendetil, maka tokoh lainnya mudah ditemukan. Misalnya, dalam
persoalan tentang kelicikan, maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang
rajin, semangat dalam bekerja, senang membantu orang lain, berkecukupan, dermawan, serta
jujur. Semakin detil sifat atau karakter protagonis, maka semakin jelas pula karakter tokoh
antagonis. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan
sendirinya terbentuk. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan, maka tokoh lain
baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan.
6.
Menentukan Cara Penyelesaian.
Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Dalam beberapa lakon ada
cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa, bahkan ada
yang bingung mengakhirinya. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh
penonton. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik, logis, dan tidak tergesa-gesa.
7.
Menulis.
Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. Mencari dan
mengembangkan gagasan memang tidak mudah, tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan
gagasan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, gunakan dan manfaatkan waktu sebaik
mungkin.
Apa Saja yang Harus Ada pada Naskah Drama
1.
Judul Cerita
Judul cerita merupakan inti dari naskah drama yang akan dipertunjukkan. Seorang penulis
naskah drama harus memperhitungkan ketertarikan penonton dengan judul naskah drama
yang dibuat. Judul yang tidak menarik akan membuat penonton enggan mendatangi
pertunjukan.
2.
Sinopsis
Sinopsis adalah ringkasan cerita di dalam naskah drama. Sinopsis perlu dibuat untuk
membantu kru pementasan mempersiapkan segala hal terkait dengan pertunjukan.
3.
Jumlah Pemain
Untuk naskah drama sebaiknya memperhatikan jumlah pemain yang akan terlibat dalam
pertunjukan drama, baik itu teater, film, maupun drama radio. Dalam pertunjukan drama
menggunakan media teater, maka jumlah pemain sangatlah penting untuk diperhatikan

mengingat terbatasnya ruang (panggung) yang tersedia. Namun dalam film dan radio, jumlah
pemain tidak menjadi begitu penting karena bisa disiasati dengan berbagai cara.
4.

Penggambaran Setting

Dalam membuat naskah drama, harus digambarkan setting (tempat peristiwa) berlangsung.
Hal ini terlihat di awal naskah tersebut ditulis. Penggambaran setting ini perlu untuk
memudahkan sutradara ataupun pemain menyesuaikan pertunjukan drama yang akan
dimainkan.
Diposkan 21st January 2014 oleh Rey Sideq

Judul: Makalah Drama

Oleh: Syahri Adha


Ikuti kami