Makalah Pancasila

Oleh Hidayatullah Sanauyah

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Pancasila

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu
bangsa Indonesia yang majemuk. Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila
terhadap bangsa dan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi karena
perjalanan sejarah dan kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti
keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan
budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak harus
dipersatukan.
Pancasila sebagai dasar negara memang sudah final. Menggugat
Pancasila halnya akan membawa ketidakpastiaan baru. Bukan tidak mungkin
akan timbul chaos (kesalahan) yang memecah-belah eksistensi negara
kesatuan. Akhirnya Indonesia akan tercecer menjadi negara-negara kecil yang
berbasis agama dan suku. Untuk menghindarinya maka penerapan hukumhukum agama (juga hukum-hukum adat) dalam system sistem hukum negara
menjadi penting untuk diterapkan. Pancasila yang diperjuangkan untuk
mengikat agama-agama dan suku-suku itu harus tetap mengakui jati diri dan
ciri khas yang dimiliki setiap agama dan suku.
Sila

pertama

Pancasila,

yaitu

Ketuhanan

Yang Maha Esa,

mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang
menciptakan alam semsta beserta isinya. Diantara makhluk ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ialah manusia. Sebagai Maha
Pencipta, kekuasan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selain-Nya adalah
terbatas.
Negara Indonesia yang didirikan atas landasan moral luhur, yaitu
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa berkonsekuensi untuk menjamin
kepada warga negara dan penduduknya memeluk dan untuk beribadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam :

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

1

Pembukaan UUD 1945 aline ketiga, yang antara lain berbunyi :
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…..”
Dari bunyi kalimat ini membuktikan bahwa negara Indonesia sangat
menjunjung tinggi nilai-nilai KeTuhanan. Negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.
Oleh karena itu, di dalam Bangsa Indonesia tidak boleh ada
pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita seharusnya
menghindari sikap atau perbuatan yang anti terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
anti agama. Untuk itulah sebagai generasi penerus bangsa, kita wajib
mengkaji, memahami, dan menerapkan sila pertama Pancasila. Diharapkan
melalui pembahasan sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini, akan terwujud
generasi-generasi penerus Bangsa Indonesia yang menjunjung nilai-nilai
KeTuhanan dan berbudi luhur.
1.2

Rumusan Masalah
1.

Apa maksud dari sila ketuhanan yang maha esa ?

2.

Makna apa saja yang terkandung didalam sila pertama ?

3.

Bagaimana kaitannya terhadap bangsa indonesia yang beragama ?

4.

Bagaimana dasar ontologis

5.

Bagaimana Realisasi nilai ketuhanan yang maha esa dalam tertib
hukum Indonesia ?
Apa saja penerapan sila pertama terhadap kehidupan sehari-hari?

6.

1.3 Tujuan Masalah
1. Tujuan dari makalah ini ialah untuk memberikan wawasan yang lebih
mendalam mengenai ruang lingkup dari sila pertama.
2. Agar generasi muda bangsa Indonesia dapat mengamalkan pancasila sila
pertama dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sila Ketuhan Yang Maha Esa Secara Umum
Perkataan Ketuhanan berasal dari Tuhan. Siapakah Tuhan itu?
Jawaban kita ialah Pencipta segala yang ada dan semua makhluk. Yang
Maha Esa berarti Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, Esa dalam zat-Nya,
dalam sifat-Nya maupun dalam perbuatan Nya. Pengertian zat Tuhan disini
hanya Tuhan sendiri yang Maha Mengetahui, dan tidak mungkin dapat
digambarkan menurut akal pikiran manusia, karena zat Tuhan adalah
sesempurna-sempurnanya yang perbuatan-Nya tidak mungkin dapat
disamakan dan ditandingi dengan perbuatan manusia yang serba terbatas.
Keberadaan Tuhan tidaklah disebabkan oleh keberadaan daripada
makhluk hidup dan siapapun, sedangkan sebaliknya keberadaan daripada
makhluk dan siapapun justru disebabkan oleh adanya kehendak Tuhan.
Karena itu Tuhan adalah prima causa, yaitu sebagai penyebab pertama dan
utama atas timbulnya sebab-sebab yang lain. Dengan demikian Ketuhanan
Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya.
Dan diantara makhluk ciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan
dengan sila ini ialah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan
tidaklah terbatas, sedangkan selain-Nya adalah terbatas.
Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang sebagai konsekuensinya,
maka negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk
memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya,
seperti pengertiannya terkandung dalam:
A. Pembukaan UUD 1945 alinia ketiga, yang antara lain berbunyi: “Atas
berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa .... “ Dari bunyi kalimat ini
membuktikan bahwa negara Indonesia tidak menganut paham maupun
Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

3

mengandung sifat sebagai negara sekuler. Sekaligus menunjukkan
bahwa negara Indonesia bukan merupakan negara agama, yaitu negara
yang didirikan atas landasan agama tertentu, melainkan sebagai negara
yang didirikan atas landasan Pancasila atau negara Pancasila.
B. Pasal 29 UUD 1945
1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan
kepercayaannya.
Oleh karena itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada
pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sikap atau
perbuatan yang anti terhadap Tuhan Yang Maha Esa, anti agama.
Sedangkan sebaliknya dengan paham Ketuhanan Yang Maha Esa ini
hendaknya diwujudkan dan dihidupsuburkan kerukunan hidup beragama,
kehidupan yang penuh toleransi dalam batas-batas yang diizinkan oleh
atau menurut tuntunan agama masing-masing, agar terwujud ketentraman
dan kesejukan di dalam kehidupan beragama.
Untuk senantiasa memelihara

dan mewujudkan kehidupan

berbangsa dan bertanah air yang baik, dibutuhkan 3 model kerukunan
hidup yang meliputi :
1. Kerukunan hidup antar umat seagama.
2. Kerukunan hidup antar umat beragama.
3. Kerukunan hidup antar umat beragama dan Pemerintah.
Tri kerukunan hidup tersebut merupakan salah satu faktor perekat
kesatuan bangsa. Di dalam memahami sila I Ketuhanan Yang Maha Esa,
hendaknya para pemuka agama senantiasa berperan didepan dalam
menganjurkan kepada pemeluk agama masingmasing untuk menaati
norma-norma kehidupan beragama yang dianutnya, misalnya : bagi yang
beragama Islam senantiasa berpegang teguh pada kitab suci Al-Qur’an dan
Sunnah Rasul, bagi yang beragama Kristen (Katolik maupun Protestan)
Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

4

berpegang teguh pada kitab sucinya yang disebut Injil, bagi yang
beragama Budha berpegang teguh pada kitab suci Tripitaka, bagi yang
beragama Hindu pada kitab sucinya yang disebut Wedha.
Sila ke I, Ketuhanan Yang Maha Esa ini menjadi sumber utama
nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia, yang menjiwai dan mendasari serta
membimbing perwujudan dan Sila II sampai dengan Sila V.

2.2 Makna Dibalik Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sejarah mengatakan bahwa Pancasila dasar Negara Kesatuan
Repubrik Indonesia (NKRI) lahir pada 1 Juni 1945. Pancasila lahir
didasarkan pada pemikiran tokoh proklamator yang tidak lain adalah Bung
Karno.
Mungkin banyak di antara kita yang tidak mengetahui apa dasar
pemikiran Bung Karno pada waktu mencetuskan ide dasar negara hingga
tercetuslah ide Pancasila. Dasar pemikiran Bung Karno dalam mencetuskan
istilah Pancasila sebagai Dasar Negara adalah mengadopsi istilah praktekpraktek moral orang Jawa kuno yang di dasarkan pada ajaran Buddhisme.
Dalam ajaran Buddhisme terdapat praktek-praktek moral yang disebut
dengan Panca Sila (bahasa Sanskerta / Pali) yang berarti lima (5) kemoralan
yaitu :
1.

Bertekad menghindari pembunuhan makhluk hidup.

2.

Bertekad menghindari berkata dusta.

3.

Bertekad menghindari perbuatan mencuri.

4.

Bertekad menghindari perbuatan berzinah.

5.

Dan bertekad untuk tidak minum minuman yang dapat menimbulkan
ketagihan dan menghilangkan kesadaran.
Sila pertama dari Pancasila Dasar Negara NKRI adalah Ketuhanan
Yang Maha Esa. Kalimat pada sila pertama ini tidak lain menggunakan istilah
dalam bahasa Sanskerta ataupun bahasa Pali. Banyak di antara kita yang salah
paham mengartikan makna dari sila pertama ini. Baik dari sekolah dasar

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

5

sampai sekolah menengah umum kita diajarkan bahwa arti dari Ketuhanan
Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Satu, atau Tuhan Yang jumlahnya satu.
Jika kita membahasnya dalam sudut pandang bahasa Sanskerta ataupun Pali,
Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah bermakna Tuhan Yang Satu. Lalu apa
makna sebenarnya? Maka kami dari kelompok 1 akan membahas satu persatu
kata dari kalimat dari sila pertama ini.
Ketuhanan berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan berupa awalan
ke- dan akhiran –an. Penggunaan awalan ke- dan akhiran –an pada suatu kata
dapat merubah makna dari kata itu dan membentuk makna baru. Penambahan
awalan ke- dan akhiran -an dapat memberi perubahan makna menjadi antara
lain : mengalami hal, sifat-sifat. Contoh kalimat : ia sedang kepanasan. Kata
panas diberi imbuhan ke- dan –an maka menjadi kata kepanasan yang
bermakna mengalami hal yang panas. Begitu juga dengan kata ketuhanan
yang berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan ke- dan –an yang bermakna
sifat-sifat tuhan. Dengan kata lain Ketuhanan berarti sifat-sifat tuhan atau
sifat-sifat yang berhubungan dengan tuhan.
Kata “maha” berasal dari bahasa Sanskerta / Pali yang bisa berarti
mulia atau besar (bukan dalam pengertian bentuk). Kata “maha” bukan berarti
“sangat”. Jadi adalah salah jika penggunaan kata “maha” dipersandingkan
dengan kata seperti besar menjadi maha besar yang berarti sangat besar.
Kata “esa” juga berasal dari bahasa Sanskerta / Pali. Kata “esa” bukan
berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata “esa” berasal dari kata “etad”
yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu
pada kata “ini” (this – Inggris). Sedangkan kata “satu” dalam pengertian
jumlah dalam bahasa Sankserta maupun bahasa Pali adalah kata “eka”. Jika
yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata
yang seharusnya digunakan adalah “eka”, bukan kata “esa”.
Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat di tarik
kesimpulan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah berarti
Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita
sebut Tuhan yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya, Ketuhanan Yang
Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

6

Maha Esa berarti Sifat-sifat Luhur/Mulia Tuhan yang mutlak harus ada. Jadi
yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat
luhur/mulia, bukan Tuhannya.
Setelah kita mengetahui hal ini kita dapat melihat bahwa sila pertama
dari Pancasila NKRI ternyata begitu dalam dan bermakna luas , tidak
membahas apakah Tuhan itu satu atau banyak seperti anggapan kita selama
ini, tetapi sesungguhnya sila pertama ini membahas sifat-sifat luhur/mulia
yang harus dimiliki oleh segenap bangsa Indonesia. Sila pertama dari
Pancasila NKRI ini tidak bersifat arogan dan penuh paksaan bahwa rakyat
Indonesia harus beragama yang percaya pada satu Tuhan saja, tetapi
membuka diri bagi agama yang juga percaya pada banyak Tuhan, karena
yang ditekankan dalam sila pertama Pancasila NKRI ini adalah sifat-sifat
luhur/mulia. Dan diharapkan Negara di masa yang akan datang dapat
membuka diri bagi keberadaan agama yang juga mengajarkan nilai-nilai luhur
dan mulia meskipun tidak mempercayai adanya satu Tuhan.

2.3 Kaitannya Terhadap Bangsa Indonesia Yang Beragama
A. Kehidupan Bangsa Indonesia Yang Beragama
Kehidupan berbangsa dan bernegara ini telah diatur sedemikian
rupa dengan peraturan-peraturan yang ada. Sepertihalnya yang telah diatur
dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 bahwa Negara Indonesia
menjamin kebebasan bangsa Indonesia untuk menganut agama dan
keyakinan sesuai dengan agama masing-masing. Jadi ketika kita telah
meyakini suatu agama, kita harus mempertahankan keyakinan itu karena
negara melindungi hak warga negara dalam beragama.
Negara Indonesia bukan negara agama, tetapi kehidupan beragama
sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Dimana sila pertama mendasari dan
menjiwai sila-sila berikutnya. Mengapa demikian? Karakter seseorang
terbentuk secara fitrah yang telah dituliskan Tuhan. Dan bagaimana

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

7

kualitas hidup manusia ditentukan oleh kualitas hubungan manusia itu
dengan Tuhan, apabila hubungan (ibadah) dengan Tuhan baik maka halhal yang lain seperti akademik, pekerjaan, dan sosial akan baik pula.
Beragama bukan suatu kewajiban seseorang. Beragama merupakan
hak manusia yang dapat dipenuhi oleh individu sesuai dengan cara
pemenuhan masing-masing. Manusia beragama karena suatu sebab
kebutuhan, yakni merasa tidak berdaya dan butuh perlindungan dari Dzat
yang memiliki kekuatan. Seiring dengan berubahnya zaman dengan
tuntutan harga diri kemanusiaan dan perkembangan peradaban manusia
maka diakuilah hak asasi pribadi (personal rights), salah satunya adalah
hak memeluk agama dan beribadah sesuai dengan agama masing-masing.
B. Bukti bangsa Indonesia bangsa religius
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis. Negaranegara di dunia telah mengakuinya sejak dahulu. Banyak faktor-faktor
yang memperkuat statement bangsa Indonesia bangsa yang religius. Hal
itu masih lestari hingga sekarang. Beberapa aspek tersebut adalah:
 Banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang ditemukan yang
berbau agama. Sebagai contoh Candi Prambanan yang beralirkan
Hindu, Candi Borobudur yang beralirkan Budha, prasasti, peninggalan
kerajaan-kerajaan

serta

makam-makam.

Dari

peninggalan-

peninggalan tersebut terdapat tulisan-tulisan kuno bahkan pahatanpahatan yang menggambarkan betapa nenek moyang bangsa
Indonesia sangat taat kepada Tuhan.
 Budaya dan tradisi leluhur yang masih lestari. Kadang kita tidak tahu
asal muasal suatu budaya yang sering kita lakukan bahkan tidak tahu
kapan awal budaya itu ada. Misal ada kembar mayang dalam adat
pernikahan, tukar cincin dalam pernikahan, kenduri, selamatan orang
meninggal (memperingati kematian seseorang), tedak siten, mitoni,
dan masih banyak lagi. Dari budaya-budaya itulah kemudian terjadi
asimilasi sebagai contoh dalam kenduri. Dahulu orang-orang kenduri
Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

8

yang melakukan hanya orang hindu sekarang tidak. Orang islam pun
begitu hanya saja mantra-mantra umat hindu dibacakan doa-doa sesuai
dengan doa umat islam.
 Kepercayaan masyarakat yang bersumber dari pengetahuan nenek
moyang. Kepercayaan ini ada yang bersifat rasional maupun bersifat
irasional.

Kepercayaan

yang

bersifat

rasional

seperti

ketika

masyarakat melihat bintang untuk menentukan masa tanam dan
kecepatan angin ketika hendak melaut. Sedang kepercayaan bersifat
irasional seperti larangan pergi pada waktu tertentu dan larangan
mengenakan pakaian berwarna hijau ketika di pantai selatan.
C. Fakta Pada Masyarakat Saat Ini
Masyarakat di Indonesia memang mengakui adanya Tuhan atau
suatu Dzat yang memiliki kekuatan melebihi kekuatan manusia untuk
mengendalikan alam raya. Meski pun berbeda agama namun tetap
beribadah sesuai dengan agama masing-masing. Disinilah bangsa
Indonesia sebagai hamba Tuhan memikili kewajiban untuk meng-Esa-kan
Tuhan.
Mungkin dari cara berbicara dan berpakaian masih mencerminkan
sebagai umat beragama. Namun cerminan itu tidak selalu benar. Orangorang yang memiliki jabatan mungkin tidak selamanya “konsisten” akan
janjinya ketika belum mendapatkan suatu jabatan. Seperti yang pernak
dikatakan oleh seorang bijak, “Kejahatan terjadi karena ada niat dan
kesempatan”. Tentu jika orang tersebut berpegang teguh akan agamanya
maka akan teringat bahwa tuhan adalah penguasa alam semesta ini.
Itu merupakan krisis yang telah menjadi virus akut yang menyebar
diseluruh masyakat. Bahkan para produsen makanan, pedagang juga anak
kecil sudah pandai berbohong hanya untuk memenuhi keinginan yang
sebenarnya tidak begitu penting. Tentu hal ini lebih untuk mengais pundipundi uang ataupun yang lainnya, sesuatu yang berbau materialis.

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

9

D. Faktor-Faktor Penyebab Terkikisnya Jiwa Religius
Iman seseorang itu seperti air di pantai, ada kalanya pasang pun
kala surut. Ketika pasang seseorang akan menjadi hamba Tuhan yang taat
dan ketika surut disebabkan oleh kealfaan maupun hal lain. Penyebabpenyebab itu bisa datang dari dalam diri seseorang maupun dari luar.
Pemahaman yang minim tentang agama membuat orang bertindak
sesuka hati tanpa mengetahui arah yang benar. Minim pemahaman juga
dapat diartikan sebagai pemahaman parsial. Yakni pemahaman tentang
agama yang tidak utuh dan hanya ditelan mentah-mentah bahkan ada juga
yang sama sekali tidak ingin tahu betapa indah hidup dengan agama itu.
Orang-orang yang mempelajari tentang hukum dan ilmu tata
negara sebenarnya juga belajar tentang tata cara beragama, hanya saja
tidak menyadari untuk diindahkan dalam kehidupan. Dalam dasar Negara,
pembukaan, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, kitab perundangundangan dan lain sebagainya. Sebagai contoh sesuatu yang tidak asing
lagi yang dahulu sering kita dengar, pembukaan Undang-Undang Dasar
Tahun 1945. Pada alenia ketiga dapat kita petik bahwa bangsa Indonesia
mengakui adanya Tuhan dan hukum Tuhan, “…Atas berkat rahmat Allah
Yang Maha Kuasa…”, yang disusul dengan hukum etis, “…dengan
didorong oleh keinginan luhur...”. Sehingga agama menjadi prioritas
utama dalam hidup berbanga dan bernegara.
Kita merasa aman dan nyaman ketika tidak mengetahui suatu
ancaman yang nyata. Sesuatu yang kadang terlihat tidak ada masalah,
justru menyimpan masalah yang dijaga kerahasiaanya dari dunia luar.
Sebagai contoh ketika terdapat kontroversi dalam suatu organisasi agama
yang terjadi karena anggota-anggotanya lebih mengedepankan logika
daripada bisikan hati nurani.
Umat beragama yang beragam di Indonesia tentu sangat
memerlukan dukungan materiil dan non-materiil juga dukungan yang dari
lingkungan sekitarnya. Sesuatu yang dirasa sepele adalah dukungan yang
Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

10

utama yakni dukungan dari keluarga. Dengan alasan terlalu sibuk mencari
sesuap nasi pendidikan agama sering terabaikan sehingga kebutuhan akan
rohani seseorang belum terpenuhi.
Banyak sedikitnya pencitraan diri masyarakat Indonesia saat ini
mendapat pengaruh dari media masa dan perkembangan IPTEK.
Kemajuan yang diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan
yang lebih baik malah berdampak buruk. Hal ini karena manusia-manusia
tidak tepat dalam penggunaan teknologi. Sebagai contoh kamera, ketika
seseorang kameramen menggunakan kameranya untuk mengambil gambar
obyek yang baik tentu bermanfaat untuk dokumentasinya. Beda ketika
seorang yang tidak beretika mengambil gambar-gambar yang vulgar maka
kerugian dan kerusakan moral dampaknya.
E. Solusi Untuk Meningkatkan Kualitas Takwa Kepada Tuhan
Di Indonesia terdapat suatu lembaga non-formal yang bergerak
untuk agama islam yakni MUI. MUI ini berfungsi untuk menjawab
ketidakpuasan terhadap peranan pemerintah dalam mengatur kehidupan
beragama. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan pun sesuai dengan syariat agama
islam. Sehingga peran MUI ini sangat membantu umat Islam menyikapi
fenomena-fenomena kehidupan yang terdapat dalam zona abu-abu
(sesuatu yang masih diragukan).
Untuk mengasah kepekaan batin seseorang dilakukan acara ESQ.
Acara ini berisikan motivasi-motivasi yang membangun agar terbentuk
jiwa-jiwa yang taat kepada Tuhan. Sugesti-sugesti yang diberikan pada
acara ini biasanya menyentuk hati sehingga setelah acara ESQ diharapkan
pesertanya semangat untuk beribadah.
Masing-masing agama memiliki cara tersendiri dalam menjalankan
kewajibannya dalam beribadah. Untuk lebih dekat dengan Tuhan umat
beragama sering mengadakan pembaharuan ilmu (mengkaji ilmu agama
secara berkelompok). Umat Islam mengadakan pengajian-pengajian,
mentoring, liqo’, tahfidz maupun yang lainnya. Sedang umat nasrani
Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

11

berkumpul pada malam hari di salah satu rumah umat nasrani untuk
melakukan sembayang bersama.
Ketika hari raya Idul Kurban ada beragam kegiatan keagamaan
umat Islam untuk merayakan hari bahagia itu. Acara yang sering
dilakukan pasca penyembelihan hewan kurban adalah pawai akbar yang
diikuti dari berbagai kampung di daerah Piyungan dan sekitarnya. Dengan
tema yang setiap tahun berbeda menuntut kreatifitas dari masing-masing
peserta untuk unjuk kebolehan.

2.4 Dasar Ontologis Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Pengetahuan tentang adanya Tuhan telah dibuktikan secara rasional
dengan argumentasi sebagai berikut:
1. Bukti adanya Tuhan secara Ontologis
Berarti adanya segala di dunia tidak berada karena dirinya
sendiri, melainkan kerena suatu yang disebut ide. Ide ini berada
diluar segala sesuatu termasuk alam semesta. Maka yang dimaksud
ide yang tertinggi adalah Tuhan sebagai kausa prima.
2. Bukti adanya Tuhan secara Kosmologis
Berarti alam semesta (termasuk manusia) diciptakan oleh
Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini mempunyai
hubungan sebab akibat. Misalnya rentetan hubungan anak dengan
orang tuanya, orang tuanya disebabkan oleh nenek dan kakeknya,
begitu seterusnya, sehingga rangkaian tersebut sampailah pada
suatu yang tidak disebabkan oleh yang lain yang disebut sebab
pertama (kausa prima).
3. Bukti adanya Tuhan secara Teleologis
Berarti alam diatur menurut suatu tujuan tertentu. Dengan
kata lain alam secara keseluruhan berevolusi dan beredar pada
suatu tujuan tertentu. Bagian-bagian dari alam ini mempunyai
hubungan yang erat satu dengan yang lain dan bekerja sama dalam

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

12

mencapai suatu tujuan tertentu. Maka dapatlah disimpulkan bahwa
ada suatu dzat yang menentukan tujuan tersebut, yaitu Tuhan.
4. Bukti adanya Tuhan secara Psikologis
Berarti pada suatu kenyataan bahwa kita memiliki suatu
pengertian atau gagasan tentang Tuhan yang merupakan segala
sesuatu yang sempurna, lalu kita mencoba untuk menerangkan asal
mula gagasan tentang Tuhan sebagai sesuatu yang sempurna.
Gagasan tersebut diperoleh dari jenis pengalaman-pengalaman
tertentu

atau

diperoleh

dari

gagasan-gagasan

lain

yang

digabungkan dan diperbandingkan. Namun, semua hal yang
diperoleh dari pengalaman dan indrawi bersifat jauh dari
sempurna.

2.5 Realisasi Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Tertib
Hukum Indonesia
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kaitannya dengan tertib
Hukum Indonesia pada hakikatnya segala peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia harus sesuai dengan hukum Tuhan sebagai sumber
bahan dan sumber nilai. Pokok pikiran ke empat menyebutkan bahwa
“Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa atas dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab”, mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan
penyelenggara negara untuk memegang budi pekerti kemanusiaan yang luhur
dan yang sesuai dengan nilai-nilai agama.
Dengan kaitannya warga negara yang memeluk berbagai agama dan
hak-hak asasi warga Negara diatur dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yang
berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan
kepercayaan itu”.

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

13

2.6 Penerapan Dalam Kehidupan
1. Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta
segala sesuatu dengan sifat-sifat yang sempurna dan suci seperti Maha
Kuasa, Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana dan sebagainya.
2. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua
perintah- NYA dan menjauhi larangan-larangannya. Dalam memanfaatkan
semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah manusia
harus menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk yang ada di sekeliling
manusia merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dengan sebaikbaiknya; harus dirawat agar tidak rusak dan harus memperhatikan
kepentingan orang lain dan makhluk-makhluk Tuhan yang lain.

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perwujudan nilai-nilai Pancasila harus dimulai dari kesadaran
seluruh masyarakat Indonesia ini. kehidupan beragama harus dapat
membawa persatuan dan kesatuan bangsa, harus dapat mewujudkan nilainilai kemanusiaan yang adil dan beradab, harus dapat menyehatkan
pertumbuhan demokrasi, sehingga membawa seluruh rakyat Indonesia
menuju terwujudnya keadilan dan kemakmuran lahir dan batin. Namun,
dalam kenyataannya masih belum sepenuhnya masyarakat mengamalkan
nilai sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

3.2

Saran
Sebagai warga negara Indonesia yang mempunyai dasar negara
Pancasila seharusnya mampu mengamalkan nilai-nilai pancasila. Terutama
sila Ketuhanan Yang Maha Esa, karena demi mewujudkan bangsa yang
berkarakter perlu adanya kesadaran yang tinggi bagi warga negaranya.

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

15

DAFTAR PUSTAKA

Kansil., 1977., Pancasila dan UUD 1945 Dasar Falsafah Negara., Jakarta. Pradnya
Paramita
Notonagoro., 1994., Pancasila Secara Ilmiah Populer., Jakarta. Bumi Aksara
Aziz, Abdul, Wahab., 1992.Pendidikan Pancasila 1., Jakarta. Bumi Aksara
Eri, 2009. Sejarah Lahirnya Pancasila, (ww.pancasilaindonesia.com ). diakses pada 13
Februari 2016 pada pukul 16.00 WIB
Oktavianipratama. 2012. Arti dan Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
(www.oktavianipratama.com). diakses pada 13 Februari 2016 pada pukul 16.30
WIB

Sila Ketuhanan Yang Maha ESA

16

Judul: Makalah Pancasila

Oleh: Hidayatullah Sanauyah


Ikuti kami