Makalah Pancasila

Oleh Hidayatullah Sanauyah

173,6 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Pancasila

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk. Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila terhadap bangsa dan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi karena perjalanan sejarah dan kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan. Pancasila sebagai dasar negara memang sudah final. Menggugat Pancasila halnya akan membawa ketidakpastiaan baru. Bukan tidak mungkin akan timbul chaos (kesalahan) yang memecah-belah eksistensi negara kesatuan. Akhirnya Indonesia akan tercecer menjadi negara-negara kecil yang berbasis agama dan suku. Untuk menghindarinya maka penerapan hukumhukum agama (juga hukum-hukum adat) dalam system sistem hukum negara menjadi penting untuk diterapkan. Pancasila yang diperjuangkan untuk mengikat agama-agama dan suku-suku itu harus tetap mengakui jati diri dan ciri khas yang dimiliki setiap agama dan suku. Sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan alam semsta beserta isinya. Diantara makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ialah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selain-Nya adalah terbatas. Negara Indonesia yang didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa berkonsekuensi untuk menjamin kepada warga negara dan penduduknya memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam : Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 1 Pembukaan UUD 1945 aline ketiga, yang antara lain berbunyi : “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…..” Dari bunyi kalimat ini membuktikan bahwa negara Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai KeTuhanan. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya. Oleh karena itu, di dalam Bangsa Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita seharusnya menghindari sikap atau perbuatan yang anti terhadap Tuhan Yang Maha Esa, anti agama. Untuk itulah sebagai generasi penerus bangsa, kita wajib mengkaji, memahami, dan menerapkan sila pertama Pancasila. Diharapkan melalui pembahasan sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini, akan terwujud generasi-generasi penerus Bangsa Indonesia yang menjunjung nilai-nilai KeTuhanan dan berbudi luhur. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa maksud dari sila ketuhanan yang maha esa ? 2. Makna apa saja yang terkandung didalam sila pertama ? 3. Bagaimana kaitannya terhadap bangsa indonesia yang beragama ? 4. Bagaimana dasar ontologis 5. Bagaimana Realisasi nilai ketuhanan yang maha esa dalam tertib hukum Indonesia ? Apa saja penerapan sila pertama terhadap kehidupan sehari-hari? 6. 1.3 Tujuan Masalah 1. Tujuan dari makalah ini ialah untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai ruang lingkup dari sila pertama. 2. Agar generasi muda bangsa Indonesia dapat mengamalkan pancasila sila pertama dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sila Ketuhan Yang Maha Esa Secara Umum Perkataan Ketuhanan berasal dari Tuhan. Siapakah Tuhan itu? Jawaban kita ialah Pencipta segala yang ada dan semua makhluk. Yang Maha Esa berarti Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, Esa dalam zat-Nya, dalam sifat-Nya maupun dalam perbuatan Nya. Pengertian zat Tuhan disini hanya Tuhan sendiri yang Maha Mengetahui, dan tidak mungkin dapat digambarkan menurut akal pikiran manusia, karena zat Tuhan adalah sesempurna-sempurnanya yang perbuatan-Nya tidak mungkin dapat disamakan dan ditandingi dengan perbuatan manusia yang serba terbatas. Keberadaan Tuhan tidaklah disebabkan oleh keberadaan daripada makhluk hidup dan siapapun, sedangkan sebaliknya keberadaan daripada makhluk dan siapapun justru disebabkan oleh adanya kehendak Tuhan. Karena itu Tuhan adalah prima causa, yaitu sebagai penyebab pertama dan utama atas timbulnya sebab-sebab yang lain. Dengan demikian Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan diantara makhluk ciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ialah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selain-Nya adalah terbatas. Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang sebagai konsekuensinya, maka negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam: A. Pembukaan UUD 1945 alinia ketiga, yang antara lain berbunyi: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa .... “ Dari bunyi kalimat ini membuktikan bahwa negara Indonesia tidak menganut paham maupun Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 3 mengandung sifat sebagai negara sekuler. Sekaligus menunjukkan bahwa negara Indonesia bukan merupakan negara agama, yaitu negara yang didirikan atas landasan agama tertentu, melainkan sebagai negara yang didirikan atas landasan Pancasila atau negara Pancasila. B. Pasal 29 UUD 1945 1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya. Oleh karena itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sikap atau perbuatan yang anti terhadap Tuhan Yang Maha Esa, anti agama. Sedangkan sebaliknya dengan paham Ketuhanan Yang Maha Esa ini hendaknya diwujudkan dan dihidupsuburkan kerukunan hidup beragama, kehidupan yang penuh toleransi dalam batas-batas yang diizinkan oleh atau menurut tuntunan agama masing-masing, agar terwujud ketentraman dan kesejukan di dalam kehidupan beragama. Untuk senantiasa memelihara dan mewujudkan kehidupan berbangsa dan bertanah air yang baik, dibutuhkan 3 model kerukunan hidup yang meliputi : 1. Kerukunan hidup antar umat seagama. 2. Kerukunan hidup antar umat beragama. 3. Kerukunan hidup antar umat beragama dan Pemerintah. Tri kerukunan hidup tersebut merupakan salah satu faktor perekat kesatuan bangsa. Di dalam memahami sila I Ketuhanan Yang Maha Esa, hendaknya para pemuka agama senantiasa berperan didepan dalam menganjurkan kepada pemeluk agama masingmasing untuk menaati norma-norma kehidupan beragama yang dianutnya, misalnya : bagi yang beragama Islam senantiasa berpegang teguh pada kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bagi yang beragama Kristen (Katolik maupun Protestan) Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 4 berpegang teguh pada kitab sucinya yang disebut Injil, bagi yang beragama Budha berpegang teguh pada kitab suci Tripitaka, bagi yang beragama Hindu pada kitab sucinya yang disebut Wedha. Sila ke I, Ketuhanan Yang Maha Esa ini menjadi sumber utama nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia, yang menjiwai dan mendasari serta membimbing perwujudan dan Sila II sampai dengan Sila V. 2.2 Makna Dibalik Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Sejarah mengatakan bahwa Pancasila dasar Negara Kesatuan Repubrik Indonesia (NKRI) lahir pada 1 Juni 1945. Pancasila lahir didasarkan pada pemikiran tokoh proklamator yang tidak lain adalah Bung Karno. Mungkin banyak di antara kita yang tidak mengetahui apa dasar pemikiran Bung Karno pada waktu mencetuskan ide dasar negara hingga tercetuslah ide Pancasila. Dasar pemikiran Bung Karno dalam mencetuskan istilah Pancasila sebagai Dasar Negara adalah mengadopsi istilah praktekpraktek moral orang Jawa kuno yang di dasarkan pada ajaran Buddhisme. Dalam ajaran Buddhisme terdapat praktek-praktek moral yang disebut dengan Panca Sila (bahasa Sanskerta / Pali) yang berarti lima (5) kemoralan yaitu : 1. Bertekad menghindari pembunuhan makhluk hidup. 2. Bertekad menghindari berkata dusta. 3. Bertekad menghindari perbuatan mencuri. 4. Bertekad menghindari perbuatan berzinah. 5. Dan bertekad untuk tidak minum minuman yang dapat menimbulkan ketagihan dan menghilangkan kesadaran. Sila pertama dari Pancasila Dasar Negara NKRI adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalimat pada sila pertama ini tidak lain menggunakan istilah dalam bahasa Sanskerta ataupun bahasa Pali. Banyak di antara kita yang salah paham mengartikan makna dari sila pertama ini. Baik dari sekolah dasar Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 5 sampai sekolah menengah umum kita diajarkan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Satu, atau Tuhan Yang jumlahnya satu. Jika kita membahasnya dalam sudut pandang bahasa Sanskerta ataupun Pali, Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah bermakna Tuhan Yang Satu. Lalu apa makna sebenarnya? Maka kami dari kelompok 1 akan membahas satu persatu kata dari kalimat dari sila pertama ini. Ketuhanan berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan berupa awalan ke- dan akhiran –an. Penggunaan awalan ke- dan akhiran –an pada suatu kata dapat merubah makna dari kata itu dan membentuk makna baru. Penambahan awalan ke- dan akhiran -an dapat memberi perubahan makna menjadi antara lain : mengalami hal, sifat-sifat. Contoh kalimat : ia sedang kepanasan. Kata panas diberi imbuhan ke- dan –an maka menjadi kata kepanasan yang bermakna mengalami hal yang panas. Begitu juga dengan kata ketuhanan yang berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan ke- dan –an yang bermakna sifat-sifat tuhan. Dengan kata lain Ketuhanan berarti sifat-sifat tuhan atau sifat-sifat yang berhubungan dengan tuhan. Kata “maha” berasal dari bahasa Sanskerta / Pali yang bisa berarti mulia atau besar (bukan dalam pengertian bentuk). Kata “maha” bukan berarti “sangat”. Jadi adalah salah jika penggunaan kata “maha” dipersandingkan dengan kata seperti besar menjadi maha besar yang berarti sangat besar. Kata “esa” juga berasal dari bahasa Sanskerta / Pali. Kata “esa” bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata “esa” berasal dari kata “etad” yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata “ini” (this – Inggris). Sedangkan kata “satu” dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sankserta maupun bahasa Pali adalah kata “eka”. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah “eka”, bukan kata “esa”. Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah berarti Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya, Ketuhanan Yang Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 6 Maha Esa berarti Sifat-sifat Luhur/Mulia Tuhan yang mutlak harus ada. Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur/mulia, bukan Tuhannya. Setelah kita mengetahui hal ini kita dapat melihat bahwa sila pertama dari Pancasila NKRI ternyata begitu dalam dan bermakna luas , tidak membahas apakah Tuhan itu satu atau banyak seperti anggapan kita selama ini, tetapi sesungguhnya sila pertama ini membahas sifat-sifat luhur/mulia yang harus dimiliki oleh segenap bangsa Indonesia. Sila pertama dari Pancasila NKRI ini tidak bersifat arogan dan penuh paksaan bahwa rakyat Indonesia harus beragama yang percaya pada satu Tuhan saja, tetapi membuka diri bagi agama yang juga percaya pada banyak Tuhan, karena yang ditekankan dalam sila pertama Pancasila NKRI ini adalah sifat-sifat luhur/mulia. Dan diharapkan Negara di masa yang akan datang dapat membuka diri bagi keberadaan agama yang juga mengajarkan nilai-nilai luhur dan mulia meskipun tidak mempercayai adanya satu Tuhan. 2.3 Kaitannya Terhadap Bangsa Indonesia Yang Beragama A. Kehidupan Bangsa Indonesia Yang Beragama Kehidupan berbangsa dan bernegara ini telah diatur sedemikian rupa dengan peraturan-peraturan yang ada. Sepertihalnya yang telah diatur dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 bahwa Negara Indonesia menjamin kebebasan bangsa Indonesia untuk menganut agama dan keyakinan sesuai dengan agama masing-masing. Jadi ketika kita telah meyakini suatu agama, kita harus mempertahankan keyakinan itu karena negara melindungi hak warga negara dalam beragama. Negara Indonesia bukan negara agama, tetapi kehidupan beragama sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Dimana sila pertama mendasari dan menjiwai sila-sila berikutnya. Mengapa demikian? Karakter seseorang terbentuk secara fitrah yang telah dituliskan Tuhan. Dan bagaimana Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 7 kualitas hidup manusia ditentukan oleh kualitas hubungan manusia itu dengan Tuhan, apabila hubungan (ibadah) dengan Tuhan baik maka halhal yang lain seperti akademik, pekerjaan, dan sosial akan baik pula. Beragama bukan suatu kewajiban seseorang. Beragama merupakan hak manusia yang dapat dipenuhi oleh individu sesuai dengan cara pemenuhan masing-masing. Manusia beragama karena suatu sebab kebutuhan, yakni merasa tidak berdaya dan butuh perlindungan dari Dzat yang memiliki kekuatan. Seiring dengan berubahnya zaman dengan tuntutan harga diri kemanusiaan dan perkembangan peradaban manusia maka diakuilah hak asasi pribadi (personal rights), salah satunya adalah hak memeluk agama dan beribadah sesuai dengan agama masing-masing. B. Bukti bangsa Indonesia bangsa religius Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis. Negaranegara di dunia telah mengakuinya sejak dahulu. Banyak faktor-faktor yang memperkuat statement bangsa Indonesia bangsa yang religius. Hal itu masih lestari hingga sekarang. Beberapa aspek tersebut adalah:  Banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang ditemukan yang berbau agama. Sebagai contoh Candi Prambanan yang beralirkan Hindu, Candi Borobudur yang beralirkan Budha, prasasti, peninggalan kerajaan-kerajaan serta makam-makam. Dari peninggalan- peninggalan tersebut terdapat tulisan-tulisan kuno bahkan pahatanpahatan yang menggambarkan betapa nenek moyang bangsa Indonesia sangat taat kepada Tuhan.  Budaya dan tradisi leluhur yang masih lestari. Kadang kita tidak tahu asal muasal suatu budaya yang sering kita lakukan bahkan tidak tahu kapan awal budaya itu ada. Misal ada kembar mayang dalam adat pernikahan, tukar cincin dalam pernikahan, kenduri, selamatan orang meninggal (memperingati kematian seseorang), tedak siten, mitoni, dan masih banyak lagi. Dari budaya-budaya itulah kemudian terjadi asimilasi sebagai contoh dalam kenduri. Dahulu orang-orang kenduri Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 8 yang melakukan hanya orang hindu sekarang tidak. Orang islam pun begitu hanya saja mantra-mantra umat hindu dibacakan doa-doa sesuai dengan doa umat islam.  Kepercayaan masyarakat yang bersumber dari pengetahuan nenek moyang. Kepercayaan ini ada yang bersifat rasional maupun bersifat irasional. Kepercayaan yang bersifat rasional seperti ketika masyarakat melihat bintang untuk menentukan masa tanam dan kecepatan angin ketika hendak melaut. Sedang kepercayaan bersifat irasional seperti larangan pergi pada waktu tertentu dan larangan mengenakan pakaian berwarna hijau ketika di pantai selatan. C. Fakta Pada Masyarakat Saat Ini Masyarakat di Indonesia memang mengakui adanya Tuhan atau suatu Dzat yang memiliki kekuatan melebihi kekuatan manusia untuk mengendalikan alam raya. Meski pun berbeda agama namun tetap beribadah sesuai dengan agama masing-masing. Disinilah bangsa Indonesia sebagai hamba Tuhan memikili kewajiban untuk meng-Esa-kan Tuhan. Mungkin dari cara berbicara dan berpakaian masih mencerminkan sebagai umat beragama. Namun cerminan itu tidak selalu benar. Orangorang yang memiliki jabatan mungkin tidak selamanya “konsisten” akan janjinya ketika belum mendapatkan suatu jabatan. Seperti yang pernak dikatakan oleh seorang bijak, “Kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan”. Tentu jika orang tersebut berpegang teguh akan agamanya maka akan teringat bahwa tuhan adalah penguasa alam semesta ini. Itu merupakan krisis yang telah menjadi virus akut yang menyebar diseluruh masyakat. Bahkan para produsen makanan, pedagang juga anak kecil sudah pandai berbohong hanya untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya tidak begitu penting. Tentu hal ini lebih untuk mengais pundipundi uang ataupun yang lainnya, sesuatu yang berbau materialis. Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 9 D. Faktor-Faktor Penyebab Terkikisnya Jiwa Religius Iman seseorang itu seperti air di pantai, ada kalanya pasang pun kala surut. Ketika pasang seseorang akan menjadi hamba Tuhan yang taat dan ketika surut disebabkan oleh kealfaan maupun hal lain. Penyebabpenyebab itu bisa datang dari dalam diri seseorang maupun dari luar. Pemahaman yang minim tentang agama membuat orang bertindak sesuka hati tanpa mengetahui arah yang benar. Minim pemahaman juga dapat diartikan sebagai pemahaman parsial. Yakni pemahaman tentang agama yang tidak utuh dan hanya ditelan mentah-mentah bahkan ada juga yang sama sekali tidak ingin tahu betapa indah hidup dengan agama itu. Orang-orang yang mempelajari tentang hukum dan ilmu tata negara sebenarnya juga belajar tentang tata cara beragama, hanya saja tidak menyadari untuk diindahkan dalam kehidupan. Dalam dasar Negara, pembukaan, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, kitab perundangundangan dan lain sebagainya. Sebagai contoh sesuatu yang tidak asing lagi yang dahulu sering kita dengar, pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Pada alenia ketiga dapat kita petik bahwa bangsa Indonesia mengakui adanya Tuhan dan hukum Tuhan, “…Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”, yang disusul dengan hukum etis, “…dengan didorong oleh keinginan luhur...”. Sehingga agama menjadi prioritas utama dalam hidup berbanga dan bernegara. Kita merasa aman dan nyaman ketika tidak mengetahui suatu ancaman yang nyata. Sesuatu yang kadang terlihat tidak ada masalah, justru menyimpan masalah yang dijaga kerahasiaanya dari dunia luar. Sebagai contoh ketika terdapat kontroversi dalam suatu organisasi agama yang terjadi karena anggota-anggotanya lebih mengedepankan logika daripada bisikan hati nurani. Umat beragama yang beragam di Indonesia tentu sangat memerlukan dukungan materiil dan non-materiil juga dukungan yang dari lingkungan sekitarnya. Sesuatu yang dirasa sepele adalah dukungan yang Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 10 utama yakni dukungan dari keluarga. Dengan alasan terlalu sibuk mencari sesuap nasi pendidikan agama sering terabaikan sehingga kebutuhan akan rohani seseorang belum terpenuhi. Banyak sedikitnya pencitraan diri masyarakat Indonesia saat ini mendapat pengaruh dari media masa dan perkembangan IPTEK. Kemajuan yang diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan yang lebih baik malah berdampak buruk. Hal ini karena manusia-manusia tidak tepat dalam penggunaan teknologi. Sebagai contoh kamera, ketika seseorang kameramen menggunakan kameranya untuk mengambil gambar obyek yang baik tentu bermanfaat untuk dokumentasinya. Beda ketika seorang yang tidak beretika mengambil gambar-gambar yang vulgar maka kerugian dan kerusakan moral dampaknya. E. Solusi Untuk Meningkatkan Kualitas Takwa Kepada Tuhan Di Indonesia terdapat suatu lembaga non-formal yang bergerak untuk agama islam yakni MUI. MUI ini berfungsi untuk menjawab ketidakpuasan terhadap peranan pemerintah dalam mengatur kehidupan beragama. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan pun sesuai dengan syariat agama islam. Sehingga peran MUI ini sangat membantu umat Islam menyikapi fenomena-fenomena kehidupan yang terdapat dalam zona abu-abu (sesuatu yang masih diragukan). Untuk mengasah kepekaan batin seseorang dilakukan acara ESQ. Acara ini berisikan motivasi-motivasi yang membangun agar terbentuk jiwa-jiwa yang taat kepada Tuhan. Sugesti-sugesti yang diberikan pada acara ini biasanya menyentuk hati sehingga setelah acara ESQ diharapkan pesertanya semangat untuk beribadah. Masing-masing agama memiliki cara tersendiri dalam menjalankan kewajibannya dalam beribadah. Untuk lebih dekat dengan Tuhan umat beragama sering mengadakan pembaharuan ilmu (mengkaji ilmu agama secara berkelompok). Umat Islam mengadakan pengajian-pengajian, mentoring, liqo’, tahfidz maupun yang lainnya. Sedang umat nasrani Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 11 berkumpul pada malam hari di salah satu rumah umat nasrani untuk melakukan sembayang bersama. Ketika hari raya Idul Kurban ada beragam kegiatan keagamaan umat Islam untuk merayakan hari bahagia itu. Acara yang sering dilakukan pasca penyembelihan hewan kurban adalah pawai akbar yang diikuti dari berbagai kampung di daerah Piyungan dan sekitarnya. Dengan tema yang setiap tahun berbeda menuntut kreatifitas dari masing-masing peserta untuk unjuk kebolehan. 2.4 Dasar Ontologis Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Pengetahuan tentang adanya Tuhan telah dibuktikan secara rasional dengan argumentasi sebagai berikut: 1. Bukti adanya Tuhan secara Ontologis Berarti adanya segala di dunia tidak berada karena dirinya sendiri, melainkan kerena suatu yang disebut ide. Ide ini berada diluar segala sesuatu termasuk alam semesta. Maka yang dimaksud ide yang tertinggi adalah Tuhan sebagai kausa prima. 2. Bukti adanya Tuhan secara Kosmologis Berarti alam semesta (termasuk manusia) diciptakan oleh Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini mempunyai hubungan sebab akibat. Misalnya rentetan hubungan anak dengan orang tuanya, orang tuanya disebabkan oleh nenek dan kakeknya, begitu seterusnya, sehingga rangkaian tersebut sampailah pada suatu yang tidak disebabkan oleh yang lain yang disebut sebab pertama (kausa prima). 3. Bukti adanya Tuhan secara Teleologis Berarti alam diatur menurut suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain alam secara keseluruhan berevolusi dan beredar pada suatu tujuan tertentu. Bagian-bagian dari alam ini mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lain dan bekerja sama dalam Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 12 mencapai suatu tujuan tertentu. Maka dapatlah disimpulkan bahwa ada suatu dzat yang menentukan tujuan tersebut, yaitu Tuhan. 4. Bukti adanya Tuhan secara Psikologis Berarti pada suatu kenyataan bahwa kita memiliki suatu pengertian atau gagasan tentang Tuhan yang merupakan segala sesuatu yang sempurna, lalu kita mencoba untuk menerangkan asal mula gagasan tentang Tuhan sebagai sesuatu yang sempurna. Gagasan tersebut diperoleh dari jenis pengalaman-pengalaman tertentu atau diperoleh dari gagasan-gagasan lain yang digabungkan dan diperbandingkan. Namun, semua hal yang diperoleh dari pengalaman dan indrawi bersifat jauh dari sempurna. 2.5 Realisasi Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Tertib Hukum Indonesia Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kaitannya dengan tertib Hukum Indonesia pada hakikatnya segala peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia harus sesuai dengan hukum Tuhan sebagai sumber bahan dan sumber nilai. Pokok pikiran ke empat menyebutkan bahwa “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”, mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan penyelenggara negara untuk memegang budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Dengan kaitannya warga negara yang memeluk berbagai agama dan hak-hak asasi warga Negara diatur dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaan itu”. Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 13 2.6 Penerapan Dalam Kehidupan 1. Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta segala sesuatu dengan sifat-sifat yang sempurna dan suci seperti Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana dan sebagainya. 2. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua perintah- NYA dan menjauhi larangan-larangannya. Dalam memanfaatkan semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah manusia harus menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk yang ada di sekeliling manusia merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dengan sebaikbaiknya; harus dirawat agar tidak rusak dan harus memperhatikan kepentingan orang lain dan makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 14 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Perwujudan nilai-nilai Pancasila harus dimulai dari kesadaran seluruh masyarakat Indonesia ini. kehidupan beragama harus dapat membawa persatuan dan kesatuan bangsa, harus dapat mewujudkan nilainilai kemanusiaan yang adil dan beradab, harus dapat menyehatkan pertumbuhan demokrasi, sehingga membawa seluruh rakyat Indonesia menuju terwujudnya keadilan dan kemakmuran lahir dan batin. Namun, dalam kenyataannya masih belum sepenuhnya masyarakat mengamalkan nilai sila Ketuhanan Yang Maha Esa. 3.2 Saran Sebagai warga negara Indonesia yang mempunyai dasar negara Pancasila seharusnya mampu mengamalkan nilai-nilai pancasila. Terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa, karena demi mewujudkan bangsa yang berkarakter perlu adanya kesadaran yang tinggi bagi warga negaranya. Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 15 DAFTAR PUSTAKA Kansil., 1977., Pancasila dan UUD 1945 Dasar Falsafah Negara., Jakarta. Pradnya Paramita Notonagoro., 1994., Pancasila Secara Ilmiah Populer., Jakarta. Bumi Aksara Aziz, Abdul, Wahab., 1992.Pendidikan Pancasila 1., Jakarta. Bumi Aksara Eri, 2009. Sejarah Lahirnya Pancasila, (ww.pancasilaindonesia.com ). diakses pada 13 Februari 2016 pada pukul 16.00 WIB Oktavianipratama. 2012. Arti dan Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa (www.oktavianipratama.com). diakses pada 13 Februari 2016 pada pukul 16.30 WIB Sila Ketuhanan Yang Maha ESA 16

Judul: Makalah Pancasila

Oleh: Hidayatullah Sanauyah


Ikuti kami