Makalah Fikih

Oleh Septi Nulandri

15 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Fikih

MAKALAH FIKIH
MUZARA’AH, MUKHABARAH, DAN MUSAQAH

Dosen pengampu : Dodi Haryanto,M.Pd.I
Disusun oleh kelompok 10, 2 C Matematika



Riko Pardiansyah
Septi Nurwulandari

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SULTAN TAHA SAIFUDDIN
JAMBI
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah swt karena berkat rahmat
dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini yang membahas
tentang Muzara’ah, Mukhabarah, dan Musaqah. Selanjutnya kami ucapkan
terimakasih kepada Bapak Dodi Haryanto,M.Pd.I selaku Dosen Pengampu. Kami
menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan dalam makalah ini maka dari itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk makalah ini
kedepannya. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata pengantar
Daftar isi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
B. Rumusan masalah
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Musaqah
1.
Pengertian Musaqah
2.
Dasar hukum dan syarat Musaqah
3.
Rukun Musaqah
4.
Cara pelaksanaan Musaqah
B. Muzara’ah
1.
Pengertian Muzara’ah
2.
Dasar hukum dan syarat Muzara’ah
3.
Rukun Muzara’ah
4.
Cara pelaksanaan Muzara’ah
C. Mukhabarah
1.
2.
3.
4.

Pengertian Mukhabarah
Dasar hukum dan syarat Mukhabarah
Rukun Mukhabarah
Cara pelaksanaan Mukhabarah

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Apabila kita perhatikan kehidupan masyarakat Indonesia yang
agraris. Praktik pemberian imbalan atAs jasa seseorang yang telah
menggarap tanah orang lain masih banyak dilaksanakan pemberian
imbalan ada yang cenderung pada praktek muzara’ah dan ada yang
cenderung pada praktik mukhabarah. Hal tersebut banyak dilaksanakan
oleh para petani yang tidak memiliki lahan pertanian hanya sebagai petani
penggarap.
Muzara’ah dan mukhabarah ada Hadits yang melarang seperti yang
diriwayatkan oleh (H.R Bukhari) dan ada yang membolehkan seperti yang
diriwayatkan oleh (H.R Muslim).Berdasarkan pada dua Hadits tersebut
mudah – mudahan kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan oleh salah
satu

pihak,

baik

itu

pemilik

tanah

maupun

penggarap

tanah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Musaqah
1.

Pengertian Musaqah
Secara etimologi musaqah berarti penyiraman. Sedangkan
menurut terminologi yaitu kerjasama antara pemilik kebun san
penggarap. Sehingga kebun itu menghasilkan suatu yang menjadi
milik kedua belah pihak menurut perjanjian yang mereka buat.

2.

Hukum Musaqah
Landasan pelaksanaan musaqah ialah sabda Rasulullah saw

‫عن ابن عمر ان رسول هللا صلى هللا علىه وسلم عا مل اهل‬
‫خىبر بشطر ما يخرج منها من ثمر او زرع‬
Artinya: Dari ibnu umar ra. Sesungguhnya Nabi saw telah
memberikan kebun beliau kepada khaibar agar dipelihara oleh
mereka dengan perjanjian mereka akan memperolah bagian dari
penghasilannya baik dar buah-buahannya maupun dari hasil
tanamannya (HR. Muslim).
Imam syafi’i, Ahmad dan Imam Malik membolehkan
melakukan musaqah untuk semua jenis pepohonan tetapi
sebagaimana ulama lain musaqah hanya berlaku bagi kurma dan
anggur saja.
Syarat-syarat musaqah
a. Pohon atau tanaman yang dipelihara hedaknya jelas dapat
diketahui dengan mata atau dengan sifatnya karena musaqah
tidak sah terhadap barang yang tidak jelas.
b. Waktu pemeliharaan hendaknya jelas, misalnya setahun dua
tahun satu kali panen dan sebagainya, karena musaqah

merupakan akad yang pasti serupa jual beli sehingga terhindar
dari kericuhan
c. Hendaknya akad dilaksanakan sebelum dibuat perjanjian karena
muaqah merupakan akad pekerjaan
d. Bagian penggarap hendaknya jelas, apakah separuh sepertiga
dan seterusnya.
3.

Rukun Musaqah
Rukun musaqah ada lima yaitu :
a. Pemilik kebun (Musaaqi) dan penggarap (Saqiy), keduanya
hendaklah orang yang berhak membelanjakan harta
b. Pohon yang dipelihara, baik yang buahnya musiman tahunan
maupun terus menerus.
c. Pekerjaan yang harus diselesaikan penggaraparus jelas, baik
waktu jenis dan sifatnya,
d. Hasil yang diperoleh berupa buah, daun, kayu atau lain-lainnya.
Pembagian pekerjaan ini harus dijelaskan pada akad.
e. Akad, yaitu ijab qabul berupa tulisan, perkataan ataupun isyarat.

4.

Cara pelaksanaan musaqah

B. Muzara’ah
1.

Pengertian muzara’ah
Menurut etimologi, muzara`ah adalah wazan “mufa’alatun”
dari kata “az-zar’a” artinya menumbuhkan. Al-muzara’ah memiliki
arti yaitu al-muzara’ah yang berarti tharhal-zur’ah (melemparkan
tanaman),
Muzara’ah merupakan kerjasama antara pemilik sawah atau
ladang dan penggarap dengan bagi hasi menurut perjanjian
sedangkan benih dibebankan kepada pemiik tanah. muzara’ah
adalah bentuk kerjasama dalam bidang pertanian antara pemilik

lahan dengan petani penggarap. Dalam hal ini penggaraplah yang
menanami lahan itu dengan biaya sendiri, tanaman dan lahan
tersebut nanti dibagi antara kedua belah pihak sebagai pembayaran
atau upah dari penggarapan tersebut.
2.

Hukum dan syarat muzara’ah
Muzara’ah bentuk kerjasama yang rata-rata berlaku pada
pada perkebunan yang benihnya cukup mahal, misalnya cengkeh,
pala, jeruk manis, panili, dan sebagainya. Petani yang lemah tidak
mampu membeli benih tersebut dalam jumlah besar lagi pula
tanaman tersebut memerlukan masa yang cukup lama jadi tanpa
modal tidak mungkin hal itu dijangkaunya.
Dasar hukum muzara’ah adalah hadits Nabi :
…. ‫من كانت له ارض فليزرعها او ليمنحها اخاه فإن ابى فليمسك ارضه‬
artinya: “barang siapa yang memiliki tanah maka hendakalah
ditanami atau diberikan’.”
Setiap muslim yang akan melaksanakan akad muzaraah, harus
mengetahui syarat-syarat muzara’ah, antara lain:
1) ‘Aqidain, yakni harus berakal.
2) Tanaman, akni disyaratkan adanya penentuan macam apa saja
yang akan ditanam.
3) Perolehan dari hasil tanaman, yaitu:
a)

Bagian masing-masing harus disebutkan jumlahnya
(prosentase ketika akad).

b) Hasil adalah milik bersama.

c)

Bagan antara amil dan malik adalah dari satu jenis barang
yang sama.

d) Bagian kedua belah pihak sudah dapat diketahui.
e)

Tidak disyaratkan bagi salah satunya penambahan yang
maklum.

4) Tanah yang akan ditanami, yaitu tanah tersebut dapat ditanami
dan diketahui batas-batasnya.
5) Waktu, syaratnya adalah:
a)

Waktunya telah ditentukan,

b) Waktu itu telah memungkinkan untuk menanam tanaman
dimaksud, seperti menanam padi waktunya kurang lebih 4
bulan (tergantung teknologi yang dipakainya) atau menurut
kebiasaan setempat, dan
c)

Waktu tersebut memungkinkan kedua belah pihak hidup

menurut kebiasaan.
6) Alat-alat muzara’ah disyaratkan berupa hewan atau yang
lainnya dibebankan kepada pemilik tanah.
3.

Rukun Muzara’ah

4.

Cara pelaksanaan Muzara’ah

C. Mukhabarah
1.

Pengertian Mukhabarah
Mukhabarah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti
sawah atau ladang dengan imbalan sebagian hasilnya (seperdua,

sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya pengerjaan dan
benihnya ditanggung orang yang mengerjakan.
2.

Hukum dan syarat Mukhabarah

3.

Rukun Mukhabarh

4.

Cara pelaksanaan Mukhabarah

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Al-badar.net/pengertian-hukum-rukun-sifat-muzaraah/
Warungekonomiislam.blogspot.com

Judul: Makalah Fikih

Oleh: Septi Nulandri


Ikuti kami