Jawaban Soal No 1

Oleh Sarion Ado

231,3 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Soal No 1

BAHAN AJAR - 2 MATA KULIAH MANAJEMEN PROYEK PROYEK DAN MANAJEMEN FUNGSIONAL Oleh Dr. Yogi Sirodz Gaos, Ir., MT. A. TUJUAN Agar Mahasiswa mampu memahami tentang proyek dan manajemen fungsional yang meliputi antara lain ; manajemen proyek yang tumbuh karena dorongan mencari pendekatan pengelolaan yang sesuai dengan tuntutan dan sifat kegiatan proyek. Dinamika dan perilaku proyek yang berpengaruh besar terhadap pengelolaan adalah nonrutin, waktunya relatif pendek, aneka ragam kegiatan dengan intensitas naik turun secara tajam dan melibatkan multi organisasi dan banyak peserta. Berbagai pemikiran manajemen yang ada pengaruh besar terhadap konsep manajemen proyek, beberapa diantaranya adalah manajemen klasik, pemikiran sistem, dan pendekatan kontinjensi (situasional). Manajemen klasik yang sesuai untuk menangani kegiatan operasional rutin dianggap kurang cepat dalam menanggapi tuntutan dan perilaku kegiatan proyek. Untuk itu diperlukan berbagai penyesuaian seperti melembagakan arus kegiatan horisontal. Konsep manajemen proyek yang menginginkan adanya penanggung jawab tunggal yang berfungsi sebagai pusat sumber informasi yang berkaitan dengan proyek, integrator, dan koordinator semua kegiatan dan peserta sesuai kepentingan dan prioritas proyek. Konsep manajemen proyek yang juga bertujuan menciptakan keterkaitan yang erat antara perencanaan dan pengendalian. Hal ini terutama disebabkan cepatnya perubahan kegiatan dan berlangsung hanya sekali. Perumusan dan pelaksanaan konsep manajemen proyek yang melalui evolusi yang bertingkattingkat dimulai dari ekspeditor, koordinator, sampai menjadi bentuk seperti yang saat ini kita jumpai. B. MATERI KULIAH 1. Konsep dan Pemikiran Manajemen Dari sejumlah pemikiran manajemen modern, sedikitnya da tiga yang berpengaruh besar dan berkaitan erat dengan konsep manajemen proyek. Ketiga pemikiran manajemen modern itu adalah manajemen klasik atau manajemen fungsional atau “general management”, pemikiran sistem, dan pendekatan contingency. Manajemen klasik menjelaskan tugas-tugas manajemen berdasarkan fungsinya, yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin, danmengendalikan. Seringkali dimasukkan pula fungsi staffing ke dalam manajemen klasik. Namun, banyak pendapat yang menganggap bahwa tugas ini telah termasuk dalam fungsi mengorganisir. file.doc 1 Pemikiran sistem adalah pemikiran yang memandang segala sesuatu dari wawasan totalitas. Metodologinya yang erat berhubungan dengan penyelenggaraan proyek adalah sistem analisis, sistem engineering, dan sistem manajemen. Sistem engineering mencoba menjelaskan proses terwujudnya suatu sistem, atau dengan kata lain mencoba menerangkan langkah-langkah yang harus dilalui untuk mewujudkan suatu gagasan menjadi sistem yang berbentuk fisik. Dengan demikian, sistem engineering menjadi sejajar dngan yujuan proyek, yaitu merealisasi gagasan menjadi kenyataan fisik, misalnya instalasi pabrik atau produk manufaktur. Adapun pendekatan contingency atau situasional pada dasarnya berpendapat bahwa tidak ada satupun pendekatan manajemen terbaik yang dipakai untuk mengelola setiap macam kegiatan. Atau dengan kata lain, teknik pengelolaan yang bekerja baik untuk satu kegiatan tertentu tidka terjamin keberhasilan yang sama bagi kegiatan yang berbeda. Situasinya dapat berubah setiap waktu. Oleh karena itu, pengelolaan harus juga bersifat luwes (flexible). Masukan dan pengaruh berbagai pemikiran di atas dilukiskan pada Gambar 2-1. MANAJEMEN KLASIK (Manajemen berdasarkan fungsi) MANAJEMEN PROYEK PENDEKATAN SISTEM PENDEKATAN Contingency (Manajemen berorientasi pada totalitas) (Manajemen sesuai situasi ) (Mengelola kegiatan yang dinamis) (Dukungan) DISIPLIN LAIN (Arsitek, Engineering, Sosial, Ekonomi, dan lainlain) Gambar 2-1 Masukan pada manajemen proyek dan keterkaitannya dengan berbagai pemikiran manajemen dan disiplin ilmu. Multidisiplin Di samping konsep dan pemikiran ilmu-ilmu manajemen di atas, juga disadari bahwa manajemen proyek merupakan profesi multi disiplin dan bersifat kompleks yang tumpang tindih (overlaping) dengan disiplin lain, seperti ilmu teknik, sosial, dan ekonomi. Seberapa besar tumpang tindih dan dukungan tersebut bergantung pada sektor (industri, bidang atau area) yang sedang mengaplikasikan manajemen proyek. Misalnya, sektor pembangunan industri akan memerlukan banyak dukungan disiplin ilmu arsitek, engineering, dan kontruksi. Secara sederhana pengaruh dan masukan konsep dari ilmu di atas dapat dilihat pada Gambar 2-1. A. Manajemen Klasik atau Fungsional Salah satu pemikiran manajemen modern, Henry Fayol (1841-1925), seorang industrialis Perancis, adalah orang yang pertama menjelaskan secara sistemtis bermacam-macam aspek pengetahuan manajemen dengan menghubungkan fungsi-fungsinya. Fungsi yang dimaksud adalah file.doc 2 merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan. Aliran pemikiran di atas kemudian dikenal sebagai manajemen klasik, manajemen fungsional atau “general management”. H. Koontz (1982) memberikan definisi sebagai berikut : “Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan) yang telah ditentukan.” Yang dimaksud dengan proses ialah mengerjakan sesuatu dengan pendekatan tenaga, keahlian, peralatan, dana, dan informasi. Latar Belakang Pemikiran Pemikiran manajemen klasik berkembang pda jaman tumbuhnya industri modern dalam rangka mencari upaya menaikkan efisiensi dan produktivitas (hasil) pabrik pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya. Menurut H. Fayol, manajemen bukanlah bakat seseorang melainkan suatau kepandaian (skill) yang dapat dipelajari, yaitu dengan memahami teori dengan prinsip-prinsip dasarnya. Manajemen klasik menggolongkan kegiatan operasi perusahaan menajdi 6 butir seperti terlihat dalam Gambar 2-2; butir 6 membagi fungsi manajemen menjadi 5 fungsi. KEGIATAN OPERASI PERUSAHAAN a. merencanakan b. mengorganisir Teknis Koordinasi Keamanan Keuangan Akuntansi Manajemen dengan fungsi c. memimpin d. staffing e. mengendalikan Gambar 2-2 Kegiatan operasi perusahaan dan fungsi manajemen menurut H. Fayol. Fungsi manajemen menurut pengertian di atas dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :  Merencanakan Merencanakan berarti memilih danmenentukan langkah-langkah kegiatan yang akan datang dan diperlukan untuk mencapai sasaran. Ini berarti langkah pertama adalah menentukan sasaran yang hendak dicapai, kemudianmenyusun urutan langkah kegiatan untuk mencapainya. Berangkat dari pengertian ini maka perencanaan dimaksudkan untuk menjembatani antara sasaran yang akan diraih dengan keadaan atau situasi awal. Salah satu kegiatan perencanaan adalah mengambil keputusan, mengingat hal ini diperlukan dalam proses pemilihan alternatif.  Mengorganisir Mengorganisir dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan cara bagaimana mengatur dan mengalokasikan kegiatan serta sumber daya kepada para peserta kelompk (organisasi) agar dapat mencapai sasaran secara efisien. Hal ini berarti perlunya pengaturan peranan masing-masing anggota. Peranan ini kemudian dijabarkan menjadi pembagian tugas, tanggung jawab, dan otoritas. Atas dasar pembagian tesebut selanjutnya disusun struktur organisasi. file.doc 3  Memimpin Kepemimpinan adalah aspek yang penting dalam mengelola suatu usaha, yaitu mengarahkan dan mempengaruhi sumber daya manusia dalam organisasi agar mau bekerja dengan sukarela untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Mengarahkan dan mempengaruhi ini erat hubungannya dengan motivasi, pelatihan, kepenyeliaan, koordinasi dan konsultasi. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah gaya kepemimpinan yang hendak diterapkan karena berpengaruh besar terhadap keberhasilan dalam proses mencapai tujuan.  Mengendalikan Mengendalikan adalah menuntun, dalam arti memantau, mengkaji dan bila perlu mengadakan koreksi agar hasil kegiatan sesuai dengan yang telah ditentukan. Jadi, dalam fungsi ini, hasil-hasil pelaksanaan kegiatan selalu diukur dan dibandingkan dengan rencana. Oleh karena itu, umumnya telah dibuat tolak ukur, seperti anggaran, standar mutu, jadwal penyelesaian pekerjaan, dan lain-lain. Bila terjadi penyimpangan, maka segera dilakukan pembetulan. Dengan demikian, pengendalian merupakan salah satu upaya untuk meyakini bahwa arus kegiatan bergerak ke arah sasaran yang diingini.  Staffing Staffing sering dimasukkan sebagai salah satu fungsi manajemen, tetapi banyak yang menganggap kegiatan ini merupakan bagian dari fungsi mengorganisir. Staffing meliputi pengadaan tenaga kerja tenaga kerja, jumlah ataupun kualifikasi yang diperlukan sebagai pelaksanaan kegiatan, termasuk perekrutan (recruiting), pelatihan, dan penyeleksian untuk menempati posisi-posisi dalam organisasi. Prinsip Manajemen Klasik Pemikiran manajemen klasik mencakup periode yang amat panjang dan dikembangkan sejak abad ke-19, sewaktu kegiatan perusahaan belum sebesar dan sekompleks saat ini. Dari sejarah terlihat bahwa penerapan manajemen klasik untuk operasi perusahaan dan industri amat besar peranannya dalam ikut mengatar kemajuan dan kebesaran bidang tersebut sampai ke taraf dewasa ini. Adapun beberapa prinsip manajemen klasik yang penting di antaranya adalah seperti yang diuraikan berikut ini.  Departementalisasi dan Spesialisasi Seperti telah disinggung, latar belakang pemikiran manajemen klasik adalah keinginan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam suatu usaha. Salah satu upaya untuk maksud tersebut adalah dengan membagi atau mengelompokkan kegiatan sejenis ke dalam satu wadah atau departemen. Oleh karenanya, struktur organisasi dalam manajemen klasik disusun sesuai tujuan tersebut, misalnya berdasarkan fungsi yang sejenis, produk yang semacam, atau lokasi teritorial. Pemisahan kegiatan usaha atas dasar fungsi organik mendorong para pimpinan bidang (departemen) yang bersangkutan untuk lebih memperhatikan masing-masing bidangnya dibanding usaha koordinasi yang menyeluruh (menyangkut semua departemen).  Struktur Piramida Organisasi disusun menurut struktur piramida vertikal yang berfungsi sebagai kesatuan yang terpadu. Struktur ini mengandung pengertian bahwa ukuran besar kecilnya kompetensi sebanding dengan tinggi rendahnya tingkatan di lapisan yang berjenjang dari organisasi tersebut. Dengan demikian, keputusan-keputusan dan arus kegiatan perusahaan mengalir turunnaiksesuai hierarki. Tanggungjawab serta wewenang untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya diberikan kepada mereka sesuai dengan posisi di jenjang hierarki. Semakin tinggi posisi, semakin besar wewenang untuk mengambil keputusan. Pelaksanaan dan penjabaran keputusan disampaikan ke bawah, sedangkan informasi dan lapoaran pelaksanaan diajukan ke atas melalui lapisan birokrasi. file.doc 4  Otoritas dan Rantai Komando Pola otoritas (wewenang) mengikuti komando vertikal, mengalir dari jenjang teratas sampai urutan terbawah. Bawahan menerima perintah dari dan melapor kepada hanya satu atasan. Bila bawahan harus melapor kelebih dari satu atasan, maka akan timbul kebingungan. Wewenang pejabat terbatas pada batas-batas area (unit) yang bersangkutan atau didasarkan atas dokumen tertentu yang memberi penjelasan dan kewenangan khusus. Kegiatan dan tugas rutin sehari-hari dan para anggota tercermin pada bagan organisasi. Operasi sejenis di dalam organisasi berada di bawah satu pimpinan dengan program yang jelas dan konsisten. Misalnya, bidang logistik janganlah memiliki dua kepala bidang yang mungkin akan menerbitkan prosedur pembelian yang berbeda.  Pengambilan Keputusan dan Disiplin Dalam hal pengambilan keputusan, titik berat diarahkan untuk membina pejabat eksekutif agar dapat diserahi tanggung jawab dalam mengambil keputusan. Pembinaan tersebut dilakukan melalui seleksi yang ketat, pendidikan dan pelatihan, termasuk penugasan diberbagai bidang agar mengetahui operasi dan macam-macam masalah yang dihadapi di dalam perusahaan secara menyeluruh. Hal ini akan menambah pengalaman bagi yang bersangkutan dan membuatnya lebih mantap dalam mengambil keputusan. Semua pihak dalam organisasi berkewajiban menghormati peraturan yang telah dibuat. Disiplin akan tumbuh dari hasil kepemimpinan yang baik, termasuk perhatian atas keinginan subordinat dan adanya penalti bila terjadi pelanggaran.  Lini dan Staf Struktur organisasi manajemen klasik membedakan lini dan staf. Pejabat lini membuat keputusan-keputusan sesuai dengan wewenangnya, sedangkan anggota staf memberikan nasihat hasil dari pemikiran dan pengalamannya. Anggota staf tidak mempunyai wewenang mengeluarkan perintah kepada pejabat lini. Umumnya anggota staf berurusan dengan kegiatan yang bersifat keahlian atau spesialis.  Hubungan Atasan-Bawahan Dengan pembagian otoritas yang berjenjang dan jalur pelaporan satu arah, maka hal ini berarti keberhasilan kegiatan tergantung pada hubungan antara atasan dengan bawahan. Bila hubungan formal tersebut terjalin secara sehat, maka potensi tercapainya sasaran perusahaan menjadi besar. Keleluasaan ruang gerak bagi bawahan untuk mengembangkan inisiatif dan menciptakan suasana tumbuhnya semangat kerja sama perlu mendapatkan perhatian dari pimpinan.  Arus Kegiatan Horisontal Hubungan yang membuka arus kegiatan horisontal dalam manajemen klasik terselenggara dalam berbagai bentuk, seperti rapat koordinasi antar departemen, pembentukan komite, dan panitia untuk membicarakan dan membagi pekerjaan yang sifatnya memerlukan koordinasi yang intensif. Jadi, dalam hal ini tidak dalam bentuk institusi resmi dalam struktur organisasi.  Kriteria Keberhasilan dan Tujuan Tunggal Manajemen klasik cenderung memberikan tekanan pada tujuan tunggal, misalnya keuntungan perusahaan. Perkembangan dunia usaha dewasa ini menuntut agar disamping tujuan mencapai keuntungan, perlu diperhatikan pula faktor-faktor lain, seperti pelestarian lingkungan, harapan keikut sertaan masyarakat setempat untuk ikut memasok tenaga kerja dan material lokal. 2. Perilaku Proyek dan Pengelolaan yang Dituntutnya Kritik-kritik dari pengamatan ilmu manajemen serta praktisi di lapangan yang berurusan dengan penyelenggaraan proyek berpendapat bahwa penggunaan manajemen klasik yang telah berhasil mengelola kegiatan operasional rutin dengan lingkungan yang relatif stabil dirasakan kurang file.doc 5 mampu atau tidak cukup efektif untuk mengelola suatu kegiatan proyek. Yang penuh dengan dinamika dan perubahan cepat sehingga hasilnya pun tidak akan optimal. Penyebab utamanya dapat dilacak dari perilaku kegiatan proyek yang berbeda dari kegiatan operasi rutin. Dalam Bab 1 telah dibahas pokok-pokok perilaku kegiatan proyek dibanding kegiatan operasional rutin. Diantara perilaku tersebut, yang besar pengaruhnya terhadap tuntutan pengelolaan diuraiakan berikut ini. A. Jenis dan Intensitas Kegiatan Cepat Berubah dalam Kurun Waktu yang Relatif Pendek Kecuali proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sebagian besar proyek berlangsung tidak lebih dari 4 tahun. Dalam periode tersebut, jenis dan intensitas kegiatan mengalami perubahan yang cepat. Kegiatan dimulai dari tahap konseptual, kemudian dilanjutkan dengan tahap definisi, dan diakhiri dengan tahap implementasi fisik. Setiap tahap mempunyai kegiatan yang bersifat dominan dengan intensitas yang pada awalnya menanjak dan berangsur turun menjelang akhir tahap yang bersangkutan. Sebagai contoh, studi kelayakan untuk tahap konseptual dan konstruksi untuk tahap implementasi. Gambar 1-3 (lihat halaman 7 Bab 1) memperlihatkan naik turunnya intensitas kegiatan mengandung arti bahwa disamping memperhatikan kekhususan di setiap tahap, pengelolaan juga harus cepat tanggap (responsif) terhadap perubahan yang terjadi. Perencaaan penyediaan sumber daya ataupun prosedur pemakaiannya harus dapat mengikuti irama naik turunnya intensitas ataupun perubahan jenis kegiatan dengan tepat. Tanggapan yang terlalu lambat ataupun terlalu cepat akan mengakibatkan pemborosan yang merugikan proyek. Disamping mengelola kegiatan jangka pendek dengan intensitas dan jenis kegiatan yang berubah cepat tersebut, dibutuhkan pula metode dan teknik pemantauan, pengawasan dan pengendalian yang cukup peka atau sensitif. Hal ini akan memungkinkan ditemukannya penyimpangan selagi masih dalam tahap awal sehingga masih tersedia waktu untuk mengadakan perbaikan sebelum berdampak besar. B. Sifat Kegiatan yang Nonrutin dengan Sasaran Jelas dan Waktu Terbatas Kegiatan nonrutin berarti dalam banyak hal belum dikenal. Hal ini terutama untuk perusahaan pemilik proyek yang jarang menyelenggarakan proyek. Bahkan bagi perusahaan engineering dan kontruksi pun masih ada hal-hal baru yang membedakan proyek satu dengan yang lain. Karena faktor tersebut, ditambah tekanan syarat yang ketat yang berkaitan dengan jadwal, mutu, dan biaya,maka kegiatan proyek memerlukan perhatian khusus dari perusahaan yang bersangkutan. Dalam hal ini diperlukan suatu pendekatan tertentu dari segi organisasi ataupun prosedural yang memungkinkan perhatian khusus tersebut terlaksana. Misalnya, dengan mengubah atau menambah jalur laporan dan komunikasi dalam organisasi perusahaan dan menunjuk individu sebagai penanggung jawab pelaksana. Adanya sasaran yang jelas, jadwal yang ketat, dan keberadaannya yang bersifat sementara, sering diartikan sebagai kegiatan yang bercorak program kilat (crash program) yang cenderung memprioritaskan pencapaian jadwal ketimbang sasaran yang lain. Sebetulnya bukan pengertian tersebut yang dimaksudkan, melainkan karena keterbatasan waktu maka perencanaan dan keputusan yang diambil hendaknya didasarkan atas analisis yangmatang. Analisis yang matang dan keputusan yang tepat dalam waktu terbatas akan dapat terjadi bila ada perhatian khusus terhadap kegiatan tersebut. Seperti telah diutarakan di atas, hal ini akan lebih dimungkinkan bila ada individu yang mligi (dedicated) diserahi tanggung jawab sepenuhnya (fulltime) utnuk mengelola kegiatan yang dimaksud. C. Sifat Kegiatan yang Bermacam-macam serta Meliputi Berbagai Keahlian Macam kegiatan proyek beraneka ragam, mulai dari pengkajian aspek ekonomi, masalah dampak lingkunga, desain-engineering, pembelian, manufaktur (kontruksi) sampai pada inspeksi dan uji coba produk, gedung atau instalasi yang selesai dibangun. Masing-masing kegiatan memerlukan tenaga ahli atau keahlian dari setiap disiplin ilmu yang bersangkutan. Selain itu, kegiatan-kegiatan file.doc 6 tersebut dengan yang lain mempunyai keterkaitan yang spesifik. Dengan tujuan agar pengelolaan yang dihasilkan oleh suatu jalur komuniksi yang lebih pendek dan efektif, sering sekali penanggung jawab proyek (pimpro) berkeinginan agar para spesialis tadi ditempatkan dalam satu wadah dan dipimpin oleh pimpro. Kecuali untuk proyek yang berjangka panjang atau memiliki arti khusus, pada umumnya kegiatan ini tidak terlaksana karena tidak efisien bila dilihat dari kepentingan perusahaan secara keseluruhan. Ini akan mngakibatkan terpecahnya atau terjadinya fragmentasi penggunaan tenaga ahli yang seharusnya selalu dipupuk dan ditingkatkan kualitasnya. Peningkatan kualitas lebih dimungkinkan bila mereka tetap berada di departemennya masingmasing. Adanya “fragmentasi” yang ditandai dengan tersebarnya tenaga ahli keberbagai kantor (lokasi) proyek dalam waktu yang relatif lama akan cepat mengurangi kemampuan departemen yang bersangkutan dan juga perusahaan untuk menangani proyek yang lain, yang mungkin datang pada waktu yang bersamaan. Untuk mengatasi hal ini, cara yang lazim ditempuh adalah mengusahakan penggunaan bersama (share) sumber daya atau tenaga ahli oleh beberapa proyek dari departemen fungsional, dengan membuka arus kegiatan horisontal. D. Bersifat Multikompleks Kompleksitas suatu proyek, di samping ditandai oleh banyaknya jenis dan jumlah kegiatan, juga ditandai oleh jumlah hubungan ke dalam dan ke luar dari organisasi-organisasi peserta proyek. Hubungan ke dalam adalah hubungan dengan departemen fungsional, mulai daripersonalia, pemasaran, hubungan masyarakat sampai pada engineering, manufaktur, dan logistik. Semua ini merupakan bagian organisasi perusahaan yang langsung terlibat dalam penyelenggaraan proyek. Sedangkan hubungan keluar adalah hubungan dengan subkontraktor, rekanan, instansi pemerintah, penyandang dana, dan lain-lain. Kompleksitas di atas “diperberat” dengan kenyataan adanya saling ketergantungan antara satu kegiatan dengan yang lain. Misalnya, kegiatan A belum dapat dimulai sebelum kegiatan B yang dikerjakan oleh organisasi lain selesai. Dalam mengelola kegiatan demikian, diperlukan koordinasi dan integrasi yang intensif, karena bila tidak, dikhawatirkan sasaran proyek tidka akan tercapai. Satu saja mata rantai pekerjaan tersebut tidak singkron, akan timbul dampak negatif terhadap hasil keseluruhan. Keadaan yang digambarkan di atas dijumpai hampir di setiap proyek, terutma pada proyek-proyek berukuran sedang dan besar (mega). Untuk mengatasi masalah di atas, lazim diusahakan langkahlangkah sebagai berikut :  Mengadakan rapat koordinasi atau kontak bentuk lain di antara pihak yang berkepentingan.  Membentuk panitia ad-hoc dengan anggota yang terdiri dari wakil organisasi yang berkepentingan.  Membuat prosedur dan peraturan kerja sama.  Membuat rencana kerja dengan melibatkan mereka yang bersangkutan. Meskipun langkah di atas telah dilakukan, seringkali hasil yang diperoleh tidak memuaskan. Oleh karena itu, pilihan yang dianggap tepat adalah dibentuknya institusi atau posisi permanen selama proyek berlangsung, yang berfungsi sebagai koordinator dan integrator agar kegiatan itu ditangani sebagai kesatuan utuh oleh individu yang memiliki tanggung jawab atas keberhasilan proyek secara keseluruhan. E. Kegiatan Berlangsung Sekali Lewat dengan Kadar Risiko Tinggi Hampir semua usaha mengandung risiko. Demikian juga halnya dengan proyek. Bahkan bagi sebuah proyek, gambaran risiko tinggi telah tampak sejak dari awal pengembangan, karena sebagian besar memunculkan proyek dimulai oleh suatu gagasan atau ide yang masih dalam bentuk konseptual. Dalam proses pengembangan proyek-dari ide sampai pada keputusan untuk file.doc 7 mengadakan investasi atau implementasi-banyak dipergunakan asumsi-asumsi dan prakiraan karena memang belum terdapat cukup informasi dan data yang tersedia. Dengan demikian, risiko yang dikandungnya akan sebanding dengan asumsi dan prakiraan di atas. Risiko yang dihadapi ditambah oleh adanya kenyataan bahwa kegiatan proyek hanya berlangsung sekali lewat, mengikuti siklus kelangsungan proyek atau project life cycle. Makna dari suatu kegiatan yang berlangsung sekali lewat ialah tidak dikehendakinya adanya pengulangan karena akan mengakibatkan penambahan biaya dan melewati jadwal yang ditentukan. Untuk keperluan itu digunakan pendekatan sebagai berikut :  Dilakukan pengkajian yang menyoroti semua aspek kelayakan proyek sebelum memasuki tahap implementasi.  Pengkajian dilakukan tahap demi tahap. Pada setiap akhir tahap ilihat perlu tidaknya dilanjutkan tahap berikutnya. Bila masih dipandang perlu, dikeluarkan dana yang terbatas untuk pengkajian berikutnya saja. Dengan demikian, dicegah pengeluaran yang sekaligus berjumlah besar, sedangkan risiko kelangsungan proyek dalam arti terus atau dihentikan masih belum jelas benar.  Untuk menghindari pengulangan diusahakan membuat perencanaan pekerjaan seteliti mungkin, dengan memakai metode sesuai keperluan, misalnya lingkup proyek diuraikan menjadi komponenkomponen, kemudian disusun kembali menurut logika ketergantungan. F. Peserta Mempunyai Multisasaran yang Seringkali Berbeda Telah disinggung sebelumnya bahwa peserta proyek terdiri dari berbagai bidang, baik dari internal (pemasaran, engneering, keuangan, kontruksi, dan lain-lain) maupun eksternal (rekanan, subkontraktor, penyandang dana, dan lain-lain) Perusahaan. Disamping mempunyai sasaran yang sama, para peserta ini juga mempunyai sasaran lain yang berbeda atau bahkan berlawanan dengan sasaran peserta lain. Misalnya, pemilik, kontraktor, dan rekanan smaa-sama bertujuan menyukseskan proyek, tetapi pemilik menginginkan harga proyek yang rendah sedangkan kontraktor dan rekanan berusaha memperoleh laba setinggi mungkin. Berbeda dengan pengelola organisasi dengan tujuan tunggal (operasi pabrik), disini pengelola berhadapan dengan gabungan dari berbagai organisai atau bagian-bagiannya yang relatif mandiri, dengan multisasaran. Dalam keadaan demikian, pengelola hendaknya menggunakan pendekatan sistem agar kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dapat terjalin menjadi satu sistem terpadu dengan prioritas tunggal, yaitu kepentingan proyek. G. Waktu Mulai dan Penutupan Mengingat periode berlangsungnya siklus proyek alternatif pendek maka akan selalu ada kegiatan awal yang terjadi pada waktu mulai (initiating) dan pada waktu penutupan (closing), sehingga perlu suatu pengelolaan spesifik yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Keadaan ini berbeda dengan pengelolaan operasi rutin (on-going operation) yang meskipun juga mengenal masa awal dan akhir, jarak waktu yang memisahkannya sangat lama (umumnya puluhan tahun sesuai dengan umur perusahaan yang bersangkutan). Pada konsep manajemen proyek, peristiwa tersebut dijelaskan sebagai berikut : 1. Proyek Inisiasi Tahap ini menandai dan mengakui proyek mulai berlangsung. Peristiwa ini umumnya didahului oleh kegiatan studi kelayakan dan definisi keperluan lain-lainnya. 2. Penutupan atau Terminasi Proyek Tahap ini adalah masa akhir siklus proyek yang ditandai dengan adanya kegiatan-kegiatan penyerahan hasil akhir proyek, seperti inspeksi dan testing akhir, prakomisi, star-up serta turnover. Proyek inisiasi dan terminasi meliputi kegiatan-kegiatan yang jenisnya spesifik. Artinya, banyak berbeda dengan kegiatan yang terjadi pada periode lain dari siklus proyek, dan karena itu memerlukan pendekatan pengelolaan sendiri. file.doc 8 Ringkasan Perilaku Proyek dan Pengelolaan yang Diperlukan Tabel 2-1 adalah ringkasan dari perilaku dan fenomena kegiatan proyek dengan tanggapan pengelolaan yang diperlukan. Tabel 2-1 Beberapa perilaku dan fenomena kegiatan proyek dan pengelolaan yang diperlukan. Perilaku dan Fenomena Kegiatan Proyek Tuntutan Pengelolaan dan Tanggapan untuk Mengatasinya Cepat tanggap atas adanya perubahan. a. Bersifat dinamis. Intesitas dan jenis kegiatan berubah dalam waktu relatif pendek. Metode pemantauan pengendalian harus sensitif. dan b. Nonrutin, belum dikenal, ettapi sasaran telah digariskan dengan jelas dalam waktu terbatas. terpadu c. Kegiatan bermacam ragam meliputi bermacam keahlian dan ketrampilan Perhatian khusus oleh tim yang berdedikasi di bawah pimpro. sekali dan pengendalian Agar pemakaian sumber daya efisien dari segi perusahaan, perlu pemakaian bersama (share), digunakan organisasi matriks. d. Bersifat multikompleks. Melibatkan banyak peserta dari luar dan dari dalam organisasi. e. Kegiatan berlangsung dengan risiko elatif tinggi. Perencanaan Penanggung jawab tunggal, penekanan pada koordinasi dan integrasi, pendekatan sistem dalam implementasi. lewat, Pendekatan pragmatis, setapak demi setapak, digunakan analisis sistem dalam perencanaan. f. Pelaksanaan kegiatan oleh banyak pihak, bidang, atau organisasi. Untuk emperkecil hambatan birokrasi diciptakan arus kegiatan dan komunikasi horisontal. g. Organisasi peserta proyek sering mempunyai sasaran yang sama dan berbeda pada waktu yang bersamaan. - Bersifat joint venture. - Pendekatan manajemen sistem. 3. Manajemen Proyek Pembahasan di atas adalah identifikasi beberapa perilaku yang dominan dari kegiatan proyek yang menumbuhkan keharusan cara pengelolaan yang berbeda dari pengelolaan suatu kegiatan dengan lingkungan dan suasana yang relatif stabil seperti kegiatan operasi rutin. Cara pengelolaan tersebut kemudian dinamakan manajemen proyek. Sehubungan dengan itu dikenal berbagai batasan atau definisi, tergantung aspek apa yang ingin diberi penekanan. Salah satu diantaranya adalah dari H. file.doc 9 Kerzner (1982) yang melihatnya dari wawasan manajemen berdasarkan fungsi dan bila digabungkan dengan pendekatan sistem akan menjadi sebagai berikut : “Manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh, manajemen proyek menggunakan pendekatan sistem dan hierarki (arus kegiatan) vertikal dan horisontal”. Dari definisi tersebut terlihat bahw akonsep manajemen proyek mengandung hal-hal pokok sebagai berikut :  Menggunakan pengertianmanajemen berdasarkan fungsinya, yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin, danmengendalikan sumber daya perusahaan yang berupa manusia, dana, dan material.  Kegiatan yang dikelola berjangka pendek, dengan sasaran yang telah digariskan secara spesifik. Ini memerlukan teknik dan metode pengelolaan yang khusus, terutama aspek perencanaan dan pengendalian.  Memakai pendekatan sistem (system approach to management).  Mempunyai hierarki (arus kegiatan) horisontal di samping hierarki vertikal. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa manajemen proyek tidak bermaksud meniadakan arus kegiatan vertikal atau mengadakan perubahan total terhadap manajemen klasik, tetapi ingin memasukkan (incorporated) pendekatan, teknik serta metode yang spesifik untuk menanggapi tuntutan dan tantangan yang dihadapi, yang sifatnya juga spesifik, yaitu kegiatan proyek. A. Wawasan Proyek versus Fungsional : Suatu Perbandingan Untuk lebih memperjelas apa yang telah diuraikan di atas, Tabel 2-2 memaparkan perbandingan antara wawasan manajemen proyek dengan manajemen fungsional yang mewakili pemikiran klasik untuk beberapa fenomena. Tabel 2-2 Wawasan manajemen proyek versus fungsional untuk beberapa fenomena menurut D.I. Cleland dan W.R. King (1993). Fenomena  Lini-staf dikotomi.  Hubungan atasan dengan bawahan  Struktur piramida  Kerja sama untuk mencapai tujuan.  Kesatuan komando file.doc Wawasan Proyek (Manajemen Proyek)  Hierarki lini-staf serta wewenang dan tanggung jawabnya tetap ada sebagian fungsi penunjang.  Manajer ke spesialis, kelompok dengan kelompok.  Unsur-unsur rantai hubungan vertikal tetap ada, ditambah adanya arus kegiatan horisontal.  Joint venture para peserta, ada tujuan yang sama dan ada juga yang berbeda.  Manajer proyek mengelola, menyilang lini fungsional untuk mencapai sasaran. 10      Wawasan Fungsional (Manajemen Klasik) Fungsional lini mempunyai tanggung jawab tunggal untuk mencapai sasaran. Merupakan dasar hubungan pokok dalam struktur organisasi. Kegiatan utama organisasi dilakukan hierarki vertikal. Kelompok dalam organisasi dengan tujuan tunggal. Manajer lini merupakan pimpinan tunggal dari  Wewenang dan tanggung jawab.  Jangka waktu  Terdapat kemungkinan tanggung jawab lebih besar dari otoritas resmi.  Kegiatan manajemen proyek berlangsung dalamjangka pendek. Tidak cukup waktu untuk mencapai optimasi operasional proyek. kelompok yang bertujuan sama.  Tanggung jawab sepadan dengan wewenang integritas, tanggung jawab, dan wewenang terpelihara.  Terus-menerus dalam jangka panjang sesuai umur instalasi dan produk. Optimasi dapat diusahakan maksimal. B. Teknik dan Metode yang Bercorak Khusus Beberapa teknik dan metode spesifik untuk menangani kegiatan proyek yang sampai derajat tertentu membedakannya dari manajemen klasik, diantaranya adalah seperti diuraikan sebagai berikut : 1. Merencanakan Pada aspek perencanaan, baik manajemen proyek maupun klasik mengikuti hierarki perencanaan (sasaran-objektif-strategi-operasional). Namun, pada tahap operasional, manajemen proyek perlu didukung oleh suatu metode perencanaan yang dapat menyusun secara cermat urutan pelaksanaan kegiatan ataupun penggunaan sumber daya bagi kegiatan-kegiatan tersebut agar proyek dapat diselesaikan secepatnya dengan penggunaan sumber daya sehemat mungkin. Metode dan teknik yang dimaksud adalah sebagai berikut :  Analisis jaringan kerja, seperti Metode Jalur Kritis (CPM), Teknik Pengkajian dan Telaah Proyek (PERT), dan Metode Preseden Diagram (PDM).  Metode penyusunan perkiraan biaya proyek, dilakukan dengan bertahap, sesuaid engan kperluan dan informasi yang tersedia pada waktu yang bersangkutan, yang dikenal dengan perkiraan biaya pendahuluan (preliminary cost estimate), perkiraan biaya proyek (project budget), dan perkiraan biaya definitif (definitif estimate). 2. Mengorganisir Dibuat susunan organisasi yang memacu terselenggaranya arus kegiatan horisontal ataupun vertikal, dengan tujuan dicapainya penggunaan sumber daya secara optimal. Untuk ini diusahakan agar penyusunan dilakukan dengan menggunakan susunan organisasi matriks. Dalam pada itu, diperkenalkan pula WBS atau susunan rincian lingkup kerja yang “mempertemukan” pelaksana dengan paket yang hendak dikerjakan. Satu catatan khusus mengenai arus horisontal, yaitu dasar pemikiran ini dimaksudkan untuk memperlancar proses pelaksanaan pekerjaan yang seringkali melibatkan sejumlah organisasi pesetta proyek di luar dan di dalam perusahaan. Yang dimaksud dengan arus horisontal adalah pengelola proyek-dalam hal ini para manajer, tenaga ahli, pengawas, dan lain-lain yang berhubungan dengan kegiatan pelaksanaan proyek- yang dalam rangka melakukan tugasnya membuka hubungan atau komunikasi satu dengan yang lain agar arus kegiatan dapat mengalir secara horisontal. Ini dapat merupakan individu atau kelompok (tim), antara tim inti proyek dengan departemen fungsional di dalam organisasi perusahaan, ataupun dengan organisasi diluar perusahaan. Pertimbanagannya adalah bila hanya memakai arus kegiatan vertikal (jalur vertikal), diperlukan waktu yang terlalu lama karena harus mengikuti prosedur birokrasi yang berlapis-lapis, yang semula dirancang dan diperlukan untuk kegiatan rutin operasional. Dengan adanya kegiatan file.doc 11 arus horisontal, diharapkan pihak-pihak yang bersangkutan dapat dibicarakan dan merundingkan lansung secara kontinyu masalah yang dihadapi, termasuk tidak lanjut yang diperlukan demi keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas yang diserahkan kepada mereka. 3. Memimpin Pimpinan tunggal dari kelompok dan bagian organisasi disrehi tugas khusus (proyek). Jadi, dia memimpin tim dalam bentuk koordinasi dan integrasi yang arus kerjanya vertikal dan horisontal menyilang lini/struktur fungsional yang telah “ada” sebelumnya. Pada umumnya digunakan gaya kepemimpinan yang mengarah ke partisipasi, meskipun dalam beberapa situasi digunakan gaya orientasi ke tugas. Untuk melengkapi atau menambah otoritas resmi pimpro yang umumnya dianggap kurang dibanding tanggung jawabnya, maka harus dikembangkan expert power dan referent power. Penanggung Jawab Tunggal Karena sifat kegiatan proyek dan bentuk pengelolaan seperti telah diuraikan sebelumnya, perlu adanya satu titik tumpuan yang dapat bertindak sebagai  Pusat sumber informasi bagi semua masalah yang berkaitan dengan proyek.  Pelaku koordinasi dan tindak lanjut antara peserta proyek.  Integrator dan pendorong agar kegiatan-kegiatan dikerjakan sesuai prioritas dankepentingan yang lain dari proyek.  Penanggunggugatan (accountability) terhadap pelaksanaan penyelenggaraan proyek. Sebagai penanggung jawab tunggal ditunjuk manajer proyek (pimpro) atau yang setara dengannya. Aspek Integrasi Penekanan khusus fungsi kepemimpinan dalammanajemen proyek adlah sebagai integrator, terutama bila manajemen proyek ini beroperasi dengan memakai struktur organisasi matriks. Dalam struktur organisasi tersebut terlihat dengan jelas adanya ketergantungan teknis ataupun organisatoris antara pihak-pihak peserta, baik dari dalam maupun luar organisasi. Sebagian besar dari mereka tidak berada dibawah komando pimpro. Bila kadar ketergantungannya cukup besar, maka diperlukan langkah integrasi yang intensif agar kegiatan bisa menajdi sinkron dan tidak terlepas sendiri-sendiri. 4. Mengandalikan Dalam kegiatan proyek, diperlukan danya keterpaduan antra perencanaan dan pengendalian yang relatif lebih erat dibanding dengan kegiatan yang bersifat rutin. Untuk itu perlu digunakan metode yang sensitif, artinya dapat engungkapkan atau mendeteksi penyimpangan sedini mungkin. Metode yang dimaksud, misalnya konsep earned value dan C/S-CSC. 5. Menggunakan Pendekatan Sistem Pendekatan ini menekankan bahwa proyek adalah bagian dari siklus sistem yang lengkap. Dengan demikian, penaganannya hendaknya mengikuti metodologi sistem. Misalnya, pada tahap konseptual dan PP/Definisi dipakai analisis sistem sebagai sarana dalam mengambil keputusan. Untuk meujudkan gagasan menjadi kenyataan fisik dipakai engineering sistem, sedangkan pada tahap implementasi dipakai manajemen sistem. Manajemen sistem ditandai oleh upaya mencapai keberhasilan total sistem, bukan unsur-unsurnya. Sebagai contoh, upaya optimasi keluaran (output) sistem (perusahaan)-bukan subsistem seperti departemen logistik, departemen keuangan, manufaktur, atau yang lain-lainnya. Butir-butir di atas akan merupakan bahan kajian utama pada bab-bab yang membahas organisasi, kepemimpinan dan metode perencanaan dan pengendalian, serta konsep pemikiran sistem. file.doc 12 Pada Gambar 2-3 dijabarkan 5 fungsi manajemen klasik (A) yang pada dasarnya dirancang untuk mengelola kegiatan operasi rutin dengan keadaan yang relatif stabil, kemudian 5 fungsi itu dihadapkan pada perilaku kegiatan proyek (B). 6. Pendekatan Contingency atau Situasional Para pemikir maslah manajemen yang mengamati aplikasi teori-teori manajemen yang efektif untuk situasi tertentu tidak memberikan hasil sesuai dengan harapan untuk situasi lain. Dengan kata lain, teknik pengelolaan yang bekerja dengan baik bagi suatu kegiatan tidak menjamin keberhasilan yang sama bagi kegiatan tidak menjamin keberhasilan yang sama bagi kegiatan yang berbeda. Dengan latar belakang hasil pengamatan tersebut, timbul pendekatan yang dikenal sebagai pendekatan contingency yang menyatakan bahwa tugas manajemen adalah mengidentifikasi teknik dan metode mana yang harus digunakan untuk menangani suatu kegiatan pada waktu dan kondisi tertentu. Ringkasan Hubungan Manajemen Klasik/Fungsional dan Pengelolaan Proyek MANAJEMEN KLASIK-FUNGSIONAL (5 fungsi manajemen) 1. Merencanakan 2. Mengorganisir 3. Staffing 4. Memimpin 5. Mengandalikan PERILAKU PROYEK (Perbedaan yang dominan terhadap operasi rutin) Nonrutin Sekali lewat Kompleks Erat terkait Banyak peserta Banyak ragam pekerjaan Waktu pendek Sementara Sementara Waktu pendek Jenjang karir Bukan komando tunggal Tenaga ahli Kurang otoritas Kurang sasaran motivasi Sekali lewat Erat terkait Berubah cepat MANAJEMEN PROYEK (Penerapan 5 fungsi manajemen terhadap kegiatan proyek) Management by exception Jaringan kerja (jalur kritis) Setapak demi setapak file.doc Matriks Horisontal Koordinasi Integrasi Vertikal Sumber luar yang siap Pelatihan minimal 13 Penaggung jawab tunggal Deteksi sensitive Expert dan reference Peramalan power Erat dengan Gaya partisipasi perencanaan Gambar 2-3 Ringkasan hubungan manajemen fungsional dengan manajemen proyek. C. Evolusi Manajemen Proyek Perumusan dan pelaksanaan manajemen proyek tidak langsung selengkap dan secanggih apa yang dikenal dewasa ini, tetapi mengalami pertumbuhan setapak demi setapak. Suatu penelitian perihal perkembangan manajemen proyek, khususnya yang berkaitan dengan organisasi, telah dilakukan oleh Keith Davis terhadap berbagai perusahaan. Ia mempelajari bermacam organisasi yang oleh perusahaan yang bersangkutan diberi nama sebagai organisasi manajemen proyek. Dari penelitian tersebut ia mengidentifikasi empat jenis organisasi berikut : Ekspeditor Proyek Ekspeditor proyek tidak melaksanakan fungsi manajer, tetapi menegerjakan dua fungsi pokok, yaitu :  Sebagai “ekspeditor pekerjaan”.  Sebagai pusat komunikasi penyelenggara proyek. Ekspeditor menjelaskan “bahasa” dan aspek teknik yang kompleks menjadi parameter yang perlu diketahui oleh pimpinan dan mereka yang berkepentingan secara biaya, jadwal, mutu, harga barang, dan situasi umum proyek. Sebagai pusat komunikasi, ekspeditor proyek siap menjawab pertanyaan dan memberikan informasi kemajuan proyek dan masalah lain kepada stake holder. Koordinator Proyek Koordinator proyek adalah pimpinan staf dan mempunyai kebebasan untuk bertindak dan bertanggung jawab atas tindakannya. Ia melaksanakan kepemimpinannya melalui prosedur, bukan otoritas lini. Konfederasi Proyek Mempunyai fungsi manajemen, seperti merencanakan, mengorganisir, memimpin, melakukan motivasi, dan mengendalikan kegiatan kegiatan proyek, termasuk juga pekerjaan ekspeditor dan koordinator. Meskipun demikian, konfederasi proyek belum memiliki otoritas lini secara penuh. Manajemen Proyek Disini manajer proyek mempunyai wewenang penuh untuk memimpin penyelenggaraan proyek. Disamping itu, ia memiliki jalur kontrak yang luas, baik ke dalam maupun ke luar, seperti pemimpin perusahaan yang bersangkutan, kontraktor, rekanan, subkontraktor adan lain-lain. Beberapa perusahaan atau badan menggunakan bentuk organisasi di atas sesuai dengan perkembangan usahanya. Meskipun saat ini manajemen proyek dianggap telah tumbuh ke tingkat “kedewasaan”, ini bukan berarti bahwa bentuk awalnya tidak dijumpai lagi. Bab 13 membahas lebih lanjut struktur organisasi proyek yang sering digunakan. D. Kapan Manajemen Proyek Digunakan Sampai sejauh ini telah dibahas konsep manajemen proyek dan kaitannya dengan manajemen klasik yang dijumpai pada perusahaan-perusahaan yang menangani kegiatan operasional secara rutin. Sedangkan untuk kegiatan proyek, diperkenalkan konsep manajemen proyek. Dalam hubungan ini D.I. Cleland dan W.R. King berpendapat lebih jauh, yaitu menyarankan agar dipertimbangkan utnuk menggunakan manajemen proyek bila menghadapi situasi sebagai berikut : file.doc 14  Menyangkut Reputasi Perusahaan Bila keberhasilan atau pelaksanaan (implementasi) suatu kegiatan berpengaruh besar terhadap reputasi perusahaan, maka dianjurkan untuk menggunakan manajemen proyek. Pendekatan ini memungkinkan mobilitasi tenaga dan sumber daya lain secara efektif.  Derajat Keterkaitan dan Ketergantungan yang Amat Besar Bila tujuan usaha harus dicapai dengan melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan kerja sama erat dari berbagai bidang internal ataupun eksternal organisasi, maka akan terasa perlunya arus horisontal dan penanggung jawab tunggal yang merupakan unsur penting manajemen proyek.  Besarnya Ukuran Kegiatan (Usaha) Bilamana volume kegiatan suborganisasi secara subtansial melebihi beban normal pada kurun waktu tertentu sehingga untuk melaksanakannya memerlukan tambahan sumber daya, maka pendekatan pengelolaan dengan dengan manajemen proyek berguna untuk dipertimbangkan agar penggunaan sumber daya dapat efektif dan efisien dipandang dari segi perusahaan secara menyeluruh. C. LATIHAN 1. Sejak dahulu telah dikenal adanya proyek besar dan kompleks seperti membangun candi, piramida dan istana, sehingga penanganannya bukan merupakan hal baru. Apakah perbedaannya dengan jaman kini sehingga perlu dicari pendekatan pengelolaan yang mendorong timbulnya ilmu manajemen proyek. Kegiatan proyek (E-MK) bertujuan mewujudkan gagasan menjadi bentuk fisik, seperti fasilitas produksi atau produk baru. Sedangkan kegiatan operasi dimaksud mendayagunakan fasilitas atau produk hasil proyek. Dengan latar belakang demikian, identifikasikanlah perbedaan penekanan terhadap berbagai aspek pengelolaan yang diperlukan! Manajemen klasik atau general management dianggap kurang efektif menanggapi kegiatan proyek. Mengapa demikian? Dalam hal-hal apa kekurangan tersebut terlihat jelas? Konsep manajemen proyek tersusun setelah pemikiran-pemikiran manajemen terdahulu diterapkan dalam pengelolaan berbagai kegiatan. Berikan contoh masukan pemikiran terdahulu yang dominan terhadap manajemen proyek dan jelaskan sejauh mana pengaruhnya! Apakah yang dimaksud dengan arus horisontal? Apa tujuannya dan bagaimana mekanisme bekerjanya? Mengapa aspek koordinasi dan integrasi mendapat penekanan utama dalam penyelenggaraan proyek lebih daripada pengelolaan kegiatan rutin? Uraikan jawabannya! Dlam sejarah perkembangan manajemen proyek dikenal adanya kedudukan seperti ekpeditor proyek, koordinator proyek, dan pemimpin proyek. Jelaskan fungsi mereka masing-masing! Dalam organisasi proyek yang dikenal saat ini, fungsi tersebut dipegang oleh siapa? Terdapat tumpang tindih (overlaping) berbagai komponen disiplin ilmu “general management” dan manajemen proyek. Sebutkan dan jelaskan! 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. D. DAFTAR PUSTAKA Ali, Tubagus Haedar. 1989. Prinsip Prinsip Network Planning. Cetakan Keua. Jakarta. Penerbit PT. Gramedia Fahrenkrog, Steve, PMP. 2004. A guide to the Project Management Body of Knowledge. Third Edition. Global Standard, ANSI. Project Mangement Institute. Newtown Square Pennsylvania USA. file.doc 15 O’Brien, James A. 2002. Management Information Systems : Mannagement Information Technology in the E-Bussiness Enterprice. Fifth Edition. New York. McGraw-Hill USA. Priyono. 2000. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai dengan Implemetasi. Penerbit Erlangga, Jakarta. file.doc 16

Judul: Jawaban Soal No 1

Oleh: Sarion Ado


Ikuti kami