Makalah Fix

Oleh Nikmawati Nikmawati

1,6 MB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Fix

MAKALAH FARMASI INDUSTRI TABLET BAHAN ALAM PRODUKSI PT. OBTRASIO OLEH: KELOMPOK II (KELAS B) MUH. ADNAN MUSLIM (N014172039) GABRIELLA NATHASYA TAROREH (N014172781) JOSHUA CHRISTIAN PENGGELE (N014172022) HIKMAR RAVENSYAH (N014172756) AZAN JAYA (N014172028) DARNI D. MONOARFA (N014172743) AGNES PARADIBA (N014172031) ALCE RAHAYU ROMBE RARU’ (N014172746) SUARNY (N014172032) A.TENRI AMULA (N014172744) NIKMAWATI (N014172763) YESTIN WILHELMINA TASIABE (N014172747) NURHIKMA SARI ((N014172) NURFAISAH (N014172741) WA ODE NOVITRIANI (N014172738) MUSFIRA DEWY SUARDI (N014172024) PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN 2018 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tingkat kesadaran masyarakat dalam menggunakan obat yang meningkat dan didukung dengan menguatnya daya beli masyarakat menyebabkan dampak positif bagi industri farmasi di Indonesia. Salah satu komponen kesehatan yang sangat penting adalah tersedianya obat sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Berdasarkan undang-undang RI No.36 tahun 2009 pasal 56 salah satu sarana kesehatan adalah pabrik obat atau pabrik farmasi Menurut Permenkes Nomor 1799 tahun 2010, industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Aspek pekerjaan kefarmasian berkatian dengan pemenuhan standar dan persyaratan keamanan, mutu dan manfaat sediaan farmasi. Dalam proses pembuatan obat atau bahan obat industri farmasi harus memiliki izin badan usaha dari Menteri Kesehatan RI. Selain itu industri farmasi haruslah memastikan mutu dan kualitas dari sediaan hasil produksinya. Hal tersebut dilakukan dengan memacu pada CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk penggunaan bahan alam. Berdasarakan bahan asal bahannya industri dibagi atas industri obat sintetik dan industri obat tradisional. Peredaran obat sintetik sangat pesat terjadi di indonesia dan begitupun untuk obat tradisional semakin hari semakin banyak ditemukan pemasarannya. Perkembangan ini telah mendorong pertumbuhan usaha di bidang obat tradisional. Bersamaan dengan itu upaya pemanfaatan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan terus digalakkan melalui berbagai uji mulai dari uji pra klinik (Obat Herbal Terstandar) hingga ke arah perkembangan fitofarmaka. Pengelolaan industri farmasi obat tradisional dilakukan melalui suatu sistem kerja yang diciptakan dan terus dikembangkan untuk memperoleh standar mutu tertentu yang berdampak optimalisasi aktivitas berbagai bidang. Salah satunya adalah PT. Obtrasio yang terletak di Bandung, dimana seluruh fasilitas yang digunakan dalam kegiatan produksi telah disesuaikan dengan standar CPOTB yang berlaku. Setiap proses mulai dari penyediaan bahan baku hingga produk jadi yang terdistribusikan kepada PBF mengacu pada pemenuhan standar CPOTB. PT. OBTRASIO telah memproduksi beberapa produk sediaan farmasi, salah satunya adalah Tablet Phllantus niruri. Sediaan ini mengandung Ekstran phllantus Nyruri yang digunakan sebagai bahan aktif dari sediaan tersebut. immunomodulator. Tablet ini mempunyai khasiat sebagai BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN II.1 Profil Perusahaan II.1.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan PT. Obtrasio merupakan industri pembuatan sediaan farmasi yang didirikan pada tanggal 06 Juni 2006, oleh Dr. Muh. Adnan Muslim, S.Si., M.SI., Apt. Terletak di Bandung Jawa Barat. Dalam proses perkembangannya PT.Obrasio telah menghasilkan berbagai produk yang mampu bersaing dipasaran dengan daya saing tinggi, membangun merekmerek produk yang unggul dan menjangkau pasar dalam negeri. PT.Obrasio menjadi perusahaan produk kesehatan serta nutrisi yang terintegrasi dengan daya inovasi, strategi pemasaran, pengembangan merek, distribusi, kekuatan keuangan, keahlian riset dan pengembangan serta produksi yang sulit ditandingi dalam mewujudkan Mengembangkan produk obat herbal yang berkualitas, bermutu dan terjangkau oleh masyarakat Dari segi produk PT.Obrasio terus mengembangkan hasil produknya sehingga menjadi salah satu perusahaan obat tradisional terdepan di Indonesia, baik untuk kategori obat yang diresepkan (Ethical) atau obat yang dijual bebas (OTC/Over The Counter). Di tengah maraknya persaingan dengan perusahaan lainnya, PT.Obrasio melakukan langkah jitu dalam menghadapi persaingan dan pengembangan usaha. Untuk produk-produk yang diluncurkan, PT.Obrasio selalu meluncurkan produk-produk yang inovatif dan relatif memiliki keunggulan para kompetitor. II.1.2 Logo Perusahaan PT. Obtrasio BANDUNG - INDONESIA PT. Obtrasio merupakan singkatan dari Obat tradisional Indonesia Oke. Warna dari huruf yaitu hijau yang melambangkan alami, tangan yang berarti keikhlasan, tumbuhan yang berlatar belakang peta indonesia menunjukkan pemanfaatan keanekaragaman hayati terutama tumbuhan sebagai obat tradisional di indonesia yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat lokal maupun global. II.1.3 Visi Adapun yang menjadi visi perusahaan kami adalah menjadi produsen industri obat tradisional yang memberikan manfaat dan menjadi perusahaan farmasi terdepan yang menghasilkan produk produk kreatif, inovatif dalam meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik. II.1.4 Misi Adapun yang menjadi Misi perusahaan kami adalah:  Mengembangkan produk obat herbal yang berkualitas, bermutu dan terjangkau oleh masyarakat  Menjadikan obat herbal sebagai pilihan utama dalam pengobatan saat ini yang berdampingan sejajar dengan obat kimia konvensional SERTIFIKAT YANG PERNAH DIDAPATKAN BANDUNG_INDONESIA TABLET EFFEVESCENT BAB III STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANISASI Dalam sebuah industri farmasi, personil memegang peranan yang sangat penting dalam pengelolaannya. Personil kunci antara lain RND, PPIC, Produksi, Quality Control (QC), Quality Assurance (QA). Berikut ini adalah struktur organisasi industri obat tradisional PT.Obtrasio. 1. DIREKTUR Tugas wewenang serta tanggung jawab direktur adalah: a. Menentukan kebijakan tertinggi perusahaan. b. Bertanggung jawab terhadap keuntungan dan kerugian perusahaan. c. Mengangkat dan memberhentikan karyawan perusahaan. d. Memelihara dan mengawasi kekayaan peseroaan terbatas. e. Bertanggung jawab dalam memimpin dan membina perusahaan secara efektif dan efesien. f. Mewakili perusahaan, mengadakan perjanjian-perjanjian, merencanakan dan mengawasi pelaksanaan tugas personalia yang bekerja pada perusahaan. g. Menyusun dan melaksanakan kebijakan umum pabrik sesuai dengan kebijakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Menetapkan besarnya dividen perusahaan untuk pemegang saham. 2. PLAN MANGER Perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan. Perencanaan memiliki beberapa tujuan, yaitu : Tujuan pertama adalah untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efesien. Tujuan kedua adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya. Tujuan ketiga adalah untuk meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan inefesiensi dalam perusahaan Tujuan yang terakhir adalah untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevaluasian. Proses pengevaluasian atau evaluating adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada. Tanpa adanya rencana, manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan. Tugas dari plan manager yaitu :  Mengawasi kinerja dan menerima laporan pertanggungjawaban dari seluruh divisi perusahaan.  Melakukan evaluasi kinerja masing-masing divisi dalam perusahaan, dalam hal ini Technic Manager, Reserach and Development (RnD), PPIC, Quality Control, dan Production Manager.  Mempertanggungjawabkan hasil kerja setiap divisi kepada Direktur. Mengkoordinasikan secara tidak langsung dengan QA. 3. HRD Departemen umum dan personalia dikepalai oleh seorang HRD. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya HRD berkoordinasi dengan HRD & GA Manager Head Office. Tugas dan fungsi HRD berkaitan dengan pengembangan manajemen organisasi (organization management development). Departemen ini memiliki beberapa tugas diantaranya: 1. Recruitment management yaitu merekrut karyawan yang sesuai dengan kebutuhan pabrik. 2. Man Power Planning, berkaitan dengan pemberdayaan karyawan. 3. Performance management, berkaitan dengan penilaian karyawan yang di dasarkan pada kinerja, absensi, dan kepemimpinan. 4. Employee and Industrial Relation, terkait dengan hubungan kerja antar karyawan, penanganan sumber daya manusia, dan kesejahteraan karyawan di pabrik agar selalu berada dalam iklim kerja yang baik. 5. People development melalui training Activities, berkaitan dengan pelatihan dan pendidikan yang diperlukan bagi karyawan. 6. Personel Management, terkait dengan status kepegawaian. 7. Termination management, yaitu proses pembinaan terhadap karyawan jika belum bisa mencapai target setelah diberi berbagai macam training. 8. Reward management, terkait dengan pemberian penghargaan terhadap karyawan. 9. Company Social Reponsibility, terkait dengan tanggung jawab dari industri terhadap penduduk sekitar. Program yang dilaksanakan antara lain adalah pemberian beasiswa serta mengatur program Bapak Asuh bagi karyawan yang bersedia tergabung di dalamnya. 10.External Affairs, berkaitan dengan membina hubungan baik dengan berbagai pihak luar pabrik dan lingkungan sekitar. 11.Security, Canteen, Laundry, Office Boy / Cleaning Service, bertanggung jawab atas keamanan wilayah pabrik, makan dan minum karyawan, kebersihan pakaian kerja, serta kebersihan seluruh lingkungan pabrik. 12. Licenses, terkait dengan berbagai urusan dokumentasi dan perizinan perusahaan. Karakteristik perusahaan kami, yaitu : a. Pegawai : - Pria/wanita WNI - Usia 21-45 tahun - Sudah dinyatakan lulus D3/ S1/ Apoteker sesuai dengan kebutuhan setiap divisi - Sehat fisik dan psikis - Mampu berbahasa inggris b. Diseleksi ketat dengan dengan beberapa tes - Seleksi berkas - Verifikasi pelamar dan wawancara dengan bagian HRD - Psikotest - Tes kemampuan teknis dan wawancara dengan kepala divisi sesuai bagian yang ingin dilamar - Tes kesehatan c. Training program : - Awal - Kerja I : 1 tahun sebagai karyawan kontrak - Kerja II : Sebagai pekerja full, training tiap 6 bulan - Training akan mencakup teori dan pelaksanaan CPOB , : 3 bulan full sebagai training konsep pemastian mutu, tugas-tugas khusus (sesuai dengan bidang masing-masing) dan higienitas personil. d. Gaji dan bonus akan diberikan pada setiap akhir bulan ke rekening karyawan masing-masing Untuk kelancaran dan keberhasilan proses produksi dalam suatu perusahaan, peranan tenaga kerja merupakan faktor yang sangat vital dan sangat menentukan dari segi kulitas dan kuantitas produksinya. Beberapa kebijakan PT. Obtrasio yang berkaitan dengan personalia adalah : a) Disiplin kerja Disiplin kerja merupakan faktor yang sangat menentukan dan kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan. Beberapa peraturan tentang tata tertib perusahaan antara lain : 1. Karyawan yang memasuki lokasi perusahaan memakai tanda pengenal berupa name tag yang telah ditentukan perusahaan. 2. Karyawan dilarang merokok di seluruh area perusahaan kecuali di tempat khusus merokok yang telah disediakan. 3. Karyawan yang datang terlambat akan mendapatkan teguran atau peringatan dari kepala bagiannya masingmasing dan keterlambatan yang sering dilkukan karyawan akan mendapat-kan sanksi dari perusahaan sesuai dengan peraturan yang di tetapkan. 4. Karyawan harus memenuhi peraturan tata kerja yang telah ditentukan oleh kepala bagiannya masing-masing. 5. Kendaraan yang masuk ke area perusahaan harus sudah lulus uji emisi. b) Jam kerja karyawan Waktu kerja karyawan atau tenaga kerja di PT.Obtrasio memiliki jam kerja yang telah ditentukan yaitu hari kerja karyawan antara senin sampai jumat dari pukul 08.00-16.00 WIB dengan waktu istirahat pukul 12.00-13.00 WIB dan untuk hari jumat 11.3013.00 WIB dan untuk karyawan yang mendapat tugas menjaga sumber-sumber energi yang harus diopersikan selama 24 jam, dilakukan secara bergilir setiap 24 jam 2 kali menurut daftar jaga masing-masing. Karyawan yang sudah mendapat giliran jaga maka akan mendapat libur selama satu hari pada esok harinya. c) Pelatihan karyawan Tujuan dilkukannya pelatihan agar setiap karyawan mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai pekerjaanya serta mengerti tentang prinsip-prinsip CPOB/GMP, Lingkungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), serta sistem dokumentasi (SOP, spesifikasi, formula induk, pedoman protokol), serta perkembanganya. Program pelatihan dibuat untuk membekali karyawan baru yang akan bekerja di unit tertentu, untuk mengevaluasi pemahaman, penyegaran, menambah wawasan dan pengetahuan seluruh karyawan termasuk karyawan tetap, karyawan harian, karyawan kontrak yang dapat mempengaruhi manajemen mutu produk, lingkungan dan kesehatan sesuai dengan tujuan dan sasaran perusahaan. d) Pemantauan kesehatan karyawan Merupakan suatu kegiatan yang bertujuan sebagai petunjuk pemantauan kesehatan untuk mengeliminasi potensi sumber kontaminasi yang berasal dari karywan/tamu dari hal-hal yang membahayakan selama berada di PT.Obtrasio . Pemantauan kesehatan karyawan meliputi : 1. Syarat kesehatan karyawan 2. Karyawan yang bekerja di daerah produksi baik di ruang berkelas maupun general area harus memenuhi syarat yang ditetapkan. 3. Pemeriksaan kesehatan berkala yang dilakukan tergantung pada tempat dimana karyawan tersebut bekerja dan apa yang akan dihadapinya. 4. Pemeriksaan kesehatan khusus bagi visual inspektor berupa pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan minimal setiap enam bulan sekali (pemeriksaan visus). 5. Tiap karyawan wajib melapor mengenai kondisi kesehatannya, baik akibat sakit maupun akibat kecelakaan kerja kepada atasannya untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan ke poliklinik oleh dokter perusahaan. 6. Karyawan yang dinyatakan sakit berat oleh dokter atau cukup infeksius atau memiliki luka terbuka yang dapat mempengaruhi kualitas produk, tidak dapat memasuki general area dan ruang berkelas. Karyawan tersebut juga tidak diperbolehkan menangani bahan baku, bahan kemasan bahan dalam proses dan prodik sampai dinyatakan sembuh. 7. Setiap karyawan wajib menerapkan higiene dan sanitasi yang baik pada setiap aspek di lingkungan PT. Obtrasio. Pemeriksaan kesehatan khusus bagi karyawan yang memiliki resiko bising dilakukan pemeriksaan audiometri dilakukan minimal setiap satu tahun sekali. dan pelaksanaannya 4. MARKETING MANAGER a. Finance Manager (Manager Keuangan) Manajemen keuangan merupakan bidang keuangan yang menerapkan prinsip-prinsip keuangan dalam suatu organisasi perusahaan untuk menciptakan dan mempertahankan nilai melalui pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya yang tepat. Manajemen keuangan merupakan manajamen fungsi keuangan yang terdiri atas keputusan investasi pendanaan dan keputusan pengelolaan asset. Tugas dan tanggung jawab: 1. Menyiapkan rencana-rencana keuangan dan rencana pengadaan keuangan untuk pembiayaan proyek-proyek, proposal dan lainlain. 2. Mengawasi penyelenggaraan, penerimaan, pengumpulan, penyimpanan dan penyaluran dana melalui kas dan Bank sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam perusahaan. 3. Menyusun laporan yang menggambarkan perputaran keuangan pada kas dan bank. 4. Mengawasi pelaksanaan administrasi gaji dan upah termasuk perhitungan pajak pendapatan pegawai. 5. Mencocokan semua akun bank baik di Bandung maupun di luar Bandung yang masuk dalam lingkaran perusahaan. 6. Menyetorkan Pph 21 dan pajak lainnya dan melaporkan kepada instansi pajak setiap bulannya sesuai kebutuhan. 7. Menganalisa jumlah sisa tagihan yang belum diterima dari pemilik/pemberi proyek, baik tagihan progress maupun kebutuhan. 8. Menyiapkan invoice sesuai dengan work progress yang diterima dari Proyek (Site Manager). b. Marketing Manager (Manager Pemasaran) Pemasaran atau marketing adalah suatu rangkaian kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Caranya dengan membuat produk, menentukan harganya, tempat penjualannya dan mempromosikan produk tersebut kepada para konsumen. Manajemen pemasaran dikelompokkan dalam empat aspek yang sering dikenal dengan marketing mix atau bauran pemasaran. Menurut Kotler & Armstrong (1997) bauran pemasaran (marketing mix) adalah kumpulan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkannya di pasar sasaran. Kotler & Armstrong (1997) mengemukakan bahwa pendekatan pemasaran 4P yaitu product, price, place dan promotion sering berhasil untuk barang, tetapi berbagai elemen tambahan memerlukan perhatian dan sistem distribusi. Sedang Yazid (1999), menegaskan bahwa marketing mix untuk jasa terdiri dari 7P, yakni: product (produk), price (harga), place (tempat), promotion (promosi), people (orang), physical evidence (bukti fisik), dan process (proses).  Produk (Product) Pengertian produk ( product ) menurut Kotler & Armstrong (1997) adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Tingkatan Produk menurut Kotler & Armstrong (1997) dalam merencanakan produk atau apa yang hendak ditawarkan ke pasar, para pemasar perlu berpikir melalui lima tingkatan produk dalam merencanakan penawaran pasar. Lima tingkatan produk tersebut terdiri dari: 1) Manfaat Inti (core benefit) Yaitu jasa atau manfaat fundamental yang benar-benar di beli oleh pelanggan. Misal: untuk obat-obatan herbal, dimana konsumen membeli “jaminan penunjang kesehatan”. 2) Produk dasar (basic product). Para pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi produk generik (generic product), yaitu versi dasar dari produk tersebut. Dengan demikian sebuah obat-obatan herbal akan terdiri dari komponen-komponen berkhasiat yang telah diuji baik secara klinis maupun pra-klinis. 3) Produk yang diharapkan (expected product). Sekumpulan atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan dan disetujui oleh pembeli ketika mereka membeli produk tersebut. Misal: konsumen mengharapkan kualitas dan efek obat yang baik. 4) Produk yang ditingkatkan (augmented product). Layanan dan manfaat tambahan yang membedakan penawaran perusahaan dari penawaran pesaing. Misal: perusahaan obat-obatan herbal kami melengkapi produk yang kami jual dengan menawarkan kemasan yang praktis dan mudah dibawa-bawa bepergian serta adanya layanan costumer care 1x24 jam yang cepat tanggap terhadap pengaduan, kritik, serta saran dari konsumen. 5) Produk yang potensial (potensial product). Mencakup semua peningkatan dan transformasi yang akhirnya akan dialami produk tersebut dimasa depan.  Harga (Price) Tjiptono (2008) menyatakan bahwa harga dapat diungkapkan dengan beberapa istilah, misalnya tarif, sewa, bunga, premium, komisi, upah, gaji dan sebagainya. Disamping itu harga merupakan unsur bauran yang bersifat fleksibel, artinya dapat diubah dengan cepat Kotler, (1997). Sedangkan menurut Alma, (2003) produsen harus pandai menetapkan kebijaksanaan harga, tinggi atau rendahnya harga yang ditetapkan harus berpedoman pada : a) Keadaan/kualitas barang, b) Konsumen yang dituju, berpenghasilan tinggi, sedang, atau rendah, konsumen perkotaan atau pedesaan, c) Suasana pasar, apakah produknya baru dikenalkan ke pasar atau produk menguasai pasar, produk sudah melekat dihati konsumen atau banyak saingan. 3. Promosi (Promotion) Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Tjiptono (2008) mengungkapkan bahwa promosi adalah semua kegiatan yang dimaksudkan untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan suatu produk kepada pasar sasaran, untuk memberi informasi tentang keistimewaan, kegunaan dan yang paling penting adalah tentang keberadaannya, untuk mengubah sikap ataupun untuk mendorong orang-orang supaya bertindak. Bauran Promosi pemasaran menurut Tjiptono (2008) terdiri dari lima macam yaitu: a) Personal Selling Komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk kapada calon pelanggan dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya. b) Mass Selling Merupakan pendekatan yang menggunakan media komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak ramai. Mass Selling terdiri dari: 1) Periklanan Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung, yang didasari pada informasi tentang keunggulan atau keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan mengubah pikiran orang untuk membeli. 2) Publisitas Publisitas adalah bentuk penyajian dan penyebaran ide barang dan jasa secara non personal. 3) Sales Promotion Sales promotion adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera atau meningkatkan jumlah barang yang dibeli pelanggan. 4) Publik Relation Publik relation merupakan upaya komunikasi menyeluruh dari suatu organisasi untuk mempengaruhi persepsi, opini, keyakinan dan sikap berbagai kelompok terhadap organisasi tersebut. 5) Direct Marketing Direct marketing adalah sistem pemasaran yang bersifat interaktif yang memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk menimbulkan respon yang terukur atau transaksi di sembarang lokasi. Menurut Kotler & Amstrong (1997) faktor-faktor mempengaruhi pengembangan bauran promosi yaitu: a) Tipe Produk atau Pasar yang Perbedaan alat promosi bervariasi antara pasar konsumen dan pasar industri. Perusahaan barang konsumen biasanya mengalokasikan lebih banyak dana untuk iklan, menyusul promosi penjualan, penjualan perorangan, dan hubungan dengan masyarakat. Sebaliknya perusahaan barang industri menyediakan dana lebih banyak untuk penjualan perorangan diikuti dengan promosi penjualan, iklan, dan hubungan dengan masyarakat. b) Strategi Dorong dan Tarik Strategi dorong merupakan strategi promosi yang menggunakan tenaga penjual dan promosi perdagangan untuk mendorong produk lewat saluran distribusi. Sedangkan strategi tarik adalah strategi promosi yang menggunakan banyak biaya untuk periklanan dan promosi konsumen demi memupuk permintaan konsumen. c) Tahap Kesiapan Pembeli Pengaruh dari alat promosi bervariasi untuk tahap kesiapan pembeli yang berbeda. Iklan, bersama dengan hubungan masyarakat, kesadaran lebih dan memegang pengetahuan, peran utama ketimbang dalam peran tahap ”kunjungan mendadak” dari tenaga penjual. d) Tahap Daur Hidup produk Pengaruh dari alat promosi yang berbeda juga bervariasi sesuai dengan tahap daur hidup produk. Tahap pengenalan, iklan dan hubungan masyarakat baik untuk menghasilkan kesadaran tinggi, promosi penjualan bermanfaat untuk mempromosikan penjualan awal. Tahap pertumbuhan, iklan dan hubungan masyarakat terus memberikan pengaruh kuat, sedangkan promosi penjualan dapat dikurangi. Tahap dewasa, promosi penjualan menjadi relatif penting dibandingkan dengan iklan.  Tempat (Place) Place (Tempat) menurut Alma, (2003) berarti kemana tempat/lokasi yang dituju, bagaimana saluran distribusinya, berapa banyak saluran, dan kondisi para penyalur yang diperlukan. Menurut Kotler (1997) saluran pemasaran melaksanakan tugas memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Hal ini mengatasi kesenjangan waktu, tempat dan pemilihan yang memisahkan barang dan jasa dari orang-orang yang membutuhkan atau menginginkannya. Kotler (1997) mengungkapkan bahwa anggota saluran pemasaran melaksanakan sejumlah fungsi utama: a. Informasi, yaitu pengumpulan dan penyebaran informasi pemasaran mengenai pelanggan, pesaing, serta pelaku dan kekuatan lain yang ada saat ini maupun yang potensial dalam lingkup pemasaran. b. Promosi, yaitu pengembangan dan penyebaran komunikasi persuasif yang dirancang penawaran tersebut. utnuk menarik pelanggan pada c. Negosiasi, yaitu usaha untuk mencapai persetujuan akhir mengenai harga dan syarat lain sehingga transfer kepemilikan dapat dilakukan. d. Pemesanan, yaitu komunikasi dari para anggota saluran pemasaran ke produsen mengenai minat untuk membeli. e. Pembiayaan, yaitu perolehan dan pengalokasian dana yang dibutuhkan untuk membiayai persediaan pada berbagai tingkat saluran pemasaran. f. Pengambilan resiko, yaitu penanggungan resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi saluran pemasaran tersebut. g. Pemilihan fisik, yaitu kesinambungan penyimpanan dan penggerak produk fisik dari bahan mentah sampai ke pelanggan akhir. h. Pembayaran, yaitu pembeli membayar tagihan ke penjual lewat bank dan institusi keuangan lainnya. i. Hak milik, yaitu transfer kepemilikan sebenarnya dari satu organisasi atau orang ke organisasi atau orang yang lain  Orang (People) Hurriyati (2005) mengungkapkan bahwa orang (people) adalah semua pelaku yang memainkan peranan dalam penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli. Elemen-elemen dari people adalah pegawai perusahaan, konsumen dan konsumen lain dalam lingkungan jasa. Semua sikap dan tindakan karyawan, bahkan cara berpakaian karyawan dan penampilan karyawan mempunyai pengaruh terhadap persepsi konsumen atau keberhasilan penyampaian jasa (service encounter). Hurriyati (2005) elemen dari people ini memiliki 2 aspek yaitu: a) Service People Untuk organisasi jasa, service people biasanya memegang jabatan ganda, yaitu mengadakan jasa dan menjual jasa tersebut. Melalui pelayanan yang baik, cepat, ramah, teliti dan akurat dapat menciptakan kepuasan dan kesetiaan pelanggan terhadap perusahaan yang akhirnya akan meningkatkan nama baik perusahaan. b) Customer Faktor lain yang mempengaruhi adalah hubungan yang ada diantara para pelanggan. Pelanggan dapat memberikan persepsi kepada nasabah lain, tentang kualitas jasa yang pernah didapatnya dari perusahaan. Keberhasilan dari perusahaan jasa berkaitan erat dengan seleksi, pelatihan, motivasi dan manajemen dari sumber daya manusia.  Sarana fisik (Physical Evidence) Lovelock dalam Tjiptono (2008) mengemukakan bahwa perusahaan melalui tenaga pemasarnya menggunakan tiga cara dalam mengelola bukti fisik yang strategis, yaitu sebagai berikut: a. An Attention-Creating Medium Perusahaan jasa melakukan differensiansi dengan pesaing dan membuat sarana fisik semenarik mungkin untuk menjaring pelanggan dari target pasar. b. As a Message-Creating Medium Menggunakan simbol atau isyarat untuk mengkomunikasikan secara insentif kepada audiens mengenai kekhususan kualitas dari produk jasa. c. An Effect-Creating Medium Baju seragam yang berwarna, bercorak, suara dan desain untuk menciptakan sesuatu yang lain dari produk jasa yang ditawarkan.  Proses (Process) Alma (2003) menyatakan bahwa proses terjadi di luar pandangan konsumen. Konsumen tidak mengetahui bagaimana proses yang terjadi, yang penting jasa yang dia terima harus memuaskan. Proses terjadi berkat dukungan karyawan dan tim manajemen yang mengatur semua proses agar berjalan dengan lancar. Proses penyampaian jasa sangat signifikan dalam menunjang keberhasilan pemasaran jasa pendidikan dan juga memberikan kepuasan kepada peserta pelatihan. 5. RND I. Rancangan Formula Tiap 1,5 gram yang sesuai sediaan mengandung : Ekstrak Meniran 50 mg Asam Sitrat 8,1 % Asam Tartrat 12,6 % Natrium Bikarbonat 24,3 % Magnesium stearat 0,1% Sakarin 0,6 % PVP 0,5 % Laktosa II. III. ad 100 % Rencana Desain sediaan Rencana Nomor registrasi : Rencana Nomor Batch : Rencana Klaim Etiket : Rencana Bahan Kemas Primer : Rencana Bahan Kemas Sekunder : Rencana Bahan Label/Etiket : Rencana Bahan Leaflet/Brosur : Rencana Khasiat Sediaan : Sebagai Imunomodulator Dasar Formulasi III.1 Dasar Pembuatan Sediaan, Metode dan Sistem 1. Tablet effervescent merupakan tablet berbuih yang dibuat dengan cara kompresi granul yang mengandung garam effervescent atau bahan-bahan lain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air (Ansel, 1989). Reaksi yang terjadi pada pelarutan effervescent adalah reaksi antara senyawa asam dan senyawa karbonat untuk menghasilkan gas CO2. CO2 yang terbentuk dapat memberikan rasa segar, sehingga rasa getir dapat tertutupi dengan adanya CO2 dan pemanis (Juniawan, 2004). 2. Pemilihan tablet effervescent untuk sediaan karena tablet effervescent memiliki kelebihan dalam hal ketepatan dosis, stabilitas dan kepraktisannya. Keuntungan lain adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika yang mengandung dosis obat yang tepat (Banker dan Anderson, 1994). Tablet effervescent lebih praktis dan mudah digunakan (Lieberman, et al, 1989). 3. Tablet effervescent merupakan tablet yang digunakan untuk membuat minuman ringan secara praktis. Kepraktisannya adalah tablet dapat melarutkan sendiri dengan adanya Gas CO2 untuk membantu proses pelarutan. Bentuk sediaan seperti ini dapat meningkatkan tingkat kesukaan produk dan mempengaruhi aspek psikologis konsumen. Disamping itu, kesannya sebagai obat juga akan berkurang karena rasanya yang dapat menutupi rasa pahit sehingga dapat menarik minat konsumen yang tidak suka mengkonsumsi obat-obatan. 4. Sediaan effervescent penggunaannya lebih praktis, mudah dan lebih menyenangkan dalam penyediaan bila dibandingkan dengan bentuk sediaan obat lainnya (Mhorle, 1989). Salah satu keuntungan tablet effervescent dapat diberikan pada pasien yang sulit menelan kapsul atau tablet (Linberg et al, 1992). Gas karbondioksida yang terbentuk memberikan efek sparkle (seperti soda) dan mempermudah proses pelarutan zat aktif (Kusnadhi, 2003). 3. III.2 Dasar Pemilihan Bahan aktif Meniran adalah Herba yang berasal dari genus Phyllanthus dengan nama Ilmiah Phyllanthus niruri L. Ekstrak Meniran dilaporkan memiliki khasiat Imunomodulator yang dapat mendukung kinerja sistem kekebalan tubuh tetap optimal. Perannya adalah membuat sistem kekebalan tubuh lebih aktif dalam menjalankan fungsinya sebagai penguat sistem kekebalan tubuh (Imunostimulator). Selain itu, menekan sistem kekebalan yang berlebihan ( Imunosupresan) sehingga kekebalan atau daya tahan tubuh selalu optimal dalam menjaga tubuh agar tetap siaga dan kuat ketika diserang virus, bakteri, atau mikroba lainnya, karena ekstrak meniran mengandung flavonoid. Flavonoid merupakan kelompok heterogen dari tanaman polifenol, memiliki aktivitas biologi, termasuk immunomodulasi dan antioksidan (Herdiana, 2007). Jenis flavonoid ekstrak tanaman meniran yang memberikan efek immunomodulator adalah astragalin (Suhirman dan Winarti, 2010). III.3 Dasar Pemilihan Bahan Tambahan a. Asam Sitrat Asam sitrat bentuk anhidrat atau monohidrat merupakan hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai halus, putih, tidak berwarna, tidak berbau, memiliki rasa sangat asam, sangat mudah larut dalam air, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter dan bersifat higroskopis. Pada kelebaban relatif antara 65% -75% asam sitrat menyerap kelembaban (DEPKES RI 1995), asam sitrat memiliki titik leleh hingga 100% dan akan meleleh pada suhu 75oC. Asam sitrat berfungsi sebagai sumber asam pada tablet effervescent. b. Asam Tartrat Asam tartrat memiliki bentuk hablur, tidak berwarna atau bening atau serbuk hablur halus sampai granul, warna putih tidak berbau, rasa asam dalam bentuk asam tartrat stabil di udara. Asam tartrat sangat mudah larut dalam air, larut dalam metanol dan etanol, praktis tidak larut dalam kloroform dan eter (Departemen Kesehatan RI, 1995). Asam tartrat memiliki titik leleh antara 168 oC-170oC. Pada formulasi tablet effervescent asam tartrat biasanya digunakan sebagai sumber asam bersama asam sitrat. Asam tartrat bersifat lebih higroskopis dibandingkan asam sitrat (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009). c. Natrium Bikarbonat Natrium bikarbonat berupa hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih. Mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih. Natrium bikarbonat ini menghasilkan rasa yang enak dan segar karena mengandung karbonat yanga dapat menghasilkan gas CO2 serta membantu memperbaiki rasa beberapa obat tertentu (Allen,2002). Selain sebagai sumber karbon dioksida, natrium bikarbonat dalam formulasi effervescent juga berfungsi sebagai penstabil karena kemampuannya mengabsorbsi lembab yang dapat menginisiasi reaksi effervescent (Lachman et al;1986). d. Magnesium Stearat 1. Garam magnesium, kalsium dan seng dari asam stearat adalah bahan pelicin yang paling efisien yang paling umum digunakan. Konsentrasi efektif yang digunakan adalah 1% atau kurang, karena bagaimanapun bahan-bahan tersebut tidak larut air sehingga dapat menghalangi hancurnya tablet dan menghasilkan larutan yang tidak jernih (Mohrle,1989). Mg stearat (C36H70MgO4) banyak digunakan sebagai bahan pelicindalam proses pembuatan tablet dan lebih efisien karena dengan jumlah yang sangat sedikit sudah cukup untum memperbaiki waktu alir serbuk/granul. 2. Zat pelincir yang paling banyak dipakai yaitu talk, asam stearat, garam stearat dan derivatnya.bentuk garam yang paling banyak dipakai adalah kalsium dan magnesium stearat (Banker dan Anderson, 1994).magnesium stearat merupakan salah satu zat pelincir yang dgunakan dalam tablet. Anti rekat atau pelincir yaitu zat yang meningkatkan aliran bahan memasuki cetakan tablet serta membuat tablet menjadi lebih bagus dan mengkilat (Lieberman et al, 1989). e. Natrium Sakarin 1. Pemberi rasa pada sediaan Farmasi digunakan untuk bentuk-bentuk sediaan cair. Seluruh pengecap rasa dimulut berlokasi pada lidah dan mengadakan respon yang cepat terhadap sediaan yang diminum. Obat dalam bentuk cair berhubungan langsung dengan pengecap rasa. Penambahan zat pemanis rasa kedalam sediaan obat dimaksudkan untuk menyembunyikan rasa obat yang tidak disukai. Pemanis yang biasa digunakan adalah sakarin, sukrosa dan aspartam (Ansel, 1989). Bahan pemanis buatan yang disarankan dalam tablet effervescent adalah sakarin atau bentuk garam natrium dan kalsiumnya dan aspartam Linberg et al 1992). Konsentrasi Natrium Sakarin sebagai pemanis yang umum digunakan adalah 0,075-0,6% (Allen, 2002). 2. Natrium sakarin adalah agen pemanis intensif yang digunakan dalam minuman, produk makanan, memformulasi farmasi seperti tablet, serbuk, jel, suspensi, cairan, dan obat kumur. Natrium sakarin jauh lebih mudah larut dalam air dari pada sakarin, dan lebih sering digunakan dalam formulasi farmasi. Natrium sakarin meningkatkan sistem rasa dan dapat digunakan untuk menutupi karakteristik rasa yang tidak enak (Rowe et al, 2009). f. PVP (Polivinil Pirolidone) 1. PVP merupakan hasil polimerasi 1-vinyl-2pyrolidinone. Dalam bentuk polimer PVP dengan rumus molekul (C6H9NO)n, bobot molekul berkisar antara 25003.000.000. pemerian PVP berupa serbuk putih atau putih kekuningan, berbau lemah atau tidak berbau, higroskopis. PVP mudah larut dalam air, ethanol (95%)p, kloroform p, keton, metanol. Prakis tidak larut dalam eter hidrokarbon dan mineral oil selain sebagai bahan pengikat pada pembuatan tablet, PVP juga dapat digunakan sebagai agen pensuspensi meningkatkan disolusi, meningkatkan kelarutan dan menambah viskositas baik sediaan oral maupun topikal. Penggunaan PVP dalam formulasi tablet dalam konsentrasi 0,5-5% (Kibbe,2006). 2. Pemakaian bahan pengikat disesuaikan dengan bahan aktif, dalam pembuatan tablet effervescent bahan pengikat yang biasa digunakan adalah PVP (Polivinil Pirolidon). Polivinil pirolidon adalah pengikat yang serbaguna dan salah satu yang paling banyak digunakan, mudah larut dalam air, alkohol dan pelarut organik lain. Polivinil pirolidon biasanya digunakan sebagai pengikat di dalam tablet effervescent dan tablet kunyah karena pembuatan dengan pengikat ini mempunyai daya simpan yang lebih lama (Mohrle, 1989). g. Laktosa 1. Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak digunakan karena tidak bereaksi dengan hampir semua bahan obat yang digunakan dalam bentuk hidrat atau anhidrat dan dapat larut air (Banker dan Anderson, 1994). 2. Laktosa memiliki sifat bahan pengisi yang baik, antara lain dapat larut dalam air rasanya enak, non higroskopis, tidak reaktif dan menunjukkan kombaktibilitas yang baik (Alderborn,2002). III.4 Dasar Pemilihan Bahan Kemasan Tablet effervescent harus dikemas dalam wadah yang kedap udara sehingga dapt melindungi tablet tersebut dari kelembaban, kelembaban udara disekitar tablet sesudah wadahnya terbuka juga dapat menyebabkan penurunan kualitas produk, setelah sampai di tangan konsumen. IV. Informasi Bahan Aktif IV.1 Uraian Farmakologi Nama : Ekstrak Meniran Indikasi : Sebagai Imunomodulator Mekanisme Kerja : Dalam kaitannya dengan sistem imun, pemberian ekstrak Phyllanthus niruri L. dapat meningkatkan aktivitas dan fungsi beberapa komponen imunitas nonspesifik maupun spesifik. Meniran dapat meningkatkan respon imun non spesifik berupa peningkatan kemotaksis makrofak, kemotaksik neutrofil, sitotoksisitas sel NK (Natural Killer) serta aktivitas hemolisis komplemen. Ekstrak Phyllanthus niruri L. juga meningkatkan poliferas sel limfosit T, meningkatkan sekresi TNF α dan interleukin-4, menurunkan sekresi IL-2 dan IL-10. Terhadap imunitas humoral, tamanan ini dapat meningkatkan produksi imunoglubulin M (IgM) serta IgG (Sjahrurachman, 2004) Kontraindikasi : Hipersensitifitas Phyllanthus niruri L. Efek samping : Pemakaian dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan gangguan disfungsi ereksi dan gagal ginjal. Toksisitas : Dosis Pemberian dan : terhadap Meniran digunakan sebagai imunomodulator dengan dosis untuk dewasa 3x50 mg sehari. Interaksi Obat : Perhatian : Pemakaian meniran sebagai obat ginjal harus dilakukan dengan hatihati. Ibu hamil dilarang meminumnya karena bersifat menggunggurkan kandungan. Penderita dengan gangguan ginjal akut sebaiknya tidak mengkonsumsi ramuan berbahan dasar meniran. Farmakokinetik : Meniran yang dikonsumsi akan melalui prores absorbsi diusus, didistribusikan keseluruh tubuh untuk mengalami proses metabolisme di hepart dan selanjutnya akan di eksresikan baik melalui empedu dalam veses maupun melalui ginjal dalam urin. IV.2 IV.3 Uraian Sifat Fisika-Kimia Bahan Aktif Nama Resmi : Phyllanthus niruri L. Nama Lain : Meniran RM Senyawa : - BM Senyawa : - Pemerian Ekstrak : Meniran memiliki rasa pahit, agak asam, serta bersifat sejuk dan mendinginkan. Stabilitas : Pengeringan dengan cara dikeringanginkan pada suhu 25oC dinilai tidak efektif karena memakan waktu 7 hari, diduga pengeringan yang lama akan memicu penguraian senyawa fenolat (Harrizul, 2011). Inkompabilitas : Uraian Stabilitas Saran dan : Penyimpanan V. Informasi Bahan Tambahan (Sifat Fisika-Kimia dan Stabilitas 1. Asam Sitrat ( Handbook of Pharmaceutical , 101) Nama Resmi : Acidum Citricum Nama Lain : Asam sitrat Kelas Fungsional : Sumber Asam Konsentrasi : 8,1% RM : C6H8O7H2O BM : 210,14 Pemerian : Serbuk flouresensi, kristal putih, tidak berwara atau transparan, tidak berbau dengan rasa asam yang kuat. 2. Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian ethanol (95%) dan kurang dari satu bagian air, agak sukar larut dalam eter. pH larutan : 2,2 Titik Lebur : 153oC Informasi Lain : - Stabilitas : Stabil pada kondisi penyimpanan yang sesuai. Inkompabilitas : Inkompatibel dengan kalium tartat, alkali dan alkali tanah, asetat dan sulfida. Inkompatibel pula dengan agen oksidator, basa dan agen pereduksi. Asam Tratrat (DIRJEN POM, 1995, FI Edisi IV:53 ; (Handbook of Pharmaceutical , 731) Nama Resmi : Acidum Tartaricum Nama Lain : asam Tartrat Kelas Fungsional : Sebagai sumber asam Konsentrasi : 12,6 RM/BM : C4H6O6/150,09 Pemerian : Hablur tidak berwarna atau bening atau serbur hablur halus sampai granul, warna putih tidak berbau, rasa asam dan stabil diudara. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam mudah larut dalam etanol. pH Larutan : - Titik lebur : - Informasi Lain : - Stabilitas : Bahan curahnya stabil dan harus air, disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk dan kering. 3. Inkompabilitas : Asam tartarat tidak kompatibel dengan perak dan bereaksi dengan logam karbonat Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik Natrium Bikarbonat (Handbook of Pharmaceutical , 629) Nama Resmi : Sodium Bicarbonat Nama Lain : Natrium Bikarbonat Kelas Fungsional : Penstabil Konsentrasi : 24,3 % RM/BM : NaHCO3/84.01 Pemerian : Bubuk kristal putih yang tidak berbau dengan sedikit garam, sedikit basa. Kelas dengan ukuran partikel yang berbeda, dari bubuk halus hingga butiran seragam bebas mengalir, tersedia secara komersial. Kelarutan : Tidak larut dalam etanol,aseton, larut dalam gliserol, dimetilformamida. pH Larutan : Titik lebur : 852oC Informasi Lain : - Stabilitas : Bila dipanaskan sampai sekitar 50oC, natrium bikarbonat mulai berdisosiasi menjadi karbon dioksida, natrium karbonat, dan air; pada pemanasan sampai 250300oC, dalam waktu singkat, natrium bikarbonat benar-benar diubah menjadi natrium karbonat anhidrat. Namun, prosesnya bergantung pada waktu dan suhu, - dengan konversi 90% selesai dalam 75 menit pada 93oC. Inkompabilitas 4. Sodium bikarbonat bereaksi dengan asam, garam asam, dan banyak garam alkaloid, dengan evolusi karbon dioksida. Sodium bikarbonat juga dapat mengintensifkan penggelapan salisilat. Dalam campuran bubuk, kelembaban atmosfir atau air kristalisasi dari pada senyawa yang dikehendaki dengan larutan nyamuk hidrokarbonat untuk bereaksi dengan senyawa seperti asam borat atau tawas. Dalam campuran cair yang mengandung bismut subnitrate, natrium bikarbonat bereaksi dengan asam yang dibentuk oleh hidrolisis garam bismut. Dalam larutan, natrium bikarbonat telah dilaporkan tidak kompatibel dengan banyak zat obat seperti ciprofloxacin, amiodarone, nicardipine dan levofloksasin. Magnesium Stearat ( Handbook of Pharmaceutical , 404) Nama Resmi : Magnesii Stearas Nama Lain : Magnesium Sterat Kelas Fungsional : Lubrikan Konsentrasi : 0,1% RM/BM : [CH3(CH2)16COO]Mg/591.24 g/mol Pemerian : Magnesium sterat merupakan serbuk atau bubuk giling sangat halus, putih muda, meiliki bau seperti asam sterat dan rasanya yang khas. Serbuk berminyak ketika disentuh dan mudah menempel pada kulit. Kelarutan : Dalam air; Praktis tidak laur dalam air. Dalam larutan lain; praktis tidak larut dalam etanol, ethanol (95%) dan eter. Agak sukar larut dalam benzen hangat dan ethanol (95%) hangat. pH Larutan : - Titik lebur : 117-150oC Informasi Lain : - Stabilitas : Stabil dalam kondisi penyimpanan yang tepat Inkompabilitas Asam kuat, basa, garam besi. Hindari dengan bahan oksidator kuat. Tidak dapat digunakan pada produk yang mengandung aspirin, vitamin. Penanganan : Amati tindakan pencegahan normal yang sesuai dengan keadaan dan jumlah material yang ditangani. Direkomendasikan melindungi mata dan menggunakan sarung tangan. Menghirup debu magnesium stearat secara berlebihan dapat menyebabkan ketidaknyamanan saluran pernapasan bagian atas, batuk dan tersedak. Toksisitas : Magnesium stearat banyak digunakan sebagai eksipien dalam sediaan farmasi umumnya dianggap tidak beracun jika dikonsumsi secara oral. Namun komsumsi oral dalam jumlah banyak dapat menyebabkan efek pencahar atau iritasi mukosa. Tidak ada informasi toksisitas yang tersedia sehubungan dengan rute normal paparan kerja. Batas logam berat dalam magnesium stearat telah dievaluasi dalam worstcape asupan harian dan konsumsi logam berat. Penilaian toksisitas magnesium stearat pada tikus menunjukkan bahwa itu tidak mengganggu kulit, dan tidak beracun jika diberikan secara oral dan terhirup. Magnesium stearat belum terbukti bersifat karsinogenik saat ditanamkan kedalam kandung kemih tikus. Penyimpanan 5. : Simpan dalam wadah tertutup baik, kering dan sejuk. Sakarin( Handbook of Pharmaceutical , 605) Nama Resmi : Sakarin Nama Lain : 1,2-Benzisothiazolin-3-one 1,1dioxide; benzoic acid sulfimide; benzoic sulfimide; benzosulfimide; 1,2-dihydro-2ketobenzisosulfonazole; 2,3dihydro-3-oxobenzisosulfonazole; E954; Garantose; gluside; Hermesetas; sacarina; saccarina; saccharin insoluble; saccharinum; osulfobenzimide; o-sulfobenzoic acid imide. Kelas Fungsional : Pemanis Konsentrasi : 0,6% RM/BM : C7H4NNaO3S/205.16 Pemerian : Sodium sakarin berbentuk bubuk kristal putih, tidak berbau atau sedikit aromatik effloresen dan kristal. Meiliki rasa yang sangat manis dengan eftertaste metalik atau pahit yang pada tingkat penggunaan normal dapat dideteksi oleh sekitar 25%. Kelarutan : Larut dalam air, dalam 50 bagian ethanol (95%)P. pH Larutan : - Titik lebur : - Informasi Lain : - Stabilitas : Natrium sakarin stabil di bawah kisaran normal kondisi yang digunakan dalam formulasi. Hanya bila terkena suhu tinggi (1258C) pada pH rendah (pH 2) selama lebih dari 1 jam terjadi dekomposisi yang signifikan. Inkompabilitas 6. Natrium sakarin tidak mengalami reaksi Maillard. PVP (Polivinil Pirolidone) (Handbook of Pharmaceutical , 508) Nama Resmi : Polivinil Pirolidone Nama Lain : Povidon Kelas Fungsional : Pengikat Konsentrasi : 0,5% RM/BM : - Pemerian : Putih sampai krem; Pahit; tidak berbau; higroskopos (serbuk). Kelarutan : Praktis tidak larut dalam asam, kloroform, ethanol, metanol, keton dan air. Praktis tidak larut dalam eter hidrokarbon dan minyak mineral. pH Larutan : - Titik lebur : - Informasi Lain : - Stabilitas : Stabil pada suhu 110-130oC; mudah terurai dengan adanya udara dari luar; dapat bercampur dengan air; stabil bila disimpan bila disimpan ditempat kering. 7. Inkompabilitas Laktosa ( Handbook of Pharmaceutical , 359) Nama Resmi : Lactose, Anhydrous Nama Lain : Laktosa anhidrat Kelas Fungsional : Pengisi Konsentrasi : Ad 100% RM/BM : C12H22O11 /342.30 Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa agak manis. Kelarutan : Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih, sukar larut dalam etanol 95% praktis tidak larut dalam kloroform. pH Larutan : Titik lebur : Informasi Lain : Stabilitas : Laktosa dapat berubah warna menjadi coklat pada penyimpanan yang tidak stabil, reaksi dipercepat oleh kondisi dan kelembaban. Inkompabilitas : Laktosa anhidrat tidak kompatibel dengan oksidasi kuat. Bila campuran yang mengandung antagonis leukotrien hidrofobik dan laktosa anhidrat atau laktosa monohidrat disimpan selama enam minggu pada RH 408C dan 75%, campuran yang mengandung laktosa anhidrat menunjukkan serapan kelembaban dan degradasi obat yang lebih besar. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik 6. Product Planning And Inventory Control (PPIC) PPIC adalah Sistem Pemantauan dan Pengendalian Inventory sehingga bisa dipertahankan stok minimal yang ideal dan tetap terjamin pemenuhan kebutuhan produk di pasaran. Tujuan pokok PPIC adalah untuk mengendalikan semua inventory yang terkait langsung dengan proses produksi (bahan awal, produk ruahan, & produk jadi) agar produksi dapat berjalan lancar, efektif dan efisien. Fungsi pokok PPIC yaitu 1. Fungsi Perencanaan Menentukan sasaran dan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran. 2. Fungsi Pengendalian Alat manajemen untuk memastikan bahwa pelaksaan telah sesuai dengan rencana. Sasaran Utama yaitu terciptanya proses produksi yang efektif dan efisien serta menguntungkan bagi perusahaan. Adapun tugas dan tanggung jawab dari Product Planning and Inventory Control (PPIC) sebagai berikut : 1) Merencanakan kegiatan produksi berpedoman pada rencana bagian Marketing 2) Merencanakan pengadaan (bahan baku, bahan kemasan dan produk jadi) berdasarkan rencana dan kondisi stock dengan menghitung kebutuhan material produksi menurut standar stock yang ideal (ada batasan minimal dan maksimal yang harus tersedia). 3) Memonitoring inventory yang ada agar kegiatan produksi dan penjualan dapat berjalan dengan lancar. 4) Melakukan evaluasi proses produksi. 5) Membuat standar kriteria SDM dalam penerimaan karyawan. 6) Melakukan pelatihan setiap 2 bulan sekali untuk meningkatkan kualitas SDM. 7) Menghitung standar tenaga kerja berdasarkan realisasi produksi setiap tahun. 8) Menghitung standar yield berdasarkan realisasi produksi setiap tahun. 9) Sebagai juru bicara perusahaan dalam hal kerja sama dengan perusahaan. 10) Mengkoordinir kegiatan distribusi obat. Purchasing Departemen purchasing merupakan salah satu departemen yang berada dibawah departemen manufacturing. Tugasnya menangani pembelian untuk bahan baku obat, bahan pengemasan, alat laboratorium dan mesin produksi. Departemen ini bekerja sama dengan departemen product development dalam menentukan supplier yang akan memasok bahan/alat yang akan dibeli. Bagian purchasing wajib melakukan audit terhadap vendor/suplier terkait pada/cara penanganan bahan baku/pengemas tablet bahan alam seperti : Sistem FEFO, cara penyimpanan, kelengkapan gudang, kebersihan, suhu penyimpanan, dokumentasi (CoA, Exp.date, retest date). Purchasing bertugas melakukan pembelian semua keperluan perusahaan, menangani pembelian untuk bahan baku obat, bahan pengemasan, alat laboratorium dan mesin produksi, menentukan supplier yang akan memasok bahan/alat yang akan dibeli serta dokumentasi surat pembelian barang. Sebelum melakukan pembelian barang, departemen purchasing melakukan negosiasi mengenai harga dan lead time (tepat waktu) pengiriman barang. Setelah itu, departemen purchasing akan mengubah order requisition (OR) menjadi purchase order (PO), lalu dikirim ke supplier. OR atau gabungan OR (pra PO) dibuat oleh departemen PPIC. Merupakan badan hukum yang sah. Terdapat empat kegiatan utama dalam pembelian, yaitu: 1. Pemilihan supplier (pemasok), bernegosiasi mengenai harga, termint pembayaran dan jadwal pengiriman bahan, termasuk di dalamnya menerbitkan surat pesanan (purchase order/PO) 2. Melakukan pemantauan pengiriman (expediting delivery) yang dilakukan oleh supplier 3. Menjembatani antara supplier dengan bagian terkait dalam perusahaan, misalnya bagian teknik, QC, Produksi, Keuangan dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah pembelian bahan (complaint, dan lain-lain) 4. Mencari produk, material atau supplier baru, yang dapat memberikan kontribusi dan keuntungan pada perusahaan. Pemilihan Supplier Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih supplier : 1. Memiliki sertifikat CoA (Certificate of Analysis). 2. Suplier harus menyertakan kelengkapan dokumen master file disebut DMF (Drug Master File) yang merupakan salah satu standar yang dipersyaratkan oleh cGMP. DMF merupakan main requirement dan bukti bahwa supplier adalah perusahaan yang telah memiliki standar cGMP. Badan POM memberi perhatian khusus pada DMF yang merupakan informasi rinci original sub mission dan amandemens yang mencakup data. Dalam memilih bahan baku yang menunjang product savety, efficacy and quality, industry harus memperhitungkan standar expektasi pasar yang jelas makin tinggi. 3. Proses evaluasi dimana harus dilihat pemasok mempunyai peralatan yang secara rutin sudah dikalibrasi. 4. Pelanggan dapat melakukan audit terhadap pemasok, vendor, supplier sebelum memutuskan kerjasama. 5. Menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk setiap bahan yang dipasok. 6. Suplier harus menyediakan bahan baku secara berkesinambungan agar proses produksi tidak terhambat. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam hal pengadaan persediaan maka dipilih minimal dua supplier yang berbeda untuk setiap bahan. 7. Kemudahan dalam melakukan pembayaran. Alur pemesanan bahan baku Pengendalian stok bahan yanga ada digudang dilakukan oleh PPIC. Setiap produk yang diproduksi telah memiliki bill of material tersendiri. Bill of materialadalah dokumen yang mengandung informasi bahan-bahan baku dan bahan kemas yang dibutuhkan untuk proses produksi untuk setiap produk. Berdasarkan bill of material tersebut dibuat suatu laporan yang mengandung informasi tentang jenis bahan yang akan dibeli (laporan requirement), jumlah dari bahan tersebut dan waktu disaat bahan tersebut dibutuhkan. Laporan requirement material tersebut kemudian diberikan kedepartemen purchasing. Laporan tersebut akan ditinjau oleh purchasing akan dibuat ratingnya berdasarkan kualitas dan harga dari bahan. Hasil tinjauan tersebut akan diberikan kembali kedepartemen PPIC dan berdasarkan hasil rating maka PPIC akan membuat permohonan pembelian (PP) dan purcashing akan membuat purcashing order (PO) kepemasok. Bahan awal berupa zat aktif maupun zat tambahan yang datang dari pemasok diterima oleh petugas gudang. Pihak gudang akan memeriksa kelengkapan dokumen antara lain berupa surat jalan, Purchasing Order (PO), sertifikat analisis bahan (CoA) dari bahan awal tersebut serta tampilan fisik, kesesuaian label dengan bahan dan kondisi bahan awal. Bila kelengkapan dokumen telah tersedia dan pemeriksaan secara fisik telah memenuhi syarat, maa gudang akan membuat BPB (Bukti Penerimaan Barang). BPB terdiri dari 4 rangkap yang kesemuanya diberikan kepada QC untuk dilakukan analisa dan untuk setiap bahan awal dibuat nomor kontrol oleh warehouse. Pada nomor kontrol terdapat kode RA (Raw Active) untuk zat aktif dan RT (Raw Tambahan) untuk eksipien. Nomor kontrol itu sendiri merupakan nomor BPB sesuai dengan urutan bahan yang datang pada bulan tersebut. Setelah bahan awal dianalisa dan mendapatkan status dari departemen QC, maka rangkap ketiga dari BPB akan diberikan kepada departemen QC. Pihak QC akan melakukan pemeriksaan kesesuain antara BPB dengan label bahan awal, kesesuaian antara CoA dengan label bahan awal dan kesesuain antara CoA yang datang dengan CoA pada kedatangan sebelumnya. Data-data tersebut kemudian didokumentasikan pada form checklist kedatangan barang. Jika disetujui maka QC bahan awal mengeluarkan form pengambilan sampel.Bila dokumen yang telah lengkap tersebut diterima dan disetujui, maka pihak QC akan melakukan analisa mutu terhadap bahan tersebut Master Formula serta perhitungan Batch No Nama Bahan . 1. Jumlah Jumlah batch Total Bahan Ekstrak meniran 50 mg 5.000 g (kering) 2. Asam sitrat 122 mg 12.200 g 3. Asam tartrat 189 mg 18.900 g 4. Natrium 365 mg 100.000 tab 365.000 g bikarbonat 5. Magnesium 2 mg 2.000 g stearat 6. Natrium sakarin 9 mg 9.000 g 7. Polivinil Pirolidon 8 mg 8.000 g 8. Laktosa 757 mg 757.000 g Berikut daftar harga bahan baku yang dibeli dari pemasok : Tabel . Total Harga Bahan Produk Perbatch No. Nama Bahan Batch Harga Bahan per batch 1. Ekstrak meniran (kering) 5.000 g 4.000.000 2. Asam sitrat 12.200 g 50.020.000 3. Asam tartrat 18.900 g 128.520.000 4. Natrium bikarbonat 365.000 g 1.095.000.000 5. Magnesium stearat 2.000 g 5.200.000 6. Natrium sakarin 9.000 g 540.000.000 7. Polivinil Pirolidon 8.000 g 9.600.000 8 Laktosa 757.000 g 6.056.000 Total 1.838.396.000 Prosedur penerimaan bahan baku dan bahan kemas yaitu Bagian PPIC mengirim permintaan pembelian (PP) kebagian purchasing. Kemudian bagian pembelian akan mengirim PO ke supplier, sedangkan kopian PO akan dikirimkan ke bagian gudang. Pada saat pengiriman barang dari/ pemasok, surat jalan yang dibawa oleh supplier diperiksa kesesuaiannya oleh pihak gudang dengan PO yang berisi jenis, jumlah, dan tanggal kebutuhan barang dan suplai yang disetujui. Jika sesuai, maka barang yang diterima akan disimpan digudang karantina dan diberi label karantina yang berwarna kuning dan dibuatkan BPB yang mencantumkan nama barang, nomor kontrol, nomor kode, jumlah barang dan nama pemasok. BPB terdiri dari 4 rangkap, yang asli diberikan kepada bagian Accounting untuk proses pembayarannya. BPB juga diserahkan ke bagian QC, setelah QC menerima BPB dari gudang, maka QC akan melakukan sampling dan menganalisa sampel. Setelah itu baru didapatkan hasi apakah barang yang masuk tersebut akan direlease (berwarna hijau) yang kemudian disimpan digudang bahan baku atau bahan kemas atau direject(berwarna merah) yang kemudian disimpan di ruang tertenti sebelum diberitahukan dan dikembalikan kepada pemasok untuk mendapat gantinya. Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai PPIC 1. EOQ (economic order quality) Jumlah kualitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal. Biaya variable yang harus diperhatikan antara lain : a) set up cost (procurrement) biaya-biaya yang berubah sesuai frekuwensi pesanan b) carrying cost yang berubah sesuai besarnya, yang dihitung dengan menggunakan rumus EOQ = √2 x R x S C Ket : EOQ = pembelian R = jumlah (unit) yang dibutuhkan (pembelian) selama satu periode S = biaya pesanan setiap kali pemesana (carrying cost) C= biaya penyimpanan per unit 2. Re order point (rop) Point atau waktu dimana sebuah perusahaan harus mengadakan pemesanan kembali, sehingga datangnya pesanan tersebut tepat pada saat persediaan sama dengan 0 atau dibawah safety stock. ROP= (lead time x kebutuhan) + safety stock Faktor yang harus dperhatikan dalam penentuan re-order point adalah : Penggunaan persediaan selama tenggang waktu untuk mendapatkan barang dan Safety stok (persediaan minimal yang harus dipertahankan untuk menjamin kontinuitas tersedianya kebutuhan persediaan) 7. PRODUKSI Kepala bagian Produksi hendaklah seorang yang terkualifikasi dan lebih diutamakan seorang apoteker, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan obat tradisional dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara profesional. Kepala bagian Produksi hendaklah diberi kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam produksi obat tradisional, termasuk: a). memastikan bahwa obat tradisional diproduksi dan disimpan sesuai prosedur agar memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan b). memberikan persetujuan petunjuk kerja yang terkait dengan produksi dan memastikan bahwa petunjuk kerja diterapkan secara tepat c). memastikan bahwa catatan produksi telah dievaluasi dan ditandatangani oleh kepala bagian Produksi sebelum diserahkan kepada kepala bagian Manajemen mutu (pemastian mutu) d). memeriksa pemeliharaan bangunan dan fasilitas serta peralatan di bagian Produksi e). memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan dan f). memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi personil di departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan. Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur tervalidasi yang telah ditetapkan; dan memenuhi ketentuan CPOTB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi). Untuk bahan mentah baik yang dibudidayakan maupun yang hidup secara liar, dan yang digunakan baik dalam bentuk bahan mentah maupun sudah melalui tehnik pengolahan sederhana (misal perajangan atau penghalusan) - tahap kritis pertama dalam proses produksi, dalam hal ini di mana persyaratan teknis ini mulai diterapkan, hendaklah ditentukan dengan jelas. Penjelasan tentang hal tersebut hendaklah dinyatakan dan didokumentasikan. Petunjuk diberikan seperti berikut. Namun untuk proses seperti ekstraksi, fermentasi dan pemurnian, penentuannya hendaklah ditetapkan berdasarkan kasusperkasus. Pengumpulan/pembudidayaan dan /atau pemanenan, proses pasca panen termasuk pemotongan pertama dari bahan alamiah hendaklah dijelaskan secara rinci.  Jika diperlukan penghalusan lebih lanjut dalam proses pembuatannya, hendaklah hal tersebut dilakukan sesuai CPOTB.  Dalam hal bahan aktif, sesuai definisi dalam Glosarium, terdiri hanya dari rajangan atau serbuk, aplikasi dari persyaratan teknis ini dimulai pada proses fisik yang mengikuti pemotongan awal dan perajangan, dan termasuk pengemasan.  Jika ekstraks digunakan, prinsip-prinsip dari persyaratan teknis ini hendaklah diberlakukan pada setiap tahap produksi mengikuti proses pasca panen / pasca pengumpulan.  Dalam hal produk jadi diolah secara fermentasi, penerapan CPOTB hendaklah meliputi seluruh tahap produksi sejak pemotongan awal dan penghalusan. Bahan awal Pengadaan bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui dan memenuhi spesifikasi yang relevan. Semua penerimaan, pengeluaran dan jumlah bahan tersisa hendaklah dicatat. Catatan hendaklah berisi keterangan mengenai pasokan, nomor bets/lot/QC, tanggal penerimaan atau penyerahan, tanggal pelulusan dan tanggal daluwarsa bila ada. Pada tiap penerimaan hendaklah dilakukan pemeriksaan visual tentang kondisi umum, keutuhan wadah dan segelnya, ceceran dan kemungkinan ada kerusakan bahan, dan tentang kesesuaian catatan pengiriman dengan label dari pemasok. Bahan awal yang diterima hendaklah dikarantina sampai disetujui dan diluluskan untuk pemakaian oleh kepala bagian pengawasan mutu. Bahan awal di area penyimpanan hendaklah diberi label yang tepat. Label hendaklah memuat keterangan paling sedikit sebagai berikut: a. nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan; b. nomor bets/ nomor kontrol (mutu) yang diberikan pada saat penerimaan bahan; c. status bahan (misal: karantina, diluluskan, ditolak); d. tanggal daluwarsa atau tanggal uji ulang, bila perlu; e. jika digunakan sistem penyimpanan dengan komputerisasi yang divalidasi lengkap, maka semua keterangan di atas tidak perlu dalam bentuk tulisan yang terbaca pada label. Persediaan bahan awal hendaklah diperiksa secara berkala untuk meyakinkan bahwa wadah tertutup rapat dan diberi label dengan benar dan dalam kondisi yang baik. Terhadap bahan tersebut hendaklah dilakukan pengambilan sampel dan pengujian ulang secara berkala sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Pelaksanaan pengambilan sampel ulang hendaklah diawali dengan penempelan label uji ulang dan/atau dengan menggunakan sistem dokumentasi yang sama efektifnya. Penimbangan dan penyerahan Penimbangan atau penghitungan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus produksi dan memerlukan dokumentasi serta rekonsiliasi yang lengkap. Cara penanganan, penimbangan, penghitungan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan hendaklah tercakup dalam prosedur tertulis. Hanya bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan yang telah diluluskan oleh Pengawasan Mutu dan masih belum daluwarsa yang boleh diserahkan. Untuk menghindarkan terjadi kecampurbauran, kontaminasi silang, kehilangan identitas dan keragu-raguan, maka hanya bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang terkait dari satu bets saja yang boleh ditempatkan dalam area penyerahan. Setelah penimbangan, penyerahan dan penandaan, bahan awal, produk antara dan produk ruahan hendaklah diangkut dan disimpan dengan cara yang benar sehingga keutuhannya tetap terjaga sampai saat pengolahan berikutnya. Pengolahan Semua bahan yang dipakai di dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum dipakai. Kegiatan pembuatan produk yang berbeda tidak boleh dilakukan bersamaan atau berurutan di dalam ruang yang sama kecuali tidak ada risiko terjadi campur baur atau kontaminasi silang. Kondisi lingkungan di area pengolahan hendaklah dipantau dan dikendalikan agar selalu berada pada tingkat yang dipersyaratkan untuk kegiatan pengolahan. Sebelum kegiatan pengolahan dimulai hendaklah diambil langkah untuk memastikan area pengolahan dan peralatan bersih dan bebas dari bahan awal, produk atau dokumen yang tidak diperlukan untuk kegiatan pengolahan yang akan dilakukan. Wadah dan tutup yang dipakai untuk bahan yang akan diolah, produk antara dan produk ruahan hendaklah bersih dan dibuat dari bahan yang tepat sifat dan jenisnya untuk melindungi produk atau bahan terhadap kontaminasi atau kerusakan. Semua wadah dan peralatan yang berisi produk antara hendaklah diberi label dengan benar yang menunjukkan tahap pengolahan. Sebelum label ditempelkan, semua penandaan terdahulu hendaklah dihilangkan. Semua produk antara dan produk ruahan hendaklah diberi label dengan benar dan dikarantina sampai diluluskan oleh bagian pengawasan mutu. Semua pengawasan selama-proses yang dipersyaratkan hendaklah dicatat dengan akurat pada saat pelaksanaannya. Hasil nyata tiap tahap pengolahan bets hendaklah dicatat dan diperiksa serta dibandingkan dengan hasil teoritis. Batas waktu dan kondisi penyimpanan produk dalam-proses hendaklah ditetapkan. Pencampuran dan granulasi Obat tradisional yang mengandung komponen dengan khasiat terapeutik yang diketahui sering kali distandardisasi (yakni ditetapkan terhadap kandungan tertentu dari komponen tersebut). Metode yang digunakan dalam standardisasi hendaklah didokumentasikan. Jika ditambahkan bahan lain untuk mencapai tujuan standardisasi perlu menspesifikasi jumlah yang ditambahkan dalam suatu rentang. Pencampuran suatu bahan dari beberapa bets yang berbeda (contoh: sebelum ekstraksi) atau pencampuran beberapa lot sediaan sejenis boleh dilakukan. Untuk menjamin penelusuran kembali maka catatan hendaklah disimpan. Proses pencampuran hendaklah dikendalikan dan didokumentasikan dengan baik dan, bila berlaku, bets campuran hendaklah diperiksa kesesuaiannya terhadap spesifikasi yang telah ditentukan. Pencampuran bets hendaklah hanya dilakukan bila homogenitas campuran bisa dijamin. Proses-proses ini hendaklah didokumentasikan dengan baik. Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk hendaklah dilengkapi dengan sistem pengendali debu kecuali digunakan sistem tertutup. Pencetakan tablet Mesin pencetak tablet hendaklah dilengkapi dengan fasilitas pengendali debu yang efektif dan ditempatkan sedemikian rupa untuk menghindari campur baur antar produk. Tiap mesin hendaklah ditempatkan dalam ruangan terpisah. Kecuali mesin tersebut digunakan untuk produk yang sama atau dilengkapi sistem pengendali udara yang tertutup maka dapat ditempatkan dalam ruangan tanpa pemisah. Untuk mencegah kecampurbauran perlu dilakukan pengendalian yang memadai baik secara fisik, prosedural maupun penandaan. Tiap kali sebelum dipakai, punch dan die hendaklah diperiksa keausan dan kesesuaiannya terhadap spesifikasi. Catatan pemakaian hendaklah disimpan. Kegiatan pengamasan Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk ruahan menjadi produk jadi. Pengemasan hendaklah dilaksanakan di bawah pengendalian yang ketat untuk menjaga identitas, keutuhan dan mutu produk akhir yang dikemas. Hendaklah ada prosedur tertulis yang menguraikan penerimaan dan identifikasi produk ruahan dan bahan pengemas, pengawasan untuk menjamin bahwa produk ruahan dan bahan pengemas cetak dan bukan cetak serta bahan cetak lain yang akan dipakai adalah benar, pengawasan selama-proses pengemasan rekonsiliasi terhadap produk ruahan, bahan pengemas cetak dan bahan cetak lain, serta pemeriksaan hasil akhir pengemasan. Semua kegiatan pengemasan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang diberikan dan menggunakan bahan pengemas yang tercantum dalam Prosedur Pengemasan Induk. Rincian pelaksanaan pengemasan hendaklah dicatat dalam Catatan Pengemasan Bets. Sebelum kegiatan pengemasan dimulai, hendaklah dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa area kerja dan peralatan telah bersih serta bebas dari produk lain, sisa produk lain atau dokumen lain yang tidak diperlukan untuk kegiatan pengemasan yang bersangkutan. Semua penerimaan produk ruahan, bahan pengemas dan bahan cetak lain hendaklah diperiksa dan diverifikasi kebenarannya terhadap Prosedur Pengemasan Induk atau perintah pengemasan khusus. PROSES PRODUKSI a. pembuatan ekstrak pembuatan ekstrak dimulai dengan menyediakan bahan baku simplisia dan pelarut yang dibutuhkan. Serbuk simplisia diperoleh dari pemasok yang telah terkualifikasi dan bahan telah memenuhi spesifikasi standarisasi sesuai ketentuan yang berlaku. Serbuk simplisia di ekstraksi kedalam ekstraktor dengan metode yang disesuaikan dengan bahan yang diekstraksi. Metode ekstrasi skala industri dapat dilakukan dengan ekstraksi maserasi satu tahap dan multi tahap. Selanjutnya dilakukan filtrasi untuk memisahkan residu dan filtrat menggunakan alat filtrasi sistem vakum. Filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan dengan evaporator recycling solvent untuk mendapatkan ekstrak kental. Selanjutnya ekstrak kental dikeringkan dengan menggunakan freeze drying untuk memperoleh ekstrak kering dalam bentuk serbuk. b. penimbangan dan penyerahan Penimbangan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus produksi yang memerlukan dokumentasi serta rekonsiliasi yang lengkap. Proses penimbangan dilakukan oleh 2 orang personel yang independen menggunakan peralatan yang sesuai dan bersih. Timbangan harus dikalibrasi secara berkala dan diberi label status kalibrasi serta instruksi kerja penimbangan yang berisi tentang cara penimbangan, kapasitas dan ketelitian timbangan di dekat timbangan tersebut. Proses penimbangan ini melalui serangkaian tahapan, antara lain: 1. Sebelum proses penimbangan bahan baku, terlebih dahulu dilakukan line clearance ruang timbang agar terbebas dari sisa penimbangan sebelumnya. 2. Penimbangan bahan baku dilakukan di ruangan zona D dan dilakukan oleh bagian produksi yang diawasi IPC. 3. Penimbangan dimulai dari bahan tambahan, kemudian zat aktif. Penimbangan zat aktif diberikan jeda waktu selama 12 menit untuk mencegah cross contamination. c. Pengolahan Sebelum proses produksi dimulai, semua bahan yang akan diolah dipastikan telah mendapat label release berwarna hijau. Kondisi ruang pengolahan hendaklah dipantau dan dikendalikan sampai tingkat yang disyaratkan. Sebelum pengolahan dimulai ruang pengolahan hendaklah dibebaskan dari bahan produk atau dokumen yang tidak diperlukan dan semua peralatan hendaklah diperiksa sebelum digunakan. Proses pengolahan dimulai dengan tahap pencampuran. Tablet effervescent Meniran dibuat dengan metode granulasi basah. Proses pencampuran dilakukan dengan memisahkan sumber asam dan sumber basa untuk menghindari pembentukan reaksi saat pencampuran. Massa lembab yang terbentuk kemudian diayak basah melalui mesin oscilatting granulator dengan lempeng penyaring 6-12 mesh. Granul lembab yang terbentuk di keringkan dalam pengering fluid bed dryer. Granul yang dikeringkan dicek kadar airnya, alat yang digunakan untuk mengecek kadar air adalah alat pengukur Moisture Balance. Granul yang sudah memenuhi persyaratan kadar air selanjutnya diproses dengan granulator dengan lempeng penyaring 18-20 mesh. Granul kering kemudian dicampurkan dalam mixer untuk kemudian dikempa menjadi tablet. Mesin cetak tablet yang digunakan bermacammacam, secara umum mesin tablet memiliki bagian yang sama yaitu bagian punch,dies, turret, compression roll, hopper, dan discharge chute, serta dilengkapi dengan uphill deduster untuk menghilangkan debu yang menempel pada tablet dan metal detector untuk mendeteksi adanya kandungan logam. Gambar 1. Mesin oscilatting granulator Gambar 2. Mesin fluid bed dryer Gambar 3. Mesin stripping tablet d. Pengemasan Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk ruahan menjadi produk jadi. Pada umumnya pengemasan berfungsi untuk menempatkan bahan atau hasil pengolahan atau hasil industri dalam bentuk yang memudahkannya dalam penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi sampai ke tangan konsumen. Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan kemasan): a) Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung mewadahi atau membungkus bahan pangan. Misalnya kaleng susu, botol minuman. b) Kemasan sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok-kelompok kemasan lain. Misalnya kotak karton untuk wadah susu dalam kaleng, kotak karton untuk wadah strip obat dan sebagainya. c) Kemasan tersier, kuartener yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer, sekunder atau tersier. Kemasan ini digunakan untuk pelindung selama pengangkutan. Misalnya botol yang sudah dibungkus, dimasukkan ke dalam kardus kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan setelah itu ke dalam peti kemas. Departemen pengawasan dibagi menjadi dua area yaitu grey area (daerah abu-abu) dan black area (daerah hitam). Grey area adalah tempat pengemasan primer produk-produk yang dihasilkan bagian produksi dalam bentuk bulk dan sudah dirilis oleh QC. Black area adalah tempat pengepakan sekunder produk-produk yang telah mengalami pengemasan primer di Grey area. Pengemasan pada produk ini menggunakan kemasan primer berupa strip dan kemasan sekunder berupa individual folding box. ALUR PROSES PRODUKSI 1. Pengolahan ekstrak Maserasi Etanol 95% Simplisia Meniran Ekstrak kental Ekstrak kering Produksi Tablet Pengeringan freeze dry 2. Pembuatan tablet Penimbangan Bahan Aktif + Bahan Tambahan Pencampuran Granulasi basah QC Kadar air Zat aktif Pengeringan Pengayakan Pencampuran Pencetakan tablet QC Pemeriksaan visual Pengemasan primer Pengemasan sekunder Gudang obat jadi QC Kadar zat aktif Kekerasan Kerapuhan Keseragaman bobot Disolusi Waktu hancur 8. PENGAWASAN MUTU (QUALITY CONTROL, QC) Pengawasan mutu adalah bagian yang berhubungan dengan pengambilan sampel, spesifikasi dan pengujian, serta dengan organisasi, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa pengujian yang diperlukan dan relevan telah dilakukan dan bahwa bahan yang belum diluluskan tidak digunakan serta produk yang belum diluluskan tidak dijual atau dipasok sebelum mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhi syarat. Setiap industri obat tradisional hendaklah mempunyai fungsi pengawasan mutu. Fungsi ini hendaklah independen dari bagian lain. Sumber daya yang memadai hendaklah tersedia untuk memastikan bahwa semua fungsi pengawasan mutu dapat dilaksanakan secara efektif dan dapat diandalkan. Persyaratan dasar dari pengawasan mutu adalah bahwa: 1. Sarana dan prasarana yang memadai, personil yang terlatih dan prosedur yang disetujui tersedia untuk pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi, dan bila perlu untuk pemantauan lingkungan sesuai dengan tujuan CPOTB. 2. Pengambilan sampel bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi dilakukan oleh personil dengan metode yang disetujui oleh pengawasan mutu 3. Metode pengujian disiapkan dan divalidasi (bila perlu). 4. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama pembuatan yang menunjukkan bahwa semua langkah yang dipersyaratkan dalam prosedur pengambilan sampel, inspeksi dan pengujian benar-benar telah dilaksanakan tiap penyimpangan dicatat secara lengkap dan diinvestigasi. 5. Produk jadi berisi bahan atau ramuan bahan yang dapat berupa bahan nabati, bahan hewani, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan-bahan tersebut dengan komposisi kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan yang disetujui pada saat pendaftaran, serta dikemas dalam wadah yang sesuai dan diberi label yang benar. 6. Dibuat catatan hasil pemeriksaan dan analisis bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan, dan produk jadi secara formal dinilai dan dibandingkan terhadap spesifikasi. 7. Sampel pertinggal bahan awal dan produk jadi disimpan dalam jumlah yang cukup untuk dilakukan pengujian ulang bila perlu. Sampel produk jadi disimpan dalam kemasan akhir kecuali untuk kemasan yang besar. Kepala bagian pengawasan mutu hendaklah seorang terkualifikasi dan lebih diutamakan seorang apoteker, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara profesional. Kepala bagian pengawasan mutu hendaklah diberi kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam pengawasan mutu, termasuk: 1. Menyetujui atau menolak bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi. 2. Memastikan bahwa seluruh pengujian yang diperlukan telah dilaksanakan. 3. Memberi persetujuan terhadap spesifikasi, petunjuk kerja pengambilan contoh, metode pengujian dan prosedur pengawasan mutu lain. 4. Memberi persetujuan dan memantau semua kontrak analisis. 5. Memeriksa pemeliharaan bangunan dan fasilitas serta peralatan di bagian pengawasan mutu. 6. Memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan. 7. Memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi personil di departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan. Pengawasan Mutu hendaklah tersedia seorang personil yang mempunyai keahlian khusus di bidang obat tradisional agar dapat melakukan uji identifikasi dan mendeteksi penambahan atau penggantian bahan, pertumbuhan kapang/khamir, gangguan hama, ketidakseragaman dalam pasokan bahan mentah obat tradisional, dan lain-lain. Proses pengawasan mutu mulai dari pemeriksaan bahan awal, sampling, produksi, pengemasan, bahan kemas, labeling, barang jadi, stabilitas barang pertinggal, dan pengawasan mutu In Pharmaceutical Control. 1. Pemeriksaan bahan awal berupa analisis bahan baku dan bahan kemasan. Bahan baku harus sesuai dari segi label, nama supplier, kondisi wadah, organoleptik (bau, warna, rasa) dan harus harus ada hasil analisis kualitatif, kuantitatif (kadar potensi) dan kemurnia bahan. Bahan kemas meliputi pemeriksaan on the spot (kondisi wadah, warna, penandaan, dan bentuk), dan analisis (dengan alat ukur panjang, lebar dan bonding strength). Jika telah sesuai dengan spesifikasi maka diterima dan dipindahkan ke gudang dan diberi label kuning. Jika telah melewati uji laboratorium dan sesuai dengan standar pengujian maka diberi label hijau yang berarti telah dapat digunakan. 2. Teknik sampling yang dilakukan oleh QC di beberapa industri secara umum terbagi menjadi tiga jenis yaitu √N+1, WHO, dan American National Standards Institute (ANSI)/American Society for Quality (ASQ). Metode sampling √N+1 direkomendasikan oleh FDA dalam FDA’s Investigations Operations Manual dan Therapeutic Goods Administation, Australia (TGA) dalam guidelinenya “Sampling and Testing of Complementary Medicines” mengatakan bahwa √N + 1 dapat digunakan untuk sampling bahan baku dan sampling bahan aktif. Metode sampling ini adalah metode yang paling populer dalam melakukan sampling di industri farmasi rumusnya adalah √N + 1, dimana N adalah jumlah wadah yang diterima. Biasanya metode ini digunakan untuk sampling bahan baku (dalam container) atau bahan kemas. Metode ini digunakan untuk mengurangi jumlah wadah yang akan diperiksa dari keseluruhan populasi. Beberapa industri mempunyai aturan sendiri dimana ada batas untuk wadah (container). Bila wadah 10 atau kurang, semua wadah harus disampling. Metode sampling menurut WHO terdiri dari tiga rencana yaitu n-plan, p-plan, dan r-plan. nplan digunakan bila material seragam dan supplier telah dikenali (sudah sering memasok ke kita ) dan terpercaya. Sampel dapat dilakukan pada bagian manapun dari kontainer. Sampel diambil dengan menggunakan rumus √N + 1. Unit sampling dipilih secara acak dan semua kontainer harus disampling bila jumlahnya 4 atau kurang dari 4. Teknik p-plan sampling yang dilakukan dengan metode ini bila material yang diterima datang dari sumber terpercaya dan indentifikasi material sedang dilakukan. Sampling dilakukan dengan rumus p=0,4√N dan sampel dikumpulkan dalam wadah yang berbeda. Teknik r-plan sampling dengan metode ini digunakan bila material mencurigakan dan diterima dari supplier yang tidak terpercaya/sumber tidak jelas. Sampling menggunakan rumus r=1,5√N. jumlah yang disampling akan lebih banyak dari pada n-plan untuk medapatkan tingkat kepercayaan. Semua sampel dikumpulkan pada wadah terpisah dan dipindah ke laboratorium QC untuk identifikasi. Jika sampel memenuhi test identifikasi sampel kemudian dianalisis lanjutan untuk mengetahui kadar. Sampling menggunakan Standar ANSI/ASQ adalah sistem sampling yang diterima, sistem ini menyediakan cara normal, diperketat dan rencana pengurangan yang diaplikasikan inspeksi atribut dalam persen nonconforming dan nonconformities per 100 unit. pengambilan sampling bahan kemas POPP jilid 1 Di CPOB 2012 untuk sampling merekomendasikan ANSI/ASQZ. Selain itu juga terdapat cara sampling menggunakan military standar, tapi pada februari 1995 US Federal Government membatalkan military standar (Mil Std 105E) sehingga ANSI/ASQ Z1.4 menjadi pendekatan sampling yang populer. 3. Pemeriksaan selama proses produksi disebut In Process Control (IPC). Tujuan IPC untuk memastikan hasil sesuai dengan yang diinginkan, mengetahui sedini mungkin bila terjadi masalah sehingga lebih mudah diawasi dan lebih efisien dan efektif, pengendalian mutu produk antara, ruahan dan produk jadi, pemeriksaan barang kembalian dari distributor, pemeriksaan ulang pada retained sample, dan memonitor stabilitas. IPC pada sediaan padat meliputi pengawasan granul (kadar air pada zat aktif dan peralatan pada three zone sample yang telah ditentukan jumlah sampelnya), strip (kondisi fisik dan kebocoran), kesesuaian tablet dengan roll dan isinya, tidak ada tablet yang pecah, potongan simetris, kerekatan strip, printing tidak meleset, tes kebocoran (prosedurnya yaitu memasukkan 3 atau 5 strip tablet kedalam bejana kaca yang berisi metilen blue lalu divakum 15-30 menit setelah itu dibuka stripnya dan diamati perubahan warna), tinggal cetak hasil lubrikasi (kadar zat aktif dan peralatan), dan organoleptik meliputi adanya penampakan luar (lengket, capping, bintik hitam), kekerasan, kerapuhan, keseragaman bobot, waktu hancur, disolusi. Peran QC dalam proses produksi tidak hanya pada sediaan melainkan juga pada proses pengemasan, bahan kemas dan pelabelan. 4. Pengawasan pada proses pengemasan harus memenuhi kriteria berikut ini: - Hendaknya tersedia prosedur penerimaan, identifikasi, pemeriksaan dan/atau tertulis karantina, pengujian penanganan bahan kemas dan label. yang menjelaskan pengambilan dan pelulusan sampel, serta - Bahan kemas dan label hendaknya sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Jika tidak maka boleh untuk ditolak. - Catatan hendaklah dipelihara untuk tiap pengiriman label dan bahan pengemas yang menunjukkan penerimaan, pemeriksaan atau pengujian dan keputusan diterima atau ditolak. 5. Pemeriksaan bahan pengemas meliputi kriteria berikut: - Bahan hendaklah memberikan perlindungan yang memadai terhadap kerusakan atau kontaminasi produk antara yang mungkin terjadi selama transportasi dan penyimpanan. - Wadah hendaknya bersih dan tergantung dari sifat produk, disanitasi untuk memastikan kesesuaian dengan penggunaan yang diinginkan. Wadah hendaknya bersifat inert, tidak aditif atau adsorptif. - Wadah yang digunakan secara berulang hendaknya dibersihkan berdasarkan prosedur yang telah terdokumentasi. 6. Proses labeling harus sesuai dengan standar-standar berikut: - Hendaknya ada prosedur terdokumentasi yang dirancang untuk memastikan pelabelan yang benar. - Kegiatan pelabelan hendaknya dilaksanakan untuk mencegah campur baur. - Label yang digunakan pada wasah harus menujukkan nama atau kode identifikasi, nomor bets, produk dan kondisi penyimpanan. - Apabila produk ingin dipindahkan diluar pengendalian sistem manajemen bahan dari pabrik pembuat maka nama dan alamat pembuat, jumlah isi dan kondisi pengangkutan dan berbagai persyaratan legas khusus harus dicantumkan pada label. Begitu pula dengan jika terdapat tanggal daluarsa dan uji ulang. - Fasilitas pelabelan hendaknya diperiksa sebelum digunakan dan memastikan seluruh bahan yang tidak digunakan telah dipindahkan untuk kegiatan pengemasan berikutnya. - Produk yang dikemas dan dilabel harus diperika untuk memastikan bahwa wadah dan kemasan pada bets memiliki label yang benar. - Wadah produ yang diangkut diluar pengendandalian pabrik hendaklah disegel sedemikian rupa hingga jika segel rusak atau hilang, penerima akan menyadari bahwa isinya mungkin berubah. 7. Penyimpanan produk jadi dalam kemasan akhir pada kondisi yang direkomendasikan setelah ditanda tangani oleh Quality Assurance. 8. Barang pertinggal digunakan sebagai counter jika ada keluhan. Kriteria barang pertinggal adalah jumlah sampel 4 bt/tube perbets atau 48 strip perbets, terdapat interval pemeriksaan (3,6,12,24 bulan), disimpan pada kondisi 3 00C kecuali untuk sediaan yang membutuhkan suhu tertentu, dan dilakukan pemeriksaan kadar zat aktif, warna, bau, rasa, konsistensi, homogenitas, kekerasan, dan mikrobiologi 9. Pengawasan mutu In Pharmaceutical Control dari segi mikrobiologi dan lingkungan selama proses produksi. Pemeriksaan tersebut meliputi Total Aerobic Microbial Account (TAMC), metode pour plare (hasilnya dalam bentuk colony forming unit per gram atau colony forming unit per mL), identifikasi keberadaan mikroba (E. coli, E. albicans, Salmonella, S. aureus dan P. aeruginosa), air, pH, kandungan logam, jumlah udara mikroba (menggunakan settling plate untuk ruang produksi non-steril), jumlah mikroba permukaan (menggunakan swab test). Area pengawasan mutu meliputi: 1. Laboratorium pengawasan mutu hendaklah terpisah dari area produksi. Area pengujian mikrobiologi hendaklah dipisahkan satu dengan yang lain. 2. Laboratorium pengawasan mutu hendaklah didesain sesuai dengan kegiatan yang dilakukan. Luas ruang hendaklah memadai untuk mencegah campur baur dan pencemaran silang. Hendaklah disediakan tempat penyimpanan dengan luas yang memadai untuk sampel, baku pembanding (bila perlu dengan kondisi suhu terkendali), pelarut, pereaksi dan catatan. 3. Suatu ruangan yang terpisah mungkin diperlukan untuk memberi perlindungan instrumen terhadap gangguan listrik, getaran, kelembaban yang berlebihan dan gangguan lain, atau bila perlu untuk mengisolasi instrumen. 4. Desain laboratorium hendaklah memerhatikan kesesuaian bahan bangunan yang dipakai, ventilasi dan pencegahan terhadap asap. Hendaklah dipasang unit pengendali udara yang terpisah untuk laboratorium mikrobiologi. Pengawasan mutu juga memiliki dokumentasi yang terdiri dari: 1. Spesifikasi. 2. Prosedur pengambilan sampel. 3. Prosedur dan catatan pengujian (termasuk lembar kerja analisis dan/atau buku catatan laboratorium). 4. Laporan dan/atau sertifikat analisis. 5. Data pemantauan lingkungan, bila diperlukan. 6. Catatan validasi metode analisis, bila diperlukan. 7. Prosedur dan catatan kalibrasi instrumen serta perawatan peralatan. Semua dokumentasi pengawasan mutu yang terkait dengan catatan bets hendaklah disimpan sampai satu tahun setelah tanggal daluwarsa bets yang bersangkutan. Beberapa jenis data (misalnya hasil uji analisis, hasil nyata, pemantauan lingkungan) hendaklah dibuat sedemikian rupa untuk memungkinkan pelaksanaan evaluasi tren. Selain informasi yang merupakan bagian dari catatan bets, data asli lain seperti buku catatan laboratorium dan/atau rekaman hendaklah disimpan dan tersedia. Evaluasi (setelah bagian formula dan alasan formula) 1. Evaluasi Simplisia a. Penetapan Parameter Spesifik Simplisia 1) Identitas Simplisia Identitas simplisia memberikan informasi determinasi simplisia dan identitas obyektif simplisia meliputi nama simplisia, nama latin tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan, nama Indonesia tumbuhan, dan senyawa identitas spesifik dari simplisia. 2) Uji Organoleptik Uji organoleptik merupakan pengenalan awal menggunakan pancaindera untuk mendiskripsikan bentuk, warna, bau, rasa dari simplisia 3) Uji Mikroskopik Fragmen serbuk digunakan dalam pengujian mikroskopik. Mula- mula serbuk simplisia diletakkan pada objek glass, kemudian diteteskan dengan larutan kloralhidrat, selanjutnya difiksasi dan diamati fragmen di bawah mikroskop. 4) Penentuan Profil Kromatogram Simplisia ditimbang kurang lebih 1 g lalu di ekstraksi dengan pelarut etanol.Dilakukan pengocokan selama 15 menit dengan pemanasan kemudian di saring untuk mendapatkan larutan uji. Tepi bawah lempeng ditotol dengan larutan uji dan larutan pembanding, biarkan hingga mengering. Lempeng ditempatkan pada rak penyangga. Dielusi dengan eluen heksan : etil ( 3:1) kemudian keluarkan lempeng dan biarkan mengering. Amati bercak di bawah panjang gelombang 254 nm dan 366 nm. Nilai Rf ditentukan dengan rumus: Rf = jarak tempuh noda . jarak tempuh eluen 5) Penetapan Kadar Flavonoid Total  Pembuatan larutan uji : Serbuk simplisia ditimbang saksama 1 g, laludi ekstraksi dengan 25 mL etanol P, dimagnetik stirer selama 30 menit, kemudian disaring ke dalam labu tentukur 25 mL dan ditambahkan etanol p.a melalui penyaring sampai tanda.  Larutan pembanding dibuat, digunakan kuersetin dengan menimbang saksama 10 mg pembanding lalu dilarutkan dalam etanol p.a kemudian dibuat pengenceran secara kuantitatif dan bertahap dengan kadar 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm dan 10 ppm Dilakukan pengukuran dengan di pipet secara terpisah.  Pengukuran lamda maks. Menggunakan spektrofotometri : Diambil 0,5 mL larutan uji dan larutan pembanding, lalu masing-maing ditambahkan 1,5 mL etanol P ; 0,1 mL aluminium klorida P 10% ; 0,1 mL natrium asetat 1 M dan dicukupkan volume dalam labu tentukur 5mL hingga batas tanda, kemudian dikocok dan didiamkan selama 30 menit pada suhu ruang. Serapan diukur pada panjang gelombang serapan maksimum 428 nm. Dilakukan pengukuran blanko dengan cara yang sama tanpa penambahan aluminium klorida kemudian dihitung kadar larutan uji. 6) Penetapan Kadar Sari Larut Air Serbuk simplisia ditimbang seksama dengan derajat halus 6/18 kurang lebih 5g yang telah dikeringkan. Bahan uji dimasukkan kedalam labu bersumbat dan air jenuh kloroform ditambahkan sebanyak 100 mL, bahan uji dikocok berkali-kali selama 6 jam pertama kemudian bahan uji dibiarkan selama 18 jam. Setelah itu, bahan uji disaring lalu bahan uji sebanyak 20 mL filtrat diuapkan hingga kering didalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan 105ºC dan ditara, dipanaskan sisa bahan uji pada suhu 105ºC hingga bobot tetap, dan kadar dihitung dalam % sari larut air. 7) Penetapan Kadar Sari Larut Etanol Serbuk simplisia ditimbang seksama dengan derajat halus 6/18 kurang lebih 5g yang telah dikeringkan. Kemudian, bahan uji dimasukkan kedalam labu bersumbat dan etanol P ditambahkan sebanyak 100 mL, bahan uji dikocok berkali-kali selama 6 jam pertama kemudian bahan uji dibiarkan selama 18 jam. Setelah itu, bahan uji dilakukan penyaringan dengan cepat untuk menghindari penguapan etanol. Bahan uji sebanyak 20 mL filtrat diuapkan hingga kering didalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan 105ºC dan ditara, sisa bahan uji dipanaskan pada suhu 105ºC hingga bobot tetap, dan kadar dihitung dalam % sari larut etanol. b. Penetapan Parameter Non Spesifik Simplisia 1) Penetapan Susut Pengeringan Penetapan susut pengeringan dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditimbang sebanyak 1 sampai 2 g dalam botol timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan dan ditara. Bahan uji diratakan dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol hingga lapisan setebal kurang lebih 5 sampai 10 mm, bahan uji dimasukkan kedalam ruang pengering kemudian buka tutupnya dan bahan uji dikeringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Sebelum setiap pengeringan, biarkan botol dalam keadaan tertutup mendingin didalam eksikator hingga suhu ruang. 2) Penetapan Kadar Abu total Serbuk simplisia ditimbang seksama 2 g dan masukkan ke dalam krus silikat yang telah dipijar dan ditara, pijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, dinginkan dan ditimbang. Kadar abu total dihitung terhadap berat simplisia, dinyatakan dalam % b/b.. 3) Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer LP selama 5 menit. Bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan lalu disaring melalui kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas,di pijarkan dalam krus hingga bobot tetap. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap simplisia, dinyatakan dalam % b/b. 2. Evaluasi Ekstrak a. Pemeriksaaan organoleptis Pemeriksaan ini meliputi warna, bau, rasa, dan konsistensi ekstrak. b. Uji daya lekat Uji ini dilakukan menggunakan dua buah gelas objek. Gelas objek ditandai seluas 2,5 x 2,5 cm, kemudian dicari titik tengahnya. Kurang lebih 50 mg ekstrak diletakkan di titik tengah luasan tersebut, kemudian ditutup dengan gelas objek yang lain dan ditekan dengan beban seberat 1 kg selama 5 menit. Kedua objek gelas yang saling berlekatan itu dipasang pada alat uji dengan beban 80 gram. Dicatat waktu yang diperoleh sampai terpisahnya kedua objek gelas tersebut. c. Uji viskositas Uji ini menggunakan viscotester.Ekstrak dimasukkan ke dalam bejana stainless steel dan dipilih rotor yang sesuai dengan konsistensi ekstrak.Rotor dipasang pada alat uji dan diatur sehingga rotor tercelup dalam ekstrak dan alat uji dihidupkan.Dicatat skala yang ditunjukkan oleh jarum sesuai nomor rotor yang dipakai. d. Uji kandungan lembab Uji ini menggunakan metode gravimetri, ekstrak meniran ditimbang seberat 10 g, dikeringkan dalam oven pada suhu 105º C selama 5 jam. Setiap 60 menit ekstrak meniran ditimbang hingga mencapai bobot konstan yakni sampai perbedaan kadar air antara dua penimbangan berturut – turut tidak lebih dari 0,25%. Berikut rumus kadar air menurut Voigt (1994) : MC % = e. bobot basah−bobot kering × 100% bobot kering Uji kualitatif ekstrak meniran Uji ini dilakukan dengan menimbang lebih kurang 25,0 mg ekstrak secara seksama kemudian larutkan dalam etanol sampai volume 5,0 ml, ditotolkan sebanyak 1μl pada lempeng silica gel 60 F254 kemudian segera dikembangkan dalam bejana kromatografi yang telah dijenuhi fase gerak. Setelah dikembangkan segera keluarkan lempeng silica gel, dikeringkan kemudian dideteksi dengan UV 254 nm dan UV 365 nm. Ukur nilai Rf dari sampel kemudian dibandingkan dengan nilai Rf baku. RF = jarak rambatan bercak( cm) jarak pengembangan( cm) f. Uji kuantitatif ekstrak meniran 1). Pembuatan kurva baku, penetapan recovery dan koefisien variasi (CV) Timbang baku lebih kurang 25,0 mg secara seksama, larutkan dalam etanol ad 25,0 ml (larutan induk = 1,0 g/l). Buat pengenceran larutan induk dengan etanol hingga diperoleh seri larutan baku (masingmasing 4 kali) yang mengandung kuarsetin0,12; 0,14; 0,18; 0,23; dan 0,35 μg/μl dengan volume pengambilan sebanyak 1,2 ml; 1,4 ml; 1,8 ml; 2,3 ml; dan 3,5 ml ad etanol sampai 10,0 ml. Larutan ditotolkan sebanyak 1μl pada lempeng silica-gel 60 F254 kemudian segera dikembangkan dalam bejana kromatografi yang telah dijenuhi.. Pengembangan dilakukan setinggi 6,5 cm, segera dikeringkan dan secepatnya discanning dengan densitometer pada λ 420 nm. Kemudian dipilih salah satu dari 4 seri larutan baku untuk digunakan sebagai kurva baku. Selanjutnya dihitung nilai perolehan kembali dan koefisien variasinya dari 3 seri larutan baku yang lain. 2). Penetapan kadar Timbang lebih kurang 25,0 mg ekstrak meniran secara seksama kemudian larutkan dalam 5,0 ml etanol. Ulangi sebanyak 6 kali, lakukan pemisahan secara kromatografi lapis tipis diikuti scanning densitometri seperti pada larutan baku. Kadar phillantus dalam ekstrak meniran dihitung berdasarkan kromatogram yang memiliki Rf sama dengan Rf phillantus baku menggunakan persamaan regresi linier dari kuarsetin baku. Selanjutnya dihitung kadar rata-rata dan standar deviasinya (SD). g. Uji Mikrobiologi Uji mikrobiologi dilakukan menurut metode Farmakope Indonesia, meliputi parameter Angka Lempeng Total (ALT) dengan syarat tidak lebih dari 104 cfu/g atau mL, Angka Kapang Khamir (AKK) dengan syarat tidak lebih dari 103 cfu/g atau mL, tidak mengandung bakteri patogen Salmonella sp., Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli dalam 10 g. 3. Evaluasi Granul a. Uji Sudut Diam Penetapan sudut diam dilakukan dengan menggunakan corong yang bagian atas berdiameter 12 cm, diameter bawah 1 cm dan tinggi 10 cm. Granul dimasukkan ke dalam corong, lalu dialirkan melalui ujung corong dan ditentukan besar sudut diamnya dengan rumus : α = tan-1 2H/D. Persyaratan : uji dikatakan memenuhi syarat apabila 25⁰ > α < 40⁰. b. Uji Waktu Alir Granul dimasukkan ke dalam corong setinggi 2/3 tinggi corong lalu dialirkan melalui ujung corong dan dihitung waktu alirnya.Persyaratan : 10 detik untuk 100 g granul. c. Susut Pengeringan Susut pengeringan adalah jumlah antara berat basah dan berat kering simplisia setelah mengalami proses pengeringan. Dengan persyaratan bobot tetap yang tertera pada penetapan susut pengeringan dimaksudkan bahwa dua kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram sisa yang ditimbang. Penimbangan dilakukan setelah zat dikeringkan langsung selama 1 jam. Dengan pernyataan bobot yang dapat diabaikan, dimaksudkan bobot yang tidak lebih dari 0,5 mg. Dalam farmasi istilah susut pengeringan adalah suatu pernyataan kandungan lembap berdasarkan bobot basah, yang sering disebut Lose of Drying (LOD) yang dihitung sebagai berikut: LOD % = bobot basah−bobot kering × 100% bobot basah Ukuran lembap yang lain dalam solid basah didasarkan pada perhitungan bobot kering. Nilai disebut kandungan lembap/ Moisturizer of Contents (MC) MC % = bobot basah−bobot kering × 100% bobot kering 4. Evaluasi Tablet a. Uji Keseragaman Bobot Ditimbang 20 tablet dari masing-masing formula dan dihitung bobot rataratanya. Jika ditimbang satu per satu tidak boleh lebih dari dua tablet yang masingmasing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom A dan tidak satupun tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom B sesuai syarat yang tercantum pada Farmakope Indonesia III. b. Uji Keseragaman Ukuran Dipilih 20 tablet dari masingmasing formula, diukur tebal dan diameter masing-masing tablet menggunakan alat ukur. Menurut Farmakope Indonesia III, syarat keseragaman ukuran kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 ⁄ kali tebal tablet. c. Uji Kekerasan Tablet Alat yang digunakan ialah hardness tester. Cara kerjanya yaitu sebuah tablet diletakkan tegak lurus diantara anvil dan punch, tablet dijepit dengan cara memutar sekrup pengatur sampai tanda lampu stop menyala. Lalu knop ditekan sampai tablet pecah. Angka yang ditunjukkan jarum penunjuk skala dibaca.Percobaan ini dilakukan sampai 5 kali. Persyaratan kekerasan tablet: 4-8 kg. d. Uji Friabilitas atau Kerapuhan Alat yang digunakan ialah friability tester.Caranya ditimbang 20 tablet, dicatat beratnya (A gram), lalu dimasukkan ke dalam alat dan alat dijalankan selama 4 menit (100 kali putaran).Setelah batas waktu yang ditentukan, tablet dikeluarkan dan dibersihkan dari serbuk-serbuk halus lalu ditimbang lagi (B gram). Friabilitas (F) = . Syarat: kehilangan bobot ≤ 1%. e. Uji Waktu Hancur Alat yang digunakan ialah disintegration tester. Caranya yaitu satu tablet dimasukkan pada masing-masing tabung dari keranjang lalu dimasukkan cakram pada tiap tabung dan alat dijalankan. Sebagai medium digunakan air dengan suhu dengan suhu 37⁰C, kecuali dinyatakan lain menggunakan cairan yang tercantum pada masing-masing monografi. Pada akhir batas waktu, angkat keranjang dan amati semua tablet. Semua tablet harus hancur sempurna. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya, tidak kurang 16 tablet dari 18 tablet harus hancur sempurna. f. Uji Mikrobiologi Uji mikrobiologi dilakukan menurut metode Farmakope Indonesia, meliputi parameter Angka Lempeng Total (ALT) dengan syarat tidak lebih dari 104 cfu/g atau mL, Angka Kapang Khamir (AKK) dengan syarat tidak lebih dari 103 cfu/g atau mL, tidak mengandung bakteri patogen Salmonella sp., Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli dalam 10 g. g. Uji Stabilitas Tablet Uji stabilitas tablet dilakukan dengan metode uji stabilitas dipercepat pada suhu kamar (29 ºC), 40, 50, 60 dan 70 ºC dengan RH 75±5 %. Evaluasi dilakukan pada waktu awal (0 hari), hari ke-1, 2, 3, 4 dan 5 terhadap kadar zat aktif demetoksikurkumin. Penetapan masa simpan tablet dilakukan dengan pengolahan data menggunakan persamaan Arrhenius dan dibuat kurva log konsentrasi vs waktu, sehingga diperoleh tetapan laju degradasi (k) pada tiap kondisi suhu. Selanjutnya dibuat kurva regresi linier log k vs suhu dalam satuan Kelvin (1/T) untuk mendapatkan tetapan laju degradasi pada suhu 25 ºC. Apabila k25 diketahui, maka masa simpan tablet dapat dihitung, dengan persyaratan kadar zat aktif tidak kurang dari 90% dari kadar yang tertera pada kemasan. 5. Evaluasi Kemasan a. Leak Test Leak test atau tes kebocoran ini dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pemasok sudah juga harus memeriksa packaging component-nya sebelum dikirimkan ke manufaktur, industri manufaktur (pelanggan) memeriksa lagi setelah semua komponen terpasang dan sudah diisi produk. b. Product-packaging Compatibility Test Tes ini berguna untuk melihat kecocokan produk dan kemasannnya. Yang perlu diamati adalah apakah ada reaksi atau perubahan pada produk (bau, warna, viskositas, bentuk, dan performance) maupun kemasannya (bau, warna, berkarat untuk kemasan kaleng, berubah bentuk seperti menggelembung atau lainnya, apakah ada produk yang menembus keluar, apakah ada gejala terkelupas di kemasannya atau di printing) selama kurun waktu tertentu. Produsen harus mensimulasikan kondisi tes dengan kondisi aktual tempat produk tersebut dipasarkan dan berapa lama produk tersebut dipasarkan dan berapa lama produk tersebut dalam kondisi baik.Tes ini dapat dilakukan dalam kurun waktu 3-6 bulan atau lebih dengan kondisi penyimpanan yang berbeda (suhu ruangan, suhu 45 C, di bawah nol derajat celcius, dan lain-lain). Tes ini dilakukan pertama kali dalam proses pengembangan kemasan, terutama pada kemasan primer untuk menentukan material yang sesuai. Material untuk kemasan primer harus sesuai dan tidak bereaksi dengan produk yang dikemas. Jadi, bentuk kemasan yang digunakan untuk tes ini harus sesuai atau mirip dengan yang akan digunakan. Produknya adalah produk yang akan dipasarkan dan jumlah produk dalam kemasan sama seperti yang akan dipasarkan. Yang penting sedapat mungkin mungkin semua mendekati kondisi actual saat akan dipasarkan. c. Transport Test Tes ini digunakan sebelum barang dipasarkan. Gunanya untuk melihat apakah total kemasan dan masing-masing komponennya dalam keadan baik setelah barang tersebut didistribusikan dan masih baik kualitasnya setelah sampai di tangan konsumen. Pada waktu melakukan transport test, seorang ahli kemasan harus sudah punya data di mana produk tersebut tersebut akan dipasarkan dan bagaimana moda transportasinya, termasuk carahandling-nya. Produk dan kemasan yang digunakan sebaiknya sama atau menyerupai produk yang akan dipasarkan. Evaluasi kemasan setelah transport test harus meliputi baik dimensi fungsional maupun appearance-nya. Beberapa cara yang dapat dipakai untuk menunjang keakurasian transport test adalah dengan menambahkan data logger untuk merekam data yang diperlukan selama produk dalam perjalanan. Misalnya, ditambahkan temperatur pada data logger. Maka, selama perjalanan produk pada saat menjalani transport test akan terekam suhu aktual yang terjadi setiap saat. Jadi dalam evaluasi, akan dapat diambil kesimpulan lebih rinci dan juga dapat diantisipasi segala risiko yang diperkirakan bakal terjadi pada kondisi aktual. d. Drop Test Tes ini dilakukan untuk mengevaluasi apakah kemasan yang sudah terisi produk tahan terhadap hentakan (tidak pecah, penyok, lepas tutupnya, dan lain-lain) pada saat jatuh.Tes ini dapat dilakukan sebagai kemasan individu maupun kemasan dalam satu kotak karton gelombang. Drop test ini dilakukan dalam beberapa posisi jatuh, posisi bawah, atas, miring kiri, miring kanan, arah lebar, dan arah panjang dengan ketinggian tertentu. Tes ini bisa menggunakan alat atau dengan membuat alat sendiri, selama posisi jatuhnya barang bisa dibuat secara konsisten dan mengurangi pengaruh pengawasnya. e. Stacking Test Tes ini untuk melihat ketahanan produk jadi pada saat penyimpanan di gudang.Fokus utama pada tumpukan bawah produk tersebut. Tes ketahanan terhadap tumpukan ini dilakukan dengan menggunakan produk jadi, kemudian ditumpuk di gudang sesuai spesifikasi tumpukan dan disimpan selama kurun waktu tertentu tergantng berapa lama stock cover di gudang, misalnya kurang lebih 30 hari atau sesuai dengan lamanya penyimpanan di gudang. f. Stress Cracking/keretakan Material maupun dimensi packaging dan interaksi dengan produk yang dikemas dapat menyebabkan kemasannya pecah setelah waktu tertentu.Untuk kemasan yang multicomponent, misalnya botol deodorant roll on, semua komponen terpasang dan produknya harus dites keretakannya agar dapat menjamin tidak ada produk yang retak selama di pasar. Bila dimensi salah satu komponen di luar standar toleransi, komponen ini akan menekan komponen lainnya, sehingga dapat menyebabkan keretakan. Belum lagi ditambah dengan tekanan karena produk dan kondisi di pasar. g. Fade Test (kepudaran warna) Ketahanan warna kemasan terhadap sinar matahari perlu dites.Kemasan berwarna dapat memudar warnanya setelah waktu tertentu.Bisa saja memudar dalam waktu yang relatif singkat (kurang dari 1 minggu di bawah sinar matahari).Hal tersebut karena tinta dan master batch atau pigmen yang digunakan tidak tahan terhadap sinar matahari.Untuk tingkat akurasi yang baik, digunakan alat dengan lampu sinar UV dengan intensitas tertentu, yaitu dengan menjemur kemasannya di bawah sinar matahari dan diamati setiap hari atau minggu. h. Delamination Pada kemasan yang terdiri dari beberapa lapisan baik fleksibel maupun rigid container terutama yang fleksibel, dapat saja terjadi pemisahan dari masing-masing lapisan material. Pemisahan ini dapat disebabkan oleh proses produksi dan material yang digunakan tidak sesuai, dan dapat juga disebabkan produk dan lapisan bagian dalam berinteraksi sehingga produk dapat menembus lapisan-lapisan berikutnya. Pemeriksaan ini harus juga menggunakan produk yang sesuai karena kadang-kadang produk yang sejenis dengan parfum yang tidak sama, hasilnya berbeda. i. MVTR (Moisture Vapor Transmission Rate) Untuk memeriksa perpindahan moisture (uap air yang bisa ditransfer melalui kemasan).Uap air ini dapat berasal dari udara, jadi uap air masuk dari udara ke dalam kemasan dan sebaliknya. Tentunya ini akan mempengaruhi kualitas produknya terutama pada produk makanan. j. Mullen Test / Burst test Mencoba ketahanan robek dengna alat Mullen tester.Pada umumnya tes ini dilakukan untuk karton. k. Peel Bond Ketahanan terhadap pengelupasan, berapa daya yang dibutuhkan agar kemasan mengelupas atau dapat dikelupas.Pada umumnya digunakan untuk kemasan fleksibel atau stiker. l. Stiffness Kekakuan dari bahan karton. Sifat ini akan berpengaruh pada kemasan yang dihasilkan dan kelancaran mesin pengemas. 9. TECHNIC MANAGER Departemen Teknik dipimpin oleh seorang Manajer dan membawahi 3 assisten manager, yaitu:  Asisten Manajer Perawatan Mesin (Unit Head of Maintenance) Unit ini bertanggung jawab untuk memastikan semua perawatan dan pemeliharaan alat-alat produksi telah dilaksanakan sesuai jadwal. Program maintenance (pemeliharaan) terdiri dari: 1) Breakdown maintenance, merupakan pemeliharaan yang tidak terjadwal atau tidak terencana, yaitu tindakan yang perbaikan yang dilakukan hanya pada saat permasalahan timbul sebagai akibat kerusakan mesin. 2) Preventive maintenance (planned maintenance), merupakan pemeliharaan yang dilakukan berdasarkan rencana yang jelas, dapat berupa rencana perawatan tahunan, bulanan dan mingguan. 3) Autonomous maintenance, merupakan pemeliharaan mesin yang dilakukan mandiri oleh operator mesin (produksi). Operator produksi dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan sederhana seperti pengecekan harian, pelumasan, pengukuran dan pembersihan. Dengan demikian, gejala kerusakan dapat dideteksi sedini mungkin, sehingga kerusakan dapat dicegah secara total. 4) Improvement maintenance, merupakan pemeliharaan yang dilakukan secara terencana dengan melakukan tindakan modifikasi dan pengembangan alat/mesin dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja alat.  Asisten Manajer Utility (Unit Head of Utility) Unit Utility bertanggung jawab untuk memastikan bahwa keperluan pabrik (air, listrik, boiler, uap, udara bertekanan, udara terkondisi) terpenuhi dengan baik. Utility yang menjadi tanggung jawab bagian teknik dibagi menjadi dua yaitu: 1. Utility yang sangat berdampak pada kualitas: a) Air Handling System (Sistem Tata Udara) Sistem pengaturan udara di setiap ruangan produksi menggunakan Air Handling Unit (AHU) atau Heating, Ventilating Air Conditioning (HVAC). Kelembaban dan kebersihan udara juga dikendalikan dengan alat bantu tambahan yaitu dehumidifier dan airfilter. b) Water System (sistem air) Sumber air berasal dari sumur artesis. Sebelum digunakan untuk produksi, air dari sumur artesis ini diolah dengan multimedia filter, carbon filter, klorinasi, resin penukar ion, UV desinfektan dan sistem reverse osmosis sehingga dihasilkan RO (reverseosmosis) water. c) Compressed Air System (sistem udara bertekanan) Udara bertekanan ini dihasilkan dari kompresor. Jumlah kompresor yang dimiliki adalah dua buah. Kompresor ini digunakan untuk mengerakan mesin, membersihkan alat dan kemasan primer produk. 2. Utility yang tidak berdampak pada kualitas a) Boiler Boiler menghasilkan uap yang dibutuhkan oleh proses produksi sebagai media pemanas dalam proses pemanasan maupun pengeringan, atau pembersihan peralatan produksi dengan memasang filter uap sebelum digunakan. b) Listrik Sumber utama listrik berasal dari PLN. Namun sebagai cadangan, juga memiliki Generator Set (genset) untuk mengantisipasi apabila suatu saat terjadi pemadaman listrik oleh PLN.  Asisten Manajer EHS (Environmental, Healthy, and Safety) Unit EHS bertanggung jawab untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan di pabrik sudah dilakukan sesuai dengan EHS, dan semua saran dan prasarana untuk program EHS sudah tersedia. Program EHS Meliputi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Program Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi para karyawan (P2K3). EHS Engineer berperan sebagai Koordinator P2K3. 1. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Penanganan air limbah oleh bagian teknik menggunakan sistem pengolahan secara fisika dan mikrobiologi dengan menggunakan bakteri aerob. Air limbah diolah secara fisik dan biologi secara berurutan. Proses biologi dilakukan secara aerob dengan suatu sistem kontak stabilisasi menggunakan mikroorganisme yang mampu untuk mendegradasi air limbah industri farmasi. Tahapan pengolahan air limbah yang dilakukan : presedimentasi, ekualisasi, stabilisasi, aerasi, clarifier, carbon filter, kolam ikan. 2. Program pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja Program pelatihan K3 antara lain program Loss Prevention- Emergency Response, program Colleague Safety, program Occupational Health, dan program Occupational Medicine. Penjelasan mengenai masing-masing program sebagai berikut: a) Program Loss Prevention-Emergency Response merupakan tindakan pencegahan terhadap kehilangan yang bertujuan untuk menyelamatkan karyawan, properti/materi dan pencegahan ulang. Program ini dititikberatkan pada pemadaman kebakaran. Pelatihan pemadaman kebakaran dilakukan setiap satu tahun sekali dengan menggunakan alat pemadam kebakaran dan pelatihan kondisi darurat. b) Program Colleague Safety merupakan program yang berhubungan dengan proses produksi yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan karyawan pada saat bekerja, seperti setiap alat harus dilengkapi alat pengaman, karyawan harus menggunakan alat pelindung diri (masker, helm, dan lain-lain). c) Program Occupational Medicine adalah program pengobatan pekerja seperti P3K, eyewash and safety showers, evaluasi medis, dan lain-lain. I. GEDUNG DAN FASILITAS Dalam memilih lokasi bangunan hendaklah diperhatikan apakah ada sumber pencemaran yang berasal dari lingkungan. Sebaiknya dipilih lokasi di mana tidak ada risiko pencemaran lingkungan. Bila karena perubahan struktur tanah, atau perencanaan kota, lingkungan pabrik tidak dapat dihindarkan dari pencemaran hendaklah diambil tindakan sebagai berikut: Lingkungan Udara Bentuk Cemaran Tindakan Pencegahan misalnya : misalnya : Berbagai jenis debu, melengkapi sistem ventilasi misalnya debu jalan, dengan saringan udara awal debu dari industri lain dan saringan udara akhir yang dan partikel pestisida. masingmasing mempunyai efisiensi 30-40% dan 90-95 % (diukur menurut ASHRAE). Tanah Bekas timbunan - konstruksi bangunan yang sampah dan kokoh dan kedap air sesuai bahan kimia. dengan peraturan bangunan yang berlaku; - bebas dari rembesan air, serangga, binatang pengerat serta dari kontaminan lain; dan - dilengkapi dengan saluran pembuangan air yang efektif untuk mencegah banjir. Air Tanah Bekas timbunan - semua bekas timbunan bahan bahan harus digali dan kimia. dibuang sesuai dengan - Air sadah atau air peraturan pemerintah yang yang mengandung zat berlaku, bekas penimbunan koloid. ini hendaklah dinetralisasi - Mikroba patogen. (misal: dengan kapur tohor); - pelunakan air; - sedimentasi dan penyaringan; - disinfeksi klorinasi misal: dengan PERMUKAA JENIS N DALAM BANGUNAN UNTUK a. Beton Padat a. Bersifat menahan Digunakan LANTAI KETERANGAN debu b. Tidak SESUAI hanya di tahan daerah terhadap gudang tumpahan larutan bahan kimia b. Beton dilapis lembaran Kantor, a. Ketahanan vinil terhadap koridor dan bahan laboratorium kimia terbatas b. Sambungan dilas agar kedap air c. Mudah tergores d. Untuk c. Epoksi atau pembebanan Ruang sedang produksi poliuretan a. Monolitik, permukaan tidak berpori dan tidak licin b. Menahan d. Ubin keramik pertumbuhan Daerah bakteri produksi c. Mudah tergores a. Tahan terhadap bahan kimia dan goresan b. Mudah diperbaiki c. Memerlukan penutupan celah e. Ubin semen Kantor dan d. Sambungan sukar dapur dibersihkan a. Ekonomis dan mudah diperbaiki b. Memerlukan penutupan celah c. Sambungan sukar dibersihkan d. Tidak tahan terhadap tumpahan bahan kimia e. Tidak tahan terhadap goresan DINDING Bata atau blok, a. Mudah retak bila Daerah beton oadat pengerjaannya yang kurang baik permukaannya produksi b. Menimbulkan diplester halus debu dan dibuat dibongkar kedap air direnovasi bila atau dengan lapisan cat minyak, cat dari bahan dari bahan akrilik atau enamel polimer tinggi, poliuretan atau epoksi. LANGITLANGIT a. Beton yang a. Sukar dimodifikasi Daerah dicat dengan untuk pengolahan cat pemasangan dan minyak, bahan akrilik, saluran listrik dan pengisian enamel saluran udara polimer tinggi atau epoksi b. Dirancang untuk menahan beban berat c. Ruangan diatasnya dapat digunakan untuk penempatan saluran udara dan b. Panel jenis layanan lain gantung (terbuat Daerah dari gipsum, triplek dilapisi enamel) a. Membutuhkan baja penopang b. Tidak menahan dapat beban berat c. Sambungan perlu ditutup dengan karet silikon untuk pencegahan pemcemaran dari ruang di atasnya. produksi Konstruksi bangunan hendaklah memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku untuk bangunan. Hendaklah diadakan sarana perlindungan seperlunya terhadap: Lingkungan Tindakan Pencegahan antara lain dengan Cuaca - memberikan cat tahan cuaca pada tembok; - memasang alat penyerap kelembaban udara secara pendinginan atau secara penyerapan oleh bahan kimia yang higroskopis. Banjir - mendesain letak bangunan dibuat lebih tinggi daripada permukaan air banjir; -memasang saluran pembuangan air yang efektif. Rembesan Air - memasang saluran pembuangan air yang efektif; - membuat pondasi dan lantai bangunan yang tahan rembesan air sesuai dengan teknik bangunan yang berlaku. Masuk dan bersarang - memasang kawat kasa dan / atau tirai binatang kecil, tikus, plastik; burung, serangga dan - melaksanakan pest control. Lihat Contoh hewan lain Protap Pengendalian Hama Terpadu. Masuk benda dan - memasang saringan udara kasar / kasa pengotor lain pada jalur masuk ke Sistem Tata Udara. Bangunan dan fasilitas hendaklah dirawat secara teratur agar senantiasa bersih dan rapi. Setiap pelaksanaan perbaikan dianjurkan dilakukan di luar waktu kegiatan produksi. Rancang-bangun hendaklah dibuat sedemikian rupa sehingga sarana untuk kegiatan yang berhubungan langsung dengan daerah luar dikelompokkan. Kegiatan yang berhubungan langsung dengan daerah luar antara lain adalah:  penerimaan bahan awal;  masuk-keluar personil;  pemakaian seragam kerja;  mandi, cuci tangan dan buang air; dan  penyerahan produk jadi untuk distribusi. Rancangan di atas perlu ditekankan agar tidak berdampak negatif terhadap kegiatan produksi yang dilakukan di area dengan kelas kebersihan lebih tinggi.  Tata letak ruang hendaklah dikaji sejak tahap perencanaan konstruksi bangunan demi keefektifan semua kegiatan, kelancaran arus kerja, komunikasi dan pengawasan serta untuk menghindarkan ketidakteraturan. Peralatan produksi, barang dan fasilitas lain yang akan ditempatkan serta lalu-lintas barang dan orang hendaklah digambarkan dengan benar pada tata letak ruang sesuai dengan ukuran yang direncanakan.  Untuk mencegah penggunaan daerah produksi sebagai lalu-lintas umum bagi personil atau barang / bahan hendaklah disediakan koridor agar ruang produksi dapat dicapai tanpa melalui ruang produksi lain. Untuk mencegah ruang pengolahan digunakan sebagai tempat penyimpanan hendaklah disediakan ruang penyimpanan terpisah yang memadai. Tindakan pencegahan dapat dilakukan misal dengan penggunaan kontrol akses dan / atau prosedur yang sesuai. Cukup jelas. Lihat Contoh Konsep Alur Barang dan Personil, Lampiran 2 II. AREA PENIMBANGAN Lihat Contoh Desain Area Penimbangan, Lampiran 3 III. AREA PRODUKSI Untuk memperkecil risiko bahaya medis yang serius akibat terjadi pencemaran silang, suatu sarana khusus dan self-contained harus disediakan untuk produksi obat tertentu dan dilaksanakan sebagai berikut: Untuk pengolahan produk di bawah ini:  antibiotika golongan betalaktam penisilin,  antibiotika golongan betalaktam nonpenisilin,  hormon seks,  onkologi,  preparat biologi (selama masih belum diinaktivasi),  produk darah, dan  vaksin Hendaklah dibuat dalam bangunan terpisah dari golongan yang lain. Udara yang keluar dari fasilitas tersebut hendaklah dilewatkan melalui saringan udara HEPA dengan efisiensi minimal 99,95 % (class H13 EN1822) atau melalui suatu sistem yang sesuai sebelum dilepaskan ke atmosfir. Luas area kerja produksi hendaklah minimal dua kali luas yang diperlukan untuk penempatan peralatan (termasuk wadah yang diperlukan untuk suatu kegiatan) ditambah luas area untuk keperluan pembersihan dan perawatan mesin oleh operator produksi dan / atau teknisi. Permukaan lantai, dinding, langit-langit dan pintu hendaklah:   kedap air; tidak terdapat sambungan untuk mengurangi pelepasan atau pengumpulan partikel;  tidak merupakan media pertumbuhan mikroba;  mudah dibersihkan serta tahan terhadap proses pembersihan, bahan pembersih dan disinfektan yang digunakan berulang kali dengan memperhatikan faktor kepadatan, porositas, tekstur dan sifat elektrostatis. Untuk daerah pengolahan dan pengemasan primer hendaklah dihindarkan pemakaian bahan dari kayu. Bila terpaksa menggunakan bahan dari kayu hendaklah diberi lapisan misal cat poliuretan atau enamel. Lapisan cat tidak mudah mengelupas. Lihat Contoh Jenis Bahan Bangunan, Lampiran 4 Lampu hendaklah rata dengan langit-langit dan diberi lapisan untuk mencegah kebocoran udara atau bila menonjol keluar mempunyai desain sudut yang mudah dibersihkan. Dianjurkan agar lampu dapat diperbaiki dari atas langit-langit. Stop kontak listrik hendaklah datar dengan permukaan dan kedap air agar tidak ada rongga atau celah dan dapat dibersihkan. Instalasi kabel listrik yang dihubungkandengan mesin produksi dianjurkan dari atas. Pipa saluran udara hendaklah dipasang di atas langit-langit atau mesanin; apabila tidak dapat dihindarkan hendaklah dilengkapi dengan penutup / cover sehingga mudah dibersihkan. Lubang udara masuk dan keluar serta pipa-pipa dan salurannya hendaklah dipasang sedemikian rupa untuk mencegah pencemaran terhadap produk. Lihat Instalasi Lubang Udara Masuk, Lampiran 5 Udara di ruang pengolahan yaitu area dengan kondisi lingkungan spesifik yang ditetapkan, dikendalikan dan dipantau untuk mencegah kontaminasi silang (dalam fasilitas multiproduk) atau degradasi bahan awal dan produk, misal di mana produk, bahan awal dan komponen terpapar ke lingkungan ruangan, serta ruang cuci alat dan ruang penyimpanan bagian peralatan yang bersentuhan dengan produk yang disirkulasi balik hendaklah dilewatkan susunan sistem terdiri dari filter EN 779 G4 + F8 + HEPA Filter EN 1822 H13 sebelum udara dialirkan kembali ke ruang pengolahan untuk mencegah kontaminasi silang. Kinerja dari Sistem Tata Udara secara keseluruhan hendaklah dikualifikasi untuk sarana pembuatan produk steril selama minimum 5 hari berturut-turut yang memenuhi persyaratan dalam status nonoperasional dan produk nonsteril minimum 3 hari. IV. Sistem Tata Udara (Air Handling Unit/AHU) Sistem tata udara atau yang lebih dikenal dengan istilah AHU (Air Handling Unit) atau HVAC (Heating, Ventilating, and Air Conditioning) merupakan cerminan penerapan CPOB dan salah satu penunjang yang membedakan industri farmasis dan industri lainnya.Sistem Pengendalian Udara bertujuan untuk melindungi proses produksi dari kontaminasi lingkungan dengan cara mengendalikan jumlah partikel, tekanan udara di dalam maupun di luar ruangan (koridor), kelembaban udara atau RH (Relative Humidity), temperatur udara, filtrasi udara, dan kecepatan pertukaran udara. Gambar: Air Handling Unit (AHU) Adapun parameter kritis dari AHU yaitu: 1. Suhu 2. Kelembaban 3. Partikel udara 4. Perbedaan tekanan antar ruangdan pola aliran udara 5. Volume alir udara dan pertukaran udara 6. Sistem filtrasi udara Parameter kritis dari AHU di atas ditunjang dengan komponen AHU yang terdiri atas: 1. Heating and cooling coil Berfungsi untuk mengontrol suhu dalam ruangan 2. Humidifier Berfungsi untuk mengintrol kelembaban udara dalam ruangan. Humidifier tidak boleh menjadi sumber kontaminasi, dengan tidak menggunakan evaporatif, atomizer, water-mist spray. 3. Diffuser Berfungsi untuk mengatur pola aliran udara yang keluar dari suplai udara 4. Filter Berfungsi untuk menyaring dan mengontrol jumlah partikel dan mikroorganisme yang berisiko mengontaminasi proses produksi. Filter yang digunakan untuk AHU dibagi menjadi beberapa jenis tipe tergantung efisiensinya, yakni:  Pre-filter (efisiensi penyaringan 35%)  Medium filter (efisiensi penyaringan 95%)  High efficiency particulate air filter (efisiensi penyaringan 99,997%) 5. Ducting Berfungsi sebagai saluran tertutup tempat mengalirnya udara. Terdiri dari saluran yang masuk (ducting supply) dan saluran yang keluar dari ruangan produksi dan kembali ke AHU (ducting return). 6. Dumper Bagian dari ducting AHU yang mengatur jumlah (debit) udara yang dipindahkan ke dalam ruang produksi. Debit udara yang masuk disesuaikan dengan ukuran ruangan yang akan menerima distribusi udara tersebut. Berdasarkan Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman CPOD, sistem udara yang digunakan untuk produk non steril seperti tablet adalah AHU kelas E. Gambar Sistem Tata Udara Lampiran 1 Lampiran Lampiran 3 2 Lampiran 2 Lampiran 4 Lampiran 5 10. QUALITY ASURANCE Quality Assurance atau Pemastian mutu adalah konsep yan luas yang memastikan dan menjamin kualitas produk secara keseluruhan baik kolektif maupun individu, mulai dari konsep design hingga produk ke tangan produsen. QA tidak saja mencakup pelaksanaan CPOB/CPKB melainkan juga cara berlaboratorium yang baik (GDP) dan cara uji klinik (GCP), serta cara distribusi yang baik (GDP). Dengan demikian CPOB/CPKB merupakan bagian dari system pemastian mutu (QA). Dalam rangkamemenuhi tuntutan konsumen atas jaminan mutu terhadap khasiat, keamanan, dan kualitas produk industry farmasi. QA secara proaktif dengan cara menilai data-data mengenai proses bahan dan pemasok serta memberi petunjuk/rekomendasi perubahan yang dapat memperbaiki efisiensi dan konsistensi secara organisasi. GCP (Good Clinic Praktis) Pedoman mengenai GCP untuk pengujian terhadap prodk farmasi adalah: 1. Untuk memastikan konsistensi antara obat yang bereda di bets dan obat dalam penelitian sehingga memastikan uji klinis dapat dipercaya atau tidak. 2. Untuk melindungi sujek uji klinis dari produk bermutu rendah yang disebakan oleh kesalahan pemuatan atau kelalaian dalam tahap kritis seperti sterilisasi, kontaminasi silang, karena bahan awal dan komponen dalam mutu tidak memadai. 3. Untuk mendokumentasikan semua perubahan dalam proses pembuatan, dalam hal ini pemilihan dosis yang tepat untuk uji klinis sangat penting. GLP (Good Laboratory Practis) USP dan FDA menekankan pada kemurnian kadar ahan oat. Kemurnian aik dari hasil sintesis atau mutu ahan obat batasnya 2% dengan identifikasi kemurnian dan larutan residu yang mudah menguap. ICH petunjuk (International pada Converency on Harmonisation) memerikan spesifikasi untuk kemurnian bahan obat baru diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Kemurnian ahan organik, sumer ini meliputi ahan awal, pereaksi oleh produk, perantara dn peruahan. Kemurnian diatas 0,1% menjadi karakteristik, diawah 0,1% tidak diharapkan kecuali tidak mengakiatkan toksik. 2. Kemurnian ahan inorganik, pereaksi, katalis, logam berat, arang, batuan penyaring. GDP (Good Distribution Practis) Pengujian dan pelepasan untuk distribusi : 1. Untuk setiap bets dari produk obat tidak akan sesuai penentuan laboratorium dari konfirmasi yang memuaskan untuk spesifikasi akhir produk obat termasuk identitas dan kekuatan bahan aktif sebelum diedarkan dimana sterilitas dan tes pirogen dilakukan secara khusus disediakan pengujian yang cepat. 2. Uji laoratorium yang diperlukan dari setiap bets bebas mikroorganisme. 1993 FDA melakukan investigasi, operasi laoratorium meliputi : - Evaluasi yang tidak memadai dari hasil spesifikasi - Penggunaan pada uji outlet dengan pemberian diskon hasilnya gagal. Komponen yang menunjang untuk mencapai mutuobat yang bagus (departemen control) meliputi : 1. Quality Assurance (QA) Jaminan mutu 2. Quality Control (QC) Pengawasan mutu 3. Quality Inspection (QI) Pemeriksaan mutu Sistem pemastian mutu kualitas obat telah menjadi perhatian utama dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dimana dibutuhkan suatu standar internasional untuk makanan, produk biologis, produk farmasi dan produk-produk sejenisnya. Adanya jaminan atau pemastian mutu obatobatan sangatlah penting sebab berkaitan dengan kebutuhan kesehatan dan standar kualitas, keamanan dan khasiat yang dapat diterima.

Judul: Makalah Fix

Oleh: Nikmawati Nikmawati


Ikuti kami