Makalah Tasawwuf

Oleh Ibnu Asqolani

16 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Tasawwuf

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua, yaitu tasawuf
yang mengarah pada teori-teori perilaku dan tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang
rumit dan memerlukan pemahaman mendalam.
Pada perkembangannya, tasawuf yang berorientasi ke arah pertama sering disebut
sebagai tasawuf akhlaqi. Ada yang menyebutnya sebagai tasawuf yang banyak
dikembangkan oleh kaum salaf. Adapun tasawuf yang berorientasi ke arah kedua disebut
sebagai tasawuf falsafi. Tasawuf ini banyak dikembangkan para sufi yang berlatar belakang
sebagai filosof di samping sebagai sufi.
Perkembangan Tasawuf dan Islam telah mengalami beberapa fase. Pertama, yaitu fase
asketis (zuhud) yang tumbuh pada akad pertama dan kedua Hijriyah sikap asketis ini
dipandang sebagai pengantar tumbuhnya tasawuf. Tasawuf mempunyai perkembangan
tersendiri dalam sejarahnya. Tasawuf berasal dari gerakan zuhud yang selanjutnya
berkembang menjadi tasawuf. Meskipun tidak persis dan pasti, corak tasawuf dapat dilihat
dengan batasan- batasan waktu dalam rentang sejarah.
Corak-corak ilmu tasawuf yang berkembang menurut rentang waktu yang sangat panjang,
dengan berbagai motif dan konsep-konsep yang berbagai macam tetapi dengan satu tujuan
jua, yakni tentang keimanan dan tujuan hidup seseorang.Tasawuf sebagai ajaran pembersihan
hati dan jiwa memiliki sejarah perkembangannya dari masa ke masa.
B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan maka dapat dibuat perumusan
masalah sebagai berikut:
A. Bagaimana sejarah perkembangan Tasawuf akhlaki?
B. Bagaimana sejarah perkembangan Tasawuf Falsafi?
C.

Tujuan

A.
B.

Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penulisan makalah ini adalah :
Mengetahui sejarah perkembangan Tasawuf akhlaki.
Mengetahui sejarah perkembangan Tasawuf Falsafi.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Tasawuf akhlaqi
1. Pengertian Tasawuf akhlaki
Abu al-Wafa’al-Ghanimi al-Taftazani dalam bukunya “Madkhal ila al-Tasawuf alIslam menjelaskan aliran Tasawuf akhlaki adalah aliran sufi yang pendapat moderat dan
ajaran tasawufnya selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah atau denagn kata lain
tasawuf aliran ini akan selalu berpatokan syari’at. Aliran ini tumbuh dan berkembang pada
abad kelima Hijriah.Aliran tasawuf akhlaki ini mendapat sambutan seiring dengan
berkembangnya aliran teologi Ahlussunnah wal jamaah yang dilancarkan oleh Abu al-Hasan
al-Asya’ri atas aliran-aliran lainnya dengan kritiknya yang luras terhadap keekstriman
tasawuf Abu Yazid al-Busthami al-Halley dan para sufi lainnya.
Tasawuf akhlaki mengadakan pembaharuan dengan mengembalikan tasawuf ke
landasan Al-Qur’an dan as-Sunnah dan mengaitkan keadaan dan tingkatan rohaniah kepada
kedua landasan tersebut. Tokoh yang paling berpengaruh dalam aliran ini adalah al-Qusyairi,
al-Harawi, dan al-Ghazali. Dengan demikian pada abad kelima Hijriah, Tasawuf akhlaki
berada dalam posisi yang sangat menentukan dan memungkinkan tersebar luas di kalangan
masyarakat Islam sampai sekarang.
Tasawuf akhlaki ialah aliran tasaawuf yang berusaha memadukan aspek hakekat dan
syari’at, yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan
diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran alQur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat. Tasawuf Akhlaqi yaitu tasawuf yang sangat
menekankan nilai-nilai etis (moral).
Tasawuf akhlaki banyak berkembang di dunia Islam, terutama di Negara–Negara
yang dominan bermazhab Syafi’i. Tasawuf ini sering digandrungi orang karena paham atau
ajaran – ajarannya tidak terlalu rumit.
Latar belakang munculnya ajaran ini tidak telepas dari pecekcokan masalah aqidah
yang melanda para ulama’ fiqh dan tasawwuf lebih-lebih pada abad kelima hijriah aliran
syi’ah al-islamiyah yang berusaha untuk memngembalikan kepemimpinan kepada keturunan
ali bin abi thalib. Dimana syi’ah lebih banyak mempengaruhi para sufi dengan doktrin bahwa
imam yang ghaib akan pindah ketangan sufi yang layak menyandang gelar waliyullah,
dipihak lain para sufi banyak yang dipengaruhi oleh filsafat Neo-Platonisme yang
memunculkan corak pemikiran taawwuf falsafi yang tentunya sangat bertentangan dengan
kehidupan para sahabat dan tabi’in. dengan ketegangan inilah muncullah sang pemadu
syari’at dan hakekat yaitu Imam Ghazali.

2.
a.
b.

Ciri-ciri dan karakteristik ajaran Tasawuf akhlaki:

Melandaskan diri pada Al-quran dan As-Sunnah.
Tidak menggunakan terminologi – terminology filsafat sebagaimana terdapat pada
ungkapan – ungkapan Syathahat.
c.
Lebih bersifat mengajarkan dualism dalam hunganan antara Tuhan dan manusia.
d. Kesinambungan antara hakikat dengan syari’at.
e.
Lebih terkonsentrasi pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara
riyadhah (latihan – latihan) dan langkah takhalli, tahalli, dan tajalli.

Tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
1. Takhalli
merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi.Takhalli adalah
usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak tercela
yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan
kepada urusan duniawi.
2. Tahalli
adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan
sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah
mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama baik
yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam). Yang disebut aspek luar adalah
kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll. Dan adapun yang
bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan dan kecintaan kepada Tuhan. Sikap mental
dan perbuatan yang baik sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia akan dibiasakan
dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna, antara lain sebagai berikut:
a. Taubat: Yaitu rasa penyesalan sungguh – sungguh dalam hati yang disertai permohonan
ampun serta berusaha meninggalkan perbuatan yang menimbulkan dosa.
b. Cemas dan Harap (Khauf dan Raja’) : yaitu perasaan yang timbul karena banyak berbuat salah
dan seringkali lalai kepada Allah.
c. Zuhud: Yaitu meninggalkan kehidupan duniawi dan melepaskan diri dari pengaruh materi.
d. Al-Faqr: Yaitu sikap yang tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan
merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki sehingga tidak meminta sesuatu yang lain.
e. Al-Sabru: Yaitu suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian.
f. Ridha: Yaitu menerima dengan lapang dada dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang
dari Allah.
g. Muraqabah: yaitu seseorang menyadari bahwa dirinya tidak pernah lepas dari pengawasan
Allah sehingga selalu membawanya pada sikap mawas diri atau self correction.
3. Tajalli
Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa
dan organ-organ tubuh –yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa
melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka, maka rasa ketuhanan
perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa
kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.

3.

Tokoh-tokoh Tasawuf Sunni
Munculnya aliran-aliran tasawuf ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berperan di
dalamnya. Begitu juga sama halnya dengan Tasawuf sunni. Diantara sufi yang berpengaruh
dari aliran-aliran tasawuf sunni dengan antara lain sebagai berikut:

a.

Hasan al-Basri.
Hasan al-Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat taqwa,
wara’ dan zahid. Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi al-Hasan. Lahir di
Madinah pada tahun 21 H tetapi dibesarkan di Wadi al-Qura. Setahun sesudah perang Shiffin
dia pindah ke Bashrah dan menetap di sana sampai ia meninggal tahun 110 H.
Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan duniawi
sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. Prinsip kedua Hasan alBashri adalah al-khouf dan raja’. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena
berbuat dosa dan sering melalakukan perintahNya. Serta menyadari kekurang
sempurnaannya. Oleh karena itu, prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk
melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan dating
yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi.

b.

Rabiah Al-Adawiyah
Nama lengkapnya adalah Rabiah al-adawiyah binti ismail al Adawiyah al Bashoriyah,
juga digelari Ummu al-Khair. Ia lahir di Bashrah tahun 95 H, disebut rabi’ah karena ia puteri
ke empat dari anak-anak Ismail. Diceritakan, bahwa sejak masa kanak-kanaknya dia telah
hafal Al-Quran dan sangat kuat beribadah serta hidup sederhana.
Cinta murni kepada Tuhan adalah puncak ajarannya dalam tasawuf yang pada umumnya
dituangkan melalui syair-syair dan kalimat-kalimat puitis.
Cinta kepada Allah adalah satu-satunya cinta menurutnya sehingga ia tidak bersedia
mambagi cintanya untuk yang lainnya. Seperti kata-katanya “Cintaku kepada Allah telah
menutup hatiku untuk mencintai selain Dia”. Bahkan sewaktu ia ditanyai tentang cintanya
kepad Rasulullah SAW, ia menjawab: “Sebenarnya aku sangat mencintai Rasulullah, namun
kecintaanku pada al-Khaliq telah melupakanku untuk mencintai siapa saja selain Dia”.
Pernyataan ini dipertegas lagi olehnya lagi mealui syair berikut ini: “Daku tenggelam dalam
merenung kekasih jiwa, Sirna segalanya selain Dia, Karena kekasih, sirna rasa benci dan
murka”.

c. Dzu Al-Nun Al-Misri
Nama lengkapnya adalah Abu al-Faidi Tsauban bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Mishri alAkhimini Qibthy. Ia dilahirkan di Akhmin daerah Mesir. Sedikit sekali yang dapat diketahui
tentang silsilah keturunan dan riwayat pendidikannya karena masih banyak orang yang belum
mengungkapkan masalah ini. Namun demikian telah disebut-sebut oleh orang banyak sebagai
seorang sufi yang tersohor dan tekemuka diantara sufi-sufi lainnya pada abad 3 Hijriah.

d. Abu Hamid Al-Ghazali
Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn
Ahmad. Karena kedudukan tingginya dalam Islam, dia diberi gelar Hujjatul Islam.Ayahnya,
menurut sebagian penulis biografi, bekerja sebagai pemintal wol. Dari itulah, tokoh sufi yang
satu ini terkenal dengan al-Ghazzali (yang pemintal wol), menurut periwayatan al-Subki, dia
serta saudaranya menerima pendidikan mistisnya dirumah seorang sufi sahabat ayahnya,
setelah ayahnya meninggal dunia.
Di bidang tasawuf, karya-karya Al-Ghazali cukup banyak, yang paling penting
adalah Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dalam karyanya tersebut, dia menguraikan secara terinci
pendapatnya tentang tasawuf, serta menghubungkannya dengan fiqh maupun moral agama.
Juga karya-karya lainnya, al-Munqidz min al-Dhalal, dimana ia menguraikan secara menarik
kehidupan rohaniahnya, Minhaj al-‘Abidin, Kimia’ al-Sa’adah, Misykat al-Anwar dan
sebagainya.
B. Tasawuf Falsafi
1.

Pengertian Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistik
dengan visi rasional. Berbada dengan tasawuf akhlaki, seperti tasawufal-Qusyairi dan alGhazali, tasawuf Falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya.
Pemaduan antara unsur tasawuf dan filsafat dalam ajaran tasawuf falsafi telah
membuat ajaran tasawuf aliran ini bercampur dengan sejumlah ajaran filsafat diluar Islam
seperti Yunani, Persia, India, dan agama nasrani. Meskipun demikian orisinalitasnya sebagai
tasawuf falsafi tetap terpelihara. Ciri umum dari aliran antara lain banyak ungkapan dan
istilah yang digunakan samar-samar terkadang hanya dipahami oleh kalangan tertentu,
terutama yang memahami dan mendalami ajaran tasawuf jenis ini, sehingga tasawuf falsafi
tidak dapat dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metode didasarkan pada rasa
(dzauq), begitu juga sebaliknya tidak dapat dikatagorikan kepada tasawuf dalam pengertian
murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat.
Para sufi pendiri aliran tasawuf falsafi ini:
a. memahami ilmu agama dengan mendalami seperti Fiqh, Hadis, Tafsir, dan Ilmu Kalam.
b. Mereka juga dikenal dengan baik filsafat Yunani dan berbagai aliran filsafat lainnya. mereka
juga mengkaji pemikiran para filosof Islam seperti al-Farabi, Ibnu Sina dan lain-lain.
c. Selain itu mereka juga dipengaruhi oleh aliran bathiniah sekte Islamiyah dan risalah ikhwan
al-Shafa. Karena itu mereka sering mendapat kritikan terutama dari kalangan para fuqaha
karena pendapat mereka tentang kesatuan wujud, kesatuan agama dan akibat yang
ditimbulkannya yang menurut para fuqaha bertentangan dengan akidah Islam.
Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah menyimpulkan bahwa ada empat objek utama
yang menjadi perhatian para sufi falsafi yaitu:
a. Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri.
b. Iluminasi atau hakikat yang terungkap dari alam ghaib, misalnya sifat-sifat Rabbani, arsy,
kursi, malaikat, wahyu, kenabian, ruh, hakikat realitas segala wujud yang ghaib maupun yang
tampak dari susunan kosmos terutama tentang penciptaan dan ciptaannya.
c. Peristiwa-peristiwa dalam alam yang berpengaruh terhadap berbagai kekeramatan dan
kekeluarbiasaan

d. Shathahiyat, ungkapan yang samar-samar yang telah melahirkan reaksi masyarakat berupa
pengingkaran dan penyatuan.
Tasawuf akhlaki mempunyai beberapa karakteristik antara lain:
a. Tasawuf ini didasarkan pada latihan rohaniyah untuk peningkatan moral, sedangkan ilmu
iluminasi sebagai metode untuk mengetahui berbagai hakikat realitas, yang menurut
penganutnya dapat dicapai dengan fana.
b. Mereka juga sering menyamarkan ungkapan-ungkapan tentang hakikat realitas ajaran
mereka dengan berbagai simbol, sehingga ajaran mereka tidak dapat dipahami begitu saja
oleh orang lain, dan sukar ditafsirkan, seperti ungkapan Abu Yazid al-Busthami, dan alHallaj.
Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf
akhlaki. kalau tasawuf akhlaki lebih menonjol kepada segi praktis , sehingga dalam konsepkonsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan
filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang
awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Pemikiran Filsafat merasuki dan mempengaruhi pemikiran Islam secara umum, dan
tasawuf secara khusus, pada abad VI dan VII H. Pada abad tersebut muncul mazhab wahdatul
wujud dalam bentuknya yang paripurna di tangan Sufi-Filosof Andalusia, Muhyiddin Ibnu
Arabi (wafat 628 H). Mazhab wahdatul wujud tersebar dari Barat ke Timur oleh Ibnu Arabi
sendiri dan Ibnu Sab’in.
2.
1.

Tokoh-tokoh tasawuf falsafi
Al-hallaj
Al-hallaj menggunakan paham hulul. Hulul merupakan salah satu konsep didalam
tasawuf falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Kata hulul
berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk
suatu zat kedalam zat yang lainnya. Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini
telah disalah artikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehingga
dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang
raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah
hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya
Allah yang menyembah Allah.

2. Abu yazid al-bustami.
Ia mengembangkan faham ittihad, yang menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi,
oleh karena itu manusia hilang kesadaranya (sebagai manusia) maka pada dasarnya ia telah
menemukan asal mula yang sebenarnya yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu
dengan Tuhan. Sebagaimana Pengertian ittihad yang disebutkan dalam sufi terminologi
adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Kata ini berasal dari kata wahd atau
wahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan
Tuhan.

3. Ibn Arabi
Ibn Arabi menggunakan bentuk pola akal yang bertingkat-tingkat, seperti; akal pertama,
kedua, ketiga dan sampai akal kesepuluh. Dimana ia mencoba mengambarkan bahwa proses
terjadinya sesuatu ini berasal dari yang satu, kalau Bahasanya plotinus ialah the one. Beliau
mengajarkan faham Wahdatul-wujud dan Wahdatul-adyan. Wahdatul-adyan adalah kesamaan
agama, al-Arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu. Karakteristik dari tasawuf ini
adalah lebih mengedepankan akal dari pada al-qur’an dan as-sunnah.
4. Al-jilli
Konsep al-jilli adalah insan kamil yaitu nukhsoh atau copy Tuhan, Tuhan memiliki sifat
pandai, berkehendak, mendengar, dan sebagainya. Manusiapun memiliki sifat tersebut, dari
konsep ini ia berusaha memberikan pemahaman kepada kita bahwa manusia adalah insan
kamil dengan segala kesempurnaannya, sebab pada dirinya terdapat sifat dan nama illahi.
Sama dengan al-Arabi karekteristik ajarannya lebih mengedepankan akal.
5. Ibn Sabi’in
Ibn Sabi’in terkenal dengan fahamnya yaitu kesatuan mutlak yang menempatkan
ketuhanan pada tempat pertama, sebab wujud Allah menurutnya adalah asal segala yang ada.
Sementara wujud materi yang tampak justru dia rujukkan pada wujud mutlak.
6. Ibnu-Massarah
Ia menganut faham emanasi yaitu tingkatan-tingkatan wujud yang memancar dari
tuhan ,dalam fahamnya adalah materi pertama yang bersifat rohaniah, kemudian akal
universal, diikuti dengan jiwa yang bersifat murakkab.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan makalah tersebut dapat disimpulkan:
Tasawuf sunni
ialah aliran tasaawuf yang berusaha memadukan asapek hakekat dan syari’at, yang
senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada
allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah
dan Shirah para sahabat. Ciri-ciri dan karakteristik ajaran Tasawuf Sunni: Melandaskan diri
pada Al-quran dan As-Sunnah; Tidak menggunakan terminologi – terminology filsafat
sebagaimana terdapat pada ungkapan – ungkapan Syathahat; Lebih bersifat mengajarkan
dualism dalam hunganan antara Tuhan dan manusia; Kesinambungan antara hakikat dengan
syari’at; dan lebih terkonsentrasi pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa
dengan cara riyadhah (latihan – latihan) dan langkah takhalli, tahalli, dan tajalli.
Tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
1.Takhalli
merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi.Takhalli adalah
usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak tercela
yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan
kepada urusan duniawi.
2.Tahalli
adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan
sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah
mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama baik
yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam). Yang disebut aspek luar adalah
kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll. Dan adapun yang
bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan dan kecintaan kepada Tuhan. Sikap mental
dan perbuatan yang baik sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia akan dibiasakan
dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna.
3. Tajalli
Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa
dan organ-organ tubuh –yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa
melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka, maka rasa ketuhanan
perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa
kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.
Tasawuf filosofii adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistik
dengan visi rasional; Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifatsifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang
wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan yang kosmos; peristiwa-peristiwa
dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau
keluarbiasaan, penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar.

DAFTAR PUSTAKA
Damanhuri, Akhlak Tasawuf, Banda Aceh: PENA, 2
Fattah Sayyid Ahmad. Abdul, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu Taimiyah, Jakarta:
KHALIFA, 2005.

Judul: Makalah Tasawwuf

Oleh: Ibnu Asqolani


Ikuti kami