Makalah Ramiah

Oleh Hasbi Raihan

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Ramiah

BAB 1
PENDAHULUAN

Syariat islam menetapkan bahwa akad pernikahan antara suami istri untuk selama hayat
dikandung badan, sekali nikah untuk selama hidup, agar didalam ikatan pernikahan suami
istri bisa hidup bersama menjalin kasih sayang untuk mewujudkan keluarga bahagia yang
penuh ketenangan hidup serta memelihara dan mendidik anak-anak sebagai generasi yang
handal.
Tujuan yang mulia dalam melestarikan dan menjaga kesinambungan hidup rumah
tangga, ternyata bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Banyak kita
jumpai bahwa tujuan mulia perkawinan tidak dapat diwujudkan secara baik. Faktor-faktor
yang mempengaruhi antara lain: faktor psikologis, biologis, ekonomis, pandangan hidup,
perbedaan kecenderungan, dan lain sebagainya. Agama islam tidak menutup mata terhadap
hal-hal tersebut. Agama islam membuka jalan keluar dari krisis atau kesulitan rumah tangga
yang tidak dapat diatasi lagi. Jalan keluar tersebut dimungkinkan yaitu dengan jalan
perceraian. Jalan keluar ini tidak boleh ditempuh kecuali dalam keadaan terpaksa atau
darurat.
Rumusan Masalah:
1.

Apa saja bentuk-bentuk putusnya suatu perkawinan atas dasar kehendak suami?

2.

Apa saja bentuk-bentuk putusnya suatu perkawinan atas dasar kehendak istri?
Tujuan:

1.

Mengetahui bentuk-bentuk putusnya suatu perkawinan atas dasar kehendak sang suami.

2.

Mengetahui bentuk-bentuk putusnya suatu perkawinan atas dasar kehendak sang istri.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Berakhirnya perkawinan atas kehendak suami
Berakhirnya pernikahan atas kehendak atau inisiatif dari suami, menurut hukum islam
dapat melalui tiga cara, yaitu talaq, ila’, dan dzihar.
1)

Talak

1.

Pengertian Talak
Secara etimologi kata talak bermakna melepas, mengurai, atau meninggalkan;
melepas atau mengurai tali pengikat, baik tali pengikat itu riil atau maknawi seperti tali
pengikat perkawinan. Hukum islam menentukan bahwa hak thalaq adalah suami dengan
alasan bahwa seorang laki-laki pada umumnya lebih mengutamakan pemikiran dalam
mempertimbangkan sesuatu daripada wanita yang biasanya bertindak atas dasar emosi.
Suami sebagai pemegang kendali talak sebagai imbangan atas kewajiban suami
menyelenggarakan nafkah. Hal-hal lain yang memberikan wewenang kepada suami
menjatuhkan talak kepada istrinya :

a.

Akad nikah dipegang oleh suami. Suami yang menerima ijab dari pihak istri pada waktu
melaksanakan akad nikah.

b.

Suami wajib membayar nafakah istrinya dalam masa perkawinannya dan dalam masa istri
menjalankan masa ‘iddah, apabila ia mentalaknya.

c.

Suami wajib membayar mahar kepada istrinya pada waktu akad nikah, dan dianjurkan
membayar uang mut’ah ( pemberian sukarela dari suami kepada istrinya ) setelah suami
mentalak istrinya.

d.

Perintah-perintah mentalak dalam Al-Qur’an dan Hadist banyak ditujukan kepada suami,
seperti dalam surat At-Thalaq ayat 1 dan 2 dan Al-Baqarah ayat 231.

e.

Laki-laki lebih tabah dalam menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan
dibandingkan perempuan.
Suami boleh menjatuhkan talak satu kali kepada istrinya, akan tetapi talak itu sangat
dibenci oleh Allah SWT, terutama jika tidak ada sebab musababnya. Laki-laki yang sah
menjatuhkan talak adalah suami yang baligh lagi berakal dan tidak ada paksaan.

2.


Dasar Hukum Talak
Q.S At-Thalaq Ayat 1:
َ ‫صوا ا ْل ِع َّدةَ َواتَّقُوا هَّللا َ َربَّ ُك ْم اَل ت ُْخ ِر ُجوهُنَّ ِمن بُيُوتِ ِهنَّ َواَل يَ ْخ ُرجْ نَ ِإاَّل‬
ُ ْ‫ساء فَ َطلِّقُوهُنَّ ِل ِع َّدتِ ِهنَّ َوَأح‬
َ ِّ‫ا َأيُّ َها النَّبِ ُّي ِإذَا َطلَّ ْقت ُ ُم الن‬
ُ ‫سهُ اَل تَد ِْري لَعَ َّل هَّللا َ يُحْ د‬
١- ً ‫ِث بَ ْع َد ذَ ِلكَ َأ ْمرا‬
َ ‫اح‬
ِ َ‫َأن يَْأتِينَ ِبف‬
َ ‫ش ٍة ُّمبَيِّنَ ٍة َو ِت ْلكَ ُحدُو ُد هَّللا ِ َو َمن يَتَعَ َّد ُحدُو َد هَّللا ِ فَقَ ْد َظلَ َم نَ ْف‬

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan
mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu
iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari
rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan
perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar
hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”


Q.S At-Thalaq Ayat 2:
ُ ‫ع‬
‫ظ بِ ِه‬
َ ‫ش َها َدةَ هَّلِل ِ ذَ ِل ُك ْم يُو‬
َّ ‫ع ْد ٍل ِّمن ُك ْم َوَأقِي ُموا ال‬
َ ‫سكُوهُنَّ ِب َم ْع ُروفٍ َأ ْو فَ ِارقُوهُنَّ بِ َم ْع ُروفٍ َوَأش ِْهدُوا ذَ َو ْي‬
ِ ‫فَِإ ذَا َبلَ ْغنَ َأ َجلَ ُهنَّ فََأ ْم‬
٢- ً ‫ق هَّللا َ يَجْ عَل لَّهُ َم ْخ َرجا‬
ِ َّ ‫ َمن كَانَ يُْؤ ِمنُ بِاهَّلل ِ َوا ْليَ ْو ِم اآْل ِخ ِر َو َمن يَت‬“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik
atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil
di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah
diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”



Q.S Al-Baqarah Ayat 231, yang artinya: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu
mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma´ruf, atau
ceraikanlah mereka dengan cara yang ma´ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk
memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa
berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah
kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa
yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah
memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah
kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

3.
a.

Hukum Talak
Wajib, yaitu apabila terjadi syiqaq ( pertengkaran ) antara kedua suami istri, kemudian
diutus dua orang hakam ( pendamai ), tetapi kedua hakam itu gagal dalam usahanya dan
tidak ada jalan lain selain bercerai, maka ketika itu wajib menjatuhkan talak.

b.

Makruh/haram, yaitu menjatuhkan talak dengan tidak ada sebab musababnya.

c.

Mubah ( boleh ), yaitu ketika ada suatu kebutuhan, seperti kurang baik pergaulan dengan
istrinya.

d.

Sunat, yaitu jika istri tidak menjaga kehormatannya dan telah diberi nasehat tetapi tidak
diacuhkannya.

e.

Haram, yaitu menjatuhkan talak ketika istri dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci,
tetapi boleh dicampuri.

4.

Rukun dan Syarat Talak]
Rukun talak merupakan unsur pokok yang harus ada dalam talak dan terwujudnya
talak tergantung ada dan lengkapnya unsur-unsur yang dimaksud. Masing-masing rukun
tersebut harus memenuhi persyaratan. Syarat talak ada yang berkenaan dengan suami, yang
berkenaan dengan istri, dan syighat talak. Suatu talak yang tidak lengkap rukun dan
syaratnya, maka talaknya tidak sah.
Rukun dan Syarat Talak adalah sebagai berikut :



Suami. Suami adalah orang yang memiliki hak talak dan yang berhak menjatuhkannya.
Selain suami tidak ada yang berhak menjatuhkan talak. Suami baru dapat menjatuhkan talak
kepada istrinya apabila telah melakukan akad nikah yang sah.
Ada syarat yang harus dipenuhi oleh suami agar talak yang dijatuhkannya sah, yaitu berakal,
baligh, dan atas kemauan/kehendak sendiri.



Istri. Untuk sahnya talak, istri harus dalam kekuasaan suami, yaitu istri tersebut belum
pernah ditalak atau sudah ditalak tetapi masih dalam masa iddah.



Syighat atau lafadz talak. Yaitu lafadz yang menunjukkan putusnya ikatan perkawinan,
baik lafadz sharih maupun kinayah. Ada 2 (dua) syarat syighat talak, yaitu :

o Lafadz tersebut menunjukkan talak, baik sharih maupun kinayah. Oleh karena itu tidak sah
talak dengan perbuatan.
o Lafadz tersebut dimaksudkan sebagai ucapan talak bukan karena keliru.
5.

Macam-macam Talak

a.

Ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya talak atau keadaan istri waktu talak itu diucapkan,
talak dibedakan menjadi:



Talak sunni, merupakan talak yang pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan al-Qur’an
dan sunnah. Kriteria dari talak ini antara lain: istri sudah pernah dikumpuli, istri segera
melakuan iddah setelah ditalak, istri yang ditalak dalam keadaan suci baik di awal suci atau
diakhir suci, dalam masa ssuci pada waktu suami menjatuhkan talak istri tidak dicampuri.



Talak Bid’iy, merupakan talak yang dijatuhkan tidak menurut tuntunan agama. Yang
termasuk dalam talak bid’iy : talak yang dijatuhkan pada waktu istri sedang menjalani haid
atau sedang nifas, dan talak yang dijatuhkan pada waktu istri dalam keadaan suci tetapi telah
dikumpuli lebih dahulu
Talak bid’iy dilarang kerana memudaratkan istri yaitu memperpanjang masa iddah.

Talak la sunni wala bid’i
Talak yang termasuk dalam kategori ini adalah talak yang bukan sunni dan bukan pula bid’i,
yaitu : talak yang dijatuhkan kepada istri yang belum pernah dikumpuli, talak yang
dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah haid atau istri yang telah lepas dari masa haid
( monopause ), dan talak yang dijatuhkan kepada istri yang sedang hamil.
b.

Ditinjau dari segi lafadz atau kata-kata yang digunakan untuk menjatuhkan talak
Talak sharih, merupakan talak yang apabila seorang menjatuhkan talak kepada istrinya
dengan mempergunakan kata-kata At-Thalaq atau Al-Firaq, atau As-Sara. Ketiga kata
tersebut terdapat dalam Al-Qur’an atau hadits yang maksudnya jelas untuk menceraikan
istri. Dengan menggunakan lafadz tersebut, seseorang yang mentalak istrinya maka jatuhlah
talak tersebut walaupun tanpa niat.
Talak kinayah atau kiasan, merupakan talak yang dilakukan seseorang dengan
menggunakan kata-kata selain dari kata-kata lafadz sharih. Suami mentalak istrinya dengan
menggunakan kata-kata sindiran atau samar-samar. Seseorang yang menggunakan lafadz
kinayah baru jatuh talaknya jika dia niatkan bahwa perbuatannya itu adalah ucapan talak.

c.

Ditinjau dari kemungkinan suami merujuk kembali istrinya atau tidak, talak dibagi
menjadi dua macam, yaitu:



Talak raj’iy, merupakan talak yang si suami diberi hak untuk kembali kepada istri yang
ditalaknya tanpa harus melalui akad nikah yang baru, selama istri masih dalam masa iddah.
Talak raj’iy tidak menghilangkan ikatan perkawinan sama sekali dan yang termasuk dalam
talak ini adalah talak satu atau talak dua.



Talak ba’in, merupakan talak yang tidak diberikan hak kepada suami untuk rujuk
kepada istrinya. Apabila suami ingin kembali kepada mantan istrinya, maka harus dilakukan
dengan akad nikah yang baru yang memenuhi unsur-unsur dan syarat-syaratnya. Talak ba’in
ini menghilangkan tali ikatan sumai istri. Talak ini terbagi dalam :

 Ba’in sughra, yaitu talak yang tidak memberikan hak rujuk kepada suami, tetapi suami bisa
menikah kembali kepada istrinya dengan tidak disyaratkan bahwa istri harus menikah
dahulu dengan laki-laki lain. Yang termasuk talak ini adalah talak satu dan talak dua.
 Ba’in kubra, yaitu talak yang apabila suami ingin kembali kepada mantan istrinya, selain
harus dilakukan dengan akad nikah yang baru, disyaratkan pula bahwa terlebih dahulu istri
harus sudah menikah dengan orang alin dan telah diceraikan. Yang termasuk talak ba’in
kubra ini adalah talak yang ketiga kalinya.
d.

Ditinjau dari cara menyampaikan talak :



Talak dengan ucapan, yaitu talak yang disampaikan oleh suami dengan ucapan lisan di
hadapan istrinya, dan si istri mendengarkan langsung ucapan suaminya tersebut.



Talak dengan tulisan, yaitu talak yang disampaikan oleh suami secara tertulis, kemudian
disampaikan kepada istrinya, dan istrinya membaca serta memahami maksud dan isinya.



Talak dengan isyarat, yaitu talak yang dilakukan dalama bentuk isyarat oleh suami yang
tuna wicara. Sebagian fuqaha mengatakan bahwa talak dengan isyarat bagi orang tuna
wicara adalah sah apabila dia buta huruf. Akan tetapi jika dia dapat menulis, maka dia harus
melaksanakan talaknya dalam bentuk tulisan, karena hal ini lebih jelas dibandingkan dengan
isyarat.



Talak dengan utusan, yaitu talak yang disampaikan oleh suami kepada istrinya melalui
perantaraan orang lain sebagai utusan darinya untuk menyampaikan maksud dia mentalak
istrinya tersebut.

2)

ILA’

1.

Pengertian Ila’
Dalam hukum islam, ila’ adalah “ Sumpah suami dengan menyebut nama Allah atau
sifat-Nya yang tertuju kepada istrinya untuk tidak mendekati istrinya itu, baik secara mutlak
tau dibatasi dengan ucapan selama-lamanya, atau dibatasi empat bulan atau lebih
”.Ketentuan mengenai Illa’ tercantum dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 226-227, yang artinya:“
Orang-orang yang meng’illa istrinya, diberi kesempatan selama empat bulan, apabila
dalam masa empat bulan itu suami kembali bergaul dengan istrinya, maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, tetapi apabila suami bermaksud
menjatuhkan thalaq, maka Allah Maha mendengar dan mengetahui ”.

2.

Syarat-syarat Ila’
Seperti thalaq, illa’ ada yang sah dan ada yang tidak sah/batal. Ila’ yang sah adalah
ila’ yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a.

Syarat-syarat yang berhubungan dengan suami istri.

b.

Ila’ hendaklah berupa sumpah.

c.

Isi ila’ hendaklah bahwa suami bersumpah tidak akan mencampuri istrinya. Sumpah yang
tidak mengandung pengertian tersebut tidak dihukum sebagai ila’.

d.

Waktu menunggu.

Yang dimaksudkan disini adalah waktu yang ditentukan oleh suami di dalam ila’nya yang
dalam waktu tersebut ia tidak akan mencampuri istrinya.
3)

DZIHAR

1.

Pengertian dzihar
Dzihar berasal dari kata zhahr yang berarti “ punggung ”. Maksudnya ialah
perkataan suami kepada istrinya : “ Untukku engkau seperti punggung ibu ku ” ( anti
‘alaiyya ka zhahri ummi ). Apabila suami telah mengucapkan perkataan tersebut, maka
istrinya itu haram dacampurinya sebagaimana ia haram mencampuri ibunya. Para ulama
sepakat tentang haramnya dzihar, dan tidak boleh melakukan perbuatan tersebut, sesuai
dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Mujadilah ayat 2, yang artinya: “ Orang laki-laki di
kalangan kamu sekalian yang mendzihar istri-istrinya itu sebenarnya mereka ( istri-istri )
itu bukanlah ibu-ibunya. Sesungguhnya ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang
melahirkan mereka. Dan sesungguhya mereka sudah berkata keji dan dusta. Dan
sesungguhnya Allah itu Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun ”.

2.

Syarat-syarat dzihar
Suatu dzihar dianggap sah apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Yang berhubungan dengan suami istri
Para ahli fiqh sepakat bahwa suami yang mendzihar istrinya itu hendaklah suami yang
baligh, berakal dan telah terikat dengan akad nikah yang sah.
b) Yang berhubungan dengan shighat dzihar
Para ahli fiqh sepakat apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya : “ Untukku
engkau seperti punggung ibuku ”, maka perkataan tersebut termasuk shighat dzihar.
Demikian juga bahwa tidak dihukumi dzihar apabila suami menyamakan istrinya dengan
ibunya dengan tujuan penghormatan kepada istrinya atau untuk menyatakan rasa terima
kasihnya kepada istrinya yang telah dapat berfungsi sebagaimana fungsi ibunya dan
sebagainya.]

3.

Akibat Hukum dari Dzihar

 Haram menyetubuhi istrinya sebelum suaminya membayar kafarat dzihar.
Sebelum suami mengumpuli kembali istrinya, ia diwajibkan membayar kafarat dzihar
berupa :
1) Memerdekakan seorang budak sahaya yang beriman.
2) Jika suami tidak bisa melakukannya, maka ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut,
tanpa diselingi berbuka dalam satu hari pun.

3) Jika suami tidak mampu melakukannya lagi, maka ia harus ( wajib ) memberi makan
secukupnya kepada 60 orang miskin.
 Jika suami berpendapat bahwa memperbaiki kembali hubungannya dengan istri tidak
memungkinkan dan menurut pertimbangannya bahwa bercerai adalah jalan yang terbaik,
maka hendaklah suami menjatuhkan thalaq kepada istrinya, agar tidak menyiksa istri
lebih lama lagi.
 Apabila suami tidak mencabut kembali dziharnya dan tidak juga menceraikan istrinya, maka
setelah berlalu masa empat bulan atau 120 hari sejak diucapkannya dzihar, hakim
menceraikan antara keduanya dan perceraian antara keduanya sebagai perceraian ba’in.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa seperti halnya ila’, bahwa dzihar tidak
secara langsung berakibat cerai antara keduanya melainkan baru merupakan prolog dari
perceraian. Apabila sudah berlalu samapi empat bulan setelah suami mengucapkan dzihar,
tidak mau kembali lagi kepada istrinya dan mencabut sumpahnya, maka dzihar berakibat
perceraian
B. Berakhirnya Perkawinan atas kehendak Istri
1)
A.

KHULU’
Pengertian Khulu’
Berakhirnya perkawinan atas kehendak istri antara lain melalui lembaga khulu’.
Menurut epistimologi kata khulu’ berasal dari kata ‫ خلعا‬- ‫ خلع – يخلع‬yang artinya melepas,
mencopot, atau menanggalkan. Khulu’ disebut juga al-fida’ yaitu tebusan, karena istri
menebus dirinya dari suaminya dengan mengembalikan apa yang pernah diterimanya.
Menurut Hanafiyah, khulu’ adalah menghilangkan pemilikan nikah (yang dihubungankan
dengan penerimaan istri) dan dengan menggunakan lafadz khulu’ atau lafazd-lafadz
semakna dengan khulu’. Sedangkan menurut Malikiyah, khulu’ adalah thalaq dengan
‘iwadl, baik itu datangnya dari pihak istri (wali atau wakilnya) atau dengan menggunakan
lafadz khulu’. Menurut Syafi’iyah, khulu’ adalah furqah (perpisahan) yang terjadi di antara
suami istri dengan iwald (pengganti) baik dengan lafadz thalaq ataupun khulu’. Dan
menurut Hambali, khulu’ adalah perpisahan yang dilakukan suami pada istri dengan iwald
yang diambil dari istri (atau selainnya) dengan lafadz tertentu.Dari beberapa pengertian
diatas, pemakalah dapat mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan khulu’ yaitu
menghilangkan atau membuka buhul akad nikah dengan kesediaan istri membayar iwadl
(ganti rugi) kepada pemilik akad nkah itu (suami) dengan menggunakan perkataan cerai atau
khulu’.

B.

Dasar Hukum Khulu’
Dasar hukum diperbolehkannya melakukan khulu’ adalah sebagai berikut

a.

QS. Al-Baqarah Ayat 229
Yang artinya: “tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan
kepada mereka kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukumhukum Allah, jika kamu khawatir bahwa keduanya suami istri tidak akan dapat menjalankan
hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberkan
istri untuk menebus dirinya.”

b.

Hadist Nabi SAW
“Dari Ibn Abbas ra. Sesungguhnya istri Tsabit Ibn Qais datang kepada Rasulullah saw.
maka ia berkata: wahai Rasulullah, tentang Tsabit Ibn Qais saya tidak mencelanya tentang
budi pekertinya, tentang agamanya, namun saya membenci kekufurannya dalam islam.
Jawab Rasulullah: bersediakah engkau mengembalikan kebun Tsabit kepadanya? Jamilah
menjawab: ya bersedia, maka Rasulullah bersabda: terimalah kebun itu dan talaklah istrimu
satu talak.” (HR. Bukhari)

C.

Rukun dan Syarat Khulu’
Rukun-rukun khulu’ antara lain sebagai berikut:



Al-Qabil adalah penerima khulu’, yaitu pihak istri



Al-Mujib adalah orang yang menyatakan ijab khulu’, yaitu pihak suami



Al-Iwadl adalah sesuatu yang dibayarkan untuk khulu’



Al-Mu’awwad adalah sesuatu yang diganti dengan iwadl, dalam hal ini adalah
budlu’nya sang istri (hak yang mengambil kesenangan/kemanfaatan pada istri)



Al-sighat adalah lafadz yang digunakan untuk khulu’
Adapun rukun-rukun khulu’ menurut Hanafiyah ada dua macam, yaitu ijab dari pihak
istri dan qabul dari pihak suami.]
Syarat-syarat Khulu’ antara lain:



Seorang istri boleh meminta kepada suaminya untuk melakukan khulu’, jika tampak
adanya bahaya yang mengancam dan dia merasa takut tidak akan menegakkan hukum Allah



Khulu’ itu hendaknya dilakukan tanpa dibarengi dengan tindakan penganiayaan yang
dilakukan oleh suami, jika pihak suami melakukan penganiayaan, maka ia tidak boleh
mengambil sesuatupun dari istrinya.


D.

Khulu’ itu berasal dari pihak istri bukan dari pihak suam
Iwadl

Selama iwadl belum diberikan oleh pihak istri kepada pihak suami, maka selama itu pula
tergantung perceraian. Setelah iwadl diserahkan barulah terjadi perceraian. Mengeni jumlah
iwadl sebagian ulama perpendapat, bahwa suami tidak boleh menerima iwadl melebihi dari
mahar yang diberikannya. Sedangkan jumhur fuqaha berpendapat bahwa uang khulu’ itu
boleh lebih dari mahar atau melebihi dari apa yang diberikan suami kepada istrinya. Dan
menurut fuqaha Syafi’iyah, iwadl dari istri itu boleh lebih besar dari mahar yang
diterimanya, boleh berupa barang atau manfaat (termasuk jasa), boleh tunai atau boleh
dihutang.

E.

Akibat Khulu’
Akibat khulu’ sama dengan akibat talak ba-in shughra. Suami tidak mempunyai hak
untuk merujuki bekas istrinya. Sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa masa ‘iddah dari
bekas istri yang dikhulu’ ialah satu kali haid. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa
iddahnya istri yang dikhulu’ ialah tiga kali quru’ kalau mereka masih haid. Dan menurut
Ibnu Taimiah, dalam talaq biasa iddah itu tiga kali quru’ adalah untuk memperpanjang masa
rujuk, agar suami bisa berpikir panjang untuk dapat merujuk istrinya dalam masa iddah.
Sedangkan dalam khulu’ rujuk itu tidak ada, maka iddahnya hanya satu kali haid,
dimaksudkan hanya untuk membersihkan kandungan saja

BAB III
KESIMPULAN
Berakhirnya perkawinan atas kehendak atau inisiatif dari suami menurut hukum islam
dapat melalui tiga cara, yaitu: (1) Talak: yaitu melepaskan tali perkawinan dan mengakhiri
tali pernikahan suami istri. (2) Ila: yaitu Sumpah suami dengan menyebut nama Allah atau
sifat-Nya yang tertuju kepada istrinya untuk tidak mendekati istrinya itu, baik secara mutlak
tau dibatasi dengan ucapan selama-lamanya, atau dibatasi empat bulan atau lebih. (3)
Dzihar: yaitu ucapan kasar yang dikatakan suami kepada istrinya dengan meyerupakan istri
itu dengan ibu atau mahram suami, dengan ucapan itu dimaksudkan untuk mengharamkan
istri bagi suami.
Hukum islam menentukan hak talak kepada suami dengan alasan bahwa seorang lakilaki pada umumnya lebih mengutamakan pemikiran dalam mempertimbangkan sesuatu
daripada wanita yang biasanya bertindak atas dasar emosi.
Sedangkan berakhirnya perkawinan atas kehendak atau inisiatif dari sang istri antara lain
yaitu dengan cara khulu’. Dari beberapa pendapat para ulama seperti yang dijelaskan diatas,
kami dapat menyimpulkan bahwa khulu’ adalah perceraian yang terjadi atas permintaan istri
dengan memberikan tebusan atau iwadl kepada suami untuk dirinya dan perceraian disetujui
oleh suami.
Hikmah atau sisi baik dari talak dan khulu’ antara lain:
 Sarana untuk memilih pasangan hidup lebih baik dan harmonis
 Bentuk pengakuan islam akan realitas kehidupan dan kondisi kejiwaan yang mungkin
berubah dan berganti.
 Salah satu obat sakit hati mental dan menghindari suami yang tidak menjalankan kewajiban
dengan baik.
 Member kebebasan untuk memilih sejauh yang dibolehkan oleh agama, serta menghindarkan
diri dari kejahatan yang mungkin dilakukan oleh suami atau istri

DAFTAR PUSTAKA


Fiqih Munakahat II. Yogyakarta: Bidang akademik UIN Sunan Kalijaga.



Nuroniyah, wardah, dkk. 2011. Hukum perkawinan islam di Indonesia.
perkawinan dalam islam. Jakarta: PT. Hidakarya agung.

Hukum

MAKALAH AGAMA TENTANG

TALAQ
DI
S
U
S
U
N

OLEH:
1. RAMIAH PADANG
2. ERIK APRIJAL
3. ERIC WARDANA
4.DAENG ILFANSAH

FAKULTAS EKONOMI TAHUN AJARAN 2O16-2017

Judul: Makalah Ramiah

Oleh: Hasbi Raihan


Ikuti kami