Makalah Mahaza

Oleh Novi Ekalora

17 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Mahaza

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Peningkatan kesehatan lingkungan dimaksudkan untuk perbaikan mutu
lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan melalui kegiatan peningkatan
sanitasi, dasar kondisi fisik dan biologis yang tidak baik termasuk berbagai akibat
sampingan pembangunan.
Sanitasi dasar meliputi penyehatan air bersih, penyehatan pembuangan
kotoran, penyehatan lingkungan perumahan, penyehatan air buangan / limbah,
pengawasan sanitasi tempat umum dan penyehatan makanan dan minuman.
(Hiswani, 2003)
Pada umumnya keadaan lingkungan fisik dan biologis pemukiman penduduk
di Indonesia belum baik, hal ini berakibat masih tingginya angka kesakitan dan
kematian karena berbagai penyakit. Salah satu penyakit terbanyak yang
disebabkan oleh buruknya sanitasi di lingkungan masyarakat adalah diare, yaitu
buang air besar yang tidak normal berbentuk tinja encer dengan frekuensi lebih
banyak dari biasanya. (Hiswani, 2003)
Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi diare lebih dari 4 kali, sedangkan
pada bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensi lebih dari 3 kali per
hari. Penyakit diare akut 70 – 90% dapat diketahui dengan pasti penyebabnya,
baik penyebab langsung maupun tidak langsung. (M.H Abdoerrachman dkk,
1985)
Penyebab tidak langsung dipengaruhi oleh hygiene sanitasi, keadaan gizi,
kepadatan penduduk, sosial ekonomi, sosial budaya dan faktor lain seperti iklim,
sedangkan penyebab langsung diare terkait dengan masalah infeksi (bakteri, virus,
parasit), gangguan malabsorbsi, makanan basi, makanan yang tidak bersih atau
beracun, alergi, dan imunodefisiensi. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985)
Kebiasaan penduduk desa yang suka membuang kotoran disungai, tidak
mencuci tangan dengan air sabun sebelum memberi makan pada anak, tidak
menjaga kebersihan makanan, serta perilaku yang tidak mencerminkan pola hidup

1

sehat dapat menjadi menyebabkan timbulnya diare. Pemberian makanan tambahan
yang dini pada bayi sebelum usia 4 – 6 bulan tak jarang dapat menimbulkan diare.
(M.H Abdoerrachman dkk, 1985)
Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyebab utama
morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia terutama negara – negara
berkembang. Di Indonesia diperkirakan angka kesakitan antara 150 – 430
perseribu penduduk setahunnya. Patogenesa diare akut dimulai dengan masuknya
kuman kedalam usus halus kemudian bermultiplikasi didalamnya, mengeluarkan
toksin sehingga kekurangan cairan. Bila tidak dilakukan pertolongan sesegera
mungkin dengan cara yang benar, maka dapat menyebabkan kematian . Oleh
karena itu pertolongan pertama pada diare berupa pemberian cairan yang
bertujuan untuk menggantikan cairan yang hilang dan untuk memenuhi kebutuhan
sangat diperlukan. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985)
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian tersebut dapat di rumuskan masalah seperti ini; bagaimana gambaran
pengaruh faktor – faktor sanitasi yang terdiri atas faktor penyediaan air bersih,
ketersediaan jamban keluarga, pengelolaan sampah, sanitasi makanan, fasilitas
sanitasi, pelayanan kesehatan terhadap kejadian diare.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
pengaruh faktor – faktor sanitasi terhadap timbulnya penyakit diare.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh penyediaan air bersih
yang terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya diare.
b. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh ketersediaan jamban
keluarga yang terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya diare.

2

c. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh pengelolaan sampah
yang terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya diare.
d. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh Sanitasi makanan yang
terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya.

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal
dan cair. Dibagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI / RSCM, diare diartikan sebagai
buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi
lebih banyak dari biasanya. Neonatus dikatakan diare bila frekuensi buang air
besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan
dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985)
B. PENYEBAB
Etiologi

diare

dapat

dibagi

dalam

beberapa

faktor,

yaitu,

(M.H

Abdoerrachman dkk, 1985. Hendarwanto, 1996) :
1. Faktor Infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak – anak, infeksi enteral ini meliputi infeksi bakteri
dan infeksi virus.
b. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan
seperti otitis media akut. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak
dibawah umur 2 tahun.
2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat, pada anak terutama intoleransi laktosa
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor Makanan
a. Makanan basi, beracun dan alergi terhadap makanan
4. Faktor Psikologis
a. Rasa takut dan cemas, bisa menimbulkan diare pada anak yang lebih
dewasa, namun kasus ini jarang ditemukan.

4

C. PATOFISIOLOGI
Mekanisme

dasar

yang

menyebabkan

timbulnya

diare

ialah

(M.H

Abdoerrachman dkk, 1985. Hendarwanto, 1996):
1. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Cairan yang
berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkan sehingga timbul
diare.
2. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan Motilitas Usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuhan berlebihan yang
selanjutnya dapat menimbulkan diare.
Patogenesis Diare Akut :
1. Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah
berhasil melewati rintangan asam lambung.
2. Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus.
3. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)
4. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan diare.
Patogenesis Diare Kronis :
Lebih komplek dan faktor – faktor yang menimbulkannya ialah infeksi
bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain – lain.

5

D. GEJALA KLINIS
Gejala klinis dewasa dan anak – anak pada prinsipnya hampir sama, berikut
gejala klinis pada penyakit diare (M.H Abdoerrachman dkk, 1985. Hendarwanto,
1996:
1. Frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali
2. Nafsu makan berkurang atau tidak ada
3. Tinja cair dan mungkin disertai lendir atau darah
4. Bila penderita kehilangan banyak cairan dan elektrolit maka gejala dehidrasi
mulai tampak
5. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare dan dapat disebabkan
oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam
basa elektrolit.
E. KOMPLIKASI
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi
berbagai

macam

komplikasi

seperti

(M.H

Abdoerrachman

dkk,

1985 .

Hendarwanto, 1996):
1. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya
gangguan keseimbangan asam - basa (asidosis metabolik, hipokalemia dan
sebagainnya)
2. Hipokalemia (dengan gejala meterorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi,
perubahan pada elektrokardiogram)
3. Hipoglikemia
4. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktosa karena
kerusakan vili mukosa usus halus.
5. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik
6. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga
mengalami kelaparan.

6

F. CARA PENCEGAHAN DIARE
1. Pemberian hanya ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan (Pada Balita)
2. Mencuci tangan dengan sabun setelah berak atau sebelum memberi makan
anak. Menurut penelitian, umumnya anak yang berusia 5 tahun pernah
terinfeksi oleh rotavirus walaupun tidak semuanya mengalami diare.
Biasanya anak-anak ini tertular karena kurangnya kebiasaan hidup sehat
seperti kurang atau tidak mencuci tangan
3. Menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya, kamar mandi atau
jamban yang bersih juga dapat membantu mencegah penyebaran kuman.
4. Menggunakan air matang untuk makanan minuman Kuman penyebab
diare umumnya spesifik pada suatu daerah tertentu, yang bergantung pada
tingkat kebersihan lingkungan dan kebiasaan kesehatan warganya. Di
daerah dimana tingkat kebersihan lingkungannya buruk dan warganya
tidak memiliki kebiasaan hidup sehat sering ditemui kejadian diare
terutama karena adanya kontaminasi air atau makanan oleh kuman.
5. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

G. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA
DIARE
1. Penyediaan Air
a. Sumber air bersih
Penyediaan air untuk rumah tangga bisa tergolong penyediaan air
bersih dan bisa juga penyediaan air minum. Rumah tangga yang
mencukupi kebutuhan airnya dari sumur atau sumber-sumber lainnya
termasuk penyediaan air bersih. Tetapi untuk perumahan/pemukiman
yang kebutuhan airnya dicukupi dari Perusahaan Air Minum yang
diusahakan oleh baik Pemerintah maupun Badan Hukum yang lain,
maka termasuk penyediaan air minum, karena kualitas air yang
didistribusikan telah memenuhi syarat sebagai air minum. M. (Sarudji.
D,2006)

7

Persyaratan untuk penyediaan air bersih yang mengusahakan dari
sumur sendiri perlu memperhatikan kualitas air sumurnya dengan
selalu memperhatikan kontruksi sumur, sumber pencemar dan cara
pengolahan sebelum dikonsumsi. Sedangkan untuk yang bersumber
dari PDAM, perlu diperhatikan back siphonage dan cross conection.
(Sarudji. D, 2006)
Dalam dunia kesehatan khususnya kesehatan lingkungan, perhatian air
dikaitkan sebagai faktor pemindah/penularan penyakit atau sebagai
vehicle. Dalam hal ini E.G. Wagner menggambarkan bahwa air
berperan dalam menularkan penyakit-penyakit saluran pencernaan
makanan. Air membawa penyebab penyakit dari kotoran (faeces)
penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain melalui makanan, dan
minuman. Air juga berperan untuk membawapenyebab penyakit non
mikrobial seperti bahan-bahan toksik yang terkandung di dalamnya.
(Sarudji. D, 2006)
Penyakit-penyakit yang biasanya ditularkan melalui air adalah Thypus
abdominalis, Cholera, Dysentri basiler, Diare akut, Poliomyelitis,
Dysentri amoeba, penyakit- penyakit cacing seperti Ascariasis,
Trichiuris, parasit yang menggunakan air untuk daur hidupnya seperti
Schistosoma mansoni. (Sarudji. D, 2006)
b. Air Minum
Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat – syarat
kesehatan dan dapat diminum. Air bersih adalah air yang digunakan
untuk keperluan sehari – hari dan akan menjadi air minum setelah
dimasak lebih dahulu. (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
16/MENKES/PER/IX/1990). (Sarudji. D, 2006)
Air bersih harus memenuhi beberapa persyaratan, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif (Sarudji. D, 2006).
 Persyaratan Kuantitatif: Di Indonesia konsumsi air untuk daerah
perkotaan sekitar 120 liter/orang/hari dan untuk daerah pedesaan
sekitar 60 liter/orang/hari. (Sarudji. D, 2006).

8

 Persyaratan Kualitatif. (Sarudji. D, 2006)
c. Jarak sumur dengan jamban
Sampai kedalaman 10 feet dari permukaan tanah, dinding sumur di
buat kedap air, yang berperan sebagai penahan agar air permukaan
yang mungkin meresap ke dalam sumur telah melewati lapisan tanah
sedalam 10 feet, sehingga mikroba yang mungkin ada didalamnya
telah tersaring dengan baik. (Sarudji. D, 2006)
2. Jamban Keluarga
a. Kepemilikan jamban
Dalam hal pemanfaatan sanitasi, masyarakat umumnya memiliki
beberapa pilihan akses yang digunakan secara bergantian, sebelum
dialirkan ke sungai. Khusus bagi masyarakat rural dan peri-urban,
meski memiliki toilet di rumah, mereka juga masih memanfaatkan
“toilet terbuka” seperti sungai atau empang. Masyarakat peri-urban
menjadikan

kepraktisan

dan

norma

umum

(semua

orang

melakukannya) sebagai alasan utama untuk menyalurkan kotorannya
ke sungai.
Tidak heran, sungai-sungai di Indonesia bisa disebut sebagai jamban
raksasa karena masyarakat Indonesia umumnya menggunakan sungai
untuk buang air.
Masyarakat urban di perkotaan yang tinggal di gang-gang sempit atau
rumah rumah petak di Jakarta umumnya tidak mempunyai lahan besar
untuk membangun septic tank. Karena itu, mereka biasanya tak
memiliki jamban. Jika kemudian mereka memiliki sumur, umumnya
tidak diberi pembatas semen. Kala hujan tiba, kotoran yang ada di
tanah terbawa air hujan masuk ke dalam sumur.
Air yang sudah terkontaminasi inilah yang memudahkan terjadinya
diare. (Hiswani, 2003)
b. Buang air besar di jamban
Tinja dan limbah yang lain adalah limbah yang pasti dihasilkan oleh
setiap rumah. Oleh karena itu adalah kewajiban setiap rumah tangga

9

untuk

mengelola

tinja

ini

sebaik-baiknya.

Prinsip

dasarnya

menganggap bahwa tinja adalah sumber penyakit terutama penyakit
saluran alat cerna. Karenanya harus di lokalisasi untuk diolah sehingga
setelah dilepas ke lingkungan sudah tidak
berbahaya lagi. Pengolahan yang umum dan baik adalah dengan
memanfaatkan fungsi septic tank. (Sarudji. D, 2006)
c. Keadaan jamban
Dalam membangun tempat pembuangan tinja diperlukan beberapa
persyaratan sebagai berikut : (Sarudji. D, 2006)
 Tidak menimbulkan kontaminasi pada air tanah yang masuk ke
dalam sumber atau mata air dan sumur.
 Tidak menimbulkan kontaminasi pada air permukaan.
 Tidak

menimbulkan

kontaminasi

pada

tanah

permukaan.

Persyaratan ini untuk mencegah penularan penyakit cacing.
 Tinja tidak dapat dijangkau oleh lalat atau binatang-binatang
lainnya.
 Tidak menimbulkan bau dan terlindung dari pandangan, serta
memenuhi syarat-syarat estetika yang lain.
Pemilihan lokasi bangunan septic tank sesungguhnya tidak menjadi
masalah, karena bangunan ini kedap air, yang umumnya terbuat dari
beton (concrete) asalkan dijamin tidak bocor. Tapi yang menjadi
masalah adalah letak resapan air setelah melalui outlet. Lokasinya
harus menjamin tidak mempunyai kontribusi terhadap kontaminasi
sumber air yang digunakan sebagai sumber air minum.
Dianjurkan setidak-tidaknya berjarak 5 feet antara resapan dengan
sumber air. (Sarudji. D, 2006)
3. Pengelolaan Sampah
a. Tempat pembuangan sampah
Yang dimaksud dengan pembuangan sampah adalah kegiatan
menyingkirkan sampah dengan metode tertentu dengan tujuan agar

10

sampah tidak lagi mengganggu kesehatan lingkungan atau kesehatan
masyarakat. Ada dua istilah yang harus dibedakan dalam lingkup
pembuangan sampah solid waste (pembuangan sampah saja) dan final
disposal (pembuangan akhir). (Sarudji. D, 2006)
b. Keadaan tempat sampah
Pembuangan sampah yang berada di tingkat pemukiman yang perlu
diperhatikan adalah: (Sarudji. D, 2006)
1. Penyimpanan setempat (onsite storage)
Penyimpanan sampah setempat harus menjamin tidak bersarangnya
tikus, lalat dan binatang pengganggu lainnya serta tidak
menimbulkan bau. Oleh karena itu persyaratan kontainer sampah
harus mendapatkan perhatian.
2. Pengumpulan sampah
Terjaminnya kebersihan lingkungan pemukiman dari sampah juga
tergantung pada pengumpulan sampah yang diselenggarakan oleh
pihak pemerintah atau oleh pengurus kampung atau pihak
pengelola apabila dikelola oleh suatu real estate misalnya.
Keberlanjutan dan keteraturan pengambilan sampah ke tempat
pengumpulan merupakan jaminan bagi kebersihan lingkungan
pemukiman.
Sampah terutama yang mudah membusuk (garbage) merupakan
sumber makanan lalat dan tikus. Lalat merupakan salah satu vektor
penyakit terutama penyakit saluran pencernaan seperti Thypus
abdominalis, Cholera. Diare dan Dysentri. (Hiswani, 2003)
c. Vektor lalat
Vektor adalah salah satu mata rantai dari penularan penyakit. Lalat
merupakan salah satu vektor penyakit terutama penyakit saluran
pencernaan seperti thypus perut, kolera, diare dan disentri. (Sarudji. D,
2006)

11

Sampah

yang

mudah

membusuk

merupakan

media

tempat

berkembang biaknya lalat. Bahan – bahan organik yang membusuk,
baunya merangsang lalat untuk datang mengerumuni, karena bahan –
bahan yang membusuk tersebut merupakan makanan mereka. Adapun
komponen – komponen dalam system pengelolaan sampah yang harus
mendapat perhatian agar lalat tidak ada kesempatan untuk bersarang
dan berkembang biak adalah mulai dari penyimpanan sementara,
pengumpulan sampah dari penyimpanan setempat ke tempat
pengumpulan sampah (TPS), transfer dan transport dan tempat
pembuangan akhir (TPA). (Sarudji. D, 2006)
4. Sanitasi Makanan
a. Cara pengolahan
Makanan menjadi perhatian yang penting bagi para ahli lingkungan
karena tubuh selalu membutuhkan bahan-bahan dari luar untuk
memenuhi fungsinya baik dalam perannya untuk tumbuh, berkembang,
reproduksi maupun kesejahteraan. Makanan harus dimasak, disimpan,
disajikan menurut selera yang beraneka ragam, sehingga ada hubungan
yang lebih erat antara bahan makanan dengan para penanganan
makanan (food handlers). Ini juga menjadi sasaran perhatian bagi para
ahli kesehatan lingkungan. Secara umum agar factor makanan ini tidak
berbahaya bagi kesehatan, maka perlu tindakan-tindakan terhadap
makanan (food protection). Makanan yang sehat adalah makanan
dengan kandungan gizi yang cukup, jumlah atau ukurannya seimbang,
bersih dan tidak terkontaminasi. (Sarudji. D, 2006)
Secara

garis

besar

makanan

dapat

mempengaruhi

kesehatan

masyarakat dalam perannya sebagai berikut :
a. Kandungan zat-zat (gizi) makanan yang kurang karena rusak,
misalnya karena pemanasan yang tinggi atau penyimpanan yang
terlalu lama.
b. Makanan berperan sebagai vehicle dari beberapa macam penyakit
infeksi.

12

c. Makanan mengandung toksin bakteri.
d. Bahan makanan mengandung racun (poisonous plant and animal)
e. Terdapatnya racun kimia yang berasal dari bahan pengawet, bahan
aditif

pewarna

atau

penyedap,

kontaminan,

proses-proses

pengolahan dan pestisida.
Setelah makanan mengalami proses pengolahan, makanan yang akan
disajikan dan mungkin disimpan untuk beberapa waktu sebelum
disajikan, makanan sebagai vehicle dapat terkontaminasi pada proses
penyimpanan ataupun penyajian. Yang besar peranannya dalam
kontaminasi ini adalah :
1)penanganan makanan (food handlers) dan 2) vektor berbagai macam
penyakit saluran cerna, seperti lalat, kecoa, dan juga binatang pengerat.
(Sarudji. D, 2006)
Penanganan makanan yang tidak benar juga menjadi penyebab diare.
Banyak dari mereka yang mencuci sayuran dan buah dengan cara yang
tidak benar, sehingga berisiko terkontaminasi bakteri kembali.
Seharusnya mencuci sayuran atau buah menggunakan air mengalir,
bukan dengan air dalam tampungan. Begitu juga dengan pengolahan
makanan yang kurang higienis. (Hiswani, 2003)
b. Cara penyimpanan
Bahan makanan, selain merupakan sumber gizi bagi manusia, juga
merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme. Pertumbuhan
mikroorganisme dalam bahan pangan dapat menyebabkan perubahan
yang menguntungkan seperti perbaikan bahan pangan secara gizi, daya
cerna ataupun daya simpannya. (Hiswani, 2003)
Selain itu pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan juga
dapat mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak
diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi.
Kejadian ini biasanya terjadi pada pembusukan bahan pangan.
(Hiswani, 2003)

13

Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk
pertumbuhan mikroorganisme patogenik dan organisme lain penyebab
penyakit.
Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tifus, kolera, disentri, atau
tbc,mudah tersebar melalui bahan makanan. (Hiswani, 2003)
Gangguan-gangguan kesehatan, khususnya gangguan perut akibat
makanan disebabkan, antara lain oleh kebanyakan makan, alergi,
kekurangan zat gizi, keracunan langsung oleh bahan-bahan kimia, tanaman
atau hewan beracun;
toksintoksin yang dihasilkan bakteri; mengkonsumsi pangan yang
mengandung parasit - parasit hewan dan mikroorganisme. Gangguangangguan ini sering dikelompokkan menjadi satu karena memiliki gejala
yang hampir sama atau sering tertukar dalam penentuan penyebabnya.
(Hiswani, 2003).
5. Fasilitas Sanitasi
Fasilitas sanitasi penting peranannya, dalam hubungannya sebagai salah
satu faktor penyebab diare. Fasilitas makanan yang dimaksud seperti
tempat untuk mencuci tangan yang kurang, minimnya tempat untuk
mencuci peralatan rumah tangga, serta pola perilaku sehari-hari
masyarakat.

14

Judul: Makalah Mahaza

Oleh: Novi Ekalora


Ikuti kami