Makalah Mahaza

Oleh Novi Ekalora

122,2 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Mahaza

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Peningkatan kesehatan lingkungan dimaksudkan untuk perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan melalui kegiatan peningkatan sanitasi, dasar kondisi fisik dan biologis yang tidak baik termasuk berbagai akibat sampingan pembangunan. Sanitasi dasar meliputi penyehatan air bersih, penyehatan pembuangan kotoran, penyehatan lingkungan perumahan, penyehatan air buangan / limbah, pengawasan sanitasi tempat umum dan penyehatan makanan dan minuman. (Hiswani, 2003) Pada umumnya keadaan lingkungan fisik dan biologis pemukiman penduduk di Indonesia belum baik, hal ini berakibat masih tingginya angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit. Salah satu penyakit terbanyak yang disebabkan oleh buruknya sanitasi di lingkungan masyarakat adalah diare, yaitu buang air besar yang tidak normal berbentuk tinja encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. (Hiswani, 2003) Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi diare lebih dari 4 kali, sedangkan pada bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensi lebih dari 3 kali per hari. Penyakit diare akut 70 – 90% dapat diketahui dengan pasti penyebabnya, baik penyebab langsung maupun tidak langsung. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985) Penyebab tidak langsung dipengaruhi oleh hygiene sanitasi, keadaan gizi, kepadatan penduduk, sosial ekonomi, sosial budaya dan faktor lain seperti iklim, sedangkan penyebab langsung diare terkait dengan masalah infeksi (bakteri, virus, parasit), gangguan malabsorbsi, makanan basi, makanan yang tidak bersih atau beracun, alergi, dan imunodefisiensi. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985) Kebiasaan penduduk desa yang suka membuang kotoran disungai, tidak mencuci tangan dengan air sabun sebelum memberi makan pada anak, tidak menjaga kebersihan makanan, serta perilaku yang tidak mencerminkan pola hidup 1 sehat dapat menjadi menyebabkan timbulnya diare. Pemberian makanan tambahan yang dini pada bayi sebelum usia 4 – 6 bulan tak jarang dapat menimbulkan diare. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985) Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia terutama negara – negara berkembang. Di Indonesia diperkirakan angka kesakitan antara 150 – 430 perseribu penduduk setahunnya. Patogenesa diare akut dimulai dengan masuknya kuman kedalam usus halus kemudian bermultiplikasi didalamnya, mengeluarkan toksin sehingga kekurangan cairan. Bila tidak dilakukan pertolongan sesegera mungkin dengan cara yang benar, maka dapat menyebabkan kematian . Oleh karena itu pertolongan pertama pada diare berupa pemberian cairan yang bertujuan untuk menggantikan cairan yang hilang dan untuk memenuhi kebutuhan sangat diperlukan. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985) B. RUMUSAN MASALAH Dari uraian tersebut dapat di rumuskan masalah seperti ini; bagaimana gambaran pengaruh faktor – faktor sanitasi yang terdiri atas faktor penyediaan air bersih, ketersediaan jamban keluarga, pengelolaan sampah, sanitasi makanan, fasilitas sanitasi, pelayanan kesehatan terhadap kejadian diare. C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengaruh faktor – faktor sanitasi terhadap timbulnya penyakit diare. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh penyediaan air bersih yang terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya diare. b. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh ketersediaan jamban keluarga yang terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya diare. 2 c. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh pengelolaan sampah yang terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya diare. d. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengaruh Sanitasi makanan yang terdiri atas faktor – faktor berikut terhadap terjadinya. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Dibagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI / RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dikatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali. (M.H Abdoerrachman dkk, 1985) B. PENYEBAB Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu, (M.H Abdoerrachman dkk, 1985. Hendarwanto, 1996) : 1. Faktor Infeksi a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak – anak, infeksi enteral ini meliputi infeksi bakteri dan infeksi virus. b. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti otitis media akut. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak dibawah umur 2 tahun. 2. Faktor Malabsorbsi a. Malabsorbsi karbohidrat, pada anak terutama intoleransi laktosa b. Malabsorbsi lemak c. Malabsorbsi protein 3. Faktor Makanan a. Makanan basi, beracun dan alergi terhadap makanan 4. Faktor Psikologis a. Rasa takut dan cemas, bisa menimbulkan diare pada anak yang lebih dewasa, namun kasus ini jarang ditemukan. 4 C. PATOFISIOLOGI Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah (M.H Abdoerrachman dkk, 1985. Hendarwanto, 1996): 1. Gangguan Osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Cairan yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkan sehingga timbul diare. 2. Gangguan Sekresi Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. 3. Gangguan Motilitas Usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuhan berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare. Patogenesis Diare Akut : 1. Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. 2. Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus. 3. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik) 4. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. Patogenesis Diare Kronis : Lebih komplek dan faktor – faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain – lain. 5 D. GEJALA KLINIS Gejala klinis dewasa dan anak – anak pada prinsipnya hampir sama, berikut gejala klinis pada penyakit diare (M.H Abdoerrachman dkk, 1985. Hendarwanto, 1996: 1. Frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali 2. Nafsu makan berkurang atau tidak ada 3. Tinja cair dan mungkin disertai lendir atau darah 4. Bila penderita kehilangan banyak cairan dan elektrolit maka gejala dehidrasi mulai tampak 5. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa elektrolit. E. KOMPLIKASI Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti (M.H Abdoerrachman dkk, 1985 . Hendarwanto, 1996): 1. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam - basa (asidosis metabolik, hipokalemia dan sebagainnya) 2. Hipokalemia (dengan gejala meterorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektrokardiogram) 3. Hipoglikemia 4. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktosa karena kerusakan vili mukosa usus halus. 5. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik 6. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami kelaparan. 6 F. CARA PENCEGAHAN DIARE 1. Pemberian hanya ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan (Pada Balita) 2. Mencuci tangan dengan sabun setelah berak atau sebelum memberi makan anak. Menurut penelitian, umumnya anak yang berusia 5 tahun pernah terinfeksi oleh rotavirus walaupun tidak semuanya mengalami diare. Biasanya anak-anak ini tertular karena kurangnya kebiasaan hidup sehat seperti kurang atau tidak mencuci tangan 3. Menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya, kamar mandi atau jamban yang bersih juga dapat membantu mencegah penyebaran kuman. 4. Menggunakan air matang untuk makanan minuman Kuman penyebab diare umumnya spesifik pada suatu daerah tertentu, yang bergantung pada tingkat kebersihan lingkungan dan kebiasaan kesehatan warganya. Di daerah dimana tingkat kebersihan lingkungannya buruk dan warganya tidak memiliki kebiasaan hidup sehat sering ditemui kejadian diare terutama karena adanya kontaminasi air atau makanan oleh kuman. 5. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar G. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA DIARE 1. Penyediaan Air a. Sumber air bersih Penyediaan air untuk rumah tangga bisa tergolong penyediaan air bersih dan bisa juga penyediaan air minum. Rumah tangga yang mencukupi kebutuhan airnya dari sumur atau sumber-sumber lainnya termasuk penyediaan air bersih. Tetapi untuk perumahan/pemukiman yang kebutuhan airnya dicukupi dari Perusahaan Air Minum yang diusahakan oleh baik Pemerintah maupun Badan Hukum yang lain, maka termasuk penyediaan air minum, karena kualitas air yang didistribusikan telah memenuhi syarat sebagai air minum. M. (Sarudji. D,2006) 7 Persyaratan untuk penyediaan air bersih yang mengusahakan dari sumur sendiri perlu memperhatikan kualitas air sumurnya dengan selalu memperhatikan kontruksi sumur, sumber pencemar dan cara pengolahan sebelum dikonsumsi. Sedangkan untuk yang bersumber dari PDAM, perlu diperhatikan back siphonage dan cross conection. (Sarudji. D, 2006) Dalam dunia kesehatan khususnya kesehatan lingkungan, perhatian air dikaitkan sebagai faktor pemindah/penularan penyakit atau sebagai vehicle. Dalam hal ini E.G. Wagner menggambarkan bahwa air berperan dalam menularkan penyakit-penyakit saluran pencernaan makanan. Air membawa penyebab penyakit dari kotoran (faeces) penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain melalui makanan, dan minuman. Air juga berperan untuk membawapenyebab penyakit non mikrobial seperti bahan-bahan toksik yang terkandung di dalamnya. (Sarudji. D, 2006) Penyakit-penyakit yang biasanya ditularkan melalui air adalah Thypus abdominalis, Cholera, Dysentri basiler, Diare akut, Poliomyelitis, Dysentri amoeba, penyakit- penyakit cacing seperti Ascariasis, Trichiuris, parasit yang menggunakan air untuk daur hidupnya seperti Schistosoma mansoni. (Sarudji. D, 2006) b. Air Minum Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat – syarat kesehatan dan dapat diminum. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari – hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak lebih dahulu. (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 16/MENKES/PER/IX/1990). (Sarudji. D, 2006) Air bersih harus memenuhi beberapa persyaratan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (Sarudji. D, 2006).  Persyaratan Kuantitatif: Di Indonesia konsumsi air untuk daerah perkotaan sekitar 120 liter/orang/hari dan untuk daerah pedesaan sekitar 60 liter/orang/hari. (Sarudji. D, 2006). 8  Persyaratan Kualitatif. (Sarudji. D, 2006) c. Jarak sumur dengan jamban Sampai kedalaman 10 feet dari permukaan tanah, dinding sumur di buat kedap air, yang berperan sebagai penahan agar air permukaan yang mungkin meresap ke dalam sumur telah melewati lapisan tanah sedalam 10 feet, sehingga mikroba yang mungkin ada didalamnya telah tersaring dengan baik. (Sarudji. D, 2006) 2. Jamban Keluarga a. Kepemilikan jamban Dalam hal pemanfaatan sanitasi, masyarakat umumnya memiliki beberapa pilihan akses yang digunakan secara bergantian, sebelum dialirkan ke sungai. Khusus bagi masyarakat rural dan peri-urban, meski memiliki toilet di rumah, mereka juga masih memanfaatkan “toilet terbuka” seperti sungai atau empang. Masyarakat peri-urban menjadikan kepraktisan dan norma umum (semua orang melakukannya) sebagai alasan utama untuk menyalurkan kotorannya ke sungai. Tidak heran, sungai-sungai di Indonesia bisa disebut sebagai jamban raksasa karena masyarakat Indonesia umumnya menggunakan sungai untuk buang air. Masyarakat urban di perkotaan yang tinggal di gang-gang sempit atau rumah rumah petak di Jakarta umumnya tidak mempunyai lahan besar untuk membangun septic tank. Karena itu, mereka biasanya tak memiliki jamban. Jika kemudian mereka memiliki sumur, umumnya tidak diberi pembatas semen. Kala hujan tiba, kotoran yang ada di tanah terbawa air hujan masuk ke dalam sumur. Air yang sudah terkontaminasi inilah yang memudahkan terjadinya diare. (Hiswani, 2003) b. Buang air besar di jamban Tinja dan limbah yang lain adalah limbah yang pasti dihasilkan oleh setiap rumah. Oleh karena itu adalah kewajiban setiap rumah tangga 9 untuk mengelola tinja ini sebaik-baiknya. Prinsip dasarnya menganggap bahwa tinja adalah sumber penyakit terutama penyakit saluran alat cerna. Karenanya harus di lokalisasi untuk diolah sehingga setelah dilepas ke lingkungan sudah tidak berbahaya lagi. Pengolahan yang umum dan baik adalah dengan memanfaatkan fungsi septic tank. (Sarudji. D, 2006) c. Keadaan jamban Dalam membangun tempat pembuangan tinja diperlukan beberapa persyaratan sebagai berikut : (Sarudji. D, 2006)  Tidak menimbulkan kontaminasi pada air tanah yang masuk ke dalam sumber atau mata air dan sumur.  Tidak menimbulkan kontaminasi pada air permukaan.  Tidak menimbulkan kontaminasi pada tanah permukaan. Persyaratan ini untuk mencegah penularan penyakit cacing.  Tinja tidak dapat dijangkau oleh lalat atau binatang-binatang lainnya.  Tidak menimbulkan bau dan terlindung dari pandangan, serta memenuhi syarat-syarat estetika yang lain. Pemilihan lokasi bangunan septic tank sesungguhnya tidak menjadi masalah, karena bangunan ini kedap air, yang umumnya terbuat dari beton (concrete) asalkan dijamin tidak bocor. Tapi yang menjadi masalah adalah letak resapan air setelah melalui outlet. Lokasinya harus menjamin tidak mempunyai kontribusi terhadap kontaminasi sumber air yang digunakan sebagai sumber air minum. Dianjurkan setidak-tidaknya berjarak 5 feet antara resapan dengan sumber air. (Sarudji. D, 2006) 3. Pengelolaan Sampah a. Tempat pembuangan sampah Yang dimaksud dengan pembuangan sampah adalah kegiatan menyingkirkan sampah dengan metode tertentu dengan tujuan agar 10 sampah tidak lagi mengganggu kesehatan lingkungan atau kesehatan masyarakat. Ada dua istilah yang harus dibedakan dalam lingkup pembuangan sampah solid waste (pembuangan sampah saja) dan final disposal (pembuangan akhir). (Sarudji. D, 2006) b. Keadaan tempat sampah Pembuangan sampah yang berada di tingkat pemukiman yang perlu diperhatikan adalah: (Sarudji. D, 2006) 1. Penyimpanan setempat (onsite storage) Penyimpanan sampah setempat harus menjamin tidak bersarangnya tikus, lalat dan binatang pengganggu lainnya serta tidak menimbulkan bau. Oleh karena itu persyaratan kontainer sampah harus mendapatkan perhatian. 2. Pengumpulan sampah Terjaminnya kebersihan lingkungan pemukiman dari sampah juga tergantung pada pengumpulan sampah yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah atau oleh pengurus kampung atau pihak pengelola apabila dikelola oleh suatu real estate misalnya. Keberlanjutan dan keteraturan pengambilan sampah ke tempat pengumpulan merupakan jaminan bagi kebersihan lingkungan pemukiman. Sampah terutama yang mudah membusuk (garbage) merupakan sumber makanan lalat dan tikus. Lalat merupakan salah satu vektor penyakit terutama penyakit saluran pencernaan seperti Thypus abdominalis, Cholera. Diare dan Dysentri. (Hiswani, 2003) c. Vektor lalat Vektor adalah salah satu mata rantai dari penularan penyakit. Lalat merupakan salah satu vektor penyakit terutama penyakit saluran pencernaan seperti thypus perut, kolera, diare dan disentri. (Sarudji. D, 2006) 11 Sampah yang mudah membusuk merupakan media tempat berkembang biaknya lalat. Bahan – bahan organik yang membusuk, baunya merangsang lalat untuk datang mengerumuni, karena bahan – bahan yang membusuk tersebut merupakan makanan mereka. Adapun komponen – komponen dalam system pengelolaan sampah yang harus mendapat perhatian agar lalat tidak ada kesempatan untuk bersarang dan berkembang biak adalah mulai dari penyimpanan sementara, pengumpulan sampah dari penyimpanan setempat ke tempat pengumpulan sampah (TPS), transfer dan transport dan tempat pembuangan akhir (TPA). (Sarudji. D, 2006) 4. Sanitasi Makanan a. Cara pengolahan Makanan menjadi perhatian yang penting bagi para ahli lingkungan karena tubuh selalu membutuhkan bahan-bahan dari luar untuk memenuhi fungsinya baik dalam perannya untuk tumbuh, berkembang, reproduksi maupun kesejahteraan. Makanan harus dimasak, disimpan, disajikan menurut selera yang beraneka ragam, sehingga ada hubungan yang lebih erat antara bahan makanan dengan para penanganan makanan (food handlers). Ini juga menjadi sasaran perhatian bagi para ahli kesehatan lingkungan. Secara umum agar factor makanan ini tidak berbahaya bagi kesehatan, maka perlu tindakan-tindakan terhadap makanan (food protection). Makanan yang sehat adalah makanan dengan kandungan gizi yang cukup, jumlah atau ukurannya seimbang, bersih dan tidak terkontaminasi. (Sarudji. D, 2006) Secara garis besar makanan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat dalam perannya sebagai berikut : a. Kandungan zat-zat (gizi) makanan yang kurang karena rusak, misalnya karena pemanasan yang tinggi atau penyimpanan yang terlalu lama. b. Makanan berperan sebagai vehicle dari beberapa macam penyakit infeksi. 12 c. Makanan mengandung toksin bakteri. d. Bahan makanan mengandung racun (poisonous plant and animal) e. Terdapatnya racun kimia yang berasal dari bahan pengawet, bahan aditif pewarna atau penyedap, kontaminan, proses-proses pengolahan dan pestisida. Setelah makanan mengalami proses pengolahan, makanan yang akan disajikan dan mungkin disimpan untuk beberapa waktu sebelum disajikan, makanan sebagai vehicle dapat terkontaminasi pada proses penyimpanan ataupun penyajian. Yang besar peranannya dalam kontaminasi ini adalah : 1)penanganan makanan (food handlers) dan 2) vektor berbagai macam penyakit saluran cerna, seperti lalat, kecoa, dan juga binatang pengerat. (Sarudji. D, 2006) Penanganan makanan yang tidak benar juga menjadi penyebab diare. Banyak dari mereka yang mencuci sayuran dan buah dengan cara yang tidak benar, sehingga berisiko terkontaminasi bakteri kembali. Seharusnya mencuci sayuran atau buah menggunakan air mengalir, bukan dengan air dalam tampungan. Begitu juga dengan pengolahan makanan yang kurang higienis. (Hiswani, 2003) b. Cara penyimpanan Bahan makanan, selain merupakan sumber gizi bagi manusia, juga merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang menguntungkan seperti perbaikan bahan pangan secara gizi, daya cerna ataupun daya simpannya. (Hiswani, 2003) Selain itu pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan juga dapat mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi. Kejadian ini biasanya terjadi pada pembusukan bahan pangan. (Hiswani, 2003) 13 Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk pertumbuhan mikroorganisme patogenik dan organisme lain penyebab penyakit. Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tifus, kolera, disentri, atau tbc,mudah tersebar melalui bahan makanan. (Hiswani, 2003) Gangguan-gangguan kesehatan, khususnya gangguan perut akibat makanan disebabkan, antara lain oleh kebanyakan makan, alergi, kekurangan zat gizi, keracunan langsung oleh bahan-bahan kimia, tanaman atau hewan beracun; toksintoksin yang dihasilkan bakteri; mengkonsumsi pangan yang mengandung parasit - parasit hewan dan mikroorganisme. Gangguangangguan ini sering dikelompokkan menjadi satu karena memiliki gejala yang hampir sama atau sering tertukar dalam penentuan penyebabnya. (Hiswani, 2003). 5. Fasilitas Sanitasi Fasilitas sanitasi penting peranannya, dalam hubungannya sebagai salah satu faktor penyebab diare. Fasilitas makanan yang dimaksud seperti tempat untuk mencuci tangan yang kurang, minimnya tempat untuk mencuci peralatan rumah tangga, serta pola perilaku sehari-hari masyarakat. 14

Judul: Makalah Mahaza

Oleh: Novi Ekalora


Ikuti kami