Jawaban Soal Uas Nurjaya

Oleh Nur Jaya

15 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Soal Uas Nurjaya

BAB I
PENDAHULUAN
a.

Latar Belakang
Budidaya perairan merupakan bentuk pembudidayaan organism air termasuk

ikan, udang, kerang, kepiting dan tumbuhan air. Pada dasarnya budidaya
cenderung menguasai ekosistem perairan agar memperoleh produksi yang lebih
tinggi dengan menerapkan teknologi pengelolaan secara terkontrol. Di Indonesia
kegiatan budidaya perairan dibagi menjadi 3 yaitu sistem tradisional, semi
intensif, dan intensif (direktorat jendral perikanan budidaya 2003).
Secara umum budidaya perairan dilakukan melalui ekosistem buatan
manusia satuan budidaya yang biasanya terdiri dari komponen biotik dan abiotik.
Komponen biotik terdiri dari ikan udang yang dibudidayakan, organism plankton,
organism lain yang hidup di dalam air seperti parasit, predator dan mikroba,
sedangkan komponen abiotik terdiri dari bahan kimia dan fisika baik dari tanah
maupun air sebagai media pembudidaya komponen ekosistem pembudidaya baik
biotik maupun abiotik memberikan fungsi ekologis dan berhubungan satu sama
lain.
Udang windu (Penaeus mondon fab) merupakan salah satu komoditas
primadona di subsektor perikanan yang diharapkan dapat meningkatkan devisa
negara. Permintaan pasar di luar negeri yang cenderung meningkat serta sumber
daya yang cukup tersedia di Indonesia memberikan peluang sangat besar untuk
dapat dikembangkan budidayanya.
Budidaya udang windu sudah lama di kenal oleh masyarakat Indonesia,
sejak awal dekade 1970, pada awal-awal tahun (1970-1990) produksi udang
windu yang dihasilkan dari budidaya meningkat dengan pesat, namun seiring
dengan berjalannya waktu sampai sekarang budidaya udang windu mengalami
kemunduran. Hal ini dikarenakan pengembangan teknologi budidayanya
dilakukan tanpa dasar ilmiah yang kokoh maka banyak usaha budidaya udang
(lebih dari 60%) mengalami kegagalan, selain itu udang windu mengalami
kematian massal yang disebabkan kondisi lingkungan yang buruk dan terserang

penyakit. Sehingga banyak petani udang windu beralih usaha ke budidaya ikan
(bandeng atau nila) dan sebagian lain menelantarkan tambak akibat kerugian.
Di sisi lain, perkembangan teknologi budidaya Bandeng (Chanos chanos)
berjalan sangat lambat, tetapi bandeng tetap menjadi komoditas budidaya yang
paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia. Budidaya udang windu
lebih menguntungkan dari pada bandeng, karena harga jual udang windu lebih
tinggi. Sehingga untuk mengantisipasi agar kegiatan budidaya udang windu tetap
berlangsung, perlu diterapkan budidaya dengan cara polkultur. Kondisi ini
memungkinkan pemanfaatan tambak yang terlantar untuk membudidayakan
udang windu dan bandeng dalam satu lahan dengan cara polikultur.
Polikultur merupakan metode budidaya yang digunakan untuk pemeliharaan
banyak produk dalam satu lahan. Dengan sistem ini diperoleh manfaat yaitu
tingkat produktifitas lahan yang tinggi. Pada prinsipnya terdapat beberapa hal
yang berkaitan dengan produk yang harus diatur sehingga tidak terjadi persaingan
antar produk dalam memperoleh pakannya, selain itu setiap produk diharapkan
dapat saling memanfaatkan sehingga terjadi sirkulasi dalam satu lokasi budidaya.
(Syahid dkk, 2006)
Penerapan teknik budidaya secara polikultur diharapkan dapat meningkatkan
craying capacity atau daya dukung lahan tambak pada keadaan tertentu, dimana
pertumbuhan produksi akan tetap stabil. Hasil produksi dengan sistem
monokultur, petani hanya dapat memanen satu produk dalam satu periode. Namun
dengan polikultur, hasil panen dalam satu periode akan bertambah dengan
pemanfaatan lahan luasan yang sama, hal ini sangat membantu peningkatan
penghasilan petambak (Syahid dkk, 2006).
b.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menerapkan budidaya polikultur?
2. Apa manfaat dari pengelolaaan budidaya dengan cara polikultur?
3. Apa kerugian dari polikultur?
4. Dampak yang ditimbulkan dari sistem polikultur itu sendiri?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BAB III
PEMBAHASAN
Baru-baru ini sedang marak dengan adanya budidaya polikultur atau
budidaya dua kultivan dalam satu tambak. Contohnya adalah budidaya ikan
bandeng dengan udang. Para pembudidaya berani melakukan gebrakan seperti ini
dikarenakan ikan bandeng dan udang jika di gabungkan dalam satu lokasi tambak
tidak akan terjadi persaingan. Tidak terjadi persaingan tersebut dikarenakan jenis
makanan dua kultivan tersebut berbeda.
Udang windu dan ikan secara biologis memiliki sifat–sifat yang dapat
bersinergi sehingga budidaya polikultur semacam ini dapat dikembangkan karena
merupakan salah satu bentuk budidaya polikultur yang ramah terhadap
lingkungan. Ikan bandeng sebagai pemakan plankton merupakan pengendali
terhadap kelebihan plankton dalam perairan. Hubungan yang seperti ini dapat
menyeimbangkan ekosistem perairan (Murachman dkk, 2010).
Dalam budidaya polikultur harus di perhatikan juga persiapan dan keadaan
tambak itu sendiri. Karena budidaya ini melibatkan dua kultivan dan tiap kultivan
berbeda-beda kebutuhan dari habitat hidupnya. Persiapan tambak ini penting
mengingat kultivan akan beradaptasi dengan lingkungan baru, yang biasanya
kultivan tersebut hanya di budidayakan sendiri sekarang harus berbagi tempat
dengan kultivan lain. Harapannya tiap kultivan memiliki tugas masing-masing
dalam tambak tersebut dan saling menguntungkan satu sama lain.
Berdasarkan Adiwidjaya et al (2001), secara garis besar kegiatan usaha
budidaya polikultur bandeng dan udang tradisional meliputi persiapan tambak,
adaptasi benih, pemeliharaan dan panen :
1.

Persiapan tambak
Tujuan Persiapan tambak adalah untuk memperoleh kondisi lingkungan

yang optimal bagi kultivan secara fisik, biologi dan kimia. Kegiatan ini meliputi
pemberantasan hama, pengeringan tambak, perbaikan pematang, perbaikan pintu

air, perbaikan caren dan saluran air, pengapuran tambak, pemasukan air dan
penyiapan air media.
Pemberantasan hama dilakukan pada saat masih ada air. Bahan yang
digunakan adalah pestisida sintetis (contoh; brestan, kaporit) dan pestisida nabati
(contoh; saponin,akar tuba, tembakau). Pestisida sintetis diberikan saat air dalam
kondisi macak-macak (5 cm) dengan disebar merata, kemudian dibiarkan selama
15-21 hari agar trisipan terbunuh total. Saponin bisa diberikan jika masih ada ikan
liar. Kaporit bisa diberikan untuk memberantas ikan dan krustase liar dengan
ketinggian air 15-25 cm.
Dasar tambak dikeringkan dengan kondisi lembab, kemudian lumpur
diangkat ke pematang sekaligus memperbaiki pematang yang bocor. Bila pH
tanah kurang dari 6,5 pengapuran perlu dilakukan dengan dosis 500-1000 kg/ha.
Kapur diberikan 60% sebelum pembalikan tanah dan 40% sesudah pembalikan
tanah (sedalam 25 cm). pengeringan total bisa dilakukan 7-10 hari jika intensitas
cahaya matahari mencukupi. Kegiatan yang seiring dengan proses ini adalah
perbaikan pintu dan pemasangan saringannya.
Penyiapan air media dianggap cukup jika kondisi kualitas air stabil.
Sebelum air dimasukkan kelayakan pH tanah harus dicek terlebih dulu. Air
dimasukkan pada saat pasang tinggi (1,2-2,4 m) dengan memeriksa kualitas
sumber air terlebih dulu. Air perlu dibiarkan 2-5 hari setelah terisi penuh untuk
mengetahui tingkat perembesan dan penguapan. Air kemudian diperiksa
kelayakannya. Jika kondisi kualitas air dinyatakan layak maka bisa dilakukan
pemberian pupuk anorganik (urea 50 kg/ha dan TSP/NPK 200-300kg/ha) atau
pupuk organik (kompos 3 ton/ha atau kotoran hewan 1-3 ton/ha). Dalam waktu 710 hari pakan alami akan tumbuh (fitoplankton dan makroalga).
2.

Adaptasi dan penebaran benih
Benih udang (benur) di pasaran umumnya adalah PL 12-25 sedangkan

benih bandeng (nener) berukuran 2-3 cm. Benih bisa dibeli langsung dari hatcheri
atau lewat perantara. Penebaran udang dilakukan terlebih dulu daripada bandeng.
Sebelum benih ditebar maka benih dalam kantong plastik ini perlu diaklimatisasi
yaitu pengadaptasian dulu dengan kondisi air dalam tambak (suhu, salinitas, pH)

selama 15-30 menit. Pengadaptasian dilakukan dengan cara mengapungkan
plastik di air tambak, mengisinya dengan air sedikit demi sedikit.
Jika ukuran masih dianggap kecil benih dapat terlebih dulu didederkan
sampai ukuran yang dinginkan. Dalam pendederan ini benih dipelihara dalam
sebuah petakan kecil dalam tambak yang disebut sebagai pinihan. Jika ukuran
yang diinginkan sudah tercapai maka bisa dilakukan penebaran dengan membuka
petakan dan membiarkan udang menyebar ke seluruh bagian tambak. Waktu
penebaran yang terbaik adalah pagi atau sore hari. Untuk budidaya tradisional
padat tebar udang maksimal adalah 3 ekor/m2 sedangkan bandeng 2.500-5.000
ekor/ha.
3.

Pemeliharaan
Tahap pemeliharaan memerlukan waktu paling lama dibanding tahap

budidaya yang lain. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah pengelolaan
fitoplankton dan klekap, pengaturan air, monitoring hama dan penyakit, dan
pemupukan susulan. Warna air yang baik adalah hijau kekuningan yang
menandakan pertumbuhan alga hijau dan diatom. Klekap yang baik bertekstur
lembut tumbuh di dasar tambak dan tidak mengapung di air. Pertumbuhan klekap
yang pesat pada awal pemeliharaan dapat mengganggu gerak udang. Oleh karena
itu perlu dilakukan pemberian jalan dengan menyibak klekap. Jika kondisi air
kurang baik penggantian dapat dilakukan dengan memanfaatkan pasang surut.
Pada hari tertentu udang dan bandeng juga perlu diambil untuk melihat
pertumbuhannya.

Pengamatan

kesehatan

dilakukan

setiap

hari

untuk

mengantisipasi kematian massal. Pemupukan susulan bisa dilakukan jika kondisi
pakan alami dianggap berkualitas rendah.
4.

Pemanenan
Pada umumnya pemanenan dilakukan pada umur 120 hari (DOC) tetapi

kenyataan di lapangan waktu pemanenan bergantung pada kondisi kultivan.
Pemanenan bisa dilakukan secara bertahap atau total. Udang lebih mudah dipanen
dengan bertahap daripada bandeng. Alat panen meliputi bubu dan sero untuk
panen sebagian dan jaring untuk panen total. Bubu dan sero lebih menjamin
kualitas fisik udang dan biasanya digunakan saat air pasang dimana udang

mencari air segar. Panen sebaiknya dilakukan pada dini hari atau sore hari saat
udara dingin.
5.

Pasca panen
Setelah baik udang windu maupun ikan bandeng selesai ditangkap, maka

tahapan berikutnya adalah pembersihan udang dan bandeng, setelah itu kita
siapkan peti yang sudah berisi gumpalan es. Ikan dan udang dimasukkan kedalam
peti tersebut, agar supaya kesegaran baik udang maupun ikan bandieng tetap
terjaga, dan siap dipasarkan.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwidjaya, D., Kokarkin, C., Supito. 2001. Petunjuk Teknis Operasional
Tambak Sistem Resikulasi. Ditjen Perikanan Budidaya, Departemen
Kelautan dan Perikanan.Jepara.
Effendi. 1997. Metode Biologi Perikanan.Y a y a s a n
B o g o r Hal 112.

Dewi

Sri.

Murachman,Hanani, N., Soemarno, dan Muhammad, S,. 2010. Model Polikultur
Udang Windu (Penaeus monodon Fab), Ikan Bandeng (Chanos-chanos
Forskal) dan Rumput Laut (Gracillaria Sp.) Secara Tradisional. Program
Doktor Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang

Judul: Jawaban Soal Uas Nurjaya

Oleh: Nur Jaya


Ikuti kami