Makalah Fitoplankton

Oleh Jazilatul Suaiba

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Fitoplankton

SIFAT-SIFAT FITOPLANKTON, PERIFITON DAN MAKROFITA

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Limnologi yang diampu oleh bapak
Dr. Hadi Suwono, M. Si dan ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S. Si, M. Si

Kelompok 4
Devina Nuryagunah

100342404263

Warda Venia

100342400922

Annisa Puspitawangi

100342404256

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGAM STUDI S1 BIOLOGI
September 2013

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di perairan air tawar terdapat organisme yang berdasarkan cara hidupnya
dibedakan atas plankton, neuston, nekton dan bentos. Tumbuh-tumbuhan yang
mudah terlihat oleh mata disebut makrofita. Keberadaan makrovita diperairan
dapat digunakan sebagai naungan dan tempat makan untuk berbagai jenis
hewan,

member

keseimbangan

ruang

proses

hidup

pada

dekomposisi

mikroorganisme

bahan

organic

dan

dalam

menjaga
menyerap

karbondioksida dan melepas oksigen. Fitoplankton diperaiaran air tawar
didominasi oleh alga hijau. Fitoplankton dikonsumsi oleh zooplankton dan
ikan.
Setiap subtract dasar sungai memiliki komponen biotic yang khas. Jenis
hewan yang menempati subtract batuan berbeda dengan jenis hewan yang
menempati subtract lumpur. Subtract lumpur banyak ditumbuhi makrovita
berakar dan dihuni invertebrate. Banyak jenis-jenis invertebrate ini tidak
memakan makrovita berakar, tetapi hanya sebagai tempat berlindung.
Makanan invertebrate justru tumbuhan seperti alga epifit yang hidup di antara
makrovita berakar. Oleh karena lingkungan perairan air tawar sering berubah
karena perubahan lingkungan maka perlu dikaji lebih lanjut mengenai
perubahan pada dinamika biota perairan termasuk fitoplankton, makrovita dan
perifiton.

1.2 Rumusan Masalah
a. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi kepadatan fitoplankton?
b. Bagaimanakah jenis dan keanekaragaman fitoplankton?
c. Bagaimanakah jenis dan peran makrofita pada lingkungan?
d. Apa sajakah factor yang mempengaruhi keberadaan perifiton?
e. Bagaimanakah cara meneliti perifiton?
1.3 Apa Tujuan
a. Untuk mengetahui saja factor-faktor yang mempengaruhi kepadatan
fitoplankton
b. Untuk mengetahui bagaimanakah jenis dan keanekaragaman fitoplankton.
c. Untuk mengetahui jenis dan peran makrofita pada lingkungan
d. Untuk mengetahui yang mempengaruhi keberadaan perifiton
e. Untuk mengetahui cara meneliti perifiton.

BAB II
ISI
A. Pengertian Fitoplankton
Fitoplankton merupakan sekelompok organisme yang memegang peranan
sangat penting dalam ekosistem air, karena hidup fitoplankton terutama pada
lapisan perairan yang mendapat cahaya matahari yang dibutuhkan dan mempunyai
kandungan klorofil yang mampu melakukan proses fotosintesis. Proses
fotosintesis pada ekosistem air yang dilakukan oleh fitoplankton sebagai produsen
merupakan sumber energi utama bagi kelompok organisme air lainnya yang
berperan sebagai konsumen, dimulai dengan zooplankton dan di ikuti oleh
organisme air lainnya seperti ikan melalui rantai dan jaring-jaring makanan.
Setidaknya sekitar 90% proses fotosintesis diperairan dilakukan oleh fitoplankton,
sedangkan 10% sisanya berasal dari hasil fotosintesis yang dilakukan oleh
mikrofita.
Fitoplankton selain disusun oleh sekelompok bakteri terutama juga
tersusun dari kelompok ganggang (alga) mikroskopik. Ganggang ini ada yang
uniseluler, koloni atau membentuk filamen. Didalam perairan tawar fitoplankton
ini hidup bersama dengan zooplankton dan organisme lainnya. Alga yang hidup di
air terbuka seperti didanau dan sungai yang arusnya tidak terlalu kuat meliputi
hampir seluruh sekelompok takson alga.Populasi ganggang yang berada di
perairan danau oligotropik (danau yang memiliki kandungan nutrisi yang rendah)
kurang berlimpah dibandingkan dengan danau eutropik (danau yang kaya nutrisi).
Pembusukan bahan-bahan organik di dalam danau oligotropik tidak terlalu tinggi
sehingga tidak menghabiskan persediaan oksigen. Oleh karena itu, oksigen tidak
menjadi nutrien yang membatasi pertumbuhan fitoplankton.
Ekosistem danau ini mempunyai dua lapisan perairan yaitu lapisan
perairan yang lebih hangat dan lapisan perairan yang dingin. Lapisan perairan
yang lebih hangat berada di lapisan atas (epilimnion) sebaliknya lapisan perairan
yang lebih dingin terdapat di dalam metalimnion dan hipoliranion. Lapisan
epilimnion merupakan lapisan yang kaya akan oksigen sedangkan lapisan

hipolimnion merupakan lapisan yang miskin oksigen. Perbedaan kandungan
oksigen pada kedua lapisan tersebut berkaitan dengan jumlah cahaya yang
menjadi energi utama dalam proses fotosintesis. Kelimpahan fitoplankton di
daerah epilimnion lebih tinggi daripada di daerah hipolimnion.
B. Faktor faktor yang Mempengaruhi Kepadatan Fitoplankton
Fitoplanton tumbuh padat didalam danau eutrophik karena daerah
eutrophik banyak memberikan nutrisi yang penting bagi fitoplankton, terutama
unsure P dan N. namun, meskipun populasi fitoplanton tinggi kadar oksigen
terlarut tetap rendah, karena cahaya tidak dapat menembus perairan. Unsure P dan
N adalah unsure yang bermanfaat bagi pertumbuhan fitoplanton.
Fosfat merupakan unsur penting yang terdapat di dalam danau air tawar.
Fosfat merupakan nutrient utama bagi fitoplanton. Di dalam sebuah danau
eutrofik, dimana populasi ganggang berlimpah-limpah, ketika fosfor juga tersedia
berlimpah di dalam suatu danau, nitrogen menjadi terbatas. Pada danau yang
seperti ini, ganggang hijau biru jenis tertentu dapat mempunyai keuntungan dalam
berkompetisi dengan ganggang lain dan sering kali kelimpahannya mendominasi.
Di danau Eutrofik tingkat kematian fitoplanton sangat tinggi akibatnya materi
organic busuk dari fitoplanton menumpuk di daerah hipolimnion, hal ini
menyebabkan habisnya oksigen di daerah hipolimnion (Hadi,2010)
Faktor berikutnya yang berpengaruh terhadap kepadatan fitoplanton
adalah kecepatan arus air. Dimana kepadatan fitoplanton akan berkurang drastis
pada kecepatan arus yang lebih besar dari 1 m/detik. Jadi kelimpahan fitoplanton
di ekosistem lentik lebih tinggi dibanding pada ekosistem lotik terutama adalah
perifiton. Perifiton merupakan organisme tumbuhan yang hidupnya melekat pada
subtract yang ada diperairan misalnya pada batang, kayu, batu, cangkang
invertebrata,dsb
Selain kecepatan arus air yang berpengaruh antara lain kekeruhan air juga
sangat mempengaruhi keberadaan fitoplanton. Singh (1983) mencatat bahwa
kepadatan fitoplanton di sungai Gangga (India) pada tingkat kekeruhan 45-55
ppm mencapai 2500 individu/L dan pada saat musim penghujan tingkat kekeruhan

meningkat menjadi 600-900 ppm yang menyebabkan kepadatan fitoplanton
menurun sangat drastic hanya 100 individu/L (Temala,2002)
Selain faktor diatas menurut Goldman dan Hone (1983) pertumbuhan
fitoplanton dipengaruhi oleh faktor abiotik yaitu intensitas cahaya, suhu, pH,
oksigen terlarut, materi organic terlarut dan unsure hara yang terlarut seperti
senyawa nitrogeb dan fosfat. Cahaya mempengaruhi fitoplanton karena cahaya
diperlukan dalam fotosintesis fitoplanton. Zat hara diperlukan fitoplanton untuk
pertumbuhannya. Suhu mempenagruhi fitoplanton karena suhu berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan reproduksi fitoplanton.(Hadi,2010)
C. Jenis dan Keanekaragaman Fitoplankton
Fitoplankton terdiri dari berbagai jenis ganggang, yaitu Cyanophyta
(ganggang hijau biru), Cryptophyceae (kriptofita), Dinophyceae (dinoflagelata),
Chlorophyta

(ganggang

hijau),

Euglenophyta

(kelompok

euglena),

Bacillariophyceae (diatom), Chrysophyceae dan Haptophyceae (ganggang kuning
keemasan). Fitoplankton mencukupi kebutuhan energi dan karbon melalui
fotosintesis. Nutrien yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit pada umumnya adalah
vitamin, seperti cyanocobalamin, thiamine, dan biotin. Fitoplankton memerlukan
sekitar 20 unsur-unsur untuk pertumbuhan, tetapi hanya karbon, nitrogen dan
fosfor yang benar-benar diperlukan sehingga ketidakhadiran unsur tersebut dapat
mengatasi laju pertumbuhan fitoplankton. Semua unsur-unsur tersebut terdapat di
dalam air pada konsentrasi lebih rendah dibanding yang diperlukan oleh sel, oleh
sebab itu fitoplankton memiliki mekanisme yang berkaitan dengan enzim untuk
memasukkan unsur tersebut ke dalam sel.
1. Cyanophyta (ganggang hijau biru)
Cyanophyta merupakan bakteri dengan struktur sel prokariotik
sederhana. Cyanobacteria berbeda dengan bakteri lainnya karena adanya
klorofil a, pigmen fotosintetik yang dimiliki oleh alga dan tumbuhan tinggi.
Cyanobacteria juga mampu menggunakan air sebagai donor elektron didalam
fotosintesis. Jadi Cyanobacteria mampu melakukan fotosintesis seperti pada
tumbuhan tinggi. Bentuk Cyanobacteria ada yang bersifat unicellular, filamen
dan koloni. Kebanyakan dari Cyanobacteria yang planktonic terdiri dari

coccoid yaitu famili Chroococcaceae (Microcystis, Coelosphareium dan
Coccochloris).

Jenis

yang

filamen

(Planktothrix,

Limnothrix

dan

Tychonema), Nostocaceae (Anabena, Aphanizomenon,dan Nodularia) dan
Rivulariaceae (Gletrichia).
Cyanobacteria memiliki sel terdiferensiasi yang disebut heterocysts.
Heterocysts bisa terdapat pada alga bentuk filamen tetapi jarang pada
Oscilatoria. Heterocysts memiliki peran utama dalam proses fiksasi nitrogen.
Heterocysts merupakan penyerap cahaya yang utama pada Cyanobacteria.
Heterocysts tidak memiliki fotosistem tetapi memiliki kemampuan reduksi
yang tinggi. Lapisan lilin di dalam Heterocysts mampu membatasi laju difusi
oksigen dari luar, tetapi nitrogen dapat melaluinya untuk mendukung terjadi
proses fiksasi. Lingkungan dalam Heterocysts memungkinkan untuk
terjadinya proses fiksasi nitrogen. Tetapi enzim nitrogenase tidak aktif
dengan adanya oksigen. Karbon organik dari sel disebelahnya ditransfer ke
dalam Heterocysts dan digunakan sebagai suatu sumber energi di dalam
proses fiksasi nitrogen.
2. Chlorophyta (ganggang hijau)
Chlorophyta merupakan kelompok alga yang berukuran besar dan
memiliki bentuk bervariasi. Kelompok alga hijau adalah Volvocales dan
Chlorococcales. Reproduksi secara aseksual dilakukan melalui pembelahan
sel tetapi tidak untuk kelompok Chlorococcales dan Siphonales. Pembagian
sel didalam koloni mengakibatkan pelebaran koloni. Koloni tersebut dapat
terpecah-pecah dan terbentuklah koloni baru dibentuk dari fragmentasi koloni
induk. Reproduksi seksual didalam alga hijau beragam. Cara yang sederhana
adalah melalui peleburan dua sel gamet melalui apa yang disebut isogami dan
anisogami. Gamet jantan dan betina berflagel, memiliki struktur dan ukuran
serupa atau ada yang gamet betinanya sedikit lebih besar dari jantan. Isogami
merupakan peleburan gamet jantan dan betina yang ukurannya sama,
anisogami merupakan peleburan gamet jantan dan betina yang ukurannya
berbeda
3. Alga Kuning-Hijau (Xanthophyceae)

Anggota Xanthophyceae berbentuk unicellular, koloni dan filamen.
Xanthophyceae bercirikan adanya klorofil (pigmen hijau) dan xantofil
(pigmen kuning) karena itu warnanya hijau kekuning-kuningan. Semua sel
yang motil mempunyai dua flagela, salah satu dari lembut dan lebih panjang
dibanding yang lainnya. Xanthophyceae ada yang selnya tidak memiliki
dinding, tetapi yang selnya berdinding mengandung pektin dalam jumlah
yang besar. reproduksi aseksual pada umumnya melalui pembelahan dan
pembentukan zoospora. Kebanyakan alaga Xanthophyceae melekat pada
substrat dan epifit pada makrofita. Sebagian besar anggotanya bersifat
planktonik dan meliputi genus-genus umum seperti Chlorobotrys, Gleobotrys
dan Gleochloris.
4. Alga Coklat-keemasan
Kromofora

Chrysophyceae

menghasilkan

susunan

warna

coklat

keemasan karena adanya β-karotene dan xanthophyl khusus yaitu karotenoids
dan juga mengandung khlorofil a. Kebanyakan dari alga Chrysophycean
adalah unicellular contohnya Ochromonas, dan beberapa ada yang berupa
koloni contohnya Synura, dan jarang yang berbentuk filamen. Banyak jenis
yang tidak mempunyai dinding sel dan dilemgkapi oleh membran
sitoplasmik,

sedangkan

beberapa

permukaan

sel ditutup

oleh

plat

mengandung zat kapur atau mengandung silika. Reproduksi secara vegetatif
dengan pembelahan sel secara membujur. Jenis yang unicellular dengan
flagel tunggal meliputi Chromulina, Chrysococcus dan Mallomonas.
Chrysophyceae yang berbentuk koloni yang besar misalnya Synura,
Chrysophaerella,

Uroglena,

dan

Dinobryon.

Beberapa

jenis

alga

Chrysophyceae dapat melakukan fotosintesis dengan phagotrophy. Alga yang
phagotrophy mendapat nutrisi dan energi dengan mencerna bakteri.
5. Diatoms (Bacillariophyceae)
Diatom banyak ditemukan di dalam air. Karakteristik bacillariophyceae
adalah memiliki dinding sel dan bentuknya dapat berupa koloni dan
unicellular. Kelompok ini dibagi menjadi dua yaitu diatom simetri (central)
yang mempunyai simetri radial dan diatom pinatus atau bertagkai (pennales)
yang memiliki simetri bilateral. Dinding sel atau frustul diatom terdiri atas

dua katup yang cocok satu dengan lainnya. Empat kelompok utama pada
diatom bertangkai meliputi, a) Araphidineae (Pseudoraphe, Asterionella,
Diatoma,

Fragileria);

b)

Raphidioidineae

(Actinelia,

Eunotia);

c)

Monoraphidineae (Achnanthes, Cocconeis); dan d) Biraphidineae (Amphora,
Cymbella, Gomphonema, Navicula). Dinding sel tersusun atas dua belahan
yaitu kotak (hipoteca) dan tutup (epiteca). Reproduksi secara vegetatif dengan
sel adalah dengan cara membelah diri. Reproduksi seksual terjadi hanya
ketika

sel

merespon

kondisi-kondisi

lingkungan,

misalnya

cahaya,

temperatur, nutrien, faktor pertumbuhan dan lain-lain.
6. Cryptophyceae (kriptofita)
Kebanyakan dari alga crytophyceae adalah unicellular dan motil.
Anggota plankton Cryptomonadineae misalnya Cryptomonas, Rhodomonas
dan Chroomonas. Crytophyceae melakukan reproduksi melalui pembelahan
sel secara membujur. Ganggang crytophyceae hampir ada pada semua danau,
dengan mengabaikan status yang trophiknya. Kerakteristik crytophyceae
meliputi, dan mampu bereproduksi pada cahaya yang berintesitas rendah.
7. Dinophyceae (dinoflagellata)
Dinoflagellata merupakan alga satu sel berflagel sehingga banyak yang
motile. Mayoritas tidak mempunyai diding sel (Gymnodinium). Permukaan
sel mempunyai garis melintang dan kerut membujur yang saling berhubungan
dan berisi flagel. Dinoflagellata bereproduksi secara seksual, tetapi yang
dominan adalah reproduksi aseksual melalui pembentukan aplanospora.
8. Euglenophyta (kelompok euglena)
Ganggang euglenoid (Euglenophyceae) ukurannya relatif lebih besar dan
merupakan fitoplankton yang sesungguhnya. Hampir semua euglenoids
adalah unicellular, tidak mempunyai suatu dinding sel dan mempunyai
flagella yang berasal dari invaginasi membran sel. Reproduksi terjadi dengan
pembelahan sel secara longitudinal. Euglenoid mendapatkan nutrisi melalui
fotosintesis, tetapi sebagian ada yang bersifat fagotrofik. Amoniak dan
campuran nitrogen organik adalah sumber nitrogen yang penting bagi
kebanyakan ganggang euglenoid.
9. Alga Coklat dan Merah

Alga coklat (Phaoephyta) kebanyakan berbentuk filamen atau ganggang
bertalus. Sebagian besar hidup di air laut, yang hidup di air tawar hidupnya
melekat pada substrat. Ganggang merah (Rhodophyta) juga sangat jarang
yang tersebar pada perairan tawar. Jenis yang bertalus (Batrachospermum)
hidup terbatas pada air yang berarus dan teroksigenasi dengan baik.
D. Pengertian Makrofita
Tumbuhan air atau makrofita yang hidup pada suatu lingkungan perairan
dapat dikatakan sebagai salah satu faktor ekologis di suatu perairan, karena
tumbuhan air merupakan sumber utama makanan primer bagi kehidupan
organisme air misalnya ikan. Apabila keberadaannya cukup padat di lingkungan
perairan, maka tumbuhan air tidak hanya sebagai faktor ekologi, melainkan dapat
sebagai faktor pembatas karena dapat mengakibatkan kekurangan oksigen di
perairan tersebut. Makrofita mempunyai peran penting dalam meningkatkan
kualitas oksigen terlarut di lingkungan perairan karena pada tumbuhan air
mempunyai klorofil, dan juga sebagai sumber pakan bagi ikan gurami ataupun
nila, selain itu juga sebagai runtuhan (sisa-sisa) yang essensial untuk organisme
saprofit.
Sibontang (1988), menyatakan bahwa dari kelompok makrofita, nutrien
diasimilasikan dari endapan oleh makrofita yang memiliki daun mengembang,
berakar dan mengapung dari makrofita terapung bebas. Pada makrofita berakar
terbenam akan memperoleh nutriennya terutama pada batas air dengan endapan,
dimana konsentrasi jauh lebih besar dari pada dalam air. Tersedianya cahaya
merupakan faktor utama yang mengatur pertumbuhan dan interaksi kompetitif
pada makrofita aquatik. Pertumbuhan makrofita biasanya lebih tinggil pada
endapan yang kaya bahan organik dari pada endapan pasir.
E. Jenis Makrofita
Makrovita bersifat makroskopik, berbeda dengan tumbuhan lain,
ganggang misalnya, yang biasanya mikroskopik. Kebanyakan makrofita
membutuhkan akar dan oleh karena itu berkembang didalam air yang relative
dangkal. Makrofita di danau tumbuh secara normal dan muncul dari air. Makrofita
yang tumbuh tinggi misalnya Phragnites. Makrofita yang daunnya mengapung
datar di permukaan air adalah bunga teratai (Nymphaea) dan rumput-rumputan

liar (misalnya Patamogeton). Sebagian tumbuhan ada yang berada pada dasr air
seperti Myriophyllum dan Ceratophyllum. Diantara tumbuhan yang megapung
pada permukaan, tumbuhan yang paling kecil menempati tempat ini adalah
Lemma, dan yang paling besar meliputi eceng gondok (Eichornia) dan sejenis
paky (Salvinia)
Pada tumbuhan air, daun- daun dan batang makrofita berisi rongga udara
yang besar yang berisi tumbuhan tersebut apabila kekurangan oksigen.
Keseluruhan tumbuhan yang ada pada permukaan air tidak bisa memperoleh
oksigen dari udara bebas dan harus mengambil udara dan air. Mereka mempnyai
daun-daun sangat tiptis dan sebagian besar oksigen hasil fotosintesis tidak semua
dikeluarkan, hal itu bertujuab untuk mengurangi kekurangan pada akar. Beberapa
jenis tumbuhan air yang tergolong makrofita diantaranya:
1. Tumbuhan teratai
Teratai merupakan nama umum untuk genus Nymphaea yang merupakan
tumbuhan air. Tanaman teratai memiliki ciri khas dengan daun yang mengambang
di permukaan air yang tenang. Tanaman teratai pun menghasilkan bunga
mempesona yang memiliki warna beraneka ragam. Di beberapa daerah di
Indonesia teratai dikenal dengan beberapa nama yang hampir mirip seperti teratai,
dan terate. Dalam bahasa Inggris, bunga dari genus Nymphaea ini dikenal sebagai
water-lily atau waterlily.
Klasifikasi Ilmiah bunga teratai:
Kerajaan

: Plantae

Subkingdom :Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Nymphaeales

Famili

: Nymphaeaceae

Genus

: Nymphaea

GB: (Teratai putih/ Nymphaea alba)

Tanaman teratai tumbuh di permukaan air yang tenang. Tanaman teratai
juga memiliki daun yang tumbuh mengambang di permukaan air. Bunga teratai
terdapat di permukaan air, bunga dan daun teratai keluar dari tangkai yang berasal
dari rizoma yang berada di dalam lumpur pada dasar kolam, sungai atau rawa.
2. Tumbuhan krangkong ( Ludwigia adscendens)
Merupakan tumbuhan air yang tumbuh secara liar di tepi-tepi sungai,
sawah atau ditempat-tempat yang berair, pada ketinggian 10 m sampai 1600 m di
atas permukaan laut. Berbunga pada bulan Mei-Agustus dan pengurnpulan bahan
dapat dilakukan sepanjang tahun.
Klasifikasi:
Kingdom

: Plantae

Divisi

:Spermatophyta

Sub Divisi

:Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Sub Kelas

:Dialypetalae

Bangsa

:Myrtales

Suku

:Onagraccae

Marga

:Ludwigia

Spesies

: Ludwigia adscendens (L.)

Gambar : (Tumbuhan Krangkong / Ludwigia adscendens)

3. Tumbuhan kangkung
Klasifikasi ilmiah :

Kerajaan:

Plantae

Divisi:

Magnoliophyta

Kelas:

Magnoliopsida

Ordo:

Solanales

Famili:

Convolvulaceae

Genus:

Ipomoea

Spesies:

Ipomoea aquatica

Kangkung (Ipomoea aquatica) merupakan sejenis tumbuhan yang
termasuk jenis sayur-sayuran dan di tanam sebagai makanan. Kangkung banyak
dijual di pasar-pasar. Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia dan merupakan
tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.
Kangkung termasuk suku Convolvulaceae atau keluarga kangkung-kangkungan.
Merupakan tanaman yang tumbuh cepat dan memberikan hasil dalam waktu 4-6
minggu sejak dari benih. Terna semusim dengan panjang 30-50 cm ini merambat
pada lumpur dan tempat-tempat yang basah seperti tepi kali, rawa-rawa, atau
terapung di atas air. Biasa ditemukan di dataran rendah hingga 1.000 m di atas
permukaan laut. Tanaman bernama Latin Ipomoea reptans ini terdiri dan dua
varietas, yakni kangkung darat yang disebut kangkung cina dan kangkung air
yang tumbuh secara alami di sawah, rawa, atau parit.

Bagian tanaman kangkung yang paling penting adalah batang muda dan
pucuknya sebagai bahan sayur-mayur. Menurut Dr. Setiawan, kangkung
mempunyai rasa manis, tawar, sejuk. Sifat tanaman ini masuk ke dalam meridian
usus dan lambung. Efek farmakologis tanaman ini sebagai antiracun (antitoksik),
antiradang, peluruh kencing (diuretik),menghentikan perdarahan (hemostatik),
sedatif (obat tidur). Selain vitamin A, B1, dan C, kangkung juga mengandung
protein, kalsium, fosfor, besi, karoten, hentriakontan, sitosterol.
Secara anatomi tanaman kangkung memiliki akar serabut yang tumbuh
disetiap ruas batang, sehingga memiliki daya hisap yang tinggi terhadap logamlogam yang ada di sungai. Stuktur batang yang berongga berguna untuk
mempercepat proses kapilaritas dari batang. Akibatnya kemampuan untuk
mengangkut air limbah bisa terjadi dengan cepat. Struktur daun yang terdiri dari
3-5 lima helai dengan struktur daun yang tipis menyebabkan tumbuhan mudah
kehilangan air karena air yang ada di dalam menguap. Hilangnya air yang
menguap akan menyebabkan tekanan pada daun menjadi rendah sehingga menarik
air yang ada di pembuluh. Isapan daun ini akan membuat air yang terdapat di akar
naik ke atas. Dengan stuktur anatomi, morfologi dan fisiologi kangkung yang
seperti ini sehingga tanaman ini dapat menyerap berbagai jenis polutan yang ada
di sungai. (Anonim,Tanpa tahun)
4. Tumbuhan hydrila (Hydrilla verticillata)
5. Tumbuhan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)
Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solm.) merupakan tanaman
gulma di wilayah perairan yang hidup terapung pada air yang dalam atau
mengembangkan perakaran di dalam lumpur pada air yang dangkal. Eceng
gondok berkembangbiak dengan sangat cepat, baik secara vegetatif maupun
generatif. Perkembangbiakan dengan cara vegetatif dapat melipat ganda dua kali
dalam waktu 7-10 hari. Hasil penelitian Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Sumatera Utara di Danau Toba (2003) melaporkan bahwa satu batang eceng
gondok dalam waktu 52 hari mampu berkembang seluas 1 m2, atau dalam waktu
1 tahun mampu menutup area seluas 7 m2. Heyne (1987) menyatakan bahwa
dalam waktu 6 bulan pertumbuhan eceng gondok pada areal 1 ha dapat mencapai
bobot basah sebesar 125 ton.

Perkembangbiakannya yang demikian cepat menyebabkan tanaman eceng
gondok telah berubah menjadi tanaman gulma di beberapa wilayah perairan di
Indonesia. Di kawasan perairan danau, eceng gondok tumbuh pada bibir-bibir
pantai sampai sejauh 5-20 m. Perkembangbiakan ini juga dipicu oleh peningkatan
kesuburan di wilayah perairan danau (eutrofikasi), sebagai akibat dari erosi dan
sedimentasi lahan, berbagai aktivitas masyarakat (mandi, cuci, kakus/MCK),
budidaya perikanan (keramba jaring apung), limbah transportasi air, dan limbah
pertanian.(Pasaribu,Tanpa Tahun)
F. Peran Makrofita
Makrofita di perairan selain berdampak negatif juga mempunyai fungsi
positif bagi perikanan. Hasil penelitian Petr (2000), Pokorny & Kvet (2004),
Pipalova (2006), dan Krismono et al., (2007) menyatakan bahwa makrofita
merupakan komponen yang penting dalam ekosistem sebagai habitat pemijahan
ikan, asuhan ikan, menempelnya pakan alami dan penyerap konsentrasi nutrien
serta logam berat. Secara umum pengaruh makrofita pada ekosistem danau
merupakan bagian dari rantai stabilitas perairan.
Eceng gondok dapat berfungsi sebagai pembersih limbah rumah tangga.
Eceng gondok juga dapat membersihkan waduk dan danau dari polutan pestisida
dan logam berat. Hal ini telah dibuktikan secara histologis oleh Warrier & Seroja
(2008). Eceng gondok dapat tumbuh cepat 3% hari-1 khususnya di saluransaluran air Sungai Musi Sumatera selatan. Eceng gondok berkembang biak dalam
satu minggu dapat tumbuh dua kali lipat.
G. Faktor yang Berpengaruh terhadap Keberadaan Perifiton
Produktivitas dan biomassa perifiton dikontrol oleh energi dan input atau
masukan nutrien. Faktor dasar yang mengontrol produktivitas fitoplankton dan
perifiton adalah suhu, cahaya, ketersediaan makro-mikronutrien dan substrat. Pada
daerah yang dalam biasanya cahaya menjadi faktor pembatas pertumbuhan
perifiton.
1. Substrat

Keberadaan perifiton tidak terlepas dari adanya substrat tempat hidupnya.
Perkembangan perifiton menuju kemantapan komunitasnya sangat ditentukan
oleh kemantapan substrat. Berdasarkan substrat yang didiami, perifiton dapat
dibedakan atas:


epipelik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan sedimen;



epilitik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan batuan;



epifitik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan tumbuhan;



epizoik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan hewan;



episamik, mikroorganisme yang hidup dan bergerak diantara butiranbutiran pasir;



epidendrik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan batang
kayu.

Substrat buatan merupakan benda yang secara sengaja dibuat untuk
dijadikan media tumbuh suatu organisme, misalnya perifiton. Disebutkan
keuntungan dari penggunaan substrat buatan dalam penelitian komunitas perifiton
antara lain adalah mudah standarisasinya, karena substrat dari masing-masing
organisme dapat disamakan di tiap-tiap stasiun pada waktu yang sama sehingga
organisme disetiap lokasi mempunyai kesempatan yang sama untuk melekat dan
tumbuh. Selain itu ketepatan laju pertumbuhan dan laju akumulasinya dapat
ditentukan dan dibandingkan, pengumpulan datanya mudah, dan memungkinkan
menjadikan perifiton sebagai petunjuk yang peka bagi kualitas air. Kerugian
dalam menggunakan substrat buatan antara lain spesies yang hidup secara alami
mungkin tidak terambil; laju akumulasi pada hakekatnya bukan merupakan
produktivitas karena pertumbuhannya dimulai pada tempat yang kosong. Menurut
Collins and Weber in Biggs (1988) dalam menggunakan substrat buatan ada tiga
faktor yang perlu diperhatikan, yaitu:
o Waktu pemaparan, yang akan mempengaruhi perluasan pertumbuhan
o Kecepatan arus, yang dapat menguntungkan beberapa taksa
o Musim.
Waktu pemaparan merupakan faktor yang paling penting, karena dapat
mengakibatkan fluktuasi yang besar terhadap biomassa yang tidak berhubungan
dengan gangguan fisik atau kualitas air. Schwoerbel (1972) in Supriyanti (2001)

menyatakan bahwa warna substrat tidak berpengaruh terhadap perifiton.
Penempatan substrat di daerah yang sangat subur dan tercemar, letak lempengan
horisontal tidak memberikan hasil yang baik, adanya sedimentasi yang intensif
menyebabkan detritus dengan cepat menutupi gelas, sehingga pada daerah ini
posisi vertikal lebih baik. Untuk daerah oligotrofik, posisi horisontal akan
memberikan hasil yang baik.
2.

Kualitas air
Kondisi perairan sebagai tempat hidup perifiton terdiri atas komponen

biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Komponen abiotik pada perairan
diantaranya

adalah

kualitas

perairan

yang

akan

berpengaruh

terhadap

pertumbuhan dan perkembangan komunitas perifiton.
 Suhu
Organisme diperairan umumnya memiliki toleransi yang sempit terhadap suhu.
Perubahan suhu mengakibatkan perubahan pola sirkulasi dan stratifikasi yang
jelas berpengaruh besar atas kehidupan organisme akuatik, suhu optimum pada
perairan berkisar antara 30-35 oC (Odum 1971). Menurut (APHA 1995), suhu air
dipengaruhi oleh substrat, kekeruhan, suhu, tanah dan air hujan, serta pertukaran
panas udara dan permukaan air. Organisme perairan yang hidup secara alami di
suatu perairan adalah jenis-jenis yang dapat menyesuaikan diri dengan suhu air
dan sifat kualitas atau kondisi air. Suhu berpengaruh terhadap kelarutan gas-gas
dalam air, termasuk oksigen.
Kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air juga memperlihatkan
peningkatan dengan naiknya suhu perairan yang selanjutnya mengakibatkan
peningkatan konsumsi oksigen. Peningkatan suhu perairan sebesar 10 °C akan
meningkatkan meningkatkan konsumsi oksigen organisme akuatik sekitar 2-3 kali
lipat (Haslam 1995). Suhu yang optimal bagi pertumbuhan fitoplankton adalah
20-30 °C (Ray and Rao 1964). Proses fotosintesis dan pertumbuhan sel alga
maksimum terjadi pada kisaran suhu 25-40 °C (Reynolds 1990).
 Derajat keasaman (pH)
Nilai pH didefinisikan sebagai logaritma dari perbandingan timbal balik antara
ion hidrogen bebas. Nilai pH air alami ditentukan oleh besarnya interaksi ion H+

dari pelepasan H2CO3 dan dari ion OH- yang dihasilkan dari hidrolisis
bikarbonat. Oksidasi dari batu pyrit dan tanah pada badan sungai dapat
menghasilkan asam sulfur dan dapat menurunkan nilai pH perairan (Wetzel 1983).
Nilai pH dipengaruhi oleh beberapa parameter antara lain aktivitas biologi, suhu,
kandungan oksigen, dan adanya ion-ion. Dari hasil aktivitas biologi dihasilkan
CO2 yang merupakan hasil respirasi, CO2 inilah yang akan membentuk ion buffer
atau penyangga untuk kisaran pH diperairan agar tetap stabil (Pescod, 1973). Ray
and Rao (1964) menyatakan pH optimum untuk perkembangan diatom antara 8,0–
9,0. Diatom mulai berkurang perkembangannya pada nilai pH antara 4,6–7,5,
namun demikian pada kisaran pH tersebut masih didapatkan berbagai jenis
diatom.
 Kecerahan
Cahaya matahari sangat penting dalam proses fotosintesis pada perifiton
autotrof. Sehingga keberadaan cahaya matahari merupakan faktor pembatas bagi
perifiton. Setiap jenis perifiton membutuhkan suhu dan cahaya tertentu untuk
pertumbuhan maksimumnya (Fogg 1965). Intensitas cahaya matahari dapat diukur
dengan tingkat kecerahan perairan. Kecerahan suatu perairan mempengaruhi daya
tembus cahaya yang memasuki perairan. Sering kali penetrasi cahaya terhalang
oleh partikel-partikel kecil dalam air. Apabila kekeruhan air disebabkan oleh
jasad-jasad hidup, maka nilai kecerahan merupakan indikasi produktivitas (Odum
1971). Kecerahan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan
banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat
dalam air.
 Unsur hara
Unsur hara yang terdapat dalam perairan memiliki pengaruh terhadap
perkembangan komunitas perifiton. Nitrogen dan fosfor merupakan unsur hara
perairan yang terdapat dalam bentuk senyawa seperti ammonia, nitrit, nitrat dan
ortofosfat.
o Nitrogen
Senyawa nitrogen ditemukan pada tumbuhan dan hewan sebagai penyusun
protein dan klorofil. Nitrogen adalah unsur penting bagi makhluk hidup
disamping karbon, hidrogen, dan oksigen. Nitrogen adalah komponen utama di

dalam metabolisme protein. Nitrogen di perairan berada dalam bentuk senyawa
anorganik seperti nitrit (NO2), nitrat (NO3), amonium (NH4), dan amonia
(NH3) serta jumlahnya realatif sedikit. Kekurangan nitrogen akan berakibat
terbatasnya produksi protein dan materi-materi lain yang dibutuhkan untuk
memproduksi sel-sel baru (Garcia and Garcia 1985).
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan
merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Nitrat yang
merupakan sumber nitrogen bagi tumbuhan selanjutnya dikonversi menjadi
protein. Nitrat juga merupakan zat hara penting bagi organisme autotrof dan
diketahui sebagai faktor pembatas pertumbuhan (APHA 1995). Nitrat nitrogen
bersifat mudah larut dan stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi
sempurna senyawa nitrogen di perairan. Kadar amonia dan nitrat yang sesuai
untuk pertumbuhan alga < 0,5 mg/l.
o Fosfor
Fosfor yang berada dalam perairan umumnya ditemukan dalam bentuk
senyawa organik dan anorganik. Senyawa anorganik berada dalam bentuk
fosfat dan polifosfat, sedangkan yang berbentuk senyawa organik berupa gula
fosfat dan hasil-hasil oksidasinya merupakan senyawa yang tidak mudah
terurai. Fosfor yang terdapat di air berasal dari dekomposisi organisme yang
telah mati. Senyawa fosfat dapat berasal dari proses erosi tanah, buangan dari
hewan dan pelapukan tumbuhan serta limbah industri, pertanian dan domestik.
Keberadaan fosfat di air dipengaruhi oleh proses biologi dan fisika, yaitu
pemanfaatan fitoplankton maupun pergerakan massa air. Kandungan fosfat
akan meningkat dengan meningkatnya kedalaman. Konsentrasi fosfor sering
menjadi faktor pembatas di perairan alami. Fosfor merupakan unsur pembatas
pertumbuhan yang umum pada perifiton meskipun fosfor ini dibutuhkan dalam
jumlah yang sedikit.
Keberadaan fosfor yang berlebihan dan diikuti dengan keberadaan
nitrogen dapat menstimulir peledakan pertumbuhan alga di perairan. Alga yang
berlimpah ini dapat membentuk lapisan pada permukaan air yang selanjutnya
dapat menghambat penetrasi cahaya matahari dan oksigen sehingga kurang
menguntungkan bagi ekosistem perairan. Nilai kisaran ortofosfat yang baik

bagi pertumbuhan perifiton adalah 0,011–0,1 mg/l, pada nilai kisaran tersebut
perairannya tergolong subur.
3.

Komunitas Perifiton
Komunitas perifiton terbentuk dari perifiton yang berkolonisasi pada

suatu media (substrat). Kolonisasi dapat diartikan sebagai suatu proses
pertumbuhan dan perkembangan dari suatu populasi organisme pada suatu media
hidup. Kolonisasi dapat terjadi bila segala kebutuhan hidup organisme terpenuhi
atau bila terdapat kesempatan untuk mengisi relung yang belum termanfaatkan.
Strukturisasi merupakan proses perkembangann koloni-koloni yang berhasil
mengisi relung-relung yang tersedia pada media hidup. Dengan demikian proses
ini menunjukkan kompleksitas dari komunitas pada media hidup tersebut.
Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam
interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa.
Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai
suksesi ekologis atau suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi
lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan
sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang.
H. Cara Meneliti Perifiton
Seorang ilmuwan untuk meneliti perifiton, sebelumnya harus mengerti
habitatnya untuk menemukan perifiton tertentu sesuai dengan kemampuan
adaptasinya terhadap lingkungan. Danau, sebagai perairan tergenang, memiliki
karakteristik antara lain berarus lambat, retention time relatif lama, memiliki
stratifikasi lapisan secara vertikal, serta biota yang hidup tidak memiliki adaptasi
khusus. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan
kedalaman dan jaraknya dari tepi. Rutner (1974) menjelaskan mengenai zonasi
yang berperan dalam membentuk struktur komunitas perifiton, yaitu:
a. Zona eulitoral, adalah daerah pinggiran yang masih mendapatkan percikan
air. Daerah ini ditumbuhi perifiton yang mampu bertahan terhadap perubahan
lingkungan yang cukup ekstrim.
b. Zona sublitoral atas, yaitu zona perairan yang masih dapat ditembus sinar
matahari, perubahan suhu kecil dan tidak berarti. Zona ini memiliki
komposisi perifiton yang paling kaya.

c. Zona sublitoral bawah, yaitu zona air yang kurang mendapat sinar matahari.
Intensitas cahaya dan suhu menurun menurut wilayah termoklin, dengan
kondisi demikian, jenis alga hijau secara kuantitatif menurun, namun masih
layak bagi diatom, alga biru dan alga merah.
d. Zona air gelap, pada zona ini komunitas perifiton jenis alga autotrof semakin
menghilang dan digantikan jenis-jenis heterotrof.
Di bawah ini adalah tahap-tahap yang dilakukan dalam meneliti komunitas
perifiton serta parameter fisika-kimia oleh Niken Pratiwi, 2007 yaitu:
1. Pengambilan contoh air pada lokasi (geologi) yang telah ditentukan, yang
mana diambil dari bermacam-macam jenis substrat.
2. Sambil mengambil contoh air dari bermacam-macam substrat, peneliti dapat
melakukan analisis parameter fisika dan kimia perairan, yaitu suhu, arus, DO,
pH, kekeruhan (turbiditas), TSS, TDS, DHL, BOD 5, COD, dan unsur hara
(nitrat, ammonia, dan ortofosfat). Di samping parameter-parameter tersebut,
terdapat beberapa parameter yang berkaitan dengan hidrologi sungai yaitu
lebar badan sungai, lebar sungai, kedalaman, kecepatan arus, dan debit air.
3. Analisis komunitas perifiton: Berdasarkan kelimpahan (modifikasi Eaton et
al., 1995) setiap genus perifiton dilakukan penghitungan terhadap
keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominansi (C) (Odum, 1971).
Untuk menguji kesamaan nilai tengah kelimpahan selama pengamatan
dilakukan uji Kruskal-Wallis (Walpole, 1995). Selain itu, dilakukan analisis
tingkat kesamaan kelimpahan perifiton terhadap waktu pengamatan (Walpole,
1995), analisis kualitas lingkungan perairan menurut National Sanitation
Foundation’s/NSF (Ott, 1978) serta dengan klasifikasi saprobik dan koefisien
sistem saprobik (modifikasi Dresscher dan Van der Mark, 1976 in Soewignyo
et al., 1986). Untuk melihat hubungan kelimpahan perifiton parameter fisika
dan kimia perairan, digunakan pendekatan analisis statistik uji Pearson
correlation.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Fitoplankton merupakan sekelompok organisme yang memegang
peranan sangat penting dalam ekosistem air, fitoplankton selain
disusun oleh sekelompok bakteri terutama juga tersusun dari
kelompok ganggang (alga) mikroskopik.
 Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kepadatan fitoplankton
yaitu adanya unsur P, N dan juga kecepatan arus air
 Fitoplankton

terdiri

dari

berbagai

jenis

ganggang,

yaitu

Cyanophyta (ganggang hijau biru), Cryptophyceae (kriptofita),
Dinophyceae (dinoflagelata), Chlorophyta (ganggang hijau),
Euglenophyta (kelompok euglena), Bacillariophyceae (diatom),
Chrysophyceae dan Haptophyceae (ganggang kuning keemasan)
 Makrovita bersifat makroskopik diantaranya yaitu tanaman teratai,
tanaman krangkong, tanaman kangkung, Hydrlla, dan eceng
gondok
 Faktor dasar yang mengontrol produktivitas fitoplankton dan
perifiton adalah suhu, cahaya, ketersediaan makro-mikronutrien
dan substrat.

DAFTAR RUJUKAN
Angelina, Dinda Fitryani.2010. Perkembangan Komunitas Perifiton pada Substrat
Buatan dengan Kedalaman Berbeda di Danau Lido, Bogor. (online),
(http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/62387/BAB%20II
%20Tinjauan%20Pustaka.pdf ). Diakses tanggal 7 September 2013.
Anonim,

Tanpa

Tahun.

Tanaman

http://www.google.com/tanaman/kangkung

Kangkung.

.

(Online)

diakses pada tanggal 7 September

2013
Pasaribu,G.Tanpa Tahun. Pengolahan Eceng Gondok Sebagai Bahan Baku Kertas
Seni. (Online) diakses pada tanggal 7 September 2013
Pratiwi, Niken Tunjung Murti, Habib Krisna Wijaya, EnamM. Adiwilaga, Tyas
Agung Pribadi. 2011. Komunitas Perifiton Serta Parameter Fisika-Kimia
Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air di Bagian Hulu Sungai Cisadane,
Jawa

Barat.

(Online),

(http://www.academia.edu/2062898/Perifiton_

dan_Parameter_Fisika-Kimia_Perairan_sebagai_Pendugaan_Kualitas_Air.
Diakses tanggal 7 September 2013.
Suwono, Hadi. 2010. Dasar-Dasar Limnologi. Surabaya: Putra Media Nusantara

Judul: Makalah Fitoplankton

Oleh: Jazilatul Suaiba


Ikuti kami