Makalah Ekoper

Oleh Dhio Naibaho

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Ekoper

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perdesaan (rural) didefenisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian,
termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman
pedesaan, pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi berskala desa atau
beberapa desa. Perdesaan juga merupakan suatu wilayah homogen baik dari sisi penduduk, penggunaan
lahan maupun history yang terdiri dari beberapa desa dengan Penduduk yang umumnya memiliki
kekerabatan yang erat. Sedangkan dari sisi penggunaan lahannya, wilayah perdesaan didominasi oleh
kawasan pertanian baik pertanian lahan kering maupun pertanian lahan basah. Di Indonesia, pertanian
di wilayah perdesaaan umumnya masih bersifat primitif dengan sistem ladang berpindah ataupun
ketergantungan yang besar terhadap kondisi alam.
Optimasi penggunaan lahan perdesaan adalah suatu upaya dalam membuat sebuah konsep atau
pola pemanfaatan lahan perdesaan sehingga menghasilkan konsep atau pola penggunaan lahan yang
optimal dengan memperhatikan kendala atau batasan yang dihadapi. Optimasi penggunaan lahan
perdesaan juga dimaksudkan untuk menghindari penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan
seharusnya mengacu pada analisis optimasi dan peta pola ruang yang telah dibuat. Dengan metode
optimasi lahan maka akan diperoleh arahan yang benar mengenai penggunaan lahan yang optimal
dengan memperhatikan sejumlah faktor terkait yang mempengaruhi penggunaan lahan.
Pembangunan merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan masyarakat Indonesia
dengan tujuan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada
umumnya serta masyarakat daerah pada khususnya. Pembangunan daerah merupakan bagian intregal
dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan peran aktif masyarakat serta meningkatkan
pendayagunaan potensi daerah secara optimal.
Salah satu aspek penting dalam perencanaan pembangunan daerah yaitu membangun ekonomi
wilayah yang mampu menimbulkan daya ungkit tinggi dan mampu menjadi penghela sektor lain untuk
bergerak dan bertumbuh. pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang melibatkan berbagai
perubahan dalam aspek kehidupan manusia yang bertujuan dan memberi harapan kepada perbaikan
tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan lebih merata yang dalam jangka panjang agar
dapat berlangsung secara berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan yang diinginkan,
upaya-upaya pembangunan harus diarahkan kepada efisiensi (efficiency), kemerataan (equity), dan

keberlanjutan (sustainability) dalam memberi panduan kepada alokasi sumber-sumber daya 2 (semua
kapital yang berkaitan dengan natural, human, man-made maupun social).
Pembangunan

wilayah

adalah

upaya

mencapai

pembangunan

berimbang

(balance

development). Isu pembangunan wilayah atau daerah berimbang yaitu tidak mengharuskan adanya
kesamaan tingkat pembangunan antar daerah (equally developed), juga tidak menuntut pencapaian
tingkat industrialisasi wilayah atau daerah yang seragam, juga bentuk-bentuk keseragaman pola dan
struktur ekonomi daerah, atau juga tingkat pemenuhan kebutuhan dasar (self sufficiency) setiap wilayah
atau daerah. Pembangunan yang berimbang adalah terpenuhinya potensipotensi pembangunan sesuai
dengan kapasitas pembangunan setiap wilayah atau daerah yang beragam.
Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran
strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata pada penyediaan bahan pangan,
bahan baku industri, pakan dan bioenergi, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa negara, sumber
pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usaha tani yang ramah lingkungan. Berbagai
peran strategis pertanian yang dimaksud sejalan dengan tujuan pembangunan perekonomian nasional
yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, mempercepat pertumbuhan ekonomi,
mengurangi kemiskinan, menyediakan lapangan kerja, serta memelihara keseimbangan sumber daya
alam dan lingkungan hidup.
Pembangunan pertanian diharapkan dapat memperbaiki pendapatan penduduk secara merata
dan berkelanjutan, karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian di sektor
pertanian. BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia menyebutkan bahwa terdapat tiga sektor utama yaitu
sektor industri pengolahan, sektor pertanian, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran memiliki
peranan sebesar 52,3% tahun 2013. Pengalaman krisis moneter tahun 1998 telah menyadarkan semua
pihak bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis serta andil yang sangat besar sebagai mesin
penggerak, peredam gejolak, penyangga perekonomian nasional. Fenomena di atas merupakan
gambaran tentang betapa strategis dan lebih optimal peran sektor pertanian apabila didukung dengan
sistem perencanaan yang terpadu, berkenlanjutan dan diimbangi dengan penyediaan anggaran yang
memadai.
Teknologi, sempitnya lahan dan ketiadaan modal merupakan kendala bagi petani untuk
meningkatkan kesejahteraannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian secara proaktif telah
mempercepat proses alih teknologi penelitian dan pengembangan pertanian, sehingga dapat

dimanfaatkan petani meskipun dengan luas lahan yang dimiliki sempit. Intensifikasi melalui penerapan
teknologi ini dapat memberikan output yang lebih tinggi akan tetapi, untuk dapat menerapkan teknologi
diperlukan dukungan modal.
Ketersediaan modal bagi pelaku usaha pertanian merupakan sebuah keharusan untuk
memperkuat posisi pertanian. Permodalan bagi petani sangat penting untuk meningkatkan produksi
hasil pertanian. Permasalahan mendasar bagi pengembangan usaha pertanian adalah lemahnya
permodalan pelaku usaha pertanian baik dalam pemilikan maupun akses terhadap permodalan formal.
Lemahnya permodalan disebabkan oleh kecilnya skala usaha sehingga tidak mempunyai kemampuan
untuk melakukan akumulasi modal.
Sementara itu lemahnya akses petani kecil terhadap sumbersumber permodalan formal
disebabkan oleh prosedur yang tidak sederhana dan persyaratan kolateral yang harus dipenuhi oleh
petani. Di sisi lain pihak perbankan sendiri kurang tertarik untuk membiayai sektor pertanian yang
dipandang berisiko tinggi, baik karena gangguan alam seperti banjir dan kekeringan, serangan hama dan
penyakit tanaman, maupun fluktuasi harga output. Sulitnya akses terhadap kredit perbankan juga
tecermin pada tingginya suku bunga kredit untuk sektor pertanian yang rata-rata mencapai 13,00 persen
per tahun. Pemerintah berupaya membantu meringankan beban para petani untuk mengatasi
permasalahan tersebut dengan menetapkan berbagai skim pembiayaan bagi petani kecil yang lebih
mudah diakses oleh petani kecil. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi
perkembangan usaha tani petani kecil di Indonesia.

1.2LANDASAN TEORI

1.3TUJUAN
1.

Potensi wilayah (Desa) Upaya identifikasi Potensi wilayah (Desa).

2.

Analisis dan Pengembangan Wilayah (Desa).
(Sertakan rumus dan contoh kasusnya yah)

BAB II ISI
BAB III PEMBAHASAN

BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

https://nasional.kompas.com/read/2018/10/20/14144381/4-tahun-jokowi-jk-dan-catatanpembangunan-infrastruktur?page=all
https://www.kompasiana.com/bayupratama7086/5ba20f52c112fe0cfe5be5c2/menggali-potensi-desakabupaten-pandeglang?page=all
https://tirto.id/pemanfaatan-dana-desa-untuk-pariwisata-diputuskan-lewat-musrembang-daUu

Judul: Makalah Ekoper

Oleh: Dhio Naibaho


Ikuti kami