Makalah Ekoper

Oleh Dhio Naibaho

50,9 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Ekoper

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perdesaan (rural) didefenisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman pedesaan, pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi berskala desa atau beberapa desa. Perdesaan juga merupakan suatu wilayah homogen baik dari sisi penduduk, penggunaan lahan maupun history yang terdiri dari beberapa desa dengan Penduduk yang umumnya memiliki kekerabatan yang erat. Sedangkan dari sisi penggunaan lahannya, wilayah perdesaan didominasi oleh kawasan pertanian baik pertanian lahan kering maupun pertanian lahan basah. Di Indonesia, pertanian di wilayah perdesaaan umumnya masih bersifat primitif dengan sistem ladang berpindah ataupun ketergantungan yang besar terhadap kondisi alam. Optimasi penggunaan lahan perdesaan adalah suatu upaya dalam membuat sebuah konsep atau pola pemanfaatan lahan perdesaan sehingga menghasilkan konsep atau pola penggunaan lahan yang optimal dengan memperhatikan kendala atau batasan yang dihadapi. Optimasi penggunaan lahan perdesaan juga dimaksudkan untuk menghindari penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan seharusnya mengacu pada analisis optimasi dan peta pola ruang yang telah dibuat. Dengan metode optimasi lahan maka akan diperoleh arahan yang benar mengenai penggunaan lahan yang optimal dengan memperhatikan sejumlah faktor terkait yang mempengaruhi penggunaan lahan. Pembangunan merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan masyarakat Indonesia dengan tujuan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya serta masyarakat daerah pada khususnya. Pembangunan daerah merupakan bagian intregal dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan peran aktif masyarakat serta meningkatkan pendayagunaan potensi daerah secara optimal. Salah satu aspek penting dalam perencanaan pembangunan daerah yaitu membangun ekonomi wilayah yang mampu menimbulkan daya ungkit tinggi dan mampu menjadi penghela sektor lain untuk bergerak dan bertumbuh. pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang melibatkan berbagai perubahan dalam aspek kehidupan manusia yang bertujuan dan memberi harapan kepada perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan lebih merata yang dalam jangka panjang agar dapat berlangsung secara berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan yang diinginkan, upaya-upaya pembangunan harus diarahkan kepada efisiensi (efficiency), kemerataan (equity), dan keberlanjutan (sustainability) dalam memberi panduan kepada alokasi sumber-sumber daya 2 (semua kapital yang berkaitan dengan natural, human, man-made maupun social). Pembangunan wilayah adalah upaya mencapai pembangunan berimbang (balance development). Isu pembangunan wilayah atau daerah berimbang yaitu tidak mengharuskan adanya kesamaan tingkat pembangunan antar daerah (equally developed), juga tidak menuntut pencapaian tingkat industrialisasi wilayah atau daerah yang seragam, juga bentuk-bentuk keseragaman pola dan struktur ekonomi daerah, atau juga tingkat pemenuhan kebutuhan dasar (self sufficiency) setiap wilayah atau daerah. Pembangunan yang berimbang adalah terpenuhinya potensipotensi pembangunan sesuai dengan kapasitas pembangunan setiap wilayah atau daerah yang beragam. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata pada penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa negara, sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usaha tani yang ramah lingkungan. Berbagai peran strategis pertanian yang dimaksud sejalan dengan tujuan pembangunan perekonomian nasional yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, menyediakan lapangan kerja, serta memelihara keseimbangan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Pembangunan pertanian diharapkan dapat memperbaiki pendapatan penduduk secara merata dan berkelanjutan, karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia menyebutkan bahwa terdapat tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan, sektor pertanian, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran memiliki peranan sebesar 52,3% tahun 2013. Pengalaman krisis moneter tahun 1998 telah menyadarkan semua pihak bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis serta andil yang sangat besar sebagai mesin penggerak, peredam gejolak, penyangga perekonomian nasional. Fenomena di atas merupakan gambaran tentang betapa strategis dan lebih optimal peran sektor pertanian apabila didukung dengan sistem perencanaan yang terpadu, berkenlanjutan dan diimbangi dengan penyediaan anggaran yang memadai. Teknologi, sempitnya lahan dan ketiadaan modal merupakan kendala bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian secara proaktif telah mempercepat proses alih teknologi penelitian dan pengembangan pertanian, sehingga dapat dimanfaatkan petani meskipun dengan luas lahan yang dimiliki sempit. Intensifikasi melalui penerapan teknologi ini dapat memberikan output yang lebih tinggi akan tetapi, untuk dapat menerapkan teknologi diperlukan dukungan modal. Ketersediaan modal bagi pelaku usaha pertanian merupakan sebuah keharusan untuk memperkuat posisi pertanian. Permodalan bagi petani sangat penting untuk meningkatkan produksi hasil pertanian. Permasalahan mendasar bagi pengembangan usaha pertanian adalah lemahnya permodalan pelaku usaha pertanian baik dalam pemilikan maupun akses terhadap permodalan formal. Lemahnya permodalan disebabkan oleh kecilnya skala usaha sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan akumulasi modal. Sementara itu lemahnya akses petani kecil terhadap sumbersumber permodalan formal disebabkan oleh prosedur yang tidak sederhana dan persyaratan kolateral yang harus dipenuhi oleh petani. Di sisi lain pihak perbankan sendiri kurang tertarik untuk membiayai sektor pertanian yang dipandang berisiko tinggi, baik karena gangguan alam seperti banjir dan kekeringan, serangan hama dan penyakit tanaman, maupun fluktuasi harga output. Sulitnya akses terhadap kredit perbankan juga tecermin pada tingginya suku bunga kredit untuk sektor pertanian yang rata-rata mencapai 13,00 persen per tahun. Pemerintah berupaya membantu meringankan beban para petani untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menetapkan berbagai skim pembiayaan bagi petani kecil yang lebih mudah diakses oleh petani kecil. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan usaha tani petani kecil di Indonesia. 1.2LANDASAN TEORI 1.3TUJUAN 1. Potensi wilayah (Desa) Upaya identifikasi Potensi wilayah (Desa). 2. Analisis dan Pengembangan Wilayah (Desa). (Sertakan rumus dan contoh kasusnya yah) BAB II ISI BAB III PEMBAHASAN BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA https://nasional.kompas.com/read/2018/10/20/14144381/4-tahun-jokowi-jk-dan-catatanpembangunan-infrastruktur?page=all https://www.kompasiana.com/bayupratama7086/5ba20f52c112fe0cfe5be5c2/menggali-potensi-desakabupaten-pandeglang?page=all https://tirto.id/pemanfaatan-dana-desa-untuk-pariwisata-diputuskan-lewat-musrembang-daUu

Judul: Makalah Ekoper

Oleh: Dhio Naibaho


Ikuti kami