Makalah Ikm

Oleh Fransisca Pratista

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Ikm

Mata Kuliah

: ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

DISUSUN OLEH :
SRI ANDRYANI
K 201602072
E 2 / KESMAS

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN MANDALA WALUYA KENDARI
KESEHATAN MASYARAKAT
TAHUN 2017

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, selayaknya segala puji kita panjatkan hanya kepada Allah SWT.
Dzat yang hanya kepadanya kita meminta tolong dan meminta ampunan. Kita
berlindung hanya kepada-Nya dari buruknya jiwa dan kejelekan amal perbuatan kita.
Siapa saja orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada satu pun yang dapat
menyesatkannya. Sebaliknya, siapa saja yang telah disesatkan oleh Allah, tidak ada
satu pun yang dapat memberinya petunjuk.
Shalawat serta salam selayaknya kita curahkan kepada baginda rasul,
Muhammad SAW yang telah memberikan kita teladan menuju jalan kebenaran, jalan
kasih sayang, jalan kedamaian, jalan kebahagian dunia akhirat, dan jalan menuju
kepada-Nya, yaitu islam. Shalawat dan salam semoga tercurah pula kepada
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang meniti jalannya dengan
sungguh-sungguh hingga akhir zaman.
Ahlamdulillah, penulis telah diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah
kesehatan masyarakat. Dalam menjalani penyusunan makalah kesehatan
masyarakat ini tidak sedikit kendala yang penulis hadapi.
Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh
karenanya penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
berbagai pihak demi perbaikan makalah ini. Atas bantuan, arahan, dan motivasi yang
senantiasa diberikan selama ini, dengan segala kerendahan hati penulis
menghaturkan segenap ucapan terima kasih .
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak lepas dari kekurangan,
oleh karena itu dengan terbuka penulis mengharapakan kritik dan saran yang bersifat
membangun. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Semarang, April 2013
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Berbicara kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani
yaitu Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita Mitos Yunani tersebut Asclepius
disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak
disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan
bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan bedah berdasarkan
prosedur-prosedur tertentu dengan baik. (Sejarah Kesehatan Masyarakat
(Notoatmodjo, 2003)
Hegeia, seorang asistenya yang juga istrinya juga telah melakukan upaya
kesehatan. Bedanya antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan/penanganan
masalah kesehatan adalah ;
Asclepius melakukan pendekatan (pengobatan penyakit), setelah penyakit
tersebut terjadi pada seseorang.
Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah
kesehatan melalui “hidup seimbang”, seperti mengindari makanan/minuman yang
beracun, makan makanan yang bergizi (baik) cukup istirahat dan melakukan
olahraga..
Dari cerita dua tokoh di atas, berkembanglah 2 aliran/pendekatan dalam
menangani masalah kesehatan. Kelompok pertama cenderung menunggu terjadinya
penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan kuratif/pengobatan.
Kelompok ini pada umumnya terdiri terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater dan
praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan fisik, mental maupun sosial.
Sedangkan kelompok kedua, seperti halnya pendekatan Higeia, cenderung
melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan
(promosi) sebelum terjadi penyakit. Ke dalam kelompok ini termasuk para petugas
kesehatan masyarakat lulusan-lulusan sekolah/institusi kesehatan masyarakat dari
berbagai jenjang.
Pendekatan kuratif. Pendekatan ini dilakukan terhadap sasaran secara
individual, dengan sifat pendekatan sebagai berikut :
1.
Cenderung bersifat reaktif (menunggu masalah datang, misal dokter
menunggu pasien datang di Puskesmas/tempat praktek).
2.
Melihat dan menangani klien/pasien lebih kepada sistem biologis
manusia/pasien hanya dilihat secara parsial (padahal manusia terdiri dari bio-psikososial yang terlihat antara aspek satu dengan lainnya.
3.
Pendekatan preventif, dengan sasaran/pasien adalah masyarakat
(bukan perorangan).
4.
Menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu masalah
datang, tetapi mencari masalah. Petugas turun di lapangan/masyarakat mencari dan
mengidentifikasi masalah dan melakukan tindakan.

5.
Melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan holistik.
Terjadiya penyakit tidak semata karena terganggunya sistem biologis tapi aspek biopsiko-sosial.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A.

Definisi Kesehatan Masyarakat
Sudah banyak ahli kesehatan membuat batasan kesehatan masayarakat.

Secara kronologis batasan-batasan kesehahtan masyarakat mulai dengan batasan
yang sangat sempit sampai batasan yang luas seperti yang kita anut saat ini dapat
diringkas seperti berikut ini. Batasan yang paling tua,

dikatakan bahwa kesehatan

adalah upaya-upaya untuk mengatasi masalah-masalah sanitasi yang mengganggu
kesehatan. Dengan kata lain kesehatan masyarakat adalah sama dengan sanitasi.
Upaya memperbaiki dan meningkatkan

sanitasi lingkungan merupakan kegiatan

kesehatan masyarakt. Kemudian pada akhir abad ke-18 dengan diketemukan
bakteri-bakteri penyebab penyakit dan beberapa jenis imunisasi, kegiatan kesehatan
masyarakat adalah pencegahan penyakit yang terjadi dalam masyarakat melalui
perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit melalui imunisasi.
B.

Ruang Lingkup Kesehatan Masyarakat
Seperti disebutkan diatas bahwa kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni.
Oleh sebab itu, ruang lingkup kesehatan masyarakat dapat dilihat dari dua hal
tersebut. Sebagai ilmu, kesehatan masyarakat pada mulanya hanya mencakup 2
disiplin keilmuan, yakni ilmu bio-medis (medical biologi) dan ilmu-ilmu sosial. Akan
tetapi sesuai dengan perkembangan ilmu, maka disiplin ilmu yang mendasri ilmu
kesehatan masyarakat pun berkembang. Sehingga sampai pada saat ini disiplin ilmu
yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat antara lain, mencakup: ilmu biologi, ilmu
kedokteran, ilmu kimia, ilmu fisika, ilmu lingkungan, sosiologi, antropologi, psikologi,
ilmu pendidikan, dan sebagainya.

Ruang lingkup kesehatan masyarakat terdiri dari :
1. Epidemiologi
2. Biostatistik
3. Kesehatan Lingkungan
4. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku
5. Administrasi Kesehatan Masyarakat
6. Gizi Masyarakat
7. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
8. Kesehatan Reproduksi masyarakat
9. Sistem Informasi Kesehatan
1. Epidemiologi
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit
serta fakor yang terkait di tingkat populasi. Ini adalah model corestone penelitian
kesehatan masyarakat, dan membantu menginformasikan kedokteran berbasis bukti
(eveidence based medicine) untuk mengidentifikasikan faktor risiko penyakit serta
menentukan pendekatan penanganan yang optimal untuk praktik klinik dan untuk
kedokteran preventif. Menurut Dr. Anton Muhibuddin (Universitas Brawijaya), saat ini
epidemiologi telah berkembang pesat baik pendalaman ilmunya maupun perluasan
ilmunya. Perluasan ilmu epidemiologi saat ini juga mencakup epidemiologi bidang
pertanian

agrokompleks

(termasuk

perikanan,

perkebunan,

prikanan)

dan

mikrobiologi. Perluasan tersebut dirasa perlu karena manfaat epidemiolgi sangat
nyata dirasakan dalam bidang-bidang ilmu tersebut. Pendalaman epidemiologi
diantaranya meliputi peramalan berbasis komputer dan pengelolaan agroekosistem.
Epidemiologi menggunakan beragam alat-alat ilmiah, dari kedokteran dan statistik
sampai sosiologi dan antropologi. Banyak penyakit mengikuti arus migrasi penduduk,
sehingga pemahaman tentang bagaimana penduduk bergerak mengikuti musim
sangat penting untuk memahami penyebaran penyakit tertentu pada populasi

tersebut. Epidemiologi tidak hanya berkutat pada masalah penyebaran penyakit,
tetapi juga dengan cara penanggulangannya.
2. Biostatistik
Biostatistik : konsep dan metode statistik yg diterapkan pada ilmu biologi,
kedokteran, farmasi, dan kesehatan.
3.Kesehatan Lingkungan.
3.1. Pengertian Kesehatan lingkungan
Kesehatan lingkungan adalah kesehatan yang sangat penting bagi kelancaran
kehidupan dibumi, karena lingkungan adalah tempat dimana pribadi itu tinggal.
Lingkungan yang sehat dapat dikatakan sehat bila sudah memenuhi syarat-syarat
lingkungan yang sehat. Kesehatan lingkungnan yaitu bagian integral ilmu kesehatan
masyarakat yang khusus menangani dan mempelajari hubungan manusia dengan
lingkungan dalam keseimbangan ekologis. Jadi kesehatan lingkungan merupakan
bagian dari ilmu kesehatan mayarakat
3.2 Syarat-syarat Lingkungan Yang Sehat
1.

Keadaan Air.

Air yang sehat adalah air yang tidak berbau, tidak tercemar dan dapat dilihat
kejernihan air tersebut, kalau sudah pasti kebersihannya dimasak dengan suhu
1000C, sehingga bakteri yang di dalam air tersebut mati.
2.

Keadaan Udara.

Udara yang sehat adalah udara yang didalamnya terdapat yang diperlukan,
contohnya oksigen dan di dalamnya tidak tercemar oleh zat-zat yang merusak tubuh,
contohnya zat CO2 (zat carbondioksida).
3.

Keadaan tanah.

Tanah yang sehat adalah tanah yang baik untuk penanaman suatu tumbuhan, dan
tidak tercemar oleh zat-zat logam berat.
3.3 .Cara-cara Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan.

1.Tidak mencemari air dengan membuang sampah di sungai.
2. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.
3. .Mengolah tanah sebagaimana mestinya.
4. Menanam tumbuhan pada lahan-lahan kosong.

3.4 Tujuan Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan.
1. Mengurangi Pemanasan Global.
Dengan menanam tumbuhan sebanyak-banyaknya pada lahan kosong, maka
kita juga ikut serta mengurangi pemanasan global, karbon, zat O2 (okseigen) yang
dihasilkan tumbuh-tumbuhan dan zat tidak langsung zat CO2 (carbon) yang
menyebabkan atmosfer bumi berlubang ini terhisap oleh tumbuhan dan secara
langsung zat O2 yang dihasilkan tersebut dapat dinikmati oleh manusia tersebut
untuk bernafas.
2. Menjaga Kebersihan Lingkungan.
Dengan lingkungan yang sehat maka kita harus menjaga kebersihannya,
karena lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih dari segala penyakit
dan sampah.Sampah adalah mush kebersihan yang paling utama. Sampah dapat
dibersihkan dengan cara-cara sebagai berikut;
a.

Membersihkan Sampah Organik. Sampah organik adalah sampah yang dapat

dimakan oleh zat-zat organik di dalam tanah, maka sampah organik dapat
dibersihkan dengan mengubur dalam-dalam sampah organik tersebut, contoh
sampah organik :
1.

Daun-daun tumbuhan.

2.

Ranting-ranting tumbuhan

3.

Akar-akar tumbuhan

b.

Membersihkan Sampah Non Organik. Sampah non organik adalah sampah

yang tidak dapat hancur (dimakan oleh zat organik) dengan sendirinya, maka

sampah non organik dapat dibersihkan dengan membakar sampah tersebut dan lalu
menguburnya.
3.5 Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan.
Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang
essensial di samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor
keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah
kesehatan masyarakat.. Menurut WHO ruang lingkup kesehatan masyarakat antara
lain:
1.

Penyediaan Air Minum

2.

Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran

3.

Pembuangan Sampah Padat

4.

Pengendalian Vektor

5.

Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia

6.

Higiene makanan, termasuk higiene susu

7.

Pengendalian pencemaran udara

8.

Pengendalian radiasi

9.

Kesehatan kerja

10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah,
bencana alam dan perpindahan penduduk.
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

4.

Pendidikan Kesehatan dan Perilaku

4.1 pendidikan kesehatan
Perilaku merupakan factor terbesar kedua setelah factor lingkungan yang
mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat . Masing-masing
upaya tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kedua upaya tersebut
dilakukan melalui:
1.

Tekanan (enforcement).

Upaya agar masyarakat mengubah perilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan
dengan cara-cara tekanan, paksaan atau koersi(coertion). Pendekatan atau cara ini
biasanya menimbulkan dampak yang lebih cepat terhadap perubahan perilaku.
2.

Edukasi (education)

Upaya agar masyarakat berprilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara
persuasi,

bujukan,

himbauan,

ajakan,

memberikan

informasi,

memberikan

kesadaran, dan sebagainya melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau
penyuluhan kesehatan.

A.

Batasan Pendidikan Kesehatan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk

mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka
melakukan apa yang diharap kan oleh pelaku pendidikan. Dari batasan ini tersirat
unsur-unsur pendidikan yakni:
1.

Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat), dan

pendidik (pelaku pendidik).
2.

Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain).

3.

Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
Sedangkan pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan

didalam bidang kesehatan.

B.

Pendidikan Kesehatan atau Promosi Kesehatan
Pendidikan kesehatan sebagai besar atau cabang dari ilmu kesehatan, juga

mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan seni. Dari penelitian-penelitian yang ada
terungkap, meskipun kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang
kesehatan, namun praktek (practice) tentang kesehatan atau perilaku hidup sehat
masyarakat masih rendah.
C.
1.

Prinsip Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas, tetapi merupakan

kumpulan pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi
pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan.
2.

Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang

kepada orang lain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat
mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.
3.

Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar

individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah
lakunya sendiri.
4.

Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
D.

Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat
Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 3 dimensi:

1.

Dimensi sasaran antara lain:

a.

Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu.

b.

Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat

tertentu.
c.

Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.

2.

Dimensi tempat pelaksanaan antara lain:

a.

Pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga

b.

Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar.

c.

Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran

masyarakat atau pekerja.
3.
a.

Dimensi tingkat pelayanan kesehatan antara lain:
Pendidikan kesehatan promosi kesehatan (Health Promotion), misal :

peningkatan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, gaya hidup dan sebagainya.
b.

Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific Protection) misal :

imunisasi.
c.

Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (Early

diagnostic and prompt treatment) misal : dengan pengobatan layak dan sempurna
dapat menghindari dari resiko kecacatan.
d.

Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation) misal : dengan

memulihkan kondisi cacat melalui latihan-latihan tertentu.
4.2.Perilaku Kesehatan
A. Pengertian Perilaku
Perilaku Kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan serta lingkungan. Perilaku kesehatan mencakup 4 (empat) :
a.

Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia

merespons, baik pasif (mengetahui, mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada
pada dirinya maupun di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan
sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan
penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkatan-tingkatan pencegahan
penyakit, misalnya : perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior),
adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya : tidur dengan

kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi,dll. Persepsi adalah
sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indra.
b.

Perilaku terhadap pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan tradisional

maupun modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap fasilitas pelayanan, cara
pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatan, yang terwujud dalam pengetahuan,
persepsi, sikap dan pengguanaan fasilitas, petugas dan obat-obatan.
c.

Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang

terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi pengetahuan,
persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang
terkandung di dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll.
d.

Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior)

adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan
manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri
(dengan air bersih, pembuangan air kotor, dengan limbah, dengan rumah yang sehat,
dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor), dan sebagainya.
Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan
(health behavior) sebagai berikut :
a.

Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan

tindakan

atau

kesehatannya,

kegiatan
termasuk

seseorang
juga

dalam

memelihara

tindakan-tindakan

untuk

dan

meningkatkan

mencegah

penyakit,

kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya.
b.

Perilaku sakit (illness behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang

dilakukan oleh seseorang individu yang merasakan sakit, untuk merasakan
merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, termasuk
kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab
penyakit, serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut.
c.

Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau

kegiatan yang dilakuakan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh

kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitannya
sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain, terutama anak-anak yang belum
mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya.

B. Bentuk perilaku
Secara lebih operasional, perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau
seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons
berbentuk 2 (dua) macam :
a.

Bentuk pasif adalah respons internal, yaitu yang terjadi di dalam diri manusia

dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misal tanggapan atau sikap
batin dan pengetahuan. Misalnya ; seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu mencegah
suatu penyakit tertentu, meski ia tak membawa anaknya ke puskesmas, seseorang
yang menganjurkan orang lain untuk ber-KB, meski ia tidak ikut KB. Dari contoh di
atas ibu itu telah tahu guna imunisasi dan orang tersebut punya sikap positif
mendukung KB, meski mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap
kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert
behavior).
b.

Bentuk aktif, yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung.

Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas
untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut KB dalam arti sudah
menjadi akseptor KB. Oleh karena itu perilaku mereka ini sudah tampak dalam
bentuk tindakan nyata, maka disebut ”overt behavior”.
5.Administrasi Kesehatan Masyarakat
A. Pengertian Administrasi kesehatan
Suatu

proses

yang

menyangkut

perencanaan,

pengarahan, pengawasan, pengkoordinasian dan

pengorganisasisan,

penilaian terhadap Sumber,

TataCara, dan Kesanggupan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan tuntuan

akan kesehatan, perawatan kedokteran serta lingkungan sehat dengan menyediakan
dan menyelenggarakan berbagai upaya, kelompok dan masyarakat.
B.

Ruang Lingkup Administrasi Kesehatan

Ruang lingkup administrasi kesehatan antara lain:
a.pelayanan
b.Pembiayaan
6. Gizi Masyarakat
A. Pengertian Gizi dan Beberapa Istilah dalam Gizi
Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab ghidza, yang berarti “makanan”. Ilmu gizi
bisa berkaitan dengan makanan dan tubuh manusia.
Dalam bahasa Inggris, food menyatakan makanan, pangan dan bahan makanan.
Pengertian gizi terbagi secara klasik dan masa sekarang yaitu :
1. Secara Klasik
Gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh (menyediakan energi,,
membangun, memelihara jaringan tubuh, mengatur proses-proses kehidupan dalam
tubuh).
2. Sekarang
Selain untuk kesehatan, gizi juga dikaitkan dengan potensi ekonomi
seseorang karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar,
produktivitas kerja.
Beberapa istilah dalam gizi :
1. Gizi (Nutrition) adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan,

untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari
organ-organ, serta menghasilkan energi.
2. Ilmu Gizi (Nutrience Science) adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu
tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal/ tubuh.
3. Zat Gizi (Nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk
melakukan

fungsinya,

yaitu

menghasilkan

energi,

membangun

dan

memelihara jaringan serta mengatur proses-proses kehidupan.
4. Pangan adalah istilah umum untuk semua bahan yang dapat dijadikan
makanan.
5. Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan/atau
unsur-unsur/ ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang
berguna bila dimasukkan ke dalam tubuh.
6. Bahan makanan adalah makanan dalam keadaan mentah.
7. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi.
B.

Ruang Lingkup Ilmu Gizi
Ruang lingkup cukup luas, dimulai dari cara produksi pangan, perubahan

pasca panen (penyediaan pangan, distribusi dan pengolahan pangan, konsumsi
makanan serta cara pemanfaatan makanan oleh tubuh yang sehat dan sakit).
Ilmu gizi berkaitan dengan ilmu agronomi, peternakan, ilmu pangan, mikrobiologi,
biokimia, faal, biologi molekular dan kedokteran. Informasi gizi yang diberikan pada
masyarakat, yang meliputi gizi individu, keluarga dan masyarakat; gizi institusi dan
gizi olahraga.
C.

Gizi Masyarakat dan Gizi Klinik

1.

Gizi Masyarakat (community nutrition)

Gizi masyarakat adalah gizi yang berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok
masyarakat.
2. Gizi Klinik (clinical nutrition)
Gizi klinik adalah gizi yang berkaitan dengan masalah gizi pada individu yang sedang
menderita gangguan kesehatan akibat kekurangan atau kelebihan gizi.
Perkembangan gizi klinis :
a.

Anamnesis dan pengkajian status nutrisi pasien.

b.

Pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan defisiensi zat besi.

c.

Pemeriksaan antropometris dan tindak lanjut terahdap gangguannya.

d.

Pemeriksaan radiologi dan tes laboratorium dengan status nutrisi pasien.

e.

Suplementasi oral, enteral dan parenteral.

f.

Interaksi timbal balik antara nutrien dan obat-obatan.

g.

Bahan tambahan makanan (pewarna, penyedap dan sejenis serta bahan-

bahan kontaminan).
3.

Perbedaan gizi masyarakat dengan gizi klinik

Pembeda

Gizi Masyarakat

Sasaran

berkaitan dengan kesehatan berkaitan dengan kesehatan
masyarakat

Upaya / Pendekatan

Gizi Klinik

perorangan

lebih ditekankan pada upaya lebih
kuratif (pengobatan)

ditekankan

upaya

pada

pencegahan

(preventif) dan peningkatan
(promotif)
Pengobatan
Pemulihan

D.

/ profesi kedokteran dan staf multisektor dan multidisiplin
medis

Sejarah Perkembangan Ilmu Gizi

Pendidikan tentang ilmu gizi berdiri tahun 1926, oleh Mary Swartz Rose
saat dikukuhkan sebagai profesor ilmu gizi di Universitas Columbia, New York,
Amerika Serikat. Pada zaman purba, makanan penting untuk kelangsungan hidup.
Sedangkan pada zaman Yunani, tahun 400 SM ada teori Hipocrates yang
menyatakan bahwa makanan sebagai panas yang dibutuhkan manusia, artinya
manusia butuh makan.
Beberapa penelitian yang menegaskan bahwa ilmu gizi sudah ada sejak dulu,
antara lain:
1. Penelitian tentang Pernafasan dan Kalorimetri
Pertama dipelajari oleh Antoine Lavoisier (1743-1794). Mempelajari hal-hal yang
berkaitan dengan penggunaan energi makanan yang meliputi proses pernafasan,
oksidasi dan kalorimetri. Kemudian berkembang hingga awal abad 20, adanya
penelitian tentang pertukaran energi dan sifat-sifat bahan makanan pokok.
2. Penemuan Mineral
Sejak lama mineral telah diketahui dalam tulang dan gigi. Pada tahun 1808
ditemukan kalsium. Tahun 1808, Boussingault menemukan zat besi sebagai zat
esensial. Ringer (1885) dan Locke (1990), menemukan cairan tubuh perlu
konsentrasi elektrolit tertentu. Awal abad 20, penelitian Loeb tentang pengaruh
konsentrasi garam natrium, kalium dan kalsium klorida terhadap jaringan hidup.
3. Penemuan Vitamin
Awal abad 20, vitamin sudah dikenal. Sejak tahun 1887-1905 muncul penelitianpenelitian dengan makanan yang dimurnikan dan makanan utuh. Dengan hasil:
ditemukan suatu zat aktif dalam makanan yang tidak tergolong zat gizi utama dan
berperan dalam pencegahan penyakit (Scurvy dan Rickets). Pada tahun 1912, Funk

mengusulkan memberi nama vitamine untuk zat tersebut. Tahun 1920, vitamin
diganti menjadi vitamine dan diakui sebagai zat esensial.
4. Penelitian Tingkat Molekular dan Selular
Penelitian ini dimulai tahun 1955, dan diperoleh pengertian tentang struktur sel yang
rumit serta peranan kompleks dan vital zat gizi dalam pertumbuhan dan
pemeliharaan sel-sel. Setelah tahun 1960, penelitian bergeser dari zat-zat gizi
esensial ke inter relationship antara zat-zat gizi, peranan biologik spesifik, penetapan
kebutuhan zat gizi manusia dan pengolahan makanan thdp kandungan zat gizi.
5. Keadaan Sekarang
Muncul konsep-konsep baru antara lain: pengaruh keturunan terhadap kebutuhan
gizi; pengaruh gizi terhadap perkembangan otak dan perilaku, kemampuan bekerja
dan produktivitas serta daya tahan terhadap penyakit infeksi. Pada bidang teknologi
pangan ditemukan : cara mengolah makanan bergizi, fortifikasi bahan pangan
dengan zat-zat gizi esensial, pemanfaatan sifat struktural bahan pangan, dsb. FAO
dan WHO mengeluarkan Codex Alimentaris (peraturan food labeling dan batas
keracunan).

E.

Fungsi Zat Gizi
1. Memberi energi (zat pembakar)

Karbohidrat, lemak dan protein, merupakan ikatan organik yang mengandung karbon
yang dapat dibakar dan dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan/aktivitas.
2. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh (zat pembangun)Protein,
mineral dan air, diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara, dan
menganti sel yang rusak.

3. Mengatur proses tubuh (zat pengatur)
Protein, mineral, air dan vitamin. Protein bertujuan mengatur keseimbangan air di
dalam sel,bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan
membentuk antibodi sebagai penangkal organisme yang bersifat infektil dan bahanbahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh. Mineral dan vitamin sebagai
pengatur dalam proses-proses oksidasi, fungsi normal sarafdan otot serta banyak
proses lain yang terjadi dalam tubuh, seperti dalam darah, cairan pencernaan,
jaringan, mengatur suhu tubuh, peredaran darah, pembuangan sisa-sisa/ ekskresi
dan lain-lain proses tubuh.
7.Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan
kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi
maupun lokasi proyek. Tujuan K3 adalah untuk memelihara kesehatan dan
keselamatan lingkungan kerja. K3 juga melindungi rekan kerja, keluarga pekerja,
konsumen, dan orang lain yang juga mungkin terpengaruh kondisi lingkungan kerja.
Kesehatan dan keselamatan kerja cukup penting bagi moral, legalitas, dan finansial.
Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pekerja dan orang
lain yang terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang waktu. Praktek K3
(keselamatan kesehatan kerja) meliputi pencegahan, pemberian sanksi, dan
kompensasi, juga penyembuhan luka dan perawatan untuk pekerja dan menyediakan
perawatan kesehatan dan cuti sakit. K3 terkait dengan ilmu kesehatan kerja, teknik
keselamatan, teknik industri, kimia, fisika kesehatan, psikologi organisasi dan
industri, ergonomika, dan psikologi kesehatan kerja.
BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak ahli
kesehatan membuat batasan kesehatan masyarakat. Secara kronologis batasanbatasan kesehatan masyarakat mulai dengan batasan yang sangat sempit samapi
batasan yang luas seperti yang kita anut saat ini dapat diringkas seperti berikut ini.
Batasan yang paling tua, dikatakan bahwa kesehatan adalah upaya-upaya untuk
mengatasi masalah-masalah sanitasi yang mengganggu kesehatan. Dengan kata
lain kesehatan masyarakat adalah sama

dengan sanitasi. Kesehatan masyarakat

adalah ilmu dan seni.

DAFTAR PUSTAKA
Elmi, Bachrul. 2002. Keuangan pemerintah Daerah otonom di Indonesia.
Jakarta: UI-Press.
Utami, Sri Tjahyani Budi, 2003. Modul Mata Pencemaran Udara dan
Kesehatan. Depok: FKM-UI.
Yanuarta, Hendra. 2002. Skripsi: Kesiapan Pembiayaan Kesehatan di
Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat pada Pelaksanaan Otonomi
Daerah. Depok: FKM-UI (S. 2562).
Yurisca, Ariend. 2002. Skripsi: Pola Pembiayaan Kesehatan OKI Jakarta
Setelah Otonomi Daerah. Depok: FKM-UI (S. 2586).

Judul: Makalah Ikm

Oleh: Fransisca Pratista


Ikuti kami