Jawaban Uas Tasawuf

Oleh Rasyida Rifa'ati Husna

53,9 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Uas Tasawuf

UAS TASAWUF II Diampu oleh: Dr. Abdul Muhaya, MA Rasyida Rifa’ati Husna NIM: 1804046041 1. Jelaskan Proses Terjadinya perbuatan manusia menurut Imam Ghozali? Setiap manusia diciptakan Allah dengan kalam yang sudah lampau tersurat di Laul Mahfudz sejak zaman azali, dengan bisikan hati (‫ )خواطر القلبل‬terarah pada perintah untuk melakukan sesuatu pada setiap manusia memiliki fitrah untuk berbuat baik. tapi manusia memiliki nafsu yang mengguncang dari dirinya untuk berbuat muthmainnah, lawwamah, atau bahkan amarah, tapi nafsu itu lebih cenderung ke perkara yang menjerumuskan seseorang, Kemudian ketika di di dunia manusia dihadapkan oleh lingkungannya, (‫ )ميل الطبع‬ada perbuatan yang baik dan buruk yang dicontohkan oleh orang-orang sekitarnya, kemudian setiap pribadi memiliki (‫ )اعتقاد‬untuk berbuat semamunya, dan setelah itu muncullah (‫ )العزم‬keinginan kuat setiap diri pribadi dan dari keinginan kuat tersebut terciptalah perbuatan (‫)الفعل‬ 2. Jelaskan hubungan dan peranan Qolb, akal, syahwat, dan Ghodhob? Qolbu merupakan sesuatu yang halus (lathifah), bersifat Ketuhanan (Rabbaniyah) dan ruhaniyah yang ada hubungannya dengan hati jasmani. Hubungan antara hati jasmani dan hati ruhani itu seperti halnya benda yang dijadikan perkakas dengan dengan perkakasnya, atau seperti akar pohon dengan tempat dia berakar. Akal yang berarti pengetahuan tentang hakikat segala keadaan, maka akal itu ibarat sifat-sifat ilmu yang tempatnya di dalam hati. Akal yang berarti , menangkap dan mendapatkan segala ilmu, maka akal disini adalah hati rohani. Kita ketahui bahwa kata Akal kadang-kadang diartikan sebagai sifat orang yang berilmu, dan kadang-kadang berarti tempat pengetahuan yakni yang mengetahui. Syahwat adaalah suatu pendorong dari diri manusia untuk mengambil apa-apa yang bermanfaat dan cocok untuk badan, yaitu yang berupa syahwat keinginan. Ghodlob pembangkit manusia untuk menolak apa-apa yang berbahaya dan menyengsarakan badan, yaitu yang berupa ghodlob (amarah) 3. Bila saudari menghadapi klien sebagaimana keadaan dibawah ini bagaimana cara penanganannya.  Melakukan perbuatan buruk karena ia tidak tahu: Memberi tahu jika perbuatan itu salah, dan disertai alasan kenapa perbuatan itu buruk. Dan memberi contoh perbuatan yang baik itu bagaimana.  Melakukan perbuatan buruk, dan dia mengetahui kalau perbuatan itu buruk: Menasehati supaya meninggalkan perbuatan itu, karena pasti akan terjadi sebab setelah ia melakukan perbuatan, dengan menceritakan cerita hikmah terdahulu.  Melakukan perbuatan buruk, dan dia mengetahui kalau perbuatan itu buruk, dan ia menikmati: Meluluhkan hati dan jalan pikirannya akal, dengan menjelaskan konsep perbuatan buruk itu dapat menyebabkan keburukan terhadap orang tersebut. Untuk apa menikmati perbuatan buruk.  Melakukan perbuatan buruk, dan dia mengetahui kalau perbuatan itu buruk, dan ia menikmati, dan ia bangga: : Meluluhkan hati dan jalan pikirannya akal, dengan menjelaskan konsep perbuatan buruk itu dapat menyebabkan keburukan terhadap orang tersebut. Untuk apa menikmati perbuatan buruk, untuk apa bangga hal yang buruk, padahal ada banyak hal-hal yang baik/ perbuatan baik lebih bermanfaat untuk dirinya. 4. Bagaimana cara mengatasi bisikan nafsu dan syetan? Bisikan setan (waswas) dapat dikontrol atau bahkan dihilangkan dengan dua resep, yaitu dengan menanamkan rasa takwa yang tinggi dan berzikir. Proses menjalankan ketakwaan dimulai dari anggota tubuh yang lahir dengan memeliharanya dari hal-hal yang dilarang syariat, kemudian meningkat lagi dengan memelihara dari hal-hal yang tidak ada faedahnya. Setelah itu, ketakwaan juga ditanamkan ke dalam anggota batin dengan menjaganya dari yang diharamkan dan juga dari yang tidak ada faedahnya. Selanjutnya, ketakwaan yang telah tertanam kokoh itu diperkuat dengan selalu ingat (dzikir) kepada Allah. Bisikan nafsu (hajis) juga perlu dikontrol, meskipun tidak seluruh bisikan nafsu itu buruk. Sebab nafsu memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi demi eksistensinya untuk dapat menjalani kehidupan. Kebutuhan nafsu yang tidak boleh dituruti adalah kebutuhan yang melebihi dari kebutuhan syariat. Karenanya, bisikan nafsu harus dikontrol dengan ilmu agama: apakah bisikan itu sesuai dengan tuntunan syariat atau muncul dari rasa ketidakpuasan nafsu.

Judul: Jawaban Uas Tasawuf

Oleh: Rasyida Rifa'ati Husna


Ikuti kami