Makalah-ekologi.doc

Oleh Acan Akhasansas

108,3 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah-ekologi.doc

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengertian lingkungan hidup menurut Salim (1976), secara umum lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempat dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Dalam menjalani kehidupan, manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa berdiri sendiri. Mahluk hidup hidup dalam suatu kelompok manusia, dimana masingmasing individu melakukan aktivitas untuk menunjang kebutuhan hidupnyaMahluk hidup menempati tempat hidup yang disebut lingkungan, dalam lingkungan hidup terdapat komponen yang menyusun suatu lingkungan atau ekosistem. Komponen tersebut mempunyai fungsi dan peran masing masing dalam suatu ekosistem. Lingkungan hidup sebagai tempat hidup dan berinteraksnya manusia dengan mahluk hidup lain dipermukaan bumi. Diatas lingkungan hidup mahluk hidup menjalankan kehidupan setiap harinya. Untuk hidup, mahluk hidup membutuhkan beragam sumber daya alam. Sumber daya dalam yang mahluk hidup butuhkan berada di alam. Mahluk hidup butuh udara untuk bernapas. Untuk keperluan, minum, makan, mandi dan mencuci, mahluk hidup membutuhkan air tanah. Lingkungan hidup pada dasarnya terbentuk oleh dua komponen, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Unsur yang menyusun suatu ekosistem berbeda beda, ada daerah yang kadar garamnya tinggi, ada daerah yang kelembapan dan kadar airnya tinggi, juga ada daerah yang sangat kering. Mahluk hidup yang hidup didalamnyajuga berbeda beda, sesuai dengan kondisi lingkungan di daerah tersebut. Setiap mahluk hidup memiliki kekhususan dalam hal tempat hidup yang sesuai, sehingga persebarannya tidak menyeluruh, hanya di tempat tempat yang lingkungannya cocok dan sesuai dengan mahluk hidup tersebut. Dengan ketidak 1 rataan tersebut menjadikan mahluk hidup sangat beragam dan menjadi spesien endemic di daerah tertentu dan menjadi ciri khas bagi daerah tersebut. 1.2 Rumusan Masalah Berdasar latar belakang, maka rumusan masalah dari makalah ini adalah : 1. Bagaimana Penyebaran dan distribusi mahluk hidup berdasar factor lingkungan? 2. Bagaimana Perilaku dan seleksi habitat di dalam suatu ekosistem? 3. Apa saja Faktor-faktor Abiotik dan biotik dalam suatu ekosistem? 1.3 Tujuan Berdasar rumusan masalah, tujuan pembuatan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui penyebaranan distribusi mahluk hidup 2. Untuk mengetahui perilaku dan seleksi habitat mahluk hidup 3. Untuk mengetahui factor biotik dan abiotic dalam ekosistem 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Penyebaran dan Distribusi Menurut Mc Naughton dan Wolf (1992) tiap ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda, karena komposisi spesies, komunitas dan distribusi organismenya. Distribusi dalam pola ruang dan waktu mempunyai dua arti dasar, yaitu merupakan hasil dari respon organisme – organisme dengan adaptasinya terhadap heterogenitas lingkungan dalam ruang dan waktu dan organisme – organisme itu sendiri bertindak sebagai pengubah atau memodifikasi heterogenitas lingkungan. Menurut Odum (1971) distribusi hewan dipengaruhi oleh ada atau tidaknya batasan – batasan (barrier) dan individu – individu yang tidak dapat dipisahkan (vagility). Batasan yang ada di dalam distribusi tidak lepas dari hukum minimal, hukum toleransi dan gabungan dari dua hukum tersebut. Organisme di alam dikendalikan oleh : 1. Jumlah dan keragaman material untuk memenuhi kebutuhan minimum dan factorfaktor fisik yang ekstrim. 2. Batas – batas toleransi organisme itu sendiri terhadap keadaan tertentu dan komponen – komponen lainnya. Penyebaran hewan berdasarkan luas cakupannya dapat dibedakan menjadi cakupan geografis, cakupan geologis, dan cakupan ekologis. Cakupan geografis yaitu daerah penyebarannya meliputi daratan dan sistem perairan. Cakupan geologis, yaitu keadaan daratan dan lautan di masa lampau. Cakupan ekologis adalah daerah penyebarannya dengan kondisi lingkungan yang sesuai. Faktor-faktor yang mempengaruhi biota tersebut adalah adanya tekanan dari individu lain yang mendominasi suatu tempat tertentu. Faktor lain adanya kompetisi, predator, penyakit, kekurangan persediaan makanan, perubahan musim dan kurangnya tempat untuk berlindung. 3 2.1.1 Distribusi dan Dispersal Tidak ada spesies hewan yang terdapat secara beragam di seluruh penjuru dunia, tetapi masing – masing di batasi dengan kisaran tertentu, atau area distribusi.ilmu yang mempelajari distribusi hewan dan faktor yang mengendalikanya di kenal dengan zoogeografi. Distribusi geografis menyakngiut hubungan sepasial, penghalang dan kesempatan pembubaran, dan sejarah semula, sedangkan distribusi ekologi di tentukan terutama oleh faktor lain yang di jelaskan sebulumnya. Semua hewan yang hhidup di area tertentu, besar atau kecil, secara bersama sama disebut fauna. Keseluruhan luas daratan atau perairan maupun spesies terdapat disebut kisaran geografisnya. a. Faktor yang mengatur distribusi Faktor lain seperti kommpetisi, musuh, penyakit , kekurangan makanan, cuaca musiman yang tidak cocok, dan penurunan jumlah tempat berlindung yang tersedia menyebabkan pengurangan populasi. distribusi semua hewan, dari protozoa sampai manusia akibatnya lebih bersifat dinamais. Dari pada statis dan selalu menjadi subjek untuk perubahan. Faktor luar yang membasi distribusi disebut penghalang. Hal ini termasuk penghalang fisik, penghalang iklim dan penghalang biologis. b. Metode distribusi Distribusi hewan sekarang ini merupakan hasil penggabungan dari penghalang yang ada dan kondisi lingkungan di masa lalu. Pola penyebaran ini terdiri atas tiga pola dasar yaitu : 1. Pola penyebaran bergerombol Dalam beberapa kasus, ditemukan pula penyebaran bergerombol seragam dan bergerombol secara acak. Pola berberombol merupakan pola yang umum terjadi.Individu-individu perlu bergerombol karena kondisi lingkungan umumnya berfluktuasi tetapi masih dapat ditoleransi sementara tingkat persaingan di antara sesame individu tidak terlalu ketat. 4 2. Pola penyebaran seragam Pola penyebaran seragam dapat terjadi bila persaingan yang amat ketat di antara individu-individu, sehingga setiap individu berupaya memperoleh pembagian ruang yang sama. 3. Pola penyebaran acak Penyebaran acak sangat jarang terjadi di alam. Umumnya hanya terjadi bila kondisi lingkungan sangat seragam. 2.1.2 Dispersal Dispersal sebenarnya berasal dari istilah ekologi untuk menggambarkan penyebaran organisme dari tempat asalnya. Kebiasaan untuk melakukan dispersal terjadi pada sebagian individu organisme baik tumbuhan, hewan, dan juga pada manusia. Dispersal (sebaran) adalah gerakan individu atau bentuk kecilnya (misalnya spora, biji, telur, kista, larva dan sebagianya) kedalam atau keluar populasi atau daerah populasi. Bentuk dispersal tersebut ada 3 macam, yaitu: a. Emigrasi  gerakan searah keluar b. Imigrasi  gerakan searah kedalam c. Migrasi  gerakan periodik berangkat dan kembali. Dinamika sebaran dan pola bagian merupakan salah satu bagian ekologi geografik disamping paleoekologik dan pembicaraan tentang bioma. Dispersal dapat membantu natalitas dan mortalitas dalam memberikan bentuk dan kerapatan pada populasi. Dalam banyak hal beberapa individu atau hasil reproduksi secara tetap masuk ke dalam atau meninggalkan populasi. Seringkali dispersal yang lambat tersebut pengaruhnya tidak tampak pada keseluruhan populasi (terutama pada populasi ukuran besar), hal tersebut karena emigrasi mengimbangi imigrasi atau tambah dan berkurangnya individu diimbangi oleh natalitas dan mortalitas. Dalam kejadian lain dispersal masal melibatkan perubahan yang cepat dan mempengaruhi populasi. 5 2.2 Seleksi Habitat Habitat menurut Mc Naughton dan Wolf (1992) merupakan suatu keadaan yang lebih umum, yaitu tempat dimana organisme terbentuk dari keadaan luar yang ada di tempat tersebut, baik secara langsung maupun tak langsung mempengaruhi organisme tersebut. Menurut Clements dan Shelford (1939), habitat adalah lingkungan fisik yang ada di sekitar suatu spesies, atau populasi spesies, atau kelompok spesies, atau komunitas. Dalam ilmu ekologi, bila pada suatu tempat yang sama hidup berbagai kelompok spesies (mereka berbagi habitat yang sama) maka habitat tersebut disebut sebagai biotop. Sedangkan Bioma adalah sekelompok tumbuhan dan hewan yang tinggal di suatu habitat pada suatu lokasi geografis tertentu. Menurut Krebs dan Davies (1978) suatu jenis hewan tidak ditemukan di suatu habitat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu ketidakcocokan habitat, perilaku (seleksi habitat), kehadiran jenis hewan lain (predator, parasit dan pesaing) dan faktor kimia-fisika lingkungan yang berada di luar kisaran toleransi jenis hewan yang bersangkutan. 2.3 Faktor biotik dan abiotik Suatu ekosistem, terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen abiotik dapat berupa air, cahaya matahari, salinitas dan suhu. Lingkungan merupakan tempat berinteraksi antar makhluk hidup dengan tempat tinggal baik berupa abiotik maupun biotik (Chambell et. al, 2004). Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi, karena ekosistem meliputi makhluk hidup dengan lingkungan organisme (komunitas biotik) dan lingkungan abiotik, masing-masing akan mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan keduanya perlu untuk memelihara kehidupan sehingga terjadi keseimbangan, keselarasan dan keserasian alam di bumi ini. Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi. Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan faktor kimia. Faktor fisik utama ekosistem yang mempengaruhi makhluk hidup adalah sebagai berikut : 6 2.3.1 Faktor Abiotik 1. Suhu Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Menurut Heddy (1989:21), suhu berkisar antara daerah tropis panas sampai suhu kutub hanya beberapa kali di daerah padang pasir, dan suhu berperan penting dalam menunjukkan spesies pada saat tertentu. Makhluk hidup memiliki suhu optimum tertentu untuk kelangsungan hidupnya. Karena reaksi kimia dalam tubuh organisme dipengaruhi oleh kuantitas suhu lingkungan. Sempitnya sebaran suhu yang memungkinkan proses biokimia dapat berlangsung secara efisien, menunjukkan bahwa organisme di manapun mereka hidup, berkepentingan untuk melawan atau menghindari suhu lingkungan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Pada makhluk hidup yang motil (dapat bergerak), jika suhu lingkungan tidak sesuai, ia dapat berpindah tempat. Hal ini dilakukan contohnya pada burung alapalap nippon (Accipiter gularis) yang melakukan migrasi pada saat musim dingin dari daerah Jepang menuju daerah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Pada makhluk hidup yang sesil (tidak dapat bergerak), misalnya pada tumbuhan, jika suhu lingkungannya tidak sesuai, tumbuhan tersebut harus beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal tersebut dilakukan agar dapat bertahan dan tidak mati. Contohnya, pohon jati. Pohon ini saat suhu lingkungannya tinggi, akan beradaptasi dengan mengugurkan daunnya yang bertujuan mengurangi penguapan. 2. Cahaya Matahari Sinar matahari merupakan komponen abiotik utama yang berguna sebagai sumber energi primer bagi kehidupan. Terutama bagi tumbuhan dan makhluk hidup autotrof lainnya, untuk berfotosintesis. Tidak semua spektrum sinar matahari berguna untuk fotosintesis (hanya merah, nila, dan biru). Penyebaran sinar di permukaan bumi juga tidak merata. Penyusupan sinar ke dalam air juga terbatas. Oleh karena itu setiap organisme mempunyai cara untuk beradaptasi terhadap unsur sinar ini. Faktor sinar 7 juga berkaitan dengan faktor suhu. Sinar matahari memengaruhi adaptasi hewan, dengan adanya hewan yang melakukan aktivitas lebih banyak pada siang hari (hewan diurnal) dan pada malam hari (hewan nokturnal) (Heddy,1989) 4. Air Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk. Air merupakan komponen besar bagi penyusun tubuh makhluk hidup. Keberadaan air di permukaan bumi yang tidak seragam telah menuntut adaptasi makhluk hidup yang ada. Akibatnya muncul keanekaragaman makhluk hidup ditilik dari hubungannya dengan kebutuhan akan air. Menurut Heddy, (1989:23), beberapa organisme hidup lebih banyak di udara, ada yabg selamanya hidup di air. Organisme yang hidup dalam habitat yang kering pada umumnya memiliki cara penghematan air untuk beradaptasi degan kondisi lingkungan yang kering. Misalnya hewan yang hidup di daerah gurun akan memiliki kapasitas penggunaan air yang relatif sedikit sebagai penyesuaian terhadap lingkungan hidupnya . 5. Salinitas Salinitas merupakan cerminan dari kandungan garam yang tidak ikut hilang dan boleh jadi terakumulasi pada perakaran, terutama pada musim kemarau. Pengaruh salinitas ini terutama berkaitan erat dengan nilai tekanan osmotic. Kadar garam yang tinggi menjadikan tekanan osmotic larutan di luar sel meningkat sehingga larutan yang ada di dalam tanaman terserap keluar.dengan kata lain, penyerapan air dan unsur hara lain oleh akar menjadi terganggu (Noor, 2004) Salinitas merupakan factor pembatas utama pada tanah yang drainasenya buruk ( Cullu, 2003). Kekeringan dan salinitas merupakan factor pembatas utama yang dapat mengurangi produktifitas tanaman. Salinitas menghalangi perkecambahan, 8 memperambat perkembangan tanaman, dan mengurangi hasil panen. Tanaman yang tumbuh pada daerah dengan tingkat salinitas yang tinggi memiliki komoposisi ion dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Perbedaan konsentrasi disebabkan oleh sumber air, drainase, evaporasi, transpirasi, serta kemampuan pengendapan (Jamil, 2006). 6. Bebatuan Batuan yang menjadi bagian dan bahan dasar terbentuknya tanah memberi saham pada sifat tanah. Bebatuan merupakan salah satu komponen abiotic yang menyusun suatu ekosistem, di bebatun ini hanya beberpa tubuhan tertentu yang hanya bisa tumbuh, salah satunya adalah lumut. Lumut merupakan tumbuhan perintis yang mampu hidup di bebatuan, lama kelamaan batu ini akan lapuk dan hancur sehingga menjadi tanah dan akan bisa ditumbuhi oleh berbagai macam tanaman lain. 7. Tanah Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan. Menurut Heddy (1989: 23), tanah cenderung bervariasi ciri cirinya, seperti kedalaman, sifat fisik, kandungan kimia dan asalnya. 2.3.2 Faktor Biotik Menurut Heddy (1989:48), setiap spesies baik tanaman maupun hewan, uni- sel maupun multi sel mempunyai potensi biotik yang sangat besar. Lingkungan biotik adalah semua lingkungan yang terdiri dari komponen-komponen mahluk hidup di permukaan bumi. Komponen lingkungan biotik, misalnya tumbuhan, hewan dan manusia. Komponen biotik suatu ekosistem merupakan komponen yang terdiri dari organisme yang dikelompokkan berdasarkan cara memperoleh makanan : 1) Organisme autotroph 9 merupakan organisme yang dapat mengubah bahan anorganik menjadi organik (dapat membuat makanan sendiri). Organisme autotrop dibedakan menjadi dua tipe yaitu fotoautotrop (cahaya sebagai sumber energi), contohnya tumbuhan hijau dan kemoautotrop (memanfaatkan reaksi kimia), contohnya bakteri nitrit dan nitrat. 2) Organisme heterotroph organisme yang memeroleh bahan organik dari organisme lain. Contohnya hewan, jamur dan bakteri non autotrop. Komponen lingkungan biotik menurut fungsinya dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai. 1) Produsen Produsen adalah mahluk hidup yang dapat menghasilkan makanan sendiri melalui proses fotosintesis, sehingga produsen memanfaatkan zat organk untuk membentuk zat organic yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. dengan demikian kelompok produsen ditempati tumbuhan yang berklorofil (Chambell, 2004). 2) Konsumen Kelompok konsumen merupakan mahluk hidup yang mampu memanfaatkan hasil pengolahan makanan dari kelompok produsen. Kelompok konsumen tidak memiliki kemampuan untuk membuat makanan sendiri (heterotrof). Kelompok konsumen terdiri dari manusia dan hewan. Kelompok hewan dibedakan menjadi herbivora, karnivora, dan omnivora. Herbivora merupakan kelompok hewan pemakan tumbuhan. Karnivora merupakan kelompok hewan pemakan daging. Omnivora adalah kelompok hewan pemakan tumbuhan dan daging. Dalam rantai makanan kelompok herbivora, karnivora, dan omnivora menempati tingkatan konsumen yang berbeda. hewan yang memakan tumbuhan menempati kedudukan sebagai konsumen tingkat pertama. Kelompok karnivora menempati kedudukan sebagai konsumen tingkat kedua. Kelompok omnivora menempati konsumen tingkat tiga. 3) Pengurai Kelompok pengurai merupakan golongan organisme yang berperan dalam menguraikan sisa-sisa jasad mati dari organisme lain. Kelompok pengurai, misalnya 10 bakteri dan jamur. Hasil penguraian organisme ini akan kembali menjadi unsur hara yang menyuburkan tanah dan dapat dimanfaatkan lagi oleh produsen. 4) detritivor organisme yang memanfaatkan serpihan organik padat (detritus) sebagai sumber makanan. 11 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah : 1. tiap ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda, karena komposisi spesies, komunitas dan distribusi organismenya. 2. Penyebaran hewan berdasarkan luas cakupannya dapat dibedakan menjadi cakupan geografis, cakupan geologis, dan cakupan ekologis 3. Dispersal sebenarnya berasal dari istilah ekologi untuk menggambarkan penyebaran organisme dari tempat asalnya 4. suatu jenis hewan tidak ditemukan di suatu habitat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu ketidakcocokan habitat, perilaku (seleksi habitat), kehadiran jenis hewan lain (predator, parasit dan pesaing) dan faktor kimia-fisika lingkungan yang berada di luar kisaran toleransi jenis hewan yang bersangkutan. 5. Suatu ekosistem, terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen abiotik dapat berupa air, cahaya matahari, salinitas dan suhu. 6. Lingkungan biotik adalah semua lingkungan yang terdiri dari komponenkomponen mahluk hidup di permukaan bumi. Komponen lingkungan biotik, misalnya tumbuhan, hewan dan manusia. 3.2 Saran a. Sebaiknya mahasiswa mampu memahami secara baik apa saja faktor yang membatasi distibusi: dispersal, seleksi habitat, faktor fisika dan kimia b. Mampu mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 12 DAFTAR PUSTAKA Campbell. 2004. Biologi Edisi Ke 5 Jilid 3. Jakarta : Erlangga Cullu, Mehmet Ali. 2003. Estimation of the effect of soils salinity on crop yield using remote sensing and geographic information system. Turkey Journal of Agriculture For 27: 23-28. Heddy, Suwasono., Semitro., Soekartomo. 1989. Pengantar Ekologi. Jakarta : Rajawali Pers Jamil, M. 2006. Effect of salt stress on germination and early seedling growth of four vegetable species. Journal Central Europe Agriculture 7:273-282. Krebs, J.R. dan Davies N.B., 1978. Behavioural Ecology: An Evolutionary. Approach. 3rd ed. Blackwell Scientific Publications, London. McNaughton, S.J dan Wolf, Larry. L. 1992. Ekologi Umum. Edisi -2. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press, Diterjemahkan oleh Pringgoseputro, Noor, Muhammad. 2004. Lahan Rawa: Sifat dan Pengelolaan Tanah Bermasalah Sulfat Masam. Raja Grafindo, Jakarta. Odum, E. P. 1971. Fundamentals of Ecology. W.B. Sounders Company Ltd. Philadelphia. 13

Judul: Makalah-ekologi.doc

Oleh: Acan Akhasansas


Ikuti kami