Makalah Morfologi

Oleh Luluk Putri

16 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Morfologi

MAKALAH
MORFOLOGI
Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Prodi Pengantar Linguistik
Dosen Pengampu: Drs. Isfajar Ardinugroho,M.Hum.

Disusun oleh :
1. Hajar Krisminia

(2311411018)

2. Ummatul Khoiriyah

(2311414008)

3. Luluk Putri I.

(2311414038)

4. Tiara Stefi M.

(2311414046)

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ASING
FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
1

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah mendukung dalam proses pengerjaan makalah ini. Khususnya kedua orang
tua,serta teman – teman, dan Bapak selaku dosen pembimbing mata kuliah
Pengantar Linguistik.
Dalam proses pengerjaan makalah ini, penyusun menemukan banyak
kekurangan. Dikarenakan keterbatasan ilmu serta wawasan yang dimiliki
penyusun. Dengan semua kekurangan yang dimiliki oleh penyusun, diharapkan
kepada para pembaca ini dapat memberikan kritik dan saran yang membangun
untuk kemajuan kita bersama.
Makalah yang berjudul “Morfologi” ditulis untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pengantar Linguistik. Penyusun mohon maaf yang sebesar-besarnya
apabila terdapat banyak kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat dalam
makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi seluruh pembaca.

Semarang, 1 Oktober 2014

Penyusun

2

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................

1

KATA PENGANTAR.....................................................................................

2

DAFTAR ISI...................................................................................................

3

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ..........................................................

4

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................

4

1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................

4

PEMBAHASAN
2.1 Definisi Morfologi.....................................................................

5

2.2 Morfem dan jenis-jenisnya........................................................

5

2.3 Morf dan Alomorf.....................................................................

8

2.4 Hal-hal yang terkait dengan morfem.........................................

8

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan...............................................................................

14

3.2. Saran.........................................................................................

14

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

15

3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer, produktif,
dinamis, beragam, dan manusiawi (Abdul Chaer, 1995: 14-18). Sebagai sebuah
sistem, bahasa pada dasarnya memberi kendala pada penuturnya. Dengan
demikian, bahasa pada gilirannya pantas diteliti, karena kendala-kendala yang
dihadapi oleh penutur suatu bahasa memerlukaan sebuah pengkajian.
Salah satu bidang pengkajian bahasa Indonesia yang cukup menarik adalah
bidang tata bentukan atau morfologi. Bidang ini menarik untuk dikaji karena
perkembangan kata-kata baru yang muncul dalam pemakaian bahasa sering
berbenturan dengan kaidah-kaidah yang ada pada bidang tata bentukan ini. Oleh
karena itu perlu dikaji ruang lingkup tata bentukan ini agar ketidaksesuaian antara
kata-kata yang digunakan oleh para pemakai bahasa dengan kaidah tersebut tidak
menimbulkan kesalahan sampai pada tataran makna. Jika terjadi kesalahan sampai
pada tataran makna, hal itu akan mengganggu komunikasi yang berlangsung. Bila
terjadi gangguan pada kegiatan komunikasi maka gugurlah fungsi utama bahasa
yaitu sebagai alat komunikasi. Hal ini tidak boleh terjadi.
Sering timbul pertanyaan dari pemakai bahasa, manakah bentukan kata
yang sesuai dengan kaidah morfologi. Dan, yang menarik adalah munculnya
pendapat yang berbeda dari ahli bahasa yang satu dengan ahli bahasa yang lain.
Fenomena itulah yang menarik bagi kami untuk melakukan pengkajian dan
memaparkan masalah tentang morfologi dalam makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini,antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Apa definisi dari morfologi?
Apa pengertian morfem beserta jenis-jenisnya?
Apa pengertian morf?
Apa pengertian alomorf?
Apa saja hal-hal yang terkait dengan morfem?

1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memahami pengertian
dari morfologi,morfem beserta jenis-jenisnya,morf,alomorf,dan hal-hal yang
terkait dengan morfem.

4

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Morfologi
Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal
dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti
bentuk dan logos berarti ilmu.Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur
pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk atau bisa
dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk
kata.
Verhaar (1984:52) berpendapat bahwa morfologi adalah bidang linguistik
yang mempelajari susunan bagian kata secara gramatikal.Begitu pula
Kridalaksana (1984:129) yang mengemukakan bahwa morfologi, yaitu (1)
bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya; (2)
bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagian kata, yaitu
morfem.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa morfologi
adalah bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara morfem yang satu
dengan morfem yang lain untuk membentuk sebuah kata.

2.2. Morfem dan Jenis-Jenisnya
Morfem dari kata morphe dan ema (sebagai akhiran). Morphe berarti
bentuk, sedangkan ema berarti yang mengandung arti. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa morfem ialah kesatuan bunyi terkecil yang mengandung arti
serta tidak mempunyai bentuk lain sebagai unsur pembentuknya.
Morfem adalah bentuk bahasa yang terkecil yang tidak dapat lagi dibagi
menjadi bagian bagian yang lebih kecil, misalnya, kata putus jika dibagi
menjadi pu dan tus, bagian-bagian itu tidak dapat lagi disebut morfem karena
tidak mempunyai makna, baik makna leksikal ataupun makna gramatikal.
Demikian juga me- dan -kan tidak dapat kita bagi menjadi bagian yang lebih
kecil (Badudu,1985:66). Jadi, morfem adalah satuan bahasa yang paling kecil
yang tidak dapat dibagi lagi dan mempunyai makna gramatikal dan makna
leksikal.
Jenis-jenis morfem didasarkan pada kebebasannya, keutuhannya, dan
maknanya.
1. Morfem bebas dan Morfem terikat
Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain
dapat muncul dalam pertuturan. Sedangkan yang dimaksud dengan
morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem
lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.
Berkenaan dengan morfem terikat ada beberapa hal yang perlu
dikemu
kakan. Pertama bentuk-bentuk seperti : juang, henti, gaul,
dan , baur termasuk morfem terikat. Sebab meskipun bukan afiks, tidak
dapat muncul dalam petuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses
morfologi. Bentuk tersebut lazim disebut prakategorial. Kedua, bentuk
5

2.

3.

4.

5.

seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk prakategorial karena bentuk
tersebut merupakan pangkal kata, sehingga baru muncul dalam petuturan
sesudah mengalami proses morfologi. Ketiga bentuk seperti : tua (tua
renta), kerontang (kering kerontang), hanya dapat muncul dalam pasangan
tertentu juga, termasuk morfem terikat. Keempat, bentuk seperti ke,
daripada, dan kalau secara morfologis termasuk morfem bebas. Tetapi
secara sintaksis merupakan bentuk terikat. Kelima disebut klitika. Klitka
adalah bentuk singkat, biasanya satu silabel, secara fonologis tidak
mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat tetapi
tidak dipisahkan .
Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh.
Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua bagian
terpisah, catatan perlu diperhatikan dalam morfem terbagi. Pertama,
semua afiks disebut konfiks termasuk morfem terbagi. Untuk menentukan
konfiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.
Kedua, ada afiks yang disebut infiks yakni yang disisipkan di tengah
morfem dasar.
Morfem Segmental dan Suprasegmental
Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem
segmental. Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh
unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi.
Perbedaan antara morfem segmental dan suprasegmental terletak pada
jenis fonem yang membentuknya. Morfem segmental adalah morfem yang
dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat}, {lah},
{sikat}, dan {ber-}. Jadi, semua morfem yang berwujud bunyi adalah
morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem
yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada,
durasi, dan sebagainya. Misalnya, dalam bahasa Ngabaka di Kongo Utara
di Benua Afrika, setiap verba selalu disertai dengan penunjuk kata (tense)
yang berupa nada
Morfem beralomorf zero
Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya
tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan
kekosongan.
Misal :
Bentuk tunggal:
I have a book
I have a sheep
Bentuk jamak:
I have two books
I have two sheep
Kita lihat, bentuk tunggal untuk book adalah book dan bentuk
jamaknya adalah books; bentuk tunggal untuk sheep adalah sheep dan
bentuk jamaknya adalah sheep juga. Karena bentuk jamak books terdiri
dari dua buah morfem, yaitu morfem {book} dan {-s}, maka dapat
dipastikan bentuk jamak unutk sheep adalah morfem {sheep} dan morfem
{0}.
Morfem bermakna Leksikal dan Morfem tidak bermakna Leksikal
6

6.

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren
memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dengan
morfem lain. Sedangkan morfem yang tidak bermakna leksikal adalah
tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.
Misalnya, dalam bahasa Indonesia, morfem-morfem seperti
{kuda}, {pergi}, {lari}, dan {merah} adalah morfem bermakna leksikal.
Sedangkan morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apaapa pada dirinya sendiri. Morfem ini baru mempunyai makna dalam
gabungannya dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi.
Misalnya, morfem-morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}, dan {ter-}.
Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (stem), dan Akar(root)
Morfem dasar, bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi bisa
diulang dalam suatu reduplikasi, bisa digabung dengan morfem lain dalam
suatu proses komposisi. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar
dari proses infleksi. Akar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak
dapat dianalisis lebih jauh.

7

2.3. Morf dan Alomorf
Morf adalah bentuk terkecil dari morfem yang belum diketahui statusnya
dalam hubungan keanggotaan terhadap suatu morfem. Sedangkan alomorf adalah
bentuk dari morfem yang sudah diketahui statusnya. Misalnya bentuk {meng-}
dalam menggali. Bentuk {meng-} saat belum diketahui status morfemnya disebut
morf, tetapi setelah diketahui statusnya yakni sebagai pendistribusi terhadap
fonem berkonsonan /g/ maka morf ini disebut alomorf.

2.4. Hal-Hal yang Terkait dengan Morfem
 Kata
Kata adalah satuan gramatikal bebas yang terkecil. Kata dapat berwujud
dasar yaitu terdiri atas satu morfem dan ada kata yang berafiks. Kata secara umum
dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu verba, adjektiva, averbia,
nomina, dan kata tugas.
Batasan atau konsep dari kata terdiri dari dua hal, yaitu :
a. Setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat
berubah, serta tidak dapat diselipi atau disela oleh fonem lain misalnya kata sikat,
urutan fonemnya adalah /s/, /i/, /k/, /a/, /t/. Urutan itu tidak dapat diubah misalnya
menjadi /s/, /k/, /a/, /i/, /t/ atau urutan lainnya. Juga tidak dapat diselipi fonem lain
minsalnya, menjadi, /s/, /i/, /u/, /k/, /a/, /t/.
b. Setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat didalam kalimat atau
tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain, atau juga dapat dipisahkan
dari kata lainnya.
Secara tradisional kata-kata dikelompokkan berdasarkan kriteria semantik
dan kriteria fungsi. Kriteria semantik digunakan untuk mengklasifikasikan kelas
verba (V), kelas nomina (N), dan kelas adjektiva (A). Lalu, kriteria fungsi
digunakan untuk menentukan kelas preposisi kelas konjungsi dan lainnya.
Klasifikasi kata terdiri dari dua macam, yaitu :
A. Kelas terbuka
Kelas adalah kelas yang keanggotaanya dapat bertambah atau berkurang
sewaku-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi dalam
masyarakat penutur suatu bahasa yang termasuk kelas terbuka adalah kelas verba,
kelas nomina, dan adjektiva.
1. Verba
Ciri utama verba atau kata kerja dilihat dari adverbia yang mendampinginya.
Ciri utama verba adalah :
a) Dapat didampingi oleh adverbia tidak, tanpa, dan bukan. Contoh tidak
datang, tanpa makan, bukan menangis.
b) Dapat didampingi oleh semua adverbia frekuensi, seperti sering datang,
jarang makan, kadang-kadang pulang, dll.
c) Tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongannya.
Misalnya sebuah menbaca, dua butir menulis, namun dapat didampingi oleh
semua adverbia jumlah seperti, kurang embaca, cukup menarik, dll.
d) Tidak dapat didampingi oleh semua adverbia derajat. Contoh agak
pulang, cukup datang, lebih pergi, kurang pergi, dll.
8

e) Dapat didampingi oleh semua adverbia kala (tense) contoh sudah makan,
sedang mandi, lagi tidur, akan pulang, hendak pergi mau menjual,dll.
f) Dapat didampingi oleh semua adverbia keselesaian, contoh belum
mandi, baru datang, sedang makan, sudah pulang, dll.
g) Dapat didampingi oleh semua adverbia keharusan. Contoh, boleh mandi,
harus pulang, wajib datang, dll.
h) Dapat didampingi oleh semua anggota adverbia kepastian. Contoh pasti
datang, tentu pulang, mungkin pergi, barangkali tahu, dll.
2. Nomina
Ciri utama nomina atau kata benda dilihat dari adverbia pendampingnya.
Ciri utama dari nomina adalah :
a) Tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak. Jadi, kata-kata kucing,
meja, bulan, rumah, dll. Berikut adalah termasuk nomina karena tidak dapat
didahului oleh adverbia negasi tidak.
b) Tidak dapat didahului adverbia derajat agak ( lebih, sangat, dan paling).
Contoh : agak kucing, agak kucing, agak bulan, dll.
c) Tidak dapat didahului oleh adverbia keharusan wajib. Contoh : wajib
kucing, wajib meja, wajib bulan, dll.
d) Dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah, seperti satu,
sebuah, sebatang, dsb. Misalnya : sebuah meja, seekor kucing, sebatang
pensil, dll.
3) Adjektiva
Ciri utama utama adjektiva atau kata keadaan adalah :
a) Tidak dapat didampingi adverbia frekuensi sering, jarang, dan kadangkadang. Jadi, tidak mungkin ada. Contoh : sering indah, jarang tinggi,
kadang besar, dll.
b) Tidak dapat didampingi adverbia jumlah. Contoh : banyak bagus, sedikit
baru, sebuah indah, dll.
c) Dapat didampingi oleh semua adverbia derajat. Contoh : agak tinggi,
cukup mahal, lebih bagus, dll.
d) Dapat didampingi adverbia kepastian pasti, tentu, mungkin,dan
barangkali. Contoh : pasti indah, tentu baik, buruk, dll.
e) Tidak dapat diberi adverbia kala (tenses) hendak dan mau. Jadi bentukbentuk tidak diterima. Contoh : hendak indah, mau tinggi, dll.
Secara morfologi adjektiva yang berupa kata turunan atau kata bentukan
dapat dikenali dari sufiks-sufiks ( yang berasal dari bahasa asing) yang
mengimbuhkannya.
Contoh :
al : faktual, gramatikal, ideal.
il : prisipiil, idiil, materiil, dll.
iah : alamiah, rohaniah, dll.
if : efektif, kualitatif, dll.
is : teknis, kronologis, dll.
istis : optimistis, egoistis, dll.
i
: islami, alami, dll.
wi : duniawi, surgawi, dll.
ni : gerejani
9

B. Kelas kata tertutup
Kelas kata tertutup adalah yang jumlah keanggotaannya terbatas dan tidak
tampak kemungkinan untuk bertambah, atau berkurang. Yang termasuk kelas
tertutup adalah kelas-kelas adverbia, kelas preposisi, kelas konjungsi, kelas
artikula, dan kelas interjeksi.
1) Adverbia
Adverbia adalah kata ketarangan atau kata ketarangan tambahan. Fungsinya
adalah menerangkan kata kerja, kata sifat, dan jenis kata yang lainnya.
Komponen makna utama yang dimiliki dari kata-kata berkelas adverbia
adalah :
a) [+negasi], yaitu kata-kata tidak, bukan, tanpa, dan tiada. Kata tidak
digunakan untuk menegasikan kelas verba dan adjektiva. Kata bukan
digunakan untuk menegasikan kelas nomina. Kata tanpa digunakan untuk
menegasikan kelas nomina dan verba. Kata tiada digunakan untuk
menegasikan kelas nomina dan verba.
b) [+frekuensi] yaitu kata-kata sering, jarang, kadang-kadang, biasa, sekalikali, acap kali, dan selalu. Adverbia ini hanya dapat digunakan uinruk kelas
verba.
c) [+kuantitas] atau [+jumlah] yaitu banyak, sedikit, cukup, kurang, semua,
seluruh, sebagian, dan beberapa. Pada umumnya kata-kata adverbia ini dapat
mendampingi nomina. Namun ada juga yang dapat mendampingi verba,
contohnya banyak rumah, sedikit uang, kurang air, semua orang, banyak
membaca, banyak bicara, dll.
d) [+kualitas] atau [+derajat] yaitu agak, cukup, lebih, kurang, sangat,
paling, sedikit, dan sekali. Umumnya adverbia ini hanya dapat mendampingi
kata-kata dari kelas adjektiva misalnya, agak baik, cukup baik, lebih baik,
dll.
e) [+waktu] atau [+skala] yakni adverbia sudah, sedang, lagi, tengah, akan,
hendak, dan mau. Adverbia ini pada dasarnya dapat mendampingi verba
tindakan misalnya sudah makan, sedang mandi, tengah membaca, hendak
pergi, dll.
f)[+keselesaian] yaitu adverbia sudah, belum, baru, dan sedang. Adverbia
ini digunakan untuk mendampingi kelas verba dan adjektiva. Misalnya
sudah mandi, belum mandi, baru mandi, sedang mandi, dll.
g) [+pembatasan] yaitu adverbia hanya dan saja. Adverbia ini hanya
digunakan untuk kelas verba, kelas nomina, dan kelas numeralia. Hanya
nasi, nasi saja, hanya seribu.
h) [+keharusan] yaitu boleh, wajib, harus, dan mesti adverbia ini hanya
mendampingi kelas verba misalnya boleh pergi, wajib pergi, harus pergi,
mesti pergi, dll.
i) [+kepastian] yaitu adverbia pasti, tentu, mungkin, barang kali. Adverbia
ini mendampingi kata-kata kelas verba. Contoh pasti hadir, tentu datang,
mungkin terlambat, barangkali meninggal.

10

2) Pronomina
Pronomina adalah kata ganti. Pronomina dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
a) Kata ganti diri
Kata ganti diri adalah pronomina yang menggantikan nomina orang atau
yang diorangkan, baik berupa nama diri atau bukan nama diri. Kata ganti
biasa dibedakan atas:
(1). Kata ganti diri orang pertama tunggal yaitu saya dan aku, orang pertama
jamak yaitu, kami dan kita.
(2). Kata ganti dari orang kedua tunggal yaitu, kamu dan engkau, orang
kedua jamak, yaitu kalian dan kamu sekalian.
(3). Kata ganti diri orang ketiga tunggal yaitu, ia, dia, dan nya.
b) Kata ganti penunjuk
Kata ganti penunjuk atau pronomina demontratifa adalah kata ini dan itu
yang digunakan untuk menggantikan nomina (frase nominal atau lainnya)
sekaligus dengan penunjukkan. Kata ganti penunjuk ini digunakan untuk
menunjuk sesuatu yang dekat dari pembicara, sedangkan kata ganti
penunjuk itu digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari
pembicara.contoh buku ini adalah buku saya, itulah buka yang saya cari
selam ini.
c) Kata ganti tanya
Kata ganti tanya atau pronomina introgatifa adalah kata yang digunakan
untuk bertanya atau menanyakan sesuatu nomina atau ( sesuatu yang
dianggap konstruksi nomina). Kata ganti tanya itu adalah 5W+1H.
d) Pronomina tak tentu
Pronomina tak tentu atau kata ganti tak tentu adalah kata-kata yang
digunakan untukmengggantikan nomina yang tidak tentu. Yang termasuk
kata ganti tak tentu adalah seseorang, salah seorang, siapa saja, setiap orang,
masing-masing, suatu, sesuatu, salah satu, beberapa, dan sewaktu-waktu.
3) Numeralia
a) Kata bilangan
Numeralia atau kata bilangan adalah kata-kata yang menyatakan bilangan,
jumlah, nomor, urutan, dan himpunan. Menurut bentuk dan fungsinya
biasanya dibicarakan adanya kata bilangan utama, bilangan genap, bilangan
ganjil, bilangan bulat, bilangan tingkat, dan kata bantu bilangan.
Kata bilangan utama adalah kata-kata seperti satu, dua, tiga, dst. Kata
bilangan genap adalah kata bilangan yang habis dibagi dua. Misalnya dua,
empat, enam, delapan, dst. Kata bilangan tingkat digunakan untuk
menyatakan urutan, seperti kata kelima, keenam, dst. Kata bilangan
himpunan adalah kata bilangan yang menyatakan kelompok atau jumlah.
Contohnya kedua rumah itu disita oleh pengadilan, dll.
b) Kata bantu bilangan
Kata bantu bilangan adalah kata-kata yang digunakan sebagai tanda
pengenal nomina tertentu dan ditempatkan diantara kata bilangan dengan
nominanya. Kata bantu bilangan yang lazin digunakan adalah orang untuk
manusia, ekor untuk binatang, dan buah untuk benda umum. Secara spesifik
digunakan juga kata-kata batang, lembar, helai, butir, biji, dll.
11

Contohnya, dua orang korea, lima ekor gajah. Kata bantu bilangan untuk
kedua contoh tersebut digunakan untuk nomina terhitung. Untuk nomina tak
terhitung digunakan wadah pengukur nomina itu. Contohnya secangkir kopi,
dua liter minyak, sepotong roti.
4) Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk
merangkaikan nomina dengan verba di dalam satu klausa. Misalnya kata di, dan
dengan dalam kalimat. Contoh : nenek duduk di kursi, kakek menulis surat
dengan pensil.
Secara semantik, preposisi ini menyatakan makna-makna :
a) Tempat berada, yaitu preposisi di, pada, dalam, atas, dan antara. Contohcontoh pemakaiannya:
(1).Nenek tinggal di Bogor.
(2) Ibuku bekerja di Jakarta pada Departemen Kesehatan.
(3) Tulisannya dimuat dalam harian Pos Kota.
(4) Terima kasih atas pemberian itu.
(5) Depok terletak antara Jakarta dan bogor.
b) Arah asal, yaitu preposisi dari. Contoh Dia datang dari Kediri.
c) Arah tujuan, yaitu preposisi ke, kepada, akan, dan terhadap. Contoh
pemakaiannya:
(1) Mereka menuju ke utara.
(2) Kami minta tolong kepada polisi.
(3) Dia memang takut akan hantu.
(4) Saya tidak takut terhadap siapa saja.
d) Pelaku yaitu preposisi oleh. Contoh pemakaiannya Jembatan itu dibangun
oleh pemerintah pusat.
e) Alat, yaitu preposisi dengan dan berkat. Contoh pemakaiannya :
(1) Kayu itu dibelah dengan kapak.
(2) Aku berhasil berkat bantuan saudara-saudara sekalian.
f) Perbandingan, yaitu preposisi daripada. Contohnya kue ini lebih enak
daripada kue itu.
g) Hal atau masalah,yaitu
pemakaiannya :

preposisi tentang

dan mengenai.Contoh

(1) Mereka berbicara tentang gempa bumi.
(2) Mengenai anak itu biarlah saya yang akan mengurusnya.
h) Akibat, yaitu preposisi hingga, atau sehingga dan sampai. Contoh
pemakaiannya :
(1) Tukang copet itu dipukuli orang banyak hingga babak belur.
(2) Jalan raya itu rusak berat sehingga tidak dapat dilalui kendaraan kecil.
(3) Dia berjalan kali sejauh itu samapai sepatunya hancur.
Selain itu preposisi hingga dan sampai juga menyatakan batas tempat dan
batas waktu. Contoh :
12

(1) Mereka berdiskusi hingga /sampai larut malam.
(2) Kami bersepeda hingga/sampai batas kota.
i) Tujuan, yaitu preposisi untuk buat, guna, dan bagi. Contoh :
(1) Ibu membeli sepeda baru untuk adik.
(2) Beliau membawa oleh-oleh buat kami.
(3) Guna kepentingan umum, kami rela berkorban.
(4) Bagi saya, uang seribu rupiah besar artinya.
5) Konjungsi
Konjungsi atau kata penghubung adalah kata-kata yang menghubungkan
satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, frase dengan frase, klausa
dengan klausa, atau antar kalimat dengan kalimat.

13

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas tentang pengertian Morfologi dan beserta pokok
bahasan lain yang terkandung dalam pengertian Morfologi,dapat ditarik sedikit
kesimpulan sebagai berikut :
1. Pengertian Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari hubungan
antara morfem yang satu dengan morfem yang lain untuk membentuk sebuah
kata.
2. Di dalam ilmu morfologi kita bisa membahas pengertian morfem dan jenisjenisnya, morf, alomorf, serta hal-hal yang terkait dengan morfologi

3.2. Saran
Setiap kajian bahasa perlu adanya peninjauan kembali guna memperoleh
hasil yang optimal sehingga tidak ada lagi kesalahan yang ditimbulkan dalam
kajian morfologi.

14

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta : RINEKA CIPTA.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta : RINEKA CIPTA.
Verhaan, J.w.M. 1983. Pengantar Linguistik. Yogyakarta : GADJAH MADA
UNIVERSITY PRESS.
Samsuri. 1985. Analisis Bahasa. Jakarta. ERLANGGA.
Sutawijaya, Alam, dkk. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta :
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PENDIDIKAN DASAR
DAN MENENGAH BAGIAN PROYEK PENATARAN GURU SLTP SETARA
TAHUN 1996/1997
Alwi, Hasan, dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Finoza, Lamuddin. 2006. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan
Mulia
http://id.wikipedia.org/wiki/Alomorf
http://id.wikipedia.org/wiki/Morfem
http://stevenkhodarie.blogspot.com/2013/03/rangkuman-morfologi.html
http://www.anneahira.com/pelajaran-bahasa.htm
http://hatmanbahasa.wordpress.com/2010/02/16/morfologi-bahasa-indonesia/

15

HASIL DISKUSI
1. Aaf (kelompok 2): Apa perbedaan antara fonologi,morfologi,sintaksis,dan
semantik?
Apa pengertian leksima?
Jawab:
 Fonologi : Ilmu yang mempelajari bunyi bahasa.
Morfologi : Ilmu yang mempelajari seluk beluk kata.
Sintaksis : Ilmu yang mempelajari hubungan antar kata dalam suatu kalimat.
Semantik : Ilmu yang mempelajari makna kata dalam suatu kalimat.
 Leksima : Suatu leksikal dasar yang abstrak yang mendasari berbagai bentuk
kata,satuan terkecil dari leksikol.
Contoh
: morfem{kuda}, {pergi}, {lari}, dan {merah} adalah morfem
bermakna leksikal. Sedangkan morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai
makna apa-apa pada dirinya sendiri. Morfem ini baru mempunyai makna dalam
gabungannya dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi. Misalnya,
morfem-morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}, dan {ter-}.
2. Nur Afifah (kelompok 3): Jelaskan perbedaan antara morf dan sufiks beserta
contohnya!
Jawab:
Morf : bentuk terkecil dari morfem yang belum diketahui statusnya dalam
hubungan keanggotaan terhadap suatu morfem.
Contoh : bentuk {meng-} dalam menggali. Bentuk {meng-} saat belum
diketahui status morfemnya disebut morf, tetapi setelah diketahui statusnya
yakni sebagai pendistribusi terhadap fonem berkonsonan /g/ maka morf ini
disebut alomorf.
Sufiks : Afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.
Contoh : Sufiks –an pada kata bagian,dan sufiks –kan pada kata bagikan.
3. Gandis (kelompok 2): Jelaskan proses infleksi!
Jawab:
Kata-kata dalam bahasa-bahasa berfleksi,seperti bahasa prancis,untuk dapat
digunakan didalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategorikategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu.
Contoh: Belle: Cantik
Enbellir: Mempercantik
La bauté: Kecantikan
4. Upi (kelompok 5): Jelaskan pengertian prakategorial!
Jawab:
Prakategorial: Kata yang bisa berdiri sendiri. Contoh: baca,tulis,tendang.
Bukan bentuk yang tidak bisa berdiri sendiri, seperti: gegap gempita,kering
kerontang.

16

5. Tutik (kelompok 8): Jelaskan maksud infiks!
Jawab:
Infiks: Afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar.
Contoh: Afiks {-er-} pada kata gerigi ,{-el-} pada kata pelatuk, {-em-}pada
kata gemetar

 Perbedaan antara Signifié –Signifiant:
 Signifié: Bentuk yang diartikan/dilambangkan.
Contoh: Membayangkan wujud/bentuk meja dalam pikiran (berkaki
empat, terbuat dari kayu,dll.)
 Signifiant: Sesuatu yang diucapkan/ditulis.
Contoh: Mengucapkan/menulis kata “meja”

17

Judul: Makalah Morfologi

Oleh: Luluk Putri


Ikuti kami