Makalah Agama

Oleh Mutiawati Hasdi

273,2 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Agama

IMAN, ILMU, DAN AMAL D i s u s u n Oleh Kelompok IV Mutiawati Nurlita Ernita Dosen pembimbing : Iskandar M.PdI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ALMUSLIM BIREUEN 2013 KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaikum wr.wb. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepada kita iman sebagai modal utama untuk menjadi muslim yang benar dan ilmu pengetahuan yang sangat banyak sehingga kita bisa membedakan amal buruk dan amal baik dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai modal untuk menuju alam kehidupan yang kekal. Shalawat dan salam mari kita sampaikan kepada Rasulullah Muhammad saw yang telah membawa kita dari alam jahiliyah ke alam islamiyah dan dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Pebimbing Makalah yaitu Iskandar M.PdI yang telah memberi kami sedikit banyaknya bimbingan dalam penyelesaian makalah yang berjudul “ Iman, Ilmu dan Amal ”. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangannya, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari teman-teman dan pembaca budiman guna untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga isi dari makalah ini dapat bermamfaat bagi semua pihak khususnya penulis sendiri. Matang Glumpang Dua, 28 Oktober 2013 Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................. i Daftar Isi ........................................................................................ ii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar belakang .............................................................. B. Rumusan masalah ......................................................... C. Tujuan ........................................................................... BAB II : PEMBAHASAN A. Pengertian Iman, Ilmu dan Amal ................................ a. Iman ...................................................................... b. Ilmu ........................................................................... c. Amal ......................................................................... B. Hubungan Iman, Ilmu dan Amal dalam Pandangan Islam............... BAB III : PENUTUP A. Kesimpulan ......................................................... B. Saran ............................................................................ BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Iman, ilmu dan amal merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan ummat islam. Iman, ilmu dan amal memiliki hubungan yang erat untuk mencapai ketaqwaan kepada Allah sehingga kita tidak bisa memisahkan ketiganya. Kitab suci Al-Qur’an senantiasa menggandengkan hubungan antara iman, ilmu dan amal. Namun, banyaknya manusia tidak menyadari itu karena mereka tidak mengetahui makna yang sebenarnya dari iman, ilmu dan amal sehingga mereka salah menempatkan posisi itu sendiri. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah “apakah makna dan bagaimanakah hubungan iman, ilmu dan amal dalam pandangan islam ?”. C. Tujuan Untuk mengetahui makna dan hubungan iman, ilmu dan amal dalam pandangan islam. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Iman, Ilmu dan Amal I. Iman Iman secara bahasa arab artinya percaya, tunduk, tentram, aman dan tenang, yang asal katanya ‫ آمن – يؤمن – إيمانا‬atau dengan kata lain– ‫تصديقا‬ ‫ يص???دّق‬-‫ ص???دّق‬yang artinya membenarkan. Dan menurut istilah adalah membenarkan dengan penuh keyakinan hati tanpa dicampuri keraguan sedikitpun, mengucapkan dengan lisan dan hati serta mengamalkan dengan perbuatan hati dan anggota tubuh sehingga memberi pengaruh terhadap pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Sementara menurut hadits Rasulullah saw ialah percaya kepada Allah, malaikatmalaikatNya, kitab-kitabNya, hari kiamat, Rasul-rasul Allah, dan kepada Qadar (takdir baik dan buruk). Seperti yang diterangkan dalam beberapa haditsnya. َ‫حدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُ و حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَ ة‬ َ َ‫حدَّتنا مُسَدَّدٌ قَال‬ َ ُ‫ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَ اهُ جِبْرِي ل‬:َ‫عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال‬ َ‫ مَا اإلِيمَانُ قَالَ اإلِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَالئِكَتِهِ وَكُتُبِ هِ وَبِلِقَائِ هِ وَرُسُ لِهِ وَتُ ؤْمِن‬:َ‫فَقَال‬ .)‫ منتفق عليه‬: ‫ (روه‬.ِ‫بِالْبَعْث‬ Artinya : “Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah r.a berkata: Pada suatu hari ketika Nabi saw. sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya, “apakah iman itu?”. Jawab Nabi saw.: “iman adalah percaya Allah swt., para malaikat-Nya, kitab-kitabnya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya pada hari berbangkit dari kubur”. (HR : Muntafaqun ‘alaihi). Pada redaksi lain juga disebutkan, yakni hadits yang diriwayatkan oleh muslim, selain yang telah disebutkan pada hadits diatas, ada tambahan mengenai obyek iman, yaitu beriman adanya qadar atau takdir baik maupun buruk. ِ‫ خَيرِهِ وَشَرِّهِ وَحُلوِه‬: ِ‫اْإلِيْمَان هُوَ اإلِيْمَان بِاللهِ وَمَالَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اآلخِرِ وَالقَدَر‬ )‫ (روه مسلم‬.ِ‫وَمُرِّهِ مِنَ هللا‬. Artinya: “Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan qadar yang baik maupun buruk, yang manis maupun yang pahit, (semuanya) dari Allah”. (HR : Muslim). Dalam Al-Qur’an ditemukan kata iman mengandung dua makna, yaitu pada surah Quraisy ayat 4 mengandung makna aman, mengamankan, atau memberikan keamanan. ) ٤ : ‫ (قريش‬.ٍ‫وَأَمَنَهُم مِّن خَوف‬ Artinya: “Dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan”. (QS: Quraisy : 4). Dan pada surah Al-Baqarah ayat 285 mengandung makna yakin, percaya atau beriman. )۲۸۵ : ‫(البقرة‬.....................ُ‫أَمنَ الرَّسُول‬ Artinya: ‘’Rasul (Muhammad) beriman ................’’(QS. Al-Baqarah: 285) Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, harikiamat, RasulrasulNya dan kepada takdir baik maupun buruk dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati tanpa dicampuri keraguan sedikitpun, mengucapkan dengan lisan dan hati serta mengamalkan dengan perbuatan hati dan anggota tubuh sehingga memberi pengaruh terhadap pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. 1) Iman kepada Allah (‫)اإليمان باهلل‬. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah saw menjelaskan makna iman kepada Allah. "‫ "شَهَادَةٌ أَن‬: َ‫ قَال‬."ُ‫ "هللاُ وَ رَسُلُهُ أَعلَم‬: ‫أَتَدرُونَ مَا اإلِيمَانُ بِاللهِ وَحدَهُ ؟" قَالُوا‬ )‫ (روه مسلم‬."ُ‫ال َ إِلَهَ إِال َّ هللا‬. Artinya : “Apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah satu-satunya ?”. Mereka menjawab “ hanya Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda: “bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”. (HR: Muslim). Maksud dari sabda Rasulullah saw di atas “Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah’’ ialah iman harus dilandasi dengan ilmu ketauhidan karena pada hakikatnya manusai beragama tauhid atau agama yang mengesakan Tuhan yang dibawakan oleh para rasul sebelum Rasulullah saw dan setelah itu Allah mengutuskan beliau untuk menyempurnakan agama tersebut dengan agama islam. Kemudian iman kita harus diiringi dengan ilmu ma’rifahtullah atau ilmu mengenal Allah. Tanpa ada ilmu ma’rifatullah kita tidak akan bisa beriman kepada Allah karena dengan adanya ilmu tersebut kita dapat mempercayai dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati kepada rububiyyah Allah Swt, maksudnya: Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik semesta, dan Pengatur segala urusan, iman kepada uluhiyyah Allah Swt, maksudnya: Allah sajalah Tuhan yang berhak di sembah, dan semua sesembahan selainNya adalah batil, iman kepada nama-nama dan sifat-sifatNya maksudnya: bahwasanya Allah Swt, memiliki nama-nama yang mulia dan sifat-sifatNya yang sempurna serta agung sesuai yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jadi, iman kepada Allah ialah mempercayai dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, yang miliki kekuasan, nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang sempurna serta agung. Adapun sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita imani, yaitu: a. 20 sifat-sifat yang wajib bagi Allah. Maksudnya adalah sifat-sifat ini benar-benar ada pada Allah tetapi tidak ada pada makhluk lain. Sifat-sifat itu adalah: ‫( وُجُ ٌد‬Ada), ‫( قِ ?دَ ٌم‬Sedia), ‫( بَقَ??ا ٌء‬Kekal), ‫(مُخَالَفَةُ لِلحَوَادِث‬Bersalahan Allah Ta’ala bagi segala yang bahru), ِ‫( قِيَامُهُ بِنَفسِه‬Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya), ‫( وَحدَانِيَّة‬Esa), ٌ‫( قُ درَة‬Kuasa), ُ‫إِرَادَة‬ (Berkehendak), ٌ‫( عِلم‬Mengetahui), ٌ‫( حَيَاة‬Hidup), ٌ‫( سَمع‬Mendengar), ٌ‫( بَصَر‬Melihat), ٌ‫( كَالَم‬Berkata), ٌ‫( قَادِر‬Yang Maha Kuasa), ُ‫( مُرِيد‬Yang Maha Berkehendak), ٌ‫( عَ الِم‬Yang Maha Mengetahui), ٌّ‫حي‬ َ (Yang Maha Hidup), ٌ‫( سَمِيع‬Yang Maha Mendengar), ٌ‫( بَصِير‬Yang Maha Melihat) dan ٌ‫( مُتَكَلِّم‬Yang Maha Berkata). b. 20 sifat-sifat yang mustahil bagi Allah. Maksudnya adalah sifat-sifat yang tidak pernah mungkin dimiliki oleh Allah tetapi dimiliki oleh makhluk lain. Sifat-sifat itu adalah: ٌ‫( عَ دَم‬Tiada), ٌ‫ح دُوث‬ ُ (Baharu), ٌ‫( فَنَ اء‬Hilang), ِ‫مُمَاثَلَتُ هُ لِلحَ وَادِث‬ (Bersamaan Allah bagi segala yang baharu), ِ‫ال َ يَكُونُ قَائِمً ا بِنَفسِ ه‬ (Tiada berdiri Allah dengan sendirinya),‫( ال َ يَكُونُ وَاحِدًا‬Tiada esa), ٌ‫( عَجَ ز‬Lemah), ٌ‫( كَرَاهَ ة‬Tiada berkehendak), ٌ‫( جَه ل‬Bodoh), ٌ‫مَ وت‬ (Mati), ٌ‫( صَ مَم‬Tuli), ‫( عَمًى‬Buta), ٌ‫( بَكَم‬Bisu), ٌ‫( عَ اجِز‬Yang maha lemah), ٌ‫( كَارِه‬Yang maha tiada berkehendak), ٌ‫( جَاهِل‬Yang maha bodoh), ٌ‫( مَيِّت‬Yang maha mati), ٌ‫( َأصَم‬Yang maha tuli), ‫( أَعمَى‬Yang maha buta) dan ٌ‫( أَبكَم‬Yang maha bisu). Sifat-sifat yang wajib dan yang mustahil bagi Allah memiliki dalil masing-masing dari setiap sifat tersebut. Contoh dalil untuk salah satu sifat Allah adalah Allah bersifat ada mustahil bagi Allah tiada. )٥۹ : ‫ (الفرقن‬.‫خلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاألَرضَ وَبَينَهُمَا‬ َ ‫هللاُ اللَّذِي‬ Artinya: “Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya”. (QS. Al-Furqan:59). Dengan adanya dalil di atas, kita semakin dapat percaya dengan penuh keyakinan hati bahwa allah itu ada dan Allahlah yang menciptakan langit dan bumi beserta isi keduanya. c. 1 sifat yang jaiz (harus) bagi Allah. Sifat ini merupakan hak wewenang Allah dalam bertindak. Sifat itu adalah: ُ‫( فِعلُ كُلِّ مُمكِنٍ أَو تَركُ ه‬Melakukan apa saja yang Allah kehendaki atau meninggalkan segala sesuatu itu). Artinya, Allah memiliki sifat yang: ٌ‫( إِيجَ اد‬Mengadakan),ٌ‫( إِع دَام‬Mentiadakan), ٌ‫تَخلِي ق‬ (Menjadikan), ٌ‫( تَرزِيق‬Memberi rezki), ‫( إحياء‬Menghidupkan), ٌ‫إِمَاتة‬ (Mematikan), ٌ‫( إِهدَاء‬Menunjukkan) dan ٌ‫( إِضالل‬Menyesatkan). Allah swt memberikan dalil tentang sifatNya yang satu ini. ُّ‫قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ المُلكِ تُؤتِى المُلكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ المُلكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِز‬ )۲٦ : ‫ (آل عمران‬.ُ‫مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآء‬ Artinya: “Katakanlah, wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki”. (QS. Ali’imran: 26). Ayat di atas memberi penjelasan kepada kita bahwa Allah berhak dalam melakukan apa saja yang Allah inginkan tanpa ada yang melarangNya. Allah swt juga memiliki nama-nama yang sangat baik sebagaimana Allah berfirman. )۲٤ : ‫ (الحشر‬.‫لَهُ األَسمَآءُ الحُسنَى‬. Artinya: “Dialah yang memiliki nama-nama yang baik’’. (QS: Al-Hasyr: 24). Ada 99 nama-nama Allah yang wajib kita ketahui dan kita imani, yaitu: ُ َ‫( ال رَّحم‬Yang Maha Pengasih), ُ‫( ال رَّحِيم‬Yang Maha Penyayang), ‫ن‬ ُ‫( المَالِك‬Maha Raja), ُ‫( القُدُوس‬Yang Maha Suci), ُ‫( السَالَم‬Yang Maha Sejahtera), ُ‫( المُؤمِن‬Yang Maha Menjaga Keamanan), ُ‫( المُهَيمِن‬Yang Maha Memelihara), ُ‫( العَزِيز‬Yang Maha Perkasa), ُ‫( الجَبَّار‬Yang Maha Kuasa), ُ‫( المُتَكَبِّر‬Yang Maha Memiliki segala keagungan), ُ‫الخَ الِق‬ (Yang Maha Menciptakan), ُ‫( البَ ارِئ‬Yang Maha Mengadakan), ُ‫( المُصَ وِّر‬Yang Maha Membuat Bentuk), ُ‫( الغَفَّار‬Yang Maha Pengampun), ُ‫ ( الغَفَّار‬Yang Maha Pengampun), ُ‫( القَهَّار‬Yang Maha Perkasa), ُ‫( الوَهَّاب‬Yang Maha Pemberi), ُ‫( الرَّزَّاق‬Yang Maha Pemberi Rezeki), ُ‫( الفَتَّاح‬Yang Maha Pemberi Keputusan), ُ‫( العَلِيم‬Yang Maha Mengetahui), ُ‫( القَابِض‬Yang Maha Menyempitkan), ُ‫( البَاسِ ط‬Yang Maha Melapangkan), ُ‫( الخَافِض‬Yang Maha Merendahkan), ُ‫الرَّافِ ع‬ (Yang Maha Meninggikan), ُّ‫( المُعِز‬Yang Maha Memuliakan), ُّ‫المُذِل‬ (Yang Maha Menghinakan), ُ‫( السَّمِيع‬Yang Maha Mendengar), ُ‫البَصِير‬ (Yang Maha Melihat), ُ‫( الحَكَم‬Yang Maha Memutuskan Hukum), ُ‫( العَدل‬Yang Maha Adil), ُ‫( اللَّطِيف‬Yang Maha Halus), ُ‫(الخَبِير‬Yang Maha Mengetahui), ُ‫( الحَلِيم‬Yang Maha Penyantun), ُ‫( العَظِيم‬Yang Maha Agung), ُ‫( الغَفُور‬Yang Maha Pengampun), ُ‫( الشَّكُور‬Yang Maha Menerima Syukur), ُّ‫( العَلِي‬Yang Maha Tinggi), ُ‫( الكَبِير‬Yang Maha Besar), ُ‫( الحَفِي ظ‬Yang Maha Memelihara), ُ‫( المُقِي ط‬Yang Maha Memelihara), ُ‫( الحَسِيب‬Yang Maha Membuat Perhitungan), ُ‫الجَلِيل‬ (Yang Maha Luhur), ُ‫( الكَرِيم‬Yang Maha Mulia), ُ‫( الرَّقِيب‬Yang Maha Mengawasi), ُ‫( المُجِيب‬Yang Maha Memperkenankan), ُ‫( الوَاسِع‬Yang Maha Luas), ُ‫( الحَكِيم‬Yang Maha Bijaksan), ُ‫( ال وَدُود‬Yang Maha Mencintai), ُ‫( المَجِي د‬Yang Maha Mulia), ُ‫( البَ اعِث‬Yang Maha Membangkitkan), ُ‫( الشَّهِيد‬Yang Maha Menyaksikan), ُّ‫( الحَ ق‬Yang Maha Benar), ُ‫( الوَكِيل‬Yang Maha Memelihara), ُّ‫( القَوِي‬Yang Maha Kuat), ُ‫( المَتِين‬Yang Maha Kukuh), ُّ‫( الوَلِي‬Yang Maha Pelindung), ُ‫( الحَمِيد‬Yang Maha Terpuji), ‫( المُحصِ ى‬Yang Maha Menghitung), ُ‫( المُبدِئ‬Yang Maha Memulai), ُ‫( المُعِيد‬Yang Maha Mengembalikan), ‫( المُحيِى‬Yang Maha Menghidupkan), ُ‫( المُمِيت‬Yang Maha Mematikan),ُّ‫( الحَي‬Yang Maha Hidup), ُ‫( القَيُّوم‬Yang Maha Berdiri Sendiri), ُ‫( الوَاجِ د‬Yang Maha Menemukan), ُ‫( المَاجِ د‬Yang Maha Mulia), ُ‫( الوَاحِد‬Yang Maha Esa), ُ‫( األَحَد‬Yang Maha Esa), ُ‫الصَّ مَد‬ (Yang Maha Dibutuhkan), ُ‫( القَادِر‬Yang Maha Kuasa), ُ‫( المُقتَدِر‬Yang Maha Kuasa), ُ‫( المُقَدِّم‬Yang Maha Mendahulukan), ُ‫( المُؤَخِّر‬Yang Maha Mengakhirkan), ُ‫( األَوَّل‬Yang Maha Awal), ُ‫( األَخِر‬Yang Maha Akhir), ُ‫( الظَّاهِر‬Yang Maha Nyata), ُ‫( البَ اطِن‬Yang Maha Tersembunyi), ‫( ال وَالِى‬Yang Maha Memerintah), ‫( المُتَعَ الِى‬Yang Maha Tinggi), ُّ‫( البَ ر‬Yang Maha Dermawan), ُ‫( التَّوَّاب‬Yang Maha Penerima Taubat), ُ‫( المُنتَقِم‬Yang Maha Pemberi Balasa), ُّ‫( العَفُو‬Yang Maha Pemaaf), ُ‫( الرَّءُوف‬Yang Maha Pelimpah Kasih), ِ‫مَالِكُ المُلك‬ (Yang Maha Pemilik Kerajaan), ‫( الجَالَلِ وَ اإلك رَامِ ذُو‬Yang Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan), ُ‫( المُقسِط‬Yang Maha Adil), ُ‫( الجَ امِع‬Yang Maha Mengumpulkan), ُّ‫( الغَنِي‬Yang Maha Kaya), ‫( المُغنِى‬Yang Maha Memberi Kekayaan), ُ‫( المَ انِع‬Yang Maha Menghalangi), ُّ‫( الضَّار‬Yang Maha Pemberi Mudarat), ُ‫( النَّافِع‬Yang Maha Pemberi Manfaat), ُ‫( النُّور‬Yang Maha Pemberi Cahaya), ‫الهَادِى‬ (Yang Maha Pemberi Hidayah), ُ‫( البَ دِيع‬Yang Maha Pencipta Pertama), ‫( البَاقِى‬Yang Maha Kekal), ُ‫( الوَارِث‬Yang Maha Pewaris), ُ‫( الرَّشِيد‬Yang Maha Memimbing) dan ُ‫( الصَّبُور‬Yang Maha Sabar). 2) Iman kepada Malaikat Allah (‫)اإليمان بمالئكاته‬ Iman kepada malaikat artinya mempercayai dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati bahwa adanya Malaikat Allah sebagai makhluk ghaib. Menurut hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah r.a., malaikat diciptakan oleh Allah dari nur (cahaya). Malaikat selalu taat menjalankan perintah Allah swt baik itu berupa tugasnya masingmasing atau berupa ibadah kepada Allah. Cara beriman kepada mereka adalah dengan mengimani nama-nama dan tugas-tugas malaikat yang telah kita ketahui. Kita pun harus mengimani sifat-sifat malaikat sebatas apa yang telah kita ketahui. Malaikat itu sangat banyak, tiada yang mengetahui jumlahnya melainkan Allah swt. Ada sepuluh malaikat yang wajib kita ketahui beserta tugasnya, yaitu: 1. Jibril tugasnya menyampaikan wahyu kepada para nabi. 2. Mikail tugasnya menurunkan hujan. 3. Israfil tugasnya meniup sangkakala pada hari kiamat. 4. ‘Izrail tugasnya menjabut nyawa. 5. Mungkar tugasnya menanyakan mayit di dalam kubur. 6. Nangkir tugasnya menanyakan mayit di dalam kubur. 7. Raqib tugasnya mencatat amal baik. 8. Atid tugasnya mencatat amal buruk. 9. Malik tugasnya menjaga neraka. 10. Ridwan tugasnya menjaga syurga. Adapun sifat-sifat malaikat yang disebutkan Allah dalam firmanNya adalah: ‫وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ األَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ اَل يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَاَل‬ )۲۰-١۹ : ‫ (األنبياء‬.)۲۰( ُ‫) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ اَل يَفْتُرُون‬١۹( ‫يَسْتَحْسِرُون‬ Artinya : Dan milikNyalah siapa yang ada di langit dan di bumi dan (malaikatmalaikat) yang disiNya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembahNya dan tidak pula merasa letih. Mereka (malaikatmalaikat) bertasbih tidak hentinya malam dan siang. (QS. Al-Anbiyaa’: 19-20). Kemudian Rasulullah saw juga menyebutkan sifat-sifat malaikat dalam haditsnya. ُ‫ ال َ يُرَى عَلَيْهِ أَثَر‬،ِ‫ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْر‬ َ‫جلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى هللا عليه وسلم فَأَسْنَد‬ َ ‫حتَّى‬ َ ،ٌ‫ وَال َ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَد‬،ِ‫السَّفَر‬ )‫ مسلم‬: ‫ (روه‬.ِ‫رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْه‬. Artinya: “Pada suatu hari, ketika kami berada di sisi Rasulullah, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan berambut hitam legam, tidak terlihat padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Hingga dia duduk di depan Nabi saw, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi kemudian dia letakkan kedua telapak tangannya ke atas kedua pahanya”. (HR: Muslim). Dari ayat dan hadits di atas dapat kita simpul beberapa sifat-sifat malaikat, diantanya adalah malaikat tidak mempunyai rasa angkuh, letih dan nafsu, rajin beribadah kepada Allah, selalu bersikap sopan ketika berjumpa dengan para Rasul, bersih dan rapi. 3) Iman kepada kitabNya ‫))اإلمان بكتابه‬. Iman kepada kitab Allah artinya mempercayai dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati bahwa Allah telah menurunkan kitabkitab (wahyu) kepada Rasul pilihanNya sebagai petunjuk dan kebenaran bagi manusia. Allah swt berfirman. )۲۵ : ‫ (الحديد‬.َ‫لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَان‬. Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al kitab dan neraca (keadilan)…” (Al-Hadiid: 25). Kitab-kitab yang diturukan Allah kepada para Rasul adalah: 1. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa. )٤۳ : ‫ (القصص‬.َ‫وَلَقَد أَتَينَا مُوسَى الكِتَاب‬. Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat)”. (QR: Al-Qashash: 43). 2. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud. )١٦ : ‫ (النمل‬.َ‫وَوَرِثَ سُلَيمَانُ دَاوُود‬. Artinya: “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud (ilmu pengetahuan dan kitab Zabur)”. (QS. An-Naml: 16). 3. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa. )٤٦: ‫ (المائدة‬.َ‫وَأَتَينَاهُ اإلِنجِيل‬. Artinya: “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) Injil”. (QS. AlMaaidah). 4. Kitab Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad. .ِ‫وَأَنزَلنَا إلَيكَ الكتَابَ بِاالحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَينَ يَدَيهِ مِنَ الكِتَابِ وَمُهَيمِنًا عَلَيه‬ )٤۸ : ‫(المائدة‬. Artinya: “Dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) kitab Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, yang membenarkankitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya”. (QS. Al-Maaidah: 48). Adapun secara rinci, kitab-kitab terdahulu mengalami penyelewengan, perubahan, pergantian. Seseorang tidak mungkin dapat menilai mana yang benar dan mana yang bathil sehingga tidak ada perintah bagi ummat islam sekarang untuk mengamalkannya. Seperti yang terjadi pada saat ini, Ahli Kitab telah menamakan Zabur sebagai Mazmur yang sebagian besar isinya berasal dari kitab Zabur dan sebagian lagi dikarang sesudahnya. Namun, kita hanya tetap harus percaya kepada apa yang telah Allah turunkan kepada para Rasul tanpa harus mengamalkannya karena Allah telah menurunkan kitab Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk untuk ummat sekarang dalam membenarkan kitab Taurat, Injil dan Zabur yang di dalamnya menjelaskan isi ketiga kitab tersebut sebagaimana firman Allah yang tertulis di atas. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk hanya mengamalkan isi AlQur’an hingga hari kiamat kelak. 4) Iman kepada rasulNya (‫)اإلمان برسوله‬. Rasul artinya utusan. Rasul juga dinamakan sebagai nabi. Semua rasul yang diutus oleh Allah adalah benar. Mereka bukanlah Tuhan, mailakat, jin, binatang, dan lain sebagainya tetapi mereka hanyalah manusia seperti kita. Mereka memiliki sifat-sifat yang baik dan diberikan mu’jizat yang besar dan derajat yang tinggi oleh Allah sehingga dapat membedakan mereka dengan ummat-ummatnya. Allah mengutuskan para Rasul kepada tiap-tiap ummat untuk mengajarkan agama dan menyampaikan amanahNya kepada ummat manusia di muka bumi agar manusia mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Allah swt berfirman: : ‫ (النحل‬.َ‫وَلَقَد بَعَثنَا فِى كًلِّ أًمَّةٍ رَّسُوال ً أَنِ اعبُدُوا هللاَ وَاجتَنِبُوا الطَّاغُوت‬ )۳٦. Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutuskan Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut (syaitan dan apa saja selain Allah)’’ ”. ( QS. An-Nahl : 36). Adapun Rasul-rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang wajib kita imani adalah 25 nabi. Mereka adalah Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, ‘Aiyub, Syu’ib, Musa, Harun, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’,Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad. Di antara 25 nabi tersebut Allah telah melukiskan 5 nabi sebagai Ulul Azmi, yaitu Musa, Ibrahim, Nuh, Isa dan Muhammad. Dinamakan Ulul Azmi karena tekat mereka yang kuat, cobaan yang diberikan kepada mereka sangat keras dan perjuangan yang mereka lakukan juga berat dalam menyiarkan agama Allah. Pada hakikatnya jumlah Rasul itu banyak, namun Allah tidak menyebutnya dalam Al-Qur’an akan tetapi Allah menunjukkan kepada mereka dengan FirmanNya yang ditunjukkan kepada RasulNya Muhammad saw. : ‫ (النساء‬.َ‫وَرُسُال ً قَد َقصَصنَا هُم عَلَيكَ مِن قَبلِ وَرُسُال ً لَم نَقصُصهُم عَلَيك‬ )١٦٤. Artinya: “Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu” (QS. An-Nisa’ : 164). Jadi, iman kepada rasul Allah artinya mempercayai dengan penuh keyakinan hati tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa Allah telah mengutuskan beberapa rasul untuk mengajarkan agama kepada manusia agar mereka mendapat kebaikan dunia dan akhirat dan percaya kepada derajat dan mu’jizat yang dimiliki oleh rasul serta mengamalkan sedikit dari sifat-sifatnya. Sifat-sifat para rasul adalah: a. 4 sifat yang wajib bagi rasul. َ َ‫ف‬ ٌ ?‫ص‬ ‫دق‬ ِ (benar), ٌ‫( َأ َمانَ?ة‬kepercayaan), ‫( ت َب ِلي? ٌغ‬menyampaikan) dan ٌ‫طانَ?ة‬ (cerdik). b. 4 sifat yang mustahil bagi rasul. ٌ ‫( ِكت َم‬menyembunyikan), dan ٌ‫( كِ?ذب‬dusta), ٌ‫( ِخيَانَ?ة‬mengkhianati), ‫?ان‬ ٌ ‫( ِبالَدَة‬bodoh). c. 1 sifat yang jaiz atau harus bagi nabi. ‫اض البَش َِريَّ ِة‬ (segala sifat manusia yang tidak membawa kepada ُ ‫أألعر‬ َ kekurangan derajatnya yang tinggi seperti makan, minum, nikah dan sakit). Mu’jizat artinya sesuatu yang luar biasa yang tiada kuasa manusia membuatnya karena hal itu adalah di luar kesanggupannya. Mu’jizal ini hanya diberikan kepada nabi-nabi untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya dan bahwa agama yang dibawanya bukanlah buatannya sendiri tapi benar-benar dari Allah swt. Rasul-rasul itu tidaklah sama derajatnya dalam keutamaan dan kedudukannya, akan tetapi Allah telah melebihkan sebagian rasul-rasul dari sebagian yang lain. Allah berfirman: ٍ‫تِلكَ الرُّسُلُ َفضَّلنَا بَعضَهُم عَلَى بَعضٍ مِّنهُم مَّن َكلَّمَ هللاُ وَرَفَعَ بَعضَهُم دَرَجَات‬ )۲۵۳ : ‫ (البقرة‬.ِ‫وَأَتَينَا عِيسَى ابنَ مَريَمَ البَيِّنَاتِ وَأَيَّدنَاهُ وَرُوحِ الكُدُس‬. Artinya: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah telah meninggikannya (Nabi Muhammad) beberapa derajatnya. Dan kami berikan kepada ‘Isa putera Maryam beberapa mu,jizat serta kami perkuatkan dengan Ruhul Qudus (Jibril). (QS. Al-Baqarah : 253) Dan Allah telah mengangkat derajat Nabi Muhammad saw di atas derajat para nabi yang lain. Nabi Muhammad diutuskan kepada manusia, sedangkan nabi-nabi terdahulu diutuskan kepada ummatummat mereka sendiri dan juga Nabi Muhammad adalah penutup segala nabi, maka kerasulan telah diakhiri olehnya dan dia membawa hukum yang sempurna. Oleh karena itu kita sebagai ummatnya wajib beriman kepadanya dengan cara mengenal kelakuannya, sahabatsahabatnya dan keluarganya dan mengamalkan sedikit dari perpuatan atau perkataannya. 5) Iman kepada hari kiamat (‫) اإليمان ييوم القيامة‬. Iman kepada hari kiamat artinya mempercayai dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati bahwa hari kiamat itu pasti akan datang tanpa sepengetahuan manusia dan beriman kepada apa yang akan terjadi pada hari itu dan sesudahnya. Adapun pengertian hari kiamat adalah hari kiamat merupakan hari akhirat atau hari berakhirnya seluruh kehidupan di dunia. Kehidupan akhirat baru ada setelah hari kiamat dan akhirat adalah sebenarbenarnya kehidupan yang kekal dan abadi. Al-Qur’an memberi beberapa makna hari kiamat, yaitu yaumul qiyamah (kebangkitan besar) yang tersebut dalam surah Al-Qiyaamah ayat 1, yaumul fashl (hari keputusan) yang tersebut dalam surah Al-Mursalat ayat 13, yaumul hisaab (hari perhitungan) yang tersebut dalam surah Shaad ayat 26, yaumut talaaq (hari pertemuan) yang tersebut dalam surah AlMu’min ayat 15, yaumul jami’ (hari berkumpul) yang tersebut dalam surah Asy-Syura ayat 7, yaumid diin (hari pembalasan) yang tersebut dalam surah Al-Muthaffifin ayat11 dan masih banyak lagi makna tersebut. Hari kiamat dibagi dua macam, yaitu kiamat Sugra dan kiamat Kubra. Kiamat Sugra merupakan kiamat kecil atau merupakan peringatan Allah kepada manusia sebab manusia sering lupa melakukan perintah Allah. Contohnya adalah terjadinya berbagai musibah yang dialami oleh manusia seperti meninggal, gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain. Sedangkan kiamat Kubra merupakan kiamat besar atau berakhirnya semua kehidupan dunia ini. Manusia tidak akan pernah mengetahui kapan datangnya hari kiamat karena kiamat itu datangnya dengan tiba-tiba. Dalam hal ini Allah berfirman: َ‫يَيأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرسَهَا قُل إِنَّمَا عِلمُهَا عِن دَ رَبِّى الَيُجَلِّهَ ا لِوَقتِهَ ا إِال َّ هُ و‬ ‫ثَقُلَت فِى السَّ مَاوَاتِ وَاألَرضِ الَتَكتِيكُم إِال َّ بَغتَ ةً يَس أَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنهَ ا قُ ل‬ )١۸۷ : ‫(األعراف‬ . َ‫إنَّمَا عِلمُهَا عِندَ هللاِ وَلَكِنَّ أَكثَرَ النَّاسِ الَيَعلَمُون‬. Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya ?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langin dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sis Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui””. (QS. Al-A’raaf: 187). Dari ayat di atas memberi penjelasan bahwa hari kiamat amat berat huru-hara atau kejadiannya bagi makhluk yang di langit dan di bumi. Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet sangkakala yang pertama oleh Malaikat Israfil. Kemudian, terjadilah gempa secara terus-menerus. Gunung-gunung menghamburkan segala isinya. Bumi menjadi terbelahbelah. Air laut membanjiri seluruh permukaan bumi. Pada hari itu, semua bentuk kehidupan yang ada di langit dan di bumi ikut hancur kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian, ditiup sangkakala yang kedua, maka Allah membangkitkan orang-orang dari alam barzah (alam kubur) untuk berkumpul di padang masyar dan menunggu keputusannya masing-masing atas perbutannya di dunia. Sebagaimana firman Allah: ُ‫وَنُفِخَ فِى الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى السَّمَاوَاتِ وَمَن فِى األَرضِ إِال َّ مَن شَاءَ هللا‬ )٦۸ : ‫ (الزمر‬.َ‫ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخرَى فَإِذَا هُم قِيَامٌ يَنظُرُون‬. Artinya: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkaka itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)’’ (QS. Az-Zumar : 78). .)۳( ‫) وَقَلَ اإلِنسَانُ مَالَهَا‬۲( ‫) وَأَخرَجَتِ األَرضُ أَثقَالَهَا‬١( ‫إِذَا زُلزِلَةِ األَرضُ زِلزَالَهَا‬ )۳-١ :‫(األعراف‬. Artinya: “Ketika bumi digoncangkan dengan goncangan yang hebat. Lalu bumi mengeluarkan isinya (pada saat itu). Manusia mengatakan mengapa ini terjadi ?” (QS. Az-Zalzalah: 1-3). Pada hari itu, seluruh anggota tubuh manusia akan menjadi saksi atas setiap perbuatannya di dunia, akan ditimbang amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang jahat dengan adil, diperlihatkan catatan perbuatannya yang telah ditulis oleh malaikat yang diutuskan oleh Allah dan mereka akan menjadi tiga golongan, yaitu golongan kanan (golongan yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kanan), merekalah orang-orang yang mulia karena mereka selalu beriman dan beramal shaleh. Yang kedua golongan kiri (golongan yang menerima buku-buku amal mereka dengan tangan kiri), merekalah orang-orang yang sengsara karena mereka tidak pernah beriman dan selalu melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Dan yang ketiga adalah golongan yang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu masuk syurga. Di akhirat terdapat dua tempat yang berbeda, yaitu syurga dan neraka. Adapun syurga dan neraka, yang digambarkan oleh Allah dalam surah Muhammad ayat 15 yang artinya “perumpamaan syurga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa: yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah, dan sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar yang segar bagi orang-orang yang meminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang telah disaring, dan bagi mereka di dalamnya terdapat pula segala macam buah-buahan serta ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal di dalam neraka, dan diberi minuman dari air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya”. Dari penjelasan ayat ini dapat memberi gambaran bahwa betapa nikmatnya hidup disyurga dan betapa sengsaranya hidup di neraka. Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hari kiamat itu datang kecuali Allah swt. Namun, Al-Qur’an dan Al-Hadits menjelaskan beberapa tanda-tanda akan datangnya hari kiamat, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Berkurangnya minat orang untuk belajar ilmu agama. Kejahatan, kemaksiatan dan kekacauan terjadi dimana-mana. Orang tidak dapat lagi membedakan mana yang halal dan haram. Waktu terasa sangat singkat. Banyak orang miskin menjadi kaya mendadak karena usaha yang tidak halal. 6. Banyak wanita yang senang membuka aurat. 7. Orang berlomba-lomba dalam membangun rumah yang megah, tetapi enggan untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Sehingga rumah mereka lebih besar daripada mesjid. 8. Jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki. Selain tanda-tanda tersebut, masih ada lagi tanda-tanda hari kiamat lainnya yang belum terjadi, antara lain: 1. Matahari akan terbit disebelah barat. 2. Di muka bumi tidak ada lagi orang-orang menyebut nama Allah. 3. Turunnya Imam Mahdi. 4. Keluarnya binatang melata dari bumi dan bisa berbicara dengan fasih. 5. Akan datangnya Ya’juj dan Ma’juj. Demikianlah beberapa tanda-tanda hari kiamat yang dapat dihimpun oleh para ulama melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits, agar menjadi pedoman bagi manusia untuk meningkatkan keimanan dan amal shaleh sebagi bekal hidup di akhirat nanti. 6) Iman kepada qadar (‫)اإليمان بالقدر‬. Takdir adalah ketentuan Allah. Allah yang menetapkan segala sesuatu untuk hambanya. Kita tidak dapat mengetahui apa yang ditetapkan Allah terhadap kita, baik takdir yang baik maupun yang buruk dan baik yang disengaja maupun tidak, karena kita tahu bahwa Allah memiliki satu sifat jaiz yaitu hak wewenang Allah dalam bertindak. Allah yang menjadikan dan Allah pulalah yang menentukan sesuatu. Firman Allah dalam Al-Qur’an: )۲ : ‫ِيرا (الفرقان‬ ً ‫ َو َخلَقَ ُك َّل شَيءٍ فَقَد ََّرهُ ت َقد‬. Artinya: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuranukurannya dengan tepat” (QS. Al-Furqan : 2). Dari ayat di atas Allah menjelaskan bahwa takdir apapun yang Allah berikan kepada hambaNya, itu memiliki ukuran-ukuran yang tepat atau sesuai dengan usahanya. Usaha yang kita lakukan disebut ikhtiar. Ikhtiar dilakukan dalam bentuk perbuatan serta diiringi dengan do’a kepada Allah. Selanjutnya kita tetap ikhlash, tidak berputus asa serta menyerahkan diri kepada Allah dalam menerima hasil usaha kita, baik atau buruknya hasil usaha tersebut. Pada dasarnya, Allah menghendaki dan memberikan yang baik-baik kepada kita sebagaimana Allah telah menjanjikannya dalam kitab Lauhul Mahfudh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Demikian pula halnya kita, tentu menghendaki yang baik-baik. Untuk mendapatkan yang baik, kita harus berusaha sekuat tenaga. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, kecuali orang itulah yang mengubah nasibnya sendriri. Seperti firmanNya: )١١ : ‫إِنَّ هللاَ الَيُغَيِّرُ مَا بِقَومٍ حَتَّى يُغَيِّرُ مَا بِنَفسِهِ (الرعد‬. Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum seningga mereka mengubah nasibnya sendiri” (QS. Ar-Ra’ad : 11). Jika yang kita peroleh itu baik, maka kita wajib bersyukur kepada Allah, karena yang baik itu merupakan nikmat yang diberikan Allah swt dan sebagai cobaan untuk kita. Allah swt berfirman: )۷۹ : ‫ (النساء‬.ِ‫مَا أَصَابَكَ مِن حَسَنَةٍ فَمِنَ هللا‬. Artinya: “Kebaikan apapun yang kamu peroleh adalah nikmat dari sisi Allah” (QS. An-Nisa’ : 79). Dan jika kita mendapatkan takdir buruk, itu merupakan cobaan dari Allah, bisa juga sebagai hukuman dari perbuatan atau kesalahan yang kita lakukan sendiri. Sebagaimana firman Allah: )۷۹ : ‫صابَكَ ِمن َسيَئ ٍة فَ ِمنَ نَفسِكَ (النساء‬ َ ‫ َو َما َأ‬. Artinya: “Dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” (QS. An-Nisa’). Dari penjelasan dapat disimpulkan bahwa Iman kepada qadar atau takdir artinya mempercayai dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita, baik yang disengaja ataupun tidak, itu adalah ketentuan Allah, dan tanpa menghilangkan kewajiban ikhtiar sekuat tenaga serta diiringi dengan do’a dan menyerahkan hasil usahanya kepada takdir ialahi. II. Ilmu Ilmu menurut bahasa arab adalah ‫ علما‬- ‫ علم – يعلم‬, yang artinya mengetahui atau meyakini. Ilmu yang dalam bentuk jamaknya adalah ‫ علوم‬yang artinya mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya, dan itu berarti ilmu adalah keyakinan dan pengetahuan. Dengan keyakinan dan pengetahuan inilah manusia dapat melakukan perbuatannya. Dalam pandangan islam, Ilmu adalah objek utama dalam pendidikan. Ilmu dan pendidikan bagaikan dau sisi pada mata uang, keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan. Sedangkan pendidikan merupakan proses dalam tranfer ilmu, yang umumnya dilakukan melalui tiga cara; yakni lisan tulisan atau gambar dan perbuatan (perilaku / sikap). Apabila kita tela’ah dari ketiga cara di atas, maka dapat kita simpulkan menjadi satu cara; yakni “membaca”. Membaca disini maknanya luas, yakni membaca tekstual (tertulis / tergambar) dan membaca kontekstual (yang benar terjadi). Atau lebih luas lagi kita diperintahkan untuk membaca ayat-ayat Kauniah; yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di muka bumi serta alam semesta termasuk juga peristiwa-peristiwa yang telah dan sedang terjadi sepanjang hidup manusia. Agama islam sudah sejak zaman dulu, tepatnya sejak turunya wahyu yang pertama kepada Rasulullah, yang memerintahkan manusia untuk membaca. Allah berfirman: َ ُّ‫) إِقرَق وَرَب‬۲( ٍ‫) خَلَقَ اإلِنسَانَ مِن عَلَق‬١( َ‫إِقرَق بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق‬ ‫ك‬ )۵-١ : ‫ (العلق‬.)۵( ‫) عَلَّمَ اإلِنسَانَ مَالَم يَعلَم‬٤( ِ‫) الَّذِي عَلَّمَ بِااقَلَم‬۳( ُ‫األَكرَام‬. Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah ! dan Tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantraan kalam (tulis baca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq :1-3). Dari ayat di atas sangatlah jelas bahwa kunci ilmu adalah “iqraq atau membaca” serta diiringi dengan “qalam atau menulis”. Ilmu tanpa ditulis itu akan sia-sia atau diumpakan dengan binatang buruan. Seperti kata pepatah arab: “Ilmu seperti binatang buruan dan buku adalah pengikatnya. Ikatlah binatang buruanmu dengan tali-tali yang kuat. Maka bagi orang-orang yang bodoh yang hendak berburu rusa akan meninggalkannya di antara makhluk-makhluk yang tidak terikat”. Oleh karena itu, Utsman bin ‘Affan menyusun atau menulis semua wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah agar ilmu yang dia dapatkan dari Rasulullah tidak menjadi sia-sia sehingga menjadi sebuah mushhaf yang sangat mulia di dunia dan yang menjadi sebagai sumber petunjuk kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Setelah Utsman bin ‘Affan membukukannya, para ulama islam mentafsirkan Al-qur’an sehingga mereka mendapatkan bermacam-macam ilmu pengetahuan di dalamnya. Dan pada masa keemasan islam ilmu dapat digolongkan menjadi empat, yaitu: 1. Ilmu Bahasa Arab. Ilmu bahasa arab terdiri dari beberapa ilmu, di antaranya ilmu nahwu, ilmu sharaf, balaghah, dan ilmu bahasa. 2. Ilmu Syari’at. Ilmu syari’at terdiri dari beberapa cabang ilmu pengetahuan, di antaranya tafsir, hadits, ushul figh, ilmu kalam dan lain-lain. 3. Sejarah. Sejarah merupakan ilmu yang mengkisahkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. 4. Al-Hikmah dan Filsafat (ilmu-ilmu selain bahasa dan agama). Al-Hikmah dan Filsafat mengandung empat macam ilmu, yaitu: ilmu mantiq, ilmu alam, ilmu pasti, ilmu ketuhanan. Salah satu ayat yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan, yaitu tentang ilmu alam. Seperti ilmu biologi. Allah berfirman: ‫وَإِنَّ َلكُم فِى األَعَامِ لَعِبرَةً نُّسقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِ مِن بَينِ فَرثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا‬ )٦٦ : ‫ (النحل‬.ِ‫سَابِغًا لِلشَّارِبِين‬. Artinya: “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS. An-Nahl : 66). Dari ayat di atas kita dapat meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari Al-qur’an. Namun, pada zaman modern ini sebagian manusia tidak meyakinkan itu lagi, mereka menganggab bahwa semua ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan umum yang sedang kita pelajari di dunia pendidikan ini bersumber dari orang kristen, padahal para ulama islamlah yang menemukan semua ilmu pengetahuan tersebut dari Al-qur’an. Ilmu Allah tidaklah sedikit melainkan sangatlah luas dan tak terhingga. Sebagaimana Allah berfirman: ‫قُل لَّوكَانَ البَحرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّى لَنَفِدَ البَحرُ قَبلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ َربِّى وَلَو جِئنَا‬ )١۰۹ : ‫ (الكهف‬.‫بِمِثلِهِ مَدَدًا‬. Artinya: “Katakanlah: “kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)””. (QS. Al-Kahfi : 109). Meskipun demikian, Allah tetap mewajibkan kepada setiap muslim laki dan perempuan untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu tidak mengenal batas, dimensi, tempat, waktu dan ilmu apa yang ingin dituntut. Selagi ilmu itu masih bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, maka tuntutlah ia. Sebagaimana RasulNya bersabda: )‫ (منتفق عليهم‬.ٍ‫طَلَبُ العِلمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسلِم‬. Artinya: “Menuntut ilmu diwajibkan atas setiap muslim” (HR. Muntafaqun ‘Alaihim). )‫ (منتفق عليهم‬.ِ‫أُطلَبُواالعِلمَ ِمنَ المَهدِ إِلَى الَّحد‬. Artinya: “Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat” (HR. Muntafaqun ‘Alaihim). )‫ (منتفق عليهم‬.ِ‫أُطلُبُ العِلمِ وَلَو بِالصِّين‬. Artinya: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri cina” ((HR. Muntafaqun ‘Alaihim). III. Amal Amal secara bahasa arab artinya perbuatan atau tindakan, yang asal katanya ‫عم ل – يعم ل – عمال‬. Menurut istilah amal adalah perbuatan baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang. Sedangkan pengertian amal dalam pandangan Islam adalah setiap amal saleh, atau setiap perbuatan kebajikan yang diredhai oleh Allah swt dan mendatangkan pahala. Dengan demikian, amal dalam Islam tidak hanya terbatas pada ibadah akan tetapi mencakup semua perbuatan yang baik. Islam senantiasa menyamakan amal dengan ihsan, yang artinya adalah berbuat baik. Allah swt berfirman dalam Al-qur’an mengenai hal ini. ‫?وم اَأل ِخ? ِر‬ َّ ?‫ب َولَ ِك َّن ال ِب‬ َّ ?‫يس ال ِب‬ ِ ‫ق َوال َمغ? ِ?ر‬ ِ ?َ‫?ر َمن َأ َمنَ ِباهللِ َوالي‬ َ َ‫ل‬ ِ ‫?ر َأن ت ُ َولُّوا ُو ُج??و َه ُكم قِبَ? َل ال َمش? ِ?ر‬ ُ َ َ َّ ‫اَل‬ َ ‫الس ?بِي ِل‬ َّ َ‫س ?اكِينَ َوابن‬ ِ ‫َوال َم ِئك ِة َوال ِكت َا‬ َ ‫ب َوالنبِ ِيّنَ َو َءات َى ال َما َل َعلى ُح ِيّ ِه ذ ِوالقربَى َواليَت َا َمى َوال َم‬ َّ ‫الص??الًة َ َو َءات َى‬ َ َ ‫عاهَ??دُوا َو‬ ‫ق‬ ‫أ‬ ‫و‬ ‫ب‬ ‫??ا‬ ‫ق‬ ‫الر‬ ‫الس??اِئلِينَ َوفِى‬ َّ ‫َو‬ َّ ‫??ام‬ ّ ِ َ ‫الز َك??اتَ َوال ُموفُ??ونَ بِعَه?? ِدهِم ِإذَا‬ ِ َ َ ‫ُأ‬ َّ َ . َ‫ص???دَقُوا َوُأولَِئكَ ُه ُم ال ُمتَّقُ???ون‬ ‫ذ‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ل‬ ‫و‬ ‫???أس‬ ‫ب‬ ‫ال‬ ‫ح‬ ‫و‬ ‫اء‬ ‫ر‬ ???‫الض‬ ‫و‬ ‫اء‬ ???‫أس‬ ‫ب‬ ‫ال‬ ‫ى‬ ‫ف‬ ‫ر‬ ‫ب‬ ‫ا‬ ???‫الص‬ َ‫ِين‬ َ‫ين‬ َ‫ين‬ َّ َ‫ِئك‬ ِ َ ِ َّ ِ ِ ِ ًّ ِ َ َ َ ِ َ َ )١۷۷: ‫(البقرة‬. Artinya: “Bukanlah menghadap wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabinabi. Dan diberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anakanak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang membutuhkan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta. Dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat. dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Baqarah : 177). Dari ayat di atas memberikan penjelasan yang sangat jelas tentang pengertian amal menurut pandangan islam yang bersumber dari Al-qur’an dan apa saja yang disebutkan dalam ayat di atas adalah pokok-pokok kebajikan. Dalam Al-qur’an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang amal baik. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-qur’an. Berikut ini adalah beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini, diantaranya: berbuat baik kepada orang lain dan tidak membuat kerusakan di atas bumi ini, yang disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 77, berbuat adil yang disebutkan dalam surah An-Nahl ayat 90 dan berbakti kepada orang tua dan mengucapkan kata yang baik kepada manusia yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 83. Dan masih banyak lagi pokok-pokok kebajikan yang disebutkan dalam Al-qur’an. Setiap amal baik dan buruk yang dilakukan manusia akan mendapatkan balasannya masing-masing di akhirat kelak. Bagi mereka yang sesalu beriman dan beramal shaleh akan mendapat balasan berupa syurga dan bagi mereka yang berbuat keji maka akan mendapatkan balasan berupa neraka. B. Hubungan Iman, Ilmu dan Amal dalam Pandangan Islam. Sebagaimana pengertian Iman, Ilmu dan Amal yang telah dijelaskan di atas maka dapat kita simpulkan bahwa Iman, ilmu dan amal merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai ummat islam. Kitab suci Al-Qur’an senantiasa menggandengkan ketiganya. Pada dasarnya ilmu memiliki tempat yang sangat tinggi dalam pandangan islam karena ilmu merupakan dasar dari segala tindakan manusia. Tanpa ilmu segala tindakan manusia menjadi tidak terarah, tidak benar dan tidak bertujuan. Hal ini dibuktikan dengan datangnya wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad saw yaitu surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang menyerukan tentang menuntut ilmu dengan cara membaca dan menulis. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: )‫ (منتفق عليهم‬.‫ َمن َأ َردَ الدُّنيَا فَعَلَي ِه ِبال ِع ِلم َو َمن َأ َردَ اَأل ِخ َرة َ فَعَلَي ِه ِبال ِع ِلم َو َمن َأ َردَ ُه َما فَعَلَي ِه ِبال ِع ِلم‬. Artinya: “Barang siapa yang ingin (bahagia) di dunia maka tuntutlah ilmu, dan barang siapa yang ingin (bahagia) di akhirat maka tuntulah ilmu, dan barang siapa yang ingi (bahagia) keduanya maka tuntutlah ilmu. (HR. Muntafaqun ‘Alaihim). Maksud hadits di atas adalah ilmulah yang akan membuat manusia bahagia hidup di dunia dan akhirat. Ilmu agama dapat membuat manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat dengan syarat harus mengamalkannya. Ilmu pengetahuan umum belum tentu dapat membuat manusia hidup bahagia di dunia apalagi di akhirat karena ilmu itu tidak dapat menuntun seseorang ke jalan yang benar. Jadi, jika seseoarang ingin menuntut ilmu pengetahuan umum harus didasari oleh ilmu agama terlebih dahulu agar bisa membedakan mana yang benar dan salah karena peran ilmu agama sangatlah penting dalam kehidupan kita sehari-hari terutama mempelajari Al-qur’an. Al-qur’an dapat menuntun ilmu-ilmu yang lain menjadi ilmu yang bermanfaat. Ilmu dan iman memiliki hubungan yang sangat erat. Iman tanpa ilmu itu akan menjadi sia-sia. Orang yang berilmu belum tentu beriman karena bisa saja dia tidak memiliki ilmu tentang keimanan yang kuat, tetapi orang yang beriman sudah pasti berilmu karena ilmulah yang akan membawanya untuk beriman. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Sebagaimana Allah berfirman: )١١ : ‫ (المجادلة‬.ٍ‫يَرفَعِ هللاُ اللَّذِينَ أَمَنُ مِنكُم وَاللَّذِينَ أُوتُوا العِلمَ َدرَجَات‬. Artinya: “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah : 11). Untuk mendapatkan derajat yang dijanjikan Allah itu kepada orangorang yang beriman dan berilmu bukanlah perkara mudah. Karena maksud ayat di atas Allah akan meninggikan derajat seseorang apabila dia telah benar-benar beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, hari kiamat, nabi-nabi dan kepada takdir serta mengamalkannya dengan cara bertakwa kepada Allah. Takwa artinya takut kepada Allah sehingga menjalakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya. Seperti memenuhi rukun islam, yaitu mengucapkan dua kalimah shahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan ramdhan, dan naik haji apabila dia mampu. Apabila dia beriman tapi tidak beramal shaleh maka imannya belum sempurna. Namun setiap manusia yang hendak beramal harus disertai oleh ilmu. Jika ada orang yang beramal tanpa didasari ilmu tidak ubahnya dengan orang yang mendirikan bangunan di tengah malam dan kemudian menghancurkannya di siang hari. Begitu juga, hal ini pun berlaku pada amal perbuatan yang lain, dalam berbagai bidang. Memimpin sebuah negara, misalnya, harus dengan ilmu. Negara yang dipimpin oleh orang bodoh akan dilanda kekacauan dan kehancuran. Dalam beberapa riwayat di jelaskan tentang hubungan ilmu dan amal itu. Imam Ali Abi Thalib berkata, “Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya.” Demikian juga dengan perkataan Rasulullah saw , “Barangsiapa beramal tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya jauh lebih banyak dibandingkan yang diperbaikinya.” Pada riwayat lain dijelakan Imam Ali Abi Thalib berkata, “Ilmu diiringi dengan perbuatan. Barangsiapa berilmu maka dia harus berbuat. Ilmu memanggil perbuatan. Jika dia menjawabnya maka ilmu tetap bersamanya, namun jika tidak maka ilmu pergi darinya.” Dari riwayat di atas maka jika orang itu berilmu maka ia harus diiringi dengan amal. Amal ini akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan ilmu, begitu juga dengan ilmu akan mempunyai nilai atau makna jika diiringi dengan amal. Amal merupakan buah dari ilmu, jika ada orang yang mempunyai ilmu tapi tidak beramal maka seperti pohon yang tidak menghasilkan manfaat bagi penanamnya. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam perilaku manusia. Sebuah perpaduan yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia, yaitu setelah berilmu lalu beramal. Jika kita memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an, nescaya kita akan menemukan bahawa al-Qur’an senantiasa menggandengkan ilmu dengan amal. Makna ilmu diungkapkan dalam bentuk kata iman pada banyak tempat, dengan pengertian bahwa iman adalah ilmu atau keyakinan. Allah SWT berfirman: َ‫) كَبُرَ مَقتًا عِندَهللاِ أَن تَقُولُوا مَاال َ تَفعَلُون‬۲( َ‫يَأَيُّهَا الَّذِينَ أَمَنُوا لِمَن تَقُولُونَ مَااَل تَفعَلُون‬ )۳-۲: ‫ (الصف‬.)۳(. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash-Shaff : 2-3)” ‫) إال َّ الَّذِينَ أَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّ الِحَاتِ وَتَوَاصَ وا‬۲( ٍ‫) إِنَّ اإلِنسَانَ لفِى خُسر‬١( ِ‫وَالعَصر‬ )۳-١ : ‫) (العص‬۳( ِ‫بِالحَقِّ وَتَوَاصَوا بِالصَّبر‬. Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dn mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabara. (QS. Al-‘Ashr : 1-3). )١۰۷ : ‫ (الكهف‬.ً ‫إِنَّ الَّذِينَ أَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَا لَهُم جَنَّاتُ الفِردَوسِ نُزُال‬. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, untuk mereka disediakan surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (QS. Al-Kahfi : 107)” Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang betapa iman, ilmu dan amal shaleh memiliki kaitan yang erat yang tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Kerana ketiganya bagai dua keping mata uang, yang saling memberi arti. Inilah yang sejalan dengan ucapan Imam Ali Abi Thalib, “Iman, ilmu dan amal adalah tiga saudara yang senantiasa beriringan dan tiga sahabat yang tidak berpisah. Allah tidak akan menerima salah satu dari ketiganya kecuali disertai sahabatnya.” Dengan perspektif kesepaduan iman, ilmu dan amal, maka akan memberikan perkembangan ke arah perbaikan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat akan berlumba-lumba dalam memberikan amal shaleh satu sama lain. Imam Ali Abi Thalib berkata, “Jangan sampai ilmumu menjadi kebodohan dan imanmu menjadi keraguan. Jika engkau berilmu, maka beramallah, dan jika engkau beriman maka majulah.” Dengan ilmu yang benar, serta iman dan amal shaleh maka masyarakat bergerak dari kebodohan menuju kepintaran, dari ketertinggalan menuju kemajuan dan dari kehancuran menuju kebangkitan. . BAB III PENUTUP A. Kesimpulan. dari pembahasan di atas dapat penulis mengambil kesimpulan adalah senbagai berikut: 1. Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, harikiamat, Rasul-rasulNya dan kepada takdir baik maupun buruk dan membenarkan dengan penuh keyakinan hati tanpa dicampuri keraguan sedikitpun, mengucapkan dengan lisan dan hati serta mengamalkan dengan perbuatan hati dan anggota tubuh sehingga memberi pengaruh terhadap pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. 2. Ilmu adalah keyakinan dan pengetahuan. Dengan keyakinan dan pengetahuan inilah manusia dapat melakukan perbuatannya. 3. Amal adalah setiap amal saleh, atau setiap perbuatan kebajikan yang diredhai oleh Allah swt dan mendatangkan pahala. 4. Iman, ilmu dan amal adalah tiga saudara yang senantiasa beriringan dan tiga sahabat yang tidak berpisah. Allah tidak akan menerima salah satu dari ketiganya kecuali disertai sahabatnya. B. Saran. Syukur Alhamdulillah makalah ini dapat kami selesaikan. Semoga pembahasan makalah ini dapat menambah wawasan penulis khususnya dan pembaca umumnya. Dan kami harapkan kepada Bapak Pebimbing agar selalu memberikan kami masukan apabila makalah ini masih baik banyak kesalah baik dalam penulisan maupun pembahasan. DAFTAR PUSTAKA 1. Khadim al Haramain asy Syarifain, Al-Qur,an dan terjemahannya. Pelayanan kedua Tanah Suci. 1411 H. 2. A. Hasan, Terjemahan Bulughul Mara. CV. Diponerogo, Bandung, 1987. 3. Kifayatur Akhyar (terjemah), Semarang: Toha Putra, 1978. 4. Fikih pendidikan, Drs. Heri Jauhari Muchtar. PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005.

Judul: Makalah Agama

Oleh: Mutiawati Hasdi


Ikuti kami