Makalah Agama

Oleh Mutiawati Hasdi

17 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Agama

IMAN, ILMU, DAN AMAL
D
i
s
u
s
u
n

Oleh
Kelompok IV
Mutiawati
Nurlita
Ernita
Dosen pembimbing : Iskandar M.PdI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ALMUSLIM
BIREUEN
2013
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepada
kita iman sebagai modal utama untuk menjadi muslim yang benar dan ilmu
pengetahuan yang sangat banyak sehingga kita bisa membedakan amal buruk dan
amal baik dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai modal untuk menuju alam
kehidupan yang kekal. Shalawat dan salam mari kita sampaikan kepada
Rasulullah Muhammad saw yang telah membawa kita dari alam jahiliyah ke alam
islamiyah dan dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu
pengetahuan.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Pebimbing Makalah yaitu
Iskandar M.PdI yang telah memberi kami sedikit banyaknya bimbingan dalam
penyelesaian makalah yang berjudul “ Iman, Ilmu dan Amal ”.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangannya, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari teman-teman dan pembaca budiman guna untuk kesempurnaan
makalah ini. Semoga isi dari makalah ini dapat bermamfaat bagi semua pihak
khususnya penulis sendiri.

Matang Glumpang Dua, 28 Oktober 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................. i
Daftar Isi ........................................................................................ ii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang ..............................................................
B. Rumusan masalah .........................................................
C. Tujuan ...........................................................................

BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Iman, Ilmu dan Amal ................................
a. Iman ......................................................................
b. Ilmu ...........................................................................
c. Amal .........................................................................
B.

Hubungan Iman, Ilmu dan Amal dalam Pandangan
Islam...............

BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan .........................................................
B. Saran ............................................................................

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Iman, ilmu dan amal merupakan aspek yang sangat penting dalam
kehidupan ummat islam. Iman, ilmu dan amal memiliki hubungan yang erat
untuk mencapai ketaqwaan kepada Allah sehingga kita tidak bisa
memisahkan ketiganya. Kitab suci Al-Qur’an senantiasa menggandengkan
hubungan antara iman, ilmu dan amal. Namun, banyaknya manusia tidak
menyadari itu karena mereka tidak mengetahui makna yang sebenarnya dari
iman, ilmu dan amal sehingga mereka salah menempatkan posisi itu sendiri.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah
dalam makalah ini adalah “apakah makna dan bagaimanakah hubungan
iman, ilmu dan amal dalam pandangan islam ?”.

C.

Tujuan
Untuk mengetahui makna dan hubungan iman, ilmu dan amal dalam
pandangan islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Iman, Ilmu dan Amal
I. Iman
Iman secara bahasa arab artinya percaya, tunduk, tentram, aman dan
tenang, yang asal katanya ‫ آمن – يؤمن – إيمانا‬atau dengan kata lain– ‫تصديقا‬
‫ يص???دّق‬-‫ ص???دّق‬yang artinya membenarkan. Dan menurut istilah adalah
membenarkan dengan penuh keyakinan hati tanpa dicampuri keraguan
sedikitpun, mengucapkan dengan lisan dan hati serta mengamalkan dengan
perbuatan hati dan anggota tubuh sehingga memberi pengaruh terhadap
pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Sementara
menurut hadits Rasulullah saw ialah percaya kepada Allah, malaikatmalaikatNya, kitab-kitabNya, hari kiamat, Rasul-rasul Allah, dan kepada
Qadar (takdir baik dan buruk). Seperti yang diterangkan dalam beberapa
haditsnya.
َ‫حدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُ و حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَ ة‬
َ َ‫حدَّتنا مُسَدَّدٌ قَال‬
َ
ُ‫ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَ اهُ جِبْرِي ل‬:َ‫عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال‬
َ‫ مَا اإلِيمَانُ قَالَ اإلِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَالئِكَتِهِ وَكُتُبِ هِ وَبِلِقَائِ هِ وَرُسُ لِهِ وَتُ ؤْمِن‬:َ‫فَقَال‬
.)‫ منتفق عليه‬: ‫ (روه‬.ِ‫بِالْبَعْث‬
Artinya :
“Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn
Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi
Zur’ah telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah r.a berkata:
Pada suatu hari ketika Nabi saw. sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba
datang seorang laki-laki dan bertanya, “apakah iman itu?”. Jawab Nabi
saw.: “iman adalah percaya Allah swt., para malaikat-Nya, kitab-kitabnya,
dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya pada hari
berbangkit dari kubur”. (HR : Muntafaqun ‘alaihi).
Pada redaksi lain juga disebutkan, yakni hadits yang diriwayatkan
oleh muslim, selain yang telah disebutkan pada hadits diatas, ada tambahan
mengenai obyek iman, yaitu beriman adanya qadar atau takdir baik maupun
buruk.
ِ‫ خَيرِهِ وَشَرِّهِ وَحُلوِه‬: ِ‫اْإلِيْمَان هُوَ اإلِيْمَان بِاللهِ وَمَالَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اآلخِرِ وَالقَدَر‬
)‫ (روه مسلم‬.ِ‫وَمُرِّهِ مِنَ هللا‬.
Artinya:

“Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan qadar yang baik maupun buruk,
yang manis maupun yang pahit, (semuanya) dari Allah”. (HR : Muslim).
Dalam Al-Qur’an ditemukan kata iman mengandung dua makna,
yaitu pada surah Quraisy ayat 4 mengandung makna
aman,
mengamankan, atau memberikan keamanan.
) ٤ : ‫ (قريش‬.ٍ‫وَأَمَنَهُم مِّن خَوف‬
Artinya:
“Dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan”. (QS: Quraisy : 4).
Dan pada surah Al-Baqarah ayat 285 mengandung makna yakin,
percaya atau beriman.
)۲۸۵ : ‫(البقرة‬.....................ُ‫أَمنَ الرَّسُول‬
Artinya:
‘’Rasul (Muhammad) beriman ................’’(QS. Al-Baqarah: 285)
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Iman adalah
percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, harikiamat, RasulrasulNya dan kepada takdir baik maupun buruk dan membenarkan dengan penuh
keyakinan hati tanpa dicampuri keraguan sedikitpun, mengucapkan dengan

lisan dan hati serta mengamalkan dengan perbuatan hati dan anggota
tubuh sehingga memberi pengaruh terhadap pandangan hidup, tingkah laku
dan perbuatan sehari-hari.

1) Iman kepada Allah (‫)اإليمان باهلل‬.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah saw
menjelaskan makna iman kepada Allah.
"‫ "شَهَادَةٌ أَن‬: َ‫ قَال‬."ُ‫ "هللاُ وَ رَسُلُهُ أَعلَم‬: ‫أَتَدرُونَ مَا اإلِيمَانُ بِاللهِ وَحدَهُ ؟" قَالُوا‬
)‫ (روه مسلم‬."ُ‫ال َ إِلَهَ إِال َّ هللا‬.

Artinya :
“Apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah
satu-satunya ?”. Mereka menjawab “ hanya Allah dan RasulNya yang

lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda: “bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah”. (HR: Muslim).
Maksud dari sabda Rasulullah saw di atas “Bersaksi bahwa tiada
Tuhan selain Allah’’ ialah iman harus dilandasi dengan ilmu ketauhidan
karena pada hakikatnya manusai beragama tauhid atau agama yang
mengesakan Tuhan yang dibawakan oleh para rasul sebelum Rasulullah
saw dan setelah itu Allah mengutuskan beliau untuk menyempurnakan
agama tersebut dengan agama islam. Kemudian iman kita harus diiringi
dengan ilmu ma’rifahtullah atau ilmu mengenal Allah. Tanpa ada ilmu
ma’rifatullah kita tidak akan bisa beriman kepada Allah karena dengan
adanya ilmu tersebut kita dapat mempercayai dan membenarkan dengan
penuh keyakinan hati kepada rububiyyah Allah Swt, maksudnya: Allah
adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik semesta, dan Pengatur segala urusan,
iman kepada uluhiyyah Allah Swt, maksudnya: Allah sajalah Tuhan
yang berhak di sembah, dan semua sesembahan selainNya adalah batil,
iman kepada nama-nama dan sifat-sifatNya maksudnya: bahwasanya
Allah Swt, memiliki nama-nama yang mulia dan sifat-sifatNya yang
sempurna serta agung sesuai yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Jadi, iman kepada Allah ialah mempercayai dan membenarkan
dengan penuh keyakinan hati tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa
Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, yang miliki kekuasan, nama-nama
yang mulia dan sifat-sifat yang sempurna serta agung.
Adapun sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita imani,
yaitu:
a. 20 sifat-sifat yang wajib bagi Allah.
Maksudnya adalah sifat-sifat ini benar-benar ada pada Allah
tetapi tidak ada pada makhluk lain. Sifat-sifat itu adalah:
‫( وُجُ ٌد‬Ada), ‫( قِ ?دَ ٌم‬Sedia), ‫( بَقَ??ا ٌء‬Kekal),
‫(مُخَالَفَةُ لِلحَوَادِث‬Bersalahan
Allah Ta’ala bagi segala yang bahru), ِ‫( قِيَامُهُ بِنَفسِه‬Berdiri Allah
Ta’ala dengan sendirinya),
‫( وَحدَانِيَّة‬Esa), ٌ‫( قُ درَة‬Kuasa), ُ‫إِرَادَة‬
(Berkehendak), ٌ‫( عِلم‬Mengetahui), ٌ‫( حَيَاة‬Hidup), ٌ‫( سَمع‬Mendengar),
ٌ‫( بَصَر‬Melihat), ٌ‫( كَالَم‬Berkata), ٌ‫( قَادِر‬Yang Maha Kuasa), ُ‫( مُرِيد‬Yang
Maha Berkehendak), ٌ‫( عَ الِم‬Yang Maha Mengetahui), ٌّ‫حي‬
َ (Yang
Maha Hidup), ٌ‫( سَمِيع‬Yang Maha Mendengar), ٌ‫( بَصِير‬Yang Maha
Melihat) dan ٌ‫( مُتَكَلِّم‬Yang Maha Berkata).
b. 20 sifat-sifat yang mustahil bagi Allah.

Maksudnya adalah sifat-sifat yang tidak pernah mungkin
dimiliki oleh Allah tetapi dimiliki oleh makhluk lain. Sifat-sifat itu
adalah:
ٌ‫( عَ دَم‬Tiada), ٌ‫ح دُوث‬
ُ (Baharu), ٌ‫( فَنَ اء‬Hilang), ِ‫مُمَاثَلَتُ هُ لِلحَ وَادِث‬
(Bersamaan Allah bagi segala yang baharu), ِ‫ال َ يَكُونُ قَائِمً ا بِنَفسِ ه‬
(Tiada berdiri Allah dengan sendirinya),‫( ال َ يَكُونُ وَاحِدًا‬Tiada esa),
ٌ‫( عَجَ ز‬Lemah), ٌ‫( كَرَاهَ ة‬Tiada berkehendak), ٌ‫( جَه ل‬Bodoh), ٌ‫مَ وت‬
(Mati), ٌ‫( صَ مَم‬Tuli), ‫( عَمًى‬Buta), ٌ‫( بَكَم‬Bisu), ٌ‫( عَ اجِز‬Yang maha
lemah), ٌ‫( كَارِه‬Yang maha tiada berkehendak), ٌ‫( جَاهِل‬Yang maha
bodoh), ٌ‫( مَيِّت‬Yang maha mati), ٌ‫( َأصَم‬Yang maha tuli), ‫( أَعمَى‬Yang
maha buta) dan ٌ‫( أَبكَم‬Yang maha bisu).
Sifat-sifat yang wajib dan yang mustahil bagi Allah memiliki
dalil masing-masing dari setiap sifat tersebut. Contoh dalil untuk
salah satu sifat Allah adalah Allah bersifat ada mustahil bagi Allah
tiada.
)٥۹ : ‫ (الفرقن‬.‫خلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاألَرضَ وَبَينَهُمَا‬
َ ‫هللاُ اللَّذِي‬
Artinya:
“Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada
antara keduanya”. (QS. Al-Furqan:59).
Dengan adanya dalil di atas, kita semakin dapat percaya
dengan penuh keyakinan hati bahwa allah itu ada dan Allahlah yang
menciptakan langit dan bumi beserta isi keduanya.
c. 1 sifat yang jaiz (harus) bagi Allah.
Sifat ini merupakan hak wewenang Allah dalam bertindak.
Sifat itu adalah:
ُ‫( فِعلُ كُلِّ مُمكِنٍ أَو تَركُ ه‬Melakukan apa saja yang Allah kehendaki
atau meninggalkan segala sesuatu itu). Artinya, Allah memiliki sifat
yang: ٌ‫( إِيجَ اد‬Mengadakan),ٌ‫( إِع دَام‬Mentiadakan), ٌ‫تَخلِي ق‬
(Menjadikan), ٌ‫( تَرزِيق‬Memberi rezki), ‫( إحياء‬Menghidupkan), ٌ‫إِمَاتة‬
(Mematikan), ٌ‫( إِهدَاء‬Menunjukkan) dan ٌ‫( إِضالل‬Menyesatkan).

Allah swt memberikan dalil tentang sifatNya yang satu ini.
ُّ‫قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ المُلكِ تُؤتِى المُلكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ المُلكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِز‬
)۲٦ : ‫ (آل عمران‬.ُ‫مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآء‬
Artinya:

“Katakanlah, wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau
berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
cabut kerajaan dari orang Engkau kehendaki. Engkau muliakan
orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Engkau kehendaki”. (QS. Ali’imran: 26).
Ayat di atas memberi penjelasan kepada kita bahwa Allah
berhak dalam melakukan apa saja yang Allah inginkan tanpa ada
yang melarangNya.
Allah swt juga memiliki nama-nama yang sangat baik
sebagaimana Allah berfirman.
)۲٤ : ‫ (الحشر‬.‫لَهُ األَسمَآءُ الحُسنَى‬.
Artinya:
“Dialah yang memiliki nama-nama yang baik’’. (QS: Al-Hasyr: 24).
Ada 99 nama-nama Allah yang wajib kita ketahui dan kita
imani, yaitu:
ُ َ‫( ال رَّحم‬Yang Maha Pengasih), ُ‫( ال رَّحِيم‬Yang Maha Penyayang),
‫ن‬
ُ‫( المَالِك‬Maha Raja), ُ‫( القُدُوس‬Yang Maha Suci), ُ‫( السَالَم‬Yang Maha
Sejahtera), ُ‫( المُؤمِن‬Yang Maha Menjaga Keamanan), ُ‫( المُهَيمِن‬Yang
Maha Memelihara), ُ‫( العَزِيز‬Yang Maha Perkasa), ُ‫( الجَبَّار‬Yang Maha
Kuasa), ُ‫( المُتَكَبِّر‬Yang Maha Memiliki segala keagungan), ُ‫الخَ الِق‬
(Yang Maha Menciptakan), ُ‫( البَ ارِئ‬Yang Maha Mengadakan),
ُ‫( المُصَ وِّر‬Yang Maha Membuat Bentuk), ُ‫( الغَفَّار‬Yang Maha
Pengampun), ُ‫ ( الغَفَّار‬Yang Maha Pengampun), ُ‫( القَهَّار‬Yang Maha
Perkasa), ُ‫( الوَهَّاب‬Yang Maha Pemberi), ُ‫( الرَّزَّاق‬Yang Maha Pemberi
Rezeki), ُ‫( الفَتَّاح‬Yang Maha Pemberi Keputusan), ُ‫( العَلِيم‬Yang Maha
Mengetahui), ُ‫( القَابِض‬Yang Maha Menyempitkan), ُ‫( البَاسِ ط‬Yang
Maha Melapangkan), ُ‫( الخَافِض‬Yang Maha Merendahkan), ُ‫الرَّافِ ع‬
(Yang Maha Meninggikan), ُّ‫( المُعِز‬Yang Maha Memuliakan), ُّ‫المُذِل‬
(Yang Maha Menghinakan), ُ‫( السَّمِيع‬Yang Maha Mendengar), ُ‫البَصِير‬
(Yang Maha Melihat), ُ‫( الحَكَم‬Yang Maha Memutuskan Hukum),
ُ‫( العَدل‬Yang Maha Adil), ُ‫( اللَّطِيف‬Yang Maha Halus), ُ‫(الخَبِير‬Yang
Maha Mengetahui), ُ‫( الحَلِيم‬Yang Maha Penyantun), ُ‫( العَظِيم‬Yang
Maha Agung), ُ‫( الغَفُور‬Yang Maha Pengampun), ُ‫( الشَّكُور‬Yang Maha
Menerima Syukur), ُّ‫( العَلِي‬Yang Maha Tinggi), ُ‫( الكَبِير‬Yang Maha
Besar), ُ‫( الحَفِي ظ‬Yang Maha Memelihara), ُ‫( المُقِي ط‬Yang Maha
Memelihara), ُ‫( الحَسِيب‬Yang Maha Membuat Perhitungan), ُ‫الجَلِيل‬
(Yang Maha Luhur), ُ‫( الكَرِيم‬Yang Maha Mulia), ُ‫( الرَّقِيب‬Yang Maha

Mengawasi), ُ‫( المُجِيب‬Yang Maha Memperkenankan), ُ‫( الوَاسِع‬Yang
Maha Luas), ُ‫( الحَكِيم‬Yang Maha Bijaksan), ُ‫( ال وَدُود‬Yang Maha
Mencintai), ُ‫( المَجِي د‬Yang Maha Mulia), ُ‫( البَ اعِث‬Yang Maha
Membangkitkan), ُ‫( الشَّهِيد‬Yang Maha Menyaksikan), ُّ‫( الحَ ق‬Yang
Maha Benar), ُ‫( الوَكِيل‬Yang Maha Memelihara), ُّ‫( القَوِي‬Yang Maha
Kuat), ُ‫( المَتِين‬Yang Maha Kukuh), ُّ‫( الوَلِي‬Yang Maha Pelindung),
ُ‫( الحَمِيد‬Yang Maha Terpuji), ‫( المُحصِ ى‬Yang Maha Menghitung),
ُ‫( المُبدِئ‬Yang Maha Memulai), ُ‫( المُعِيد‬Yang Maha Mengembalikan),
‫( المُحيِى‬Yang Maha Menghidupkan), ُ‫( المُمِيت‬Yang Maha
Mematikan),ُّ‫( الحَي‬Yang Maha Hidup), ُ‫( القَيُّوم‬Yang Maha Berdiri
Sendiri), ُ‫( الوَاجِ د‬Yang Maha Menemukan), ُ‫( المَاجِ د‬Yang Maha
Mulia), ُ‫( الوَاحِد‬Yang Maha Esa), ُ‫( األَحَد‬Yang Maha Esa), ُ‫الصَّ مَد‬
(Yang Maha Dibutuhkan), ُ‫( القَادِر‬Yang Maha Kuasa), ُ‫( المُقتَدِر‬Yang
Maha Kuasa), ُ‫( المُقَدِّم‬Yang Maha Mendahulukan), ُ‫( المُؤَخِّر‬Yang
Maha Mengakhirkan), ُ‫( األَوَّل‬Yang Maha Awal), ُ‫( األَخِر‬Yang Maha
Akhir), ُ‫( الظَّاهِر‬Yang Maha Nyata), ُ‫( البَ اطِن‬Yang Maha
Tersembunyi), ‫( ال وَالِى‬Yang Maha Memerintah), ‫( المُتَعَ الِى‬Yang
Maha Tinggi), ُّ‫( البَ ر‬Yang Maha Dermawan), ُ‫( التَّوَّاب‬Yang Maha
Penerima Taubat), ُ‫( المُنتَقِم‬Yang Maha Pemberi Balasa), ُّ‫( العَفُو‬Yang
Maha Pemaaf), ُ‫( الرَّءُوف‬Yang Maha Pelimpah Kasih), ِ‫مَالِكُ المُلك‬
(Yang Maha Pemilik Kerajaan), ‫( الجَالَلِ وَ اإلك رَامِ ذُو‬Yang Maha
Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan), ُ‫( المُقسِط‬Yang Maha Adil),
ُ‫( الجَ امِع‬Yang Maha Mengumpulkan), ُّ‫( الغَنِي‬Yang Maha Kaya),
‫( المُغنِى‬Yang Maha Memberi Kekayaan), ُ‫( المَ انِع‬Yang Maha
Menghalangi), ُّ‫( الضَّار‬Yang Maha Pemberi Mudarat), ُ‫( النَّافِع‬Yang
Maha Pemberi Manfaat), ُ‫( النُّور‬Yang Maha Pemberi Cahaya), ‫الهَادِى‬
(Yang Maha Pemberi Hidayah), ُ‫( البَ دِيع‬Yang Maha Pencipta
Pertama), ‫( البَاقِى‬Yang Maha Kekal), ُ‫( الوَارِث‬Yang Maha Pewaris),
ُ‫( الرَّشِيد‬Yang Maha Memimbing) dan ُ‫( الصَّبُور‬Yang Maha Sabar).
2) Iman kepada Malaikat Allah (‫)اإليمان بمالئكاته‬
Iman kepada malaikat artinya mempercayai dan membenarkan
dengan penuh keyakinan hati bahwa adanya Malaikat Allah sebagai
makhluk ghaib. Menurut hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah r.a.,
malaikat diciptakan oleh Allah dari nur (cahaya). Malaikat selalu taat
menjalankan perintah Allah swt baik itu berupa tugasnya masingmasing atau berupa ibadah kepada Allah.

Cara beriman kepada mereka adalah dengan mengimani nama-nama
dan tugas-tugas malaikat yang telah kita ketahui. Kita pun harus
mengimani sifat-sifat malaikat sebatas apa yang telah kita ketahui.
Malaikat itu sangat banyak, tiada yang mengetahui jumlahnya
melainkan Allah swt.

Ada sepuluh malaikat yang wajib kita ketahui beserta tugasnya,
yaitu:
1. Jibril tugasnya menyampaikan wahyu kepada para nabi.
2. Mikail tugasnya menurunkan hujan.
3. Israfil tugasnya meniup sangkakala pada hari kiamat.
4. ‘Izrail tugasnya menjabut nyawa.
5. Mungkar tugasnya menanyakan mayit di dalam kubur.
6. Nangkir tugasnya menanyakan mayit di dalam kubur.
7. Raqib tugasnya mencatat amal baik.
8. Atid tugasnya mencatat amal buruk.
9. Malik tugasnya menjaga neraka.
10. Ridwan tugasnya menjaga syurga.
Adapun sifat-sifat malaikat yang disebutkan Allah dalam firmanNya
adalah:
‫وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ األَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ اَل يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَاَل‬
)۲۰-١۹ : ‫ (األنبياء‬.)۲۰( ُ‫) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ اَل يَفْتُرُون‬١۹( ‫يَسْتَحْسِرُون‬
Artinya :
Dan milikNyalah siapa yang ada di langit dan di bumi dan (malaikatmalaikat) yang disiNya tidak mempunyai rasa angkuh untuk
menyembahNya dan tidak pula merasa letih. Mereka (malaikatmalaikat) bertasbih tidak hentinya malam dan siang. (QS. Al-Anbiyaa’:
19-20).
Kemudian Rasulullah saw juga menyebutkan sifat-sifat malaikat
dalam haditsnya.
ُ‫ ال َ يُرَى عَلَيْهِ أَثَر‬،ِ‫ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْر‬
َ‫جلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى هللا عليه وسلم فَأَسْنَد‬
َ ‫حتَّى‬
َ ،ٌ‫ وَال َ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَد‬،ِ‫السَّفَر‬
)‫ مسلم‬: ‫ (روه‬.ِ‫رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْه‬.
Artinya:

“Pada suatu hari, ketika kami berada di sisi Rasulullah, tiba-tiba
muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat
putih dan berambut hitam legam, tidak terlihat padanya bekas-bekas
perjalanan jauh dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya.
Hingga dia duduk di depan Nabi saw, lalu menyandarkan kedua
lututnya ke lutut Nabi kemudian dia letakkan kedua telapak tangannya
ke atas kedua pahanya”. (HR: Muslim).
Dari ayat dan hadits di atas dapat kita simpul beberapa sifat-sifat
malaikat, diantanya adalah malaikat tidak mempunyai rasa angkuh, letih
dan nafsu, rajin beribadah kepada Allah, selalu bersikap sopan ketika
berjumpa dengan para Rasul, bersih dan rapi.
3) Iman kepada kitabNya ‫))اإلمان بكتابه‬.
Iman kepada kitab Allah artinya mempercayai dan membenarkan
dengan penuh keyakinan hati bahwa Allah telah menurunkan kitabkitab (wahyu) kepada Rasul pilihanNya sebagai petunjuk dan kebenaran
bagi manusia. Allah swt berfirman.
)۲۵ : ‫ (الحديد‬.َ‫لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَان‬.
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan
membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama
mereka al kitab dan neraca (keadilan)…” (Al-Hadiid: 25).
Kitab-kitab yang diturukan Allah kepada para Rasul adalah:
1. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa.
)٤۳ : ‫ (القصص‬.َ‫وَلَقَد أَتَينَا مُوسَى الكِتَاب‬.
Artinya:
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab
(Taurat)”. (QR: Al-Qashash: 43).
2. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud.
)١٦ : ‫ (النمل‬.َ‫وَوَرِثَ سُلَيمَانُ دَاوُود‬.
Artinya:

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud (ilmu pengetahuan dan kitab
Zabur)”. (QS. An-Naml: 16).
3. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa.
)٤٦: ‫ (المائدة‬.َ‫وَأَتَينَاهُ اإلِنجِيل‬.
Artinya:
“Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) Injil”. (QS. AlMaaidah).
4. Kitab Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad.
.ِ‫وَأَنزَلنَا إلَيكَ الكتَابَ بِاالحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَينَ يَدَيهِ مِنَ الكِتَابِ وَمُهَيمِنًا عَلَيه‬
)٤۸ : ‫(المائدة‬.
Artinya:
“Dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) kitab Al-Qur’an
dengan membawa kebenaran, yang membenarkankitab-kitab yang
diturunkan sebelumnya dan menjaganya”. (QS. Al-Maaidah: 48).
Adapun secara rinci, kitab-kitab terdahulu mengalami
penyelewengan, perubahan, pergantian. Seseorang tidak mungkin
dapat menilai mana yang benar dan mana yang bathil sehingga tidak
ada perintah bagi ummat islam sekarang untuk mengamalkannya.
Seperti yang terjadi pada saat ini, Ahli Kitab telah menamakan Zabur
sebagai Mazmur yang sebagian besar isinya berasal dari kitab Zabur
dan sebagian lagi dikarang sesudahnya. Namun, kita hanya tetap
harus percaya kepada apa yang telah Allah turunkan kepada para
Rasul tanpa harus mengamalkannya karena Allah telah menurunkan
kitab Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk untuk
ummat sekarang dalam membenarkan kitab Taurat, Injil dan Zabur
yang di dalamnya menjelaskan isi ketiga kitab tersebut sebagaimana
firman Allah yang tertulis di atas. Oleh karena itu, Allah
memerintahkan kepada kita untuk hanya mengamalkan isi AlQur’an hingga hari kiamat kelak.

4) Iman kepada rasulNya (‫)اإلمان برسوله‬.
Rasul artinya utusan. Rasul juga dinamakan sebagai nabi. Semua
rasul yang diutus oleh Allah adalah benar. Mereka bukanlah Tuhan,

mailakat, jin, binatang, dan lain sebagainya tetapi mereka hanyalah
manusia seperti kita. Mereka memiliki sifat-sifat yang baik dan
diberikan mu’jizat yang besar dan derajat yang tinggi oleh Allah
sehingga dapat membedakan mereka dengan ummat-ummatnya. Allah
mengutuskan para Rasul kepada tiap-tiap ummat untuk mengajarkan
agama dan menyampaikan amanahNya kepada ummat manusia di muka
bumi agar manusia mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Allah swt
berfirman:

: ‫ (النحل‬.َ‫وَلَقَد بَعَثنَا فِى كًلِّ أًمَّةٍ رَّسُوال ً أَنِ اعبُدُوا هللاَ وَاجتَنِبُوا الطَّاغُوت‬
)۳٦.
Artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutuskan Rasul pada tiap-tiap
ummat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah
Thagut (syaitan dan apa saja selain Allah)’’ ”. ( QS. An-Nahl : 36).

Adapun Rasul-rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang
wajib kita imani adalah 25 nabi. Mereka adalah Adam, Idris, Nuh, Hud,
Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, ‘Aiyub, Syu’ib,
Musa, Harun, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’,Yunus, Zakaria,
Yahya, Isa, dan Muhammad. Di antara 25 nabi tersebut Allah telah
melukiskan 5 nabi sebagai Ulul Azmi, yaitu Musa, Ibrahim, Nuh, Isa
dan Muhammad. Dinamakan Ulul Azmi karena tekat mereka yang kuat,
cobaan yang diberikan kepada mereka sangat keras dan perjuangan
yang mereka lakukan juga berat dalam menyiarkan agama Allah. Pada
hakikatnya jumlah Rasul itu banyak, namun Allah tidak menyebutnya
dalam Al-Qur’an akan tetapi Allah menunjukkan kepada mereka
dengan FirmanNya yang ditunjukkan kepada RasulNya Muhammad
saw.
: ‫ (النساء‬.َ‫وَرُسُال ً قَد َقصَصنَا هُم عَلَيكَ مِن قَبلِ وَرُسُال ً لَم نَقصُصهُم عَلَيك‬
)١٦٤.
Artinya:
“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami
kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu dan rasul-rasul yang tidak
Kami kisahkan tentang mereka kepadamu” (QS. An-Nisa’ : 164).

Jadi, iman kepada rasul Allah artinya mempercayai dengan penuh
keyakinan hati tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa Allah telah
mengutuskan beberapa rasul untuk mengajarkan agama kepada manusia
agar mereka mendapat kebaikan dunia dan akhirat dan percaya kepada
derajat dan mu’jizat yang dimiliki oleh rasul serta mengamalkan sedikit
dari sifat-sifatnya.
Sifat-sifat para rasul adalah:
a. 4 sifat yang wajib bagi rasul.
َ َ‫ف‬
ٌ ?‫ص‬
‫دق‬
ِ (benar), ٌ‫( َأ َمانَ?ة‬kepercayaan), ‫( ت َب ِلي? ٌغ‬menyampaikan) dan ٌ‫طانَ?ة‬
(cerdik).
b. 4 sifat yang mustahil bagi rasul.
ٌ ‫( ِكت َم‬menyembunyikan), dan
ٌ‫( كِ?ذب‬dusta), ٌ‫( ِخيَانَ?ة‬mengkhianati), ‫?ان‬
ٌ ‫( ِبالَدَة‬bodoh).
c. 1 sifat yang jaiz atau harus bagi nabi.
‫اض البَش َِريَّ ِة‬
(segala sifat manusia yang tidak membawa kepada
ُ ‫أألعر‬
َ
kekurangan derajatnya yang tinggi seperti makan, minum, nikah
dan sakit).
Mu’jizat artinya sesuatu yang luar biasa yang tiada kuasa manusia
membuatnya karena hal itu adalah di luar kesanggupannya. Mu’jizal ini
hanya diberikan kepada nabi-nabi untuk menguatkan kenabian dan
kerasulannya dan bahwa agama yang dibawanya bukanlah buatannya
sendiri tapi benar-benar dari Allah swt.
Rasul-rasul itu tidaklah sama derajatnya dalam keutamaan dan
kedudukannya, akan tetapi Allah telah melebihkan sebagian rasul-rasul
dari sebagian yang lain. Allah berfirman:
ٍ‫تِلكَ الرُّسُلُ َفضَّلنَا بَعضَهُم عَلَى بَعضٍ مِّنهُم مَّن َكلَّمَ هللاُ وَرَفَعَ بَعضَهُم دَرَجَات‬
)۲۵۳ : ‫ (البقرة‬.ِ‫وَأَتَينَا عِيسَى ابنَ مَريَمَ البَيِّنَاتِ وَأَيَّدنَاهُ وَرُوحِ الكُدُس‬.
Artinya:
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang
lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan
dia) dan sebagiannya Allah telah meninggikannya (Nabi Muhammad)
beberapa derajatnya. Dan kami berikan kepada ‘Isa putera Maryam
beberapa mu,jizat serta kami perkuatkan dengan Ruhul Qudus (Jibril).
(QS. Al-Baqarah : 253)

Dan Allah telah mengangkat derajat Nabi Muhammad saw di atas
derajat para nabi yang lain. Nabi Muhammad diutuskan kepada
manusia, sedangkan nabi-nabi terdahulu diutuskan kepada ummatummat mereka sendiri dan juga Nabi Muhammad adalah penutup
segala nabi, maka kerasulan telah diakhiri olehnya dan dia membawa
hukum yang sempurna. Oleh karena itu kita sebagai ummatnya wajib
beriman kepadanya dengan cara mengenal kelakuannya, sahabatsahabatnya dan keluarganya dan mengamalkan sedikit dari perpuatan
atau perkataannya.

5) Iman kepada hari kiamat (‫) اإليمان ييوم القيامة‬.
Iman kepada hari kiamat artinya mempercayai dan membenarkan
dengan penuh keyakinan hati bahwa hari kiamat itu pasti akan datang
tanpa sepengetahuan manusia dan beriman kepada apa yang akan
terjadi pada hari itu dan sesudahnya.
Adapun pengertian hari kiamat adalah hari kiamat merupakan hari
akhirat atau hari berakhirnya seluruh kehidupan di dunia. Kehidupan
akhirat baru ada setelah hari kiamat dan akhirat adalah sebenarbenarnya kehidupan yang kekal dan abadi. Al-Qur’an memberi
beberapa makna hari kiamat, yaitu
yaumul qiyamah (kebangkitan
besar) yang tersebut dalam surah Al-Qiyaamah ayat 1, yaumul fashl
(hari keputusan) yang tersebut dalam surah Al-Mursalat ayat 13,
yaumul hisaab (hari perhitungan) yang tersebut dalam surah Shaad ayat
26, yaumut talaaq (hari pertemuan) yang tersebut dalam surah AlMu’min ayat 15, yaumul jami’ (hari berkumpul) yang tersebut dalam
surah Asy-Syura ayat 7, yaumid diin (hari pembalasan) yang tersebut
dalam surah Al-Muthaffifin ayat11 dan masih banyak lagi makna
tersebut.
Hari kiamat dibagi dua macam, yaitu kiamat Sugra dan kiamat
Kubra. Kiamat Sugra merupakan kiamat kecil atau merupakan
peringatan Allah kepada manusia sebab manusia sering lupa melakukan
perintah Allah. Contohnya adalah terjadinya berbagai musibah yang
dialami oleh manusia seperti meninggal, gempa bumi, gunung meletus,
dan lain-lain. Sedangkan kiamat Kubra merupakan kiamat besar atau
berakhirnya semua kehidupan dunia ini. Manusia tidak akan pernah
mengetahui kapan datangnya hari kiamat karena kiamat itu datangnya
dengan tiba-tiba. Dalam hal ini Allah berfirman:
َ‫يَيأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرسَهَا قُل إِنَّمَا عِلمُهَا عِن دَ رَبِّى الَيُجَلِّهَ ا لِوَقتِهَ ا إِال َّ هُ و‬
‫ثَقُلَت فِى السَّ مَاوَاتِ وَاألَرضِ الَتَكتِيكُم إِال َّ بَغتَ ةً يَس أَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنهَ ا قُ ل‬
)١۸۷ : ‫(األعراف‬
. َ‫إنَّمَا عِلمُهَا عِندَ هللاِ وَلَكِنَّ أَكثَرَ النَّاسِ الَيَعلَمُون‬.

Artinya:
“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah
terjadinya ?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari
kiamat itu adalah di sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat
menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat
(huru-haranya bagi makhluk) yang di langin dan di bumi. Kiamat itu
tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka
bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya.
Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu
adalah di sis Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui””.
(QS. Al-A’raaf: 187).
Dari ayat di atas memberi penjelasan bahwa hari kiamat amat berat
huru-hara atau kejadiannya bagi makhluk yang di langit dan di bumi.
Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet sangkakala yang pertama
oleh Malaikat Israfil. Kemudian, terjadilah gempa secara terus-menerus.
Gunung-gunung menghamburkan segala isinya. Bumi menjadi terbelahbelah. Air laut membanjiri seluruh permukaan bumi. Pada hari itu,
semua bentuk kehidupan yang ada di langit dan di bumi ikut hancur
kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian, ditiup sangkakala yang
kedua, maka Allah membangkitkan orang-orang dari alam barzah (alam
kubur) untuk berkumpul di padang masyar dan menunggu
keputusannya masing-masing atas perbutannya di dunia. Sebagaimana
firman Allah:
ُ‫وَنُفِخَ فِى الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى السَّمَاوَاتِ وَمَن فِى األَرضِ إِال َّ مَن شَاءَ هللا‬
)٦۸ : ‫ (الزمر‬.َ‫ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخرَى فَإِذَا هُم قِيَامٌ يَنظُرُون‬.
Artinya:
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada di langit dan
di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup
sangkaka itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu
(putusannya masing-masing)’’ (QS. Az-Zumar : 78).

.)۳( ‫) وَقَلَ اإلِنسَانُ مَالَهَا‬۲( ‫) وَأَخرَجَتِ األَرضُ أَثقَالَهَا‬١( ‫إِذَا زُلزِلَةِ األَرضُ زِلزَالَهَا‬
)۳-١ :‫(األعراف‬.
Artinya:
“Ketika bumi digoncangkan dengan goncangan yang hebat. Lalu bumi
mengeluarkan isinya (pada saat itu). Manusia mengatakan mengapa ini
terjadi ?” (QS. Az-Zalzalah: 1-3).
Pada hari itu, seluruh anggota tubuh manusia akan menjadi saksi
atas setiap perbuatannya di dunia, akan ditimbang amalan-amalan yang
baik dan perbuatan-perbuatan yang jahat dengan adil, diperlihatkan

catatan perbuatannya yang telah ditulis oleh malaikat yang diutuskan
oleh Allah dan mereka akan menjadi tiga golongan, yaitu golongan
kanan (golongan yang menerima buku-buku catatan amal mereka
dengan tangan kanan), merekalah orang-orang yang mulia karena
mereka selalu beriman dan beramal shaleh. Yang kedua golongan kiri
(golongan yang menerima buku-buku amal mereka dengan tangan kiri),
merekalah orang-orang yang sengsara karena mereka tidak pernah
beriman dan selalu melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Dan yang
ketiga adalah golongan yang yang paling dahulu beriman, merekalah
yang paling dulu masuk syurga.
Di akhirat terdapat dua tempat yang berbeda, yaitu syurga dan
neraka. Adapun syurga dan neraka, yang digambarkan oleh Allah dalam
surah Muhammad ayat 15 yang artinya “perumpamaan syurga yang
dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa: yang di dalamnya
ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah, dan sungai-sungai dari
air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar yang
segar bagi orang-orang yang meminumnya, dan sungai-sungai dari
madu yang telah disaring, dan bagi mereka di dalamnya terdapat pula
segala macam buah-buahan serta ampunan dari Tuhan mereka, sama
dengan orang yang kekal di dalam neraka, dan diberi minuman dari air
yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya”. Dari penjelasan
ayat ini dapat memberi gambaran bahwa betapa nikmatnya hidup
disyurga dan betapa sengsaranya hidup di neraka.
Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa tidak ada seorang pun
yang mengetahui kapan hari kiamat itu datang kecuali Allah swt.
Namun, Al-Qur’an dan Al-Hadits menjelaskan beberapa tanda-tanda
akan datangnya hari kiamat, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Berkurangnya minat orang untuk belajar ilmu agama.
Kejahatan, kemaksiatan dan kekacauan terjadi dimana-mana.
Orang tidak dapat lagi membedakan mana yang halal dan haram.
Waktu terasa sangat singkat.
Banyak orang miskin menjadi kaya mendadak karena usaha yang
tidak halal.
6. Banyak wanita yang senang membuka aurat.
7. Orang berlomba-lomba dalam membangun rumah yang megah,
tetapi enggan untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Sehingga
rumah mereka lebih besar daripada mesjid.
8. Jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki.
Selain tanda-tanda tersebut, masih ada lagi tanda-tanda hari kiamat
lainnya yang belum terjadi, antara lain:
1. Matahari akan terbit disebelah barat.
2. Di muka bumi tidak ada lagi orang-orang menyebut nama Allah.

3. Turunnya Imam Mahdi.
4. Keluarnya binatang melata dari bumi dan bisa berbicara dengan
fasih.
5. Akan datangnya Ya’juj dan Ma’juj.
Demikianlah beberapa tanda-tanda hari kiamat yang dapat
dihimpun oleh para ulama melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits, agar
menjadi pedoman bagi manusia untuk meningkatkan keimanan dan
amal shaleh sebagi bekal hidup di akhirat nanti.

6) Iman kepada qadar (‫)اإليمان بالقدر‬.
Takdir adalah ketentuan Allah. Allah yang menetapkan segala
sesuatu untuk hambanya. Kita tidak dapat mengetahui apa yang
ditetapkan Allah terhadap kita, baik takdir yang baik maupun yang
buruk dan baik yang disengaja maupun tidak, karena kita tahu bahwa
Allah memiliki satu sifat jaiz yaitu hak wewenang Allah dalam
bertindak. Allah yang menjadikan dan Allah pulalah yang menentukan
sesuatu. Firman Allah dalam Al-Qur’an:
)۲ : ‫ِيرا (الفرقان‬
ً ‫ َو َخلَقَ ُك َّل شَيءٍ فَقَد ََّرهُ ت َقد‬.

Artinya:
“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuranukurannya dengan tepat” (QS. Al-Furqan : 2).

Dari ayat di atas Allah menjelaskan bahwa takdir apapun yang
Allah berikan kepada hambaNya, itu memiliki ukuran-ukuran yang
tepat atau sesuai dengan usahanya. Usaha yang kita lakukan disebut
ikhtiar. Ikhtiar dilakukan dalam bentuk perbuatan serta diiringi dengan
do’a kepada Allah. Selanjutnya kita tetap ikhlash, tidak berputus asa
serta menyerahkan diri kepada Allah dalam menerima hasil usaha kita,
baik atau buruknya hasil usaha tersebut. Pada dasarnya, Allah
menghendaki dan memberikan yang baik-baik kepada kita sebagaimana
Allah telah menjanjikannya dalam kitab Lauhul Mahfudh sebelum kita
dilahirkan ke dunia ini. Demikian pula halnya kita, tentu menghendaki
yang baik-baik. Untuk mendapatkan yang baik, kita harus berusaha
sekuat tenaga. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, kecuali
orang itulah yang mengubah nasibnya sendriri. Seperti firmanNya:
)١١ : ‫إِنَّ هللاَ الَيُغَيِّرُ مَا بِقَومٍ حَتَّى يُغَيِّرُ مَا بِنَفسِهِ (الرعد‬.
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum seningga
mereka mengubah nasibnya sendiri” (QS. Ar-Ra’ad : 11).

Jika yang kita peroleh itu baik, maka kita wajib bersyukur
kepada Allah, karena yang baik itu merupakan nikmat yang diberikan
Allah swt dan sebagai cobaan untuk kita. Allah swt berfirman:
)۷۹ : ‫ (النساء‬.ِ‫مَا أَصَابَكَ مِن حَسَنَةٍ فَمِنَ هللا‬.
Artinya:
“Kebaikan apapun yang kamu peroleh adalah nikmat dari sisi Allah”
(QS. An-Nisa’ : 79).
Dan jika kita mendapatkan takdir buruk, itu merupakan cobaan dari
Allah, bisa juga sebagai hukuman dari perbuatan atau kesalahan yang
kita lakukan sendiri. Sebagaimana firman Allah:
)۷۹ : ‫صابَكَ ِمن َسيَئ ٍة فَ ِمنَ نَفسِكَ (النساء‬
َ ‫ َو َما َأ‬.
Artinya:
“Dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan)
dirimu sendiri” (QS. An-Nisa’).
Dari penjelasan dapat disimpulkan bahwa Iman kepada qadar
atau takdir artinya mempercayai dan membenarkan dengan penuh
keyakinan hati tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa segala sesuatu
yang terjadi dalam kehidupan kita, baik yang disengaja ataupun tidak,
itu adalah ketentuan Allah, dan tanpa menghilangkan kewajiban ikhtiar
sekuat tenaga serta diiringi dengan do’a dan menyerahkan hasil
usahanya kepada takdir ialahi.

II. Ilmu
Ilmu menurut bahasa arab adalah ‫ علما‬- ‫ علم – يعلم‬, yang
artinya mengetahui atau meyakini. Ilmu yang dalam bentuk jamaknya
adalah ‫ علوم‬yang artinya mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya,
dan itu berarti ilmu adalah keyakinan dan pengetahuan. Dengan
keyakinan dan pengetahuan inilah manusia dapat melakukan
perbuatannya.
Dalam pandangan islam, Ilmu adalah objek utama dalam
pendidikan. Ilmu dan pendidikan bagaikan dau sisi pada mata uang,
keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan. Sedangkan
pendidikan merupakan proses dalam tranfer ilmu, yang umumnya
dilakukan melalui tiga cara; yakni lisan tulisan atau gambar dan
perbuatan (perilaku / sikap).

Apabila kita tela’ah dari ketiga cara di atas, maka dapat kita
simpulkan menjadi satu cara; yakni “membaca”. Membaca disini
maknanya luas, yakni membaca tekstual (tertulis / tergambar) dan
membaca kontekstual (yang benar terjadi). Atau lebih luas lagi kita
diperintahkan untuk membaca ayat-ayat Kauniah; yaitu tanda-tanda
kekuasaan Allah yang terdapat di muka bumi serta alam semesta
termasuk juga peristiwa-peristiwa yang telah dan sedang terjadi
sepanjang hidup manusia.
Agama islam sudah sejak zaman dulu, tepatnya sejak turunya
wahyu yang pertama kepada Rasulullah, yang memerintahkan manusia
untuk membaca. Allah berfirman:
َ ُّ‫) إِقرَق وَرَب‬۲( ٍ‫) خَلَقَ اإلِنسَانَ مِن عَلَق‬١( َ‫إِقرَق بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق‬
‫ك‬
)۵-١ : ‫ (العلق‬.)۵( ‫) عَلَّمَ اإلِنسَانَ مَالَم يَعلَم‬٤( ِ‫) الَّذِي عَلَّمَ بِااقَلَم‬۳( ُ‫األَكرَام‬.
Artinya:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah ! dan
Tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantraan kalam (tulis baca). Dia mengajarkan kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq :1-3).
Dari ayat di atas sangatlah jelas bahwa kunci ilmu adalah
“iqraq atau membaca” serta diiringi dengan “qalam atau menulis”. Ilmu
tanpa ditulis itu akan sia-sia atau diumpakan dengan binatang buruan.
Seperti kata pepatah arab: “Ilmu seperti binatang buruan dan buku
adalah pengikatnya. Ikatlah binatang buruanmu dengan tali-tali yang
kuat. Maka bagi orang-orang yang bodoh yang hendak berburu rusa
akan meninggalkannya di antara makhluk-makhluk yang tidak terikat”.
Oleh karena itu, Utsman bin ‘Affan menyusun atau menulis
semua wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah agar ilmu yang
dia dapatkan dari Rasulullah tidak menjadi sia-sia sehingga menjadi
sebuah mushhaf yang sangat mulia di dunia dan yang menjadi sebagai
sumber petunjuk kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Setelah
Utsman bin ‘Affan membukukannya, para ulama islam mentafsirkan
Al-qur’an sehingga mereka mendapatkan bermacam-macam ilmu
pengetahuan di dalamnya. Dan pada masa keemasan islam ilmu dapat
digolongkan menjadi empat, yaitu:
1. Ilmu Bahasa Arab.
Ilmu bahasa arab terdiri dari beberapa ilmu, di antaranya ilmu
nahwu, ilmu sharaf, balaghah, dan ilmu bahasa.
2. Ilmu Syari’at.

Ilmu syari’at terdiri dari beberapa cabang ilmu pengetahuan, di
antaranya tafsir, hadits, ushul figh, ilmu kalam dan lain-lain.
3. Sejarah.
Sejarah merupakan ilmu yang mengkisahkan segala sesuatu
yang terjadi di dunia ini.
4. Al-Hikmah dan Filsafat (ilmu-ilmu selain bahasa dan agama).
Al-Hikmah dan Filsafat mengandung empat macam ilmu, yaitu:
ilmu mantiq, ilmu alam, ilmu pasti, ilmu ketuhanan.
Salah satu ayat yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan,
yaitu tentang ilmu alam. Seperti ilmu biologi. Allah berfirman:
‫وَإِنَّ َلكُم فِى األَعَامِ لَعِبرَةً نُّسقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِ مِن بَينِ فَرثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا‬
)٦٦ : ‫ (النحل‬.ِ‫سَابِغًا لِلشَّارِبِين‬.
Artinya:
“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat
pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang
berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan
darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS.
An-Nahl : 66).
Dari ayat di atas kita dapat meyakinkan bahwa ilmu
pengetahuan bersumber dari Al-qur’an. Namun, pada zaman modern ini
sebagian manusia tidak meyakinkan itu lagi, mereka menganggab
bahwa semua ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan umum yang
sedang kita pelajari di dunia pendidikan ini bersumber dari orang
kristen, padahal para ulama islamlah yang menemukan semua ilmu
pengetahuan tersebut dari Al-qur’an. Ilmu Allah tidaklah sedikit
melainkan sangatlah luas dan tak terhingga. Sebagaimana Allah
berfirman:
‫قُل لَّوكَانَ البَحرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّى لَنَفِدَ البَحرُ قَبلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ َربِّى وَلَو جِئنَا‬
)١۰۹ : ‫ (الكهف‬.‫بِمِثلِهِ مَدَدًا‬.
Artinya:
“Katakanlah: “kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis
(ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan
sebanyak itu (pula)””. (QS. Al-Kahfi : 109).

Meskipun demikian, Allah tetap mewajibkan kepada setiap
muslim laki dan perempuan untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu tidak
mengenal batas, dimensi, tempat, waktu dan ilmu apa yang ingin
dituntut. Selagi ilmu itu masih bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan
orang lain, maka tuntutlah ia. Sebagaimana RasulNya bersabda:
)‫ (منتفق عليهم‬.ٍ‫طَلَبُ العِلمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسلِم‬.
Artinya:
“Menuntut ilmu diwajibkan atas setiap muslim” (HR. Muntafaqun
‘Alaihim).

)‫ (منتفق عليهم‬.ِ‫أُطلَبُواالعِلمَ ِمنَ المَهدِ إِلَى الَّحد‬.
Artinya:
“Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat” (HR. Muntafaqun
‘Alaihim).
)‫ (منتفق عليهم‬.ِ‫أُطلُبُ العِلمِ وَلَو بِالصِّين‬.
Artinya:
“Tuntutlah ilmu walau ke negeri cina” ((HR. Muntafaqun ‘Alaihim).

III.

Amal
Amal secara bahasa arab artinya perbuatan atau tindakan, yang
asal katanya ‫عم ل – يعم ل – عمال‬. Menurut istilah amal adalah
perbuatan baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang. Sedangkan
pengertian amal dalam pandangan Islam adalah setiap amal saleh, atau
setiap perbuatan kebajikan yang diredhai oleh Allah swt dan
mendatangkan pahala. Dengan demikian, amal dalam Islam tidak
hanya terbatas pada ibadah akan tetapi mencakup semua perbuatan
yang baik. Islam senantiasa menyamakan amal dengan ihsan, yang
artinya adalah berbuat baik. Allah swt berfirman dalam Al-qur’an

mengenai hal ini.
‫?وم اَأل ِخ? ِر‬
َّ ?‫ب َولَ ِك َّن ال ِب‬
َّ ?‫يس ال ِب‬
ِ ‫ق َوال َمغ? ِ?ر‬
ِ ?َ‫?ر َمن َأ َمنَ ِباهللِ َوالي‬
َ َ‫ل‬
ِ ‫?ر َأن ت ُ َولُّوا ُو ُج??و َه ُكم قِبَ? َل ال َمش? ِ?ر‬
ُ
َ
َ
َّ
‫اَل‬
َ
‫الس ?بِي ِل‬
َّ َ‫س ?اكِينَ َوابن‬
ِ ‫َوال َم ِئك ِة َوال ِكت َا‬
َ ‫ب َوالنبِ ِيّنَ َو َءات َى ال َما َل َعلى ُح ِيّ ِه ذ ِوالقربَى َواليَت َا َمى َوال َم‬
َّ ‫الص??الًة َ َو َءات َى‬
َ
َ
‫عاهَ??دُوا َو‬
‫ق‬
‫أ‬
‫و‬
‫ب‬
‫??ا‬
‫ق‬
‫الر‬
‫الس??اِئلِينَ َوفِى‬
َّ ‫َو‬
َّ ‫??ام‬
ّ
ِ
َ ‫الز َك??اتَ َوال ُموفُ??ونَ بِعَه?? ِدهِم ِإذَا‬
ِ
َ
َ
‫ُأ‬
َّ
َ
. َ‫ص???دَقُوا َوُأولَِئكَ ُه ُم ال ُمتَّقُ???ون‬
‫ذ‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ل‬
‫و‬
‫???أس‬
‫ب‬
‫ال‬
‫ح‬
‫و‬
‫اء‬
‫ر‬
???‫الض‬
‫و‬
‫اء‬
???‫أس‬
‫ب‬
‫ال‬
‫ى‬
‫ف‬
‫ر‬
‫ب‬
‫ا‬
???‫الص‬
َ‫ِين‬
َ‫ين‬
َ‫ين‬
َّ
َ‫ِئك‬
ِ َ ِ َّ
ِ ِ ِ ًّ
ِ َ
َ
َ ِ َ َ
)١۷۷: ‫(البقرة‬.

Artinya:
“Bukanlah menghadap wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman
kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabinabi. Dan diberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anakanak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang membutuhkan
pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta. Dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan
zakat. dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan
mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Baqarah : 177).
Dari ayat di atas memberikan penjelasan yang sangat jelas
tentang pengertian amal menurut pandangan islam yang bersumber
dari Al-qur’an dan apa saja yang disebutkan dalam ayat di atas adalah
pokok-pokok kebajikan. Dalam Al-qur’an, terdapat 166 ayat yang
berbicara tentang amal baik. Dari sini kita dapat menarik satu makna,
betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat
porsi yang sangat istimewa dalam Al-qur’an. Berikut ini adalah
beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini, diantaranya:
berbuat baik kepada orang lain dan tidak membuat kerusakan di atas
bumi ini, yang disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 77, berbuat
adil yang disebutkan dalam surah An-Nahl ayat 90 dan berbakti
kepada orang tua dan mengucapkan kata yang baik kepada manusia
yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 83. Dan masih banyak
lagi pokok-pokok kebajikan yang disebutkan dalam Al-qur’an.
Setiap amal baik dan buruk yang dilakukan manusia akan
mendapatkan balasannya masing-masing di akhirat kelak. Bagi
mereka yang sesalu beriman dan beramal shaleh akan mendapat
balasan berupa syurga dan bagi mereka yang berbuat keji maka akan
mendapatkan balasan berupa neraka.

B.

Hubungan Iman, Ilmu dan Amal dalam Pandangan Islam.

Sebagaimana pengertian Iman, Ilmu dan Amal yang telah dijelaskan
di atas maka dapat kita simpulkan bahwa Iman, ilmu dan amal merupakan
aspek yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai ummat islam.

Kitab suci Al-Qur’an senantiasa menggandengkan ketiganya. Pada dasarnya
ilmu memiliki tempat yang sangat tinggi dalam pandangan islam karena
ilmu merupakan dasar dari segala tindakan manusia. Tanpa ilmu segala
tindakan manusia menjadi tidak terarah, tidak benar dan tidak bertujuan. Hal
ini dibuktikan dengan datangnya wahyu yang pertama kepada Nabi
Muhammad saw yaitu surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang menyerukan
tentang menuntut ilmu dengan cara membaca dan menulis.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:
)‫ (منتفق عليهم‬.‫ َمن َأ َردَ الدُّنيَا فَعَلَي ِه ِبال ِع ِلم َو َمن َأ َردَ اَأل ِخ َرة َ فَعَلَي ِه ِبال ِع ِلم َو َمن َأ َردَ ُه َما فَعَلَي ِه ِبال ِع ِلم‬.
Artinya:
“Barang siapa yang ingin (bahagia) di dunia maka tuntutlah ilmu, dan
barang siapa yang ingin (bahagia) di akhirat maka tuntulah ilmu, dan
barang siapa yang ingi (bahagia) keduanya maka tuntutlah ilmu. (HR.
Muntafaqun ‘Alaihim).
Maksud hadits di atas adalah ilmulah yang akan membuat manusia
bahagia hidup di dunia dan akhirat. Ilmu agama dapat membuat manusia
hidup bahagia di dunia dan akhirat dengan syarat harus mengamalkannya.
Ilmu pengetahuan umum belum tentu dapat membuat manusia hidup
bahagia di dunia apalagi di akhirat karena ilmu itu tidak dapat menuntun
seseorang ke jalan yang benar. Jadi, jika seseoarang ingin menuntut ilmu
pengetahuan umum harus didasari oleh ilmu agama terlebih dahulu agar
bisa membedakan mana yang benar dan salah karena peran ilmu agama
sangatlah penting dalam kehidupan kita sehari-hari terutama mempelajari
Al-qur’an. Al-qur’an dapat menuntun ilmu-ilmu yang lain menjadi ilmu
yang bermanfaat.
Ilmu dan iman memiliki hubungan yang sangat erat. Iman tanpa ilmu
itu akan menjadi sia-sia. Orang yang berilmu belum tentu beriman karena
bisa saja dia tidak memiliki ilmu tentang keimanan yang kuat, tetapi orang
yang beriman sudah pasti berilmu karena ilmulah yang akan membawanya
untuk beriman. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang
beriman dan berilmu. Sebagaimana Allah berfirman:
)١١ : ‫ (المجادلة‬.ٍ‫يَرفَعِ هللاُ اللَّذِينَ أَمَنُ مِنكُم وَاللَّذِينَ أُوتُوا العِلمَ َدرَجَات‬.
Artinya:

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah :
11).

Untuk mendapatkan derajat yang dijanjikan Allah itu kepada orangorang yang beriman dan berilmu bukanlah perkara mudah. Karena maksud
ayat di atas Allah akan meninggikan derajat seseorang apabila dia telah
benar-benar beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, hari
kiamat, nabi-nabi dan kepada takdir serta mengamalkannya dengan cara
bertakwa kepada Allah. Takwa artinya takut kepada Allah sehingga
menjalakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.
Seperti memenuhi rukun islam, yaitu mengucapkan dua kalimah shahadat,
mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan ramdhan, dan naik
haji apabila dia mampu. Apabila dia beriman tapi tidak beramal shaleh maka
imannya belum sempurna. Namun setiap manusia yang hendak beramal
harus disertai oleh ilmu. Jika ada orang yang beramal tanpa didasari ilmu
tidak ubahnya dengan orang yang mendirikan bangunan di tengah malam
dan kemudian menghancurkannya di siang hari. Begitu juga, hal ini pun
berlaku pada amal perbuatan yang lain, dalam berbagai bidang. Memimpin
sebuah negara, misalnya, harus dengan ilmu. Negara yang dipimpin oleh
orang bodoh akan dilanda kekacauan dan kehancuran.
Dalam beberapa riwayat di jelaskan tentang hubungan ilmu dan
amal itu. Imam Ali Abi Thalib berkata, “Ilmu adalah pemimpin amal, dan
amal adalah pengikutnya.” Demikian juga dengan perkataan Rasulullah saw ,
“Barangsiapa beramal tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya jauh lebih
banyak dibandingkan yang diperbaikinya.”

Pada riwayat lain dijelakan Imam Ali Abi Thalib berkata, “Ilmu
diiringi dengan perbuatan. Barangsiapa berilmu maka dia harus berbuat.
Ilmu memanggil perbuatan. Jika dia menjawabnya maka ilmu tetap
bersamanya, namun jika tidak maka ilmu pergi darinya.”
Dari riwayat di atas maka jika orang itu berilmu maka ia harus
diiringi dengan amal. Amal ini akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan
ilmu, begitu juga dengan ilmu akan mempunyai nilai atau makna jika
diiringi dengan amal. Amal merupakan buah dari ilmu, jika ada orang yang
mempunyai ilmu tapi tidak beramal maka seperti pohon yang tidak
menghasilkan manfaat bagi penanamnya. Keduanya tidak dapat dipisahkan
dalam perilaku manusia. Sebuah perpaduan yang saling melengkapi dalam
kehidupan manusia, yaitu setelah berilmu lalu beramal.

Jika kita memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an, nescaya kita akan
menemukan bahawa al-Qur’an senantiasa menggandengkan ilmu dengan
amal. Makna ilmu diungkapkan dalam bentuk kata iman pada banyak
tempat, dengan pengertian bahwa iman adalah ilmu atau keyakinan.
Allah SWT berfirman:

َ‫) كَبُرَ مَقتًا عِندَهللاِ أَن تَقُولُوا مَاال َ تَفعَلُون‬۲( َ‫يَأَيُّهَا الَّذِينَ أَمَنُوا لِمَن تَقُولُونَ مَااَل تَفعَلُون‬
)۳-۲: ‫ (الصف‬.)۳(.
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu
yang tidak kamu kerjakan. Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash-Shaff : 2-3)”
‫) إال َّ الَّذِينَ أَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّ الِحَاتِ وَتَوَاصَ وا‬۲( ٍ‫) إِنَّ اإلِنسَانَ لفِى خُسر‬١( ِ‫وَالعَصر‬
)۳-١ : ‫) (العص‬۳( ِ‫بِالحَقِّ وَتَوَاصَوا بِالصَّبر‬.
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dn mengerjakan kebajikan serta saling
menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabara. (QS.
Al-‘Ashr : 1-3).
)١۰۷ : ‫ (الكهف‬.ً ‫إِنَّ الَّذِينَ أَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَا لَهُم جَنَّاتُ الفِردَوسِ نُزُال‬.
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, untuk mereka
disediakan surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (QS. Al-Kahfi : 107)”
Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang betapa iman, ilmu dan amal
shaleh memiliki kaitan yang erat yang tidak dapat dilepaskan satu sama lain.
Kerana ketiganya bagai dua keping mata uang, yang saling memberi arti.
Inilah yang sejalan dengan ucapan Imam Ali Abi Thalib, “Iman, ilmu dan
amal adalah tiga saudara yang senantiasa beriringan dan tiga sahabat yang
tidak berpisah. Allah tidak akan menerima salah satu dari ketiganya kecuali
disertai sahabatnya.”
Dengan perspektif kesepaduan iman, ilmu dan amal, maka akan
memberikan perkembangan ke arah perbaikan dalam kehidupan masyarakat.
Masyarakat akan berlumba-lumba dalam memberikan amal shaleh satu
sama lain. Imam Ali Abi Thalib berkata, “Jangan sampai ilmumu menjadi

kebodohan dan imanmu menjadi keraguan. Jika engkau berilmu, maka
beramallah, dan jika engkau beriman maka majulah.”
Dengan ilmu yang benar, serta iman dan amal shaleh maka
masyarakat bergerak dari kebodohan menuju kepintaran, dari ketertinggalan
menuju kemajuan dan dari kehancuran menuju kebangkitan.

.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan.
dari pembahasan di atas dapat penulis mengambil kesimpulan adalah
senbagai berikut:
1.

Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya,
harikiamat, Rasul-rasulNya dan kepada takdir baik maupun buruk dan
membenarkan dengan penuh keyakinan hati tanpa dicampuri keraguan

sedikitpun, mengucapkan dengan lisan dan hati serta mengamalkan
dengan perbuatan hati dan anggota tubuh sehingga memberi pengaruh
terhadap pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.
2. Ilmu adalah keyakinan dan pengetahuan. Dengan keyakinan dan
pengetahuan inilah manusia dapat melakukan perbuatannya.
3. Amal adalah setiap amal saleh, atau setiap perbuatan kebajikan yang
diredhai oleh Allah swt dan mendatangkan pahala.

4. Iman, ilmu dan amal adalah tiga saudara yang senantiasa beriringan
dan tiga sahabat yang tidak berpisah. Allah tidak akan menerima salah
satu dari ketiganya kecuali disertai sahabatnya.

B. Saran.
Syukur Alhamdulillah makalah ini dapat kami selesaikan. Semoga
pembahasan makalah ini dapat menambah wawasan penulis khususnya
dan pembaca umumnya. Dan kami harapkan kepada Bapak Pebimbing
agar selalu memberikan kami masukan apabila makalah ini masih baik
banyak kesalah baik dalam penulisan maupun pembahasan.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Khadim al Haramain asy Syarifain, Al-Qur,an dan terjemahannya.
Pelayanan kedua Tanah Suci. 1411 H.
2. A. Hasan, Terjemahan Bulughul Mara. CV. Diponerogo, Bandung, 1987.
3. Kifayatur Akhyar (terjemah), Semarang: Toha Putra, 1978.
4. Fikih pendidikan, Drs. Heri Jauhari Muchtar. PT Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2005.

Judul: Makalah Agama

Oleh: Mutiawati Hasdi


Ikuti kami