Makalah Gizi

Oleh Meisi Sy

13 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Gizi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sebagai negara yang sedang berkembang dan sedang membangun, bangsa
Indonesia masih memiliki beberapa ketertinggalan dan kekurangan jika
dibandingkan negara lain yang sudah lebih maju. Di bidang kesehatan,
bangsa Indonesia masih harus berjuang memerangi berbagai macam
penyakit infeksi dan kurang gizi yang saling berinteraksi satu sama lain
menjadikan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia tidak kunjung
meningkat secara signifikan. Di sebagian besar daerah Indonesia, penyakit
infeksi seperti, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, dan campak
masih merupakan penyakit utama dan masih menjadi penyebab utama
kematian. Tingginya angka kesakitan dan kematian Ibu dan Anak Balita di
Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi. Ironisnya,
dibeberapa daerah lain atau pada sekelompok masyarakat Indonesia yang
lain terutama di kota-kota besar, masalah kesehatan masyarakat utama
justru dipicu dengan adanya kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas
di beberapa daerah di Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang
mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius bagi pembangunan bangsa
Indonesia khususnya di bidang kesehatan. Pendek kata, masih tingginya
prevalensi kurang gizi di beberapa daerah dan meningkatnya prevalensi
obesitas yang dramatis di beberapa daerah yang lain akan menambah
beban yang lebih komplek dan harus dibayar mahal oleh bangsa Indonesia
dalam upaya pembangunan bidang kesehatan, sumberdaya manusia dan
ekonomi.

1|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas dalam
mata kuliah Gizi Kesehatan Masyarakat, di harapkan juga dapat
bermanfaat dalam menambah pengetahuan dan wawasan mengenai ruang
lingkup Gizi Bayi dan Anak Usia < 6 tahun.
C. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar dapat mengetahui gizi
pada usia bayi dan anak < 6 th, berupa ruang lingkup sebagai berikut :
1. Perubahan tubuh yang terjadi pada kelompok usia bayi dan balita
2. Kebutuhan zat gizi pada bayi dan balita
3. Angka kecukupan zat gizi pada bayi dan balita
4. Penentuan status gizi pada kelompok usia bayi dan balita
5. Faktor – Faktor yang mempengaruhi status gizi bayi dan balita
6. Masalah gizi yang dihadapi pada kelompok usia bayi dan balita
7. Contoh menu sehat untuk kelompok usia bayi dan balita

2|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

BAB II
PEMBAHASAN
A. PERUBAHAN TUBUH PADA BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN
1. BAYI
a. Pertumbuhan dan Pematangan
Dalam waktu setahun sesudah kelahiran, bayi normal akan
bertambah berat badannya sebanyak tiga kali lipat, sedangkan
sepanjang badannya bertambah sebanyak 50% (Worthington-Robert
dan Williams, 2000). Jika berat badan bayi waktu lahir sebesar 3 kg,
setelah satu tahun beratnya akan meningkat menjadi 9 kg; panjang
badan yang semula 50 cm akan meningkat menjadi 75 cm. selama satu
tahun pertama ini makanan bayi dan zat gizi yang dikandungnya
mempengaruhi

pertunbuhan

dan

perkembangan

fisik

serta

psikososialnya. Enam bulan pertama kehidupan merupakan masa yang
kritis untuk pertumbuhan otak yang dipengaruhi oleh pertumbuhan
fisik secara keseluruhan. Tahap kematangan menentukan kesiapan bayi
untuk menerima makanan dan kemampuan untuk makan secara
mandiri. Melalui pemberian makanan dan interaksi lain yang
dilakukan, orang tua dan bayi akan menciptakan hubungan timbale
balik yang menyenangkan.
Pertumbuhan paling cepat dalam kehidupan terjadi selama empat
bulan pertama sesudah dilahirkan. Masa empat bulan hingga delapan
bulan berikutnya merupakan masa transisi ke pola pertumbuhan yang
lebih lambat. Pada usia delapan bulan pola tumbuh bayi sama dengan
usia dua tahun. Penilaian pola tumbuh fisik merupakan cara utama
untuk menetapkan status gizi bayi.

3|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

b. Berat badan dan panjang badan.
Berat badan bayi waktu lahir ditentukan oleh riwayat kesehatan
ibu, status giz ibu sebelum dan selama kehamilan, kejadian-kejadian
yang berkaitan dengan kesehatan selama hamil, dan karakteristik
janin. Berat badan ibu sebelum hamil dan penambahan berat badan
bayi pada waktu lahir. Selain proses persalinan, keturunan serta
keadaan lingkungan dan gizi menentukan kecepatan pertumbuhan
bayi dalam hal berat badan dan panjang badan. Segera ssetelah
dilahirkan, terjadi penurunan berat badan bayi yang disebabkan oleh
kehilangan cairan dan beberapa hasil katabolisme jaringan tubuh.
Kehilangan berat bdan ini kurang lebih sebanyak 6% berat badan bayi
baru lahir, namun kadang-kadang dapat melebihi 10%. Berat badan
bayi biasanya kembali seperti semula pada hari kesepuluh, sesudah itu
berat badan bayi bertambah dengan cepat tetapi dengan kecepatan
menurun. Kecepatan tumbuh akan turun secara berarti sesudah bayi
berumur enam bulan. Sebagian besar bayi pada umur empat bulan
mempunyai berat badan dua kali berat badan lahir. Sedangkan pada
usia 12 bulan berat badannya menjadi tiga kali berat badan lahir. Jika
bayi lahir dengan berat badan 3 kg bulan berturut-turut dapat
mencapai 6 kg dan 9 kg. bayi laki-laki biasanya mencapai dua kali
berat badan lahir cepat daripada bayi perempuan, sedangakn bayi lahir
lebih dini daripada bayi dengan berat badan lebih tinggi.
Panjang badan biasanya bertambah sebesar 50% selama tahun
pertama kelahiran. Rata-rata penambahan panjang badan adalah
sebesar 25-30 cm. Bayi dengan panjang badan 75-80 cm pada usia
satu tahun. Kecepatan tumbuh bergantung pula pada suku bangsa.
Bangsa Asia, misalnya, lebih lambat tumbuh daripada bangsa
Kaukasia.

4|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

c. Penilaian pertumbuhan
Bayi sehat diharapkan tumbuh dengan baik, pertumbuhan fisik
merupakan indicator status gizi bayi dan anak. Pertumbuhan bayi
hendaknya dipantau secara teratur. Di Indonesia pemantauan status
gizi bayi dilakukan di Puskesmas atau Posyandu dengan melakukan
penimbangan bayi setiap bulan. Hasilnya dicatat di Kartu Menuju
Sehat (KMS) untuk laki-laki atau untuk perempuan.
Selain berat badan, sebaiknya pemantauan juga dilakukan terhadap
panjang badan dan lingkar kepala. Pengukuran hendaknya dilakuakn
dengan teliti dan dicatat dengan teliti, sehingga peningkatan atau
perlambatan pertumbuhan dapat dimonitor.
d. Perubahan Pada Komposisi Tubuh
Selama pertumbuhan, perubahan tidak hanya terjadi pada berat dan
panjang badan tetapi juga pada komponen-komponen jaringan tubuh.
Peningkatan berat dan panjang badan serta pematangan rangka tubuh
disertai dengan perubhan dalam komposisi air, masa tanpa lemak, dan
massa lemak.
Air tubuh total dalam persen berat badan berkurang selama masa
bayi dari kurang lebih dari kurang lebih 70% waktu lahir menjadi 60%
pada umur satu tahun. Penurunan air tubuh ini seluruhnya terjadi pada
sel-sel ekstraselular. Pada waktu yang sama air intraselular meningkat
sejalan dengan kecepatan pertumbuhna massa tubuh tanpa lemak
menjelang akhir tahun pertama.
Kandungan lemak tahun berkembang secara perlahan dalam janin
lemak merupakan 0,5% berat tubuh pada bulan kelima pertumbuhan
janin dan mencapai 16% pada waktu kelahiran. Setelah lahir lemak
bertambah dengan cepat hingga usia bayi enam bulan, peningkatan
jaringan lemak lebih dari dua kali peningkatan volume otot.
Peningkatan ini berbeda antara laki-laki dan perempuan. Menurut

5|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

presentase

berat

badan, pembentukan

simpanan

lemak

pada

perempuan lebih besar prosen berat badan daripada laki-laki.
e. Perubahan Pada Proporsi Tubuh
Peningkatan berat badan dan panjang badan tubuh disertai dengan
perubahan berarti dalam proporsi tubuh. Proporsi kepala menurun
sementara proporsi badan dan kaki meningkat. Pada waktu dilahirkan,
berat kepala bayi kurang lebih seperempat berat badan total. Pada
waktu

pertumbuhan

berhenti

(dewasa),

kepala

merupakan

seperdelapan dari panjang badan total. Setelah lahir hingga dewasa,
panjang kaki meningkat dari kurang lebih tinggi badan pada usia
dewasa.
f. Perkembangan Psikososial
Pemberian makanan merupakan interaksi dasar yang lambat laun
menyebabkan terjadinya hubungan antara orang tua dan bayi yang
mempengaruhi

perkembangan

psikososial

bayi

selanjutnya.

Tanggapan orang tua terhadap isyarat lapar dan rasa kenyang bayi
serta hubungan fisik yang dekat selama pemberian makanan
membantu perkembangan sehat bayi. Agar pekembangan terjadi
secara optimal, sejak dini bayi hendaknya diberi makan segera setelah
ia menyatakan lapar, sehingga ia tahu bahwa kebutuhannya akan
dipenuhi. Karena percaya bahwa kebutuhannya akan dipenuhi, ia akan
dapat menunggu untuk diberi makan. Bayi hendaknya dipegang akan
dirangkul sewaktu diberi makan.
Kemanapun orang tua untuk mengartikan isyarat dan menawarkan
berbagai pengalaman dalam pemberian makanan, akan menimbulkan
hubungan orang tua dan bayi yang sehat. Bayi lahir dengan
karakteristik yang mempengaruhi tabiatnya secara keseluruhan. Ada
bayi yang mudah tersinggung dan susah untuk ditenangkan; ada bayi

6|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

yang mudah menyesuaikan terhadap jadwal yang teratur, sedangkan
yang lain tidak dapat diduga dan tidak dapat diatur.
Sebaiknya bayi berada dalam keadaan bangun dan tenang ketika
akan diberi makan. Bayi yang tidak tenang dan menangis susah untuk
diberi makan dengan baik. Keadaan tenang dan bangun membantu
interaksi antara orang tua dan bayi lapar dan kenyang merupakan
dasar dalam mengembangkan hubungan antara orang tua dan bayi
yang baik sewaktu pemberian makan. Tanda – tanda ini cepat berubah
selama masa perkembangan anak. Orang tua yang dianggap akan
mengenal perubahan-perubahan ini dan melakukan hal-hal yang
sesuai bagi bayi yang bertumbuh kembang.
g. Pencernaan Dan Absorpsi
Perkembangan fisiologis saluran cerna bayi bergantung pada
berbagai faktor. Di dalam rahim, saluran cerna janin berada dalam
cairan amnion yang mengandung faktor-faktor fisiologis aktif, seperti
faktor-faktor pertumbuhan, hormon-hormon, enzim-enzim cerna yang
meningkatkan kemampuan bayi untuk mencerna dan mengabsorpsi
makanan. Hal ini memegang peranan dalam diferensiasi sel-sel
mukosa dan perkembangan saluran cerna, seerta dalam perkembangan
kemampuan menelan dan kemampuan usus untuk bergerak.
Pencernaan dan absorpsi pada bayi barru lahir membutuhkan: (a)
proses mengisap dan menelan yang terkoordinasi; (b) pengosongan
lambung; (c) daya gerak usus; (d) sekresi-sekresi-sekresi ludah,
lambung, pankreas, dan empedu hati; (e) berfungsinya sel-sel saluran
cerna

guna

mensintesis

enzim-enzim,

pengeluaran

sisa-sisa

pencernaan.
Bayi lahir cukup bulan siap untuk mencerna dan mengabsorpsi
sejumlah zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal
yang berasal dari ASI atau susu formula. Kemampuan mencerrna
seorang bayi meningkat selama tahun pertama kehidupan.

7|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

Pemberian makanan akan merangsang pengeluaran berbagai jenis
hormon yang berkaitan dengan gerakan dan pengembanagn saluran
cerna serta fungsi sel-sel pankreas. Lambung dan usus

yang

berkembang juga meningkatkan kemampuan bayi untuk menangani
berbagai zat gizi dan tekstur makanan.
h. Fungsi saluran cerna
Gerakan esophagus pad bayi baru lahir lebih lambat daripada bayi
dan anak yang lebih besar. Di samping itu pada bulan-bulan pertama
setelah kelahiran. Sfingter yang memisahkan esophagus dari lambang
berada diatas diafragma dan tekanannya lebih kecil. Pada awal
kelahiran, pengosongan lambung mungkin terjadi lebih lambat dan
gerakan usus kurang teratur. Hal ini memungkinkan pencernaan
makanan dan absorpsi zat-zat gizi berjalan dengan baik pada bayi.
Pada bayi, sisa makanan melalui usus besar lebih cepat dari pada usia
dewasa. Bayi mempunyai resiko yang meningkat untuk mengalami
dehidrasi bila sisa makanan terlalu cepat melalui usus besar, sehingga
resorpsi air dan eritrolit didalam usus besar kurang.
i. Enzim
Sekeresi

enzim-enzim

memungkinkan

bayi

mencerna

dan

menabsorpsi susu dan makanan lain yang dikonsumsinya. Pencernaan
dan absorpsi protein terbatas pada bayi yang disebabkan oleh
beberapa factor, yaitu : ( a) PH lambung bayi sedikit membatasi
protein, dan (b) konsentrasi enzim kimotripsin dan karboksipeptidase
dalam usus halus hanya sebanyak 10-60 % orang dewasa. Walaupun
jumlah enzim terbatas, bayi dapat mencerna cukup protein yang
berasal dari ASI atau susu formula.
Akitivitas lipase pancreas rendah pada bayi baru lahir. Hal ini
dapat diatasi oleh lipase yang berasal dari ASI, lidah, dan lambung.
Lemak berasal dari ASI lebih mudah dicernakan dan diabsorpsi

8|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

daripada susu formula. Hal ini disebabkan ASI dan kolostrum
mengandung enzim lipase yang pengeluarannya dirangsang oleh
cairran empedu. Karbohidrat dapat digunakan dengan baik oleh bayi.
Aktivitas enzim-enzim maltase, isomaltase, dan sukrase mencapai
tingkat aktivitas orang dewasa pada saat janin berusia 28 hingga 30
minggu. Lactase pada janin berusia 28 minggu masih rendah, namun
meningkat mendekati kelahiran. Amylase pancreas rendah atau sama
sekali tidak ada hingga bayi berumur empat bulan. Amylase ludah
yang terdapat dalam jumlah sedikit pada waktu lahir meningkat
hingga tingkat orang dewasa sewaktu bayi berusia enam bulan hingga
satu tahun. Kehadiran enzim-enzim glukosidase dan glukoamilase
dalam sel-sel dinding usus halus, memberi kemampuan pada bayi
untuk mencerna pati dalam jumlah terbatas. Enzim-enzim ini
menghidrolisis pati menjadi glukosa.
j. Fungsi Ginjal
Bayi baru lahir mempunyai ginjal yang belum bekerja dengan
sempurna. Kemampuannya untuk memelihara keseimbangan air dan
elektrolit hanya berkisar pada antar batas asupan dan luaran yang
kecil. Perkembangan fungsional nefron baru sempurna pada usia satu
bulan. Tubulanya pendek dan sempit, dan baru akan mencapai ukuran
normal pada usia kurang lebih lima bulan. Disamping itu, kelenjar
pituitari hanya mengeluarkan hormon antidiuretik (ADH) vasopresin
dalam jumlah terbatas, yang biasanya menghalang diuresis. Faktorfaktor ini membatasi kemampuan bayi baru lahir untuk mengentalkan
urin dan untuk menghadapi stress cairan dan elektrolit yang
disebabkan oleh formula yang banyak mengandung elektrolit, asupan
cairan yang terbatas, dan diare.

9|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

2. ANAK < 6 TAHUN
a. Pertumbuhan fisik anak


Laju pertumbuhan
Pertumbuhan cepat pada waktu bayi diikuti penurunan laju
pertumbuhan pada anak usia prasekolah dan usia sekolah. Ratarata kenaikkan berat badan di usia ini sekitar 1,8-2,7 kg setahun,
sedangkan rata-rata penambahan tinggi badannya kurang lebih
7,6 cm setahun pada anak berusia antara satu hingga tujuh tahun,
kemudian meningkat sebanyak kurang lebih 5,1 cmsethaun
hingga awal pertumbuhan cepat pada usia remaja (WorthingtonRobert dan Williams,2000).



Pemantauan pertumbuhan
Pertumbuhan anak hendaknya dipantau secara teratur.
Pemantauan pertumbuhan anak di bawah lima tahun (balita),
mengukur berat badan dan tinggi badan menurut umur dapat
dilakukan sendiri dirumah, posyandu, atau puskesmas dengan
menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS terbaru yang
diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 2008
memuat grafik berat badan menurut umur, yaitu umur 0-24 bulan
dan 24-60 bulan.
Kelebihan atau kekurangan asupan energy dan zat gizi
anak,

atau

kemungkinan

pengaruh

keturunan

terhadap

pertumbuhan, akan terefleksi pad pola pertumbuhannya. Anak
yang kurang makan akan menunjukkan penurunan pada grafik
berat badan menurut umur. Perubahan pada alur grafik berat
badan dapat juga menggambarkan pengaruh keturunan terhadap
pertumbuhan. Bila kekurangan makan cukup berat dan
berlangsung lama, kecepatan pertumbuhan akan berkurang atau
pertumbuhan akan terhenti. Asupan energy yang melebihi
kebutuhan dapat dilihat pada meningkatnya berat badan yang
10 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

melebihi persentil normal. Pemantauan pertumbuhan sebaiknay
dilakukan secara teratur, yaitu sebulan sekali. Di samping itu,
penilaian perkembangan fisik anak hendaknya dilakukan dengan
mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) dan tebal lemak bawah
kulit.


Komposisi tubuh
pada usia prasekolah, persentase massa otot meningkat.
Anak kelihatan semakin langsing dengan bertambahnya umur
dan ukuran lingkar lengan atasnya menurun. Akan tetapi, anak
perempuan mempunyai tebal lemak bawah kulit yang lebih
tinggi daripada anak laki-laki.
Pada usia dua hingga tiga tahun proporsi cairan tubuh sama
seperti usia dewasa. Kelompok usia ini kurang rentan terhadap
dehidrasi

dibandingkan

dengan

bayi,

karena

rasio

luas

permukaan tubuh terhadap massa tubuh menurun. Cairan
ekstraselular menurun, sementara cairan intraselular meningkat
karena tumbuhnya sel-sel baru. Persentase cairan tubuh secara
keseluruhan anak berusia satu hingga tiga tahun kurang lebih
sebanyak 59%, dibandingkan dengan 64% pada usia dewasa
laki-laki.
B. KEBUTUHAN ZAT GIZI BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN
1. BAYI
a. Energi
AKG (2004) untuk bayi berumur 0-6 bulan adalah 550
kkal/hari dan untuk bayi berumur 7-11 bulan 650 kkal/hari. Angka
ini ditetapkan untuk bayi sehat dengan berat badan rata-rata 6,0
dan panjang badan rata-rata 60 cm untuk bayi berumur 0-6 bulan,
dan rata-rata 8,5 kg dan 71 cm untuk bayi berumur 7-11 bulan.
Kebutuhan energi bayi terutama ditetapkan oleh ukuran tubuh,

11 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

aktivitas fisik, dan kecepatan pertumbuhan. Kebutuhan energy
sehari meningkat selama tahun pertama, akan tetapi kebutuhan
energy per unit ukuran tubuh turun sesuai dengan perubahan pada
kecepatan tumbuh bayi. Pengaruh aktivitas fisik terhadap
pengeluaran energy berbeda untuk tiap bayi, namun rata-rata
meningkat seiring dengan meningkatnya umur sesuai dengan
perkembangan keterampilan motorik. Ada bayi yang diam dan
tenang, ada pula yang lebih banyak bergerak dan menangis. Cara
paling baik untuk menilai kecukupan asupan energy bayi adalah
dengan memonitor perkembangan berat badan dan panjang badan
bayi. Kurva berat badan dan panjang bayi mengikuti umur (0-12
bulan) menurut standar WHO (2005).
b. Protein
Bayi membutuhkan protein untuk mensintesis jaringan baru
yang diperlukan untuk pertumbuhan serta mansintesis enzim,
hormon, dan berbagai ikatan fisiologis penting lainnya. Kandungn
protein tubuh meningkat sebanyak kurang lebih 11% hingga 15%
selama tahun pertama. AKG protein (2004) untuk bayi berumur 711 bulan sebanyak 16g/hari.
c. Lemak
Lemak merupakan zat gizi penghasil energi yang paling
tinggi konsentrasinya. Lemak kurang lebih meliputi 50% energi
yang diperoleh bayi apabila ASI atau susu formula merupakan
satu-satunya sumber zat gizi yang diperolehnya. Energi yang
diperoleh dari lemak menghemat protein agar digunakan untuk
sintesis jaringan. Dengan diberikannya makanan pendamping ASI
(MP-ASI) kepada bayi pada usia enam bulan, persen energi berasal
dari lemak ini akan menurun. Proporsi lemak energi akan

12 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

meningkat bila bayi secara berangsur memakan makanan keluarga
yang mengandung lemak tinggi.
d. Asam Lemak
Untuk

menjaga

pertumbuhan

dan

perkembangan

neurologis, hendaknya makanan bayi mengandung cukup asam
lemak esensial berupa asam linoleat dan linolenat. Kekurangan
asam linoleat menyebabkan kulit bersisik, rambut rontok, diare,
dan luka sukar sembuh. Kandungan energi ASI sebanyak 3-7%
berasal dari asam linoleat.
Asam lemak esensial merupakan prekursor asam lemak
rantai panjang lain yang diperlukan untuk fungsi normal sel.
Manusia mempunyai kemampuan unntuk membuat asam lemak ini
bila asam lemak esensial tersedia dalam jumlah cukup.
Kemampuan ini hanya dimiliki bayi secara terbatas , terutama pada
bayi yang lahir sebelum waktunya (prematur).
Jaringan otak dan jaringan saraf lain pada janin dan bayi
selama enam bulan sesudah lahir banyak mengandung asam lemak
dokosaheksanoat (DHA). Bayi mempunyai kemampuan terbatas
untuk mensintesis DHA dari asma lemak linoleat. Karena itulah
lebih tingginya tingkat kecerdasan anak yang diberi ASI mungkin
disebabkan oleh ketersediaan DHA yang cukup didalam ASI.
Banyak hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan
visual pada bayi yang mendapat susu formula dengan penambahan
DHA. Namun, beberapa hasil penelitian menunjukkan penambahan
DHA pada susu formula untuk bayi prematur menunjukkan laju
pertumbuhan yang lebih rendah. Yang paling utama yang perlu
diperhatikan adalah keseimbangan antara asam lemak w-3 dan w-6.
e. Air

13 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Bayi membutuhkan air per unit ukuran tubuh yang lebih
tinggi dari pada orang dewasa.sebagian besar air berada di dalam
ruangan ekstraseluler. Ginjal bayi belum berfungsi dengan
sempurna. Kedua hal ini menyebabkan bayi rentan terhadap
ketidakseimbangan air. Kebutuhan air di tetapkan oleh jumlah air
yang dikeluarkan,kebutuhan air untuk pertumbuhan,dan cairan di
peroleh dari makanan.
Kehilangan air terjdi melalui penguapan melalui kulit dan
saluran pernapasan( kehilangan air tidak terasa),melalui keringat,
urine dan feses. Selama pertumbuhan,diperlukan tambahan
air,karena air merupakan bagian dari jaringan untuk ertambahan
cairan tubuh.
Kehilangan air pada bayi dan anak-anak melalui penguapan
merupakan lebih dari 60% dari asupan air yang diperlukan untuk
menjaga keseimbangan tubuh ( homeostasis).untuk orang dewasa
angka ini adalah 40-50 %.

Semua umur,kurang lebih 24%

kehilangan panas basal terjadi melalui penguapan melalui kulit dan
saluran pernapasan. Ini sama dengan 45 ml kehilangan air yang
tidak terasa. Pada seratus kkal energy yang dikeluarkan.
Kehilangan air melalui penguapan pada bayi berusia satu bulan
diperkirakan sebanyak 110 ml per hari, sedangakan pada usia 1 th
sebanyak 500 ml perhari. Kehilangan air melalui penguapan
meningkatakan dengan kenaikan suhu tubuh ( demam ) dan
kenaikan suhu udara. Kenaikan kelembaban udara menurunkan
pengeluaran air melalui pernafasan. Kehilanga air pada bayi
diperkirakan sebanyak 10 ml per kg berat badan. Kebutuhan air
bayi yang dianjurkan adalah sebanyak 1,5 mg per kkal energy yang
dibutuhkan. Bila bayi diberi terlalu banyak air, dapat menimbulkan
keracuanan

air

yang

menyebabkan

hiponatremia,

mudah

tersinggung dan tidak sadarkan diri ( koma ). Dalam keadaan

14 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

normal bayi yang mendapatkan ASI atau susu formula saja selama
6 bln pertama kelahiran tidak membutuhkan tambahan air.
f. Mineral dan Vitamin
Kebutuhan mineral dan vitamin dipengaruhi oleh kecepatan
tumbuh, mineralisasi tulang; peningkatan penjang tulang dan
volume darah, serta asupan energy, protein, dan lemak. AKG tahun
2004 untuk kalsium, fosfor, magnesium, vitamin A, D, E,
K,tiamin, riboplavin, niasin, asam folat, piridoksin, vitamin B12
dan vitamin c.
g. Kalsium dan Fosfor
AKG (2004) untuk kalsium dan fosfor didasarkan
penagamatan terhadap bayi yang terutama mendapat ASI.
Kalsium yang berasal dari ASI dapat diabsorpsi dengan baik.
Kurang lebih 61 % kalsium berasal dari ASI diabsorpsi bayi,
sedngkan kalsium dari susu formula komersial mengandung
kalsium lebih tinggi daripada ASI untuk kompensasi absorpsi
yang lebih rendah ini.
Diwaktu yang lalu banyak perhatian diberikan terhadap
perbandiingan antara jumlah kalsium dn fosfor (Ca.P) yang
dikonsumsi. Bayi sehat ternyata dapat menyesuaikan diri terhadap
banyaknya fosfor yang dikonsumsi, sehingga jumlah asupan
fosfor dari susu formula tidak perlu dipermasalahkan.
h. Besi
Tidak ada catatan tentang angka Anemi Gizi Besi pada bayi
di Indonesia. Angka Anemi Gizi Besi untuk balita pada tahun 2001
sebesar 48,1% (Atmarita dan Tatang S. Falah dalam Prosiding
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2014). Bayi yang
mendapat ASI atau susu formula yan g difortifikasi dengan besi

15 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

diharapkan tidak mengalami Anemi Gizi Besi. Bayi kemungkinan
menderita Anemi Gizi Besi bila tidak mendapat ASI atau mendapat
susu formula yang tidak difortifikasi dengan besi, dan tidak
mendapat asupan MP-ASI yang cukup mengandung besi pada
umur enam bulan keatas. Kekurangan besi pada bayi dapat
menimbulkan akibat jangka panjang.
Kebutuhan bayi akan besi dipenuhi oleh dua sumber, yaitu
simpanan prenatal dan sumber makanan. Sebelum lahir, janin
menumpuk besi selama trimester terakhir kehamilan. Bayi lahir
premature hanya sedikit mempunyai simpanan besi, yang segera
habis setelah lahir. Bayi yang tumbuh dengan cepat mempunyai
risiko tinggi menderita kekurangan besi, karena pertumbuhan
disertai

dengan

penambahan

volume

darah.

Konsentrasi

hemoglobin pada waktu lahir rata-rata sebesar 17-19 g/100 ml
darah. Selama enam hingga delapan minggu sesudah lahir.
Konsentrasi ini turun hingga rata-rata 10-11 g/100 ml darah Karena
menurunnya rentang hidup dan berkurangnya pembentukkan sel
darah merah. Setelah ini, secara berangsur terjadi peningkatan
konsentrasi Hb hingga 13 g/100 ml sampai usia dua tahun.
Di awal kehidupan, bayi lahir cukup bulan yang sehat dapat
mempertahankan kadar Hb normal tanpa penambahan suplemen
besi. Akan tetapi, apabila sesudah enam bulan kelahiran mereka
hanya mendapat ASI, mereka mempunyai resiko mengalami
keseimbangan besi negative dan kehibisan simpanan besi. Susu
formula pada umumnya difortifikasi dengan besi berupa fero
sulfat.
i. Seng
Dibandingkan dengan besi, tidak bayak diketahui tentang
kebutuhan dan absorpsi seng pada bayi. Bayi tampaknya
menyesuaikan diri dengan berbagai tingkat asupan seng dengan

16 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

cara meningkatkan atau menurunkan tingkat absorpsinya. Tingkat
absorpsi seng yang berasal dari susu formula dilaporkan berkisar
antara 41 % pada asupan total seng rendah hingga 17% pada
asupan total seng tinggi.
j. Fluor
Konsumsi flour yang cukup diperlukan untuk pembentukan
gigi. Sebaliknya kelebihan flour dapat menimbulkan florosis.
Kecukupan flour tubuh hendaknya diperiksa pada usia 6 bln. Bila
konsumsi flour rendah, sebaiknya bayi diberikan suplemen flour.
Kandungan lour ASI sangat rendah. Di Indonesia penggunaan air
minum yang ditambahkan flour belum merata, namun belum ada
anjuran untuk member suplemen flour pada bayi.
k. Vitamin A
Sejak tahun 1962 kekurangan vit A tidak merupakan
masalah nasional di Indonesia. ASI, susu formula, dan susu sapi
merupakan sumber baik vit A. vit A diperlukan bayi untuk
penglihatan normal, mencegah infeksi, untuk pertumbuhan dan
perkembangan. Untuk pencegahan dianjurkan pemberian suplemen
vit A dosis tinggi( 100.000 SI ) satu kali pada bayi berumur 6-12
bln.
l. Vitamin D
Vitamin D bersama dengan kalsium, fosfor, dan protein berfungsi
dalam pembentukan tulang. Bayi yang tinggal didaerah tropis,
termasuk Indonesia jarang mengalami kekurangan vit D karena vit D
dapat dibentuk dibawah kulit bila terkena sinar matahari. Oleh sebab
itulah bayi perlu kena sinar matahari tiap pagi.

17 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

m. Vitamin E
Vit E merupakan antioksidan yag diperlukan untuk memelihara
keutuhan dinding sel tubuh. Angka kecukupan vit E sehari ( 2004 )
bagi bayi berumur 0,6 bln adalah 4 mg sedangkan bagi bayi berumur
7-11 bln sejumlah 5 mg. ASI mengandung cukup vit E.
n. Vitamin K
Vit K diperlukan untuk pembekuan ( koagulasi ) darah dalam
proses fisiologis. Pada waktu lahir, bayi mempunyai simpanan vit k
yang rendah sehingga beresiko tinggi mengalami pendarahan , yang
dapat terjadi dua hingga sepuluh hari sesudah lahir. Bayi yang
mendapat ASI beresiko lebih tinggi untuk mengalaminya. Oleh sebab
itu dianjurkan memberi bayi sebanyak 1 mg vit k melalui suntikan
intramuscular segera setelah lahir.
o. Vitamin Larut Air
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2004 menetapkan
AKG untuk tujuh jenis vitamin larut air yaitu tiamin (B1), ribiflavin
(B2), niasin (B3), piridoksin (B6), folat (B11), sianokobalamin (B12),
dan asam askorbat (vitamin C). Kebutuhan bayi didasarkan atas asupan
rata-rata sehari yang diperoleh dari ASI. Pertimbangan yang diambil
dalam penentuan ini adalah: (1) kebutuhan akan tiamin dan riboflamin
berhubungan dengan asupan energi karena peranannya sebagai
koenzim dalam metabolisme energi; (2) karena triptofan dapat dirubah
menjadi niasin, penetapan kebutuhan dasar akan niasin sulit dilakukan.
ASI mengandung 1,5 mg niasin dan 210 mg triptofan per loter; (3)
piridoksin

mempunyai

fungsi

sebagai

faktor

koenzim

dalam

metabolisme asam amino dan lipida, serta merupakan komponen kunci
dari struktur genetik DNA dalam inti sel. Kebutuhan akan piridoksin
meningkat sesuai dengan peningkatan asupan protein; (4) kobalamin
(vitamin B12) terutama terdapat dalam makanan hewani. Tanda-tanda

18 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

kekurangan vitamin B12 terlihat pada bayi yang ibunya mengikuti diet
vegetarian atau yang mengalami anemi pernisiosa; (5) simpanan folat
dalam tubuh bayi waktu lahir sangat sedikit dan cepat habis. Folat
dalam serum dan eritrosit turun di bawah nilai folat orang dewasa
setelah bayi berumur dua minggu dan tetap pada nilai tersebut selama
tahun pertama kehidupan. Kebutuhan folat bayi dapat dipenuhi melalui
ASI dan susu formula; (6) bayi baru lahir yang mengkonsumsi
sebanyak 7 hingga 12 mg/hari vitamin C dapat dilindungi dari scurvy.
Asupan sebanyak 30 mg/hari, berdasarkan jumlah yang dapat dipenuhi
ASI, dianjurkan selama enam bulan pertama kehidupan. Bayi yang
mendapat ASI atau susu formula memperoleh cukup vitamin C.
2. ANAK < 6 TAHUN
a. Pertumbuhan dalam keadaan khusus
Pada pertumbuhan dalam keadaan khusus, misalnya pada masa
penyembuhan setelah sakit atau luka, kebutuhan energy dan zat gizi
meningkat. Selama periode tersebut, kebutuhan energy anak usia
prasekolah dianjurkan antara 150-250 kkal/kg berat badan/hari.
Asupan 200 kkal/kg berat badan/hari dapat menaikkan berat badan
sebanyak 20 g/hari.
b. Protein
Kebutuhan protein anak termasuk untuk pemeliharaan jaringan,
perubahan komposisi tubuh, dan pembentukkan jaringan baru. Selama
pertumbuhan, kadar protein tubuh meningkat dari 14,6% pada umur
satu tahun menjadi 18-19% pada umur empat tahun, yang sama
dengan kadar protein orang dewasa. Kebutuhan protein untuk
pertumbuhan diperkirakan berkisar antara 1-4 g/kg penambahan
jaringan tubuh.
Angka kecukupan protein (AKG, 2004) yang dianjurkan untuk
kelompok anak usia 1-3 tahun, 4-6 tahun,, berturut-turut adalah 25

19 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

gram, 39 gram dan 45 gram per orang per hari. Angka kecukupan
protein (AKP) didasarkan pada rata-rata kebutuhan protein dikalikan
dengan koreksi mutu protein, yaitu 1,2. Angka 1,2 diperoleh
berdasarkan kenyataan bahwa konsumsi pangan hewani di Indonesia
hanya sekitar 4% dari asupan energy total, sehingga mutu protein
diasumsikkan sebesar 85% . factor koreksi sebesar 1,2 menurunkan
AKP anak secara bertahap dari 1,2 g/kg berat badan pada umur satu
tahun menjadi 0,95% g/kg berta badan pada umur 10 tahun.
Penilaian terhadap asupan protein anak harus didasarkan pada :
(1) Kecukupan untuk pertumbuhan, (2) mutu protein yang dimakan, (3)
kombinasi makanan dengan kandungan asam amino esensial yang
saling melengkapi bila dimakan bersama, (4) kecukupan asupan
vitamin, mineral dan energy. Kekurangan asupan protein masih
merupakan salah satu masalah gizi pada anak di Indonesia. Prevalensi
Gizi Buruk berdasarkan riskesdas 2007 pada anak usia di bawah lima
tahun (balita) adalah 5,4%, sedangkan Gizi kurang 13,0% (Depkes,
2008).
c. Mineral
Mineral penting untuk proses tumbuh kembang, secara normal.
Kekurangan konsumsi telihat pada laju pertumbuhan yang lambat,
mineralisasi tulang yang tidak cukup, cadangan besi yang kurang, dan
anemia.

d. Kalsium
Kalsium penting untuk pertumbuhan dan mineralisasi tulang dan
gigi. Lebih dari 98% kalsium tubuh terdapat dalam tulang dan gigi.
Upaya untuk menetapkan anjuran asupan kalsium sehari untuk anak
telah menyebabkan kotroversi selama bertahun-tahun. Jenis makanan
yang dikonsumsi berpengaruh terhadap absorpsi kalsium, sedangkan

20 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

jumlah kalsium yang didapat dimanfaatkan oleh tubuh, bergantung
dari ketersediaan biologisnya. Absorpsi kalsium berfluktuasi antara
30-60% dari asupan. Laktosa dalam susu meningkatkan absorpsi
kalsium, sedangkan pengikat berupa asam fitat dan asam oksalat
menurunkan

absorpsi,

pengeluaran

kalsium

tingkat
melalui

asupan
urine.

protein
Apabila

mempengaruhi
asupan

protein

meningkat, maka jumlah kalsium yang dikeluarkan melalui urine
meningkat.
Penambahan kalsium rata-rata sehari hendaknya berkisar antara 150200 mg, puncaknya adalah sebanyak 400 mg/hari dalam periode
pertumbuhan cepat. Angka kecukupan kalsium untuk anak berkisar
antara 500-600 mg/hari. Anak memerlukan kalsium dua sampai empat
kali lebih besar per unir berat badan dibandingkan orang dewasa.
Asupan kalsium rendah memperlambat laju pertumbuhan dan
mineralisasi tulang dan gigi. Namun efisiensi absorpsi dan
penyimpanan kalsium meningkat dengan asupan kalsium yang rendah
dan kebutuhan biologis yang tinggi.
Bahan makanan sumber kalsium utama adalah susu dan hasil
olahannya, yang mempunyai ketersediaan biologis tinggi. Anak yang
kurang mengkonsumsi produk-produk tersebut mempunyai resiko
mengalami kekurangan asupan kalsium. Sumber kalsium lain adalah
ikan yang dimakan dengan tulang ( teri, dan ika duri lunak ). Serealia,
kacang-kacangan, seperti tempe, dan tahu serta sayuran hijau
merupakan sumber kalsium yang baik juga, tetapi dengan ketersediaan
biologis rendah karena mengandung zat-zat yang menghalangi
absorpsi kalsium seperti serat, asam fitat, dan asam oksalat.
e. Besi
Angka kecukupan besi yang dianjurkan untuk anak usia 1-3
tahun didasarkan pada median kebutuhan besi sebanyak 4,6 mg/hari;
dengan asumsi penyerapan besi sebesar 7,5 % maka kecukupan besi

21 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

menjadi 8,0 mg/hari. Bagi anak usia 4-6 tahun dengan median
kebutuhan besi sebanyak 5 mg/hari dan asumsi penyerapan sebesar
7,5% , kecukupan besinya menjadi 9,0 mg/hari. Bagi anak usia 7-9
tahun dengan median kebututhan besi sebanyak 7,1 mg/hari dan
asumsi penyerapan sebesar 7,5% maka kecukupan besinya menjadi
10,0 mg/hari.
Kekurangan besi merupakan salah satu gizi pada anak di
Indonesia. Defisiensi besi disebabkan kekurangan asupan besi,
gangguan penyerapan, pendarahan, atau kehilangan darah berulang2.
Anemia gizi pada anak usia prasekolah dapat menyebabkan
tertundanya perkembangan fisik dan mental serta menurunya
resistensi terhadap infeksi.
Kebutuhan besi pada anak bervariasi ,menurut tingkat
pertumbuhan, peningkatan total massa besi, penyimpanan besi. Anak
yang lebih besar dan tumbuh lebih cepat memerlukan besi lebih
banyak karena volume darahnya meningkat lrbih cepat. Sumber besi
dalam makanan hewani adalah daging, hati, ungags, dan ikan. Dalam
makanan nabati adalah kacang-kacangan dan hasil olahanya, sayuran
hijau, dna rumput laut. Besi dalam makanan hewani terdapat dalam
bentuk hem, sedangkan yang terdapat dalam makanan adalah
makanan nabati dalam bentuk non hem. Ketersediaan biologis besi
dalam bentuk hem lebih tinggi daripada besi non hem. Konsumsi
makanan yang kaya vit c, seperti sayur dan buah dapat membantu
absorbpsi non hem. Absorpsi besi menurun oleh adanya antacid, teh,
dan serat kasar. Anak-anak yang mempunyai resiko kekurangan besi
dianjurkan untuk mendapat suplemen besi seminggu sekali. Hal ini
dapat meningkatkan nafsu makan, mempercepat pertumbuhan, serta
perkembangan psikomotor dan metal.
Pada anak usia 2-3 tahun, cara terbaik untuk meramalkan statius
besi anak adalah dengan memperhatikan status besi anak pada usia 1
tahun. Bila status besi rendah,perlu menambah konsumsi makanan,

22 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

sumber besi, terutama yang berasal dari hewan untuk mencegah
terjadinya anemia gizi besi. Anak prasekolah belum mempunyai otot
mulut yang kuat untuk mengunyah daging, kecuali bila diberikan
dalam bentuk dicincang/digiling. Hati merupakan sumber besi tebaik.
Bagi anak-anak yang asupan besinya terbatas, perlu dipertimbangkan
untuk memberi suplemen besi.
f. Seng
Angka kecukupan seng anak umur 1-3 th, didasarkan pada
kebutuhan rata-rata normative sebesar 0,4 mg /kg BB/hari
( Ketersediaan biologis 15%) dengan berat badan 12 kg adalah sebesar
8,3 mg/hari. Angka kecukupan seng bagi anak umur 4-6 tahun
didasarkan pada kebutuhan rata-rata normative sebesar 0,38 mg/kg
BB/hari ( Ketersediaan biologis 15%) dengan BB 18 kg adalah 10,3
mg/hari. Seng merupakan bagian dari enzim-enzim yang berperan
dalam berbagai aspek metabolism, seperti reaksi-reaksi yang berkaitan
dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida, dan asam
nukleat. Seng mempunyai peran penting dalam proses pertumbuhan,
fungsi kognitif, pemantangan sek, fungsi kekebalan, dan pemunahan
radikal bebas. Variasi konsentrasi seng dalam plasma selama
pertumbuhan menunjukkan penggunaan dan kehilangan simpanan
seng yang terjadi secara terus menurus kekurangan seng mempunyai
konsentrasi serius, seperti terganggunya indera perasa, hambatan
pertumbuhan, diare, luka sukar sembuh, dan menurunnya fungsi
kekebalan. Pertumbuhan anak yang kurang baik pada penduduk
miskin antara lain mungkin, disebabkan oleh kekurangan asupan seng.
Anak dengan status seng rendah dapat menyerap seng lebih efisien
dibandingkan anak dengan status seng baik. Ketersediaan biologis
seng bervariasi menurut sumber makan.

Seng didalam makanan

hewani,seperti daging, ikan, dan kerang lebih mudah diserap daripada
yang terdapat dalam makanan nabati seperti serelia. Serat dan asam

23 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

fitat dalam makanan nabati makanan nabati menghambat ketersediaan
biologis seng.
g. Yodium
Angka kecukupan yodium anak berusia satu tahun keatas
ditetapkan berdasarkan Recommended Dietary Allowance (RDA)
yang dikeluarkan oleh National Research AS. Angka kecukupan
yodium anak usia 1-3 tahun didasarkan pada kebutuhan yodium 10
mcg/kg berat badan/hari. Dengan rata-rata berat badan 12kg, maka
angka kecukupan yodium kelompok umur ini adalah 120 mcg/hari.
Angka kecukupan yodium anak usia 4-6 tahun didasarkna pada
kebutuhan yodium 8mcg/kg berat badan/hari. Dengan rata-rata berat
badan 18 kg, angka kecukupan yodium kelompopk umur ini adalah
120mcg/hari. Angka kecukupan yodium anak usia 7-9 tahun
didasarkan pada kebutuhan yodium 4 mg/kg berat badan /hari. Dengan
rata-rata berat badan 25 kg, angka kecukupan yodium kelompok umur
ini adalah 120 mcg/hari.
Kekurangan yodium banyak terdapat di daerah

pegunungan,

karena sumber utama yodium adalahh air laut. Hasil lautt seperti ikan,
udang, dan kerang , rumput laut serta tanaman yang tumbuh di daerha
pantai merupakan sumber yodium. Penanggulangan kekurangan
yodium adalah melalui fortifikasi garam dapur dengan yodium yang
telah dilakukan di Indonesia.
h. Vitamin
Fungsi vitamin adalah untuk membantu proses metabolisme, yang
berarti kebutuhannya ditentukan oleh asupan energi, karbohidrat,
protein, dan lemak. Kebutuhan vitamin yang pasti sukar diterapkan.
Angka kecukipan vitamin diperoleh dari interpolasi kecukupan bayi
dan orang dewasa , atau dihitung, berdasarkan angka kecukupan
energi dan protein.

24 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

C. ANGKA KECUKUPAN ZAT GIZI BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN
1. BAYI
Angka Kecukupan Gizi Bayi
Perkiraan kebutuhan energi dan zat-zat gizi bayi dilakukan dari pencatatan asupan
bayi yang tumbuh normal dan dari kandungan zat gizi ASI. Karena pertumbuhan
bayi menurun selama bagian akhir tahun pertama setelah lahir, AKG yang
dianjurkan untuk bayi ditetapkan untuk dua periode enam bulan dari lahir hingga
enam bulan dan dari tujuh bulan hingga sebelas bulan. AKG (2004) bayi 0-6 bulan
dan 7-11 bulan dapat dilihat pada tabel 5.1.
Tabel 5.1 Angka Kecukupan Gizi Bayi

Zat Gizi

umur
0 - 6 bulan

7 - 11 bulan

Energi (kkal)

550

650

Protein (gram)

10

16

Vitamin A (RE)

375

400

Vitamin D (ug)

5

5

Vitamin E ( mg)

4

5

Vitamin K (mg)

5

10

Tiamin (mg)

0,3

0,4

Riboflavin (mg)

0,3

0,4

Niasin (mg)

2

4

Asam Folat (ug)

65

80

Piridoksin (mg)

0,1

0,3

Vitamin B12 (ug)

0,4

0,5

25 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Vitamin C (mg)

40

40

Kalsium (mg)

200

400

Fosfor (mg)

100

225

Besi (mg)

0,5

7

Yodium (mg)

90

120

Seng (mg)

1,3

7,9

Selenium (ug)

5

10

Mangan (mg)

0,003

0,6

Flour (mg)

0,01

0,4

2. ANAK USIA < 6 TAHUN
Angka kecukupan energy anak berasal dari rata-rata kebutuhan energy
anak sehat yang tumbuh secara memuaskan; sedangkan angka
kecukupan zat-zat gizi didasarkan atas beberapa hasil penelitian yang
terutama dikembangkan dari kebutuhan bayi dan orang dewasa.
Perbedaan kecukupan zat gizi antar kelompok anak cukup besar,
sehinga angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk anak dibagi
menjadi tiga kelompok yaitu : anak usia 1-3 tahun dengan rata-rata
berat badan 12,0 kg dan tinggi badan 90 cm; anak usia 4-6 tahu
dengan rata-rata berat baddan 17,0 kg dan tinggi badan 110 cm; dan
anak usia 7-9 tahun dengan rata-rata berat badan 25,0 kg dan tinggi
badan 120 cm.
Energi
Angka kecukupan enerrgi (AKG, 2004) anak usia 1-3 tahun, 4-6 tahun
secara berturut-turut adalah 1000 kkal, 1550 kkal, 1800 kkal.

26 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Tabel 6.5 Angka Kecukupan Gizi Anak
Zat Gizi

Usia
1 - 3 tahun

4 - 6 tahun

Energi (kkal)

1000

1550

Protein (gram)

25

39

Vitamin A (RE)

400

450

Vitamin D (ug)

5

5

Vitamin E (mg)

6

7

Vitamin K ( ug)

15

20

Tiamin (ug)

0,5

0,6

Riboflavin (mg)

0,5

0,6

Niacin (mg)

6

8

Asam folat (ug)

150

200

Piridoksin (mg)

0,5

0,6

Vitamin B12(ug)

0,9

1,2

Vitamin C (mg)

40

45

Kalsium (mg)

500

500

Fosfor (mg)

400

400

Magnesium (mg)

60

90

Besi (mg)

8

9

27 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Yodium (ug)

120

120

Seng (mg)

8,3

10,3

Selenium (ug)

17

20

Mangan (mg)

1,2

1,5

Flour (mg)

0,6

0,9

D. PENENTUAN STATUS GIZI PADA BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN
1. BAYI
a. Pengukuran Panjang Badan
Pengukuran ini digunakan untuk mengukur panjang badan bagi
anak yang berusia <2 tahun dan panjang badan <50 cm serta
menggunakanalat ukur panjang badan. Menggunakan alat dari
papan kayu yang dikenal dengan nama Length Board.
b. Penimbangan Berat Badan
Status gizi bayi juga ditentukan menuru berat badan, salah satu alat
ukur yang digunakan adalah dacin. Dalam menggunakan dacin
harus memenuhi tahap-tahap yang jelas, karena hasil pembacaan
dari

timbangan

tersebut

akan

mempengaruhi

pengambilan

keputusan oleh petugas kesehatan, apakah bayi tersebut memiliki
pertumbuhan yang baik atau tidak, serta keputusan untuk jenis
intervensi yang tepat untuk bayi tersebut.
2. ANAK < 6 TAHUN
a. Penentuan Status Gizi
Pada prinsipnya, penentuan status gizi anak serupa dengan
penilainan pada periode kehidupan lain. Pemeriksaanyang perlu
lebih diperhatikan tentu saja bergantung pada bentuk kelainan yang
bertalian dengan kejadian penyakit tertentu. Kurang kalori protein,
misalkan lazim menjankiti anak. Oleh karena itu, pemeriksaan

28 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

terhadap tanda dan gejala kea rah sana termasuk pula kelainan lain
yang menyertainnya, perlu dipertajam.
Pemeriksaan Klinis, diarahkan untuk mencari kemungkinan
adanya bintik bitot, xerosis konjungtiva, anemia, pembesaran
kelenjar parotis, kheilosis anagular, fluorosis, karies, gondok, serta
hepato dan splenomegaly.
Penilaian Antropometris yang penting dilakukan ialah
penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan, lingkar lengan,
dan lipatan kulit triseps. Pemeriksaan ini penting, terutama pada
anak prasekolah yang berkelas ekonomi dan social rendah.
Pengamatan anak usia sekolah dipusatkan terutama padda
percepatan tumbuh. Uji pertumbahan pada golongan usia ini
setidaknya

diselenggarakan

setahun

sekali,

karena

laju

pertumbuhan pada fase ini relative lambat. Sebagai plankton,
pertambahan berat anak usia 5 – 10 tahun berkisar sampai 10%
nya, sementara tinggi badan hanya bertambah sekitar 2 cm setahun.
Uji biokimiawi yang penting ialah pemeriksaan kadar
hemoglobin, serta pemeriksaan apusan darah untuk malaria.
Pemeriksaan tinja cukup hanya pemeriksaan occult blood dan telur
cacing saja.

E. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI
BAYI DAN ANAK USIA < 6 TAHUN
a. Penerimaan Makanan
Penerimaan terhadap makanan dipengaruhi

oleh berbagai factor,

seperti status gizi, tingkat kekenyangan, rasa makanan, pengalaman,
masa lalu, dan kepercayaan terhadap makanan tertentu.
b. Pengaruh Orang tua

29 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Orang tua berpengaruh terhadap perilaku makan anak. Sehingga status
gizi bayi dan anak akan dipengaruhi oleh karaktertik orang tua sendiri
termasuk dari segi pengetahuan, interaksi, model (kebiasaan makan),
serta tekanan-tekanan dari orang tua.

c. Jumlah Makanan yang dikonsumsi
Bila anak sehat dengan keadaan gizi baik ditawari berbagai makanan
bergizi dan mereka diizinkan makan dalam jumlah makanan yang
mereka inginkan, mereka akan mengkonsumsi makanan, dalam jumlah
energy yang sesui.
d. Pengaruh Media
Kebanyakan anak-anak menghabiskan banyak waktu ketika didepan
TV, sehingga berpengaruh terhadap perilaku anak, termasuk terhadap
pola makanannya.
F. MASALAH GIZI PADA BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN
Masalah

gizi

dan

masalah

kesehatan

masalah giz dan kesehatan pada anak umumnya adalah gizi buruk, gizi
kurang, gizi lebih, masalah pendek, anemia kurang besi, dan karies gigi.
Kurang vitamin A (KVA) dan gangguan akibat kekurangan yodium
(GAKY) juga masih merupakan masalah gizi pada anak-anak di Indonesia.
Banyaknya penggunaan bahan tambahan makanan seperti penambah rasa,
zat pengawet, pewarna, dan pemanis perlu diwaspadai karena sering
digunakan melebihi batas aman untuk kesehatan. Bahan berbahaya yang
tidak diizinkan berupa bahan pewarna, misalnya, rodamin yang seringt
digunakan untuk pewarna makanan dan minuman, formalin untuk
pengawet ikan, ayam, dan tahu serta boraks untuk mengenyalkan bakso.

30 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

a. Gizi kurang, gizi buruk dan gizi lebih
Status gizi anak usia balita diukur berdasarkan umur (U), berat
badan (BB), dan tinggi badan (TB). Prevalensi gizi buruk, gizi kurang, gizi
baik, dan gizi lebih yang didasarkan pada indicator berat badan menurut
umur (BB/U) pada balita dari tahun 1990 hingga tahun 2003. Berdasarkan
Hasil survey susenas dari tahun 1998 hinnga tahun 2000, ada penurunan
prevalensi gizi buruk dari 10,1% menjadi 7,53% dan gizi kurang dari
19,00% menjadi 17,13%. Namun dari tahun 2001 hingga tahun 2005,
prevalensi gizi kurang dan gizi buruk justru meningkat, prevalensi gizi
buruk yang pada tahun 2001 adalah 6,30% meningkat menjadi 8,80% pada
tahun 2005, sedangkan prevalensi gizi kurang meningkat menjadi 19,80%
menjadi 28,00%. Angka-angka ini menurun pada tahun 2007 yaitu
prevalensi gizi kurang 13,00% dan gizi buruk 5,40%. Pada tahun 2010,
prevalensi gizi kurang tetap (13,00%) sedangkan gizi buruk turun menjadi
4,90%. Prevalensi gizi lebih naik menjadi 5,80%. Indicator BB/U
memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum dan tidak
spesifik.
Sedangakan status gizi balita berdasarkan indicator TB/U
menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis, yang merupakan akibat
keadaan kekurangan gizi dalam jangka waktu panjang misalnya karena
kemiskinan, pola asuh yang tidak tepat, dan sering menderita penyakit
secara berulang. Indicator TB/U dinyatakan dalam tinggi badan normal,
pendek dan sangat pendek. Balita yang termasuk kategori sangat pendek
pada tahun 2010 sebanyak 18,5% dan yang pendek sebanyak 17,1% .
apabila status pendek dan sangat pendek digabung menjadi satu kategori
masalah pendek , angkanya menjadi 35,6%, sehingga merupakan masalah
nasional yang serius.
Indicator lain yang digunakan untuk menilai status gizi balita
adalah BB/TB, yang menggambarkan status gizi yang sifatnya akut
sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam jangka waktu pendek,
seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare.

31 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Indicator BB/TB digunakan untuk menyatakan kurus, sangat kurus dan
gemuk. Menurut riskesdas 2010, prevalensi sangat kurus pada balita pada
tahun 2010 adalah 6,0% dan prevalensi kurus adalah 7,3%, sedangkan
prevalensi kegemukan adalah 14,0%. Status gizi anak dengan prevalensi
kurus pada anak laki-laki adalah 13,2%, sedangkan pada anak perempuan
adalah 11,2%. Sedangkan prevalensi berat badan lebih gemuk adalah
10,7% pada anak laki-laki dan 7,7% pada anak perempuan.
b. Anemia gizi besi
Hingga saat ini belum ada data tenyang prevelansi anemi gizi besi pada
anak secara nasional. Data yang ada adalah prevalensi anemi secara
umum. Sebanyak 70,1% anemia pada anak usia 1-14 tahun adalah anemia
jenis mikrositik hipokrimik. Anemia mikrositik hipokromik disebabkan
kekurangan besi, penyakit kronis tingkat lanjut atau keracunan timbal.
c. Kurang Vitamin A dan kurang Yodium
Balita dengan kurang vitamin A beresiko tinggi untuk mengalami
gangguan pada mata yang pada tingkat berat disebut xeropthalmia,
gangguan pertumbuhan, kulit menjadi kering dan kasar, serta menurunnya
tingkat kekebalan tubuh, sehingga mudah terserang penyakit infeksi.
Untuk menanggulangi masaklah KVA pemerintah memberikan kapsul
vitamin A dosis tinggi kepada balita dua kali setahun. Sebanyak 71,5%
anak usia 6-59 bulan menerima kapsul vitamin A.
d.

Karies Gigi

Karies gigi merupakan penyakit yang biasa ditemui pada anak-anak semua
umur dengan berbagai tingkat ekonomi. Susunan makanan, kehadiran
bakteri yang menghasilkan asam, dan kemampuan air ludah untuk
bertindak sebagai buffer saling berpengaruh dalam mengontrol atau
menimbulkan karies gigi. Karies gigi terutama disebabkan oleh
terbentuknya karang gigi. Karang gigi digambarkan sebagai campuran

32 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

lengket seperti agar yang mengandung air, protein ludah, jaringan epitel
dari mukosa mulut yang lepas, dan bakteri.
Apabila kita melakukan kontrol atas makanan, karies gigi akan lebih
mudah

dikendalikan.

Semakin

sedikit

memakan

makanan

yang

mengandung sukrosa dan semakin sedikit kemungkinan makanan
menempel pada gigi, semakin kecil kemungkinan terjadinya karies gigi.
G. CONTOH MENU SEHAT UNTUK BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN
1. CONTOH MENU UNTUK BAYI


Umur 0-6 bulan : ASI/Susu Formula sekehendak

 7-8 bulan : ASI/susu formula sekehendak, 1x buah/sayur lumat
atau jus buah, 2 x bubur susu, dan biscuit.


9-12 bulan : ASI/Susu Formula sekehendak, 2 x buah/sayur
lumat, 1x bubur susu, biscuit, 2x nasi tim lengkap yang secara
berangsur dapat diganti dengan nasi lunak. Bayi juga dapat
diberikan makanan lain pengganti biscuit yang dapat dipegang
dan mudah dicerna. Bayi secara berangsur dapat makan sendiri
dan ikut makan dimeja dengan keluarga.

2. CONTOH MENU UNTUK ANAK < 6 TAHUN
Makanan sehari anak-anak usia 1-6 tahun sebaiknya terdiri atas tiga
kali makanan lengkap dan dua kali snack diantarawaktu makan.
Susunan hidangan terdiridari makanan pokok, lauk pauk, sayur,
buah, dan susu dengan memperhatikan Pedoman Umum Gizi
Seimbang (PUSG). Makan pagi dibuat yang mudah dan praktis,
misalnya roti isi, atau nasi goring dengan telur dadar yang dibuat
dari sisa nasi makan malam. Susunan hidangan makan siang dan
makan malam dapat dibuat sama; bila mungkin dibuat berbeda agar
anak tidak bosan. Anak usia 1-6 tahun sudah dapat makan menu
keluarga sehingga tidak perlu dibuat secara khusus, kecuali dalam
hal penggunaan bumbu-bumbu yang tajam, seperti cabe, karena anak
33 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

umur 1-3 tahun umumnya belum tahan terhadap rasa pedas. Contoh
menu

Pagi

sehari

Pk. 10.00

Siang

Nasi

Nasi, Rolade

Dadar
telur

+

tomat, Jus
Jeruk

dapat

Roti

dilihat

Pk. 16.00
ayam,

isi tempe goreng tepung, Biskuit,

Keju Pisang

dibawah.

Malam
Semur daging giling,
tahu bacem, Tumis

sup wortel dan brokoli, susu

bayam

pepaya

semangka

34 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

dan

tauge

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN


Perubahan tubuh yang terjadi pada bayi dan balita dapat dilihat dari
segi pertumbuhan, berat badan, panjang/tinggi badan, perubahan
komposisi tubuh, perubahan proporsi, perkembangan psikososial,
serta system pencernaan dan absorpsinya.



Kebutuhan zat gizi pada bayi dan balita memiliki ketentuan masingmasing yang ditentukan oleh usia dan komposisi jaringan tubuh.



Angka kecukupan gizi bayi dan balita ditentukan oleh usia masingmasing.



Penentuan Status Gizi bayi dapat diukur dari panjang dan berat badan,
dan untuk balita dapat dilakukan penilaian biokimiawi, antropometri,
dan klinis.



Masalah gizi yang umumnya dialami bayi dan balita adalah gizi lebih,
gizi kurang, gizi buruk, anemia gizi besi, kekurangan vitamin A, dan
kekurangan yodium.

35 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Judul: Makalah Gizi

Oleh: Meisi Sy


Ikuti kami