Makalah Gizi

Oleh Meisi Sy

199,3 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Gizi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Sebagai negara yang sedang berkembang dan sedang membangun, bangsa Indonesia masih memiliki beberapa ketertinggalan dan kekurangan jika dibandingkan negara lain yang sudah lebih maju. Di bidang kesehatan, bangsa Indonesia masih harus berjuang memerangi berbagai macam penyakit infeksi dan kurang gizi yang saling berinteraksi satu sama lain menjadikan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia tidak kunjung meningkat secara signifikan. Di sebagian besar daerah Indonesia, penyakit infeksi seperti, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, dan campak masih merupakan penyakit utama dan masih menjadi penyebab utama kematian. Tingginya angka kesakitan dan kematian Ibu dan Anak Balita di Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi. Ironisnya, dibeberapa daerah lain atau pada sekelompok masyarakat Indonesia yang lain terutama di kota-kota besar, masalah kesehatan masyarakat utama justru dipicu dengan adanya kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas di beberapa daerah di Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang kesehatan. Pendek kata, masih tingginya prevalensi kurang gizi di beberapa daerah dan meningkatnya prevalensi obesitas yang dramatis di beberapa daerah yang lain akan menambah beban yang lebih komplek dan harus dibayar mahal oleh bangsa Indonesia dalam upaya pembangunan bidang kesehatan, sumberdaya manusia dan ekonomi. 1|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT B. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Gizi Kesehatan Masyarakat, di harapkan juga dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan dan wawasan mengenai ruang lingkup Gizi Bayi dan Anak Usia < 6 tahun. C. Manfaat Manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar dapat mengetahui gizi pada usia bayi dan anak < 6 th, berupa ruang lingkup sebagai berikut : 1. Perubahan tubuh yang terjadi pada kelompok usia bayi dan balita 2. Kebutuhan zat gizi pada bayi dan balita 3. Angka kecukupan zat gizi pada bayi dan balita 4. Penentuan status gizi pada kelompok usia bayi dan balita 5. Faktor – Faktor yang mempengaruhi status gizi bayi dan balita 6. Masalah gizi yang dihadapi pada kelompok usia bayi dan balita 7. Contoh menu sehat untuk kelompok usia bayi dan balita 2|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT BAB II PEMBAHASAN A. PERUBAHAN TUBUH PADA BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN 1. BAYI a. Pertumbuhan dan Pematangan Dalam waktu setahun sesudah kelahiran, bayi normal akan bertambah berat badannya sebanyak tiga kali lipat, sedangkan sepanjang badannya bertambah sebanyak 50% (Worthington-Robert dan Williams, 2000). Jika berat badan bayi waktu lahir sebesar 3 kg, setelah satu tahun beratnya akan meningkat menjadi 9 kg; panjang badan yang semula 50 cm akan meningkat menjadi 75 cm. selama satu tahun pertama ini makanan bayi dan zat gizi yang dikandungnya mempengaruhi pertunbuhan dan perkembangan fisik serta psikososialnya. Enam bulan pertama kehidupan merupakan masa yang kritis untuk pertumbuhan otak yang dipengaruhi oleh pertumbuhan fisik secara keseluruhan. Tahap kematangan menentukan kesiapan bayi untuk menerima makanan dan kemampuan untuk makan secara mandiri. Melalui pemberian makanan dan interaksi lain yang dilakukan, orang tua dan bayi akan menciptakan hubungan timbale balik yang menyenangkan. Pertumbuhan paling cepat dalam kehidupan terjadi selama empat bulan pertama sesudah dilahirkan. Masa empat bulan hingga delapan bulan berikutnya merupakan masa transisi ke pola pertumbuhan yang lebih lambat. Pada usia delapan bulan pola tumbuh bayi sama dengan usia dua tahun. Penilaian pola tumbuh fisik merupakan cara utama untuk menetapkan status gizi bayi. 3|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT b. Berat badan dan panjang badan. Berat badan bayi waktu lahir ditentukan oleh riwayat kesehatan ibu, status giz ibu sebelum dan selama kehamilan, kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kesehatan selama hamil, dan karakteristik janin. Berat badan ibu sebelum hamil dan penambahan berat badan bayi pada waktu lahir. Selain proses persalinan, keturunan serta keadaan lingkungan dan gizi menentukan kecepatan pertumbuhan bayi dalam hal berat badan dan panjang badan. Segera ssetelah dilahirkan, terjadi penurunan berat badan bayi yang disebabkan oleh kehilangan cairan dan beberapa hasil katabolisme jaringan tubuh. Kehilangan berat bdan ini kurang lebih sebanyak 6% berat badan bayi baru lahir, namun kadang-kadang dapat melebihi 10%. Berat badan bayi biasanya kembali seperti semula pada hari kesepuluh, sesudah itu berat badan bayi bertambah dengan cepat tetapi dengan kecepatan menurun. Kecepatan tumbuh akan turun secara berarti sesudah bayi berumur enam bulan. Sebagian besar bayi pada umur empat bulan mempunyai berat badan dua kali berat badan lahir. Sedangkan pada usia 12 bulan berat badannya menjadi tiga kali berat badan lahir. Jika bayi lahir dengan berat badan 3 kg bulan berturut-turut dapat mencapai 6 kg dan 9 kg. bayi laki-laki biasanya mencapai dua kali berat badan lahir cepat daripada bayi perempuan, sedangakn bayi lahir lebih dini daripada bayi dengan berat badan lebih tinggi. Panjang badan biasanya bertambah sebesar 50% selama tahun pertama kelahiran. Rata-rata penambahan panjang badan adalah sebesar 25-30 cm. Bayi dengan panjang badan 75-80 cm pada usia satu tahun. Kecepatan tumbuh bergantung pula pada suku bangsa. Bangsa Asia, misalnya, lebih lambat tumbuh daripada bangsa Kaukasia. 4|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT c. Penilaian pertumbuhan Bayi sehat diharapkan tumbuh dengan baik, pertumbuhan fisik merupakan indicator status gizi bayi dan anak. Pertumbuhan bayi hendaknya dipantau secara teratur. Di Indonesia pemantauan status gizi bayi dilakukan di Puskesmas atau Posyandu dengan melakukan penimbangan bayi setiap bulan. Hasilnya dicatat di Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk laki-laki atau untuk perempuan. Selain berat badan, sebaiknya pemantauan juga dilakukan terhadap panjang badan dan lingkar kepala. Pengukuran hendaknya dilakuakn dengan teliti dan dicatat dengan teliti, sehingga peningkatan atau perlambatan pertumbuhan dapat dimonitor. d. Perubahan Pada Komposisi Tubuh Selama pertumbuhan, perubahan tidak hanya terjadi pada berat dan panjang badan tetapi juga pada komponen-komponen jaringan tubuh. Peningkatan berat dan panjang badan serta pematangan rangka tubuh disertai dengan perubhan dalam komposisi air, masa tanpa lemak, dan massa lemak. Air tubuh total dalam persen berat badan berkurang selama masa bayi dari kurang lebih dari kurang lebih 70% waktu lahir menjadi 60% pada umur satu tahun. Penurunan air tubuh ini seluruhnya terjadi pada sel-sel ekstraselular. Pada waktu yang sama air intraselular meningkat sejalan dengan kecepatan pertumbuhna massa tubuh tanpa lemak menjelang akhir tahun pertama. Kandungan lemak tahun berkembang secara perlahan dalam janin lemak merupakan 0,5% berat tubuh pada bulan kelima pertumbuhan janin dan mencapai 16% pada waktu kelahiran. Setelah lahir lemak bertambah dengan cepat hingga usia bayi enam bulan, peningkatan jaringan lemak lebih dari dua kali peningkatan volume otot. Peningkatan ini berbeda antara laki-laki dan perempuan. Menurut 5|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT presentase berat badan, pembentukan simpanan lemak pada perempuan lebih besar prosen berat badan daripada laki-laki. e. Perubahan Pada Proporsi Tubuh Peningkatan berat badan dan panjang badan tubuh disertai dengan perubahan berarti dalam proporsi tubuh. Proporsi kepala menurun sementara proporsi badan dan kaki meningkat. Pada waktu dilahirkan, berat kepala bayi kurang lebih seperempat berat badan total. Pada waktu pertumbuhan berhenti (dewasa), kepala merupakan seperdelapan dari panjang badan total. Setelah lahir hingga dewasa, panjang kaki meningkat dari kurang lebih tinggi badan pada usia dewasa. f. Perkembangan Psikososial Pemberian makanan merupakan interaksi dasar yang lambat laun menyebabkan terjadinya hubungan antara orang tua dan bayi yang mempengaruhi perkembangan psikososial bayi selanjutnya. Tanggapan orang tua terhadap isyarat lapar dan rasa kenyang bayi serta hubungan fisik yang dekat selama pemberian makanan membantu perkembangan sehat bayi. Agar pekembangan terjadi secara optimal, sejak dini bayi hendaknya diberi makan segera setelah ia menyatakan lapar, sehingga ia tahu bahwa kebutuhannya akan dipenuhi. Karena percaya bahwa kebutuhannya akan dipenuhi, ia akan dapat menunggu untuk diberi makan. Bayi hendaknya dipegang akan dirangkul sewaktu diberi makan. Kemanapun orang tua untuk mengartikan isyarat dan menawarkan berbagai pengalaman dalam pemberian makanan, akan menimbulkan hubungan orang tua dan bayi yang sehat. Bayi lahir dengan karakteristik yang mempengaruhi tabiatnya secara keseluruhan. Ada bayi yang mudah tersinggung dan susah untuk ditenangkan; ada bayi 6|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT yang mudah menyesuaikan terhadap jadwal yang teratur, sedangkan yang lain tidak dapat diduga dan tidak dapat diatur. Sebaiknya bayi berada dalam keadaan bangun dan tenang ketika akan diberi makan. Bayi yang tidak tenang dan menangis susah untuk diberi makan dengan baik. Keadaan tenang dan bangun membantu interaksi antara orang tua dan bayi lapar dan kenyang merupakan dasar dalam mengembangkan hubungan antara orang tua dan bayi yang baik sewaktu pemberian makan. Tanda – tanda ini cepat berubah selama masa perkembangan anak. Orang tua yang dianggap akan mengenal perubahan-perubahan ini dan melakukan hal-hal yang sesuai bagi bayi yang bertumbuh kembang. g. Pencernaan Dan Absorpsi Perkembangan fisiologis saluran cerna bayi bergantung pada berbagai faktor. Di dalam rahim, saluran cerna janin berada dalam cairan amnion yang mengandung faktor-faktor fisiologis aktif, seperti faktor-faktor pertumbuhan, hormon-hormon, enzim-enzim cerna yang meningkatkan kemampuan bayi untuk mencerna dan mengabsorpsi makanan. Hal ini memegang peranan dalam diferensiasi sel-sel mukosa dan perkembangan saluran cerna, seerta dalam perkembangan kemampuan menelan dan kemampuan usus untuk bergerak. Pencernaan dan absorpsi pada bayi barru lahir membutuhkan: (a) proses mengisap dan menelan yang terkoordinasi; (b) pengosongan lambung; (c) daya gerak usus; (d) sekresi-sekresi-sekresi ludah, lambung, pankreas, dan empedu hati; (e) berfungsinya sel-sel saluran cerna guna mensintesis enzim-enzim, pengeluaran sisa-sisa pencernaan. Bayi lahir cukup bulan siap untuk mencerna dan mengabsorpsi sejumlah zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal yang berasal dari ASI atau susu formula. Kemampuan mencerrna seorang bayi meningkat selama tahun pertama kehidupan. 7|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT Pemberian makanan akan merangsang pengeluaran berbagai jenis hormon yang berkaitan dengan gerakan dan pengembanagn saluran cerna serta fungsi sel-sel pankreas. Lambung dan usus yang berkembang juga meningkatkan kemampuan bayi untuk menangani berbagai zat gizi dan tekstur makanan. h. Fungsi saluran cerna Gerakan esophagus pad bayi baru lahir lebih lambat daripada bayi dan anak yang lebih besar. Di samping itu pada bulan-bulan pertama setelah kelahiran. Sfingter yang memisahkan esophagus dari lambang berada diatas diafragma dan tekanannya lebih kecil. Pada awal kelahiran, pengosongan lambung mungkin terjadi lebih lambat dan gerakan usus kurang teratur. Hal ini memungkinkan pencernaan makanan dan absorpsi zat-zat gizi berjalan dengan baik pada bayi. Pada bayi, sisa makanan melalui usus besar lebih cepat dari pada usia dewasa. Bayi mempunyai resiko yang meningkat untuk mengalami dehidrasi bila sisa makanan terlalu cepat melalui usus besar, sehingga resorpsi air dan eritrolit didalam usus besar kurang. i. Enzim Sekeresi enzim-enzim memungkinkan bayi mencerna dan menabsorpsi susu dan makanan lain yang dikonsumsinya. Pencernaan dan absorpsi protein terbatas pada bayi yang disebabkan oleh beberapa factor, yaitu : ( a) PH lambung bayi sedikit membatasi protein, dan (b) konsentrasi enzim kimotripsin dan karboksipeptidase dalam usus halus hanya sebanyak 10-60 % orang dewasa. Walaupun jumlah enzim terbatas, bayi dapat mencerna cukup protein yang berasal dari ASI atau susu formula. Akitivitas lipase pancreas rendah pada bayi baru lahir. Hal ini dapat diatasi oleh lipase yang berasal dari ASI, lidah, dan lambung. Lemak berasal dari ASI lebih mudah dicernakan dan diabsorpsi 8|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT daripada susu formula. Hal ini disebabkan ASI dan kolostrum mengandung enzim lipase yang pengeluarannya dirangsang oleh cairran empedu. Karbohidrat dapat digunakan dengan baik oleh bayi. Aktivitas enzim-enzim maltase, isomaltase, dan sukrase mencapai tingkat aktivitas orang dewasa pada saat janin berusia 28 hingga 30 minggu. Lactase pada janin berusia 28 minggu masih rendah, namun meningkat mendekati kelahiran. Amylase pancreas rendah atau sama sekali tidak ada hingga bayi berumur empat bulan. Amylase ludah yang terdapat dalam jumlah sedikit pada waktu lahir meningkat hingga tingkat orang dewasa sewaktu bayi berusia enam bulan hingga satu tahun. Kehadiran enzim-enzim glukosidase dan glukoamilase dalam sel-sel dinding usus halus, memberi kemampuan pada bayi untuk mencerna pati dalam jumlah terbatas. Enzim-enzim ini menghidrolisis pati menjadi glukosa. j. Fungsi Ginjal Bayi baru lahir mempunyai ginjal yang belum bekerja dengan sempurna. Kemampuannya untuk memelihara keseimbangan air dan elektrolit hanya berkisar pada antar batas asupan dan luaran yang kecil. Perkembangan fungsional nefron baru sempurna pada usia satu bulan. Tubulanya pendek dan sempit, dan baru akan mencapai ukuran normal pada usia kurang lebih lima bulan. Disamping itu, kelenjar pituitari hanya mengeluarkan hormon antidiuretik (ADH) vasopresin dalam jumlah terbatas, yang biasanya menghalang diuresis. Faktorfaktor ini membatasi kemampuan bayi baru lahir untuk mengentalkan urin dan untuk menghadapi stress cairan dan elektrolit yang disebabkan oleh formula yang banyak mengandung elektrolit, asupan cairan yang terbatas, dan diare. 9|GIZI KESEHATAN MASYARAKAT 2. ANAK < 6 TAHUN a. Pertumbuhan fisik anak  Laju pertumbuhan Pertumbuhan cepat pada waktu bayi diikuti penurunan laju pertumbuhan pada anak usia prasekolah dan usia sekolah. Ratarata kenaikkan berat badan di usia ini sekitar 1,8-2,7 kg setahun, sedangkan rata-rata penambahan tinggi badannya kurang lebih 7,6 cm setahun pada anak berusia antara satu hingga tujuh tahun, kemudian meningkat sebanyak kurang lebih 5,1 cmsethaun hingga awal pertumbuhan cepat pada usia remaja (WorthingtonRobert dan Williams,2000).  Pemantauan pertumbuhan Pertumbuhan anak hendaknya dipantau secara teratur. Pemantauan pertumbuhan anak di bawah lima tahun (balita), mengukur berat badan dan tinggi badan menurut umur dapat dilakukan sendiri dirumah, posyandu, atau puskesmas dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS terbaru yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 2008 memuat grafik berat badan menurut umur, yaitu umur 0-24 bulan dan 24-60 bulan. Kelebihan atau kekurangan asupan energy dan zat gizi anak, atau kemungkinan pengaruh keturunan terhadap pertumbuhan, akan terefleksi pad pola pertumbuhannya. Anak yang kurang makan akan menunjukkan penurunan pada grafik berat badan menurut umur. Perubahan pada alur grafik berat badan dapat juga menggambarkan pengaruh keturunan terhadap pertumbuhan. Bila kekurangan makan cukup berat dan berlangsung lama, kecepatan pertumbuhan akan berkurang atau pertumbuhan akan terhenti. Asupan energy yang melebihi kebutuhan dapat dilihat pada meningkatnya berat badan yang 10 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T melebihi persentil normal. Pemantauan pertumbuhan sebaiknay dilakukan secara teratur, yaitu sebulan sekali. Di samping itu, penilaian perkembangan fisik anak hendaknya dilakukan dengan mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) dan tebal lemak bawah kulit.  Komposisi tubuh pada usia prasekolah, persentase massa otot meningkat. Anak kelihatan semakin langsing dengan bertambahnya umur dan ukuran lingkar lengan atasnya menurun. Akan tetapi, anak perempuan mempunyai tebal lemak bawah kulit yang lebih tinggi daripada anak laki-laki. Pada usia dua hingga tiga tahun proporsi cairan tubuh sama seperti usia dewasa. Kelompok usia ini kurang rentan terhadap dehidrasi dibandingkan dengan bayi, karena rasio luas permukaan tubuh terhadap massa tubuh menurun. Cairan ekstraselular menurun, sementara cairan intraselular meningkat karena tumbuhnya sel-sel baru. Persentase cairan tubuh secara keseluruhan anak berusia satu hingga tiga tahun kurang lebih sebanyak 59%, dibandingkan dengan 64% pada usia dewasa laki-laki. B. KEBUTUHAN ZAT GIZI BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN 1. BAYI a. Energi AKG (2004) untuk bayi berumur 0-6 bulan adalah 550 kkal/hari dan untuk bayi berumur 7-11 bulan 650 kkal/hari. Angka ini ditetapkan untuk bayi sehat dengan berat badan rata-rata 6,0 dan panjang badan rata-rata 60 cm untuk bayi berumur 0-6 bulan, dan rata-rata 8,5 kg dan 71 cm untuk bayi berumur 7-11 bulan. Kebutuhan energi bayi terutama ditetapkan oleh ukuran tubuh, 11 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T aktivitas fisik, dan kecepatan pertumbuhan. Kebutuhan energy sehari meningkat selama tahun pertama, akan tetapi kebutuhan energy per unit ukuran tubuh turun sesuai dengan perubahan pada kecepatan tumbuh bayi. Pengaruh aktivitas fisik terhadap pengeluaran energy berbeda untuk tiap bayi, namun rata-rata meningkat seiring dengan meningkatnya umur sesuai dengan perkembangan keterampilan motorik. Ada bayi yang diam dan tenang, ada pula yang lebih banyak bergerak dan menangis. Cara paling baik untuk menilai kecukupan asupan energy bayi adalah dengan memonitor perkembangan berat badan dan panjang badan bayi. Kurva berat badan dan panjang bayi mengikuti umur (0-12 bulan) menurut standar WHO (2005). b. Protein Bayi membutuhkan protein untuk mensintesis jaringan baru yang diperlukan untuk pertumbuhan serta mansintesis enzim, hormon, dan berbagai ikatan fisiologis penting lainnya. Kandungn protein tubuh meningkat sebanyak kurang lebih 11% hingga 15% selama tahun pertama. AKG protein (2004) untuk bayi berumur 711 bulan sebanyak 16g/hari. c. Lemak Lemak merupakan zat gizi penghasil energi yang paling tinggi konsentrasinya. Lemak kurang lebih meliputi 50% energi yang diperoleh bayi apabila ASI atau susu formula merupakan satu-satunya sumber zat gizi yang diperolehnya. Energi yang diperoleh dari lemak menghemat protein agar digunakan untuk sintesis jaringan. Dengan diberikannya makanan pendamping ASI (MP-ASI) kepada bayi pada usia enam bulan, persen energi berasal dari lemak ini akan menurun. Proporsi lemak energi akan 12 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T meningkat bila bayi secara berangsur memakan makanan keluarga yang mengandung lemak tinggi. d. Asam Lemak Untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan neurologis, hendaknya makanan bayi mengandung cukup asam lemak esensial berupa asam linoleat dan linolenat. Kekurangan asam linoleat menyebabkan kulit bersisik, rambut rontok, diare, dan luka sukar sembuh. Kandungan energi ASI sebanyak 3-7% berasal dari asam linoleat. Asam lemak esensial merupakan prekursor asam lemak rantai panjang lain yang diperlukan untuk fungsi normal sel. Manusia mempunyai kemampuan unntuk membuat asam lemak ini bila asam lemak esensial tersedia dalam jumlah cukup. Kemampuan ini hanya dimiliki bayi secara terbatas , terutama pada bayi yang lahir sebelum waktunya (prematur). Jaringan otak dan jaringan saraf lain pada janin dan bayi selama enam bulan sesudah lahir banyak mengandung asam lemak dokosaheksanoat (DHA). Bayi mempunyai kemampuan terbatas untuk mensintesis DHA dari asma lemak linoleat. Karena itulah lebih tingginya tingkat kecerdasan anak yang diberi ASI mungkin disebabkan oleh ketersediaan DHA yang cukup didalam ASI. Banyak hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan visual pada bayi yang mendapat susu formula dengan penambahan DHA. Namun, beberapa hasil penelitian menunjukkan penambahan DHA pada susu formula untuk bayi prematur menunjukkan laju pertumbuhan yang lebih rendah. Yang paling utama yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara asam lemak w-3 dan w-6. e. Air 13 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T Bayi membutuhkan air per unit ukuran tubuh yang lebih tinggi dari pada orang dewasa.sebagian besar air berada di dalam ruangan ekstraseluler. Ginjal bayi belum berfungsi dengan sempurna. Kedua hal ini menyebabkan bayi rentan terhadap ketidakseimbangan air. Kebutuhan air di tetapkan oleh jumlah air yang dikeluarkan,kebutuhan air untuk pertumbuhan,dan cairan di peroleh dari makanan. Kehilangan air terjdi melalui penguapan melalui kulit dan saluran pernapasan( kehilangan air tidak terasa),melalui keringat, urine dan feses. Selama pertumbuhan,diperlukan tambahan air,karena air merupakan bagian dari jaringan untuk ertambahan cairan tubuh. Kehilangan air pada bayi dan anak-anak melalui penguapan merupakan lebih dari 60% dari asupan air yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan tubuh ( homeostasis).untuk orang dewasa angka ini adalah 40-50 %. Semua umur,kurang lebih 24% kehilangan panas basal terjadi melalui penguapan melalui kulit dan saluran pernapasan. Ini sama dengan 45 ml kehilangan air yang tidak terasa. Pada seratus kkal energy yang dikeluarkan. Kehilangan air melalui penguapan pada bayi berusia satu bulan diperkirakan sebanyak 110 ml per hari, sedangakan pada usia 1 th sebanyak 500 ml perhari. Kehilangan air melalui penguapan meningkatakan dengan kenaikan suhu tubuh ( demam ) dan kenaikan suhu udara. Kenaikan kelembaban udara menurunkan pengeluaran air melalui pernafasan. Kehilanga air pada bayi diperkirakan sebanyak 10 ml per kg berat badan. Kebutuhan air bayi yang dianjurkan adalah sebanyak 1,5 mg per kkal energy yang dibutuhkan. Bila bayi diberi terlalu banyak air, dapat menimbulkan keracuanan air yang menyebabkan hiponatremia, mudah tersinggung dan tidak sadarkan diri ( koma ). Dalam keadaan 14 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T normal bayi yang mendapatkan ASI atau susu formula saja selama 6 bln pertama kelahiran tidak membutuhkan tambahan air. f. Mineral dan Vitamin Kebutuhan mineral dan vitamin dipengaruhi oleh kecepatan tumbuh, mineralisasi tulang; peningkatan penjang tulang dan volume darah, serta asupan energy, protein, dan lemak. AKG tahun 2004 untuk kalsium, fosfor, magnesium, vitamin A, D, E, K,tiamin, riboplavin, niasin, asam folat, piridoksin, vitamin B12 dan vitamin c. g. Kalsium dan Fosfor AKG (2004) untuk kalsium dan fosfor didasarkan penagamatan terhadap bayi yang terutama mendapat ASI. Kalsium yang berasal dari ASI dapat diabsorpsi dengan baik. Kurang lebih 61 % kalsium berasal dari ASI diabsorpsi bayi, sedngkan kalsium dari susu formula komersial mengandung kalsium lebih tinggi daripada ASI untuk kompensasi absorpsi yang lebih rendah ini. Diwaktu yang lalu banyak perhatian diberikan terhadap perbandiingan antara jumlah kalsium dn fosfor (Ca.P) yang dikonsumsi. Bayi sehat ternyata dapat menyesuaikan diri terhadap banyaknya fosfor yang dikonsumsi, sehingga jumlah asupan fosfor dari susu formula tidak perlu dipermasalahkan. h. Besi Tidak ada catatan tentang angka Anemi Gizi Besi pada bayi di Indonesia. Angka Anemi Gizi Besi untuk balita pada tahun 2001 sebesar 48,1% (Atmarita dan Tatang S. Falah dalam Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2014). Bayi yang mendapat ASI atau susu formula yan g difortifikasi dengan besi 15 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T diharapkan tidak mengalami Anemi Gizi Besi. Bayi kemungkinan menderita Anemi Gizi Besi bila tidak mendapat ASI atau mendapat susu formula yang tidak difortifikasi dengan besi, dan tidak mendapat asupan MP-ASI yang cukup mengandung besi pada umur enam bulan keatas. Kekurangan besi pada bayi dapat menimbulkan akibat jangka panjang. Kebutuhan bayi akan besi dipenuhi oleh dua sumber, yaitu simpanan prenatal dan sumber makanan. Sebelum lahir, janin menumpuk besi selama trimester terakhir kehamilan. Bayi lahir premature hanya sedikit mempunyai simpanan besi, yang segera habis setelah lahir. Bayi yang tumbuh dengan cepat mempunyai risiko tinggi menderita kekurangan besi, karena pertumbuhan disertai dengan penambahan volume darah. Konsentrasi hemoglobin pada waktu lahir rata-rata sebesar 17-19 g/100 ml darah. Selama enam hingga delapan minggu sesudah lahir. Konsentrasi ini turun hingga rata-rata 10-11 g/100 ml darah Karena menurunnya rentang hidup dan berkurangnya pembentukkan sel darah merah. Setelah ini, secara berangsur terjadi peningkatan konsentrasi Hb hingga 13 g/100 ml sampai usia dua tahun. Di awal kehidupan, bayi lahir cukup bulan yang sehat dapat mempertahankan kadar Hb normal tanpa penambahan suplemen besi. Akan tetapi, apabila sesudah enam bulan kelahiran mereka hanya mendapat ASI, mereka mempunyai resiko mengalami keseimbangan besi negative dan kehibisan simpanan besi. Susu formula pada umumnya difortifikasi dengan besi berupa fero sulfat. i. Seng Dibandingkan dengan besi, tidak bayak diketahui tentang kebutuhan dan absorpsi seng pada bayi. Bayi tampaknya menyesuaikan diri dengan berbagai tingkat asupan seng dengan 16 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T cara meningkatkan atau menurunkan tingkat absorpsinya. Tingkat absorpsi seng yang berasal dari susu formula dilaporkan berkisar antara 41 % pada asupan total seng rendah hingga 17% pada asupan total seng tinggi. j. Fluor Konsumsi flour yang cukup diperlukan untuk pembentukan gigi. Sebaliknya kelebihan flour dapat menimbulkan florosis. Kecukupan flour tubuh hendaknya diperiksa pada usia 6 bln. Bila konsumsi flour rendah, sebaiknya bayi diberikan suplemen flour. Kandungan lour ASI sangat rendah. Di Indonesia penggunaan air minum yang ditambahkan flour belum merata, namun belum ada anjuran untuk member suplemen flour pada bayi. k. Vitamin A Sejak tahun 1962 kekurangan vit A tidak merupakan masalah nasional di Indonesia. ASI, susu formula, dan susu sapi merupakan sumber baik vit A. vit A diperlukan bayi untuk penglihatan normal, mencegah infeksi, untuk pertumbuhan dan perkembangan. Untuk pencegahan dianjurkan pemberian suplemen vit A dosis tinggi( 100.000 SI ) satu kali pada bayi berumur 6-12 bln. l. Vitamin D Vitamin D bersama dengan kalsium, fosfor, dan protein berfungsi dalam pembentukan tulang. Bayi yang tinggal didaerah tropis, termasuk Indonesia jarang mengalami kekurangan vit D karena vit D dapat dibentuk dibawah kulit bila terkena sinar matahari. Oleh sebab itulah bayi perlu kena sinar matahari tiap pagi. 17 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T m. Vitamin E Vit E merupakan antioksidan yag diperlukan untuk memelihara keutuhan dinding sel tubuh. Angka kecukupan vit E sehari ( 2004 ) bagi bayi berumur 0,6 bln adalah 4 mg sedangkan bagi bayi berumur 7-11 bln sejumlah 5 mg. ASI mengandung cukup vit E. n. Vitamin K Vit K diperlukan untuk pembekuan ( koagulasi ) darah dalam proses fisiologis. Pada waktu lahir, bayi mempunyai simpanan vit k yang rendah sehingga beresiko tinggi mengalami pendarahan , yang dapat terjadi dua hingga sepuluh hari sesudah lahir. Bayi yang mendapat ASI beresiko lebih tinggi untuk mengalaminya. Oleh sebab itu dianjurkan memberi bayi sebanyak 1 mg vit k melalui suntikan intramuscular segera setelah lahir. o. Vitamin Larut Air Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2004 menetapkan AKG untuk tujuh jenis vitamin larut air yaitu tiamin (B1), ribiflavin (B2), niasin (B3), piridoksin (B6), folat (B11), sianokobalamin (B12), dan asam askorbat (vitamin C). Kebutuhan bayi didasarkan atas asupan rata-rata sehari yang diperoleh dari ASI. Pertimbangan yang diambil dalam penentuan ini adalah: (1) kebutuhan akan tiamin dan riboflamin berhubungan dengan asupan energi karena peranannya sebagai koenzim dalam metabolisme energi; (2) karena triptofan dapat dirubah menjadi niasin, penetapan kebutuhan dasar akan niasin sulit dilakukan. ASI mengandung 1,5 mg niasin dan 210 mg triptofan per loter; (3) piridoksin mempunyai fungsi sebagai faktor koenzim dalam metabolisme asam amino dan lipida, serta merupakan komponen kunci dari struktur genetik DNA dalam inti sel. Kebutuhan akan piridoksin meningkat sesuai dengan peningkatan asupan protein; (4) kobalamin (vitamin B12) terutama terdapat dalam makanan hewani. Tanda-tanda 18 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T kekurangan vitamin B12 terlihat pada bayi yang ibunya mengikuti diet vegetarian atau yang mengalami anemi pernisiosa; (5) simpanan folat dalam tubuh bayi waktu lahir sangat sedikit dan cepat habis. Folat dalam serum dan eritrosit turun di bawah nilai folat orang dewasa setelah bayi berumur dua minggu dan tetap pada nilai tersebut selama tahun pertama kehidupan. Kebutuhan folat bayi dapat dipenuhi melalui ASI dan susu formula; (6) bayi baru lahir yang mengkonsumsi sebanyak 7 hingga 12 mg/hari vitamin C dapat dilindungi dari scurvy. Asupan sebanyak 30 mg/hari, berdasarkan jumlah yang dapat dipenuhi ASI, dianjurkan selama enam bulan pertama kehidupan. Bayi yang mendapat ASI atau susu formula memperoleh cukup vitamin C. 2. ANAK < 6 TAHUN a. Pertumbuhan dalam keadaan khusus Pada pertumbuhan dalam keadaan khusus, misalnya pada masa penyembuhan setelah sakit atau luka, kebutuhan energy dan zat gizi meningkat. Selama periode tersebut, kebutuhan energy anak usia prasekolah dianjurkan antara 150-250 kkal/kg berat badan/hari. Asupan 200 kkal/kg berat badan/hari dapat menaikkan berat badan sebanyak 20 g/hari. b. Protein Kebutuhan protein anak termasuk untuk pemeliharaan jaringan, perubahan komposisi tubuh, dan pembentukkan jaringan baru. Selama pertumbuhan, kadar protein tubuh meningkat dari 14,6% pada umur satu tahun menjadi 18-19% pada umur empat tahun, yang sama dengan kadar protein orang dewasa. Kebutuhan protein untuk pertumbuhan diperkirakan berkisar antara 1-4 g/kg penambahan jaringan tubuh. Angka kecukupan protein (AKG, 2004) yang dianjurkan untuk kelompok anak usia 1-3 tahun, 4-6 tahun,, berturut-turut adalah 25 19 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T gram, 39 gram dan 45 gram per orang per hari. Angka kecukupan protein (AKP) didasarkan pada rata-rata kebutuhan protein dikalikan dengan koreksi mutu protein, yaitu 1,2. Angka 1,2 diperoleh berdasarkan kenyataan bahwa konsumsi pangan hewani di Indonesia hanya sekitar 4% dari asupan energy total, sehingga mutu protein diasumsikkan sebesar 85% . factor koreksi sebesar 1,2 menurunkan AKP anak secara bertahap dari 1,2 g/kg berat badan pada umur satu tahun menjadi 0,95% g/kg berta badan pada umur 10 tahun. Penilaian terhadap asupan protein anak harus didasarkan pada : (1) Kecukupan untuk pertumbuhan, (2) mutu protein yang dimakan, (3) kombinasi makanan dengan kandungan asam amino esensial yang saling melengkapi bila dimakan bersama, (4) kecukupan asupan vitamin, mineral dan energy. Kekurangan asupan protein masih merupakan salah satu masalah gizi pada anak di Indonesia. Prevalensi Gizi Buruk berdasarkan riskesdas 2007 pada anak usia di bawah lima tahun (balita) adalah 5,4%, sedangkan Gizi kurang 13,0% (Depkes, 2008). c. Mineral Mineral penting untuk proses tumbuh kembang, secara normal. Kekurangan konsumsi telihat pada laju pertumbuhan yang lambat, mineralisasi tulang yang tidak cukup, cadangan besi yang kurang, dan anemia. d. Kalsium Kalsium penting untuk pertumbuhan dan mineralisasi tulang dan gigi. Lebih dari 98% kalsium tubuh terdapat dalam tulang dan gigi. Upaya untuk menetapkan anjuran asupan kalsium sehari untuk anak telah menyebabkan kotroversi selama bertahun-tahun. Jenis makanan yang dikonsumsi berpengaruh terhadap absorpsi kalsium, sedangkan 20 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T jumlah kalsium yang didapat dimanfaatkan oleh tubuh, bergantung dari ketersediaan biologisnya. Absorpsi kalsium berfluktuasi antara 30-60% dari asupan. Laktosa dalam susu meningkatkan absorpsi kalsium, sedangkan pengikat berupa asam fitat dan asam oksalat menurunkan absorpsi, pengeluaran kalsium tingkat melalui asupan urine. protein Apabila mempengaruhi asupan protein meningkat, maka jumlah kalsium yang dikeluarkan melalui urine meningkat. Penambahan kalsium rata-rata sehari hendaknya berkisar antara 150200 mg, puncaknya adalah sebanyak 400 mg/hari dalam periode pertumbuhan cepat. Angka kecukupan kalsium untuk anak berkisar antara 500-600 mg/hari. Anak memerlukan kalsium dua sampai empat kali lebih besar per unir berat badan dibandingkan orang dewasa. Asupan kalsium rendah memperlambat laju pertumbuhan dan mineralisasi tulang dan gigi. Namun efisiensi absorpsi dan penyimpanan kalsium meningkat dengan asupan kalsium yang rendah dan kebutuhan biologis yang tinggi. Bahan makanan sumber kalsium utama adalah susu dan hasil olahannya, yang mempunyai ketersediaan biologis tinggi. Anak yang kurang mengkonsumsi produk-produk tersebut mempunyai resiko mengalami kekurangan asupan kalsium. Sumber kalsium lain adalah ikan yang dimakan dengan tulang ( teri, dan ika duri lunak ). Serealia, kacang-kacangan, seperti tempe, dan tahu serta sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baik juga, tetapi dengan ketersediaan biologis rendah karena mengandung zat-zat yang menghalangi absorpsi kalsium seperti serat, asam fitat, dan asam oksalat. e. Besi Angka kecukupan besi yang dianjurkan untuk anak usia 1-3 tahun didasarkan pada median kebutuhan besi sebanyak 4,6 mg/hari; dengan asumsi penyerapan besi sebesar 7,5 % maka kecukupan besi 21 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T menjadi 8,0 mg/hari. Bagi anak usia 4-6 tahun dengan median kebutuhan besi sebanyak 5 mg/hari dan asumsi penyerapan sebesar 7,5% , kecukupan besinya menjadi 9,0 mg/hari. Bagi anak usia 7-9 tahun dengan median kebututhan besi sebanyak 7,1 mg/hari dan asumsi penyerapan sebesar 7,5% maka kecukupan besinya menjadi 10,0 mg/hari. Kekurangan besi merupakan salah satu gizi pada anak di Indonesia. Defisiensi besi disebabkan kekurangan asupan besi, gangguan penyerapan, pendarahan, atau kehilangan darah berulang2. Anemia gizi pada anak usia prasekolah dapat menyebabkan tertundanya perkembangan fisik dan mental serta menurunya resistensi terhadap infeksi. Kebutuhan besi pada anak bervariasi ,menurut tingkat pertumbuhan, peningkatan total massa besi, penyimpanan besi. Anak yang lebih besar dan tumbuh lebih cepat memerlukan besi lebih banyak karena volume darahnya meningkat lrbih cepat. Sumber besi dalam makanan hewani adalah daging, hati, ungags, dan ikan. Dalam makanan nabati adalah kacang-kacangan dan hasil olahanya, sayuran hijau, dna rumput laut. Besi dalam makanan hewani terdapat dalam bentuk hem, sedangkan yang terdapat dalam makanan adalah makanan nabati dalam bentuk non hem. Ketersediaan biologis besi dalam bentuk hem lebih tinggi daripada besi non hem. Konsumsi makanan yang kaya vit c, seperti sayur dan buah dapat membantu absorbpsi non hem. Absorpsi besi menurun oleh adanya antacid, teh, dan serat kasar. Anak-anak yang mempunyai resiko kekurangan besi dianjurkan untuk mendapat suplemen besi seminggu sekali. Hal ini dapat meningkatkan nafsu makan, mempercepat pertumbuhan, serta perkembangan psikomotor dan metal. Pada anak usia 2-3 tahun, cara terbaik untuk meramalkan statius besi anak adalah dengan memperhatikan status besi anak pada usia 1 tahun. Bila status besi rendah,perlu menambah konsumsi makanan, 22 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T sumber besi, terutama yang berasal dari hewan untuk mencegah terjadinya anemia gizi besi. Anak prasekolah belum mempunyai otot mulut yang kuat untuk mengunyah daging, kecuali bila diberikan dalam bentuk dicincang/digiling. Hati merupakan sumber besi tebaik. Bagi anak-anak yang asupan besinya terbatas, perlu dipertimbangkan untuk memberi suplemen besi. f. Seng Angka kecukupan seng anak umur 1-3 th, didasarkan pada kebutuhan rata-rata normative sebesar 0,4 mg /kg BB/hari ( Ketersediaan biologis 15%) dengan berat badan 12 kg adalah sebesar 8,3 mg/hari. Angka kecukupan seng bagi anak umur 4-6 tahun didasarkan pada kebutuhan rata-rata normative sebesar 0,38 mg/kg BB/hari ( Ketersediaan biologis 15%) dengan BB 18 kg adalah 10,3 mg/hari. Seng merupakan bagian dari enzim-enzim yang berperan dalam berbagai aspek metabolism, seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida, dan asam nukleat. Seng mempunyai peran penting dalam proses pertumbuhan, fungsi kognitif, pemantangan sek, fungsi kekebalan, dan pemunahan radikal bebas. Variasi konsentrasi seng dalam plasma selama pertumbuhan menunjukkan penggunaan dan kehilangan simpanan seng yang terjadi secara terus menurus kekurangan seng mempunyai konsentrasi serius, seperti terganggunya indera perasa, hambatan pertumbuhan, diare, luka sukar sembuh, dan menurunnya fungsi kekebalan. Pertumbuhan anak yang kurang baik pada penduduk miskin antara lain mungkin, disebabkan oleh kekurangan asupan seng. Anak dengan status seng rendah dapat menyerap seng lebih efisien dibandingkan anak dengan status seng baik. Ketersediaan biologis seng bervariasi menurut sumber makan. Seng didalam makanan hewani,seperti daging, ikan, dan kerang lebih mudah diserap daripada yang terdapat dalam makanan nabati seperti serelia. Serat dan asam 23 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T fitat dalam makanan nabati makanan nabati menghambat ketersediaan biologis seng. g. Yodium Angka kecukupan yodium anak berusia satu tahun keatas ditetapkan berdasarkan Recommended Dietary Allowance (RDA) yang dikeluarkan oleh National Research AS. Angka kecukupan yodium anak usia 1-3 tahun didasarkan pada kebutuhan yodium 10 mcg/kg berat badan/hari. Dengan rata-rata berat badan 12kg, maka angka kecukupan yodium kelompok umur ini adalah 120 mcg/hari. Angka kecukupan yodium anak usia 4-6 tahun didasarkna pada kebutuhan yodium 8mcg/kg berat badan/hari. Dengan rata-rata berat badan 18 kg, angka kecukupan yodium kelompopk umur ini adalah 120mcg/hari. Angka kecukupan yodium anak usia 7-9 tahun didasarkan pada kebutuhan yodium 4 mg/kg berat badan /hari. Dengan rata-rata berat badan 25 kg, angka kecukupan yodium kelompok umur ini adalah 120 mcg/hari. Kekurangan yodium banyak terdapat di daerah pegunungan, karena sumber utama yodium adalahh air laut. Hasil lautt seperti ikan, udang, dan kerang , rumput laut serta tanaman yang tumbuh di daerha pantai merupakan sumber yodium. Penanggulangan kekurangan yodium adalah melalui fortifikasi garam dapur dengan yodium yang telah dilakukan di Indonesia. h. Vitamin Fungsi vitamin adalah untuk membantu proses metabolisme, yang berarti kebutuhannya ditentukan oleh asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak. Kebutuhan vitamin yang pasti sukar diterapkan. Angka kecukipan vitamin diperoleh dari interpolasi kecukupan bayi dan orang dewasa , atau dihitung, berdasarkan angka kecukupan energi dan protein. 24 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T C. ANGKA KECUKUPAN ZAT GIZI BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN 1. BAYI Angka Kecukupan Gizi Bayi Perkiraan kebutuhan energi dan zat-zat gizi bayi dilakukan dari pencatatan asupan bayi yang tumbuh normal dan dari kandungan zat gizi ASI. Karena pertumbuhan bayi menurun selama bagian akhir tahun pertama setelah lahir, AKG yang dianjurkan untuk bayi ditetapkan untuk dua periode enam bulan dari lahir hingga enam bulan dan dari tujuh bulan hingga sebelas bulan. AKG (2004) bayi 0-6 bulan dan 7-11 bulan dapat dilihat pada tabel 5.1. Tabel 5.1 Angka Kecukupan Gizi Bayi Zat Gizi umur 0 - 6 bulan 7 - 11 bulan Energi (kkal) 550 650 Protein (gram) 10 16 Vitamin A (RE) 375 400 Vitamin D (ug) 5 5 Vitamin E ( mg) 4 5 Vitamin K (mg) 5 10 Tiamin (mg) 0,3 0,4 Riboflavin (mg) 0,3 0,4 Niasin (mg) 2 4 Asam Folat (ug) 65 80 Piridoksin (mg) 0,1 0,3 Vitamin B12 (ug) 0,4 0,5 25 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T Vitamin C (mg) 40 40 Kalsium (mg) 200 400 Fosfor (mg) 100 225 Besi (mg) 0,5 7 Yodium (mg) 90 120 Seng (mg) 1,3 7,9 Selenium (ug) 5 10 Mangan (mg) 0,003 0,6 Flour (mg) 0,01 0,4 2. ANAK USIA < 6 TAHUN Angka kecukupan energy anak berasal dari rata-rata kebutuhan energy anak sehat yang tumbuh secara memuaskan; sedangkan angka kecukupan zat-zat gizi didasarkan atas beberapa hasil penelitian yang terutama dikembangkan dari kebutuhan bayi dan orang dewasa. Perbedaan kecukupan zat gizi antar kelompok anak cukup besar, sehinga angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk anak dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : anak usia 1-3 tahun dengan rata-rata berat badan 12,0 kg dan tinggi badan 90 cm; anak usia 4-6 tahu dengan rata-rata berat baddan 17,0 kg dan tinggi badan 110 cm; dan anak usia 7-9 tahun dengan rata-rata berat badan 25,0 kg dan tinggi badan 120 cm. Energi Angka kecukupan enerrgi (AKG, 2004) anak usia 1-3 tahun, 4-6 tahun secara berturut-turut adalah 1000 kkal, 1550 kkal, 1800 kkal. 26 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T Tabel 6.5 Angka Kecukupan Gizi Anak Zat Gizi Usia 1 - 3 tahun 4 - 6 tahun Energi (kkal) 1000 1550 Protein (gram) 25 39 Vitamin A (RE) 400 450 Vitamin D (ug) 5 5 Vitamin E (mg) 6 7 Vitamin K ( ug) 15 20 Tiamin (ug) 0,5 0,6 Riboflavin (mg) 0,5 0,6 Niacin (mg) 6 8 Asam folat (ug) 150 200 Piridoksin (mg) 0,5 0,6 Vitamin B12(ug) 0,9 1,2 Vitamin C (mg) 40 45 Kalsium (mg) 500 500 Fosfor (mg) 400 400 Magnesium (mg) 60 90 Besi (mg) 8 9 27 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T Yodium (ug) 120 120 Seng (mg) 8,3 10,3 Selenium (ug) 17 20 Mangan (mg) 1,2 1,5 Flour (mg) 0,6 0,9 D. PENENTUAN STATUS GIZI PADA BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN 1. BAYI a. Pengukuran Panjang Badan Pengukuran ini digunakan untuk mengukur panjang badan bagi anak yang berusia <2 tahun dan panjang badan <50 cm serta menggunakanalat ukur panjang badan. Menggunakan alat dari papan kayu yang dikenal dengan nama Length Board. b. Penimbangan Berat Badan Status gizi bayi juga ditentukan menuru berat badan, salah satu alat ukur yang digunakan adalah dacin. Dalam menggunakan dacin harus memenuhi tahap-tahap yang jelas, karena hasil pembacaan dari timbangan tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh petugas kesehatan, apakah bayi tersebut memiliki pertumbuhan yang baik atau tidak, serta keputusan untuk jenis intervensi yang tepat untuk bayi tersebut. 2. ANAK < 6 TAHUN a. Penentuan Status Gizi Pada prinsipnya, penentuan status gizi anak serupa dengan penilainan pada periode kehidupan lain. Pemeriksaanyang perlu lebih diperhatikan tentu saja bergantung pada bentuk kelainan yang bertalian dengan kejadian penyakit tertentu. Kurang kalori protein, misalkan lazim menjankiti anak. Oleh karena itu, pemeriksaan 28 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T terhadap tanda dan gejala kea rah sana termasuk pula kelainan lain yang menyertainnya, perlu dipertajam. Pemeriksaan Klinis, diarahkan untuk mencari kemungkinan adanya bintik bitot, xerosis konjungtiva, anemia, pembesaran kelenjar parotis, kheilosis anagular, fluorosis, karies, gondok, serta hepato dan splenomegaly. Penilaian Antropometris yang penting dilakukan ialah penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan, lingkar lengan, dan lipatan kulit triseps. Pemeriksaan ini penting, terutama pada anak prasekolah yang berkelas ekonomi dan social rendah. Pengamatan anak usia sekolah dipusatkan terutama padda percepatan tumbuh. Uji pertumbahan pada golongan usia ini setidaknya diselenggarakan setahun sekali, karena laju pertumbuhan pada fase ini relative lambat. Sebagai plankton, pertambahan berat anak usia 5 – 10 tahun berkisar sampai 10% nya, sementara tinggi badan hanya bertambah sekitar 2 cm setahun. Uji biokimiawi yang penting ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, serta pemeriksaan apusan darah untuk malaria. Pemeriksaan tinja cukup hanya pemeriksaan occult blood dan telur cacing saja. E. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI BAYI DAN ANAK USIA < 6 TAHUN a. Penerimaan Makanan Penerimaan terhadap makanan dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti status gizi, tingkat kekenyangan, rasa makanan, pengalaman, masa lalu, dan kepercayaan terhadap makanan tertentu. b. Pengaruh Orang tua 29 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T Orang tua berpengaruh terhadap perilaku makan anak. Sehingga status gizi bayi dan anak akan dipengaruhi oleh karaktertik orang tua sendiri termasuk dari segi pengetahuan, interaksi, model (kebiasaan makan), serta tekanan-tekanan dari orang tua. c. Jumlah Makanan yang dikonsumsi Bila anak sehat dengan keadaan gizi baik ditawari berbagai makanan bergizi dan mereka diizinkan makan dalam jumlah makanan yang mereka inginkan, mereka akan mengkonsumsi makanan, dalam jumlah energy yang sesui. d. Pengaruh Media Kebanyakan anak-anak menghabiskan banyak waktu ketika didepan TV, sehingga berpengaruh terhadap perilaku anak, termasuk terhadap pola makanannya. F. MASALAH GIZI PADA BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN Masalah gizi dan masalah kesehatan masalah giz dan kesehatan pada anak umumnya adalah gizi buruk, gizi kurang, gizi lebih, masalah pendek, anemia kurang besi, dan karies gigi. Kurang vitamin A (KVA) dan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) juga masih merupakan masalah gizi pada anak-anak di Indonesia. Banyaknya penggunaan bahan tambahan makanan seperti penambah rasa, zat pengawet, pewarna, dan pemanis perlu diwaspadai karena sering digunakan melebihi batas aman untuk kesehatan. Bahan berbahaya yang tidak diizinkan berupa bahan pewarna, misalnya, rodamin yang seringt digunakan untuk pewarna makanan dan minuman, formalin untuk pengawet ikan, ayam, dan tahu serta boraks untuk mengenyalkan bakso. 30 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T a. Gizi kurang, gizi buruk dan gizi lebih Status gizi anak usia balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB), dan tinggi badan (TB). Prevalensi gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih yang didasarkan pada indicator berat badan menurut umur (BB/U) pada balita dari tahun 1990 hingga tahun 2003. Berdasarkan Hasil survey susenas dari tahun 1998 hinnga tahun 2000, ada penurunan prevalensi gizi buruk dari 10,1% menjadi 7,53% dan gizi kurang dari 19,00% menjadi 17,13%. Namun dari tahun 2001 hingga tahun 2005, prevalensi gizi kurang dan gizi buruk justru meningkat, prevalensi gizi buruk yang pada tahun 2001 adalah 6,30% meningkat menjadi 8,80% pada tahun 2005, sedangkan prevalensi gizi kurang meningkat menjadi 19,80% menjadi 28,00%. Angka-angka ini menurun pada tahun 2007 yaitu prevalensi gizi kurang 13,00% dan gizi buruk 5,40%. Pada tahun 2010, prevalensi gizi kurang tetap (13,00%) sedangkan gizi buruk turun menjadi 4,90%. Prevalensi gizi lebih naik menjadi 5,80%. Indicator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum dan tidak spesifik. Sedangakan status gizi balita berdasarkan indicator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis, yang merupakan akibat keadaan kekurangan gizi dalam jangka waktu panjang misalnya karena kemiskinan, pola asuh yang tidak tepat, dan sering menderita penyakit secara berulang. Indicator TB/U dinyatakan dalam tinggi badan normal, pendek dan sangat pendek. Balita yang termasuk kategori sangat pendek pada tahun 2010 sebanyak 18,5% dan yang pendek sebanyak 17,1% . apabila status pendek dan sangat pendek digabung menjadi satu kategori masalah pendek , angkanya menjadi 35,6%, sehingga merupakan masalah nasional yang serius. Indicator lain yang digunakan untuk menilai status gizi balita adalah BB/TB, yang menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam jangka waktu pendek, seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. 31 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T Indicator BB/TB digunakan untuk menyatakan kurus, sangat kurus dan gemuk. Menurut riskesdas 2010, prevalensi sangat kurus pada balita pada tahun 2010 adalah 6,0% dan prevalensi kurus adalah 7,3%, sedangkan prevalensi kegemukan adalah 14,0%. Status gizi anak dengan prevalensi kurus pada anak laki-laki adalah 13,2%, sedangkan pada anak perempuan adalah 11,2%. Sedangkan prevalensi berat badan lebih gemuk adalah 10,7% pada anak laki-laki dan 7,7% pada anak perempuan. b. Anemia gizi besi Hingga saat ini belum ada data tenyang prevelansi anemi gizi besi pada anak secara nasional. Data yang ada adalah prevalensi anemi secara umum. Sebanyak 70,1% anemia pada anak usia 1-14 tahun adalah anemia jenis mikrositik hipokrimik. Anemia mikrositik hipokromik disebabkan kekurangan besi, penyakit kronis tingkat lanjut atau keracunan timbal. c. Kurang Vitamin A dan kurang Yodium Balita dengan kurang vitamin A beresiko tinggi untuk mengalami gangguan pada mata yang pada tingkat berat disebut xeropthalmia, gangguan pertumbuhan, kulit menjadi kering dan kasar, serta menurunnya tingkat kekebalan tubuh, sehingga mudah terserang penyakit infeksi. Untuk menanggulangi masaklah KVA pemerintah memberikan kapsul vitamin A dosis tinggi kepada balita dua kali setahun. Sebanyak 71,5% anak usia 6-59 bulan menerima kapsul vitamin A. d. Karies Gigi Karies gigi merupakan penyakit yang biasa ditemui pada anak-anak semua umur dengan berbagai tingkat ekonomi. Susunan makanan, kehadiran bakteri yang menghasilkan asam, dan kemampuan air ludah untuk bertindak sebagai buffer saling berpengaruh dalam mengontrol atau menimbulkan karies gigi. Karies gigi terutama disebabkan oleh terbentuknya karang gigi. Karang gigi digambarkan sebagai campuran 32 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T lengket seperti agar yang mengandung air, protein ludah, jaringan epitel dari mukosa mulut yang lepas, dan bakteri. Apabila kita melakukan kontrol atas makanan, karies gigi akan lebih mudah dikendalikan. Semakin sedikit memakan makanan yang mengandung sukrosa dan semakin sedikit kemungkinan makanan menempel pada gigi, semakin kecil kemungkinan terjadinya karies gigi. G. CONTOH MENU SEHAT UNTUK BAYI DAN ANAK < 6 TAHUN 1. CONTOH MENU UNTUK BAYI  Umur 0-6 bulan : ASI/Susu Formula sekehendak  7-8 bulan : ASI/susu formula sekehendak, 1x buah/sayur lumat atau jus buah, 2 x bubur susu, dan biscuit.  9-12 bulan : ASI/Susu Formula sekehendak, 2 x buah/sayur lumat, 1x bubur susu, biscuit, 2x nasi tim lengkap yang secara berangsur dapat diganti dengan nasi lunak. Bayi juga dapat diberikan makanan lain pengganti biscuit yang dapat dipegang dan mudah dicerna. Bayi secara berangsur dapat makan sendiri dan ikut makan dimeja dengan keluarga. 2. CONTOH MENU UNTUK ANAK < 6 TAHUN Makanan sehari anak-anak usia 1-6 tahun sebaiknya terdiri atas tiga kali makanan lengkap dan dua kali snack diantarawaktu makan. Susunan hidangan terdiridari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah, dan susu dengan memperhatikan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUSG). Makan pagi dibuat yang mudah dan praktis, misalnya roti isi, atau nasi goring dengan telur dadar yang dibuat dari sisa nasi makan malam. Susunan hidangan makan siang dan makan malam dapat dibuat sama; bila mungkin dibuat berbeda agar anak tidak bosan. Anak usia 1-6 tahun sudah dapat makan menu keluarga sehingga tidak perlu dibuat secara khusus, kecuali dalam hal penggunaan bumbu-bumbu yang tajam, seperti cabe, karena anak 33 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T umur 1-3 tahun umumnya belum tahan terhadap rasa pedas. Contoh menu Pagi sehari Pk. 10.00 Siang Nasi Nasi, Rolade Dadar telur + tomat, Jus Jeruk dapat Roti dilihat Pk. 16.00 ayam, isi tempe goreng tepung, Biskuit, Keju Pisang dibawah. Malam Semur daging giling, tahu bacem, Tumis sup wortel dan brokoli, susu bayam pepaya semangka 34 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T dan tauge BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN  Perubahan tubuh yang terjadi pada bayi dan balita dapat dilihat dari segi pertumbuhan, berat badan, panjang/tinggi badan, perubahan komposisi tubuh, perubahan proporsi, perkembangan psikososial, serta system pencernaan dan absorpsinya.  Kebutuhan zat gizi pada bayi dan balita memiliki ketentuan masingmasing yang ditentukan oleh usia dan komposisi jaringan tubuh.  Angka kecukupan gizi bayi dan balita ditentukan oleh usia masingmasing.  Penentuan Status Gizi bayi dapat diukur dari panjang dan berat badan, dan untuk balita dapat dilakukan penilaian biokimiawi, antropometri, dan klinis.  Masalah gizi yang umumnya dialami bayi dan balita adalah gizi lebih, gizi kurang, gizi buruk, anemia gizi besi, kekurangan vitamin A, dan kekurangan yodium. 35 | G I Z I K E S E H A T A N M A S Y A R A K A T

Judul: Makalah Gizi

Oleh: Meisi Sy


Ikuti kami