Makalah Motivasi

Oleh Rizki Fauzi

16 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Motivasi

MAKALAH
PSIKOLOGI UMUM
Tentang
MOTIF DAN MOTIVASI

Oleh:
Resta Desnariati

: 1612020128

Winda Anisya

: 1612020137

Heru Fatman Herianto

: 1612020130

Maulana Malik

: 1612020120

Dosen Pembimbing:
Dra. Nurfarida Deliani, M.Pd

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM (BKI-D)
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
IMAM BONJOL PADANG
1438 H / 2017 M

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era
globalisasi seperti sekarang ini menuntut adanya sumber daya manusia yang
berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan
prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah
pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi
sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Salah satu faktor dari
dalam diri yang menentukan berhasil tidaknya dalam proses belajar mengajar
adalah motivasi belajar. Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan
keseluruhan daya penggerak di dalam diri yang menimbulkan kegiatan belajar,
yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah
merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Seseorang yang
mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena kurang adanya
motivasi dalam belajarnya.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar
baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari
siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar
siswa. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar
sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar agar menggapai
sebuah prestasi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dari Motif dan Motivasi?
2. Apa saja Teori-teori Motivasi?
3. Apa Faktor-faktor Motivasi?
4. Apa saja Macam-macam Motivasi?
5. Apa Prinsip dan Fungsi Motivasi?

1

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dari Motif dan Motivasi
Motif atau dalam bahasa Inggris motive, berasal dari kata motion yang
berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Jadi motif adalah gerakan yang
dilakukan oleh manusia atau lebih sering disebut dengan perbuatan atau
tingkah laku.1
Motif adalah alasan – alasan atau dorongan – dorongan dalam diri
manusia yang menyebabkan manusia itu berbuat sesuatu. Semua tingkah laku
manusia pada hakikatnya memiliki motif. Motif manusia bisa bekerja secara
sadar maupun tidak sadar. Motif manusia dapat berupa dorongan, hasrat,
keinginan, dan tenaga penggerak lain, yang berasal dari dalam diri individu
untuk melakukan sesuatu. Motif memberikan tujuan dan arah pada tingkah
laku kita.
Motif itu adalah tujuan. Tujuan yang dimaksud disini adalah insentif
(insentive). Intensif bisa diartikan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah
suatu kegiatan yang bermotif. Motif adalah kondisi yang mendorong
seseorang untuk mencari suatu kepuasan atau mencapai suatu tujuan. Jadi
motif adalah suatu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat
sesuatu, melakukan tindakan, atau bersikap tertentu untuk mencapai suatu
tujuan.
Selain motif, dikenal juga istilah motivasi. Motivasi berasal dari
bahasa inggris Motivation. Motivasi adalah istilah yang lebih umum yang
menunjuk pada seluruh proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong,
dorongan yang timbul dalam individu, tingkah laku yang ditimbulkannya, dan
tujuan

atau

akhir

dari

gerakan

atau

perbuatan.2

Motivasi

berarti

membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, atau menggerakkan
seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu
1

Sarlito Wirawan Sarwono. Pengantar Psikologi Umum. (Jakarta: Rajawali Pers, 2013),

2

Ibid

h. 137

2

kepuasan atau tujuan. Seseorang melaksanakan kecakapan karena adanya
suatu motif. Jika motif ini tidak timbul, belum tentu seseorang itu dapat
berbuat demikian.
Sesungguhnya, motivasi itu sendiri bukan merupakan sesuatu yang
netral atau kekuatan yang kebal terhadap pengaruh faktor – faktor lain,
misalnya pengalaman masa lampau, kemampuan fisik, situasi lingkungan, cita
– cita hidup, dan masih banyak lagi.
B. Teori-teori Motivasi
1. Teori Motivasi Abraham Maslow (Teori Kebutuhan)
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada
dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya
dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari
tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan
Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai
motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah
kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak
harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya
menjadi penentu tindakan yang penting;3
a. Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
b. Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
c. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang
lain, diterima, memiliki)
d. Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan
mendapatkan dukungan serta pengakuan)
e. Kebutuhan
memahami,

aktualisasi
dan

diri

(kebutuhan

menjelajahi;

kebutuhan

kognitif:
estetik:

mengetahui,
keserasian,

keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan
kepuasan diri dan menyadari potensinya).

3

Heru Basuki. Psikologi Umum. (Jakarta. Gunadarma. 2008), h. 50

3

2. Teori Motivasi Herzberg (Teori dua faktor)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong
seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari
ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor higiene (faktor ekstrinsik)
dan faktor motivator (faktor intrinsik).4
a. Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan,
termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan,
kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik),
b. Faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai
kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan,
kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
3. Teori Motivasi Douglas Mcgregor
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative)
dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang
manajer:5
a. karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
b. karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam
dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
c. Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
d. Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang
dikaitkan dengan kerja.
e. Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada
empat teori Y :
1) karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti
istirahat dan bermain.
2) Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika
mereka komit pada sasaran.
3) Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
4) Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.
4. Teori Motivasi Vroom (Teori Harapan )
4
5

Ibid
Ibid, h. 51

4

Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation
menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia
yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu
sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi
seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:6
a. Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
b. Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika
berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk
mendapatkan outcome tertentu).
c. Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif,
netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu
yang melebihi harapan. Motivasi rendah jika usahanya menghasilkan
kurang dari yang diharapkan.
5. Teori Motivasi Achievement Mc Clelland (Teori Kebutuhan
Berprestasi)
Teori yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan
bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
a. Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
b. Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama
dengan soscialneed-nya Maslow)
c. Need for Power (dorongan untuk mengatur).
6. Teori Motivasi Clayton Alderfer (Teori “ERG)
Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang
didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence),
hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit
berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika
kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka
manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan
kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.
7. Teori Penetapan Tujuan (goal setting theory)
6

Ibid,

5

Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan
memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
a. tujuan-tujuan mengarahkan perhatian;
b. tujuan-tujuan mengatur upaya;
c. tujuan-tujuan meningkatkan persistensi;
d. tujuan-tujuan

menunjang

strategi-strategi

dan

rencana-rencana

kegiatan.
8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka
dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan
pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan
berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi
tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa
kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi eksternal
dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri
seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum
pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi
perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan
mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan
timbulnya konsekwensi yang merugikan.Contoh yang sangat sederhana
ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik
dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya.
Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru
tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong
bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan
berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar
menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah,
yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di
kemudian hari.

6

C. Faktor-faktor Motivasi
Agresi biasanya didefisinikan sebagai perilaku yang dimaksudkan
untuk melukai orang lain (secara fisik atau veral) atau merusak harta benda.
Kata kunci dari defenisi ini adalah maksud. Jika seseorang secara tidak
sengaja menginjak kaki Anda di sebuah tangga berjalan yang penuh dengan
segera minta maaf, Anda tidak dapat mencap perilakunya agresif.
Jika seseorang berjalan menuju kearah anda, pada saat anda duduk di
bangku belajar, dan menginjak kaki anda , tentu anda sangat marah terhadap
tindakan agresif yang terang-terangan tersebut. Tetapi , tindakan agresif yang
disengaja pun bias merupakan sesuatu tujuan disamping mengakibatkan luka .
kekuasaan, kekayaan ,dan status hanya merupakan sebagian dari tujuan yang
dapat di capai melalui cara-cara agresif.7
Beberapa

pakar

psikologi

membuat

perbedaan

antara

agresi

permusuhan (hostile aggression), yang semata-mata dilakukan dengan maksud
menyakiti orang lain ,dan agresi instrumental (instrumental aggression) yang
ditunjukan untuk mendapatkan ganjaran lain selain penderitaan korbannya.
Agresi instrumental mencakup perkelahian untuk membela diri, penyerangan
terhadap

seseorang

ketika

terjadi

perampokan,

perkelahian,

untuk

membuktikan kekuasaan atau dominansi seseorang. Tetapi perbedaan antara
agresi permusuhan dan agresi instrumental tidak terlalu jelas.8
D. Macam-macam Motivasi
Dalam membicarakan jenis-jenis motivasi, hanya akan dibahas dari
dua sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi
seseorang yang disebut motivasi intrinsik dan motivasi yang berasal dari luar
diri seseorang yang disebut motivasi ekstrinsik:9
1. Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar,karena
7

Ernest R. Hilgard, Pengantar Psikologi(Terjemah Indonesia), (Jakarta: Erlangga,1982),

hlm.55-61
8
9

Ibid
Ngalim M Purwanto. Psikologi Pendidikan. (Bandung: PT. Remaja Rosdakaraya. 1990),

h. 67

7

dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka
secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan
motivasi dari luar dirinya.Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat
diperlukan,terutama belajar sendiri. Dorongan untuk belajar bersumber
pada kebutuhan, yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang
terdidik dan berpengetahuan. Jadi, motivasi intrinsik muncul berdasarkan
kesadaran dengan tujuan esensial, bukan sekadar atribut dan seremonial.
2. Motivasi Ekstrinsik.
Motivasi

ekstrinsik

adalah

kebalikan

dari

motivasi

intrinsik.Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi
karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik
bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya diluar factor-faktor situasi
belajar (resides in some factor outside the learning situation). Misalnya
untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan, dan sebagainya.
Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak
baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar anak didik
termotivasi untuk belajar. Kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi
ekstrinsik akan merugikan anak didik. Akibatnya, motivasi ekstrinsik
bukan berfungsi sebagai pendorong, tetapi menjadikan anak didik malas
belajar. Oleh karena itu, guru harus bias dan pandai mempergunakan
motivasi ekstrinsik dengan akurat dan benar dalam rangka menunjang
proses intrinsik edukatif di kelas.
Berikut ini ada beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik
dalam menumbuhkan motivasi intrinsik.
Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan
diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha
memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi
prestasi orang lain.
Pace making (membuat tujuan sementar atau dekat): pada awal
kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan

8

kepada siswa TIK yang akan dicapainya sehingga dengan demikian siswa
berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
Tujuan yang jelas: motif mendorong individu untuk mencapai
tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang
bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan suatu
perbuatan.
Kesempurnaan untuk sukses: kesuksesan dapat menimbulkan rasa
puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan
kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru
hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih
sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
Minat yang besar: motif akan timbul jika individu memiliki minat
yang besar.
Mengadakan penilaian atau tes: pada umumnya semua siswa mau
belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam
kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan.
Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan
lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai
yang baik. Jika, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi
siswa.10
E. Prinsip dan Fungsi Motivasi
1. Prinsip
Diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar. Ada beberapa
prinsip motivasi dalam belajar, yaitu:
a. Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar.
b. Motivasi intrinsik lebih utama daripada motivasi ekstrinsik dalam
belajar.
c. Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman.
d. Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar.
2. Fungsi
10

Moh.Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya,
2011), hlmn. 3

9

Menurut Imam Musbikin ada tiga fungsi motivasi, yaitu :
a. Motivasi sebagai pendorong buatan, pada mulanya anak didik tidak
ada hasrat untuk belajar. Tetapi, karena ada sesuatu yang dicari
munculah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang belum diketahui itu
akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari
tahu. Jadi, motivasi berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi
sifat yang harusnya anak didik ambil dalam rangka belajar.
b. Motivasi sebagai penggerak buatan. Dorongan psikologis yang
melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan
yang tak terbendung, yang kemudian terjelam dalam bentuk gerakan
psikofisik. Dalam hal ini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar
dengan segenap raga dan jiwa. Sikap berada dalam kepastian
perbuatan, sedangkan akal-pikiran mencoba membedah nilai yang
terpatri dalam wacana, prinsip, dalil, dan hukum, sehingga betul isi
yang dikandung.
c. Motivasi sebagai pengarah perbuatan. Anak didik yang mempunyai
motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan
mana perbuatan yang mesti diabaikan. Seseorang anak didik yang
ingin mendapatkan sesuatu dari sesuatu mata pelajaran tertentu, tidak
mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran dimana
tersimpan sesuatu yang dicari itu. Sesuatu yang ingin dicari anak didik
merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar
tersebut merupakan pengarah yang memberikan motivasi kepada anak
didik dalam belajar.11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang yang terjadi jika
suatu motif telah dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai.
Sedangkan motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk
11

Imam Musbikin, Mengatasi anak mogok sekolah dan malas belajar, ( Jogjakarta :
Laksana, 2012), hlmn. 101

10

melakukan sesuatu. Motif tidak dapat dilihat begitu saja dari perilaku
seseorang karena motif tidak selalu seperti yang tampak, bahkan kadangkadang berlawanan dari yang tampak. Dari tujuan-tujuan yang tidak selalu
disadari ini, kita dipaksa menghadapi seluruh persoalan motivasi yang tidak
disadari itu. Karena teori motivasi yang sehat tidak membenarkan pengabaian
terhadap kehidupan tidak sadar. Dari banyaknya pandangan yang berbeda
mengenai motivasi yang mungkin dikarenakan oleh penggunaan metode
observasi yang berbeda-beda, studi tentang berbagai kelompok usia dan jenis
kelamin yang berbeda, dan sebagainya, terdapat model tentang motivasi yang
digeneralisasi yang mempersatukan berbagai teori yang ada. Ada macammacam motivasi dalam satu perilaku.
Suatu perbuatan atau keinginan yang disadari dan hanya mempunyai
satu motivasi bukanlah hal yang biasa, tetapi tidak biasa. Karena suatu
keinginan yang disadari atau perilaku yang bermotivasi dapat berfungsi
sebagai penyalur untuk tujuan-tujuan lainnya. Apabila dapat terjadi
keseimbangan, hal tersebut mencerminkan ”hasil pekerjaan” seseorang yang
berhadapan dengan potensinya untuk perilaku, yang dapat diidentifikasi
sebagai ”kemampuannya”. Jadi, motivasi memegang peranan sebagai
perantara untuk mentransformasikan kemampuan menjadi hasil pekerjaan.
B. Saran
Dari pembahasan yang telah dipaparkan diatas tentu saja masih jauh
dari yang namanya kesempurnaan, baik dalam isi pembahasan, cara
penyusunan dan pengetikan ataupun juga nama gelar yang ditulis di makalah
ini. Khususnya pada isi makalah ini. Kami selaku penyusun mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini. Terimakasih
DAFTAR PUSTAKA
Ernest R. Hilgard, Pengantar Psikologi (Terjemah Indonesia), (Jakarta:
Erlangga,1982.
Heru Basuki. Psikologi Umum. Jakarta. Gunadarma. 2008.
Imam Musbikin, Mengatasi anak mogok sekolah dan malas belajar, Jogjakarta:
Laksana, 2012.
11

Moh.Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2011.
Ngalim M Purwanto. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakaraya.
1990.
Sarlito Wirawan Sarwono. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers,
2013.

12

Judul: Makalah Motivasi

Oleh: Rizki Fauzi


Ikuti kami