Makalah Iad

Oleh Nur Hanifa

17 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Iad

MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
IAD/IBD/ISD

OLEH :
Nur Hanifa Indri N
Ahmad Jazuli
Dosen Pembimbing
Sabiruddin, MA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
SAMARINDA
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sedikitnya ada dua alas an mengapa masalah pembangunan masyarakat desa masih relevan
dibahas. Pertama, kendati dalam dua dasawarsa terakhir perkembangan kota maju dengan
amat pesat, secara umum wilayah Negara kita masih didominasi oleh daerah pedesaan. Hal
ini diperkirakan masih akan berlangsung relative lama. Benar bahwa di beberapa daerah cirri
pedesaan itu susut perlahan bersamaan dengan proses industialisasi dan urbanisasi, akan
tetapi itu tidak berarti hilang sama sekali. Cirri pedesaan tersebut bahkan masih akan
bertahan sedemikian rupa sehingga mempengaruhi arah dan sifat perkembangan kota.
Kedua, kendati sejak awal tahun 1970-an pemerintah orde baru telah mencanangkan berbagai
macam kebijaksanaan dan program pembangunan perdesaan yang ditandai oleh inovasi
teknologi modern, secara umum kondisi social ekonomi desa masih memprihatinkan. Betul
bahwa pemerintah orde baru telah sukses menghantarkan Indonesia dari salah satu Negara
pengimpor beras nomor wahid didunia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Masyarakat Desa dan Perkotaan
Pembahasan masalah keterbelakngan (underdevelopment) mencakup masalah kemiskinan dan
kesenjangan. Kendati dalam percakapan sehari-hari istilah kemiskinan acapkali dipakai silih
berganti dengan kesenjangan, sebenarnya hakekat teredndap di dalamnya berbeda. Kemiskinan
adalah sebuah kondisi kehilangan (deprevation) terhadap sumber-sumber pemenuh kebutuhan
dasar yang berupa pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan. Mereka yang berada
dalam kategori miskin, hidupnya serba kekurangan. Sedangkan kesenjangan adalah sebuah
kondisi dimana didalmnya terjadi ketimpangan akses pada sumber-sumber ekonomi (economic
resources). Kelompok yang tergolong kuat mempunyai akses lebih kuat pada sumber-sumber
ekonomi dari pada kelompok lain yang tergolong lemah. Kelompok kuat nelakukan monopoli
sehingga kelompok lemah tetap berada dalam posisi dormant.
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa ketidakberdayaan atau keterbelakangan tersebut
terjadi ? ketidakberdayaan dan keterbelakangan itu sebenarnya adalah produk dari situasi yang
kompleks. Dan situasi yang kimpleks itu merupakan akumulasi dan interelasi dari berbagai

macam factor seperti : latar belakang historis, masalah produktivitas dan ketenagakerjaan,
ketergantungan, pada sector pertanian keterbatasan akses pada input produksi serta kondisi
struktur social masyarakat desa itu sendiri. Dengan demikian, penjelasan tentang akar
keterbelakangan melibatkan analisis dalam dimensi cultural sekaligus structural. Penjelasan itu
menyangkut nilai-nilai social sekaligus bentuk-bentuk interaksi social yang berkembang dalam
masyarakat, dan karenanya bersifat multidimensi.
Secara teoritis, penjelasan tentang akar keterbelakangan dari segi latar belakang historis
lazimnya dikaitkan ddengan kolonialisme atau ekploitasi pada zaman penjajahan. Sebelum
zaman penjajahan, perbedaan antara sector ekonomi perdesaan dan perkotaan tidak begitu tajam.
Pada saat itu, desa tidak semata-mata merupakan penghasil komoditi pertanian, tetapi lebih dari
itu juga berfungsi sebagai pusat kerajinan rakyat atau lazim disebut dengan istilah the centres of
cottage industries. Dengan demikian, di pedesaan terdapat percampuran fungsi pertanian dan
industri.
Selain itu, diantara desa dan kota (sebagai pusat administrasi, perdagangan dan kebudayaan)
terdapat sejumlah pasar. Dipasar-pasar inilah, anggota masyarakat desa mendapatkan berbagai
macam barang non pertanian. Hubungan desa kota melembagakan hubungan simbiosismutualisme, yaitu hubungan saling bergantung dan saling menguntungkan. Kemajuan desa
mendorong perkembangan kota, dan selanjutnya perkembangan kota member stimulant pada
kemajuan desa.
Tatanan ekonomi itu berubah bersamaan dengan kehadiran penjajah. Hubungan antara sector
ekonomi perdesaan dan perkotaan menjadi rusak ketika komoditas pertanian yang semula
terdistribusi mengikuti mekanisme kemampuan desa dan kebutuhan kota berubah, serta harus
mengikuti mekanisme pasar internasional, terutama terkait dengan kota-kota dinegara asal
penjajah. Bahkan sebagian besar komoditas pertanian tersebut lenyap dari pasar-pasar local
karena dipergunakan untuk memasok kebutuhan perdagangan internasional. Dan karena hasilnya
menjadi asset penjajah atau tidak kembali kemasyarakat, kekayaan desa semakin menyusut.
Konsekuesinya, desa menjadi semakin miskin dan masyarakat desa kehilangan kotanya. Kota
tidak lagi menjadi bagian integral dari arus distribusi dan produksi pertanian. Bahkan hubungan
desa-kota ditengarai semakin asimetris, penuh eksploitasi, dan didalamnya berkembang situasi
yang disebut sebagai an explorative rural-urban relations.
Mengapa ? karena kota-kota tersebut oleh kaum penjajah ditempatkan sebagai saluran dari
kejahatan mereka mengambil kekayaan atau memeras desa. Ekspansi kepentingan kaum kapitalis
pada sector peryanian tersebut terus menguat. Akses pada sumber-sumber yang produktif pun
semakin beragam. Maka mudah dimengerti apabila penindasan itu terys lestari, tidakpernah
berhenti, kendati telah merdeka. Industrialisasi dengan capital yang intensfif juga mempunya
peran penting dalam proses ini. Benar bahwa ada upaya industrialisasi pedesaan, tetapi hal itu
tidak berjalan, terutama karena daerah industry yang memiliki keterkaitan ekonomi dengan

daerah industry lainnya, sebagai salah satu syarat penting dalam proses industrialisasi, tidak
pernah terbentuk.
Secara teoritis, factor penting lain yang tengarai membuat desa menjadi tidak berdaya adalah
produktifitas yang rendah dan sumber daya manusia yang lemah. Dibeberapa daerah, ada gejala
tanah semakin tidak produktif, sehingga hasil prodiksi sangat tergantung pada pupuk kimiawi
dan obat-obatan terlambat diberikan, hasil produksi pun menurun. Bersamaan dengan itu, jumlah
penduduk di daerah pedesaan terus meningkat. Perbandingan antara hasil produksi dan jumlah
penduduk ,emjadi tidak simbang. Beban desa untuk mencakupi kebutuhan dasar tersa semakin
berat. Konsekuensinya kemudian adalah income penduduk menjadi rendah. Yang mereka
peroleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal, dan hamper tidak ada yang
dapat ditanggung.
Factor penting lainnya yang juga membuat desa menjadi tidak berdaya adalah terbatasnya akses
pada tanah. Rata-rata pemilikan tanah relative kecil, bahkan cukup besar anggota masyarakat
yang tidak mempunyai tanah. Kondisi demikian, disamping membuat distribusi penguasaan alat
produksi menjadi buruk, juga menghambat program pembangunan pertanian yang
diimplementasikan. Ketika terjadi introduksi teknologi pertanian dipedesaan (seperti system
irigasi, bibit varietas unggul, system tanam dsb), sebagian besar penduduk desa tampak pasif.
Introduksi teknologi pertanian akan membawa perubahan. Dan setiap perubahan mengandung
resiko kegagalan, padahal mereka tidak memiliki capital yang cukup untuk menanggung
kegagalan itu.

B. Hubungan Antara Masyarakat Desa Dan Kota
Kita di beri tahu bahwa “Perkawinan adalah titik peralihan di mana bergantungnya kehidupan
desa. Ia merupakan pusat struktur.” Ladang yang paling kecil mempunyai keluarga yang terbesar
dan perkawinan berlaku di kedua belah pihak pada peringkat umur yang agak lanjut jika di
bandingkandengan desa lain yang pernah di teliti. Oleh karena ladang itu kecil maka suatu
keluarga hanya dapat membenarkan seseorang anak lelaki dan seorang anak perempuan untuk
berkawin. Apabila seorang anak lelaki yang bakal mewarisi ladang perkawinan, calon istrinya
akan memberikan dia mas kawin antara Rp 250.000.00 – Rp 300.000.00. Secara kasar ini harus
sama nilainya dengan harga sawah itu. Jadi ini merupakan ukuran status sosial suatu keluarga.
Sebagian dari mas kawin itu adalah milik suami dan orang tua yang akan berhenti mengurus
sawah selepas perkawinan anak lelakinya itu. Sebagian lagi adalah untuk membantu adik lelaki
yang bakal berkawin, yang terpaksa berpindah ke kota untuk mendapatkan suatu mata
penaharian atau pergi perdagangan, atau mendapatkan suatu pekerjaan atau pergi ke mesjid atau
pindah ke luar negeri ini terjadi karena sawah itu tidak di bagi sama rata kepada semua anak
petani tadi. Dengan cara ini perlanjutan suatu keluarga dapat di teruskan berdasarkan sepetak
tanah di mana darah dan tanah mempunyai hubungan yang erat. Ini berarti mengorbankan hak

anak lelaki yang lain terutama yang lebih muda. Penulis telah menunjukkan bagaimana
perkawinan, perwarisan, control social, perpindahan dan emigrasi ke luar negeri membentuk
bagian-bagian dalam sistem social pertanian kecil tadi.
Sistem keluarga bertani itu mempunyai saingannya di kota pemasaran setempat dan ini akan
menjelaskan mengapa keluarga di kota kian pupus. Anak-anak lelaki petani desa tadi ke kota
sebagai pengusaha dan anak perempuan sebagai istri para pedagang. Seorang pedagang hidup
menurut adat-istiadat di desa dan kehidupan seperti ini diberi kepada saudara saja. Selanjutnya,
jika seorang pedagang atau pengurus hotel mengawinkan anak lelakinya yang bakal mewarisi
took atau rumah penginapan itu dengan seorang gadis desa maka gadis itu akan membawa serta
mas kawin dan adat-istiadat dari desa. Jadi kota dan desa masing-masing merupakan unit
pemasaran dan unit produksi kini diikat bukan saja dari bukan saja dari segi ekonomi bahkan
melalui ikatan kekeluargaan. Tetapi kehidupan di kota telah mempengaruhi pandangan kaum
lelaki terhadap kehidupannya yang sedikit demi sedikit merasa sulit untuk hidup secara
demikian. Mereka kehilangan cara hidup desa dan minat. Kehilangan seperti ini semakin di
rasakan oleh mereka yang kemudian di lahirkan di kota, yaitu generasi kedua dari orang yang
berpindah. Mereka menjadi sebagian daripada milieu sosial yang tidak langsung melibatkan
unsure kedesaan. Orang baru ini berhasil karena ia terus berhubungan dengan desa dan
seterusnya membentuk suatu ikatan kekeluargaan yang baru pula. Jadi kita telah melihat
bagaimana system ekonomi, melalui pertukaran hasil pertanian dengan hasil dagangan, dan
system kekeluargaan, melalui perkawinan antara orang kota dan desa, terangkum dalam suatu
system sosial kedesaan orang Irlandia pada umum nya.
C. Masyarakat Desa Dan Masyarakat Kota
Melihat dari berbagai aspek yang ada,baik kita lihat secara langsung ataupun melalui media
elektronik, bahwa betapa fenomena hidup yang ada di pedesaan mulai mengalami pergeseran
nilai, norma serta adat-istiadat yang tidak lagi di hiraukan oleh banyak penduduk desa yang ingin
merasa kehidupa nya berubah, baik ekonomi maupun status sosialnya.
Serta fenomena kehidupan perkotaan yang mempunyai motto hidup “Biar tekor asal tersohor”
menjadi sebuah gaya hidup serba boleh, walaupun itu melabrak norma-norma hukum lebih-lebih
norma agama.
Masyarakat adalah sekelompok orang yang membuat sebuah sistem semi tertutup,dimana
sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.
Lebih abstrak nya, masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas.
Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interpdependen. Umumnya, istilah masyarakat di
gunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang
teratur.
Masyarakat merupakan istilah yang di gunakan untuk menerangkan komuniti manusia yang
tinggal bersama-sama. Boleh juga di katakana masyarakat itu merupakan jaringan individu dari

segi pelaksanaan, ia bermaksud sesuatu yang di buat –atau tidak dibuat- oleh sekumpulan orang
itu. Masyarakat merupakan subjek utama dalam pengkajian sains sosial.
Walaupun setiap masyarakat itu berbeda namun cara ia musnah adalah selalunya sama:
penipuan, penurian, keganasan, peperangan dan juga kadangkala penghapusan etnik jika prasaan
perkauman itu timbul. Masyarakat yang baru akan munul daripada sesiapa yang masih bersama,
ataupun daripada sesiapa yang tertinggal.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hubungan desa kota melembagakan hubungan simbiosis-mutualisme, yaitu hubungan saling
bergantung dan saling menguntungkan. Kemajuan desa mendorong perkembangan kota, dan
selanjutnya perkembangan kota member stimulant pada kemajuan desa.
Tatanan ekonomi itu berubah bersamaan dengan kehadiran penjajah. Hubungan antara sector
ekonomi perdesaan dan perkotaan menjadi rusak ketika komoditas pertanian yang semula
terdistribusi mengikuti mekanisme kemampuan desa dan kebutuhan kota berubah, serta harus
mengikuti mekanisme pasar internasional, terutama terkait dengan kota-kota dinegara asal
penjajah. Bahkan sebagian besar komoditas pertanian tersebut lenyap dari pasar-pasar local
karena dipergunakan untuk memasok kebutuhan perdagangan internasional

DAFTAR PUSTAKA
Usman, Sunyoto., pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, Yogyakarta, 1998
Pritchard, E.E.Evans, antropologi social, London, 1986
Ahmadi Abu, 2003 Ilmu Sosial Dasar, Jakarta, Rineke CIPTA
Marwanto, 2006, Jangan Bunuh Desa Kami,Jakarta, Kompas.

Judul: Makalah Iad

Oleh: Nur Hanifa


Ikuti kami