Soal No 1

Oleh Winda Silviana

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Soal No 1

MODEL-MODEL DESAIN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN

Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Secara
umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas,
model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar.
Model berorientasi kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas)
yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah model ASSURE.
Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkann suatu
produk, biasanya media pembelajaran, misalnya video pembelajaran, multimedia pembelajaran,
atau modul. Contoh modelnya adalah model hannafin and peck. Satu lagi adalah model
beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem
pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum sekolah,
dll. contohnya adalah model ADDIE. contoh model melingkar adalah model Kemp. Adanya
variasi model yang ada ini sebenarnya juga dapat menguntungkan kita, beberapa keuntungan itu
antara lain adalah kita dapat memilih dan menerapkan salah satu model desain pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik yang kita hadapi di lapangan, selain itu juga, kita dapat
mengembangkan dan membuat model turunan dari model-model yang telah ada, ataupun kita
juga dapat meneliti dan mengembangkan desain yang telah ada untuk dicobakan dan diperbaiki.
Kesemua model tersebut juga dapat dimodifikasi untuk melakukan pengembangan bahan ajar.
Rancangan Pengembangan Bahan Ajar Model Assure
Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich
et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:Perencanaan pembelajaran model
ASSURE dikemukakan oleh Sharon E. Maldino, Deborah L. Lowther dan James D. Russell
dalam bukunya edisi 9 yang berjudul Instructional Technology & Media For Learning.
Perencanaan pembelajaran model ASSURE meliputi 6 tahapan sebagai berikut:
1) Analyze Learners
Tahap pertama adalah menganalisis pembelajar. Pembelajaran biasanya kita berlakukan
kepada sekelompok siswa atau mahasiswa yang mempunyai karakteristik tertentu. Ada 3

karakteristik

yang

sebaiknya

diperhatikan

pada

diri

pembelajar,

yakni:

Karakteristik Umum
Yang termasuk dalam karakteristik umum adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
pekerjaan, etnis, kebudayaan, dan faktor sosial ekonomi. Karakteristik umum ini dapat
digunakan untuk menuntun kita dalam memilih metode, strategi dan media untuk pembelajaran.
Sebagai contoh:
1) Jika pembelajar memiliki kemampuan membaca di bawah standar, akan lebih
efektif jika media yang digunakan adalah bukan dalam format tercetak (nonprint
media).
2) Jika pembelajar kurang tertarik terhadap materi yang disajikan, diatasi dengan
menggunakan media yang memiliki tingkat stimuli yang tinggi, seperti:
penggunaan animasi, video, permainan simulasi, dll.
3) Pembelajar yang baru pertama kali melihat atau mendapat konsep yang
disampaikan, lebih baik digunakan cara atau pengalaman langsung (realthing).
Bila sebaliknya, menggunakan verbal atau visual saja sudah dianggap cukup.
4) Jika pembelajar heterogen, lebih aman bila menggunakan media yang dapat
mengakomodir semua karakteristik pembelajar seperti menggunakan video, atau
slide power point.
Spesifikasi Kemampuan Awal
Berkenaan dengan pengetahuan dan kemampuan yang sudah dimiliki pembelajar sebelumnya.
Informasi ini dapat kita peroleh dengan memberikan entry test/entry behavior kepada pembelajar
sebelum kita melaksanakan pembelajaran. Hasil dari entry test ini dapat dijadikan acuan tentang
hal-hal apa saja yang perlu dan tidak perlu lagi disampaikan kepada pembelajar.
Gaya Belajar
Gaya belajar timbul dari kenyamanan yang kita rasakan secara psikologis dan emosional saat
berinteraksi dengan lingkungan belajar, karena itu gaya belajar siswa/mahasiswa ada yang
cenderung dengan audio, visual, atau kinestetik. Berkenaan gaya belajar ini, kita sebaiknya

menyesuaikan

metode

dan

media

pembelajaran

yang

akan

digunakan.

2) State Standards and Objectives
Tahap kedua adalah merumuskan standar dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Standar
diambil dari Standar Kompetensi yang sudah ditetapkan.

Dalam merumuskan tujuan

pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
Gunakan format ABCD
A adalah audiens, siswa atau mahasiswa yang menjadi peserta didik kita. Instruksi yang kita
ajukan harus fokus kepada apa yang harus dilakukan pembelajar bukan pada apa yang harus
dilakukan pengajar, B (behavior) – kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan baru yang
harus dimiliki pembelajar setelah melalui proses pembelajaran dan harus dapat diukur), C
(conditions) – kondisi pada saat performa pembelajar sedang diukur, dan D adalah degree – yaitu
kriteria yang menjadi dasar pengukuran tingkat keberhasilan pembelajar.
Mengklasifikasikan Tujuan
Tujuan pembelajaran yang akan kita lakukan cenderung ke domain mana? Apakah kognitif,
afektif, psikomotor, atau interpersonal. Dengan memahami hal itu kita dapat merumuskan tujuan
pembelajaran dengan lebih tepat, dan tentu saja akan menuntun penggunaan metode, strategi dan
media pembelajaran yang akan digunakan.
Perbedaan Individu
Berkaitan dengan kemampuan individu dalam menuntaskan atau memahami sebuah materi yang
diberikan/dipelajari. Individu yang tidak memiliki kesulitan belajar dengan yang memiliki
kesulitan belajar pasti memiliki waktu ketuntasan belajar (mastery learning) yang berbeda.
Kondisi ini dapat menuntun kita merumuskan tujuan pembelajaran dan pelaksanaannya dengan
lebih tepat.
3) Select Strategies, Technology, Media, And Materials

Tahap ketiga dalam merencanakan pembelajaran yang efektif adalah memilih strategi,
teknologi, media dan materi pembelajaran yang sesuai. Strategi pembelajaran harus dipilih
apakah yang berpusat pada siswa atau berpusat pada guru sekaligus menentukan metode yang
akan digunakan. Yang perlu digaris bawahi dalam point ini adalah bahwa tidak ada satu metode
yang paling baik dari metode yang lain dan tidak ada satu metode yang dapat
menyenangkan/menjawab kebutuhan pembelajar secara seimbang dan menyeluruh, sehingga
harus dipertimbangkan mensinergikan beberapa metode.
Memilih teknologi dan media yang akan digunakan tidak harus diidentikkan dengan
barang yang mahal. Yang jelas sebelum memilih teknologi dan media kita harus
mempertimbangkan terlebih dahulu kelebihan dan kekurangannya. Jangan sampai media yang
kita gunakan menjadi bumerang atau mempersulit kita dalam pentransferan pengetahuan kepada
pembelajar .
Ketika kita telah memilih strategi, teknologi dan media yang akan digunakan, selanjutnya
menentukan materi pembelajaran yang akan digunakan. Langkah ini melibatkan tiga pilihan: (1)
memilih materi yang sudah tersedia dan siap pakai, (2) mengubah/ modifikasi materi yang ada,
atau (3) merancang materi dengan desain baru. Bagaimanapun caranya kita mengembangkan
materi, yang terpenting materi tersebut sesuai dengan tujuan dan karakteristik si pembelajar.
4) Utilize Technology, Media and Materials
Tahap keempat adalah menggunakan teknologi, media dan material. Pada tahap ini
melibatkan perencanaan peran kita sebagai guru/dosen dalam menggunakan teknologi, media
dan materi. Untuk melakukan tahap ini ikuti proses “5P”, yaitu:
1) Pratinjau (previw), mengecek teknologi, media dan bahan yang akan digunakan
untuk pembelajaran sesuai dengan tujuannya dan masih layak pakai atau tidak.
2) Menyiapkan

(prepare)

teknologi,

media

dan

materi

yang

mendukung

pembelajaran kita.
3) Mempersiapkan (prepare) lingkungan belajar sehingga mendukung penggunaan
teknologi, media dan materi dalam proses pembelajaran.
4) Mempersiapkan (prepare) pembelajar sehingga mereka siap belajar dan tentu saja
akan diperoleh hasil belajar yang maksimal.

5) Menyediakan (provide) pengalaman belajar (terpusat pada pengajar atau
pembelajar), sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar dengan maksimal.
5) . Require Learner Participation
Tahap kelima adalah mengaktifkan partisipasi pembelajar. Belajar tidak cukup hanya
mengetahui, tetapi harus bisa merasakan dan melaksanakan serta mengevaluasi hal-hal yang
dipelajari sebagai hasil belajar. Dalam mengaktifkan pembelajar di dalam proses pembelajaran
yang menggunakan teknologi, media dan materi alangkah baiknya kalau ada sentuhan
psikologisnya, karena akan sangat menentukan proses dan keberhasilan belajar. Psikologi belajar
dalam proses pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah :
1) Behavioris, karena tanggapan/respon yang sesuai dari pengajar dapat menguatkan
stimulus yang ditampakkan pembelajar.
2) Kognitifis, karena informasi yang diterima pembelajar dapat memperkaya skema
mentalnya.
3) Konstruktivis, karena pengetahuan dan ketrampilan yang diterima pembelajar akan lebih
berarti dan bertahan lama di kepala jika mereka mengalami langsung setiap aktivitas
dalam proses pembelajaran.
4) Sosial, karena feedback atau tanggapan yang diberikan pengajar atau teman dalam proses
pembelajaran dapat dijadikan sebagai ajang untuk mengoreksi segala informasi yang
telah diterima dan juga sebagai support secara emosional.
f.

Evaluate and Revise, Tahap keenam adalah mengevaluasi dan merevisi perencanaan

pembelajaran serta pelaksanaannya. Evaluasi dan revisi dilakukan untuk melihat seberapa
jauh teknologi, media dan materi yang kita pilih/gunakan dapat mencapai tujuan yang
telah kita tetapkan sebelumnya. Dari hasil evaluasi akan diperoleh kesimpulan: apakah
teknologi, media dan materi yang kita pilih sudah baik, atau harus diperbaiki lagi.
2.

Rancangan Pengembangan Bahan Ajar Model Addie

Salah satu model desain pembelajaran yang sifatnya lebih generik adalah model ADDIE
(Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang
dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman

dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan
mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
a. Analysis (analisa)
Analysis (analisa) yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi
masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Tahap analisis merupakan
suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar, yaitu melakukan
needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan
analisis tugas (task analysis).

Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa

karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan
dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
b. Design (desain/perancangan)
Yang kita lakukan dalam tahap desain ini, pertama, merumuskan tujuan pembelajaran yang
SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes
tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian
tentukanlah strategi pembelajaran media danyang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai
tujuan tersebut. Selain itu, dipertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal
sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain.
Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Desain merupakan langkah kedua dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Langkah ini
merupakan:
1) Inti dari langkah analisis karena mempelajari masalah kemudian menemukan alternatif
solusinya yang berhasil diidentifikasi melalui langkah analisis kebutuhan.
2) Langkah penting yang perlu dilakukan untuk, menentukan pengalaman belajar yang perlu
dimilki oleh siswa selama mengikuti aktivitas pembelajaran.
3) Langkah yang harus mampu menjawab pertanyaan, apakah program pembelajaran dapat
mengatasi masalah kesenjangan kemampuan siswa?

4) Kesenjangan kemampuan disini adalah perbedaan kemampuan yang dimilki siswa
dengan

kemampuan

yang

seharusnya

dimiliki

siswa.

Contoh pernyataan kesenjangan kemampuan:


Siswa tidak mampu mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan setelah
mengikuti proses pembelajaran.



Siswa hanya mampu mencapai tingkat kompetensi 60% dari standar kompetensi
yang telah digariskan. Pada saat melakukan langkah ini perlu dibuat pertanyaanpertanyaan kunci diantaranya adalah sebagai berikut :



Kemampuan dan kompetensi khusus apa yang harus dimilki oleh siswa setelah
menyelesaikan program pembelajaran?



Indikator apa yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam
mengikuti program pembelajaran?



Peralatan atau kondisi bagaimana yang diperlukan oleh siswa agar dapat
melakukan unjuk kompetensi – pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - setelah
mengikuti program pembelajaran?



Bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mendukung
program pembelajaran?

c. Development (pengembangan)
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan.
Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka
multimedia tersebut harus dikembangkan. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan
adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari
salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi.
Pengembangan merupakan langkah ketiga dalam mengimplementasikan model desain
sistem pembelajaran ADDIE. Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat, membeli, dan
memodifikasi bahan ajar. Dengan kata lain mencakup kegiatan memilih, menentukan metode,
media serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam menyampaikan materi
atau substansi program. Dalam melakukan langkah pengembangan, ada dua tujuan penting yang
perlu dicapai. Antara lain adalah :

1) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya.
2) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Pada saat melakukan langkah pengembangan, seorang
perancang akan membuat pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya,
Pertanyaan-pertanyaannya antara lain :


Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli untuk dapat digunakan dalam
mencapai tujuan pembelajaran?



Bahan ajar seperti apa yang harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan siswa
yang unik dan spesifik?



Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli dan dimodifikasi sehingga dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang unik dan spesifik?



Bagaimana kombinasi media yang diperlukan dalam menyelenggarakan
program pembelajaran?

d. Implementation (implementasi/eksekusi)
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang sedang kita
buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa
sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan.

Implementasi atau

penyampaian materi pembelajaran merupakan langkah keempat dari model desain sistem
pembelajaran ADDIE. Tujuan utama dari langkah ini antara lain :
1) Membimbing siswa untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah / solusi untuk mengatasi kesenjangan hasil
belajar yang dihadapi oleh siswa.
3) Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, siswa perlu memilki kompetensi –
pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - yang diperlukan. Pertanyaan-pertanyaan kunci
yang harus dicari jawabannya oleh seorang perancang program pembelajaran pada saat
melakukan langkah implementasi yaitu sebagai berikut :
• Metode pembelajaran seperti apa yang paling efektif utnuk digunakan dalam
penyampaian bahan atau materi pembelajaran?

• Upaya atau strategi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menarik dan memelihara
minat siswa agar tetap mampu memusatkan perhatian terhadap penyampaian materi atau
substansi pembelajaran yang disampaikan?
e. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
Evaluasi yaitu proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun
berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada
setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap di atas itu dinamakan
evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi.
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Evaluasi
adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap program pembelajaran.
Evaluasi terhadap program pembelajaran bertujuan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu :
1) Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
2) Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari keikutsertaan
dalam program pembelajaran.
3) Keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan kompetensi siswa
setelah mengikuti program pembelajaran.
Beberapa pertanyaan penting yang harus dikemukakan perancang program pembelajaran
dalam melakukan langkah-langkah evaluasi, antara lain :


Apakah siswa menyukai program pembelajaran yang mereka ikuti selama ini?



Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siswa dalam mengikuti program
pembelajaran?



Seberapa jauh siswa dapat belajar tentang materi atau substansi pembelajaran?



Seberapa besar siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap
yang telah dipelajari?



Seberapa besar kontribusi program pembelajaran yang dilaksanakan terhadap
prestasi belajar siswa?

Implementasi model desain sistem pembelajaran ADDIE yang dilakukan secara
sistematik dan sistemik diharapkan dapat membantu seorang perancang program, guru, dan

instruktur dalam menciptakan program pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
3.

Rancangan Pengembangan Bahan Ajar Model Kemp
Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar jika ditunjukkan dalam sebuah

diagram.

Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan

sebuah bahan ajar, yaitu:
a. Menentukan

tujuan

dan

daftar

topik,menetapkan

tujuan

umum

untuk

pembelajaran tiap topiknya;
b. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya
dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
d. Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
e. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang
pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
f. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan
atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah
menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi
personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan
rencana pembelajaran;
h. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan
pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa
fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi
yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
Menurut Kemp, desain pembelajaran terdiri dari banyak bagian dan fungsi yang saling
berhubungan dan mesti dikerjakan secara logis agar mencapai apa yang diinginkan. Berorientasi
pada perancangan pembelajaran yang menyeluruh. Sehingga guru sekolah dasar dan sekolah
menengah, dosen perguruan tinggi, pelatih di bidang industry, serta ahli media yang akan bekerja
sebagai perancang pembelajaran.

Model Kemp adalah sebuah pendekatan yang mengutamakan sebuah alur yang dijadikan
pedoman dalam penyusunan perencanaan program. Dimana alur tersebut merupakan rangkaian
yang sistematis yang menghubungkan tujuan hingga tahap evaluasi. Komponen-komponen
dalam model pembelajaran Kemp ini dapat berdiri sendiri, sehingga sewaktu-waktu tiap
komponennya

dapat

dilakukan

revisi.

Menurut

Miarso

(http://ervindasabila.blogspot.com/p/v-behaviorurldefaultvml-o.html),

dan

Soekamto

model pembelajaran

Kemp dapat digunakan di semua tingkat pendidikan, mulai dari Sekolah dasar sampai perguruan
tinggi. Ada 4 unsur yang merupakan dasar dalam membuat model Kemp:
1) Untuk siapa program itu dirancang? (ciri pebelajar)
2) Apa yang harus dipelajari? (tujuan yang akan dicapai)
3) Bagaimana isi bidang studi dapat dipelajari dengan baik? (metode/strategi
pembelajaran)
4) Bagaimana mengetahui bahwa proses belajar telah berlangsung? (evaluasi)
4.

Rancangan Pengembangan Bahan Ajar Model Hannafin dan Peck

Model Hannafin dan Peck adalah model desainp embelajaran yang terdiri dari pada tiga fase
yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, fase pengembangan dan implementasi (Hannafin&
Peck, 1988). Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase.
Model ini lebih berorientasi produk, melalui tiga fase:
a.

Fase pertama,

Adalah analisis kebutuhan dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dalam
mengembangkan suatu media pembelajaran termasuklah di dalamnya tujuan dan objektif media
pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran,
peralatan dan keperluan media pembelajaran.
b.

Fasa kedua

Adalah fase desain, informasi dari fase analisis dipindahkan ke dalam bentuk dokumen yang
akan menjadi tujuan pembuatan media pembelajaran. Fase desain bertujuan untuk
mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaidah yang paling baik untuk mencapai tujuan
pembuatan media tersebut.

Salah satu dokumen yang dihasilkan dalam fase ini adalah

dokumen story board yang mengikut urutan aktifitas pembelajaran berdasarkan keperluan
pelajaran dan objektif media pembelajaran seperti yang diperoleh dalam fase analisis keperluan.
c.

Fase ketiga

Adalah fase pengembangan dan implementasi, terdiri dari penghasilan diagram alur, pengujian,
serta penilaian formatif dan penilaian sumatif.

Dokumen story board akan dijadikan landasan

bagi pembuatan diagram alir yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran.
Untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian dan
pengujian dilaksanakan pada fase ini. Model Hannafindan Peck (1988) menekankan proses
penilaian dan pengulangan harus mengikut sertakan proses-proses pengujian dan penilaian
media pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan.
(winda silviana aeni biologi B/7 14111610058)

Judul: Soal No 1

Oleh: Winda Silviana


Ikuti kami