Bikin Soal Pilgan

Oleh Noor Ida

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Bikin Soal Pilgan

MAKALAH
PENGELOLAAN PENCEMAR UDARA
“PENGARUH PENCEMAR UDARA”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II
ANGGOTA :
1. MUHAMMAD RENNO ARIEF D (1610815210013)
2. MUHAMMAD NOR RIJAL (1610815310013)
3. MUHAMMAD REFQI CHANDRA H (1610815210016)
4. NADYA SORAYA (1610815220019)
5. WIDYA SULISTIAWATI (1610815220025)

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2018

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang “Pengendalian Pencemaran Udara”
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.Akhir kata kami berharap semoga makalah “Pengendalian Pencemaran
Udara” ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.

Banjarbaru, Februari 2018

Penyusun

DAFTAR ISI
Cover ..............................................................................................................................
Kata pengantar...............................................................................................................
Daftar isi.........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................
1.1 Latar belakang...................................................................................................
1.2 Rumusan masalah..............................................................................................
1.3 Tujuan penulisan...............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................
2.1 Pengertian pencemaran udara..........................................................................
2.2 Penyebab pencemaran udara............................................................................
2.3 Dampak pencemaran udara..............................................................................
2.4 Dampak Pencemaran Udara Terhadap Hewan dan Tumbuhan..................
2.5 Contoh Kasus Pencemaran Udara...................................................................
BAB III PENUTUP........................................................................................................
3.1 Simpulan.............................................................................................................
3.2 Saran...................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pencemaran udara merupakan masalah yang memerlukan perhatian khusus,
khususnya untuk daerah-daerah kota besar. Pencemaran udara yang ada dapat berasal
dari asap kendaraan bermotor, asap pabrik ataupun partikel-partikel yang lain. Saat ini
mulai dilakukan upaya pemantauan pencemaran udara. Dari hasil pemantauan
tersebut diketahui ada beberapa parameter yang cukup memprihatinkan, diantaranya:
debu (partikulat), Sulfur Dioksida (SO2), Oksida nitrogen (NOx), Carbon dioksida
(CO) dan hidrokarbon (HC). Pencemar lainnya adalah timbal (Pb) yang dikandung
dalam bensin (Premium). Keberadaan timbal (Pb) di udara dapat membahayakan bagi
kesehatan manusia.
Hasil penelitian Bapedal (1992) di beberapa kota besar (Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya) menunjukkan bahwa kendaraan bermotor merupakan sumber
utama pencemaran udara. Hal ini dapat dilihat dari persentase cemaran CO sebesar
98,8%, NOx sebesar 73,4% dan HC sebesar 88,9%, Pb sebesar 100% yang semuanya
berasal dari hasil pembakaran kendaraan bermotor. Untuk mengantisipasi hal ini,
pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui Kepmen LH no 35 tahun 1993 tentang
Baku Mutu Emisi kendaraan bermotor. Pemerintah Daerah juga merespon situasi ini
seperti contoh keluarnya SK Gubernur DKI Jakarta no 1041 tahun 2000 dengan
batasan yang lebih rendah.
Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber
polusi udara mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap
industri hanya berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran
lain,misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dll.
Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu diwaspadai, tetapi organisasi kesehatan
dunia (WHO) menetapkan beberapa jenis polutan yang dianggap serius.Polutan udara
yang berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan,serta mudah merusak harta benda
adalah partikulat yang mengandung partikel aspa dan jelaga, hidrokarbon, sulfur
dioksida, dan nitrogen oksida. Semuanya diemisikan oleh kendaraan bermotor. WHO
memperkirakan bahwa 70% penduduk kota di dunia pernah menghirup udara kotor
akibat emisi kendaraan bermotor, sedangkan 10% sisanya menghirup udara yang
bersifat marginal.
Demikian pentingnya masalah pencemaran udara khususnya oleh partikulat,
maka diperlukan upaya untuk mengendalikan pencemaran tersebut. Dalam makalah
ini akan dibahas mengenai gambaran umum tentang udara dan permasalahannya serta
upaya pengendalian pencemaran udara

1.1 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pencemaran udara ?
2. Apa saja dampak pencemaran udara?
3. Apa Dasar- dasar kebijakan pengendalian pencemaran udara
4. Apa saja sumber penecemaran udara
5. Bagaimana upaya pengendalian pencemaran udara bergerak dan tidak
bergerak
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu pencemaran udara
2. Untuk mengetahui penyebab dan dampak pencemaran udara
3. Untuk mengetahui dampak pencemaran udara

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pengendalian Pencemaran udara
Pengendalian pencemaran udara adalah setiap usaha atau kegiatan dari sumber
bergerak, sumber tidak bergerak dan kegiatan lainnya selalu menghasilkan pollutan
maka wajib melakukan pengendalian pencemaran udara, agar kualitas udara ambien
dan mutu udara emisi, tingkat kebisingan, getaran dan kebauan sesuai dengan baku
mutu tetap memenuhi kesehatan.
Pencemaran dapat terjadi dimana-mana. Bila pencemaran tersebut terjadi di dalam
rumah, di ruang-ruang sekolah ataupun di ruang-ruang perkantoran maka disebut
sebagai pencemaran dalam ruang (indoor pollution). Sedangkan bila pencemarannya
terjadi di lingkungan rumah, perkotaan, bahkan regional maka disebut sebagai
pencemaran di luar ruang (outdoor pollution).
Pengendalian adalah segala macam upaya baik secara administrasi dan teknik untuk
pencegahan dan upaya penanggulangan pencemaran udara serta pemulihan kualitas
udara.
Ruang lingkup pengendalian pencemaran udara yaitu :
1. Pencegahan adalah setiap bentuk upaya yang dilakukan sebelum terjadinya
dampak pencemaran udara.
2. Penanggulangan adalah semua upaya yang dilakukan setelah terjadi dampak
pencemaran udara agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir.
3. Pemulihan adalah upaya yang dilakukan setelah terjadinya dampak, sehingga
diharapkan tidak akan lebih buruk dampaknya.
Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan
meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat – pusat industri, kualitas udara telah
mengalami perubahan. Udara yang dulunya segar, kini kering dan kotor. Keadaan ini
apabila tidak segera di tanggulangi dapat membahayakan kesehatan manusia,
kehidupan hewan, serta tumbuhan .
Sumber pencemaran dapat merupakan kegiatan yang bersifat alami dan kegiatan

antropogenik. Contoh sumber alami adalah akibat letusan gunung berapi,
kebakaran hutan, dekomposisi biotik, debu, spora tumbuhan dan lain
sebagainya. Pencemaran akibat kegiatan manusia secara kuantitatif sering lebih
besar, misalnya sumber pencemar akibat aktivitas transportasi, industri,
persampahan baik akibat proses dekomposisi ataupun pembakaran dan rumah
tangga. (Ratnani,2008)
2.2 Dampak Pencemaran Udara
Sebagaimana kita ketahui bersama, pencemaran udara atau perubahan salah satu
komposisi udara dari keadaan normal, mengakibatkan terjadinya perubahan
suhu dalam kehidupan manusia. Pembangunan transportasi yang terus
dikembangkan menyusul dengan permintaan pasar, ternyata, telah mendorong
terjadinya bencana pembangunan. Saat ini, kita semua telah mengetahui bahwa
pengaruh polusi udara juga dapat menyebabkan pemanasan efek rumah kaca
(ERK) bakal menimbulkan pemanasan global atau (global warming) (Sudrajad,
2006).
Tentunya, hal ini harus merupakan sebuah peringatan kepada para pemilik
kebijakan industri dan kebijakan transportasi agar melihat kepada masalah udara
di sekitarnya. Proses pembangunan yang ada di Indonesia dalam konteks
transportasi, ternyata, telah menimbulkan bencana pembangunan yang pada
akhirnya bermuara menjadi permasalahan ekologis. Akibatnya, udara sebagai
salah satunya commons yang open access menjadi berbahaya bagi kesehatan
manusia dan alam sekitarnya

2.3 Dasar – dasar kebijakan pengendalian udara
Kebijakan Pengendalian Pencemaran Udara di Indonesia diatur oleh
1. Undang-undang No.32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup

2. Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran Udara.
3. Undang-undang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Baku Mutu Lingkungan Hidup
Pasal 20
(1) Penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup diukur melalui baku
mutu lingkungan hidup.
(2) Baku mutu lingkungan hidup meliputi: a. baku mutu air; b. baku mutu air
limbah; c. baku mutu air laut; d. baku mutu udara ambien; e….

Pasal 98
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang
mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku
mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 99
(1) Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan dilampauinya
baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau
kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

2.4 Sumber Pencemaran Udara
Pencemaran Udara yang terjadi saat ini banyak sekali sumber dan
penyebabnya. Pada umumnya sumber pencemaran udara dibagi atas
dua jenis, yaitu:
1.
Sumber alamiah

2.
Sumber antropogenik
1. Sumber Alamiah
Sumber alamiah pencemaran udara adalah sumber yang
menyebabkan pencemaran karena mengeluarkan senyawa-senyawa
penyebeb pencemaran udara. Sumber-sumber pencemaran alami
adalah:

Gunung berapi dikategorikan sebagai sumber alami karena
mengeluarkan gas beracun pada konsentrasi tinggi seperti gas karbon
monoksida dan gas karbon dioksida. Gunung berapi juga
mengeluarkan awan panas yang terdiri dari batuan pijar dan material
vulkanik yang padat yang dapat merusak pernafasan manusia dan
hewan.

Rawa-rawa masuk sebagai sumber pencemar alami karena
menghasilkan gas metana akibat adanya fermentasi selulosa yang
terjadi. Fermentasi terjadi karena pada umumnya tumbuhan yang ada
di rawa-rawa terendam sebagian di dalam air.

Kebakaran hutan terjadi ketika suhu yang terlalu panas ketika
musim kemarau atau ada pohon kering yang tersambar petir sehingga
menyebabkan kebakaran. Hasil dari kebarakan ini adalah gas-gas
yang beracun seperti karbon monoksida dan karbon dioksida.

Proses Denitrifikasi menyebabkan pencemaran udara karena
hasil dari proses ini adalah nitrit dan nitrat, yang dapat bereaksi
dengan uap air di udara ambien dan menghasilkan hujan asam.

Kondisi tertentu yang dapat menyebabkan vegetasi
menghasilkan senyawa organik volatil yang signifikan yang mampu
bereaksi dengan polutan antropogenik membentuk polutan sekunder.
2. Sumber antropogenik
Sumber-sumber pencemaran udara dikategorikan sebagai sumber
antropogenik apabila diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan manusia.
Sumber antropogenik dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu:
a.
Sumber tidak bergerak
b.
Sumber bergerak
a. Sumber tidak bergerak
Sumber-sumber pencemaran udara dikatakan sebagai sumber tidak
bergerak apabila sumber pencemar tersebut tidak bergerak sama
sekali. Contoh-contoh dari sumber bergerak adalah sebagai berikut:
Asap industri

Hasil pembakaran insinerator

Furnace

Peralatan-peralatan yang melibatkan proses pembakaran
b. Sumber bergerak
Sumber-sumber pencemaran udara dikategorikan sebagai sumber
bergerak apabila sumber pencemaran dapat bergerak. Sumber
pencemaran udara bergerak yang paling umum adalah kendaraan


bermotor seperti mobil, motor roda dua, pesawat, dan kendaraan
lainnya.
Menurut (Sarudji, 2010), yang termasuk sumber pencemar dari bahan
bakar bersumber menetap adalah pembakaran beberapa jenis bahan
bakar yang diemisikan pada suatu lokasi yang tetap. Bahan bakar
tersebut terdiri atas batu bara, minyak bakar, gas alam, dan kayu
destilasi minyak. Berbeda dengan sarana transportasi, sumber
pencemar udara menetap mengemisikan polutan pada udara ambien
tetap, sehingga dalam pengelolaan lingkungannya perlu perencanaan
yang matang, misalnya harus dipertimbangkan keadaan geografi dan
tofografi, metereologi, serta rencana tata ruang di wilayah tersebut.
2.5 Upaya pengendalian pencemaran Udara
Pengendalian pencemaran akan membawa dampak positif bagi
lingkungan karena hal tersebut akan menyebabkan kesehatan masyarakat yang
lebih baik, kenyamanan hidup lingkungan sekitar yang lebih tinggi, resiko yang
lebih rendah, kerusakan materi yang rendah, dan yang paling penting ialah
kerusakan lingkungan yang rendah. Faktor utama yang harus diperhatikan
dalam pengendalian pencemaran ialah karakteristik dari pencemar dan hal
tersebut bergantung pada jenis dan konsentrasi senyawa yang dibebaskan ke
lingkungan, kondisi geografik sumber pencemar, dan kondisi meteorologis
lingkungan.
Pengendalian pencemaran udara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
pengendalian

pada

sumber

pencemar

dan

pengenceran

limbah

gas.

Pengendalian pada sumber pencemar merupakan metode yang lebih efektif
karena hal tersebut dapat mengurangi keseluruhan limbah gas yang akan
diproses dan yang pada akhirnya dibuang ke lingkungan. Di dalam sebuah
pabrik kimia, pengendalian pencemaran udara terdiri dari dua bagian yaitu
penanggulangan emisi debu dan penanggulangan emisi senyawa pencemar.
Alat-alat pemisah debu bertujuan untuk memisahkan debu dari alirah
gas buang. Debu dapat ditemui dalam berbagai ukuran, bentuk, komposisi kimia,
densitas, daya kohesi, dan sifat higroskopik yang berbeda. Maka dari itu,
pemilihan alat pemisah debu yang tepat berkaitan dengan tujuan akhir
pengolahan dan juga aspek ekonomisDebu/partikulat seperti telah diketahui
memiliki berbagai macam variasi baik dalam segi bentuk dan ukuran, yang bisa
juga terkandung dalam larutan ataupun berwujud debu kering, dengan rentang
yang sangat besar baik dalam segi fisik dan kimiawi.Debu dan asap yang
tersuspensi di udara dapat dihilangkan dari aliran udara dengan menggunakan
beberapa alat pengendali. Terdapat tiga buah alat yang dapat menyisihkan
partikulat dari udara, yaitu :


Cyclone



Electrostatic Precipitator



BaghouseFilter

Ketiga alat diatas memiliki spesifikasi dan efisiensi yang berbeda-beda, sehingga
digunakan untuk keperluan dan keadaan yang berbeda-beda disesuaikan
dengan karakteristik alat tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan alat pengendali pencemaran partikulat adalah sebagai berikut :


Konsep dasar pengendalian partikulat



Distribusi ukuran partikulat



Efisiensi pengendalian
1. CYCLONES
Cyclone merupakan alat mekanis sederhana yang digunakan untuk
menyisihkan partikulat dari aliran gas. Cyclone cukup efektif untuk
menyisihkan partikulat kasar dengan diameter >10mm. Prinsip penyisihan
partikulat dari aliran gas pada alat ini adalah dengan memanfaatkan gaya
sentrifugal sehingga jika gaya sentrifugalnya besar maka efisiensi penyisihan
partikulat juga akan tinggi.Pada umumnya cyclone dirancang dengan
kesamaan geometris dimana perbandingan dimensinya bersifat konstan
untuk berbagai diameter (Diameter body = Do). Nilai perbandingan ini akan
menentukan apakah cyclone tersebut termasuk jenis konvensional, efisiensi
tinggi atau high throughput.
2. Electrostatic Precipitator

Prinsip dari alat ini merupakan penyisihan partikel dari udara dengan pemberian
muatan gaya pada partikel dengan gaya elektrostatik.
Gaya elektrostatik yang
diberikan pada partikel berasal dari korona (muatan listrik yang sangat tinggi), sehingga
partikel menjadi bermuatan listrik. Kemudian pada plat pengumpul diberi muatan yang
berbeda dari muatan yang diberikan pada partikel, sehingga partikel akan menempel
pada plat, yang selanjutnya akan meluruh menuju hopper. Dalam menyisihkan debu
pada alat elektrostatic precipitator dipengaruhi oleh kecepatan udara, luas area
pengumpulan, dan debit dari udara,
3. Baghouse Filter
Baghouse filter merupakan alat pengendali yang sangat baik untuk diapikasikan dalam
penyisihan debu yang memiliki ukuran kecil dimana diinginkan efesiensi penyisihan
yang cukup tinggi. Bahan yang digunakan pada baghouse filter biasanya berbentuk
tabung atau kantung.
Baghouse filter beroperasi dengan prinsip kerja yang hampir sama dengan vacuum
cleaner. Udara yang membawa debu partikulat yang ditekan melewati kantung-kantung
yang terbuat dari bahan yang spesifik. Sehingga ketika udara melewati bahan tersebut,
debu akan terakumulasi pada permukaan bahan tersebut, menghasilkan udara yang
bersih. Bahan yang digunakan berguna untuk menahan debu. Namun lapisan debu yang

terakumulasi di permukaan juga memiliki keuntungan dalam menciptakan efisiensi
yang tinggi dalam proses filtrasi partikel yang lebih kecil. ( Lapisan debu ini memiliki
efek yang sangat penting bagi bahan yang dirajut dibandingkan dengan bahan bulu
kempa).
Dalam penggunaan baghouse filter terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan yang
perlu dicermati, sehingga penggunaan alat baghouse filter dalam menanggulangi
partikulat di udara akan efektif. Berikut ini adalah keuntungan dan kekurangan dari
baghouse filter:
Baghouse filter biasanya digunakan untuk menghilangkan debu dan asap dari
aliran udara dengan menggunakan bahan yang memiliki serat dengan diameter 100-150
µ, dan ruang terbuka yang berada diantara serat tersebut antara 50-75µ. Ruang ini
dapat dilewati oleh debu yang sangat kecil. Sehingga ketika pada saat awal alat baghouse
filter diaplikasikan umunya debu yang kecil akan lolos dari bahan yg digunakan. Namun
setelah terjadinya impaksi, intersepsi dan difusi, maka partikel-partikel debu tersebut
yang akan menutup celah-celah kecil tersebut. Ketika celah tersebut telah dipenuhi
partikulat dan lapisan partikulat dipermukaan bahan telah terbentuk maka efisiensi
baghouse filter akan semakin meningkat.
Menurut dr.drh. Mangku Sitepoe (1997), ada lima dasar dalam mencegah atau
memperbaiki pencemaran udara berbentuk gas.
1. Absorbsi.
Melakukan solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan
konsentrasi yang cukup tinggi. Biasanya absorbennya air, tetapi kadangkadang dapat juga tidak menggunakan air (dry absorben).
2. Adsorbsi.
Mempergunakan kekuatan tarik-menarik antara molekul polutan dan
zat adsorben. Dalam proses adsorbsi dipergunakan bahan padat yang
dapat menyerap polutan. Berbagai tipe adsorben antara lain Karbon
Aktif dan Silikat.
3. Kondensasi.
Dengan kondensasi dimaksudkan agar polutan gas diarahkan mencapai
titik kondensasi, terutama dikerjakan pada polutan gas yang bertitik
kondensasi tinggi dan penguapan yang rendah (Hidrokarbon dan gas
organik lain).
4. Pembakaran.
Mempergunakan proses oksidasi panas untuk menghancurkan gas
Hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan. Hasil pembakaran berupa
Karbon Dioksida dan air. Adapun proses pemisahannya secara fisik
dikerjakan bersama-sama dengan proses pembakaran secara kimia.
5. Reaksi kimia.

Banyak dipergunakan pada emisi golongan Nitrogen dan Belerang.
Membersihkan gas golongan Nitrogen, caranya dengan diinjeksikan
Amoniak yang akan bereaksi kimia dengan NOx dan membentuk bahan
padat yang mengendap. Untuk menjernihkan golongan Belerang
dipergunakan copper oksid atau kapur dicampur arang.

1.
2.

3.

4.

5.

6.

7.

Sementara itu, pencegahan pencemaran udara berbentuk partikel dapat dilakukan
melalui enam konsep.
“Membersihkan” (Scrubbing). Mempergunakan cairan untuk memisahkan polutan.
Alat scrubbing ada berbagai jenis, yaitu berbentuk plat, masif, fibrous, dan spray.
Menggunakan filter. Dimaksudkan untuk menangkap polutan partikel pada
permukaan filter. Filter yang dipergunakan berukuran sekecil mungkin. Filter bersifat
semipermeable yang dapat dibersihkan, kadang-kadang dikombinasikan dengan
pembersihan gas dan filter polutan partikel.
Mempergunakan presipitasi elektrostatik. Cara ini berbeda dengan cara mekanis
lainnya, sebab langsung ke butir-butir partikel. Polutan dialirkan di antara pelat yang
diberi aliran listrik sehingga presipitator yang akan mempresipitasikan polutan
partikel dan ditampung di dalam kolektor. Pada bagian lain akan keluar udara yang
telah dibersihkan.
Mempergunakan kolektor mekanis. Dengan menggunakan tenaga gravitasi dan
tenaga kinetis atau kombinasi keduanya untuk mengendapkan partikel. Sebagai
kolektor dipergunakan gaya sentripetal yang memakai siklon.
Program langit biru. Yaitu program untuk mengurangi pencemaran udara, baik
pencemaran udara yang bergerak maupun stasioner. Dalam hal ini, ada tiga tindakan
yang dilakukan terhadap pencemaran udara akibat transportasi yaitu: Pertama,
mengganti bahan bakar kendaraan. Bahan bakar disel dan premium pembakarannya
kurang sempurna sehingga terjadi polutan yang berbahaya. Dalam program lagit biru,
hal ini dikaitkan dengan penggantian bahan bakar ke arah bahan bakar gas yang
memberikan hasil pembakaran lebih baik. Kedua, mengubah mesin kendaraan. Mesin
dengan bahan bakar disel diganti dengan mesin bahan bakar gas. Ketiga, memasang
alat-alat pembersihan polutan pada kendaraan bermotor.
Menggalakan penanaman pohon. Mempertahankan paru-paru kota dengan
memperluas pertamanan dan penanaman berbagai jenis pohon sebagai penangkal
pencemaran. Sebab tumbuhan akan menyerap hasil pencemaran udara (CO2) dan
melepaskan oksigen sehingga mengisap polutan dan mengurangi polutan dengan
kehadiran oksigen.
Bentuk pencegahan yang lain adalah membiasakan diri untuk mengkonsumsi
makanan mengandung serat tinggi. Serat makanan dapat menetralkan zat pencemar
udara dan mengurangi penyerapan logam berat melalui sistem pencernaan kita. Dan
yang paling penting pemerintah hendaknya komitmen terhadap mengganti bensin
bertimbal dengan bensin tanpa Timbal.

Judul: Bikin Soal Pilgan

Oleh: Noor Ida


Ikuti kami