Kumpulan Soal Pemecahan

Oleh Nurield D. Luffy

13 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Kumpulan Soal Pemecahan

Contoh Soal Barisan dan Deret Aritmatika Geometri, Pengertian, Rumus,
Sifat-sifat Notasi Sigma, Tak Hingga, Hitung Keuangan, Bunga Tunggal
Majemuk Anuitas, Matematika
Pernahkah kalian mengamati lingkungan sekitar? Di sekeliling kalian tentulah banyak terjadi
hal-hal yang bersifat rutin. Kejadian rutin adalah kejadian yang mempunyai pola atau
keteraturan tertentu. Amati pola susunan biji pada bunga matahari. Amati pola pertumbuhan
populasi makhluk hidup tertentu. Kedua contoh itu sebenarnya membentuk pola keteraturan
tertentu berupa barisan. Kita dapat memperkirakan suku pada waktu tertentu. Salah satunya
adalah keteraturan populasi makhluk hidup. Untuk menghitung dan memperkirakannya,
diperlukan suatu cara tertentu agar lebih mudah menyelesaikannya, yaitu dengan konsep
barisan dan deret.
Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan kalian dapat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

menjelaskan ciri barisan aritmetika dan barisan geometri;
merumuskan suku ke-n dan jumlah n suku deret aritmetika dan deret geometri;
menentukan suku ke-n dan jumlah n suku deret aritmetika dan deret geometri;
menjelaskan ciri deret geometri tak hingga yang mempunyai jumlah;
menghitung jumlah deret geometri tak hingga;
menuliskan suatu deret aritmetika dan geometri dengan notasi sigma;
menjelaskan karakteristik masalah yang model matematikanya berbentuk deret
aritmetika atau geometri;
8. merumuskan dan menyelesaikan deret yang merupakan model matematika dari
masalah;
9. menjelaskan rumus-rumus dalam hitung keuangan dengan deret aritmetika atau
geometri;
10. menentukan bunga tunggal, bunga majemuk, dan anuitas.
Sebelumnya, kalian pernah belajar barisan dan deret ketika duduk di bangku SMP. Pada
pokok bahasan ini akan dibahas secara mendalam tentang barisan dan deret, serta hal-hal
yang terkait dengan barisan dan deret. Kemudian, akan dijelaskan tentang kegunaan barisan
dan deret dalam kehidupan sehari-hari.
A. Barisan

dan Deret

Kalian tentu pernah berpikir tentang nomor rumah di sisi kiri jalan yang bernomor ganjil 1, 3,
5, 7, dan seterusnya, sedangkan nomor rumah di sisi kanan jalan bernomor genap 2, 4, 6, 8,
dan seterusnya. Mungkin juga kalian pernah berpikir dari mana para pakar menyatakan
bahwa 10 tahun ke depan penduduk Indonesia akan menjadi x juta jiwa.
Dua contoh di atas berkaitan dengan barisan dan deret dari suatu bilangan.
1. Barisan Bilangan

Misalkan seorang anak diberi uang saku orang tuanya setiap minggu Rp10.000,00. Jika setiap
minggu uang sakunya bertambah Rp500,00 maka dapat dituliskan uang saku dari minggu ke
minggu berikutnya adalah Rp10.000,00, Rp10.500,00, Rp11.000,00, Rp11.500,00, ....
Susunan bilangan-bilangan yang sesuai dengan contoh di atas adalah :

Perhatikan bahwa dari bilangan-bilangan yang disusun berbentuk 10.000, 10.500, 11.000,
11.500, ... mempunyai keteraturan dari urutan pertama, kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya, yaitu bilangan berikutnya diperoleh dari bilangan sebelumnya ditambah 500.
Bilangan-bilangan yang disusun urut dengan aturan tertentu seperti itulah dikenal dengan
nama barisan bilangan.
Secara matematis, barisan bilangan merupakan nilai fungsi dengan daerah definisinya adalah
bilangan asli. Misalkan barisan bilangan ditulis lambang U untuk menyatakan urutan sukusukunya maka bilangan pertama ditulis U(1) atau U1, bilangan kedua ditulis U(2) atau U2, dan
seterusnya. Jika kita buat korespondensi, akan terlihat seperti berikut.

Jadi, bentuk umum barisan bilangan adalah U1, U2, U3, ..., Un, ...
Dalam hal ini, Un = f(n) disebut rumus umum suku ke-n dari barisan bilangan.
Contoh Soal Barisan Bilangan 1 :
Diketahui barisan bilangan dengan suku ke-n berbentuk Un = n2 – 2n. Tuliskan 5 suku
pertama dari barisan tersebut.
Pembahasan :
Rumus suku ke-n adalah Un = n2 – 2n.
Suku pertama dapat dicari dengan menyubstitusikan n = 1 dan diperoleh U1 = 12 – 2(1) = –1.
Suku kedua dicari dengan mensubstitusikan n = 2 dan diperoleh U2 = 22 – 2(2) = 0.
Dengan cara yang sama, diperoleh sebagai berikut.
Suku ketiga = U3 = 32 – 2(3) = 3.
Suku keempat = U4 = 42 – 2(4) = 8.
Suku kelima = U5 = 52 – 2(5) = 15.
Jadi, lima suku pertama dari barisan itu adalah –1, 0, 3, 8, 15.

Misalkan diberikan suatu barisan bilangan dengan suku ke-n dari barisan bilangan tersebut
tidak diketahui. Dapatkah kita menentukan rumus suku ke-n? Hal ini tidak selalu dapat
ditentukan, tetapi pada beberapa barisan kita dapat melakukannya dengan memperhatikan
pola suku-suku barisan tersebut.
Contoh Soal 2 :
Diketahui barisan bilangan 4, 7, 12, 19, ....
a. Tentukan rumus suku ke-n.
b. Suku keberapa dari barisan tersebut yang bernilai 199?
Penyelesaian :
Barisan bilangan: 4, 7, 12, 19, ...
a. Suku ke-1 = U1 = 4 = 12 + 3
Suku ke-2 = U2 = 7 = 22 + 3
Suku ke-3 = U3 = 12 = 32 + 3
Suku ke-4 = U4 = 19 = 42 + 3
Suku ke-n = Un = n2 + 3
Jadi, rumus suku ke-n barisan tersebut adalah Un = n2 + 3.
b. Diketahui suku ke-n = 199, berarti
Un = 199
↔ n2 + 3 = 199
↔ n2 = 196
Karena n2 = 196 maka n1 = 14 atau n2 = –14 (dipilih nilai n positif).
Mengapa tidak dipilih n = –14?
Jadi, suku yang nilainya 199 adalah suku ke-14.
2. Deret Bilangan
Misalkan kita mempunyai barisan bilangan U1, U2, U3, ..., Un dan Sn adalah jumlah dari sukusuku
barisan
itu.
Sn = Sn = U1 + U2 + U3 + ... + Un disebut deret.
Jadi, deret adalah jumlahan suku-suku dari suatu barisan.
B. Barisan

dan Deret Aritmatika

1. Barisan Aritmatika
Indah menyisihkan sebagaian uang yang dimilikinya untuk disimpan. Pada bulan ke-1, ia
menyimpan Rp 20.000,00. Bulan berikutnya ia selalu menaikkan simpanannya Rp 500,00

lebih besar dari bulan sebelumnya. Bear simpanan (dalam rupiah) Indah dari pertama dan
seterusnya dapat ditulis sebagai berikut.
Bulan Ke-1

Bulan Ke-2

Bulan Ke-3

Bulan Ke-4

...

20.000

20.500

21.000

21.500

...

Jika kalian amati, selisih suku barisan ke suku berikutnya selalu tetap, yaitu 500.
Barisan aritmetika adalah suatu barisan bilangan yang selisih setiap dua suku berturutan
selalu merupakan bilangan tetap (konstan).
Bilangan yang tetap tersebut disebut beda dan dilambangkan dengan b.
Perhatikan juga barisan-barisan bilangan berikut ini.
a. 1, 4, 7, 10, 13, ...
b. 2, 8, 14, 20, ...
c. 30, 25, 20, 15, ...
Barisan-barisan tersebut merupakan contoh dari barisan aritmatika.
Mari kita tinjau satu per satu.
a. Pada barisan ini, suku berikutnya diperoleh dari suku sebelumnya ditambah 3. Dapat
dikatakan bahwa beda sukunya 3 atau b = 3.

b. Pada barisan ini, suku berikutnya diperoleh dari suku sebelumnya ditambah 6. Dapat
dikatakan bahwa beda sukunya 6 atau b = 6.

c. Pada barisan ini, suku berikutnya diperoleh dari suku sebelumnya ditambah –5. Dapat
dikatakan bahwa beda sukunya –5 atau b = –5. Secara umum dapat dikatakan sebagai berikut.
Jika Un adalah suku ke-n dari suatu barisan aritmetika maka berlaku b = Un – Un-1.

Rumus umum suku ke-n barisan aritmetika dengan suku pertama (U1) dilambangkan dengan
a dan beda dengan b dapat ditentukan seperti berikut.

U1 = a
U2 = U1 + b = a + b
U3 = U2 + b = (a + b) + b = a + 2b
U4 = U3 + b = (a + 2b) + b = a + 3b
U5 = U4 + b = (a + 3b) + b = a + 4b
.
.
.
n = Un–1 + b = a + (n – 1)b
Jadi, rumus suku ke-n dari barisan aritmatika adalah :
Un = a + (n – 1)b
Keterangan:
Un = suku ke-n
a = suku pertama
b = beda
n = banyak suku
Contoh Soal Barisan Aritmatika 3 :
Tentukan suku ke-8 dan ke-20 dari barisan –3, 2, 7, 12, ....
Jawaban :
–3, 2, 7, 12, …
Suku pertama adalah a = –3 dan bedanya b = 2 – (–3) = 5.
Dengan menyubstitusikan a dan b, diperoleh Un = –3 + (n – 1)5.
Suku ke-8 : U8 = –3 + (8 – 1)5 = 32.
Suku ke-20 : U20 = –3 + (20 – 1)5 = 92.
Contoh Soal 4 :
Diketahui barisan aritmetika –2, 1, 4, 7, ..., 40. Tentukan banyak suku barisan tersebut.
Penyelesaian :
Diketahui barisan aritmetika –2, 1, 4, 7, ..., 40.
Dari barisan tersebut, diperoleh a = –2, b = 1 – (–2) = 3, dan Un = 40.
Rumus suku ke-n adalah Un = a + (n – 1)b sehingga :
40 = –2 + (n – 1)3
↔ 40 = 3n – 5
↔ 3n = 45

Karena 3n = 45, diperoleh n = 15.
Jadi, banyaknya suku dari barisan di atas adalah 15.
Contoh Soal 5 :
Suku ke-10 dan suku ke-14 dari barisan aritmetika berturut-turut adalah 7 dan 15. Tentukan
suku pertama, beda, dan suku ke-20 barisan tersebut.
Pembahasan :
Diketahui U10 = 7 dan U14 = 15. Dari rumus suku ke-n barisan aritmetika Un = a + (n – 1)b,
diperoleh 2 persamaan, yaitu :
U10 = 7 sehingga diperoleh a + 9b = 7 ............................ (1)
U14 = 15 sehingga diperoleh a + 13b = 15 ........................ (2)
Untuk menentukan nilai a dan b, kita gunakan metode campuran antara eliminasi dan
substitusi. Dari persamaan (1) dan (2), diperoleh :
a + 9b
a + 13b
–4b
b

=7
= 15
= –6
=2

-

Dengan menyubstitusikan b = 2 ke persamaan (1), diperoleh :
a + 9(2) = 7 ↔ a = –11
Dengan demikian, diperoleh suku ke-n adalah Un = –11 + (n – 1)2.
Jadi, suku ke-20 adalah U20 = –11 + (20 – 1)2 = 27.
Pola Kuadrat dari Bilangan 9
Apakah hasil kuadrat bilangan yang disusun dari angka 9 memiliki pola tertentu? Betul
sekali. Hasil kuadratnya hanya tersusun dari angka 9, 8, 1, dan 0. Jika bilangan terdiri atas n
digit angka 9 (n bilangan bulat kurang dari 10) maka kuadrat bilangan tersebut adalah
bilangan yang tersusun dari angka 9 sebanyak n – 1, diikuti angka 8, kemudian angka 0
sebanyak n – 1, dan diakhiri angka 1. Perhatikan pola berikut.
92 = 81
992 = 9801
9992 = 998001
99992 = 99980001
999992 = 9999800001
9999992 = 999998000001
Setelah memperhatikan pola di atas, coba kalian tentukan hasil dari :

a. 99999992
b. 999999992
c. 9999999992
2. Deret Aritmetika
Dari sembarang barisan aritmetika, misalnya 2, 5, 8, 11, 14, ... dapat dibentuk suatu deret
yang merupakan penjumlahan berurut dari suku-suku barisan tersebut, yaitu 2 + 5 + 8 + 11
+ .... Terlihat bahwa barisan aritmetika dapat dibentuk menjadi deret aritmetika dengan cara
menjumlahkan suku-suku barisan aritmetika sehingga dapat didefinisikan secara umum.
Misalkan U1, U2, U3, ..., Un merupakan suku-suku dari suatu barisan aritmetika. U1 + U2 + U3
+ ... + Un disebut deret aritmetika, dengan :
Un = a + (n – 1)b.
Seperti telah kalian ketahui, deret aritmetika adalah jumlah n suku pertama barisan
aritmetika. Jumlah n suku pertama dari suatu barisan bilangan dinotasikan Sn. Dengan
demikian,
Sn = U1 + U2 + U3 + ... + Un.
Untuk memahami langkah-langkah menentukan rumus Sn, perhatikan contoh berikut.
Contoh Soal Deret Aritmatika 6 :
Diketahui suatu barisan aritmetika 2, 5, 8, 11, 14. Tentukan jumlah kelima suku barisan
tersebut.
Pembahasan :
Jumlah kelima suku 2, 5, 8, 11, 14 dapat dituliskan sebagai berikut.
S5 =
S5 =
2S5 =
2S5 =
S5 =

2 + 5 + 8 + 11 + 14
14 + 11 + 8 + 5 + 2
16 + 16 + 16 + 16 + 16
5 x 16

+

Jadi, jumlah kelima suku barisan tersebut adalah 40.
Setelah kalian amati contoh di atas, kita dapat menentukan rumus umum untuk Sn sebagai
berikut.
Diketahui rumus umum suku ke-n dari barisan aritmetika adalah Un = a + (n – 1)b. Oleh
karena itu,
U1 =
U2 =

a
a

+

b

=a
= Un – (n – 2)b

U3 =
.
.
.
Un =

a

+

a

+

2b
.
.
.
(n – 1)b

= Un – (n – 3)b
.
.
.
= Un

Dengan demikian, diperoleh :
Sn = a + (a + b) + (a + 2b) + ... + (a + (n – 1)b)
= a + (Un – (n – 2) b) + (Un – (n – 3) b) + ... + Un............ (1)
Dapat pula dinyatakan bahwa besar setiap suku adalah b kurang dari suku berikutnya.
Un–1 = Un – b
Un–2 = Un–1 – b = Un – 2b
Un–3 = Un–2 – b = Un – 3b
Demikian seterusnya sehingga Sn dapat dituliskan
Sn = a + (Un – (n – 1)b) + … + (Un – 2b) + (Un – b) + Un ...... (2)
Dari persamaan 1 dan 2 jika kita jumlahkan, diperoleh :

Dengan demikian, 2Sn = n(a + Un)
↔ Sn = ½ n(a + Un)
↔ Sn = ½ n(a + (a + (n – 1)b))
↔ Sn = ½ n(2a + (n – 1)b)
Jadi, rumus umum jumlah n suku pertama deret aritmetika adalah :
Sn = ½ n(a + Un) atau
Sn = ½ n [2a + (n – 1)b]
Keterangan:
Sn= jumlah n suku pertama
a = suku pertama
b = beda
Un = suku ke-n
n = banyak suku
Contoh Soal 7 :
Carilah jumlah 100 suku pertama dari deret 2 + 4 + 6 + 8 + ....

Jawaban :
Diketahui bahwa a = 2, b = 4 – 2 = 2, dan n = 100.
S100 = ½ × 100 {2(2) + (100 – 1)2}
= 50 {4 + 198}
= 50 (202)
= 10.100
Jadi, jumlah 100 suku pertama dari deret tersebut adalah 10.100.
Contoh Soal 8 :
Hitunglah jumlah semua bilangan asli kelipatan 3 yang kurang dari 100.
Pembahasan :
Bilangan asli kelipatan 3 yang kurang dari 100 adalah 3, 6, 9, 12, ..., 99 sehingga diperoleh a
= 3, b = 3, dan Un = 99.
Terlebih dahulu kita cari n sebagai berikut.
Un = a + (n – 1)b
↔ 99 = 3 + (n – 1)3
↔ 3n = 99
↔ n = 33
Jumlah dari deret tersebut adalah :
Sn = ½ n(a + Un)
S33 = ½ × 33(3 + 99)
= 1.683
Jadi, jumlah bilangan asli kelipatan 3 yang kurang dari 100 adalah 1.683.
Contoh Soal 9 :
Dari suatu deret aritmetika diketahui suku pertamanya 11, bedanya 4, dan jumlah n suku
pertamanya adalah 200. Tentukan banyaknya suku dari deret tersebut.
Pembahasan :
Diketahui a = 11, b = 4, dan Sn = 200.
Dari rumus umum jumlah n suku pertama, diperoleh :
Sn = ½ n(2a + (n – 1)b)
↔ 200 = ½ n [2(11) + (n – 1)4]
↔ 400 = n(22 + 4n – 4)
↔ 400 = n(4n + 18)
↔ 4n2 + 18n – 400 = 0

Jika setiap suku dibagi 2, persamaan tersebut menjadi :
2n2 + 9n – 200 = 0
↔ (n – 8)(2n + 25) = 0
↔ n = 8 atau n =

(diambil n positif karena n bilangan asli)

Jadi, banyak suku deret tersebut adalah 8.
Mennntukan Suku ke-n jika Rumus Jumlah n Suku Pertama Diberikan
Misalkan diberikan suku ke-n barisan aritmetika Sn. Rumus suku ke-n dapat ditentukan
dengan
Un = Sn – Sn–1
Selain dengan menggunakan rumus itu, ada cara lain yang sangat efektif. Misalkan jumlah n
suku pertama deret aritmetika adalah :
Sn = pn2 + qn.
Suku ke-n dapat ditentukan dengan :
Un = 2pn + (q – p)
dengan beda 2p.
Contoh Soal 10 :
Jumlah n suku pertama dari deret aritmetika adalah Sn = 2n2 – 4n. Tentukan suku ke-n deret
tersebut dan bedanya. Tentukan pula U9.
Penyelesaian :
Sn = 2n2 – 4n → p = 2, q = –4
Un = 2pn + (q – p)
= 2 x 2 x n + (–4 – 2)
= 4n – 6
Beda = 2p = 2(2) = 4
Suku ke-10 dapat ditentukan dengan U9 = S9 – S8
S9 = 2(92) – 4(9) = 126
S8 = 2(82) – 4(8) = 96
Jadi, U9 = 126 – 96 = 30

Teorema

yang

Mengharukan

Apakah kamu tahu teorema yang dikemukakan Pierre de Fermat (1601–1665)? Teorema ini
dikembangkan dari teorema Pythagoras yang sangat masyur itu. Menurut teorema
Pythagoras, ada banyak pasangan bilangan a, b, dan c yang memenuhi c2 = a2 + b2, seperti 5,
3, dan 4 (beserta kelipatannya); 13, 12, dan 5 (beserta kelipatannya); 25, 24, dan 7 (beserta
kelipatannya);
dan
seterusnya.
Pierre de Fermat mengklaim, tidak ada bilangan bulat a, b, dan c yang memenuhi cn = an +
bn, untuk n > 2. Namun, pembuktiannya saat itu masih dipertanyakan. Banyak ilmuwan yang
penasaran dengan teorema yang dilontarkan Fermat. Paul Wolfskehl, profesor matematik asal
Jerman, awal tahun 1900-an berusaha membuktikan teorema tersebut, namun gagal. Rasa
frustasi menyelimutinya, ditambah kekecewaan pada kekasihnya membuat ia berniat bunuh
diri. Ketika waktu untuk bunuh diri sudah dekat, ia masih penasaran dan mencoba lagi
membuktikan Teorema Fermat membuat dia lupa untuk bunuh diri. Sampai akhir hayatnya,
teorema ini belum juga terbuktikan. Wolfskehl berwasiat, ia menyediakan uang 100.000 mark
bagi orang pertama yang mampu membuktikan teorema itu. Tahun 1995, Dr. Andrew Wiles,
matematikawan dari Universitas Princeton, Inggris, berhasil membuktikan teorema Fermat
dengan gemilang. Ia akhirnya mendapat hadiah 200.000 dolar dari Yayasan Raja Faisal di
Arab
Saudi
pada
tahun
1997.
(Sumber:
www.mate-mati-kaku.com)
C. Barisan

dan Deret Geometri

1. Barisan Geometri
Coba kalian amati barisan 1, 2, 4, 8, 16, 32, .... Terlihat, suku berikutnya diperoleh dengan
mengalikan 2 pada suku sebelumnya. Barisan ini termasuk barisan geometri. Jadi, secara
umum, barisan geometri adalah suatu barisan bilangan yang setiap sukunya diperoleh dari
suku sebelumnya dikalikan dengan suatu bilangan tetap (konstan). Bilangan yang tetap
tersebut dinamakan rasio (pembanding) dan dinotasikan dengan r.
Perhatikan contoh barisan-barisan berikut.
a. 3, 6, 12, 24, ...
b. 2, 1, ½, 1/4, ...
c. 2, –4, 8, –16, ...
Barisan di atas merupakan contoh barisan geometri. Untuk barisan di atas berturut-turut dapat
dihitung rasionya sebagai berikut.
a.

= ..... = 2. Jadi, r = 2.

b.

= .... Jadi, r = ½

c.

= –2. Jadi, r = –2.

Dengan demikian, dapat disimpulkan jika U1, U2, ... Un barisan geometri dengan Un adalah
rumus ke-n, berlaku :

Rumus umum suku ke-n barisan geometri dengan suku pertama (U1) dinyatakan a dan rasio
r, dapat diturunkan sebagai berikut.
U1 =
U2 =
U3 =
U4 =
.
.
.
Un =

a
U1 × r = ar
U2 × r = ar2
U3 × r = ar3
.
.
.
Un–1 × r = arn–2 × r = arn–1

Dengan demikian, diperoleh barisan geometri a, ar, ar2, ..., arn–1, ...
Jadi, rumus umum suku ke-n (Un) barisan geometri adalah :
Un = arn–1
Keterangan:
a = suku pertama
r = rasio
n = banyak suku
Contoh Soal Barisan Geometri 11 :
Carilah suku pertama, rasio, dan suku ke-7 dari barisan geometri berikut.
a.
2,
b. 9, –3, 1, -1/3 , ...

6,

Jawaban :
a. 2, 6, 18, 54, ...
Dari barisan geometri di atas, diperoleh :
1) suku pertama: a = 2;
2) rasio: r = ... = ... = 3.
Karena rumus suku ke-n barisan geometri adalah :
Un = arn–1 maka
U7 = 2(37–1) = 2 × 729 = 1.458
b. 9, –3, 1,

, ....

18,

54,

...

Dari barisan ini, diperoleh :
1) suku pertama: a = 9;
2) rasio: r =
3) suku ke-7: U7 =

;

Contoh Soal 12 :
Tiga bilangan membentuk barisan geometri. Jumlah ketiga bilangan itu 21 dan hasil kalinya
216. Tentukan ketiga bilangan itu.
Penyelesaian :
Pemisalan yang mudah untuk barisan geometri adalah

, a, dan ar.

Jumlah ketiga bilangan itu adalah 21 maka

+ a + ar = 21.

Hasil kali ketiga bilangan adalah 216 maka

× a × ar = 216 ↔ a3 = 216

Karena a3 = 216, diperoleh a = 6. Kemudian, substitusikan nilai a = 6 ke persamaan
= 21 sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.
+ 6 + 6r = 21 ........... (kedua ruas dikalikan dengan r)
↔ 6 + 6r + 6r2 = 21r
↔ 6 – 15r + 6r2 = 0 ........................... (kedua ruas dibagi 3)
↔ 2r2 – 5r + 2 = 0
↔ (2r – 1)(r – 2) = 0
↔ 2r – 1 = 0 atau r – 2 = 0
↔ r = ½ atau r = 2
Dari persamaan di atas, diperoleh r = ½ dan r = 2.
Untuk r = ½ dan a = 6, ketiga bilangan tersebut 12, 6, dan 3.
Untuk r = 2 dan a = 6, ketiga bilangan tersebut 3, 6, dan 12.
Pola Bilangan yang Indah
Perhatikan pola bilangan berikut.
1×8+1=9
12 × 8 + 2 = 98
123 × 8 + 3 = 987
1234 × 8 + 4 = 9876
12345 × 8 + 5 = 98765
123456 × 8 + 6 = 987654
Bandingkan dengan pola bilangan berikut.

+ a + ar

0×9+1=1
1 × 9 + 2 = 11
12 × 9 + 3 = 111
123 × 9 + 4 = 1111
1234 × 9 + 5 = 11111
12345 × 9 + 6 = 111111
123456 × 9 + 7 = 1111111
Dari kedua pola bilangan di atas, dapatkah kalian menemukan bentuk umumnya?
Dengan memerhatikan bentuk umum kedua pola bilangan di atas, tentu kalian dapat dengan
mudah menentukan hasil dari pertanyaan berikut.
a. 1234567 × 8 + 7 = ...
b. 12345678 × 8 + 8 = ...
c. 123456789 × 8 + 9 = ...
d. 1234567 × 9 + 8 = ...
e. 12345678 × 9 + 9 = ...
Coba kalian kerjakan.
2. Deret Geometri
Jika U1, U2, U3, ... Un merupakan barisan geometri maka U1 + U2 + U3 + ... + Un adalah deret
geometri dengan Un = arn–1. Rumus umum untuk menentukan jumlah n suku pertama dari
deret geometri dapat diturunkan sebagai berikut.
Misalkan Sn notasi dari jumlah n suku pertama.
Sn = U1 + U2 + ... + Un
Sn = a + ar + ... + arn–2 + arn–1 .............................................. (1)
Jika kedua ruas dikalikan r, diperoleh :
rSn = ar + ar2 + ar3 + ... + arn–1 + arn ................................... (2)
Dari selisih persamaan (1) dan (2), diperoleh :
rSn =
Sn =
rSn - Sn =
↔ (r

ar + ar2 + ar3 + ... + arn–1 + arn
ar + ar2 + ar3 + ... + arn–1

a+
–a + arn



1)Sn =

↔ Sn =
Jadi, rumus umum jumlah n suku pertama dari deret geometri adalah sebagai berikut.

a(rn–1)

Sn =

, untuk r > 1

Sn =

, untuk r < 1

Keterangan:
Sn = jumlah n suku pertama
a = suku pertama
r = rasio
n = banyak suku
Apa yang terjadi jika r bernilai 1?
Contoh Soal Deret Geometri 13 :
Tentukan jumlah dari deret geometri berikut.
a. 2 + 4 + 8 + 16 + ... (8 suku)
b. 12 + 6 + 3 + 1,5 + ... (6 suku)
Pembahasan :
a. 2 + 4 + 8 + 16 + ...
Dari deret tersebut, diperoleh a = 2 dan r = 4/2 = 2 (r > 1).
Jumlah deret sampai 8 suku pertama, berarti n = 8.
Sn =

↔ S8 =

= 2(256 – 1) = 510

Jadi, jumlah 8 suku pertama dari deret tersebut adalah 510.
b. 12 + 6 + 3 + 1,5 + ...
Dari deret itu, diperoleh a = 12 dan r =
(r < 1).
Jumlah deret sampai 6 suku pertama, berarti n = 6.

Sn =

↔ S6 =

= 24(1-

)=

Contoh Soal 14 :
Diketahui deret 3 + 32 + 33 + ... + 3n = 363. Tentukan :
a. suku pertama;
b.
c. banyak suku.

rasio;

Penyelesaian :
Deret 3 + 32 + 33 + ... + 3n = 363
a. Suku pertama: a = 3
b. Rasio: r = ... = .... = 3
c. Untuk Sn = 363
Karena r = 3 > 1, kita gunakan rumus :
Sn =
↔ 363 =
↔ 726 = 3n+1 – 3
↔ 3n+1 = 729
↔ 3n+1 = 36
Dengan demikian, diperoleh n + 1 = 6 atau n = 5. Jadi, banyak suku dari deret tersebut adalah
5.
Contoh Soal 15 :
Carilah n terkecil sehingga Sn > 1.000 pada deret geometri 1 + 4 + 16 + 64 + ...
Kunci Jawaban :
Dari deret tersebut, diketahui a = 1 dan r = 4 (r > 1) sehingga jumlah n suku pertamanya
dapat ditentukan sebagai berikut.

Sn =
Nilai n yang mengakibatkan Sn > 1.000 adalah :

> 1.000 ↔ 4n > 3.001
Jika kedua ruas dilogaritmakan, diperoleh :
log 4n > log 3.001
↔ n log 4 > log 3.001
↔n>
↔ n > 5,78 (Gunakan kalkulator untuk menentukan nilai logaritma)
Jadi, nilai n terkecil agar Sn > 1.000 adalah 6.
Contoh Soal 16 :

Tentukan rumus jumlah n dari deret 1 + 11 + 111 + 1.111 + ...
Penyelesaian :
Jika kalian perhatikan sekilas, deret ini bukan merupakan deret aritmetika maupun geometri.
Namun, coba perhatikan penjabaran berikut.

3. Deret Geometri Tak Berhingga
Deret geometri yang tidak dapat dihitung banyak seluruh sukunya disebut deret geometri tak
berhingga.
Perhatikan deret geometri berikut.
a. 1 + 2 + 4 + 8 + ...
c. 1 +

+

+ ....

d. 9 – 3 + 1 –

+ .....

Deret-deret di atas merupakan contoh deret geometri tak berhingga.
Dari contoh a dan b, rasionya berturut-turut adalah 2 dan –2.
Jika deret tersebut diteruskan maka nilainya akan makin besar dan tidak terbatas. Deret yang
demikian disebut deret divergen, dengan | r | > 1. Sebaliknya, dari contoh c dan d, rasio
masing-masing deret 1/2 dan –1/3. Dari contoh c dan d, dapat kita hitung pendekatan
jumlahnya. Deret tersebut dinamakan deret konvergen dengan | r | < 1. Pada deret konvergen,
jumlah suku-sukunya tidak akan melebihi suatu harga tertentu, tetapi akan mendekati harga
tertentu. Harga tertentu ini disebut jumlah tak berhingga suku yang dinotasikan dengan S∞ .

Nilai S∞ merupakan nilai pendekatan (limit) jumlah seluruh suku (Sn) dengan n mendekati tak
berhingga. Oleh karena itu, rumus deret tak berhingga dapat diturunkan dari deret geometri
dengan suku pertama a, rasio r dan n → ∞ .

Karena deret konvergen (| r | < 1), untuk n → ∞ maka rn → 0 sehingga :
Jadi, rumus jumlah deret geometri tak berhingga adalah :
, dengan | r | < 1
Contoh Soal Deret Geometri Tak Terhingga 17 :
Tentukan jumlah tak berhingga suku dari deret berikut.
a. 1 +
b.

+

+

+ ...

Pembahasan :
a. 1 +

+

+

+ ...

Dari deret tersebut diketahui a = 1 dan r = ½ sehingga :

b.
Perhatikan deret 2 + 1 +

+

+

+ ....

Dari deret tersebut, diperoleh a = 2 dan r = ½.

= 24 = 16.

Jadi,
Contoh Soal 18 :

Suku pertama suatu deret geometri adalah 2 dan jumlah sampai tak berhingga adalah 4.
Carilah rasionya.
Penyelesaian :
Dari soal di atas, unsur-unsur yang diketahui adalah a = 2 dan S∞ = 4.
Kita substitusikan ke dalam rumus S∞ .
S=

↔4=

↔1–r=½.
↔r=½
Jadi, rasionya adalah ½.
Contoh Soal 19 :
Sebuah bola jatuh dari ketinggian 10 m dan memantul kembali dengan ketinggian 3/4 kali
tinggi sebelumnya. Pemantulan berlangsung terus-menerus sehingga bola berhenti. Tentukan
jumlah seluruh lintasan bola. (UMPTN 1995)
Jawaban :
U0 = 10 m; r = 3/4.
U1 = 3/4 x 10 m = 3/40 m
Sn = 10 + 2 S∞ = = 10 + (2 ×

) = 10 + (2 ×

) = 10 + (2 × 30) = 70.

Dengan cara lain:
Misalnya suatu benda dijatuhkan dari ketinggian H0 secara vertikal dan memantul ke atas
dengan tinggi pantulan a/b kali dari ketinggian semula maka panjang lintasan pantulan (H)
hingga berhenti dirumuskan dengan:

Dengan menggunakan cara ini, diketahui a = 3, b = 4, dan H0 = 10 m.
Jadi, H =

= 7 × 10 = 70 m

Keindahan Matematika dalam Deret
”Small is beautiful”, demikian salah satu slogan yang dipegang banyak matematikawan
dalam membuktikan teoriteori matematis. Thomas Aquino, pada abad XIII sudah melihat
hubungan antara keindahan dan matematika. Dia mengatakan, ”Indra itu senang dengan
sesuatu yang proporsinya tepat”. Proporsi yang tepat itu dapat diterjemahkan dalam
keserasian, keteraturan, keselarasan, keseimbangan, dan keutuhan.
Jika kita jeli, alam menyediakan banyak sekali keindahan matematis. Coba kalian perhatikan,
spiral geometris pada cangkang sarang siput (Nautilus), susunan sel segi enam pada sarang
tawon madu, susunan mahkota bunga aster, susunan mahkota dan biji bunga matahari, dan
masih banyak yang lainnya. Susunan-susunan objek di atas berkaitan barisan atau deret
matematis. (Sumber: Happy with Math, 2007)

D. Penerapan

Konsep Barisan dan Deret

Kaidah barisan dan deret dapat digunakan untuk memudahkan penyelesaian perhitungan,
misalnya bunga bank, kenaikan produksi, dan laba/rugi suatu usaha. Untuk menyelesaikan
persoalan tersebut, kita harus dapat membedakan apakah persoalan tersebut termasuk barisan
aritmetika, barisan geometri, deret aritmetika ataupun deret geometri. Kemudian, kita dapat
menyelesaikan persoalan tersebut menggunakan rumus-rumus yang berlaku.
Contoh Soal Penerapan Konsep Barisan dan Deret 20 :
Ketika awal bekerja, seorang karyawan sebuah perusahaan digaji Rp 700.000,00 per bulan.
Setahun berikutnya, gaji per bulannya akan naik sebesar Rp 125.000,00. Demikian seterusnya
untuk tahun-tahun berikutnya. Berapa gaji karyawan itu per bulan untuk masa kerjanya
sampai pada tahun ke-9?
Pembahasan :
Kasus ini adalah aplikasi dari barisan aritmetika.
Suku awal a = 700.000
Beda b = 125.000
n=9
Jadi suku ke-9, dapat ditentukan sebagai berikut.
Un = a + (n – 1)b
U9 = 700.000 + (9 – 1) 125.000
= 700.000 + 1.000.000

= 1.700.000
Jadi, gaji per bulan karyawan itu pada tahun ke-9 adalah Rp 1.700.000,00.
Contoh Soal 21 :
Setiap awal bulan Nyoman menabung Rp 50.000,00 di suatu bank yang memberikan bunga
1% per bulan. Pada tiap akhir bulan, bunganya ditambahkan pada tabungannya. Berapakah
uang Nyoman di bank itu pada akhir tahun ke-1 jika ia tidak pernah mengambil tabungannya
sampai akhir tahun ke-1?
Penyelesaian :
Misalkan tabungan awal adalah Rp 50.000,00.
Pada akhir bulan ke-1
Jumlah uang Nyoman adalah sebagai berikut.
Bunga yang ia peroleh = 50.000 × 1% = 50.000 × 0,01
Jumlah uang Nyoman = 50.000 + (50.000 × 0,01)
= 50.000(1 + 0,01)
= 50.000(1,01)
Pada akhir bulan ke-2
Uang yang sudah dimasukkan sejak bulan ke-1 adalah jumlah uang pada akhir bulan ke-1
ditambah bunga sehingga diperoleh :
50.000(1,01) + (50.000(1,01) × 1%)
= 50.000(1,01)(1 + 0,01)
= 50.000(1,01)2
Uang yang dimasukkan pada awal bulan ke-2 menjadi :
50.000 + (50.000 × 1%) = 50.000(1 + 0,01)
= 50.000(1,01)
Jadi, jumlah uang Nyoman pada akhir bulan ke-2 adalah :
50.000(1,01) + 50.000(1,01)2.
Pada akhir bulan ke-3
Uang yang sudah dimasukkan sejak bulan ke-1 adalah :
50.000(1,01)2 + (50.000(1,01)2 × 1%)
= 50.000(1,01)2 (1 + 0,01)
= 50.000(1,01)2 (1,01)
= 50.000(1,01)3
Uang yang dimasukkan pada awal bulan ke-2 menjadi :
50.000(1,01) + (50.000(1,01) × 1%)
= 50.000(1,01)(1 + 0,01)
= 50.000(1,01)(1,01)
= 50.000(1,01)2

Uang yang sudah dimasukkan pada awal bulan ke-3 menjadi :
50.000 + (50.000 × 1%) = 50.000(1 + 1%)
= 50.000(1,01)
Jadi, jumlah uang Nyoman pada akhir bulan ke-3 adalah :
50.000(1,01) + 50.000(1,01)2 + 50.000(1,01)3
Demikian seterusnya, sampai akhir bulan ke-12.
Dari hasil perhitungan sampai bulan ke-3, dapat disimpulkan bahwa jumlah uang tabungan
Nyoman adalah :
50.000(1,01)
+
50.000(1,01)2 +
50.000(1,01)3 +
2
3
= 50.000{1,01 + (1,01) + (1,01) + ... + (1,01)12}

...

+

50.000(1,01)12

Deret 1,01 + (1,01)2 + ... + (1,01)12 merupakan deret geometri dengan :
a

=

1,01,

r

=

1,01,

dan

n

=

12.

S12 = 12,83
Oleh karena itu, jumlah uang Nyoman setelah 1 tahun adalah :
50.000 {1,01 + (1,01)2 + ... + (1,01)12} = 50.000 × 12,83 = 641.500
Jadi, jumlah uang Nyoman setelah 1 tahun adalah Rp 641.500,00.
E. Notasi

Sigma

Salah satu ciri matematika adalah digunakannya lambang untuk mengungkapkan suatu
pernyataan secara singkat, jelas, dan konsisten yang jika diungkapkan dengan kalimat biasa
cukup panjang. Salah satu lambang yang penting adalah ” Σ ” (dibaca: sigma). Lambang ini
digunakan untuk menuliskan penjumlahan secara singkat.
1. Pengertian Notasi Sigma
Perhatikan penjumlahan bilangan-bilangan di bawah ini.
1 + 2 + 3 + 4 + ... + 50
Jika semua suku-sukunya ditulis, cara penulisan penjumlahan tersebut jelas tidak efektif.
Apalagi jika banyak bilangan yang dijumlahkan makin besar. Dengan menggunakan notasi

sigma, penulisan 1 + 2 + 3 + 4 + ... + 50 dipersingkat menjadi
k (dibaca: sigma k mulai
dari k = 1 sampai dengan k = 50). Atau, boleh dibaca sigma k, untuk k = 1 hingga 50.
Huruf k digunakan sebagai variabel suku yang akan bergerak mulai 1 dan bertambah 1
sampai mencapai 50. Bilangan 1 disebut batas bawah dan 50 disebut batas atas penjumlahan.
Secara umum, notasi sigma dinyatakan sebagai berikut.
Uk = U1 + U2 + ... + Un
Keterangan:
1 = batas bawah
n = batas atas
k = indeks
Uk = suku ke-k
Batas bawah tidak harus bernilai 1. Jika batas bawah penjumlahan 1 dan batas atasnya n
maka penjumlahan terdiri atas n suku, sedangkan jika batas bawahnya r dan batas atasnya n
maka penjumlahan terdiri dari (n – r + 1) suku.
Contoh Soal Notasi Sigma 22 :
Nyatakan dalam bentuk penjumlahan

k(k + 1).

Pembahasan :
k(k + 1) = 1(1 + 1) + 2(2 + 1) + 3(3 + 1) + 4(4 + 1) + 5(5 + 1)
=1×2+2×3+3×4+4×5+5×6
= 2 + 6 + 12 + 20 + 30
Contoh Soal 23 :
Tulislah bentuk penjumlahan berikut dalam notasi sigma.
a. 2 + 4 + 6 + 8 + 10
b.
c. ab5 + a2b4 + a3b3 + a4b2
Penyelesaian :
a. 2 + 4 + 6 + 8 + 10 = 2 × 1 + 2 × 2 + 2 × 3 + 2 × 4 + 2 × 5
= 2 (1 + 2 + 3 + 4 + 5)
=

2k.

b.

c. ab5 + a2b4 + a3b3 + a4b2 = a1b6–1 + a2b6–2 + a3b6–3 + a4b6–4 =

ak b6-k

2. Menentukan Nilai Penjumlahan yang Dinyatakan dengan Notasi Sigma
Nilai penjumlahan yang dinyatakan dengan notasi sigma dapat dicari, antara lain dengan
terlebih dahulu menyatakan ke dalam bentuk lengkapnya, kemudian dijumlahkan. Perhatikan
contoh-contoh berikut ini.
Contoh Soal 24 :
Tentukan nilai-nilai notasi sigma berikut.

a.
b.
Jawaban :

a.

= 1 + 2 + 3 + 4 + … + 10 = 55

b.

= 2(32) + 2(42) + 2(52) + 2(62) = 18 + 32 + 50 + 72 = 172

3. Sifat-Sifat Notasi Sigma
Untuk mempermudah perhitungan yang berhubungan dengan notasi sigma, dapat digunakan
sifat-sifat yang berlaku pada notasi sigma. Sifat apakah yang berlaku pada notasi sigma?
Lakukan Aktivitas berikut.
Aktivitas :
Tujuan : Menemukan sifat-sifat yang berlaku pada notasi sigma.
Permasalahan : Sifat-sifat apakah yang berlaku pada notasi sigma?
Kegiatan : Kerjakan soal-soal berikut.
1. Nyatakan notasi sigma berikut dalam bentuk penjumlahan biasa.

a.

b.
c. Bandingkan hasil antara a dan b.
Apa kesimpulanmu?
2. Tentukan nilai penjumlahan yang dinyatakan dalam notasi sigma berikut.

a. Apakah

hasilnya sama dengan (7 – 3 + 1) × 5?

b.
c.
d. Bandingkan hasil antara c dan d.
Apa kesimpulanmu?
Kesimpulan : Sifat-sifat apakah yang kalian temukan?
Dari Aktivitas di atas diperoleh sifat-sifat berikut.

Sifat-sifat lain yang berlaku pada notasi sigma adalah sebagai berikut.
Untuk Uk dan Vk adalah rumus umum suku ke-k dan p, q ϵ B, berlaku :

Bukti:
Pada kali ini, akan dibuktikan sifat b dan e saja.
Sifat b:

Sifat e:

Sekarang, mari kita gunakan sifat-sifat di atas untuk menyelesaikan permasalahan notasi
sigma, seperti contoh-contoh berikut.
Contoh Soal sifat-sifat notasi sigma 25 :
Hitunglah nilai dari

(k2 - 4k).

Pembahasan :
Ada 2 cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal di atas.
Cara 1:
(k2 - 4k) = (12 – 4(1)) + (22 – 4(2)) + (32 – 4(3)) + (42 – 4(4))
= (1 – 4) + (4 – 8) + (9 – 12) + (16 – 16)
=–3–4–3+0
= –10
Cara 2:
(k2 - 4k) =

k2 - 4

k2 -

4k

k

= (12 + 22 + 32 + 42) – 4( 1 + 2+ 3 + 4)
= (1 + 4 + 9 + 16) – 4(10)
= 30 – 40
= –10
Contoh 2: Dengan menggunakan sifat notasi sigma, buktikan bahwa
(2k - 4)2 = 4

k2 - 16

k + 16n

Jawab

:

(2k

=

-

4k2 -

=4

k2 - 16

4)2 =

(4k2 -

16k

16k

+

-

16)

16

1

k + 16n ............……. (terbukti)

Contoh
Ubahlah batas bawah sigma menjadi 1 dari notasi sigma berikut.

3:

Contoh
Ubahlah batas bawah sigma menjadi 4 dari notasi sigma berikut.

4. Menyatakan Suatu Deret dalam Notasi Sigma

4:

Notasi sigma dapat mempermudah kita dalam menuliskan jumlah bilangan-bilangan yang
terpola, misalnya 2 + 4 + 6 + 8 + .... Seperti kalian ketahui, deret aritmetika dan deret
geometri merupakan deret dengan suku-sukunya terpola tetap. Deret-deret seperti ini dapat
kita sajikan dalam notasi sigma. Agar lebih paham, perhatikan contoh berikut.
Contoh Soal 26 :
Suatu deret dinyatakan dengan notasi sigma berikut.

a.

(2n +1)

b.

2n

Deret apakah itu? Kemudian, tentukan nilainya.
Jawaban:
a.
(2n + 1) = (2(1) + 1) + (2(2) + 1) + (2(3) + 1) + ... + (2(10) + 1)
= (2 + 1) + (4 + 1) + (6 + 1) + ... + (20 + 1)
= 3 + 5 + 7 + ... + 21
Tampak bahwa deret itu memiliki suku-suku yang selisihnya tetap, yaitu 2. Jadi, deret itu
adalah deret aritmetika dengan suku awal a = 3, beda b = 2, dan U10 = 21. Nilai
(2n + 1)
sama dengan nilai jumlah n suku pertama, S10. Dengan menggunakan jumlah 10 suku pertama
yang kalian ketahui, diperoleh :
Sn = ½ n(a + Un) = ½ (10)(3 + 21) = 120
Jadi,
b.

(2n + 1) = 120.
= 21 + 22 + 23 + 24 + 25 + 26 = 2 + 4 + 8 + 16 + 32 + 64

Tampak bahwa deret itu memiliki rasio tetap, yaitu r = 2.
Jadi, deret ini termasuk deret geometri dengan suku awal a = 2 dan rasio r = 2. Oleh karena
itu

Sn =

= S6. Karena r = 2 > 1, kita gunakan rumus berikut.

↔ S6 =

= 126

Jadi,

2n = 126.

F. Deret

dalam Hitung Keuangan (Pengayaan)

Pernahkah kalian mengamati kegiatan ekonomi yang terjadi di sekitarmu? Kegiatan ekonomi
pada umumnya melibatkan terjadinya rotasi uang. Misalnya, terjadinya transaksi jual beli,
hutang-piutang, pinjam-meminjam, dan lain-lain. Pada transaksitransaksi tersebut, biasanya
dihubungkan dengan bunga.
Berkaitan dengan hal itu, pada pembahasan kali ini, kita akan membicarakan bunga tunggal,
bunga majemuk, dan anuitas. Untuk mempermudah proses perhitungan bunga tunggal, bunga
majemuk, dan anuitas, kalian dapat menggunakan bantuan kalkulator.
1. Bunga Tunggal
Pada suatu kegiatan (usaha) yang berhubungan dengan uang, misalnya pinjam-meminjam,
biasanya jumlah nominal uang yang dibayarkan oleh seorang peminjam akan lebih besar
daripada jumlah nominal uang yang dipinjamnya. Selisih jumlah nominal uang yang dipinjam
dan jumlah yang dikembalikan itu dinamakan bunga. Bunga pinjaman merupakan beban
ganti rugi bagi peminjam. Hal ini disebabkan peminjam menggunakan uang pinjaman
tersebut untuk usaha. Besarnya bunga dipengaruhi oleh besar uang yang dipinjam, jangka
waktu peminjaman, dan tingkat suku bunga (persentase).
Bunga yang dibayarkan oleh peminjam pada akhir jangka waktu peminjaman tertentu dengan
besar pinjaman dijadikan dasar perhitungan dan bunga pada periode berikutnya. Jika
besarnya bunga sebagai jasa peminjaman yang dibayarkan tetap untuk setiap periode, bunga
itu dinamakan bunga tunggal.
Misalkan uang sebesar Rp100.000,00 dibungakan atas dasar bunga tunggal dengan tingkat
suku bunga 10%. Jumlah uang dan bunga sampai akhir bulan pertama:
Rp100.000,00 + 10% × Rp100.000,00 = Rp100.000,00 (1 + 10%)
Jumlah uang dan bunga sampai akhir bulan kedua:
Rp100.000,00 + 10% × Rp100.000,00 + 10% × Rp100.000,00 = Rp100.000,00 (1 + 2 × 10%)
Jumlah uang dan bunga sampai akhir bulan ketiga:
Rp100.000,00 + 10% × Rp100.000,00 + 10% × Rp100.000,00 + 10% × Rp100.000,00 =
Rp100.000, 00 (1 + 3 × 10%)
Jumlah uang dan bunga sampai akhir bulan ke-t:
Rp 100.000,00 + 10% × Rp 100.000,00 + ... + 10% × Rp 100.000,00 = Rp 100.000,00 ( 1+ t
× 10%)

Secara umum, dapat kita katakan sebagai berikut.
Misalkan modal sebesar M0 dibungakan atas dasar bunga tunggal selama t periode waktu
dengan tingkat suku bunga (persentase) r.
Bunga (B) dan besar modal pada akhir periode (Mt) adalah :
B = M0 × t × r
Mt = M0(1 + t × r)
Contoh Soal Bunga Tunggal 27 :
Koperasi Lestari memberikan pinjaman kepada anggotanya atas dasar bunga tunggal sebesar
2% per bulan. Jika seorang anggota meminjam modal sebesar Rp 3.000.000,00 dengan
jangka waktu pengembalian 1 tahun, tentukan
a. besar bunga setiap bulannya;
b. besar uang yang harus dikembalikan sesuai jangka waktu yang ditentukan.
Pembahasan :
Besar bunga dihitung setiap bulan.
Diketahui r = 2%, M0 = Rp 3.000.000,00, dan t = 12 bulan.
a. Besar bunga setiap bulan adalah :
B = M0 × 1 × r = Rp 3.000.000,00 × 1 × 2% = Rp 60.000,00
b. Besar uang yang harus dikembalikan sesuai jangka 12 bulan adalah :
Mt = M0(1 + t × r)
M12 = Rp3.000.000,00(1 + 12 × 2%) = Rp 3.000.000,00(1,24) = Rp 3.720.000,00
Contoh Soal 28 :
Cecep meminjam uang di suatu bank sebesar Rp 2.000.000,00 dengan suku bunga tunggal
10% per tahun. Dalam waktu 90 hari, Cecep sudah harus mengembalikan uang tersebut.
Berapa bunga dan jumlah uang yang harus dikembalikannya? (Asumsikan: 1 tahun = 360
hari)
Penyelesaian :
Dari soal di atas diketahui M0 = Rp 2.000.000,00, r = 10% per tahun, dan t = 60 hari = 1/4
tahun.
a. Bunga B = M0 × t × r = Rp 2.000.000,00 × 1/4 × 10% = Rp 50.000,00
b. Jumlah uang yang harus dikembalikan Cecep adalah :

Mt = M0(1 + t × r)
= M0 + M0 × t × r
= M0 + B
= Rp 2.000.000,00 + Rp 50.000,00
= Rp 2.050.000,00
Contoh Soal 29 :
Budi meminjam uang di bank sebesar Rp 3.000.000,00 dengan menggunakan aturan sistem
bunga tunggal dan tingkat bunga r per tahun. Dalam waktu satu tahun, Budi harus
mengembalikan ke bank sebesar Rp 3.240.000,00. Tentukan tingkat bunga r.
Jawaban :
Dari

soal

di

atas

diketahui

:

M0 = Rp 3.000.000,00
Mt = Rp 3.240.000,00
Nilai bunga dalam satu tahun adalah :
B = M1 – M0
= Rp3.240.000,00 – Rp3.000.000,00
= Rp240.000,00
sehingga tingkat bunga per tahun adalah :

Jadi, besarnya tingkat bunga per tahun adalah 8%.
Contoh Soal 30 :
Suatu modal dipinjamkan dengan menggunakan aturan sistem bunga tunggal 4% per bulan.
Dalam waktu berapa bulan modal itu harus dipinjamkan agar jumlah uang yang dikembalikan
menjadi empat kali modal semula?
Pembahasan :
Misalkan modal yang dipinjamkan adalah M0 .
Jumlah uang yang dikembalikan Mt = 4M0 .
Dengan tingkat bunga 4% per bulan dan menggunakan hubungan :
Mt = M0(1 + t × r)
↔ 4Mt = M0(1 + t × 4%)


= 1 + t × 4%

↔4=1+t×

↔t×
=3
↔ t = 75
Jadi, modal yang dipinjamkan itu akan mencapai empat kali modal semula untuk masa waktu
75 bulan.
2. Bunga Majemuk
Kalian telah mengetahui perhitungan bunga yang didasarkan atas bunga tunggal. Sekarang
kalian diajak untuk memahami bunga majemuk, yaitu bunga yang dihitung atas dasar jumlah
modal yang digunakan ditambah dengan akumulasi bunga yang telah terjadi. Bunga semacam
ini biasanya disebut bunga yang dapat berbunga. Adapun perhitungannya dapat kalian
pahami melalui perhitungan deret geometri.
Misalkan modal sebesar M0 dibungakan atas dasar bunga majemuk, dengan tingkat suku
bunga i (dalam persentase) per periode waktu. Besar modal pada periode ke-t (M t) dapat
dihitung dengan cara berikut.
M1 = M0 + M0 × i = M0(1 + i)
M2 = M1(1 + i) = [M0(1 + i)] (1 + i) = M0(1 + i)2
M3 = M2(1 + i) = [M0(1 + i)2](1 + i) = M0(1 + i)3
Mt = Mt–1(1 + i) = [M0(1 + i)t + 1](1 + i) = M0(1 + i)t
Jadi, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
Jika modal M0 dibungakan atas dasar bunga majemuk dengan tingkat suku bunga i (dalam
persen) per periode tertentu, besar modal pada periode ke-t (M t) dapat ditentukan dengan
rumus :
Mt = M0(1 + i)t
Contoh Soal Bunga Majemuk 31 :
Sebuah bank memberi pinjaman kepada nasabahnya atas dasar bunga majemuk 3% per tahun.
Jika seorang nasabah meminjam modal sebesar Rp5.000.000,00 dan bank membungakan
majemuk per bulan, berapakah modal yang harus dikembalikan setelah 1 tahun?
Pembahasan :
Diketahui M0 = Rp5.000.000,00, i = 3% = 0,03, dan t = 12 bulan.
Dengan demikian, modal yang harus dikembalikan setelah 1 tahun (12 bulan) adalah :
Mt = M0(1 + i)t
M12 = Rp5.000.000,00(1 + 0,03)12
= Rp5.000.000,00(1,42576)
= Rp7.128.800,00

Pada bunga majemuk, banyak periode bunga tidak harus tepat 1 bulan atau pun 1 tahun.
Namun, periodenya juga dapat dalam kurun waktu tertentu, misalnya 2 bulan, 3 bulan, atau 4
bulan.
Perhatikan contoh berikut.
Contoh Soal 32 :
Ramli meminjam uang di suatu bank sebesar Rp2.000.000,00. Bank tersebut memberikan
bunga atas dasar bunga majemuk 20% per tahun dengan periode pembungaan setiap catur
wulan. Jika Ramli meminjam uang dalam jangka waktu 3 tahun, tentukan jumlah uang yang
harus dikembalikan pada akhir tahun ke-3.
Penyelesaian :
Diketahui M0 = Rp2.000.000,00 dan i = 20% = 0,2.
Pembungaan dilakukan setiap catur wulan (4 bulan).
Jadi, banyak periode pembungaannya dalam setahun ada 12/4 = 3 kali. Jadi, jika lama
peminjaman 3 tahun, banyak periode pembungaannya 3 × 3 = 9 kali. Dengan demikian,
jumlah modal (uang) yang harus dikembalikan Ramli pada akhir tahun ke-3 adalah :
Mt = M0(1 + i)t
M9 = Rp2.000.000,00(1 + 0,2)9
= Rp2.000.000,00(5,159780)
= Rp10.319.560,00
Contoh Soal 33 :
Suatu modal sebesar Rp5.000.000,00 dibungakan dengan aturan sistem bunga majemuk.
Setelah 10 tahun, modal itu menjadi Rp7.500.000,00. Tentukan tingkat bunga per tahun
dalam bentuk persen.
Jawaban :
Dari soal di atas diketahui M0 = Rp5.000.000,00,
M10 = Rp7.500.000,00, dan t = 10 tahun.
Mt = M0(1 + i)t
↔ M10 = M0(1 + i)10
↔ 7.500.000 = 5.000.000(1 + i)10
↔ (1 + i)10 =
↔ (1 + i)10 = 1,5
↔ 1 + i = (1,5)1/10
↔ 1 + i = 1,041
↔ i = 1,041 – 1
↔ i = 0,041 = 4,1%

Jadi, besarnya nilai tingkat bunga per tahun adalah 4,1%.
3. Anuitas
Pernahkah kalian memperhatikan cara pembayaran kredit sepeda motor dengan sistem bunga
menurun? Biasanya seseorang yang mengkredit sepeda motor melakukan pembayaran
dengan cara angsuran, yaitu sistem pembayaran atau penerimaan dengan jangka waktu tetap
secara berulang-ulang sesuai kesepakatan. Angsuran ini merupakan bagian dari anuitas.
Anuitas adalah sistem pembayaran atau penerimaan secara berurutan dengan jumlah dan
jangka waktu yang tetap (tertentu).
Untuk dapat menentukan rumus perhitungan anuitas, perhatikan uraian berikut.
Misalkan modal sebesar M dipinjamkan secara tunai (cash), dengan suku bunga i (dalam
persen) per periode waktu dan harus dilunasi dalam t anuitas setiap periode waktu. Ingat,
besarnya anuitas selalu tetap. Bagaimana cara menentukan besar anuitas?
Misalkan M adalah modal yang dipinjamkan secara tunai dengan suku bunga i (dalam
persen) dan anuitasnya A. Kita dapat membuat gambaran perhitungan anuitas A sebagai
berikut.

Jika pengembalian pinjaman dilakukan:
satu kali anuitas maka

= M;

dua

anuitas

kali

maka

tiga kali anuitas maka

=
= M; demikian seterusnya.

Jadi, jika pembayaran dilakukan sebanyak t kali anuitas, berlaku :

=M
↔ A(1 + i) + A(1 + i) + ... + A(1 + i = M
↔ A((1 + i)–1 + (1 + i)–2 + ... + A(1 + i)–t) = M
–1

–2

)–t

Hal ini dapat dituliskan dengan rumus berikut.

M;

Keterangan:
A = besar anuitas
M = modal (pokok)
i = tingkat suku bunga
t = banyak anuitas
Rumus anuitas juga dapat ditulis dalam bentuk :

Contoh Soal Anuitas 34 :
Dealer ”Lestari Motor” melayani penjualan sepeda motor dengan sistem pembayaran anuitas.
Pak Dani membeli sebuah sepeda motor seharga Rp12.000.000,00 di dealer tersebut. Jika
bunga yang ditetapkan pihak dealer 3% per tahun dan pelunasan dilakukan dengan 6 kali
anuitas, tentukan besarnya anuitas. Kemudian, buatlah tabel rencana angsurannya.
Pembahasan :
Dari soal diketahui :
M = Rp12.000.000,00;
i = 3% = 0,03;
t=6
Dengan menggunakan rumus anuitas dan melihat tabel, diperoleh sebagai berikut.

Karena
(1

A=

= 0,18459750 maka :
+ 0,03)-1 =

5,4177144

(lihat

tabel

anuitas).

Oleh

karena

itu,

= Rp 2.215.170,01

Jadi, besar anuitas adalah Rp 2.215.170,01.
Setelah mengetahui cara menentukan besar anuitas yang harus dibayarkan, tentu kalian juga
harus mengetahui besar angsuran yang telah dibayarkan sehingga kalian mengetahui sisa
pinjaman setelah pembayaran anuitas pada periode ke-t. Untuk itu, perhatikan uraian di atas.

Kalian tahu bahwa besar anuitas selalu tetap. Pada contoh di atas, sisa hutang Pak Dani
setelah anuitas pertama dibayarkan adalah sebagai berikut.
Pinjaman pertama + bunga – anuitas yang dibayarkan
Jadi, sisa hutang :
= Rp12.000.000,00(1 + 0,03) – Rp2.215.170,01
= Rp10.144.829,99
Dengan demikian, angsuran yang dibayarkan sebenarnya hanya selisih anuitas dengan
bunganya.
Jadi, angsuran pada pembayaran anuitas pertama adalah :
Rp2.215.170,01 – 3% × Rp12.000.000 = Rp1.855.170,01.
Perhitungan ini biasanya dilakukan pada akhir periode bunga.
Misalkan:
M = hutang awal
A = besar anuitas
i = tingkat suku bunga
at = angsuran ke-t
Pada akhir periode bunga ke-1, besar angsurannya :
a1 = A – i M.
Pada akhir periode bunga ke-2, besar angsurannya :
a2 = (A – i M)(1 + i)2–1.
Pada akhir periode bunga ke-3, besar angsurannya :
a3 = (A – i M)(1 + i)3–1.
Jadi, pada akhir periode bunga ke-t, besar angsurannya
at = (A – i M)(1 + i)t–1
Dari contoh di atas, kita dapat menentukan besar angsuran ke-3 Pak Dani pada dealer
”Lestari Motor” sebesar :
a3 = (A – i M)(1 + i)3–1
= (Rp2.215.170,01 – 0,03 × Rp12.000.000,00)(1 + 0,03)2
= Rp1.968.149,86

Jadi, besar angsuran ke-3 Pak Dani adalah Rp1.968.149,86.
Misalkan :
M = hutang awal
Ht = sisa pinjaman akhir periode ke-t
A = besar anuitas
i = tingkat suku bunga
at = angsuran ke-t
Tabel rencana angsurannya adalah sebagai berikut.
Tabel Rencana Angsuran
Akhir
Periode

Sisa Pinjaman

Anuitas

Beban Bunga di
Akhir Periode

Besar Angsuran

ke-1

H1 = M

A

i H1

a 1 = A – i H1

ke-2
ke-3
ke-t

H2 = H1 – a1
H3 = H2 – a2
Ht = Ht–1 – at–1

A
A
A

i H2
i H3
i Ht

a 2 = A – i H2
a 3 = A – i H3
At = A – i H t

Dari contoh di atas, kita dapat membuat tabel rencana angsuran sebagai berikut.
Akhir
Periode

Sisa Pinjaman

Anuitas

Beban Bunga di Akhir
Periode

Besar Angsuran

ke-1

H1

Rp2.215.170,01

iH1

a1

ke-2

H2

ke-3

H3

ke-4

H4

ke-5

H5

ke-6

H6

ke-7

H7

= Rp12.000.000;
= H1 – a1
= Rp10.144.829,99
= H2 – a2
= Rp8.234.004,89
= H3 – a3
= Rp6.265.855,03
= H4 – a4
= Rp4.238.660,68
= H5 – a5
= Rp2.150.650,49
= H6 – a6
=0

= Rp360.000,00

Rp2.215.170,01

iH2

= Rp304.344,89

a2

Rp2.215.170,01

iH3

= Rp247.020,15

a3

Rp2.215.170,01

iH4

= Rp187.975,65

a4

Rp2.215.170,01

iH5

= Rp127.159,82

a5

Rp2.215.170,01

iH6

= Rp64.519,52

a6

iH7

=0

=

A – i H1

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

Rp1.855.170,01
A – i H2
Rp1.910.825,1
A – i H3
Rp1.968.149,86
A – i H4
Rp2.027.194,35
A – i H5
Rp2.088.010,19
A – i H6
Rp2.150.650,49

Setelah kalian memahami rumus untuk menentukan besarnya angsuran, sekarang kita akan
menentukan rumus untuk mencari besar pinjaman. Dari rumus menentukan besarnya
angsuran pada periode bunga ke-t, untuk melunasi pinjaman sebesar M dengan besar anuitas
A setiap periode pembayaran pada tingkat bunga i (dalam persen) per periode pembayaran
ditentukan oleh
at = (A – iM)(1 + i)t–1

Untuk nilai-nilai t = 1, 2, 3, .... n, diperoleh hubungan berikut.
a1 = (A – iM)(1 + i)1–1 = (A – iM)
a2 = (A – iM)(1 + i)2–1 = (A – iM)(1 + i) = a1(1 + i)
a3 = (A – iM)(1 + i)3–1 = (A – iM)(1 + i)2 = a1(1 + i)2
.
.
.
at = (A – iM)(1 + i)t–1 = a1(1 + i)t–1
Besarnya pinjaman M sama dengan jumlah angsuran ke-1, angsuran ke-2, dan seterusnya
sampai dengan angsuran ke-t.
M = a1 + a2 + a3 + a4 + ... + at
M = a1 + a1(1 + i) + a1(1 + i)2 + a1(1 + i)3 + ... + a1(1 + i)t–1
Terlihat bahwa M merupakan jumlah n suku pertama deret geometri dengan suku
pertama a1 dan rasio (1 + i). Dengan menggunakan rumus deret geometri
maka
diperoleh

:

Jadi, diperoleh rumus untuk menentukan besar pinjaman atau hutang dengan sistem anuitas
adalah :

dengan

:

M = besar pinjaman/hutang awal
a1 = angsuran pertama
i = tingkat suku bunga
t = periode pembayaran
Contoh Soal 35 :
Hutang sebesar M rupiah akan dilunasi dengan sistem pembayaran anuitas. Besarnya
angsuran untuk tahun pertama adalah Rp400.000,00 dan tingkat bunga 10% per tahun. Jika
hutang itu lunas dalam tempo 4 tahun, hitunglah besarnya nilai hutang (M) tersebut.
Penyelesaian :
Berdasarkan soal di atas, diketahui a1 = Rp 400.000,00, tingkat bunga per tahun i = 10% =
0,1, dan jangka pembayaran t = 4 tahun.
Substitusikan nilai-nilai a1, i, dan t ke dalam rumus berikut.

M=
M = 1.856.400
Jadi,

nilai

pinjaman

atau

hutang

awal

tersebut

adalah

Rp

1.856.400,00.

Anda sekarang sudah mengetahui Barisan dan Deret. Terima kasih anda sudah berkunjung
ke
Perpustakaan
Cyber.
Referensi

:

Yuana, R. A. 2009. Khazanah Matematika 3 : untuk Kelas XII SMA / MA Program Ilmu
Pengetahuan. Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 240.

Judul: Kumpulan Soal Pemecahan

Oleh: Nurield D. Luffy


Ikuti kami