Makalah Teori Akuntansi

Oleh Marsha Djajasaputra

21 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Teori Akuntansi

Tugas Makalah Teori Akuntansi Sebelum Mid Semester

Menerapkan Revenue, Expense, Gain, Loss, dan Liabilities pada
PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO)

Disusun Oleh :
Nama : Marsha
NIM : 33110100
Kelas : C

Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie School of Business
November 2013
i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................................................ii
DAFTAR TABEL & GAMBAR...................................................................................................................iii
BAB I......................................................................................................................................................2
PENDAHULUAN.....................................................................................................................................2
1.1.

Latar Belakang Penulisan......................................................................................................2

1.2.

Identifikasi Masalah..............................................................................................................3

1.3.

Rumusan Masalah.................................................................................................................3

1.4.

Tujuan Penulisan...................................................................................................................4

1.5.

Manfaat Penulisan................................................................................................................4

BAB II.....................................................................................................................................................5
KERANGKA TEORI..................................................................................................................................5
2.1.

Teori yang Berhubungan dengan Revenue & Gains.............................................................5

2.2.

Teori yang berhubungan dengan Expense & Loss..............................................................12

2.3.

Teori yang Berhubungan dengan Asset..............................................................................19

2.4.

Teori yang Berhubungan dengan Liabilities........................................................................24

2.5.

Teori yang Berhubungan dengan Capital............................................................................32

2.6.

Teori yang Berhubungan dengan Pengungkapan...............................................................40

2.7.

Regulasi...............................................................................................................................47

BAB III..................................................................................................................................................53
KERANGKA PEMIKIRAN & METODE ANALISIS DATA............................................................................53
3.1.

Kerangka Pemikiran............................................................................................................53

3.2.

Metode Analisis Data..........................................................................................................57

BAB IV..................................................................................................................................................58
PEMBAHASAN.....................................................................................................................................58
BAB V...................................................................................................................................................61
KESIMPULAN & SARAN........................................................................................................................61
5.1.

Kesimpulan..........................................................................................................................61

5.2.

Saran....................................................................................................................................61

DAFTAR PUSAKA...................................................................................................................................iv

ii

DAFTAR TABEL & GAMBAR

Gambar 2.1 : Masalah Teoritis Pendapatan .......................................................................5
Gambar 2.2 : Perbedaan Beban dan Rugi menurut IAI dan FASB ..................................13
Gambar 2.3 : Konsep Matching .......................................................................................19
Gambar 2.4 : Basis Pengukuran Dalam Dimensi Waktu dan Aliran Aset .......................23
Gambar 2.5 : Ekuitas Pemegang Saham dan Komponennya ...........................................34
Gambar 2.6 : Lingkup Informasi Pelaporan keuangan: Rerangka konseptual FASB ......44

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penulisan
Manfaat air bagi kehidupan merupakan harga mati untuk permasalahan hidup
di muka bumi ini. Semua jenis kehidupan sangat bergantung pada air untuk tetap
hidup dan berkembang. Sepertiga bumi ini terdiri dari air, sama seperti manusia yang
55% - 78% tubuhnya terdiri dari air. Bahkan begitu pentingnya air bagi kehidupan,
manusia hanya bisa bertahan hidup paling lama lima hari tanpa air. Dalam skala yang
lebih luas, air bersih dan sehat sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi.
Dengan melihat kebutuhan manusia terhadap air yang begitu besar, maka
industri di bidang pengolahan air menjadi air bersih yang siap untuk diminum
merupakan industri yang fundamental. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk
menganalisis laporan keuangan dari PT Tri Banyan Tirta (ALTO) yang bergerak
dalam industri ini.
Berkembangnya dunia usaha di Indonesia yang semakin kompetitif menuntut
setiap perusahaan untuk dapat mengolah dan melaksanakan manajemen perusahaan
menjadi lebih profesional. Bertambahnya pesaing disetiap saat, baik pesaing yang
berorientasi lokal maupun pesaing yang berorientasi international (multinational
corporation), maka setiap perusahaan harus berusaha menampilkan yang terbaik, baik
dalam segi kinerja perusahaan, juga harus ditunjang dengan strategi yang matang
dalam segala segi termasuk dalam manajemen keuangan.
Manajemen keuangan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kegiatan
dan eksistensi suatu perusahaan serta berpengaruh pula pada setiap individu yang ada
dalam perusahaan tersebut. Oleh karena itu, seorang manajer keuangan dituntut untuk
dapat menjalankan manajemen keuangan dengan baik, hal ini dilakukan agar
perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasional perusahaan dengan lebih efektif
dan efisien, sehingga perusahaan dapat mengembangkan dan mempertahankan
aktivitas serta keberadaan perusahaan.

1

Selain manajemen yang baik, dalam suatu perusahaan juga memerlukan
analisis terhadap laporan keuangan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
mengatasi masalah-masalah keuangan perusahaan serta mengambil keputusan yang
cepat dan tepat. Melalui analisis laporan keuangan, manajemen dapat mengetahui
posisi keuangan, kinerja keuangan dan kekuatan keuangan (financial strength) yang
dimiliki perusahaan. Selain berguna bagi perusahaan dan manajemennya, analisis
laporan keuangan juga diperlukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan lain seperti
kreditor, investor dan pemerintah untuk menilai kondisi keuangan perusahaan dan
perkembangan dari perusahaan tersebut.
Seorang akuntan dituntut untuk mempu menilai kondisi dan perkembangan
perusahaan melalui laporan keuangan agar dapat mempertahankan keberadaaan
perusahaan

dan

mampu

meningkatkan

pertumbuhan

perusahaan

ditengah

pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat dan persaingan usaha yang semakin ketat.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis mempersiapkan Teori
Akuntansi mengenai, “Penerapan Revenue, Expense, Gain, Loss, Asset, dan
Liabilities pada PT Tri Banyan Tirta”

1.2.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis dapat menyimpulkan
bahwa diperlukan analisis laporan keuangan PT Tri Banyan Tirta Tbk, sebagai salah
satu industri pengolah air minum menurut teori akuntansi yang telah disepakati
sebelumnya.

1.3.

Rumusan Masalah
Bagaimanakah hubungan antara Teori Akuntansi yang berhubungan dengan
Revenue & Gains, Expense & Loss, Asset, Liabilities, Capital, Pengungkapan dan
Regulasi tentang Pelaporan Keuangan dengan fakta Laporan Keuangan PT Tri
Banyan Tirta Tbk?

2

1.4.

Tujuan Penulisan
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis merasa perlu mencantumkan
tujuan dalam penulisannya agar penulisan makalah ini lebih terarah pada sasaran yang
akan dicapai. Tujuan penulisan tersebut yakni untuk mendapatkan gambaran yang
pasti tentang hubungan penerapan antara Fakta dalam Laporan Keuangan PT Tri
Banyan Tirta Tbk dengan Teori Akuntansi yang berhubungan dengan Revenue &
Gains, Expense & Loss, Asset, Liabilities, Capital, Pengungkapan dan Regulasi
tentang Pelaporan Keuangan.

1.5.

Manfaat Penulisan
Ada beberapa manfaat yang penulis harapkan dalam penulisan makalah ini
yaitu sebagai berikut:
1. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang seluk beluk ilmu akuntansi dan
penerapannya dalam perusahaan manufaktur.
2. Meningkatkan rasa disiplin dan tanggung jawab dalam menyelesaikan suatu
masalah atau pekerjaan yang dibebankan orang lain kepada penulis.
3. Sebagai bahan bacaan dan acuan bagi diri sendiri, rekan-rekan, serta generasi
yang akan datang.

3

BAB II
KERANGKA TEORI

2.1.

Teori yang Berhubungan dengan Revenue & Gains
Pembahasan pendapatan meliputi pengertian, pengukuran, pengakuan, dan
penilaian. Karena sifatnya sebagai elemen nominal atau penyebab perubahan ekuitas,
pengertian (definisi) dan pengakuan menjadi masalah kritis dalam pembahasan
pendapatan. Masalah penilaian tidak begitu kritis karena saldo pendapatan merupakan
akumulasi jumlah rupiah dan bukan merupakan sisa potensi jasa seperti aset atau
kewajiban. Masalah teoritis pendapatan dapat dilukiskan dalam gambar 2.1 berikut.
Gambar 2.1
Masalah Teoritis Pendapatan

Masalah definisi dan pengakuan merupakan masalah pada level perekayasaan
sehingga keduanya masuk dalam rerangka konseptual. Saat pengakuan merupakan
masalah kebijakan pada level penyusunan standar. Artinya, atas dasar konsep-konsep
pengakuan yang ditetapkan dalam rerangka konseptual, penyusun standar menentukan
pilihan untuk menggunakan saat pengakuan pendapatan tertentu untuk jenis
perusahaan tertentu.
4

Prosedur pengakuan merupakan masalah teknis pembukuan di tingkat
perusahaan yang diwujudkan dalam kebijakan akuntansi perusahaan (company
accounting policy). Masalah definisi/pengertian pendapatan hendaknya dibedakan dan
dipisahkan dengan masalah pengakuan pendapatan. Suatu objek yang masuk dalam
definisi pendapatan tidak dengan sendirinya dapat diakui sebagai pendapatan dan
terefleksi dalam statemen keuangan.
Pengertian
Berbagai karakeristik dilekatkan pada pengertian pendapatan. Berbagai
sumber memaknai pendapatan yang kurang lebih sama walaupun terdapat variasi.
Dalam SFAC No. 6, FASB mendefinisikan pendapatan dan untung sebagai berikut:
Revenues are inflows or other enhancements of assets of an entity or
settlement of its liabilities (or combination of both) from delivering or
producing or producing goods, rendering services, or other activities that
constitute the entity’s ongoing major or central operation (prg. 78).
Gains are increases in equity (net assets) from peripheral or incidental
transaction of an entity and from all other transactions and other events and
circumstances affecting the entity except those that result from revenues or
investments by owners (prg. 82).
Dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002), IAI mengadopsi definisi
pendapatan dari IASC yang menempatkan pendapatan (revenue) sebagai unsur
penghasilan (income) sebagai berikut:
Income is an increases in economic benefits during the accounting period in
the form of inflows or enhancements of assets or decreases of liabilities that
result in increase in equity, other than those relating to equity participants
(hlm. 17).
The definition of income ecompasses both revenue and gains. Revenue arises
in the course of the ordinary activities of an enterprise and is referred to by a
variety of different names including sales, fees, interests, dividends, royalties,
and rents (hlm. 18).

5

Gains represent other items that can meet the definition of income and may, or
may not, arise in the course of the ordinary activities of an enterprise. Gains
represent increases in economic benefits and as such are no different in nature
from revenues. Hence, they are not regarded as constituting a separate
element in this framework (hlm. 18).
Definisi-definisi diatas memisahkan antara pengertian dan pengakuan sehingga
tidak ada karakteristik yang menunjukan kriteria pengakuan. Sementara itu,
Accounting

Principal

Boards/APB

(1970)

mendefinisi

pendapatan

dengan

memasukan kriteria pengakuan sebagai berikut (APB Statement No. 4, prg. 134):
Revenues-gross increase in assets or gross in assets or gross decreases in
liabilities recognized and measured in conformity with generally accepted
accounting principles that results from those types of profit-directed activites
of an enterprise that ca change owner’s equity.
Dari beberapa definisi diatas, dapat didaftarkan karakteristik-karakteristik atau
kata-kata kunci yang membentuk pengertian pendapatan dan untung. Yang
membentuk pengertian pendapatan adalah:
1) Aliran masuk atau kenaikan aset.
2) Kegiatan yang merepresentasi operasi utama atau sentral yang terus-menerus.
3) Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban.
4) Suatu entitas.
5) Produk perusahaan.
6) Pertukaran produk.
7) Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk.
8) Mengakibatkan kenaikan ekuitas.

Untung
Banyak argunen diajukan mengenai perlu atau tidaknya pendapatan dan
untung dibedakan. FASB membatasi pengertian pendapatan hanya untuk kenaikan
aset yang berkaitan dengan operasi utama atau sentral. Sementara itu, IAI dan APB
tidak membedakan untung dan pendapatan dan keduanya digabung dalam satu
6

konsep penghasilan (income). Seperti pendapatan, kata-kata kunci yang melekat pada
pengertian untung adalah:
1) Kenaikan ekuitas (aset bersih).
2) Transaksi periferal atau insidental.
3) Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik.
Untung perlu didefinisi dan dibedakan dengan pendapatan oleh FASB karena
adanya karakteristik sumber yang dapat dibedakan dengan operasi utama. Dua hal
yang menyebabkan bahwa transaksi atau kejadian berbeda dengan opersi utama yaitu
yang bersifat terkendali dan di luar kendali atau antisipasi manajemen. FASB merinci
lebih lanjut mengenai transaksi, kejadian, atau keadaan yang menimbulkan untung
menjdi empat sumber atau karakteristik yaitu (SFAC No. 6, prg. 85):
a. Periferal dan insidental: misalnya penjualan investasi dalam surat-surat
berharga, penjualan aset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum jatuh tempo.
b. Transfer nontimbal-balik (nonreciprocal transfers) dengan pihak lain:
misalnya hadiah dan donasi (bagi organisasi nonprofit) dan penerimaan ganti
rugi pemenangan tuntutan perkara hukum.
c. Penahanan aset (holding assets): misalnya kenaikan harga sekuritas investasi,
kenaikan nilai tukar valuta asing, dan kenaikan karena penahanan persediaan.
d. Faktor lingkungan: misalnya ganti rugi asuransi musibah alam yang melebihi
kos aset yang rusak.
Pengakuan Pendapatan
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statement keuangan.Secara
konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas keterukuran
(measurability) dan keterandalan (reliability).

Pembentukan pendapatan
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan masalah
kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul atau menjadi ada dengan
artian apakah pendapatan itu timbul karena kegiatan produktif atau karena kejadian
tertentu.

7

Realisasi pendapatan
Pendapatan baru dapat dikatakan terjadi atau terbentuk pada saat terjadi
kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen (pembeli) untuk membayar
produk baik produk telah selesai dan diserahkan atau maupun belum dibuat sama
sekali. Pendapatan terbentuk pada saat produk selesai dikerjakan dan terjual langsung
atau pada saat terjual atas dasar kontrak penjualan.
Saat pengakuan pendapatan
1. Pada saat kontrak penjualan, jika perusahaan telah menandatangani kontrak
perusahaan dan bahkan sudah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak tetapi
perusahaan belum mulai memproduksi barang. Pada keadaan ini pendapatan sudah
terealisasi, tetapi belum terbentuk. Pengakuan harus menunggu sampai proses
penghimpunan cukup selesai yaitu ditahap penjualan. Pada umumnya perlakuan
semacam ini berlaku untuk perusahaan yang memproduksi barang konsumsi dan
jarak antara penandatanganan kontrak dan penyerahan barang cukup pendek
(kurang dari satu tahun).

2. Selama proses produksi secara bertahap, maksudnya dalam industri tertentu
pembuatan produk memerlukan waktu yang cukup lama. Biasanya produk
semacam itu diperlakukan sebagai projek dan dilaksanakan atas dasar kontrak
sehingga pendapatan telah terealisasi untuk seluruh periode kontrak tetapi mungkin
belum cukup terbentuk pada akhir tiap periode akuntansi. Dalam hal ini,
pengakuan pendapatan dapat dilakukan secara bertahap (per periode akuntansi)
sejalan dengan kemajuan proses produksi atau sekaligus pada saat projek selesai
dan diserahkan. Cara pertama disebut metode presentasi penyelesaian (percentageof-completion method), sedangkan yang terakhir disebut metode kontrak selesai
(completed-contract method).
Masalah pengakuan yang timbul selama proses produksi yaitu akresi, Apresiasi,
dan penghematan kos. Akresi yaitu pertambahan nilai akibat pertumbuhan fisis
atau proses alamiyah lainnya. Apresiasi yaitu selisih nilai pasar wajar asset
perusahaan dengan kos.
8

3. Pada saat produk selesai, jika tidak ada kontrak sebelumnya, hanya kriteria yang
terbentuk yang dipenuhi. Pengakuan pendapatan atas dasar saat produk selesai
diproduksi dapat dianggap layak untuk industri ekstraktif (pertambangan) termasuk
pertanian. Kondisi ini memungkinkan untuk menaksir dengan cukup tepat nilai jual
yang dapat direalisasi suatu persediaan barang menjadi ada pada tanggal tertentu.
Jadi, kondisi ini dapat mengganti kriteria cukup pasti terealisasi.

4. Pada saat penjualan, pengakuan ini merupakan dasar yang paling umum karena
pada saat penjualan kriteria penghimpunan dan realisasi telah terpenuhi. Dengan
demikian, saat penjualan merupakan saat yang kritis dalam operasi perusahaan
sehingga menjadi standar utama dalam pengakuan pendapatan. Transaksi penjualan
mengakibatkan masuknya aset baru ke dalam perusahaan untuk menutup kos yang
terserap untuk melaksanakan kegiatan produksi dengan penyerahan produk,
menyediakan dana sebagai imbalan untuk pembayaran pajak kepada pemerintah,
bunga kepada kreditor, dan deviden kepada pemegang saham. Kendati saat
penjualan menjadi standar umum pengakuan pendapatan, terdapat beberapa hal
yang sering diajukan sebagai keberatan terhadap dasar tersebut. Hal pertama
berkaitan dengan kepastian pengukuran pendapatan akibat kos purna-jual atau
pasca-jual (after-sales-cost atau after costs). Ada kegiatan yang masih dilakukan
perusahaan untuk menuntaskan penjualan kos yang menimbulkan kos. Masalah
lain berkaitan dengan kemungkinan atau pengembalian barang. Akhirnya, masalah
kemungkinan ketaktertagihan piutang bila penjualan tidak tunai (masalah
kolektibilitas). Ini berarti piutang belum merupakan bukti penuh terrealisasinya
pendapatan.
Masalah pengakuan yang timbul saat penjualan yaitu, kembalian dan potongan
tunai, kos purnajual, hak pengembalian barang, kerugian piutang, dan makna
penjualan. Potongan tunai dari setiap pengurangan dalam harga yang tetap, seperti
kerugian piutang yang tidak tertagih, merupakan penyesuaian yang diperlukan

9

untuk menghitug ekuivalen kas netto yang sebenarnya atau nilai diskonto tunai dari
klaim uang, shingga harus dikurangkan ketika menghitung pendapatan.

5. Pada saat kas terkumpul, pengakuan pada saat kas terkumpul sebenarnya
pengakuan pendapatan berdasarkan asas kas (cash basis). Alasan digunakannya
dasar ini adalah adanya ketidakpastian tentang kolektibilitas atau ketertagihan
piutang. Dengan cara ini, pendapatan diakui sejumlah kas yang diterima pada saat
kas diterima atau terkumpul (sampai akhir periode) dan baru kemudian
menentukan biaya yang berkaitan dengan pendapatan dasar kas tersebut. Dengan
kata lain, pendapatan suatu periode diakui secara proposional atas dasar kas yang
telah diterima dalam periode tersebut.

Saat pengakuan penjualan jasa
AICPA memberikan kaidah pengakuan umum untuk penjualan jasa sebagai berikut:
1. Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan satu pekerjaan atau tindakan,
pendaptan harus diakui pada saat pekerjaan tersebut telah dilakukan.
2. Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan serangkaian pekerjaan atau
tindakan secara bertahap, pendapatan harus diakui selama perioda pelaksanaan
pekerjaan secara proporsional.
3. Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan serangkaian pekerjaan atau
tindakan secara bertahap, pendapatan dapat diakui pada saat seluruh pekerjaan
telah selesai dilaksanakan.
4. Terdapat tingkat ketidakpastian yang tinggi berkenaan dengan ketertagihan atau
kolektibilitas pendapatan jasa, pendapatan baru diakui setelah kas terkumpul.

2.2.

Teori yang berhubungan dengan Expense & Loss
Definisi Beban

10

Dalam SFAC No. 6, FASB mendefinisi biaya (expenses) dan rugi (losses)
sebagai berikut:
Expenses are outflows or other using up of assets or incurrence of liabilities
(or combination of both) from delivering or producing goods, rendering
services, or carrying out other activities that constitute the entity’s ongoing
major or central operations (prg. 80).
Losses are decreases in equities (net assets) from peripheral or incidental
transactions of an entity and from all other transactions and other events and
circumstances affecting the entity except those that expenses or distribution to
owners (prg. 83).
Sedangkan, IAI (IASC) mendefinisikan biaya dalam Standar Akuntansi
Keuangan (2002) sebagai berikut:
Expenses are decreases in economic benefits during the accounting period in
the form of outflows of depletions of assets or incurrences of liabilities that
results in decreases in equity, other than those relating to equity participants
(hlm. 17).
(Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi
dalam bentuk arus keluar atauberkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban
yang mengakibatkan penurunanekuitas yang tidak menyangkut pembagian
kepada penanam modal.)
FASB dan IAI memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikan
beban. IAI mendefinisikan biaya dari sudut pandang peristiwamoneter seperti
penurunan aktiva, kenaikan hutang atau ekuitas. SedangkanFASB memiliki sudut
pandang sebagai berikut:
1. Tidak menunjukkan dengan jelas peristiwa moneter dan fisik. FASB
lebihmenekankan pada peristiwa fisik yaitu penjualan barang atau produk
yangdihasilkan.
2. Pemakaian aktiva harus menunjukkan suatu kos yang dinyatakan keluarsebagai
biaya.

11

3. Apabila dilihat dari sudut pandang tradisional definisi yang dikemukakanFASB
menunjukkan bahwa beban hanya dihasilkan dari pemakaian aktivauntuk tujuan
menghasilkan pendapatan pada periode yang berjalan.
IAI dan FASB membedakan kos menjadi beban dan rugi, sedangkan IAI tidak.
IAI dan FASB memang mempertimbangkan pendapatan dalam mengklasifikasi
apakah kos tersebut termasuk ke dalam beban ataukah rugi. Apabila kos tersebut tidak
menghasilkan pendapatan, baik secara langsungmaupun tidak langsung, maka kos
tersebut akan dianggap sebagai rugi (misalnya pemberian donasi, pembayaran pajak,
dan lain-lain). Sedangkan IAI membedakan kos hanya dari kadaluarsanya. Kos yang
sudah kadaluarsa akan dialui sebagai beban, sedangkan yang belum sebagai aset.
Perbedaan tersebut dijelaskan oleh gambar 2.2. di bawah ini.
Gambar 2.2
Perbedaan Beban dan Rugi menurut IAI dan FASB

Menurut Suwardjono dinyatakan bahwa ada beberapa karakteristik penting
yang melekat pada makna beban:
1. Aliran keluar/penurunan aset
Untuk menyatakan timbulnya beban, transaksi atau kejadian harus terjadi
dalam penurunan aset / yang menimbulkan aliran keluar aset. Aset yang
12

dimaksud adalah semua aset perusahaan. Jadi konsumsi atau pemakaiannya
diartikan bahwa manfaat ekonomi aset itu telah habis karena melekat padabarang
atau jasa yang telah diserahkan dari kesatuan aset tersebut, sehingga perusahaan
sudah tidak menguasai lagi manfaat tersebut.
2. Operasi utama atau sentral
Dinyatakan oleh Suwardjono dalam Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan
Keuangan bahwa tidak semua penurunan atau konsumsi aset membentuk biaya,
untuk itu biaya konsumsi harus berkaitan dengan kegiatan utama. Yang dimaksud
kegiatan utama adalah kegiatan penciptaan pendapatan (laba) yangdirepresentasi
dalam kegiatan memproduksi barang. Sehingga biaya adalah penurunan aset yang
berkaitan dengan operasi dan bukan dengan investasi dan pendanaan.
3. Kenaikan kewajiban
Terdapat suatu keadaan dimana perusahaan telah memanfaatkan barang dan jasa
namun sebelumnya tidak mengakuinya sebagai aset atau belum mengakui
kewajiban atas penggunaan barang dan jasa yang dikuasai pihak lain. Hal tersebut
menimbulkan

keharusan

perusahaan

untuk

membayar

atau

melakukan

pengorbanan ekonomik di masa datang sehingga timbul kewajiban.
4. Penurunan ekuitas
Dalam operasi sentral perusahaan, dengan adanya penurunan aset atau kenaikan
kewajiban akan mengubah ekuitas atau menurunkan ekuitas. Namun, penurunan
ekuitas merupakan karakteristik pendukung karena tidak setiap penurunan aset
mengakibatkan

penurunan

ekuitas.

Misalnya

pembagian

deviden

yang

menyebabkan penurunan aset tetapi tidak disebut sebagai beban.
5. Diukur atau dikaitkan dengan kos Dalam hal ini beban timbul dari adanya kos
yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh aset. Beban diukur
berdasarkan jumlah kos dari aset yang telah dimanfaatkan selama periode
berjalan.
6. Bukan berasal dari transaksi dengan pemilik Berdasarkan prinsip kesatuan usaha,
maka harus ada pemisahan antara beban yang dihasilkan oleh perusahaan dan
pemilik. Beban yang diakui dalam laporan keuangan merupakan beban yang
berasal dari transaksi perusahaan, bukan pemilik.
7. Untuk menghasilkan pendapatan Beban merupakan pengorbanan perusahaan dari
barang atau jasa yang telah dikonsumsi perusahaan untuk memperoleh
pendapatan.
13

Rugi
Menurut Suwardjono (Edisi Ketiga, Hlm. 9) terdapat tiga kata kunci pada
pengertian rugi yaitu penurunan ekuitas, bukan merupakan transaksi ke pemilik, dan
transaksi periferal atau insidental. Dalam hal ini yang membedakan biaya dan rugi
adalah mengenai transaksi periferal atau insidental atau di luar kendali manajemen.
Berbeda dengan beban yang timbul akibat dari kendali manajemen yaitu aktivitas
penggunaan aset (barang dan jasa). Namun, dari definisi yang terdapat dalam Konsep
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) tidak memisahkan
biaya dengan rugi. Jadi semua potensi jasa baik yang digunakan secara langsung
ataupun tidak langsung untuk memperoleh pendapatan disebut dengan biaya. IAI
(1994) bahkan secara spesifik menyebutkan hal tersebut seperti yang tertulis pada
paragraf 78 berikut ini : kerugian termasuk dalam kelompok beban. Pada dasarnya
pembedaan antara beban dan rugi hanya untuk kepentingan pengungkapan seperti
pada pendapatan dan untung.

Pengakuan Beban
Pengakuan beban menurut kerangka kerja IASB terdiri dari dua kriteria utama
yaitu :
1. Terdapat kemungkinan adanya keuntungan yang akan mengalir keperusahaan.
Tingkat kemungkinan tersebut memang merupakan konsep yang tidak mutlak.
Hal tersebut tergantung pada ketersediaan bukti ketika laporan keuangan akan
disusun atau dipersiapkan.
2. Memiliki nilai yang dapat diukur dan reliabel. Dengan demikian untuk akunakun yang menggunakan estimasi, diperlukan bukti-bukti yangmendukung
validitas estimasi tersebut. Beban harus diakui dalam laporan laba rugi ketika
penurunan keuntungan ekonomi di masa depan berhubungan dengan penurunan
aset atau peningkatan kewajiban dapat diukur secara reliabel.

14

Semua kos dapat ditangguhkan pembebanannya apabila kos tersebut
memenuhi kriteria sebagai aktiva yaitu:


Memenuhi definisi aktiva (memiliki manfaat ekonomi masa mendatang, dikuasai
oleh perusahaan, dan berasal dari transaksimasa lalu).



Ada kemungkinan yang cukup bahwa manfaat ekonomi masa mendatang yang
melekat pada aktiva dapat dinikmati oleh entitas yang menguasai.



Besarnya manfaat dapat diukur dengan cukup andal.
Beban juga dapat timbul dalam laporan laba rugi pada saat timbul kewajiban

tanpa adanya pengakuan aktiva. Misalnya adanya hutang garansi produk.

Pengukuran Beban
Dalam mengukur beban dalam satu periode akuntansi, dibutuhkan berbagai
keputusan atau pertimbangan untuk menentukan bagaimana beban tersebut akan
dialokasikan

pada

periode-periode

selanjutnya

yang

menunjukkan

adanya

pendapatan. Dalam hal tersebut, terdapat berbagai standar akuntansi yangdapat
digunakan sebagai acuan atau pedoman.
Sejalan dengan penilaian aktiva, biaya dapat diukur atas dasar jumlahrupiah
yang digunakan untuk penilaian aktiva dan hutang. Oleh karena itu,pengukuran biaya
dapat didasarkan pada:



Kos Historis
Kos historis merupakan jumlah rupiah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk
memperoleh aktiva. Pengukuran beban atas dasar koshistoris dapat digunakan
untuk jenis aktiva seperti gedung, peralatan, dan sebagainya.



Kos Pengganti / Kos Masukan Terkini (Replacement Cost / Curent Input Cost )

15

Kos masukkan terkini menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran yangharus
dikorbankan sekarang oleh suatu entitas untuk memperoleh aktiva yang sejenis
dalam kondisi yang sama. Contohnya, penilaian untuk persediaan.


Setara Kas (Cash Equivalent)
Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir dengan cara menjual
setiap jenis aktiva di pasar bebas dalam kondisi perusahaan normal.
Meskipun pada prakteknya metode pengukuran yang masih banyak digunakan

adalah historical cost, namun dengan mulai diadopsinya IFRS di Indonesia, maka
pengukuran yang sesuai standar adalah dengan menggunakan metode fair value.
Dengan demikian, untuk pencatatan beban sebagai akibat dari depresiasi
(penyusutan), nilai yang dicantumkan dalam beban adalah nilai selisih antara nilai
wajar dengan nilai buku (apabila nilai wajar lebih kecil dari nilai bukunya).

Alokasi Beban
Salah satu cara untuk mengukur beban adalah dengan mengalokasikan bebanbeban tersebut ke periode-periode dimana beban tersebut dinikmati. Hal ini biasanya
disebut dengan matching concept. Konsep tersebut memperlakukan kos dengan
mengalokasikan kos yang sudah kadaluarsa (beban) ke periode-periode dimana beban
tersebut terjadi. Namun, pengalokasian tersebut hanya bersifat estimasi. Dalam
akuntansi, pencocokan antara beban dan pendapatan merupakan fungsi utama, namun
hal tersebut tetap saja sulit untuk dilakukan karena berhubungan dengan penilaian
akuntan tersebut. Akuntan harus mengidentifikasi mana aset yang telah digunakan
(kadaluarsa) dan jumlah yang harus ditulis sebagai tandingan pendapatan pada periode
tersebut.
Matching Concept adalah hal yang paling penting dalam akuntansi
biayahistoris. Kos yang sudah kadaluarsa akan menjadi beban dan disajikan dalam
laporan laba rugi, sedangkan kos yang belum kadaluarsa akan dicatat sebagai asetdan
disajikan dalam laporan posisi keuangan. Untuk mengatasi masalah penentuan dan
pengukuran kos menjadi beban, terdapat tiga metode dari matchingkos yang sering
digunakan, yaitu:
16

a. Hubungan Sebab dan Akibat
Penggunaan barang dan jasa oleh perusahaan harus menghasilkan pendapatan
pada periode tersebut. Hubungan antara beban dan pendapatan harus merupakan
hubungan sebab akibat pada perusahaan tersebut. Maksudnya, pendapatan timbul
karena adanya outflow berupa beban. Dengan demikian pendapatan merupakan
akibat dari adanya beban. Sesuai dengan prinsip pengakuan pendapatan, tidak ada
kos penjualan jika tidak ada pendapatan.
b. Alokasi yang sistematis dan rasional
Tidak semua beban dapat dialokasikan dengan menggunakan konsep sebab
dan akibat. Sebagai salah satu alternatif, alokasi yang sistematis dan rasional
dapat digunakan. Tujuannya yaitu untuk mengakui beban dalam periode
akuntansi dimana pada periode tersebut beban itu dimanfaatkan atau telah
kadaluarsa. Jadi, beban dialokasikan pada periode dimana beban tersebut
dikonsumsi, bukan berdasar produk yangdihasilkan.
c. Pengakuan Sesegera Mungkin
Merupakan konsep yang mengakui dan mengukur kos yang dikeluarkan
sesegera mungkin sebagai beban karena tidak adanya manfaat ekonomi yang
dapat diukur secara reliabel.

Gambar 2.3
Konsep Matching

17

2.3. Teori yang Berhubungan dengan Asset
FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC
No. 6, prg.25):
Assets are probable future economic benefits obtained or controlled by a
particular entity as a result of past transaction or events.
(Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang
diperoleh atau dikuasai / dikendalikan ole suatu entitas sebagai akibat
transaksi atau kejadian masa lalu.)
Dengan makna yang sama, IASC mendefinisi aset sebagai berikut:
An asset is a resource controlled by the enterprise as a result of past events
and from which future economic benefits are expected to flow to the
enterprise.
Definisi yang dapat menggabungkan makna, pengukuran, dan pengakuan
diajukan oleh APB dalam APB No. 4 sebagai berikut (prg. 132):
Assets-economic resources of an enterprise that are recognized and measured
in conformity with generally accepted accouting principles. Assets are also
include certain deffered charges that are not resources but that are recognized
and measured in conformity with generally accepted accounting principles.

18

Dengan berbagai definisi diatas, pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa
terdapat tiga karakteristik utama yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat
disebut sebagai aset, yaitu:
a) Manfaat ekonomik
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat
ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Ini mengisyaratkan bahwa manfaat
tersebut

terukur

dan

dapat

dikaitkan

dengan

kemampuannya

untuk

mendatangkan pendapatan atau aliran kas di masa datang.
b) Dikuasai oleh entitas
Untuk dapat dikuasai sebagai asset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh
entitas tapi cukup dikuasai oleh entitas. Pemilikan (ownership) mempunyai
makna yuridis atau legal. Artinya, untuk memiliki suatu objek diperlukan proses
yang disebut transfer hak milik (transfer of title). Konsep penguasaan (kendali)
lebih penting daripada konsep pemilikan. Hal ini disebabkan oleh konsep dasar
substansi mengungguli bentuk yuridis (substance over form). Substansi atau
tujuan dari pemilikan adalah penguasaan yang berarti kemampuan perusahaan
untuk mendapatkan, memelihara/menahan, menukarkan, menggunakan manfaat
ekonomik dan mencegah akses pihak lain terhadap manfaat tersebut. Most (1982,
hlm. 341-342) mengemukakan bahwa penguasaan atau kendali terhadap suatu
objek dapat diperoleh dengan cara:
1. Pembelian (by purchase): dengan pengeluaran / pengorbanan.
2. Pembelian (by gift)
3. Penemuan (by discovery)
4. Perjanjian (by agreement)
5. Produksi / transformasi (by production / transformation)
6. Penjualan (by sale)
7. Lain-lain seperti pertukaran (by barter), peminjaman (by loan), penjaminan
(by bailment), pengkonsignasinaan (by consignment), dan berbagai transaksi
komersial (by commercial transaction) yang diakui hukum atau kebiasaan
bisnis
c) Akibat transaksi atau kejadian masa lalu
Kriteria ini menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus sebagai kriteria
atau tes pertama (first-test) pengakuan objek sebagai aset tetapi tidak cukup untuk
mengakui secara resmi dalam sistem pembukuan. Jadi, manfaat ekonomik dan
19

penugasan atau hak atas manfaat saja tidak cukup untuk memasukkan suatu objek
ke dalam aset kesatuan usaha untuk dilaporkan via statemen keuangan (neraca).
Pengakuan harus didahului oleh transaksi atau kejadian ekonomik.
Selain karakteristik diatas, FASB menyebutkan beberapa karakteristik
pendukung yaitu melibatkan kos (acquired at a cost), berwujud (tangible),
tertukarkan (exchangeable), terpisahkan (severable), dan berkekuatan hukum (legally
enforceable). Karakteristik pendukung tersebut lebih menguatkan atau meyakinkan
adanya aset tetapi tiadanya karakteristik pendukung tidak menghalangi suatu objek
untuk memenuhi syarat sebagai aset.

Pengukuran
Salah satu kriteria pengakuan aset adalah keterukuran (measurability) manfaat
ekonomik masa datang. Yang dimaksud pengukuran dalam pembahasan disini adalah
penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek aset pada saat
terjadinya yang akan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisis objek tersebut.
Kos menjadi data dasar untuk mengikuti aliran fisis kegiatan ekonomik badan usaha.
Sebagai aliran informasi, kos juga mengalami tiga tahap perlakuan akuntansi
mengikuti aliran fisis yaitu:
1) Pengukuran

(measurement),

pengakuan

(recognition),

dan

klasifikasi

(classification) pertama kali pada saat terjadinya. Untuk selanjutnya seluruh
kegiatan dalam tahap ini disebut pengukuran saja.
2) Pencatatan berikutnya dalam rangka mengikuti aliran fisis aset berupa alokasi,
distribusi, dan penggabungan untuk kepentingan internal/manajerial atau untuk
kepentingan pengkosan produk. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap
ini disebut penelusuran (tracing).
3) Pembebanan ke pendapatan periode berjalan atau periode-periode yang akan
datang. Kos yang belum menjadi beban pendapatan (biaya) akan melekat pada
objek menjadi aset badan usaha. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap
ini disebut pembebanan ke pendapatan (charging to revenues).

20

Penilaian
Penilaian adalah proses penentuan jumlah rupiah suatu objek untuk
menentukan makna ekonomiknya di masa lalu, sekarang, atau mendatang. Di dalam
akuntansi, istilah pengukuran dan penilaian sering tidak dibedakan karena adanya
asumsi bahwa akuntansi menggunakan unit moneter untuk mengukur makna
ekonomik suatu objek, pos, atau elemen. Pengukuran biasanya digunakan dalam
akuntansi untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat untuk
objek pada saat pemerolehan. Penilaian biasanya digunakan untuk menunjuk proses
penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada tiap elemen atau pos statemen
keuangan pada saat penyajian.
Konsep dasar kontinuitas usaha menempatkan aset sebagai sisa potensi jasa
yang akan menjadi upaya dalam menghasilkan pendapatan sehingga dasar penilaian
yang paling menggambarkan makna tersebut adalah kos historis. Akan tetapi, pada
kenyataannya pos-pos aset tidak hanya memiliki atribut sebagai sisa potensi jasa
tetapi juga atribut yang lain. Karena adanya bebragai atribut yang disandang oleh pospos aset, berbagai dasar penilaian harus digunakan dalam penyajian agar informasi
semantik yang dikandung berpaut (relevan) bagi pemakai statemen keuangan.

Konsep dan Basis Penilaian
Hendricksen dan Van Breda (1992) membahas konsep dan dasar penilaian aset
untuk tujuan pelaporan keuangan dari dimensi yaitu arah aliran aset dan waktu. Nilai
pertukaran aset itu sendiri dapat dipandang dari dua sisi yaitu pertukaran dalam
pemerolehan dan pertukaran dalam pemanfaatan aset. Nilai yang diperoleh atas dasar
pertukaran pemerolehan disebut dengan nilai masukan (input/entry values atau
exchange input values) sedangkan nilai yang diperoleh dari pertukaran pemanfaatan
disebut nilai keluaran (output/exit values atau exchange output values).
Walaupun penyajian aset adalah untuk saat tertentu yang dalam dimensi waktu
dapat diletakkan sebagai titik sekarang (current), nilai pertukaran yang dapat dijadikan
basis penilaian dapat nilai pertukaran masa lalu (past), atau masa mendatang (future).
Dimensi waktu dan arah (pemerolehan atau pemakaian) menghasilkan enam basis
pengukuran sebagaimana dikemukakan Hendrickesn dan Van Breda (1992, hlm. 489)
21

yaitu: kos historis (historical cost), kos pengganti (replacement cost), kos harapan
(expected costs), harga jual masa lalu (pas selling prices), harga jual sekarang (current
selling prices), dan nilai terealisasi harapan (expected relizable values). Gambar 2.4
berikut menyarikan hubungan antara berbagai dasar pengukuran tersebut.
Gambar 2.4
Basis Pengukuran Dalam Dimensi Waktu dan Aliran Aset

Jadi, konsep nilai masukan dan keluaran sebenarnya berkaitan dengan konsep
kesatuan usaha yang dianggap menguasai sumber ekonomik (aset) dan harus
mempertanggungjelaskan aset tersebut. Oleh karena itu, yang dimaksud masukan
tidak lain adalah transaksi pertukaran (exchange) dalam rangka “menjual” suatu pos
aset atau objek jasa tertentu. Dasar penilaian yang akan dipilih sebenarnya
menggambarkan nilai pertukaran tersebut.

Pengakuan
Suatu jumlah rupiah atau kos diakui sebagai aset apabila jumlah rupiah
tersebut timbul akibat transaksi, kejadian, atau keadaan yang mempengaruhi aset.
Pada umumnya pengakuan aset dilakukan besamaan dengan adanya transaksi,
kejadian, atau keadaan tersebut. Di samping memenuhi definisi aset, kriteria
keterukuran, keberpautan, dan keterandalan harus dipenuhi pula. Dengan mengutip
Sterling, Belkaoui (1993, hlm. 194-195) menunjukan kondisi perlu (necessary) dan
kondisi cukup (sufficient) yang merupakan penguji (tests) yang cukup rinci untuk
mengakui aset yaitu:
1. Deteksi adanya aset (detection of existence test). Untuk mengakui aset, harus ada
transaksi yang menandai timbulnya aset.

22

2. Seumber ekonomik dan kewajiban (economic resources and obligation test).
Untuk mengakui aset, suatu objek harus merupakan sumber ekonomik yang
langka, dibutuhkan dan berharga.
3. Berkaitan dengan entitas (entity association test). Untuk mengakui aset, kesatuan
usaha harus mengendalikan atau menguasai objek aset.
4. Mengandung nilai (non-zero magnitude test). Untuk mengakui aset, suatu objek
harus mempunyai manfaat yang terukur secara moneter.
5. Berkaitan dengan waktu pelaporan (temporal association test). Untuk mengakui
aset, semuapenguji diatas harus dipenuhi pada tanggal pelaporan (tanggal neraca).
6. Verifikasi (verification test). Untuk mengakui aset, harus ada bukti pendukung
untuk meyakinkan bahwa kelima penguji diatas dipenuhi.
Apa yang dikemukakan Belkaoui diatas sebenarnya adalah apa yang disebut
sebagai kaidah pengakuan (recognition rules) yang merupakan petunjuk teknis atau
prosedur untuk menerapkan empat kriteria pengakuan (recognition criteria) FASB
yaitu definisi, keterpautan, keterukuran, dan keterandalan. Kaidah tersebut diperlukan
karena kriteria pengakuan di atas sebenarnya berkaitan dengan masalah apakah suatu
kos dikapitalisasi (capitalized) atau dibiayakan (expensed). Bila kaidah pengakuan
diatas tidak dipenuhi, kos diperlakukan menjadi beban pendapatan sebagai biaya atau
rugi.

2.4. Teori yang Berhubungan dengan Liabilities
Kewajiban merupakan hutang masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaiannya diharapkan megankibatkan arus keluar dari sumber daya
perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. (paragraph 62), IAI (1994)
FASB mendefinisi kewajiban dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut
(SFAC No. 6, prg. 35):
Liabilities are probable future sacrifices of economic benefits arising from
present obligations of a particular entity to transfer assets or provide services
to other entities in the future as a result of past transaction or events.

23

Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang
mungkin timbul karena kewajiban suatuan usaha pada saat ini untuk
menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada satuan-satuan usaha lain di
masa depan sebagai hasil dari peristiwa masa lalu.
Dari definisi yang dikemukakan FASB di atas, pengertian hutang memiliki dua
komponen utama yaitu :


Adanya kewajiban sekarang dalam bentuk pengorbanan manfaat ekonomi di
masa mendatang dari penyerahan barang atau jasa.



Berasal dari transaksi/peristiwa masa lalu (telah terjadi).

Karakteristik-karakteristik spesifik dari kewajiban adalah sebagai berikut:
1.

Kewajiban itu harus ada pada saat ini. Saat ini, yaitu yang dilihat muncul dari
beberapa transaksi atau kejadian masa lalu.

2.

Kewajiban atau tugas yang setara atau konstruktif harus dimasukkan jika hal itu
didasarkan pada keperluan untuk membuat pembayaran masa depan guna
mempertahankan hubungan bisnis yang baik atau jika hal itu sesuai dengan
praktik bisnis yang normal.

3.

Harus tidak ada atau sedikit kebebasan untuk menghindari pengorbanan masa
depan. Tidak perlu bahwa jumlah kewajiban itu diketahui secara pasti selama
kewajiban masa depan itu mungkin sekali.

5.

Lazimnya, harus ada nilai jatuh tempo yang dapat ditentukan atau perkiraan
untuk pembayaran suatu jumlah yang ditentukan oleh estimasi layak akan
diwajibkan pada suatu waktu tertentu di masa depan, sekalipun ketentuan waktu
yang tepat belum diketahui saat ini. Waktu pembayaran dapat diperpanjang
dengan menggantikannya dengan kewajiban baru, atau kewajiban itu dapat
diakhiri

dengan

mengkonversinya

menjadi

ekuitas

pemegang

saham.

Perpanjangan yang berulang atau konversi dari utang tidak mengubah
klasifikasi awalnya sebagai suatu kewajiban.
6.

Biasanya, pihak yang dibayar harus diketahui atau diidentifikasikan baik secara
spesifik atau sebagai suatu kelompok. Akan tetapi, selama yang dibayar akan
menjadi dapat diidentifikasikan pada tanggal penyelesaian, tidak perlu si

24

pembayar mengetahui identitas dari yang dibayar atau bahwa kreeditor
meneguhkan klaim itu atau mempunyai pengetahuan tentang itu pada saat ini.

Kontrak Mengofset Tanpa Kondisi
Dalam SFAS 87, FASB telah mengizinkan kewajiban pendiun diofsetka oleh
dana pensiun di neraca perusahaan yang mensponsori. Yang paling baik, jumlah
selisih ditampakkan.
Menurut pendapat Hendrikson, praktik untuk hanya mencatat jumlah selisih
kurang baik karena hal itu mengamsumsikan bahwa total jumlah dari hak dan
kewajiban perusahaan tidak relevan untuk prediksi dan keputusan dari investor dan
kreditor. Tetapi total jumlah ini relevan, karena pemakai laporan dapat mempunyai
pengharapan yang berbeda tentang nilai hak-hak di dalam kontrak atau tentang efek
pengeluaran kas yang terikat.

Pengakuan
Pengakuan mengikuti aturan standar dari SFAC 5 yang menyatakan bahwa
suatu kewajiban harus diakui sebagai kewajiban apabila memenuhi empat kriteria
umum, yaitu:
1.

Memenuhi definisi suatu kewajiban

2.

Dapat diukur

3.

Relevan

4.

Dapat diandalkan
Tujuan dari penilaian kewajiban adalah bahwa pengukuran kewajiban harus

memungkinkan penyajian informasi kepada investor dan kreditor sebagai sarana
untuk meramalkan arus kas. Tujuan lain mencakup penilaian sebagai dasar untuk
perbandingan laba antar periode dan antar perusahaan, dan sebagai perbandingan dari
klaim beberapa pemegang ekuitas.

25

Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat
transaksi yang sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan harus di
evaluasi atas dasar kaidah pengakuan. Empat kaidah pengakuan untuk menandai
pengakuan kewajiban, yaitu:
a. Ketersediaan dasar hukum
Kaidah ini terkait dengan kualitas keterandalan dan keberpautan informasi.
Ketersediaan dasar hukum yang menimbulkan daya paksa hanya merupakan
karakteristik pendukung definisi kewajiban tadi. Jadi, kaidah ini tidak mutlak
sehingga kewajiban juga dapat diakui bila terdapat bukti substantif hanya
keharusan konstruktif atau demi kedilan.
b. Keterterapan konsep dasar konservatisma
Kaidah ini merupakan penjabaran teknis kriteria keterandalan. Implikasi
dianutnya konsep konservatisma adalah rugi dapat segera diakui tetapi tidak
demikian dengan untung. Ini berarti kewajiban dapat diakui segera sedangkan
aset tidak.
c. Ketertentuan substansi ekonomik transaksi
Substansi suatu transaksi dapat memicu pencatatan seluruh kewajiban yang
timbul ketika transaksi terjadi meskipun secara yuridis/kontraktual kewajiban
baru akan mengikat secara berkala pada saat keharusan sekarang timbul. Dalam
hal ini, kewajiban dapat atau bahkan harus diakui jika secara substantif sewaguna
tersebut sebenarnya adalah pembelian angsuran.
d. Keterukuran nilai kewajiban
Keterukuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai kualitas keterandalan
informasi. Oleh karena itu, adanya kepastian mengenai jumlah rupiah dapat
memicu diakuinya suatu kewajiban. Jika pengukuran suatu pos kewajiban bersifat
sangat subjektif dan arbitrer, pada umumnya pos tersebut tidak diakui.

26

Yang menjadi masalah teknis adalah kapan keempat kaidah di atas dipenuhi.
Hal ini berkaitan dengan penentuan saat pengakuan kewajiban. Hendriksen dan Van
Breda menunjukkan saat–saat untuk mengakui kewajiban yaitu:
a.

Pada saat penandatanganan kontrak bila pada saat itu hak dan kewajiban telah
mengikat. Dalam hak kontrak eksekutori, pengakuan menunggu sampai salah satu
pihak memanfaatkan/menguasai manfaat yang diperjanjikan atau memenuhi
kewajibannya.

b.

Bersamaan dengan pengakuan biaya jika barang dan jasa yang menjadi biaya
belum dicatat sebagai aset sebelumnya.

c.

Bersamaan dengan pengakuan aset. Kewajiban timbul ketika hak untuk
menggunakan barang dan jasa diperoleh.

d.

Pada akhir perioda karena penggunaan asas akrual melalui proses penyesuaian.
Pengakuan ini menimbulkan pos utang atau kewajiban akruan.
Keempat kaidah tersebut di atas sebagai bukti teknis dan ketentuan saat

pencatatan pada umumnya mudah diidentifikasi dan diterapkan untuk keharusan
kontraktual, konstruktif, dan demi keadilan.
Pengakuan Kewajiban Bergantung
Untuk keharusan bergantung (khususnya rugi bergantung yang menimbulkan
kewajiban), kaidah pengakuan keempat (keterukuran nilai kewajiban) dan pasti
setidaknya pengorbanan sumber ekonomik masa datang akan terjadi menimbulkan
masalah pengakuan. Oleh karena itu, diperlukan ketentuan yang lebih tegas untuk
mengakui kewajiban yang berkaitan dengan rugi bergantung. FSAB memberi contoh
keadaan–keadaan

kebergantungan

rugi yang

berpotensi

memicu

pengakuan

kewajiban sebagai berikut:
-

Ketertagihan piutang usaha

-

Keharusan berkaitan dengan jaminan produk dan kerusakan produk

-

Risiko rugi atau kerusakan properitas (fasilitas) kesatuan usaha akibat kebakaran,
ledakan, dan bahaya lainnya.

-

Ancaman penambilan set oleh pemerintah

-

Persengketaan yang memberatkan atau menunggu keputusan

27

-

Klaim

atau

pungutan

yang

telah

diajukan/dikenakan

atau

yang

mungkin (possible) terjadi
-

Risiko rugi akibat bencana yang ditanggung oleh perusahaan asurnsi kerugian dan
kecelakaan dan perusahaan reasuransi

-

Jaminan bank komersial dalam ikatan standby letters of credit

-

Perjanjian untuk membeli kembali piutang atau asset yang terkait yang telah
dijual

Pengukuran
Pengukur yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada saat
terjadinya adalah penghargaan sepakatan dalam transaksi–transaksi tersebut dan
bukan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik masa datang. Jadi, konsep dasar
penghargaan berlaku baik untuk aset mupun untuk kewajiban. Hal ini berlaku
khususnya untuk kewajiban jangka panjang. Untuk kewajiban jangka pendek, kos
penundaan dianggap tidak cukup material sehingga jumlah rupiah kewajban yang
tidak akan sama dengan jumlah pengorbanan sumber ekonomik (kas) masa datang.
Kewajiban moneter adalah kewajiban yang dinyatakan dalam satuan nominal.
Dengan kata lain, hal itu biasanya melibatkan pembayaran sejumlah uang kas. Dalam
semua kasus, penilaian saat ini dari utang adalah nilai sekarang yang didiskontokan
dari jumlah yang terutang di masa depan. Karena kewajiban lancar pada umumnya
harus dibayarkan dalam jangka pendek, jumlah diskonto biasanya tidak material dan
jumlah kewajiban itu dapat disajikan pada nilai nominal (jumlah utang di masa
depan).
Dalam kasus kewajiban jangka panjang, jumlah diskonto biasanya signifikan
dan karenanya penilaian masa berjalan harus berupa nilai yang didiskontokan dari
semua pembayaran masa depan yang akan dilakukan sesuai dengan kontrak itu.
Kewajiban lancar nonmoneter adalah kewajiban untuk memberikan barang atau jasa
dalam jumlah dan kualitas tertentu. Hal itu biasanya berasal dari pembayaran di muka
untuk jasa oleh pelanggan. Kewajiban moneter dinyatakan dalam satuan harga yang
ditentukan lebih dahulu atau yang disepakati untuk barang atau jasa spesifik. Jadi,

28

nilai moneter dari barang dan jasa itu dapat berubah, tetapi kuantitas dan kualitasnya
tidak.
ARB 43, secara spesifik memasukkan di dalam kewajiban lancar, uang muka
untuk penyerahan barang atau pelaksanaan jasa dalam kegiatan operasi yang normal.
Perlakuan uang muka sebagai kewajiban lancar benar karena dua alasan:
1. Uang muka itu adalah transaksi pendanaan masa berjalan dan bukan tranasaksi
penghasilan pendapatan. Meskipun alasan lain dapat mengakibatkan adanya uang
muka itu, seperti suatu upaya untuk menghindarkan kerugian piutang tak tertagih,
hasilnya

adalah

suatu

bantuan

dalam

pendanaan

operasi

perusahaan

bersangkutan.
2. Kewajiban untuk memberikan barang atau jasa umumnya merupakan bagian dari
operasi berjalan.

Pelunasan
Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang sengaja dilakukan oleh kesatuan
usaha sehingga bebas dari kewajiban tersebut. Pelunasan biasanya pemenuhan secara
langsung kepada pihak yang berpiutang. Pelunasan menjadikan kewajiban tersebut
hapus, tiada atau lenyap secara langsung. Beberapa kewajiban menjadi batal atau
kesatuan

usaha

menjadi

bebas

dari

kewajiban

lantaran

penghapusan

seluruhnya/sebagian, kompromi, penimbulan/pengakuan kewajiban baru/pengganti,
pengambilalihan kewajiban oleh pihak lain atau restrukturisasi utang. FASB
menentukan kriteria lenyapnya suatu kewajiban sebagai berikut:
a. Debitor membayar/melunasi kreditor dan bebas dari semua keharusan yang
berkaitan dengan utang.
b. Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang
baik keputusan pengadilan maupun oleh kreditor dan dapat dipastikan bahwa
debitor tidak akan diharuskan melakukan pembayaran di masa datang yang
berkaitan dengan utang.
c. Debitor menaruh kas atau aset lainnya yang tidak dapat ditarik kembali dalam
suatu perwakilan yang semata-mata digunakan untuk pelunasan pembayaran
29

bunga serta pokok suatu pinjaman tertentu dan sangat kecil kemungkinan bagi
debitor untuk diharuskan lagi melakukan pembayaran di masa datang yang
berkaitan dengan pinjaman tersebut.

Transfer Aset Finansial
Untuk melunasi kewajiban, suatu entitas dapat mentransfer aset finansial,
barang atau jasa. pada umumnya, bila kewajiban telah dilunasi dengan mentransfer
secara penuh kas, barang atau jasa debitor, maka pada saat itu pelunasan dianggap
tuntas. Pelunasan kewajiban dengan aset finansial juga dapat bersifat tuntas bila
penyerahan aset finansial bersifat tak bersyarat dan dianggap sebagai penjualan.
Artinya, aset finansial dianggap dijual secara tunai dan kas yang diterima dianggap
untuk melinasi utangnya.

Penilaian
Penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah rupiah yang
harus dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi. Dengan
kata lain, penilaian adalah penentuan nilai sekarang kewajiban. Atribut Penilaian
Menurut FASB
a.

Nilai pasar sekarang (current market value)

b.

Nilai pelunasan neto (net settlement value)

c.

Nilai diskunan aliran kas masa datang (discounted value of future cash flows)

Penyajian
Kewajiban disajikan dalam neraca atas dasar urutan kelancarannya sejalan
dengan penyajian aset. Aset lancar disajikan menurut urutan likuiditas sedangkan
kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. PSAK No. 1 menentukan bahwa
semua kewajiban yang tidak memenuhi kriteria sebagai kewajiban jangka pendek
30

harus diklasifikasi sebagai kewajiban jangka panjang. Semua kewajiban diklasifikasi
sebagai jangka pendek bila:
1.

Diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi
perusahaan, atau

2.

Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca.
Kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasi sebagai kewajiban

jangka panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam waktu dua
belas bulan sejak tanggal neraca, apabila:
1.

Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas
bulan.

2.

Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan
jangka panjang.

3.

Pembiayaan

pendanaan

jangka

panjang

didukung

dengan

perjanjian

pembiayaan kembali atau penjadualan kembali pembayaran yang resmi
disepakati sebelum laporan keuangan disetujui.

2.5. Teori yang Berhubungan dengan Capital
Ekuitas tidak dapat didefinisikan secara independen terhadap aset dan
kewajiban. Dalam kerangka dasar Standar Akuntasi Keuangan (2002), misalnya
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mendefinisikan ekuitas sebagai berikut (pasal 49):
Ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua
kewajiban.
Definisi diatas tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh FASB
dalam SFAC No. 6 sebagai berikut:
Equity or net asset is the residual interest in the assets of an entity that
remains after deducting its liabilities.
berbagai sumber yang lain mendefinisikan ekuitas yang tidaktidak
berbeda dengan defini diatas. Ekuitas didefinisikan sebagai hak residual untuk
31

menunjukan bahwa ekuitas buakn kewajiban. Ini berarti ekuitas bukan pengorbanan
sumber ekonomik masa datang. Karena didefinisi atas dasar aset dan kewajiban, nilai
ekuitas juga bergantung pada bagaimana aset dan kewajiban diukur.
Godfrey, Hodgson, dan Holmes (1997) membedakan ekuitas dan kewajiban
atas dasar kriteria berikut (hlom. 421-423):
Atas dasar konsep kesatuan usaha, kreditor dan pemegang saham sama-sama
mempunyai klaim atau hak untuk dilunasi atas dana yang ditanamkan dalam
perusahaan.
jadi, klaim kreditor terbatas jumlahnya dan harus diselesaikan padatanggal
tertentu sementara klaim pemegang sahalm merupakan jumlah residual dan tidak
harus diselesaikan atau dilunasipada tanggal tertentu.
Hak kreditor atau pemilik (pemegang saham) juga berbeda dalam hal
penggunaan aset. Kreditor pada umumya tidak mempunyai akses dan kendali dalam
penggunaan aset perusahaan. Mereka juga tidak mempunyai hak dalam pengambilkan
keputusan operasi perusahaan secara langsung. Di lain pihak, pemilik (khusus dalam
perusahaan peseorangan) mempunyai akses, hak,dan autoritas untuk menjalankan
perusahaan dan menggunakan atau mengendalikan aset.
Perjanjian menimbulkan hak dan kewajiban. substansi ekonomik perjanjian
antara kreditor dengan perusahaan berbedadengan antara pemegang saham dan
perusahaan dalam hal resiko terhadap rugi. Karena kreditor diprioritaskan, resiko
mereka lebih kecil dari pemegang saham. Pemegang saham menanggung segala
resiko yang berkaitan dengan operasi perusahaan. Oleh karena itu, hak kreditor
sebenarnya berbeda dengan hak pemegang saham, kreditor berhak atas pelunasan
sedangkan pemegang saham berhak atas pembagian laba (residual). jadi secara
substansi ekonomik, kreditor menanggung resiko lebih kecil dan dengan demikian
mendapat imbalan tetap berupa bunga dan pokok pinjaman sedangkan pemegang
saham menanggung resiko lebih besar sehingga berhak atas kembalian (rate of return)
yang berfariasi melalui pembagian laba (participation in profits).

32

Komponen Ekuitas Pemegang Saham
Dari segi riwayat dan sumbernya, ekutas pemegang saham dibagi menjadi dua
komponen penting, yaitu modal setoran dan laba ditahan. Modal setoran dipecah
menjadi modal saham (capital stock) sebagai modal yuridis (legal capital) dan modal
setoran tambahan (additional paid0in capital), dan komponen lain yang merefleksi
transaksi pemilik (misalnya saham treasuri atau modal sumbangan). Gambar 2.5
berikut melukiskan komponen modal ekuitas pemegang saham dan pos-pos yang
mempengaruhinya (sumber perubahan).
Gambar 2.5
Ekuitas Pemegang Saham dan Komponennya

Tujuan Penyajian Ekuitas
Pengungkapan informasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi
oleh tujuan penyajian informasi tersebut kepada pemakai statemen keuangan. Pada
umumnya, tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah menyediakan
informasi kepada yang berkepintingan tentang efisiensi dan kepengurusan
manajemen. Tujuan lain adalah menyediakan informasi tentang riwayat serta prospek
investasi pemilik dan pemegang ekuitas lainnya. Informasi tentang kewajiban yuridis
perseroan terhadap para pemegang saham dan pihak lainnya juga merupakan tujuan
penyajian ekuitas pemegang saham ini.

33

Perbedaan Modal Setoran dan Laba Ditahan
Laba ditahan pada dasarnya adalah terbentuk dari akumulasi laba yang
dipindahkan dari akun ikhtisar laba-rugi. Begitu saldo laba ditutup ke laba ditahan,
sebenarnya saldo laba tersebut telah lebur menjadi elemen modal pemegang saham
yang sah. Seperti juga modal setoran, laba ditahan menunjukan sejumlah hak atas
seluruh jumlah rupiah aset bukan hak atas jenis aset tertentu. Dengan demikian untuk
mengukur seluruh hak pemegang saham atas aset, laba ditahan harus digabungkan
dengan modal setoran.
Perbedaan antara dua bagian elemen ekuitas pemegang sangat penting. Dari
segi administrasi keuangan, laba ditahan merupakan indikator daya melaba sehingga
laba ditahan harus selalu dipisahkan dengan modal setoran meskipun jumlah akhirnya
ditotal untuk membentuk ekuitas pemegang saham. Pembedaan ini juga penting
secara yuridis karena modal setoran merupakan dana besar yang harus tetap
dipertahankan untuk menunjukan perlindungan bagi pihak lain. Dana ini hanya dapat
ditarik kembali dalam likuidasi rupiah yang secara yuridis dapat digunakan untuk
pembagian dividen.

Modal Yuridis
Modal yuridis timbul karena ketentuan hukum yang mengharuskan bahwa
harus ada sejumlah rupiah yang harus dipertahankan dalam rangka perlindungan
terhadap pihak lain.Bentuk ketentuan hukum ini adalah bahwa saham harus empunyai
nilai nominal atau nilai minimun yang dinyatakan untuk menunjukan hak yuridis.
Modal yuridis adalah jumlah rupiah "minimal" yang harus disetor oleh investor
sehingga membentuk modal yuridis.
Tujuan penyajian modal yuridi ini adalah untuk memberi informasi
kepada para pemegang ekuitas lainnya tentang batas perlindungan investasinya.
Akuntansi menggap pengungkapan modal yuridis tersebut tidak penting karena
akuntansi lebih menekankan pada jumlah rupiah yang benar-benar disetor oleh

34

pemegang saham sebagai jumlah rupiah kontrak antara perseroan dengan pemegang
saham.
Besarnya Modal Yuridis
Dalam hal saham bernilai nominal, modal yuridis dapat sama dengan
jumlah yang dikenal dengan nama modal saham. Modal saham menunjukan jumlah
rupiah perkalian antara cacah saham beredar dengan nilai nominal persaham. Jumlah
ini merupakan jumlah rupiah yang secara yuridis menjadi hak pemegang saham
walaupun dalam transaksi pembelian saham jumlah rupiah yang disetor atau dibayar
melebihi modal yiridis tersebut.
Modal saham ini juga merupakan batastanggung jawab pemegang
saham dan batas kerugian pribadi yang harus ditanggung pemegang saham. artinya,
dalam hal terjadi likuidasi pemegang saham tidak dapat menuntun pembagian
kekayaan atas dasar modal yang disetor (kecuali adanya sisa untuk itu). Sebaliknya,
dalam hal hasil penjualan aset dalam likuidasi tidak dapat menutup seluruh hutang
perseroan, pemegang saham tidak dapat diminta untuk menutup utang lebih dari
modal saham atau modal yang telah disetor kecuali pemegang saham sebagai direksi.

Modal Setoran Lain
Nominal saham sering dianggap bukan merupakan harga efektip saham
sehingga secara akuntansi penentuan nilai nominal saham sebenarnya tidak bermakna
ekonomik. Dalam hal tertentu, nilai nominal saham lebih merupakan alat untuk
pemerataan distribusi pemilikan daripada untuk menunjukan nilai salaham itu sendiri.
Karena tidak bermakna ekonomik, saham dapat diterbitkan tanppa nilai nominal. Ada
dua alasan penerbitan saham tanpa nilai nominal yaitu:
Pasal 42 undang-undang no 1 tahun 1995 menetapkan bahwa saham tanpa
nilai nominal tidak dapat diterbitkan. Ketentuan ini sebenarnya dimaksudkan untuk
menentukan modal yuridis. Nilai niminal merupakan jumlah rupiah minimal yang
harus disetor investor sehingga membentuk modal yuridis. Jika modal saham terjual

35

dengan harga diatas nominal, dapatkah selisihnya diperlakukan sebagai laba ditahan
karen modal yuridis telah terpenuhi?
Dalam hal ini, Patton danLittleton (1970) menegaskan bahwa perseroan
merupakan kesatun usaha maupun kesatuan hukum. Sifat ganda ini menjadikan
akuntasni mempunyai fungsi ganda pula yaitu menyajikan data ekonomik sekaligus
mencerminkan aspek yuridis yang sebenarnya. Fungsi ganda ini menimbulkan
masalah pelaporan ekuitas pemegang saham karena konsep kesatuan usaha dan
konsep hukum sangat berbeda. Dari segi hukum ada tendesi untuk memandang
ekuitas pemegang saham sebagai jumlah rupiah tertentu yang menjadi batas penarikan
kembali dana yang ditanamkan oleh pemegang saham tanpa memperhatikan setoran
yang sesungguhnya. Dari segi akuntansi, yang menganut substansi dari pada bentuk,
memandang ekuitas pemegang saham adalah seluruh jumlah yang secara ekonomik
tertanam diperusahaan termasuk laba ditahan.

Perubahan Modal Setoran
Tujuan utama perekayasaan akuntansi modal setoran ini adalah untuk
membedakan secara tegas antara perubahan akibat transaksi operasi dan perubahan
akibat transaksi modal. Dalam hal kenaikan modal setoran, pembedaan ini bermanfaat
untuk mencegah memperlakukan kenaikan akibat transaksi modal sebagai laba
sehingga timbul kesan adanya jumlah yang trsedia untuk pembagian dividen.
Berbagai sumber yang dapat mengubah modal setoran dengan berbagai masalah
teoretisnya adalah:
1. Pemesanan saham
2. obligasi terkonversi atau brhak tukar
3. saham istimewa terkonversi atau brhak tukar
4. dividen saham
5. hak beli saham, opsi, dan warna
6. saham treasuri

36

Obligasi Terkonversi
Dalam hal tertentu, perusahaan menerbitkan obligasi dengan karakteristik
bahwa obligasi tersebut dapat ditukarkan dengan saham biasa atas kehendak
pemegang obligasi dalam periode konversi tertentu. Obligasi yang demikian
mengandung sifat ekuitas dan kewajiban sehingga menimbulkan masalah apakah
yang perlu pemisahan jumlah rupiah yang merepresentasikan ekuitas dan yang
merepresentasikan kewajiban.
Kalau hak tukar tersebut diambil (exercised), yang terjadi adalah perubahan
status kewajiban menjadi modal setoran. Masalah teoritisnya adalah menentukan
jumlah rupiah yang dapat dianggap sebagai modal setoran sehingga modal saham dan
kelebihan di atas modal saham (kalau ada) dapat ditentukan. Dalam hal ini, ada dua
nilai yang dapat digunakan sebagai basis kapitalisasi yaitu:
1. nilai buku (book value) atau nilai bawaan (carrying value) obligasi pada saat
pertukaran.
2. Harga pasar obligasi atau harga pasar saham (mana yang paling objektif).
Dasar pertama yang merekalsifikasi nilai buku menjadi modal saham dan
premium atau diskon modal saham tergantung kasusnya. Dengan demikian, tidak ada
untung atau rugi yang diakui pada saat transaksi pertukaran tesebut. Esensi transaksi
tersebut hanyalah mengubah status jumlah rupiah utang menjadi modal pemegang
saham. Pendekatan ini didasari konsep kesatuan usaha (business entity concept)
karena kreditor dan pemegang saham mempunyai kedudukan yang sama sebagai
investor dengan kepentingan yang sama. Oleh karena itu, pertukaran tersebut tidak
mempunyai substansi ekonomik sehingga tidak dapat menimbulkan untung maupun
rugi.
Pendekatan kedua memperlakukan selisih antara harga pasar obligasi atau
saham dengan nilai buku obligasi sebagai untung dan rugi. Cara ini dilandasi oleh
konsep kesatuan pemilik (propietary concept). Perubahan dalam penilaian obligasi
dianggap mempunyai pengaruh terhadap modal pemegang saham. Akan tetapi, karena
harga pasar obligasi merefleksi pula nilai tukar, nilai hak tukar tersebut harus ditaksir
dan dikeluarkan dari nilai pasar obligasi. Secara konseptual, pengakuan laba atau rugi

37

tidak valid karena konversi ini merupakan transaksi modal bukan operasi. Secara
teoritis, transaksi modal tidak menimbulkan pendapatan, laba, atau rugi.

Dividen Saham
Dividen saham adalah distribusi dividen dalam bentuk saham yang sejenis
dengan saham yang mula-mula diterbitkan. Bila distribusi dividen tidak disertai
dengan kapitalisasi laba ditahan, dividen saham akan menyerupai pemecahan saham
(stock split). Pemecahan saham asalah penurunan nominal (atau nilai nyataan/stated
value) per saham dengan cara menukar tiap satu saham yang beredar dengan dua atau
lebih saham baru yang nilai nominal per sahamnya merupakan pecahan dari nilai
nominal saham semula.
Pembagian deviden saham tanpa kapitalisasi laba ditahan sama saja dengan
mempertahankan klasifikasi ekuitas atas dasar sumber. Karena tidak ada kapitalisasi
laba ditahan, masalah penilaian tidak timbul. Dari sudut pandang perusahaan, yang
terjadi adalah saham beredar menjadi lebih banyak tanpa ada perubahan rupiah modal
setoran adan laba ditahan sehingga nominal per lembar saham akan turun. Perusahaan
tidak perlu melakukan penjurnalan apapun dan cukup mengungkapkan informasi
dalam penjelasan atas statemen keuangan.
Bila reklasifikasi ekuitas yang menjadi tujuan pembagian deviden saham dan
nominal per saham dipertahankan, tambahnya saham yang beredar bukan lagi
merupakan pemecahan nominal saham tapi benar-benar merupakan dividen saham.
Pembagian divoden saham ini akan menimbulkan masalah penilaian untuk
menentukan kapitalisasi laba ditahan dan pengungkapan yang memadai. Penilaian
untukmenentukan kapitalisasi laba ditahan dapat menggunakan dasar nominal saham
atau harga pasar saham atau dasar lainny bergantung pada karakteristik atau tujuan
pembagian dividen saham.

38

2.6. Teori yang Berhubungan dengan Pengungkapan
Secara konseptual, pengungkapan merupakan bagian integral dari pelaporan
keuangan. Secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses
akuntansi yaitu penyajian informasi dalam bentuk seperangkat penuh statemen
keuangan. Evans (2003) mengartikan pengungkapan sebagai berikut:
Disclosure means supplying information in the financial statements, including
the statements themselves, the notes to the statements, and the supplementary
disclosure associated with the statements. It does not extend to public or
private statements made by management or information provided outside the
financial statements.
Pengungkapan sering juga dimaknai sebagai penyediaan informasi lebih dari
apa yang dapat disampaikan dalam bentuk statemen keuangan formal. Hal ini
tampaknya sejalan dengan gagasan FASB dalam rerangka konseptualnya sebagai
berikut (SFAC No. 1, prg. 5):
Although financial reporting and financial statements have essentially the
same objectives, some useful information is better provided by financial
statements and some is better provided, or can only be provided, by means of
financial reporting other than financial statements.
Masalah teroritis pengungkapan dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
berikut ini:
1. Untuk siapa informasi diungkapkan?
2. Mengapa pengungkapan harus dilakukan?
3. Seberapa banyak dan informasi apa yang harus diungkapkan?
4. Bagaimana cara dan kapan mengungkapkan informasi?

Siapa Dituju
Rerangka konseptual telah menetapkan bahwa investor dan kreditor
merupakan pihak yang dituju oleh pelaporan keuangan sehingga pengungkapan
39

ditujukan terutama untuk mereka. Pengungkapan menuntut lebih dari sekedar
pelaporan keuangan tetapi meliputi pula penyampaian informasi kualitatif atau nonkuantitatif. Karena pihak yang dituju lebih luas dan model pengambilan keputusannya
kurang dapat diidentifikasi, pengungkapan cenderung untuk meluas dan jarang
menjadi sempit (spesifik).

Fungsi dan Tujuan Pengungkapan
Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang
dipandang perlu untuk mecapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani
berbagai pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Telah disinggung
bahwa investor dan kreditor tidak homogen tetapi bervariasi dalam hal
kecanggihannya (sophistication). Karena pasar modal merupakan sarana utama
pemenuhan dana dari masyarakat, pengungkapan dapat diwajibkan untuk:
1. Tujuan Melindungi
Tujuan melindungi dilandasi oleh gagasan bahwa tidak semua pemakai cukup
canggih sehingga pemakai yang naif perlu dilindungi dengan mengungkapkan
informasi yang mereka tidak mungkin peroleh atau tidak mungkin olah untuk
menangkap substansi ekonomik yang melandasi suatu pos statemen keuangan.
2. Tujuan Informatif
Tujuan informatif biasanya dilandasi oleh gagasan bahwa pemakai yang dituju
sudah jelas dengan tingkat kecanggihan tertentu. Dengan demikian, pengungkapan
diarahkan untuk menyediakan informasi yang dapat membantu keefektifan
pengambilan keputusan pemakai tersebut. Tujuan ini biasanya melandasi
penyusun standar akuntansi untuk menentukan tingkat pengungkapan.
3. Tujuan Kebutuhan Khusus
Tujuan ini merupakan gabungan dari tujuan perlindungan publik dan tujuan
informatif. Apa yang harus diungkapkan kepada publik dibatasi dengan apa yang
dipandang bermanfaat nagi pemakai yang dituju sementara untuk tujuan
pengawasan, informasi tertentu harus disampaikan kepada badan pengawas yang
berdasarkan peraturan melalui formulir-formulir yang menuntut pengungkapan
secara rinci.
40

Keluasan dan Kerincian Pengungkapan
Hal ini berkaitan dengan masalah seberapa banyak informasi yang harus
diungkapkan yang disebut dengan tingkat pengungkapan (levels of disclosure). Evans
(2003, hlm. 336) mengidentifikasi tiga tingkat pengungkapan yaitu memadai
(adequate disclosure), wajar atau etis (fair or ethical disclosure), dan penuh (full
disclosure). Tingkat ini mempunyai implikasi terhadap apa yang diungkapkan.
Tingkat memadai adalah tingkat minimum yang harus dipenuhi agar statemen
keuangan secara keseluruhan tidak menyesatkan untuk kepentingan pengambilan
keputusan yang diarah. Tingkat wajar adalah tingkat yang harus dicapai agar semua
pihak mendapat perlakuan atau pelayangan informasional yang sama. Artinya, tidak
ada satu pihak yang kurang mendapat informasi sehingga mereka menjadi pihak yang
kurang diuntungkan posisinya. Dengan kata lain, tidak ada preferensi dalam
pengungkapan informasi. Tingkat penuh menuntut penyajian secara penuh semua
informasi yang berpaut dengan pengambilan keputusan yang diarah.
Tingkat pengungkapan yang tepat memang harus ditentukan karena terlalu
banyak informasi sama tidak menguntungkannya dengan terlalu sedikit informasi.
Oleh karena itu, diperlukan kriteria atau pertimbangan untuk menentukan batas atas
dan batas bawah. Dalam hal pengungkapan, batas atas (tingkat penuh) lebih banyak
menimbulkan kontroversi dibandingkan dengan batas bawah. Artinya, bagi penentu
kebijakan, menentukan seberapa luas pengungkapan harus dilakukan lebih
problematik dibanding menentukan informasi apa yang tidak perlu diungkapkan.

Kendala Pengungkapan
Berbagai hal menjadi pertimbangan penyusun standart atau badan pengawas
untuk menentukan seberapa banyak informasi harus diungkapkan. Berikut ini adalah
beberapa hal yang harus dipertimbangkan atau menjadi kendala dalam pengungkapan.
Kendala pada umumnya timbul dari kaca mata perusahaan.
Salah satu hal yang menentukan keluasan dan kerincian pengungkapan adalah
tujuan pengungkapan. Tujuan perlindungan atau protektif biasanya menuntut

41

pengungkapan yang lebih luas dan lebih rinci. Pengungkapan yang lebih luas biasanya
terkendala oleh keengganan perusahaan untuk menyediakan informasi.
Banyak perusahaan-perusahaan saat ini yang enggan mengungkapkan lebih
banyak informasi keuangannya dengan berbagai argumentasi yang kadang tidak
realistis dan tidak mendapat dukungan banyak pihak yang berkepentingan antara lain :
1.

Pengungkapan akan membantu pesaing dan akan merugikan pemegang saham.

2.

Serikat pekerja akan memperoleh keuntungan dengan tawar menawar upah
dengan pengungkapan informasi keuangan yang lengkap.

3.

Investor sering dinyatakan tidak dapat memahami kebijakan dan prosedur
akuntansi.

4.

Sumber-sumber lain kadang dianggap mampu menyediakan informasi tersebut
dengan biaya yang lebih rendah daripada jika diberikan oleh perusahaan dalam
laporan keuangannya.

5.

Tidak adanya pengetahuan tentang kebutuhan para investor.
Banyaknya perusahaan yang tidak mengungkapkan informasi yang cukup

dalam laporan keuangannya menuntut adanya regulasi (peraturan) yang menentukan
isi dan format laporan keuangan dan juga memuat ketentuan-ketentuan spesifik yang
berhubungan dengan pengungkapan.

Pengungkapan Wajib dan Sukarela
Pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang dilakukan perusahaan di
luar apa yang diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan pengawas.
Pembahasan sebelum ini sebenarnya ditujukan untuk menentukan pengungkapan
wajib. Batas pengukuran dan pengakuan dalam rerangka konseptual FASB dalam
gambar 2.6 sebenarnya juga menggambarkan tingkat pengungkapan wajib dan
sukarela. Pengungkapan dalam lingkup (1) sampai (3) dapat dipandang sebagai
pengungkapan wajib dan sisanya sukarela.

42

Gambar 2.6
Lingkup Informasi Pelaporan keuangan: Rerangka konseptual FASB

Teori pensignalan (signalling theory) melandasi pengungkapan sukarela ini.
Manajemen harus selalu berusaha untuk mengungkapkan informasi privat yang
menurut pertimbangannya sangat diminati oleh investor dan pemegang saham
khususnya kalau informasi tersebut merupakan berita baik (good news). Manajemen
juga berminat menyampaikan informasi yang dapat meningkatkan kredibilitasnya dan
kesuksesan perusahaan meskipun informasi tersebut tidak diwajibkan.
Pengungkapan sukarela ini merupakan solusi atas kendala pengungkapan
secara penuh yang dibahas diatas. Dengan kebersediaan manajemen dalam
pengungkapan sukarela ini, tingkat pengungkapan wajib yang dapat ditetapkan dapat
diarahkan ke tingkat wajar atau bahkan memadai tidak perlu penuh.

Regulasi Pengungkapan
Mempercayakan pengungkapan sepenunya kepada manajemen sama saja
dengan menyerahkan penyediaan informasi kepada pasar. Beberapa argumen
mendukung perlunya regulasi dalam penyediaan informasi. Alasan tersebut adalah (a)
43

penyalahgunaan (abuse), (b) eksternalitas (extenalities), (c) asimetri informasi
(information asymetry), dan (d) keengganan manajemen (management reluctance).
Semua regulasi diarahkan untuk mencegah adanya penyalahgunaan dan
kecurangan (fraud) oleh para pelaku pasar modal terutama dalam masalah
pengungkapan. Hal ini menjadi pemicu dibentuknya SEC dan dikeluarkannya
Securities Act 1933 dan Securities Exchange Act 1934. Intervensi pemerintah
semacam ini diperlukan untuk menjamin efisiensi dan pemerataan dalam hal
informasi melalui regulasi.
Eksternalitas

merupakan

salah

satu

alasan

diperlukannya

regulasi.

Eksternalitas terjadi ketika tindakan satu pihak (dalam hal ini pengungkapan
informasi) mempengaruhi pihak lain yang diuntungkan tanpa menanggung kos atau
dirugikan tanpa kompensasi. Hal ini akan mengurangi insentif untuk mengungkapkan
secara penuh informasi meskipun hal tersebu bermanfaat bagi banyak orang. Insentif
menjadi kurang karena perusahaan yang menyampaikan informasi tidak mendapat
kompensasi untuk itu. Situasi ini disebut kegagalan pasar (market failure). Kegagalan
pasar dapat diatasi dengan regulasi untuk mendorong pengungkapan informasi
sebagai tindakan kolektif (collective action) bukan tindakan individual atau sukarela.
Karena manajemen dan investor/kreditor merupakan pihak yang terpisah dan
hubungan kedua pihak tersebut dapat dipandang sebagai hubungan keagenan,
dikhawatirkan akan terjadi asimetri informasi antara kedua pihak tersebut dengan
manajemen sebagai pihak yang lebih menguasai informasi. Asimetri informasi
mendorong investor untuk melakukan pencarian informasi nonpublik secara
individual yang mengakibatkan para investor tidak mempunyai informasi yang samsa.
Akibatnya pasar menjadi tidak efisien. Regulasi yang mewajibkan informasi tertentu
diungkap secara publik akan mengurangi asimetri informasi baik anatara manajemen
dan investor maupun antara para investor itu sendiri.
Karena

kepentingan

sendiri,

manajemen

cenderung

enggan

untuk

mengungkapkan informasi yang dapat meningkatkan kemampuannya untuk
memenuhi kepentingan pribadinya dengan mengorbankan kepentingan umum (public
interest). Regulasi dapat menyeimbangkan kepentingan tersebut.

44

Atas dasar uraian diatas dapat disimpulkan bahwa regulasi mengenai apa yang
harus diungkapkan dapat dijustifikasi dari berbagai aspek. Bukti empiris juga
memperkuat diperlukannya regulasi dalam pengungkapan informasi.

Metode Pengungkapan
Metode pengungkapan berkaitan dengan masalah bagaimana secara teknis informasi
disajikan kepada pemakai dalam satu perangkat statemen keuangan beserta informasi
lain yang berpaut. Metode ini biasanya ditentukan secara spesifik ke dalam pelaporan
keuangan antara lain sebagai:
1. Bentuk dan susunan laporan formal
Bentuk dan susunan laporan keuangan dapat diubah secara efektif untuk
menampilkan jenis informasi tertentu yang tidak diungkapkan dalam laporan
yang tradisional baik di neraca, laporan rugi laba maupun di laporan arus kas
2. Terminologi dan penyajian yang terinci
Judul deskripsi yang tepat untuk pos-pos dalam laporan keuangan akan menjadi
penjelas bagi pembaca.
3. Informasi parentesis
Jika judul pos dalam laporan tidak cukup menjelaskan,, diperlukan definisi
tambahan berbentuk parentesis (dalam tanda kurung) setelah judul laporan
tersebut.
4. Catatan kaki
Catatan kaki digunakan untuk menyajikan data kuantitatif yang terinci yang tidak
cukup signifikan untuk dicantumkan dalam tubuh laporan, tapi data ini disajikan
dalam bentuk daftar pelengkap, antara lain :
a. Kebijakan akuntansi dan perubahan akuntansi
b. Hak kreditor untuk didahulukan
c. Aktiva kontinjen dan kewajiban kontinjen
d. Pembatasan pada pembayaran dividen
e. Hak-hak pemegang equitas
f. Dan lain-lain
5. Laporan dan data pelengkap

45

Data keuangan diikhtisarkan dan disajikan dalam laporan secara ringkas dan
untuk dapat lebih dimengerti oleh pembaca sebagaian informasi yang terinci dan
signifikan harus dikeluarkan dari laporan dan disajikan dalam daftar pelengkap.
Daftar ini kadang dimasukkan dalam catatan kaki dan kadang dalam satu bagian
setelah laporan dan catatan kaki
6. Laporan Auditor
Laporan ini bertujuan mengungkapkan jenis-jenis informasi berikut :
a. Dampak materil dari penggunaan metode akuntansi yang berbeda dengan
yagn lazim
b. Dampak materil dari perubahan satu metode ke metode akuntansi yang lazim
lainnya.
c. Perbedaan pendapat antara auditor dan klien mengenai kelaziman suatu
metode akuntansi yang digunakan dalam laporan.
7. Pembahasan dan analisis manajemen serta surat direktur utama
Hal-hal yang dapat diidentifikasi manajemen
a. Hasil-hasil arbiter yang disebabkan oleh konvensi pembagian operasi yang
kontinyu menjadi periode-periode akuntansi yang tetap.
b. Estimasi, pertimbangan, dan asumsi yang mereka gunakan dalam pelaporan
keuangan.
c. Ketidakpastian yang signifikan yang mendasari estimasi atau asumsi.

2.7. Regulasi
UU No. 40 tahun 2007
Secara khusus badan usaha Perseroan Terbatas diatur dalam Undang-Undang
No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), yang secara efektif berlaku
sejak tanggal 16 Agustus 2007. Sebelum UUPT 2007, berlaku UUPT No. 1 Th 1995
yang diberlakukan sejak 7 Maret 1996 (satu tahun setelah diundangkan) sampai
dengan 15 Agustus 2007, UUPT tahun 1995 tersebut sebagai pengganti ketentuan
tentang perseroan terbatas yang diatur dalam KUHD Pasal 36 sampai dengan Pasal
56, dan segala perubahannya(terakhir dengan UU No. 4 Tahun 1971 yang mengubah
sistem hak suara para pemegang saham yang diatur dalam Pasal 54 KUHD dan
Ordonansi Perseroan Indonesia atas saham.
46

1. Makna PT : Pasal 1 (1)
Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum
yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan
pelaksanaannya.

2. Prosedur Pendirian PT : Pasal 7
1.

Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta notaris yang
dibuat dalam bahasa Indonesia.

2.

Setiap pendiri Perseroan wajib mengambil bagian saham pada saat
Perseroan didirikan.

3.

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam rangka
Peleburan.

4.

Perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya
Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan.

5.

Setelah Perseroan memperoleh status badan hukum dan pemegang saham
menjadi kurang dari 2 (dua) orang, dalam jangka waktu paling lama 6
(enam) bulan terhitung sejak keadaan tersebut pemegang saham yang
bersangkutan wajib mengalihkan sebagian sahamnya kepada orang lain atau
Perseroan mengeluarkan saham baru kepada orang lain.

6.

Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) telah
dilampaui, pemegang saham tetap kurang dari 2 (dua) orang, pemegang
saham bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan dan kerugian
Perseroan, dan atas permohonan pihak yang berkepentingan, pengadilan
negeri dapat membubarkan Perseroan tersebut.

7.

Ketentuan yang mewajibkan Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau
lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ketentuan pada ayat (5),
serta ayat (6) tidak berlaku bagi :
a. Persero yang seluruh sahamnya dimiliki oleh negara; atau

47

b. Perseroan yang mengelola bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan,
lembaga penyimpanan dan penyelesaian, dan lembaga lain
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pasar Modal.

3. Struktur Permodalan PT : Pasal 31
1.

Modal dasar Perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham.

2.

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menutup
kemungkinan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal
mengatur modal Perseroan terdiri atas saham tanpa nilai nominal.

4.

Jenis Saham PT : Pasal 53 (4)
Klasifikasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat (3), antara lain:
a.

Saham dengan hak suara atau tanpa hak suara;

b.

Saham dengan hak khusus untuk mencalonkan anggota Direksi dan/atau
anggota Dewan Komisaris;

c.

Saham yang setelah jangka waktu tertentu ditarik kembali atau ditukar
dengan klasifikasi saham lain.

d.

Saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima
dividen lebih dahulu dari pemegang saham klasifikasi lain atas pembagian
dividen secara kumulatif atau nonkumulatif;

e.

Saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima lebih
dahulu dari pemegang saham klasifikasi lain atas pembagian sisa
kekayaan Perseroan dalam likuidasi.

5.

Struktur Organisasi PT :
a.

Rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS, adalah
Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada
Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam UndangUndang ini dan/atau anggaran dasar.

48

b.

Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab
penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai
dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di
dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

c.

Dewan Komisaris adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar
serta memberi nasihat kepada Direksi.

6.

Hak, Tugas, Kewenangan, Tanggung jawab dari Pemegang Saham, Direktur,
dan Komisaris:
a.

Pemegang Saham:
Hak : Pasal 75 (2)
Dalam forum RUPS, pemegang saham berhak memperoleh keterangan
yang berkaitan dengan Perseroan dari Direksi dan/atau Dewan Komisaris,
sepanjang berhubungan dengan mata acara rapat dan tidak bertentangan
dengan kepentingan Perseroan.
Tanggung jawab: Pasal 3 (1)
Pemegang saham Perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas
perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggung jawab
atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki.
b. Direktur:
Tugas: Pasal 92 (1)
Direksi menjalankan pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan
dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan.
Kewenangan: Pasal 92 (2)
Direksi berwenang menjalankan pengurusan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat, dalam batas yang
ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau anggaran dasar
Tanggung jawab: Pasal 97 (3)
Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas
kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai
menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2)
49

c.

Komisaris:
Tugas: Pasal 108 (1)
Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan,
jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai Perseroan maupun
usaha Perseroan, dan memberi nasihat kepada Direksi.
Tanggung jawab: Pasal 108 (2)
Pengawasan dan pemberian nasihat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan
tujuan Perseroan.

7.

Merger, Akuisisi : Pasal 1 ( angka 9,10,11 )
a. Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan
atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada
yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan
diri beralih karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan
dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri
berakhir karena hukum.
b. Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua Perseroan atau
lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Perseroan baru
yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan yang
meleburkan diri dan status badan hukum Perseroan yang meleburkan diri
berakhir karena hukum.
c. Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum
atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham Perseroan yang
mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Perseroan tersebut.

8.

Hal yang menyebabkan Bubarnya PT : Pasal 142 (1)
Pembubaran Perseroan terjadi:
a. Berdasarkan keputusan RUPS
b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah
berakhir;
50

c. Berdasarkan penetapan pengadilan;
d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup
untuk membayar biaya kepailitan;
e. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam
keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; atau
f. Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan
melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
SAK Terbaru
PSAK 1 (Revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan
PSAK 7 (Revisi 2010): Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi
PSAK 10 (Revisi 2010): Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing
PSAK 12 (Revisi 2009): Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama
PSAK 13 (Revisi 2011): Properti Investasi
PSAK 16 (Revisi 2011): Aset Tetap
PSAK 19 tentang Aset Tak Berwujud
PSAK 22 (Revisi 2010): Kombinasi Bisnis
PSAK 23 (Revisi 2010): Pendapatan
PSAK 25 (Revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan
Kesalahan
PSAK 30 (Revisi 2011): Sewa
PSAK 33 (Revisi 2011): Akuntansi Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum
PSAK 34 (Revisi 2010): Kontrak Konstruksi
PSAK 38 (Revisi 2012): Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali
PSAK 55 (Revisi 2011): tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran
PSAK 64: Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya
Mineral

51

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN & METODE ANALISIS DATA

3.1. Kerangka Pemikiran
Revenue & Gains
Dalam SFAC No. 6, FASB mendefinisikan pendapatan dan untung sebagai berikut:
Revenues are inflows or other enhancements of assets of an entity or
settlement of its liabilities (or combination of both) from delivering or
producing or producing goods, rendering services, or other activities that
constitute the entity’s ongoing major or central operation (prg. 78).
Gains are increases in equity (net assets) from peripheral or incidental
transaction of an entity and from all other transactions and other events and
circumstances affecting the entity except those that result from revenues or
investments by owners (prg. 82).
Teori tentang pendapatan menyangkut masalah definisi, pengakuan, saat
pengakuan, dan prosedur pengakuan. Pendapatan dapat didefinisi dari beberapa
konsep. Dengan konsep aliran masuk, pendapatan adalah kenaikan aset. Dari konsep
aliran keluar, pendapatan adalah penyerahan produk yang diukur atas dasar
penghargaan produk tersebut. Secara netral, pendapatan adalah produk perusahaan
sebagai hasil dari upaya produktif. Pendapatan diukur dengan jumlah rupiah aset baru
yang diterima pelanggan.

Expense & Loss
Dalam SFAC No. 6, FASB mendefinisi biaya (expenses) dan rugi (losses)
sebagai berikut:
Expenses are outflows or other using up of assets or incurrence of liabilities
(or combination of both) from delivering or producing goods, rendering
52

services, or carrying out other activities that constitute the entity’s ongoing
major or central operations (prg. 80).
Losses are decreases in equities (net assets) from peripheral or incidental
transactions of an entity and from all other transactions and other events and
circumstances affecting the entity except those that expenses or distribution to
owners (prg. 83).
Biaya mempunyai dua karakteistik utama yaitu aliran atau penurunan aset atau
kenaikan kewajiban dan berkaitan dengan operasi utama yang menerus. Rugi
dibedakan dengan biaya karena timbul dari sumber yang secara tidak langsung
berkaitan dengan operasi utama perusahaan. Rugi berasal dari transaksi, kegiatan, atau
sumber berupa periferal, transfer nontimbal-balik, penahanan aset, atau faktor
lingkungan.

Asset
FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC No. 6,
prg.25):
Assets are probable future economic benefits obtained or controlled by a
particular entity as a result of past transaction or events.
(Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang
diperoleh atau dikuasai / dikendalikan ole suatu entitas sebagai akibat
transaksi atau kejadian masa lalu.)
Aset merupakan elemen neraca pembentuk informasi semantik berupa posisi
keuangan dan merepresentasi potensi jasa fisis dan nonfisis yang memampukan badan
usaha untuk menyediakan barang dan jasa. Manfaat ekonomik aset ditunjukkan oleh
potensi jasa (service potential) atau utilitas (utility) yang melekat padanya yaitu
sumber daya atau kapasitas langka (scarce) yang dapat dimanfaatkan kesatuan usaha
dalam upayanya untuk mendatangkan pendapatan melalui kegiatan ekonomik yaitu
konsumsi, produksi, dan pertukaran.

53

Liabilities
FASB mendefinisi kewajiban dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut
(SFAC No. 6, prg. 35):
Liabilities are probable future sacrifices of economic benefits arising from
present obligations of a particular entity to transfer assets or provide services
to other entities in the future as a result of past transaction or events.
Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang
mungkin timbul karena kewajiban suatuan usaha pada saat ini untuk
menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada satuan-satuan usaha lain di
masa depan sebagai hasil dari peristiwa masa lalu.
Kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu pengorbanan manfaat
ekonomik masa datang, menjadi keharusan sekarang, dan timbul akibat transaksi atau
kejadian masa lampau. Kewajiban menjadi lebih tegas adanya bila didukung oleh
keharusan membayar kas, teridentifikasinya terbayar, dan terpaksakan secara hukum.
Transaksi atau kejadian masa lalu menimbulkan keharusan sekarang pada
tanggal pelaporan yang berarti bahwa seandainya pada saat sekarang perusahaan harus
mengorbankan manfaat ekonomik maka hal tersebut harus dilakukan. Keharusan
sekarang yang menimbulkan kewajiban dapat bersifat kontraktual, konstruktif, demi
keadilan, dan bergantung.

Capital
Ekuitas didefinisikan oleh FASB dalam SFAC No. 6 sebagai berikut:
Equity or net asset is the residual interest in the assets of an entity that
remains after deducting its liabilities.
Ekuitas didefinisi secara sintaktik sebagai hak residual atas aset perusahaan
setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas terpaksa didefinisi secara sintaktik bukan
semantik karena keperluan untuk mempertahankan artikulasi statemen keuangan.
Ekuitas mengandung makna pemilikan.
54

Ekuitas berbeda dengan kewajiban dalam tiga hal yaitu hak atas penyelesaian
klaim, hak penggunaan aset, dan substansi perjanjian (yuridis). Walaupun demikian,
atas dasar konsep kesatuan usaha, kreditor dan investor dipandang sebagai pihak luar
perusahaan yang terpisah dari manajemen.

Pengungkapan
Evans (2003) mengartikan pengungkapan sebagai berikut:
Disclosure means supplying information in the financial statements, including
the statements themselves, the notes to the statements, and the supplementary
disclosure associated with the statements. It does not extend to public or
private statements made by management or information provided outside the
financial statements.
Secara umum, pengungkapan adalah konsep, metode, dan media tentang
bagaimana informasi akuntansi disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
Statemen keuangan dasar dan penyajian informasi selain statemen keuangan
merupakan bentuk pengungkapan informasi. Dalam arti sempit, pengungkapan berarti
penyampaian informasi relevan selain melalui statemen keuangan termasuk
penyampaian sarana interpretif. Artinya, pengungkapan adalah pengungkapan secara
kuantitatif, kualitatif, dan deskriptif lebih dari apa yang telah termuat dalam statement
keuangan pokok sebagai ciri sentral pelaporan keuangan.

Regulasi
Regulasi pasar dapat dijustifikasi berhubungan dengan kepentingan publik.
Dalam konteks ini, terdapat 2 alasan yang secara normal digunakan untuk
mempertahankan regulasi. Satu alasan adalah kemungkinan terjadinya kesalahan pada
sistem pasar bebas yang disebut market failure, dan akan mengakibatkan munculnya
ketidakoptimalan dalam alokasi sumber daya. Monopoli alamiah seperti yang terjadi
pada industri kebutuhan, adalah sebuah contoh kegagalan pasar yang membutuhkan
intervensi dari peraturan untuk mencegah kekurangan penawaran dan harga

55

monopoli. Alasan kedua adalah kemungkinan pasar bebas bertentangan dengan
tujuan sosial. Misalnya, dapat dikatakan pasar bebas tidak cukup mengkomunikasikan
informasi pada kepada pasar sekuritas, mengakibatkan manajer dan pihak dalam
lainnya yang mempunyai informasi, tidak didapatkan pemegang saham. Sebagai
tambahan, informasi yang disediakan pada pasar non-regulasi tidak menyediakan
keterbandingan yang di antara semua perusahaan. Sebuah justifikasi filosofis dari
proses penyusunan standar adalah (disebut kodofikasi) adalah didasarkan pada
perbaikan secara evolusi terhadap standar akuntansi pada sebuah masyarakat yang
terbuka dan demokratis.

3.2. Metode Analisis Data
Penelitian ini menggungakan metode analisis data dalam memaparkan data,
sehingga dapat diperoleh suatu kebenaran atau ketidakbenaran dari suatu hipotesis.
Dengan demikian, data yang terkumpul tersebut dibahas, ditafsirkan, dan
dikumpulkan secara induktif, sehingga dapat diberikan gambaran yang tepat mengenai
hal-hal yang sebenarnya terjadi. Mengingat penelitian ini hanya menampilkan datadata kualitatif, maka penulis menggunakan analisis data induktif.
Metode induktif adalah jalan berfikir dengan mengambil kesimpulan dari datadata yang bersifat khusus. Pendapat lain menyatakan bahwa berpikir induktif adalah
berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang konkrit itu ditarik
generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum. (Sutrisno Hadi, Metode
Research, (Jakarta: Andi Offset, 1986), hlm. 42).
Bertolak dari pengertian di atas, peneliti menggunakan metode ini adalah
untuk menyimpulkan hasil observasi dan data yang terkumpul lainnya. Metode
induktif adalah untuk menilai fakta-fakta empiris yang ditemukan dan kemudian
dicocokkan dengan landasan yang ada. Dengan demikian, maka dapat ditegaskan
bahwa teknik yang digunakan dalam menganalisis data penelitian ini adalah teknik
induktif.

56

BAB IV
PEMBAHASAN

PT Tri Banyan Tirta Tbk adalah perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan
air pegunungan menjadi air kemasan siap minum dengan merk dagang ALTO. Dalam operasi
utama perusahaannya, ia mencari keuntungan dengan cara menjual air mineral dalam
kemasan dengan berbagai ukuran yang dicantumkan dalam akun sales yang ada dalam
laporan laba/rugi perusahaannya. Sales yang dimaksud termasuk dalam kategori pendapatan
karena memenuhi seluruh karakteristik yang membentuk pendapatan, terutama karakteristik
utama yang membatasinya dengan kenaikan aset karena tidak semua kenaikan aset
membentuk pendapatan.
Kenaikan aset yang dapat disebut pendapatan harus berasal dari kegiatan operasi dan
bukan kegiatan investasi dan pendanaan. Kegiatan operasi ini diwujudkan dalam bentuk
memproduksi dan mengirim berbagai barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau
melaksanakan berbagai jasa. Hal inilah yang tercakup dalam kegiatan pada akun sales di
laporan laba/rugi PT Tri Banyan Tirta Tbk.
Pada laporan laba/rugi PT Tri Banyan Tirta Tbk periode 2012, tidak terdapat
loss/kerugian. Sedangkan expense PT Tri Banyan Tirta Tbk dibagi menjadi beban pokok
penjualan dan beban usaha. Beban pokok penjualan mencakup beban pabrikasi yang terdiri
dari beban gaji, beban penyusutan aktiva tetap, beban distribusi, beban telepon dan listrik,
beban makloon, beban reparasi dan perawatan, beban operasional pabrik, beban retribusi air,
beban jamsostek, beban pabrik umum, beban keamanan dan kebersihan, beban transportasi,
beban laboratorium, beban asuransi, beban alat tulis kantor, beban donasi, pos & perangko
serta beban lain-lain. Sedangkan bebam usaha mencakup beban bagian penjualan dan beban
bagian umum dan administrasi.
Dalam

akun-akun

beban

yang

tertera,

beban-beban

tersebut

juga

dapat

dikelompokkan sesuai dengan sifat karakteristik beban/biaya yaitu aliran keluar atau
penurunan aset dan akibat kegiatan yang membentuk operasi utama yang menerus. Beban
yang dapat masuk dalam kelompok biaya akibat penurunan aset yang dimana baru dapat
57

dikatakan sebagai biaya ketika telah terjadi transaksi atau kejadian yang menurunkan aset
atau sumber ekonomik adalah beban pokok penjualan dimana manfaat ekonomik aset telah
habis karena melekat pada barang yang telah diserahkan (keluar) dari kesatuan usaha
sehingga kesatuan usaha tidak lagi menguasai manfaat tersebut.
Sedangkan yang termasuk sebagai biaya akibat kegiatan yang membentuk operasi
utama yang menerus adalah beban penjualan dan beban administrasi dan umum, hal ini
dikarenakan karena kedua kelompok beban tersebut berkaitan dengan kegiatan penciptaan
pendapatan yang direpresentasikan dalam kegiatan memproduksi/mengirim barang atau
menyerahkan/melaksanakan jasa.
Aset PT Tri Banyan Tirta Tbk seperti pada perusahaan lain, dibagi menjadi aset lancar
dan aset tidak lancar. Aset lancar PT Tri Banyan Tirta Tbk mecakup kas dan setara kas,
piutang usaha, persediaan, pajak dibayar dimuka, serta uang muka dan biaya dibayar dimuka.
Sedangkan aset tidak lancar PT Tri Banyan Tirta Tbk mencakup aktiva tetap bersih, beban
tangguhan, aktiva pajak tangguhan, dan aktiva tidak lancar lainnya.
APB No. 4 merinci aset yang digolongkan sebagai sumber ekonomik yaitu sumber
produktif (akun bahan baku, gedung, pabrik perlengkapan, sumber alam, paten, dan lainlain), produk (barang jadi), uang (kas dan setara kas), dan kalim untuk menerima uang
(piutang usaha). Dengan perincian sebagaimana dijelaskan diatas, maka akun-akun aset PT
Tri Banyan Tirta memenuhi kriteria aset sebagai objek yang memiliki manfaat yang terukur,
dapat dikuasai/dikendalikan serta merupakan akibat dari transaksi-transaksi yang telah terjadi
sebelumnya.
Kewajiban PT Tri Banyan Tirta Tbk mencakup utang usaha, utang lain-lain (uang
muka penjualan dan jaminan galon), utang pajak, utang bank, dan utang pembiayaan
konsumen. Kewajiban-kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan ini tidak dapat dipisahkan
dengan pengertian aset. Aset dapat menimbulkan kewajiban dan sebaliknya, timbulnya
kewajiban dapat bersamaan dengan pengakuan aset seperti pada akun utang usaha pada PT
Tri Banyan Tirta Tbk, dimana PT Tri Banyan tirta mengakui aset dengan timbulnya utang
usaha.
Modal PT Tri Banyan Tirta bersumber dari modal saham / modal yuridis. Modal
saham menunjuk jumlah perkalian cacah saham beredar dengan nilai nominal per saham.
Jumlah ini menunjukkan jumlah rupiah yang secara yuridis menjadi hak pemegang saham
58

walaupun dalam transaksi pembelian saham, jumlah rupiah yang disetor melebihi jumlah
modal yuridis tersebut. Pada perusahaan ini, modal saham PT Tri Banyan Tirta Tbk dimiliki
oleh PT Fikasa Bintang Cemerlang, Tn. Bhakti Salin dan Tn. Agung Salim. Pada periode ini,
PT Tri Banyan Tirta Tbk mengalami penurunan ekuitas dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Pengungkapan pada laporang keuangan PT Tri Banyan Tirta Tbk pada akhirnya
masih dalam tingkat memadai yaitu tingkat minimum yang harus dipenuhi agar statemen
keuangan secara keseluruhan tidak menyesatkan untuk kepentingan pengambilan keputusan
yang diarah. Hal ini disebabkan oleh kurang terperincinya setiap akun-akun yang ada dalam
pelaporan keuangan PT Tri Banyan Tirta Tbk.

59

BAB V
KESIMPULAN & SARAN

5.1. Kesimpulan
Penerapan teori akuntansi yang berkenaan revenue, expense, gain, loss, asset, dan
liability pada PT Tri Banyan Tirta Tbk telah dilakukas sesuai dengan ketentuan dan
standar yang berlaku. Sehingga pelaporan keuangan PT Tri Banyan Tirta dapat
menjadi contoh konkrit penerapan teori akuntansi dalam aplikasinya terhadap
perusahaan manufaktur khususnya yang bergerak dalam industri pengolahan air
mineral.

5.2. Saran
Saran yang saya berikan adalah dimana PT Tri Banyan Tirta Tbk seharusnya lebih
melakukan pengungkapan secara lebih luas dan lebih rinci sehingga para pemakai
laporan keuangan tidak dirugikan dan para pengambil keputusan dapat menciptakan
keputusan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya yang berhubungan dengan PT Tri
Banyan Tirta Tbk.

60

DAFTAR PUSAKA

Chairiri, Anis dan Imam Ghozali. 2001. Teori Akuntansi Edisi Pertama. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro

Godfrey, J., et.al. 1994. Accounting Theory 7th Edition. Sydney: John Wiley andSons

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2004. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat

Suwardjono. 2010. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Buku Dua, Salemba Empat,
Jakarta, 1994.

Rustam. Pendapatan Menurut Standar Akuntansi Keuangan No. 23. USU Digital Library.
2002. http://library.usu.ac.id/download/fe/akuntansi-rustam2.pdf

Afanami. Teori Pendapatan. 2009. http://www.scribd.com/doc/22904944/Teori-Pendapatan
( Acess : 24 juni 2010 )

Afanami.

Definisi

Pendapatan.

2009.

http://www.scribd.com/doc/11320767/Definisi-

Pendapatan ( Acess: 24 juni 2010 )

iv

Judul: Makalah Teori Akuntansi

Oleh: Marsha Djajasaputra


Ikuti kami