Makalah Akuntansi Syariah

Oleh Indah Rahayu Lestari

22 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Akuntansi Syariah

MAKALAH AKUNTANSI SYARIAH
Islam dan Syariah Islam

DISUSUN OLEH :
INDAH RAHAYU LESTARI
C1C018033
R009 AKUNTANSI

DOSEN PENGAMPU : WIRMIE EKA PUTRA, S.E.,M.Si.

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2021

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur atas limpahan berkat dan Rahmat-Nya dari Tuhan
Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan makalah mengenai Tujuan Pembelajaran Akuntansi
Syariah. Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wirmie Eka Putra, S.E.,M.Si.
selaku pembimbing kami dalam pembelajaran mata kuliah Akuntansi Syariah juga kepada semua
teman-teman yang telah memberikan dukungan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah melengkapi tugas mata kuliah Akuntansi
Syariah serta untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi orang yang
membacanya.Penulis menyadari akibat keterbatasan waktu dan pengalaman penulis, maka
tulisan ini masih banyak kekurangan.Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan penulisan ini.Harapan penulis
semoga tulisan yang penuh kesederhanaan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membaca.

Penulis

Indah Rahayu Lestari
C1C018033

i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................................1
1.4 Manfaat Penulisan...........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Makna Islam dalam.........................................................................................................2
2.2 Dasar-dasar Ajaran Islam................................................................................................4
2.3 Sasaran Hukum Islam.....................................................................................................7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................13

ii

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keistemewaan ajaran Islam daripada ajaran agama lainnya adalah sisi universalitasnya.
Ajaran-ajaran samawi terdahulu, selalu ditujakan kepada kaum tertentu. Sedangkan ajaran
Islam diturunkan untuk seluruh umat, baik manusia ataupun jin (kaffah li al-alamin). Telah
dimaklumi, bahwa perundang-undangan manapun harus selaras dengan kondisi dan
relevansi pihak yang dibebani undang-undang tersebut. Umat Nabi Adam as bisa merasakan
kelonggaran syari’at berupa kebolehan menikahi saudara sendiri, karena pada saat itu
populasi manusia baru dari satu keturunan. Sedangkan umat Nabi Musa as harus merasakan
ketatnya syariat, karena dalam menghadapi Bani Israel yang terkenal keras kepala,
membutuhkan langkah-langkah preventif dengan menerapkan undang-undang yang
sekiranya dapat membuat mereka jera. Sedangkan syari’at Nabi Muhammad saw (Islam)
yang ditujukan untuk seluruh makhluk di dunia ini, baik manusia atau jin, tentunya harus
membentuk undang-undang (syari’at) yang bisa diterima oleh semua kalangan.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Makna Islam dalam islam dan Syariah Islam?
1.2.2 Bagaiamana Dasar-dasar Ajaran Islam dalam islam dan syariah islam ?
1.2.3 Bagaimana Sasaran Hukum Islam dalam islam dan syariah islam?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk Mengetahui bagaimana Makna Islam dalam islam dan Syariah Islam
1.3.2 Untuk Mengetahui bagaiamana Dasar-dasar Ajaran Islam dalam islam dan syariah
islam

1.3.3 Untuk Mengetahui bagaimana Sasaran Hukum Islam dalam islam dan syariah islam
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1

Sebagai media pembelajaran

1.4.2

Sebagai bahan literature

1.4.3

Sebagai Referensi bagi penulis selanjutny

1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MAKNA ISLAM
Dari sisi bahasa kata “Islam” berasal dari kata “aslama, yuslimu, islaman” yang artinya
“tunduk dan patuh”.jadi, seorang yang tunduk dan patuh kepada kepala negara, secara bahasa,
bisa dikatakan “aslama li-rais ad-daulah”. Inilah makna ember atau makna bahasa dari kata
Islam.
Makna “ Islam “itu sendiri, secara emberlogy tidak bisa dikatakan sekedar tunduk patuh
saja titik istilah tersebut telah menjadi istilah khusus dalam khazanah kosakata dasar Islam basic
vocabulary of Islam secara emberlogy, makna Islam digambarkan oleh nabi Muhammad dalam
sabda beliau:
“ Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan
bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah engkau menegakkan shalat menunaikan
zakat melaksanakan shaum Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke baitullah jika engkau
berkemampuan melaksanakannya.”(HR.Muslim)
Oleh karena itu kata Islam, artinya adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad
shallallahu alaihi wasallam nabi terakhir. Agama Islam berbeda dengan agama-agama lain yang
ada saat ini dan diyakini oleh umat Islam sebagai kelanjutan dari agama para nabi sebelum nabi
Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang tidak lahir adalah nabi terakhir. Inti dari ajaran para
nabi adalah “tauhid”, yaitu tindakan mengesankan Allah (tauhidullah) disertai sikap pasrah,
tunduk dan patuh kepada Allah, sebagai syarat mutlak bagi seorang untuk disebut sebagai
seorang mukmin. Tanpa sikap itu, maka ia masih disebut kafir, iblis misalnya meskipun ia
mengakui Allah SWT sebagai satu satunya tuhan, tetapi karena ia membangkang, maka dalam
Alquran iblis disebut sebagai “kafir”. (QS Al-Baqarah:34).
Secara emberlogy, Islam adalah nama dan satu institusi agama, maka tidak bisa dikatakan
bahwa setiap orang yang tunduk kepada Tuhan-apa pun agamanya, dan apa pun Tuhannya- dapat
dikatakan sebagai muslim. Istilah “muslim” atau pemeluk agama Islam, haruslah orang yang
telah bersyahadat secara Islam yaitu, mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan
Muhammad saw, adalah utusan Allah. Jadi, muslim atau pemeluk agama Islam, wajib mengakui
Muhammad sebagai utusan Allah Swt. Jika tidak, maka dalam istilah Islam, ia disebut sebagai

2

“kafir”, yaitu orang yang ingkar kepada kebenaran Islam, karena menolak untuk mengakui
Muhammad saw. Sebagai nabi (utusan Allah).
Menurut Islam, hidup dan kehidupan manusia di dunia adalah bagian kecil dari
perjalanan panjangnya menuju Allah. Kehidupan manusia, setelah diciptakan oleh Allah, dimulai
dari alam roh dan dilanjutkan di alam rahim ibu. Manusia, kemudian lahir dan mulai hidup serta
berkehidupan di alam dunia, sampai dia meninggal. Namun demikian, kematian bukanlah akhir
perjalanan manusia, tetapi awal dari perjalanannya di alam kubur, yang kemudian akan
dilanjutkan di alam akhirat yang kekal abadi menuju Allah. Bahkan menurut hadis riwayat
Muslim, “Dunia adalah ember akhirat” (ad-dunya mazra’atul akhirat), emberlog itu, nasib
seseorang di akhirat nanti sangat bergantung pada apa yang dikerjakannya di dunia. Apabila dia
menginginkan kehidupan yang baik di akhirat maka dia harus menjalani kehidupan di dunia ini
sesuai dengan tuntunan Allah serta selalu berusaha agar hari esoknya (di dunia dan akhirat)
menjadi lebih baik. Jadi tidak mungkin muslim yang baik menjadi penghambat kemajuan
peradaban sebagaimana firman Allah pada (QS. Al-Hasyr: 18).
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah Swt. (QS. As-Sajadah: 9, QS. Al-Isra’:
70, dan QS. Al-Baqarah: 30) karena mempunyai roh dan keistimewaan berupa akal serta diberi
tugas oleh Allah Swt. Untuk menjalankan peran sebagai khalifah/wakil Allah di bumi untuk
mengatur alam dan seisinya, sesuai ketentuan Allah Swt. Ketentuan Allah Swt. Tersebut
merupakan suatu ember hidup yang lengkap dan komprehensif. Islam tidak hanya mengatur
hubungan dan interaksi antara manusia dengan Allah (hablum minallah) yang terlihat melalui
ibadah ritual seperti anggapan banyak orang saat ini, namun juga mengatur hubungan antar-dan
interaksi ember manusia (hablum minannas), serta hubungan dan interaksi antara manusia
dengan makhluk lain termasuk dengan alam dan lingkungan melalui aturan muamalah, dan
dengan dirinya sendiri. Islam tidak memisahkan ekonomi dengan agama, politik dengan agama
atau pun urusan dunia lainnya dengan agama.
Ketundukan, kepatuhan, serta kepasrahan manusia kepada ketentuan Allah Swt., akan
dibalas oleh Allah Swt. Berupa kedamaian, keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan baik
selama masih hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Di samping itu, keselamatan dan
3

kesejahteraan juga akan dirasakan oleh alam sekitar, lora, dan fauna. Sebaliknya, apabila
manusia tidak tunduk, patuh serta pasrah kepada ketentuan Allah Swt., maka keselamatan
manusia dan alam sekitar juga akan terancam.
Jadi, Ialam adalah sebuah pedoman hidup dan berkehidupan yang dikeluarkan langsung
oleh Allah Swt. Sebagai pencipta, pemilik, pemelihara, dan penguasa tunggal alam semesta, agar
manusia tunduk, patuh, dan pasrah kepada ketentuan-Nya untuk meraih derajat kehidupan lebih
tinggi yaitu kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.
2.2 DASAR-DASAR AJARAN ISLAM
Islam sebagai yang baru hidup dan berkehidupan, yang dikeluarkan langsung oleh
pemegang otoritas tunggal, Allah Swt. Mencakup 3 (tiga) aspek, yaitu akidah, syariah, dan
akhlak yang tidak dapat diukur antara satu dengan yang lainnya.
2.2.1 Akidah
Kedudukan akidah dalam ajaran Islam sangat penting, Islam tidak dapat ditegakkan tanpa
akidah. Kata akidah berasal dari bahasa Arab ‘aqad, yang berarti ikatan. Menurut ahli bahasa.
Akidah adalah perjanjian yang teguh dan kuat terpatri dalam hati dan tertanam di dalam lubuk
hati yang paling dalam. Jadi, akidah ini bagaikan ikatan perjanjian yang kokoh dan tertanam
jauh di dalam lubuk hati sanubari manusia.
Oleh karena datang dari sang Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa alam semesta.
Akidah bersifat kekal dan tidak berubah, sejak manusia pertama Nabi Adam sampai akhir
zaman. Selama tidak ada penyimpangan yang dibuat oleh manusia:
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu dalam agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada
Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah kami wasiatkan kepada
Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:

tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah- belah

tentangnya. “QS. Al-Fussilat: 13, atau beberapaayat lain seperti pada QS. Al-Baqarah: 136, dan
QS. Ali ‘Imran: 84)
Perbedaan antara Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Dengan risalah Rasul

sebelum beliau adalah bahwa risalah yang dibawa oleh para Rasul terdahulu bersifat lokal dan
hanya untak kaumnya saja, sedangkan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Sesuai
untuk semaa manusia (rahmatan lil ‘alamiin). Islam bukanlah agama yang diturunkan untuk
orang Arab saja .Akidah dan syariat Islam diatur oleh Allah untuk bisa diterapkan bagi semua
manusia, bukan hanya untuk satu bangsa atau budaya tertentu saja. Contoh : ketika Allah
4

menurunkan ayat yang mengharamkan babi dan riba, maka yang diharamkan adalah seluruh babi
dan berbagi bentuk riba yang di haramkan untuk semua manusia, bukan hanya untuk orang Arab
saja walaupun ayat tersebut diturunkan di Arab.
Iman merupakan dasar dari ajaran Islam, mengingat iman adalah perjanjian dalam hati
sehingga iman setiap muslim tidak dapat dilihat secara kasat mata. Namun iman berfungsi
sebagai fondasi dalam hidup seorang muslim.

Seseorang yang telah mengaku beriman,

selanjutnya mengawasi untuk menjaga keimanannya dan akan terlihat melalui tindakan nyata
melalui kesanggupannya untuk mematuhi ketentuan syariah yang ditetapkan oleh Allah Swt.,
Yaitu dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan Nya.
2.2.2 Syariah
Kosa kata syariah dalam bahasa Arab memiliki arti jalan yang dicapai atau garis yang
seharus

nya dilalui. Dari sisi emberlogy, syariah seri pokok-pokok aturan hukum yang

digariskan oleh Allah Swt. Untuk dipatuhi dan dilalui oleh seorang muslim dalam menjalani
segala aktivitas hidupnya (ibadah) di dunia.

Semua aktivitas kehidupan seperti bekerja,

memasak, makan, belajar, sholat, dan lain sebagainya adalah ibadah sepanjang diniatkan untuk
mencari rida Allah.
Ketentuan syariah menyeluruh dan universal. Komprehensif, berarti mencakup seluruh
aspek kehidupan manusia dengan Allah Swt. Di dalamnya termasuk ibadah mahdhah dan ibadah
muamalah. Ibadah mahdhah pembantuan mengenai hubungan antara manusia dengan Allah Swt.
Seperti salat, puasa, haji, dan lainnya. Sedangkan ibadah muamalah mengatur hubungan antara
ember manusia serta antara manusia dengan makhluk atau ciptaan Allah Swt. Lainnya, termasuk
alam semesta.

Hukum asal ibadah mahdhah adalah bahwa segala sesuatu dilarang untuk

dikerjakan, kecuali dibolehkan dalam Alquran atau dicontohkan Nabi Muhammad saw. Melalui
sunah. Malah, hukum asal ibadah muamalah adalah bahwa segala sesuatu dibolehkan untuk
dicantumkan, kecuali ada larangan dalam Alquran atau sunah.
Universal, dapat diterapkan bagi semua manusia dalam setiap waktu dan keadaan. Sifat
universal tersebut akan terlihat lebih jelas dalam aturan mengenai muamalah, ketika Allah
mengharamkan babi dan riba, maka haram untuk seluruh manusia, sejak dari zaman Nabi
Muhammad saw, sampai dengan akhir zaman.

5

2.2.3 Akhlak
Akhlak sering juga disebut sebagai ihsan (dari kata Arab ‘hasan’, yang berarti baik).
Definisi Ihsan menurut Nabi Muhammad saw .: “Ihsan adalah engkau beri-beri kepada Tuhan
seolah-olah cngkau melihat-Nya sendiri, meskipun engkau tidak melihat-Nya, maka la
melihatmu.” (HR. Muslim) Melalui ihsan, seseorang akan selalu merasa bahwa dirinya dilihat
oleh Allah Swt.

Yang melihat, melihat, dan mendengar sekecil apa pun perbuatan yang

dilakukan seseorang yang dikerjakan di tempat tersembunyi. Bahkan Allah Swt. Semua pikiran
dan lintasan hati makhluknya. Dengan memiliki kesadaran seperti ini, seorang mukmin akan
selalu terdorong untuk berperilaku baik, dan menjauhi perilaku buruk.
Akhlak dalam Islam pembantuan hubungan manusia dengan Allah, rasul, ember manusa
dan alam, serta dirinya sendiri. Tuntunan untuk akhlak kepada Allah dan rasul sebagaiman
dalam (QS. Ali ‘Imran: 31-32).
Tuntunan akhlak kepada ember manusia terdapat dalam (QS. Al-Baqarah: 83) dan (QS. Luqman:
17-19).
“Hai anakku dirikanlah salat dan suruhlah orang yang melakukan yang baik, dan cegahlah dari
perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan.””
”Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia, dan janganlah kamu berjalan di muka
bumi dengan angkuh, sebenarnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.”
Tuntunan akhlak kepada alam terdapat dalam (QS. Al-Baqarah: 30), (QS. Al-Hasyr: 21). Dan
(QS. Yunus: 23).
“Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, malah merugikan mereka kezaliman di bumi tanpa
(alasan) yang benar. Wahai manusia! Sesunguhnya kezalimanmu bahayanya akan menimpa
dirimu sendiri, itu hanya kenikmatan hidup duniawi, selanjutnya kepada Kami-lah kembalimu,
kelak Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu perbuat. “
2.2.4 Hukum Islam
Hukum Islam, secara istilah yang disebut juga hukum syara ‘adalah hukum Allah yang
perbuatan manusia yang mengandung isyarat untuk dikerjakan atau ditinga atau pilihan antara
dikerjakan atau ditanggapi oleh para mukalaf. Hukum syara ‘hanya diambil dari sumber-sumber
hukum Islam, yaitu Alquran, sunah, ijmak, dan qiyas (lihat 3). Hukum atau norma perbuatan
6

yang tidak diambil dari sumber-sumber tadi tidak dsd sebagai hukum syara ‘. Misalnya kaidahkaidah (norma) adat-istiadat, undang-undang a hukum lainnya selain Islam.
Semua firman Allah Swt., Berupa perintah, larangan, janji, ancaman, undang-unda
pengarahan, atau yang lainnya, merupakan bagian dari hukum yang universal. Semua kilisi itu
benar. Manusia dapat membuktikannya antara lain pada pergerakan serta perjalanan semesta
yang berjalan secara tertib, teratur, tidak saling bertentangan dan bertabrakan bukti ketundukan,
memantau, dan kepasrahan alam mengikuti aturan Allah Swt. Schi terjadi keselarasan gerakan
antara bagian-bagian dan seluruh gerakan alam (QS. Al-Furqi :2)
Menurut 4 (empat) imam mazhab Opract fiqih, hukum Islam dikelompokkan menjadi
lima bagian, yaitu: wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Penjelasan mengenai masingmasing hal ini dapat diakses melalui e-learning.
2.3 SASARAN HUKUM ISLAM
Hukum Islam memiliki 3 (tiga) sasaran, yaitu: penyucian jiwa, penegakan keadilan dalam
masyarakat, dan perwujudan kemaslahatan manusia (Zahroh, 1999).
2.3.1 Penyucian Jiwa
Penyucian jiwa agar manusia mampu berperan sebagai sumber-bukan sumber keburukanbagi masyarakat dan lingkungannya. Hal ini dapat dicapai dalam persetujuan manusia dapat
ditentukan dengan cara yang benar dengan hanya mengabdi kepada Tuhan yang benar-benar
merupakan pencipta, pemilik, pemelihara, dan penguasa alam semesta dengan cara yang benar
pula, bukan kepada yang mengaku Tuhan.
Allah SWT. Memerintahkan manusia yang beriman kepada-Nya untuk melaksanakan
salat, zakat, puasa, dan haji, yang dijamin Allah akan ember dampak positif bagi kehidupan
manusia yang dilakukan dengan niat yang benar pula. Contoh: salat wajib 5 (lima) waktu dalam
sehari, bila dilakukan dengan niat dan cara yang benar, akan mencegah manusia melakukan
perbuatan yang mungkar (QS. Al-Ankabut: 45). Dampak positif salat akan semakin besar, jika
dilakukan secara berjamaah di masjid yang dikobarkan oleh Rasulullah saw., Karena akan
menimbulkan rasa kebersamaan dan mempererat tali silaturrahim sehingga dapat menimbulkan
rasa saling membantu, menjaga persaudaraan, saling mencintai, dan saling tolong-menolong.
2.3.2 Menegakkan Keadilan dalam Masyarakat
Keadilan di sini termasuk segala bidang kehidupan manusia keadilan dari sisi hukum, sisi
ekonomi, dan sisi persaksian. Semua manusia akan mewujudkan dan mewujudkan Allah secara
7

sama, tanpa melihat ke latar belakang strata sosial, agama, kekayaan, keturunan, warna kulit, dan
hal-hal, salah satu berita dalam QS. Al-Maidah: 8.
“Dan janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk
tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa.”
“Sesungguhnya Allah (memerintahkan) kamu berlaku adil dan manusia kebajikan, ember
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (QS.
An-Nahl: 90)
Keadilan adalah harapan dan fitrah semua, sehingga Allah melarang manusia Harus
tidak adil Dalam peperangan, Islam mengajarkan manusia untuk tidak boleh tidak boleh keji,
serta harus tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia dan akhlak mulia.
2.3.3 Mewujudkan Kemaslahatan Manusia
Semua ketentuan Alquran dan sunah mempunyai manfaat yanghakiki yaitu mewujudkan
kemaslahatan manusia. Alquran berasal dari Allah yang sangat melihat tabiat dan keinginan
manusia, sementara sunah berasal dari Rasulullah yang mendapat bimbingan langsung dari Allah
Swt. Nilai yang terkandung dalam Alquran berupa perintah, larangan, anjuran, kisah nabi-nabi,
kisah kaum terdahulu, dan sebagainya pasti memiliki manfaat, baik langsung maupun tidak
langsung, bagi umat manusia.
Sebagian manusia ada yang memperdebatkan sebagian ketentuan yang ada dalam
Alquran. Misalnya, terkait dengan hukum poligami di mana seorang laki-laki boleh menikah
dengan lebih dari seorang perempuan, hukum waris, dan wanita. Namun demikian, tata cara
pandang mereka tidak tercampur dengan hal-hal lain, maka akan sangat jelas ada kemaslahatan
dari setiap ketentuan Allah tersebut.
Mewujudkan kemaslahatan manusia di dalam Islam dikenal sebagai magashidus syariah
(tujuan syariah). Dari segi bahasa, maqasid syariah berarti maksud dan tujuan adanya hukum
Islam yaitu untuk kesejahteraan dan kesejahteraan (maslahah) umat manusia di dunia dan di
akhirat. Untuk mencapai tujuan ini ada lima ember pokok yang harus dijaga yaitu agama, jiwa,
akal, dan harta.
a. Menjaga Agama (Al Muhafazhah ‘alad Dien)
Islam mengendalikan kebebasan beragama, memasuki arus dalam (QS. Al-Baqarah:
256). “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam; sebenarnya telah jelas yang benarbenar salah jalan yang salah.”
8

Untuk menjaga agamanya, Allah mewajibkan manusia untuk melaksanakan salat,
zakat, puasa, dan haji. Apabila manusia tidak melakukan peribadatan tersebut maka di mata
Allah ia akan mendapatkan dosa karena tidak menjalankan apa yang diperintahkannya.
Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, ibadah juga dapat menyucikan jiwa
sehingga manusia menjadi sumber, atau rahmat alam semesta.

Ulil amri (pemerintah)

seharusnya mendukung tujuan penyimpanan agama ini, dengan cara menegakkan ketetapan
Allah yang harus dijalankan oleh penganutnya dalam kehidupan, misalnya dalam kasus zakat
seperti yang tertuang dalam hadis berikut ini.
“Ambillah zakat dari orang-orang kaya, dan berikanlah kepada orang-orang fakir.”
(Muadz)
b. Menjaga Jiwa (Al Muhafazhah ‘alan Nafs)
Menjaga jiwa menjaga hak untuk hidup terhormat agar manusia terhindar dari
pembunuhan, penganiayaan baik fisik maupun psikis, fitnah, caci maki, dan perbuatan
lainnya.
Allah melarang membunuh, dan bila dilanggar, maka ada hukum qishash (hukuman
yang setara dengan kejahatan yang dilakukan atas diri manusia), sebagai balasan yang
setimpal dengan perbuatannya. Hukuman yang sangat keras, akan membuat orang yang
bertanggung jawab. Tidak seperti yang banyak kita lihat sekarang, karena ringannya otoritas
bagi si pembunuh, begitu mudah dan banyak nyawa melayang karena urusan-urusan yang
sepele. Penegakan hukum pidana yang diatur Islam, semua ini adalah untuk menjaga /
menghormati martabat manusia di dunia. Akan tetapi, di sisi lain hukum gishash yang keras
ini tidak selalu harus dilakukan, karena dapat meminta dengan memaafkan atau meminta
untuk membayar diyat (tebusan) yang tertuang dalam QS. Al-Baqarah: 178.
“Wahai orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qishash
berkenaan dengan orang yang terbawah. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba
sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Harus barangsiapa meminta
maaf dari saudaranya, mengikutinya dengan baik, dan membayar diyat (tebusan) dengan
baik pula. Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barang siapa
melebihi batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih. “
c. Menjaga Akal (Al Muhafazhah ‘alal Aql)

9

Menjaga akal yang bertujuan agar tidak rusak yang dapat mengakibatkan seseorang
menjadi tak berguna lagi di masyarakat sehingga dapat menjadi sumber keburukan.
Akal merupakan salah satu yang membedakan manusia dengan binatang. Namun
demikian, Alquran juga mengingatkan bahwa manusia dapat menjadi lebih memperhatikan
hewan bila tidak memiliki moral.
Akal membuat manusia mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta
antara yang benar dan yang salah. Bila seseorang akalnya sudah rusak, maka dia akan
melakukan apa saja yang dia suka tanpa peduli bagaimana pengaruhnya pada orang lain dan
lingkungannya. Jika seseorang rusak, maka orang tersebut tidak masuk akal hanya dirinya
sendiri tapi juga dapat membahayakan orang lain dan lingkungannya.
Dengan kata lain, masyarakat ikut serta mengambil risiko berupa potensi kejahatan
dan perbuatan yang buruk. Misalnya, orang yang mengonsumsi narkoba, dia akan “sakaw”
karena rasa ingin yang sangat atas narkoba tersebut. Jika tidak dipenuhi, dia akan sangat
tersiksa sehingga dengan berbagai cara berusaha untuk memperolehnya, tidak peduli apakah
uangnya diperolech dengan cara yang benar atau tidak. Jadilah seorang manusia tersebut
menjadi seonggok tulang dan daging yang tidak berguna.
d. Menjaga Keturunan (Al Muhafazhah ‘alan Nasl)
Menjaga keturunan adalah menjaga kelestarian manusia dan membina sikap mental
menciptakan penerus agar terjalin rasa persahabatan dan persatuan di antara ember umat
manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pernikahan yang sah, sesuai dengan
ketentuan syariah, sehingga dapat terbentukkeluarga yang tenteram dan saling menyayangi.
Seorang anak yang tumbuh di luar pernikahan, akan mengalami perkembangan mental yang
tidak sehat sehingga dirinya tidak berkembang secara utuh.
Oleh karena itu, untuk menjaga keturunan, menetapkan larangan yang melarang orang
yang melakukan perbuatan zina. Hukuman itu harus dilakukan di hadapan banyak orang.
Sebagian orang yang bertindak hukum Islam sadis, karena tidak tahu kemaslahatan yang jauh
lebih besar yaitu menyelamatkan menciptakan masa yang akan datang. “Dihukum di hadapan
orang banyak”, adalah memalukan dan ini akan ember efek jera sehingga membuat orang
berpikir berjuta kali sebelum dia memperkosa atau berkembang biak zina. Bagi yang sudah
berzina dan dibebaskan sesuai ketentuan Allah, insyaAllah Allah mengampuni dosanya.
Walaupun menunjukkan atas zina keras, namun Allah memberikan solusi pernikahan, di mana
10

syarat dan rukun pernikahan dalam Islam tidak memberatkan bagi muslim yang akan
melaksanakannya, mengarahkannya dalam QS. An-Nur: 2.
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang
dari rekomendasi seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada mencegah kamu
untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan
berpraktiklah (pelaksanaan) mereka dilihat oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. “
e. Menjaga Harta (Al Muhafazhah ‘alal Mal)
Menjaga harta, bertujuan agar harta yang dimiliki oleh manusia diperoleh dan
digunakan sesuai dengan syariah.

Aturan syariah pembongkaran dan pengeluaran harta.

Dalam memperoleh hartaharus bebas dari riba, judi, menipu, merampok, dan tindakan lainnya
yang dapat merugikan orang lain, salah satu teman dalam QS. An-Nisa: 29.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling berbagi harta sesamamu
dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perni yang sesuai dengan suka sama suka di
antara dirimu dan janganlah membunuh. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu” .
Oleh karena itu, ada hukum potong tangan bagi si pencuri. Hukuman ini terlihat
sangat sadis, karena akan menimbulkan bekas berupa tangan yang terpotong. With the best
people this person will know that she is the mantan pencuri, sekaligus akan mencegah orang
lain untuk mengukur. Namun, hukum yang keras ini tidak akan dikenakan kepada mereka
yang menyatakan karena lapar.

Mereka yang lapar dijamin oleh pemerintah dan baitul

melalui pengelolaan zakat / infak / sedekah dari harta para orang kaya. Sedangkan untuk
penggunaan harta juga harus sesuai dengan tuntunan syariah, seperti kewajiban membayar
zakat sesuai ketentuan, tidak boros dan tidak kikir.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Islam tidak hanya diartikan sebagal ritual ibadah semata, tetapi juga merupakan
ketundukan dan ditentukan seorang hambs kepada Allah Swt, secara menyeluruh untuk
menggapai tangga / derajat (ullam) yang lebihi ing) berupa kedamalan Giliim) dan kesejahteraan,
kelahagiaan, dan keselamatan (salaama),

Islam juga membekali pengikutnya aturan dan

pegangan lengkap dalam menjalankan ibadah sekaligus kehidupan di dunia ini. Ialam mencakup
3 aspek, yaitu: akidah, oyariah, dan akhlak, yang merupakan suatu kesstuan yang tidak
terpisahkan.
Umat yang beriman harus menjalankan syariah sebagai bukti keimanannyn. Salah satu
bagian dari syariah is a help how do kegatan ekonomi, termasuk di dalamnya kewajiban
melakukan transakai ekonomi secara eyariah. Seluruh aturan syariah tersebut dapat disarikan
menjadi 5 (lima) hukum Idam. vaitu wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Hukum Ialam
memiliki tujuan untuk dapat menyucikan jiws, menegakkan keadilan serta memperoleh
kemaslahatan dengan menjaga apama, jiwa, akal, keturunan, dan harta agar selamat dunia dan
akhirat

12

DAFTAR PUSTAKA
Edisi Nurhayati Sri, Wasilah.2019. Akuntansi Syariah di Indonesia 5.Jakarta: Salemba Empat

13

Judul: Makalah Akuntansi Syariah

Oleh: Indah Rahayu Lestari


Ikuti kami