Akuntansi Sap 7

Oleh Ria Wahyuni

19 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Sap 7

A. BIAYA BAHAN BAKU
1. PENGERTIAN BIAYA BAHAN BAKU
Dalam perusahaan manufaktur, bahan (material) dibedakan menjadi bahan baku dan
bahan penolong. Bahan baku (direct material) merupakan bahan yang membentuk bagian
menyeluruh dari produk jadi. Bahan baku ini dapat diidentifikasikan dengan produk atau
pesanan tertentu dengan nilainya yang relatif besar. Misalnya dalam perusahaan mebel, bahan
baku adalah kayu atau rotan. Biaya yang timbul akibat pemakaian bahan baku disebut biaya
bahan baku.
Sedangkan, bahan penolong (indirect material) merupakan bahan yang dipakai dalam
proses produksi yang tidak dapat diidentifikasikan dengan produk jadi dan nilainya relatif
kecil. Misalnya dalam perusahaan mebel, bahan penolong adalah minyak pelitur. Biaya yang
ditimbulkan karena pemakaian bahan penolong disebut biaya bahan penolong. Biaya bahan
penolong merupakan bagian dari unsur biaya overhead pabrik (biaya produksi tidak
langsung).

2. PEROLEHAN DAN PENGGUNAAN BAHAN BAKU
Meskipun proses produksi dan kebutuhan bahan baku bervariasi sesuai dengan ukuran
dan jenis kegiatan atau operasi normal dari perusahaan, pembelian dan penggunaan bahan
baku umumnya meliputi langkah-langkah berikut :
a. Bagian produksi menentukan rute (routing) untuk setiap produk atau variasi produk, yang
merupakan urutan operasi yang akan dilakukan, dan sekaligus menenntukan daftar bahan
baku yang diperlukan (bill of material), yang merupakan daftar kebutuhan bahan baku untuk
setiap langkah dalam urutan operasi tersebut.
b. Anggaran produksi (production budget) menyediakan rencana utama darimana rincian
mengenai kebutuhan bahan baku dikembangkan.
c. Surat permintaan pembelian (purchase requisition) menginformasikan agen pembelian
mengenai jumlah dan jenis bahan baku yang dibutuhkan.
d. Surat pesanan pembelian (purchase order) merupakan kontrak atas jumlah yang harus
dikirimkan.
e. Laporan penerimaan barang (receiving report) mengesahkan jumlah yang diterima dan
mungkin juga melaporkan hasil pemeriksaan dan pengujian mutu.
f. Bukti permintaan bahan (material requisition form) memberikan wewenang bagi gudang
untuk mengirimkan jenis dan jumlah tertentu dari bahan baku ke departemen tertentu pada
waktu tertentu.
g. Kartu catatan bahan baku (material record cards) mencatat setiap penerimaan dan
pengeluaran setiap jenis bahan baku dan berguna sebagai catatan persediaan perpetual.

1

3. PEMBELIAN BAHAN BAKU
Umumnya perusahaan atau organisasi besar memiliki departemen pembelian yang
berfungsi melakukan pembelian bahan baku yang diperlukan untuk produksi. Manajemen
bagian pembelian bertanggung jawab atas kualitas bahan baku yang dibeli yaitu telah sesuai
dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan dengan harga yang murah dan diterima tepat
waktu. Ada tiga dokumen yang digunakan dalam pembelian bahan baku yaitu :
1. Surat permintaan pembelian (purchase requisition) yaitu permintaan tertulis kepada bagian
pembelian untuk membeli bahan yang diperlukan.
2. Surat pesanan pembelian (purchase order) yaitu permintaan tertulis kepada pemasok untuk
mengirimkan bahan yang dipesan pada tanggal tertentu.
3. Laporan penerimaan barang (receiving report) yaitu laporan tertulis yang dibuat pada saat
bahan diterima.
Surat permintaan pembelian dilakukan oleh bagian gudang kepada bagian pembelian
apabila persediaan bahan baku yang ada di gudang sudah mencapai jumlah pada tingkat
minimum pemesanan kembali (reorder point). Titik pemesanan ulang (reorder point)
merupakan tingkat kuantitas persediaan yang ada yang memicu sebuah pemesanan pembelian
baru atau dengan kata lain titik dalam produksi dimana jumlah bahan baku yang tersedia
sama dengan kebutuhan yang diperkirakan. Rumus Reorder Point (ROP) :
-

-

Jika tanpa safety stock (SS) / persediaan pengaman / persediaan penyanggah /
persediaan minimum yang diinginkan :
ROP = LTQ
ROP = AU x LT
Jika dengan adanya safety stock :
ROP

= LTQ + SSQ

ROP

= (AU x LT) + SSQ

Keterangan :
AU
= Average used (pemakaian normal bahan baku)
LT
= Lead time
LTQ = Lead time quantity
SSQ = Safety stock quantity
Persediaan pengaman adalah persediaan yang disimpan setiap saat, terlepas dari
kualitas persediaan yang dipesan dengan menggunakan model Economic Order Quantity.
Jika jumlah persediaan pengaman lebih besar daripada yang dibutuhkan, maka biaya
penyimpanan aakn menjadi lebih tinggi. Jika jumlah persediaan pengaman terlalu kecil, maka
kehabisan persediaan akan seringkali terjadi dan mengakibatkan ketidaknyamanan,
gangguan, dan tambahan biaya. Tingkat persediaan pengaman yang optimal adalah kuantitas
persediaan yang meminimasi jumlah biaya kehabisan persediaan tahunan dan biaya
penyimpanan yang relevan. Persediaan pengaman digunakan sebagai perlindungan
menghadapi peningkatan permintaan yang tidak terduga, tidak tersedianya persediaan dari
pemasok dan ketidakpastian lead time.
2

Lead time adalah tenggang waktu antara pemesanan bahan baku dan tersedianya
bahan di pabrik yang siap digunakan dalam produksi. Bila lead time lebih cepat dari yang
diperkirakan, maka biaya penyimpanan akan bertambah. Bila lead time lebih lambat dari ang
diperkirakan, maka perusahaan akan kekurangan persediaan. Jika lead time mengantisipasi
delay, maka dinyatakan dalam rentang waktu misalkan lead time normal 4 minggu
mendapatkan delay 5 minggu, sehingga lead time 4 sampai dengan 9 minggu.
Lead time quantity

= Normal usage for normal lead time

Safety sock quantity

= (Normal usage for ‘x’ weeks delay) + Usage variation

Usage variation
maximum

= (Pemakaian maksimum – Pemakaian minimum) x Lead time

CONTOH :
1. Pemakaian bahan per minggu 175 unit (tidak ada variasi pemakaian karena tidak
ada data pemakaian maksimum dan pemakaian minimum).
2. Lead time normal 4 minggu namun dapat delay sampai 9 minggu.
3. Saldo persediaan bahan di gudang saat ini 2.800 unit (tidak ada pemakaian selama
perhitungan).
4. Economic Order Quantity 2.090 unit.
Diminta :
a. Hitunglah reorder point dalam unit dan dalam waktu!
b. Hitunglah persediaan maksimum sesaat setelah pesanan EOQ datang tepat waktu!
Jawab :
a. ROP

= LTQ + SSQ
= (175 unit x 4 minggu) + (175 unit x 5 minggu)
= 1.575 unit  ini berarti saat persediaan di gudang tinggal 1.575 unit,
perusahaan harus melakukan pemesanan kembali

Jika persediaan saat ini 2.080 unit dan reorder point sebanyak 1.575 unit, maka masih
ada selisih 1.225 unit dapat digunakan untuk (1.225 : 175 unit) = 7 minggu lagi, ini
berarti reorder point dalam waktu menjadi 7 minggu kemudian baru dipesan kembali.
b. Persediaan maksimum sesaat setelah pesanan EOQ datang tepat waktu
= SSQ + EOQ
= (175 unit x 5 minggu) + 2.090 unit
= 2.965 unit
Perlu diingat bahwa dalam banyak bisnis seringkali pemakaian normal sulit ditentukan
karena pemakaian bahan sangat tergantung pada skedul produksi dan strategi pemasaran
perusahaan.

3

4. HARGA POKOK BAHAN BAKU YANG DIBELI
Berdasarkan standar akuntansi, harga pokok barang yang dibeli meliputi harga faktur
ditambah biaya lainnya yang terjadi di dalam rangka memperoleh bahan sampai dengan
bahan siap dipakai untuk kegiatan produksi, misalnya harga faktur ditambah biaya angkut
pembelian. Dalam praktiknya sering terjadi variasi untuk mengimplementasikan penentuan
harga pokok bahan baku yang dibeli, misalnya perlakuan biaya angkut pembelian bahan baku
unuk berbagai jenis bahan yang dibeli dalam satu paket pembelian. Hal ini dapat
menimbulkan masalah pengalokasian biaya angkut pembelian tersebut untuk masing-masing
jenis bahan baku yang diangkut. Biaya angkut ini dapat diperlakukan sebagai :
1. Elemen biaya overhead pabrik
Perlakuan ini lebih praktis karena dapat mengurangi kesulitan pengalokasian sehingga
kesulitan dalam perhitungan harga perolehan bahan bakupun dapat diminimalisasi,
namun demikian perlakuan ini tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan.
2. Elemen harga pokok perolehan bahan baku (material)
Perlakuan ini memerlukan dasar alokasi biaya angkutan bahan baku. Misalnya
perbandingan harga faktur yang dibeli atau perbandingan kuantitas fisik bahan.
5. PENCATATAN HARGA POKOK BAHAN BAKU
Dalam akuntansi ada dua sistem pencatatan bahan baku yaitu sistem pencatatn fisik
(physical) dan sistem pencatatn perpetual. Jika arus bahan baku relatif kecil masih dapat
menggunakan sistem pencatatan fisik karena jumlah barang relatif tidak banyak dan mutasi
persediaan juga tidak tinggi sehingga pemimpin perusahaan masih mampu melakukan
pengendalian persediaan. Dalam perusahaan dengan arus bahan baku yang relatif tinggi
sistem pencatatan perpetual lebih banyak digunakan dengan tujuan untuk mempermudah
pengendalian persediaan. Pemimpin perusahaan dapat setiap saat melihat jumlah barang yang
ada di gudang lewat catatan pembukuan. Dalam sistem pencatatan fisik semua pembelian
dicatat dalam rekening pembelian sedangkan dalam sistem pencatatan perpetual semua
pembelian dicatat dalam rekening persediaan. Sistem pencatatan perpetual lebih baik untuk
pengendalian karena setiap saat persediaan dapat dibandingkan antara fisiknya dengan
pencatatan buku besarnya, apabila ada perbedaan dapat segera dievaluasi penyebabnya.

6. PENCATATAN BAHAN BAKU
Pemakaian bahan baku dalam perusahaan manufaktur melibatkan bagian produksi,
bagian gudang dan bagian akuntansi. Dalam rangka melakukan pengendalian bahan baku,
perusahaan menetapkan prosedur permintaan dan pengeluaran bahan baku dimana bagian
produksi mengisi bukti permintaan bahan yang selanjutnya diserahkan ke bagian gudang.
Bukti permintaan bahan ini akan digunakan sebagai dokumen pembukuan atas transaksi
pemakaian bahan. Pemakaian bahan baku ini selanjutnya dicatat oleh bagian gudang ke
dalam kartu gudang. Bagian akuntansi akan melakukan pembukuan berdasarkan bukti
permintaan bahan ke dalam kartu persediaan dan ke dalam buku jurnal.
4

1. Perhitungan Pemakaian Bahan Baku
Dalam perhitungan pemakaian bahan baku at cost, ada berbagai metode penilaian
harga pokok bahan yang dipakai. Metode-metode tersebut yaitu :
(1) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out = FIFO)
(2) Metode Rata-rata (Average)
Di tingkat internasional, menurut IFRS, metode penilaian persediaan Masuk Terakhir Keluar
Pertama (Lat In First Out = LIFO) tidak digunakan walaupun di Amerika masih dapat
digunakan.
(1) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out = FIFO)
Metode ini beranggapan bahwa bahan yang dibeli (masuk) lebih awal dipakai (keluar)
lebih awal pula. Metode ini lebih menekankan pada arus biayanya dan bukan pada
arus bahan secara fisik. Penekanan ini berarti bahwa secara fisik dapat terjadi bahan
yang dibeli lebih awal tidak dipakai lebih awal, tetapi dalam penentuan harga
pokoknya bahan yang dipakai berpedoman pada bahan yang masuk pertama keluar
pertama.
(2) Metode Rata-rata (Average)
Dalam sistem pencatatan periodik, metode rata-rata yang digunakan disebut dengan
metode rata-rata tertimbang. Dalam sistem pencatatan perpetual, metode rata-rata
yang digunakan disebut dengan metode rata-rata bergerak (moving average). Dalam
metode ini, harga pokok per satuan bahan yang ada dalam persediaan di gudang
ditentukan dengan membagi jumlah harga pokok semua bahan yang dibeli dengan
jumlah kuantitasnya. Dalam metode moving average harga pokok persediaan bahan
yang ada di gudang hanya ada satu harga pokok yang dihitung rata-ratanya setiap saat
dilakukan pembelian, yang dapat berubah jika ada :
- Perubahan harga beli saat pembelian
- Ada diskon pembelian, dan atau
- Terdapat ongkos angkut yang dibebankan ke persediaan
Disamping metode penilaian persediaan at cost yang dipaparkan di atas, terdapat metode
penilaian persediaan at estimate jika dalam kondisi khusus dimana sebagian data hilang.
Menurut IFRS penilaian persediaan yang disajikan di statement of financial position harus
menggunakan Lower of Cost Net Realizable Value (LCNRV), dimana cost-nya dapat
menggunakan FIFO atau Average sedangkan NRV dihitung dari harga jual dikurangi dengan
biaya pelepasannya.
7. PERLUNYA PENGELOLAAN BAHAN BAKU
Pengelolaan bahan baku atau manajemen bahan baku adalah merencanakan,
mengorganisasikan dan mengontrol aktivitas-aktivitas yang difokuskan pada arus bahan ke
dalam, melalui dan dari organisasi. Pengelolaan bahan baku atau manajemen bahan baku
memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah sebagai berikut :
(1) Memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggan
(2) Berproduksi dengan efisien semaksimal mungkin
5

(3) Mengatur jumlah persediaan untuk mengendalikan dana yang tertanam dalam
persediaan dan lain-lain
Perencanaan bahan dipengaruhi oleh sifat kegiatan produksi, apakah produksinya
berdasarkan pesanan atau produksinya berdasarkan produksi massal. Tujuan dari perencanaan
bahan baku adalah untuk menekan (meminimumkan) biaya dan memaksimumkan laba dalam
waktu tertentu dengan dana tertentu.
Jika persediaan bahan < bahan yang dibutuhkan  proses produksi terhambat.
Jika persediaan bahan > bahan yang dibutuhkan  biaya penyimpanan meningkat.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan pengendalian
bahan yaitu :
(1) Tentukan jumlah kebutuhan bahan dalam satu periode. Beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan dalam penentuan jumlah kebutuhan bahan, antara lain jumlah
produksi yang akan dihasilkan dan jumlah bahan yang dibutuhkan untuk satu buah
produk.
Contoh : Pada tahun 2015, PT MUMU merencanakan untuk berproduksi sebanyak
120.500 unit produksi, dimana untuk setiap produk memerlukan 2 kg bahan baku.
Kebutuhan bahan selama setahun adalah 241.000 kg yaitu 120.500 dikali 2 kg.
(2) Jumlah bahan yang dibeli per pembelian
(3) Kapan bahan harus dibeli
(4) Persediaan minimum yang harus ada di gudang
8. KUANTITAS PEMESANAN YANG EKONOMIS (ECONOMIC ORDER
QUANTITY)
Economic Order Quantity (EOQ) merupakan jumlah persediaan yang harus dipesan
(dibeli) pada suatu saat dengan tujuan untuk mengurangi biaya persediaan tahunan. Jika suatu
perusahaan membeli bahan baku tidka terlalu sering dan dalam jumlah yang besar, biaya
penyimapapanan persediaan menjadi tinggi karena investasi yang cukup besar dalam
persediaan. Jika pembelian dilakukan dalam jumlah yang kecil dan dengan pesanan yang
cukup sering maka akibatnya biaya pemesanan yang tinggi dapat terjadi. Oleh karena itu
jumlah optimum dari pesanan pada suatu waktu tertentu ditentukan dengan cara
menyeimbangkan dua faktor yaitu biaya penyimpanan (pemilikan) bahan baku dan biaya
pemesanan (perolehan) bahan baku. Pada saat EOQ, biaya pemesanan selama setahun akan
sama dengan biaya penyimpanan selama setahun. Beberapa elemen yang mempengaruhi
EOQ adalah sebagai berikut :
(1) Harga beli dan ongkos angkut
(2) Biaya pemesanan (ordering cost), merupakan biaya yang terjadi dalam rangka
melaksanakan kegiatan pemesanan bahan. Biaya pemesanan termasuk biaya membuat
bukti permintaan pembelian, pesanan pembelian, laporan penerimaan, menangani
6

kiriman, komunikasi dengan pemasok serta akuntansi atas pengantaran dan
pembayaran
(3) Biaya penyimpanan (carrying cost), merupakan biaya yang terjadi dalam rangka
melaksanakan kegiatan penyimpanan bahan, antara lain : biaya sewa gudang, biaya
asuransi bahan, biaya administrasi gudang serta biaya atas rusak dan usangnya bahan
(4) Kebutuhan bahan baku selama setahun
Rumus EOQ :

EOQ =
Keterangan :
RU : Required unit (kebutuhan bahan baku setahun)
CO : Cost per order (biaya pemesanan per pesanan)
CU : Cost per unit (harga beli bahan baku per unit)
CC : Carrying cost (biaya penyimpanan dan umumnya dinyatakan dalam persentas)
Frekuensi pemesanan pembelian dalam satu tahun = RU/EOQ
Biaya pemesanan setahun

= CO × RU/EOQ

Biaya penyimpanan/pemilikan setahun

= {(EOQ/2) + SSQ} × CU × CC

Persediaan rata-rata

= (EOQ/2) + SSQ

Persediaan maksimum normal

= EOQ + SSQ normal (tanpa variasi
pemakaian)

Persediaan maksimum absolut

= EOQ + SSQ (termasuk variasi
pemakaian)

Lead time quantity

= Pemakaian normal × Lead time
normal

Safety stock quantity

= (Pemakaian normal × Jangka waktu
delay) + Variasi pemakaian

Usage variation

= (Pemakaian maksimum – Pemakaian
minimum) × Lead time maximum

Reorder point

= LTQ + SSQ

Contoh perhitungan EOQ :
Selama tahun 2015 PT MUMU menganggarkan penjualan sebanyak 8.500 unit. Persediaan
barang jadi awal tahun sebesar 1.000 unit dan persediaan barang jadi akhir tahun sebesar 500
unit. Unit produksi jadi membutuhkan 3 unit bahan baku. Harag beli bahan baku per unit
7

adalah 10.000. Biaya pemesanan per pesanan Rp. 750.000. Biaya penyimpanan sebesar 10%
dari persediaan rata-rata per unit. Berapakah EOQ-nya?
Jawab :
Unit penjualan

8.500 unit

Persediaan barang jadi akhir

500 unit
9.000 unit

Persediaan barang jadi awal

(1.000)unit

Unit produksi

8.000 unit

Kebutuhan bahan adalah 24.000 unit (3 unit bahan baku × 8.000 unit produksi

EOQ=

=6.000 unit

Pembelian yang paling ekonomis : 24.000 unit / 6.000 unit = 4 kali
Berikut ini disajikan tabel perbandingan total biaya yang dikeluarkan untuk jumlah
unit pesanan tertentu :
Tabel 4.1.

Perbandingan total biaya yang dikeluarkan untuk jumlah unit pesanan
tertentu (dalam ribuan Rupiah)

Unit

1.000

3.000

4.000

6.000

8.000

12.000

24.000

Pesanan

24x

8x

6x

4x

3x

2x

1x

Persediaan

10.000

30.000

40.000

60.000

80.000

120.000

240.000

Persediaan
rata-rata

5.000

15.000

20.000

30.000

40.000

60.000

120.000

Ordering cost

18.000

6.000

4.500

3.000

2.250

1.500

750

(750 × 4)
Carrying cost

500

1.500

2.000

3.000

4.000

6.000

12.000

Total cost

18.500

7.500

6.500

6.000

6.250

7.500

12.750

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pemesanan dalam jumlah 6.000 unit
(sesuai dengan hasil perhitungan EOQ dalam contoh di atas) dengan 4 kali frekuensi
pemesanan, mengeluarkan total biaya yang paling minimum.
Jika jumlah pesanan besar maka harga pembelian dapat didiskonkan. Pengiriman
dalam jumlah besar juga dapat mengehmat beban angkut. Perubahan-perubahan ini
8

mengahsilkan biaya per unit yang lebih rendah, dan dengan demikian dapat mengubah
perhitungan EOQ. Pembelian dalam jumlah besar juga mengubah frekuensi pemesanan dan
dengan demikian mengubah total biaya pemesanan serta melibatkan investasi yang lebih
besar dalam persediaan, yang semuanya mempengaruhi perhitungan EOQ.

B. BIAYA TENAGA KERJA
1. PENGERIAN DAN PENGGOLONGAN BIAYA TENAGA KERJA
Biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan sebagai akibat pemanfaatan tenaga
kerja dalam melakukan produksi. Dalam perusahaan manufaktur, penggolongan kegiatan
kerja dapat dikelompokkan menjadi empat golongan yaitu :
1. Penggolongan menurut fungsi pokok organisasi
Dalam perusahaan manufaktur ada tiga fungsi pokok yaitu produksi, pemasaran, dan
administrasi. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolonngkan menjadi biaya tenagakerja
produksi, biaya tenaga kerja pemasaran, dan biaya tenaga kerja administrasi.
2. Penggolongan menurut kegiatan departemen
Misalnya, deparrtemen produksi atau perusahaan terdiri dari tiga departemen yaitu
departemen pulp, departemen kertas, dan departemen penyempurnaan. Biaya tenaga kerja
departemen produksi digolongkan sesuai dengan bagian-bagian tersebut.
3. Penggolongan menurut jenis pekerjaannya
Misalnya, dalam departemen produksi digolongkan sebagai berikut: operator, mandor, dan
penyelia, maka biaya tenaga kerja juga digolongkan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan
tersebut.
4. Penggolongan menurut hubungannya dengan produk
Tenaga kerja dapat digolongkan menjadi tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Biaya
tenaga kerja langsung merupakan unsur biaya produksi sedangkan biaya tenaga kerja tidak
langsung merupakan unsur biaya overhead pabrik.
2. AKUNTANSI BIAYA TENAGA KERJA
Biaya tenaga kerja dapat dikelompokkan menjadi biaya tenaga kerja untuk fungsi
produksi, biaya tenaga kerja untuk fungsi pemasaran, dan biaya tenaga kerja untuk fungsi
administrasi. Biaya tenaga kerja dalam hubungannya dengan produksi dibedakan menjadi
biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Biaya tenaga kerja
langsung yaitu semua balas jasa yang diberikan kepada semua pegawai produksi yang
biayanya secara langsung ditelusuri jejaknya ke masing-masing unit produksi, misalnya gaji
buruh pabrik rokok di bagian pelintingan. Biaya tenaga kerja tidak langsung yaitu semua
balas jasa yang diberikan kepada semua pegawai bagian produksi yang biayanya tidak dapat
ditelusuri jejaknya ke masing-masing unit produksi, misalnya upah mandor pabrik dan gaji
manajer pabrik.
Biaya tenaga kerja dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok yaitu gaji dan upah reguler,
premi lembur dan biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja.
Tiga kegiatan yang termasuk kedalam akutansi biaya tenaga kerja yaitu :
9

1. Pencatatan waktu kerja
Pencatatan waktu kerja merupakan pengumpulan data mengenai jumlah jam kerja karyawan.
Dokumen yang digunakan dalam pencatatan waktu kerja yaitu kartu hadir yang digunakan
untuk mencatat jumlah jam kerja karyawan dalam satu hari dan kartu jam kerja dibuat setiap
hari untuk setiap karyawan menurut pekerjaan yang dilaksanakan.
2. Perhitungan jumlah gaji dan upah
Perhitungan gaji dan upah merupakan tugas dari departemen personalia.
3. Alokasi biaya tenaga kerja
Alokasi biaya tenaga kerja dibukukan atas dasar kartu hadir dan kartu jam kerja yang
merupakan dokumen sumber untuk mengalokasikan biaya tenaga kerja kepada setiap
pesanan, departemen atau produk.
3. PENCATATAN JURNAL UNTUK BIAYA TENAGA KERJA
a. Mencatat kewajiban penggajian
Menghitung total beban gaji yang masih harus dibayar merupakan akumulasi dari
biaya gaji tenaga kerja langsung, biaya gaji tenaga kerja tidak langsung, biaya gaji
untuk bagian umum dan administrasi serta biaya gaji untuk bagian penjualan dan
pemasaran. Biaya-biaya tersebut dicatat dengan mendebet perkiraan ‘payroll’ (beban
gaji) dan mengkredit perkiraan ‘accrued payroll’ (gaji yang masih harus dibayar).
Jika terdapat pajak penghasilan (pph) terutang, maka dictat dengan mengkredit
perkiraan ‘tax payable’ (hutang pajak penghasilan). Jurnalnya:
Dr. Payroll
xx
Cr. Accrued payroll
xx
Cr. Tax paayable
xx
Pembayaran gaji dicatat dengan mendebet perkiraan ‘accrued payroll’ dan
mengkredit perkiraan ‘cash’, jurnalnya :
Dr. Accrued payroll
xx
Cr. Cash
xx
Dr. Accrued payroll
xx
Cr. Cash
xx
b. Mencatat pendistribusian beban gaji
Beban gaji untuk tenaga kerja langsung didebet ke perkiraan ‘work in process’.
Beban gaji untuk tenaga kerja tidak langsung di debet ke perkiraan ‘factory
overhead-control’. Beban gaji untuk bagian umum dan administrasi didebet ke
perkiraan ‘general and administration expense’. Beban gaji untuk bagian penjualan
dan pemasaran didebet ke perkiraan ‘selling and marketing expense’ dan perkiraan
untuk bagian kredit adalah ‘payroll’. Jurnalnya:
Dr. Work in process
xx
Dr. Factory overhead-control
xx
Dr. Selling and maarketing expense
xx
Dr. General and administration expense
xx
Cr. Payroll
xx
10

Contoh soal :
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan per tanggal 25 mei 2015, diketahui
total beban gaji yang harus dibayar pada tanggal 1 juni 2015 sebesar Rp 9.000.000
dengan tarif pph 21 sebesar 5%. Perincian gaji adalah sebagai berikut:
Untuk tenaga kerja langsung
Rp 5.000.000
Untuk tenaga kerja tidak langsung
Rp 1.000.000
Untuk bagian penjualan dan pemasaran
Rp 2.000.000
Untuk bagian umum dan administrasi
Rp 1.000.000
Jurnal yang harus dibuat adalah :
Dr. Payroll
9.000.000
Cr. Accrued payroll
8.550.000
Cr. Tax payable
450.000
Dr. Accrued payroll
Cr. Cash

8.550.000
8.550.000

Dr. Work in process
Dr. Factory overhead-control
Dr. Selling and marketing expense
Dr. General and administration expense
Cr. Payroll

5.000.000
1.000.000
2.000.000
1.000.000
9.000.000

11

Simpulan
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh pruduk jadi.
Bahan baku yang diolah perusahaan manufaktur dapat diproleh dari pembelian local, impor,
atau dari pengelolaan sendiri. Di dalam memperoleh bahan baku, perusahaan tidak hanya
mengeluarkan biaya sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan biayabiaya pembelian, pergudangan, dan biaya-biaya perolehan lain.
Biaya bahan baku merupakan komponen biaya yang terbesar dalam pembuatan
produk jadi. Dalam perusahaan manufaktur, bahan baku diolah menjadi produk jadi dengan
mengeluarkan biaya konversi. Bahan yang digunakan untuk produksi diklasifikasikan
menjadi bahan baku (bahan langsung) dan bahan pembantu (bahan tidak langsung). Bahan
langsung yaitu bahan yang digunakan untuk produksi yang dapat diidentifikasikan ke produk.
Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya utama (prime cost) yang
dibebankan kepada persediaan produk dalam proses. Bahan tidak langsung meliputi semua
bahan yang bukan merupakan bahan baku. Biaya bahan tidak langsung dibebankan pada
biaya overhead pabrik saat bahan tersebut digunakan untuk produksi.
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk
mengolah produk. Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan
tenaga kerja manusia tersebut. Dapat juga diartikan semua balas jasa yang diberikan oleh
perusahaan kepada semua karyawan , elemen biaya tenaga kerja yang merupakan biaya
produksi adalah biaya tenaga kerja untuk karyawan di pabrik.

12

Judul: Akuntansi Sap 7

Oleh: Ria Wahyuni


Ikuti kami