Akuntansi Keuangan Lanjutan

Oleh Arif Hidayat

17 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Keuangan Lanjutan

Kelompok 6

:

PENJUALAN
ANGSURAN

Muhammad Arif H
Gustavani Ardilia
Muryafiru
Novia Nur A
Denia Larasati

15.0102.0021
15.0102.0022
15.0102.0028
15.0102.0043
15.0102.0051

Penjualan Angsuran
• Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan janjian dimana
pembayarannya dilaksanakan secara bertahap, yaitu:

Pada saat barang-barang diserahkan
kepada pembeli, penjual menerima
pembayaran pertama sebagian dari
harga penjualan.

Sisanya dibayar
dengan beberapa kali
angsuran.

Untuk melindungi kepentingan penjual dari kemungkinan tidak
ditepatinya kewajiban-kewajiban oleh pihak pembeli, maka terdapat
beberapa bentuk perjanjian penjualan angsuran sebagai berikut:

Perjanjian penjualan bersyarat
Menggadaikan atau menghipotikkan
Diserahkan pada suatu badan
Beli sewa

Untuk mengurangi atau menghindari kemungkinan kerugian yang
terjadi dalam pemilikan kembali, maka faktor-faktor yang harus
diperhatikan oleh penjual adalah sebagai berikut:

Pembayaran pertama
menutup penurunan
harga barang baru
menjadi barang bekas.

Jangka waktu
pembayaran tidak terlalu
lama, max 1 bulan.

Pembayaran angsuran
periodik harus cukup
menutup penurunan nilai
barang selama jangka
pembayaran antar
angsuran.

Pengakuan Laba Kotor dalam Penjualan
Angsuran
• Pada umunya pengakuan laba kotor dalam transaksi penjualan angsuran ada 2
tahap yaitu:

1. Laba kotor diakui
untuk periode
dimana penjualan
dilakukan.

2. Laba kotor dapat
dihubungkan dengan
periode dimana
realisasi pembayaran
telah terjadi sesuai
dengan perjanjian.

Laba kotor diakui untuk periode terjadinya
transaksi penjualan
• Pada transaksi ini penjualan angsuran diperlakukan seperti halnya
penjualan kredit, laba kotor yang terjadi diakui pada saat
penyerahan berang dengan ditandai oleh timbuknya
piutang/tagihan kepada langganan. Pengakuan terhadap biayabiaya yang berhubungan dan dapat diidentifikasikan dengan
pendapatan-pendapatan yang bersangkutan harus dilakukan.

Pengakuan laba kotor dihubungkan dengan periodeperiode terjadinya realisasi penerimaan kas
• Pada cara ini laba kotor
yang terjadi diakui sesuai
dengan jumlah uang kas
dari penjualan angsuran
yang direalisasikan dalam
periode-periode yang
bersangkutan. Biasanya
digunakan untuk kontrakkontrak penjualan yang
jangka waktunya
melampaui satu periode
waktu.

Prosedur yang
menghubungka
n tingkat
keuntungan
dengan reslisasi
penerimaan
angsuran pada
perjanjian
penjualan
angsuran adalah
sebagai beriku :

Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai
pengembalian harga pokok dari barang.
Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai realisasi
keuntungan.
penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian
dicatat sebagai pengembalian harga pokok maupun realisasi
keuntungan.

Penjualan angsuran untul barang-barang
tak bergerak
• Didalam metode angsuran seperti tersebut dalam nomor 3, perbedaan antara
harga penjualan dengan harga pokoknya dicatat sebagai “laba kotor yang
belum direalisasikan”. Pada akhir periode perhitungan jumlah keuntungan
yang telah diralisasikan, yaitu sebesar persentase laba kotor dikalikan dengan
jumlah angsuran yang telah diterima dalam periode yang bersangkutan.
Jumlah laba kotor yang direalisasikan ini diakui dengan memindahkan
sebagian saldo rekening “Laba Kotor yang Belum Direalisasikan” ke dalam
rekening “Realisasi Laba Kotor”.

Contoh 1:

PT SENTANA, suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli harga
tidak bergerak, menjual sebuah rumah kepada Tuan Hartono dengan harga
Rp.2.500.000. Harga pokok rumah itu menurut pembukuan PT SENTANA
sebesar Rp. 1.500.000.

• Beberaapa ketentuan yang diatur dalam kontrak penjualan, khususnya yang berhubungan dengan
syarat pembayaran adalah sebagai berikut:

1. Pembayaran pertama sebesar Rp 500.000.
2. Untuk menjamin keamanan kepemilikan rumah tersebut, PT SENTANA dan Tuan Hartono setuju
untuk menghipotikkan rumah tersebut dari Tuan Hartono kepada PT SENTANA sebesar Rp
2.000.000.

3. Akte Hipotik ditanda tangani pada tanggal 1 September 1980, dibayar dalam jangka waktu 5 tahun
dengan pembayaran tiap ½ tahun @ Rp 200.000.

4. Bunga hipotik sebesar 12% setahun untuk sisa pinjaman hipotik yang belum dibayarkan.
5. Komisi dan biaya-biaya lainnya guna menyelesaikan akte hipotik sejumlah Rp 50.000, telah
dibayarkan tunai oleh PT SENTANA

Menurut kedua metode tersebut adalah sebagai berikut :
Penjualan Angsuran untuk Barang-barang tak bergerak
Jurnal
Transaksi-transaksi

Laba diakui pada periode penjualan

Laba diakui secara proporsional dengan jumlah
penerimaan angsuran

1 september 1980
1) Dijual sebuah rumah dengan harga : Rp Piutang (Tuan Hartono)
2.500.000 harga pokok rumah sebesar Rp

Rumah

1.500.000

Laba penj rumah

2.500.000
1.500.000

Piutang (tuan Hartono)

2.500.000

Rumah
Laba kotor yang

1.500.000
belum

1.000.000

1.000.000 direalisasi
2) Pembayaran pertama sebesar Rp 500.000 Kas

500.000

Kas

500.000

dan hipotik U/K untuk saldo yang belum Hipotik –U/K

2.000.000

Hipotik –U/K

2.000.000

dibayar sebesar Rp 2.000.000

Piutang (tuan Hartono)

3) Pembayaran biaya-biaya : komisi dan Ongkos Penjualan
pengurusan akte hipotik dan lain lain Rp
50.000

Kas

2.500.000
50.000
50.000

Piutang (tuan Hartono)
Ongkos Penjualan
Kas

2.500.000
50.000
50.000

4) 31 Desember 1980
a.

Bunga yang masih harus diterima atas Bunga hipotok yang akan
hipotik-UK. 12% untuk jangka waktu diterima
4 bulan = (4/12 x 12% x 2.000.000 =

Bunga hipotok yang akan
80.000

Pendapatan bunga

diterima
80.000

Pendapatan bunga

80.000
80.000

80.000)
b.

Laba kotor yang direalisasikan adalah
sebagai berikut : laba kotor = 40%

Laba kotor yang belum

atau

direalisasi

Penerimaan kas tahun 1980, sebesar:
500.000.

jadi

laba

kotor

Realisasi laba kotor

200.000
200.000

yang

direalisasi 40% x 500.000 = 200.000

5) Menutup rekening-rekening nominal ke Laba penjualan rumah

1.000.000

Realisasi laba kotor

200.000

Rugi-Laba

80.000

Pendapatan bunga

80.000

Pendapatan bunga
Ongkos penjualan

50.000

Ongkos penjualan

50.000

Rugi - laba

1.030.000

Rugi - laba

230.000

6) 1 Januari 1981
Reversal entries untuk bunga yang Pendapatan bunga
akan diterima pada akhir tahun

Bunga hipotik yang

1980.

akan diterima

80.000

Pendapatan bunga

80.000

Bunga hipotik yang
80.000

akan diterima

80.000

7) 1 Maret 1981
Diterima

pembayaran

angsuran Kas

320.000

Kas

320.000

hipotik sebesar 200.000 dan bunga

Hipotik U/K

200.000

Hipotik U/K

200.000

hipotik sebesar 120.000

Pendapatan bunga

120.000

Pendapatan bunga

120.000

8) 1 September 1981
Diterima

pembayaran

angsuran Kas

308.000

Kas

308.000

hipotik 200.000 dan bunga dari

Hipotik U/K

200.000

Hipotik U/K

200.000

pokok hipotik 1.800.000 @12%

Pendapatan bunga

108.000

Pendapatan bunga

108.000

untuk jangka waktu 6 bulan =
108.000

1) 31 Desember 1981
a.

Adjustment
pokok

:

bunga

hipotik

1.600.000

dari Bunga hipotik yang akan

@12%untuk diterima

jangka waktu 4 bulan = 64.000
b.

Pendapatan bunga

Bunga hipotik yang akan
64.000
64.000

diterima
Pendapatan bunga

Laba kotor yang direalisasi = 40 %

Laba

dan

direalisasikan

pembayaran

angsuran

yang

diterima tahun 1981 sebesar 400.000

64.000

kotor

yang

Realisasi laba kotor

64.000
belum
160.000
160.000

atau 160.000
1) Menutup rekening-rekening nominal Pendapatan bunga
Rugi-Laba

Rugi-Laba

212.000
212.000

Pendapatan bunga Realisasi 212.000
laba kotor
Rugi-Laba

160.000
372.000

menurut metode angsuran laba penjualan rumah sebesar 950.000 akan dianggap
direalisasikan sebesar 150.000 (200.000-50.000) pada tahun 1980 dan 800.000 akan
diakui dalam masa 5 tahun kemudian sesuai dengan jangka waktu penyesuaian
transaksi masing-masing sebesar 160.000 setiap tahun.

• Apabila Tuan Hartono tidak dapat memenuhi kewajibannya pada tanggal 1 Maret 1982,
maka PT SENTANA akan menarik kembali saldo hipotiknya sebesar 1.600.000 dan
memiliki kembali rumah. Sedang jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh tuan
Hartono sebesar 900.000 tidak dapat ditarik kembali dan tetap menjadi milik PT
SENTANA. Diumpamakan penilaian kembali atas rumah tersebut pada tanggal 1 Maret
Pencatatan masing-masing metode akan terlihat sebagai berikut :
1982 adalah sebesar 1.200.000.
JURNAL
Transaksi

Laba diakui pada periode penjualan

Laba diakui secara proporsional dengan penerimaan
angsuran

Dimiliki

kwmbali Rumah

1.200.000

Rumah

rumah yang dibeli tuan Rugi pemilikan kembali

400.000

Laba

Hartono

dinalai

kembali

sebesar

Hipotik U/K

1.200.000
kotor

1.600.000 direalisasikan
Hipotik direalisasi

1.200.000. hipotik yang

Laba pemilikan

berjalan

ditarik

kembali

kembali

sebesar

1.600.000

yang

belum
640.000
1.600.000
240.000

Dalam hal ini bunga yang akan diterima pada akhir 1981 sebesar 64.000 harus
dicatat sebagai kerugian, sebab pada tahun 1982 sama sekali tidak bisa diterima.
Maka laba tahun 1981 harus dikoreksi kembali.
Laba diakui pada

Laba diakui secara

periode penjualan

proporsional dengan jumlah
penerimaan angsuran

Laba atau rugi pemilikan

Jumlah pembayaran yang telah diterima 900.000

kembali

pada

masing-

Rugi karena penurunan harga :

masing

metode

tersebut

Harga pokok

-1.500.000

Harga penilaian

-1.200.000

dapat dibuktikan dengan
perhitungan sebagai berikut
:

900.000

(300.000)

(300.000)

600.000

600.000

kembali

1.000.000

360.000

Laba (rugi) dalam pemilikan kembali

(400.000)

240.000

Laba bersih
Laba yang diakui sebelum pemilikan

Laba diakui pada periode
penjualan

Laba diakui secara
porposional dengan
jumlah penerimaan
angsuran

Rp 900.000,00

Rp 900.000,00

(Rp 300.000,00)

(Rp 300.000,00)

Rp 600.000,00

Rp 600.000,00

Laba yg diakui sebelum pemilikan
kembali

Rp 1.000.000,00

Rp 360.000,00

Laba (rugi) dalam pemilikan kembali

(Rp 400.000,00)

( Rp 240.000,00)

Jumlah pembayaran yang telah
diterima
Rugi karena perununan harga:
Harga pokok

- 1.500.000,00

Harga penialaian

- 1.200.000,00

Laba bersih

Penjualan Angsuran untuk barang-barang
(bergerak)
Prosedur akuntansi untuk penjualan barang dagangan dengan
perjanjian angsuran, pada dasarnya sama dengan cara-cara yang
berlaku bagi harta tetap. Untuk dapat memberikan gambaran
tentang proses akuntansi dalam penjualan angsuran dari
penjualan angsuran untuk barang-barang bergerak.

Contoh seperti tersebut di bawah ini:

• PT Karya Bhakti menjual barang dagangannya sebagian atas
dasar kontrak penjualan angsuran untuk masa ± 3 tahun
disamping penjualan secara kredit, sejak beberapa tahun
terakhir. Berikut neraca PT Karya Bhakti pada akhir tahun buku
1980.

PT KARYA BHAKTI, SEMARANG
Neraca, per 31 Desember 1980
Aktiva
Kas
Rp 625.000,00
Piutang Dagang (regular) Rp 100.000,00

Pasiva
Hutang Dagang

Rp 650.000,00

Wesel bayar

Rp 100.000,00

Piutang penjualan angsuran
1979

Rp 300.000,00

Piutang penjualan angsuran

Laba kotor yg blm direalisasi

Tahun 1979

Tahun 1979

Rp 80.000,00

Persediaan barabg-barang Rp 600.000,00

Rp 90.000,00

Laba kotor yg blm direalisasi
Tahun 1979

Rp 20.000,00

Modal saham

Rp 140.000,00

Jumlah pasiva

Rp 2.500.000,00

Aktiva tetap
lainnya Rp 1.175.000,00
Akumulasi
penyusutan

Rp 380.000,00
Rp 795.000,00

Jumlah aktiva

Rp 2.500.000,00

• Terhadap barang dagangan yang dijual atas dasar kontrak
penjualan angsuran perusahaan memperhitungkan tingkat laba
kotor masing-masing 30% untuk tahun 1980 dan 25% untuk
tahun 1079 dari harga jual yang bersangkutan. Diumpamakan
perusahaan menggunakan metode phisik terhadap
administrasi barang-barang dagangannya. Atas dasar transaksitransaksi yang terjadi dalam tahun buku 1981 berikut ini, maka
pencatatan yang diperlukan oleh PT Karya Bhakti adalah
sebagai berikut:

Penjualan Angsuran untuk barang-barang dagangan (barang-barang bergerak)
Transaksi-transaksi
1 januari – 31 desember 1981
1) Penjualan
Tunai
Kredit
Angsuran
Jumlah

Jurnal

-

Rp 1.000.000,00
Rp 850.000,00
Rp 600.000,00

Jumlah

: Rp 800.000,00
: Rp 300.000,00
: Rp 200.000,00
: Rp 60.000,00

Pembelian
Hutang dagang

2.500.000,00

Kas
Piutang dagang
Piutang penjualan Angsuran 1981
Piutang penjualan Angsuran 1980
Piutang penjualan Angsuran 1979

1.360.000,00

600.000,00

Rp 100.000,00
Rp 2.450.000,00
Rp 405.000,00
Rp 2.855.000,00
Rp 95.000,00

1.850.000,00
600.000,00
2.500.000,00
800.000,00
300.000,00
200.000,00

Rp 1.360.000,00

4) Pengeluaran Kas dan Biaya-biaya
Pengeluaran Kas untuk:
- Pembayaran Hutang Dagang
Jumlah
- Macam- macam biaya Usaha
Jumlah pegeluaran kas
- Biaya penyusutan Aktiva Tetap

1.000,000,00
850.000,00

Rp 2.450.000,00

2) Pembelian barang-barang secara
kredit sebesar Rp 2.500.000,00
3) Penerimaan Kas dari:
- Piutang Dagang
- piutang penjualan
angsuran 1981
1980
1979

Kas
Piutang Dagang
Penjualan
Piutang penjualan angsuran tahun 1981
Penjualan Angsuran

60.000,00

Hutang Dagang
Macam-macam
Biaya Usaha
Potongan pembelian
Kas
Akumulasi penyusutan Aktiva tetap

2.550.000,00
Rp 500.000,00

100.000,00
2.855.000,00
95.000,00

31 Desember 1981, tutup buku:
5) Mencatat harga pokok barang-barang yang dijual secara
angsuran Rp 390.000,00

6) menutup rekening-rekening penjualan angsuran dan harga
pokoknya serta mencatat laba kotor penjualan selama 1981
635% x 600.000,00 = 210.000,00
7) mencatat realisasi laba kotor penjualan angsuran dalam tahun
buku 1981:
Penjualan angsuran:
Th. 1981 = 35% x 300.000,00 = 105.000,00
Th. 1980 = 35% x 200.000,00 = 60.000,00
Th. 1979 = 35% x 60.000,00 = 15.000,00
Jumlah

Rp 180.000,00

8) Menutup persediaan awal barang dagangan pembelian barangbarang, potongan pembelian dan pengiriman barang-barang yang
dijual dengan perjanjian agsuran ke Rekening rugi-laba

9) Mencatat persediaan akhir barang dagangan, sesuai dengan stock
opname pada tanggal 31 Desember 1981 sebesar harga pokok
Rp1.210.000,00
10) Menutup Saldo rekening penjualan regular ke rekening Rugi Laba

Harga Pokok
Penjualan
Angsuran
pengiriman barang-barang
penjualan Angsuran
Penjualan Angsuran
Harga pokok penjualan
angsuran
Laba kotor penjualan yang
belom direalisasi 1981
Laba kotor penjualan angsuran
yang belum direalisasi 1981
Laba kotor penjualan angsuran
yang belum direalisasi 1980
Laba kotor penjualan angsuran
yang belum direalisasi 1979
Realisasi Laba Kotor
Penjualan Angsuran
Rugi – Laba
Pengiriman barang-barang
penjualan angsuran
Potongan pembelian
Persediaan barang dagangan
(per1-1-1981)
Pembelian

390.000,00
390.000,00
600.000,00
390.000,00
210.000,00
105.000,00
60.000,00
15.000,00
180.000,00
2.610.000,00
390.000,00
100.000,00
600.000,00
2.500.000,00

Persediaan barang dagangan
(per 31-12-1981)
Rugi - Laba

1.210.000,00

Penjualan
Rugi - Laba

1.850.000,00

1.210.000,00
1.850.000,00

11) Menutup laba kotor yang direalisasi dari hasil
penjualan angsuran tahun ini dan tahun-tahun
sebelumnya ke rekening Rugi - Laba

Realisasi laba kotor
penjualan angsuran
Rugi – Laba

12) Menutup rekening-rekening biaya usaha ke
Rekening Rugu – Laba

Rugi – Laba
Macam-macam
biaya usaha

500.000,00

13) Mencatat taksiran pajak perseorangan yang akan
di bayar sebesar 20% x laba sebelum dipotong P.Ps.
( 20% x 130.000,00 = 26.000,00)

Pajak perseroan
Taksiran Hutang
P.Ps

26.000,00

14) Menutup rekening pajak Perseroan ke Rekening
Rugi – Laba

Rugi – Laba
Pajak perseroan

26.000,00

15) Memindahkan laba bersih ke rekening Laba yang
ditahan

Rugi – Laba
Laba yang ditahan
(Retained carning)

104.000,00

180.000,0

180.000,00

500.000,00

26.000,00

26.000,00

104.000,00

• Apabila perusahaan mempergunakan metode “perpetual
investory” maka pembelian-pembelian harus dcatat langsung
ke rekening persediaan(investory). Pencatatan untuk harga
pokok penjualan angsuran dan penjualan regular harus disusun
up to date. Rekening “Harga Pokok Penjualan Angsuran” dan
“Harga Pokok Penjualan” (Regular), segera didebit dan
rekening “Persediaan Barang Dagangan” segera dikredit pada
saat barang dikirim kepada pembeli.

Alternative prosedur untuk menghitung Realisasi Laba Kotor
Penjualan Angsuran
Saldo Laba Kotor Yang Belom Direalisasi
(sebelum adjustment)

1981

Penjualan Angsuran Tahun
1980

1979

210.000,00

90.000,00

20.000,00

105.000,00

-

-

-

30.000,00

-

-

-

5.000,00

105.000,00

60.000,00

15.000,00

Laba Kotor yang Belum Direalisasi pada akhir periode:
Untuk penjualan angsuran 1981:
35% x saldo yang belum dibayar
(Rp 300.000,00)
Untuk penjualan angsuran 1980:
(30% x Rp 100.000,00)
Untuk penjualan angsuran 1979:
(25% x Rp 20.000,00)
Realisasi laba kotor sesuai dengan penerimaan pembayaran
piutang penjualan angsuran selama tahun 1981.

Penyajian Laporan Keuangan pada Metode
Angsuran
• Untuk “Laba Kotor Yang Belum Direalisasi” di dalam neraca
dapat dicantumkan ke dalam salah satu dari ketiga kelompok
berikut:
1. Sebagai hutang dan dilaporkan di bawah kelompok “Pendapatan Yang Masih Akan Diterima”.
2. Sebagai rekening penilaian dan mengurangi “Piutang Penjualan Angsuran”
3. Sebagai rekening modal dan dicatat sebagai bagian dari laba yang ditahan.

Laba kotor yang belum direalisasi, dapat dikelompokkan
sebagai tiga elemen berikut ini:

Cadangan
menutup biaya

Kewajiban
dibayar untuk
pajak perseroan

Laba bersih

Contoh:
• Dilaporan laba rugi,
disajikan secara terpisah
antara hasil-hasil
penjualan reguler
dengan penjualan
angsuran. Suatu ikhtisar
mengenai perhitungan
realisasi laba kotor
dalam tahun buku yang
bersangkutan, biasanya
dibuat sebagai lampiran
dari laporan perhitungna
laba rugi tersebut.

PT KARYA BHAKTI SEMARANG
Neraca, per 31 Desember 1981
Aktiva
Kas
Piutang dagang
Piutang penjualan
angsuran
Tahun 1981
Tahun 980
Tahun 1979

300.000
100.000
20.000

Pasiva
130.000 Hutang dagang
150.000 Wesel bayar
Taksiran
hutang
pajak perseroan

600.000
100.000
26.000

420.000
Persediaan
barang dagangan

Aktiva
tetap
lainnya
Akumulasi
penyusutan
Jumlah aktiva

laba kotor yang
1.210.000 belum
direalisasi
(penjualan
angsuran)
105.000
Tahun 1981
30.000
Tahun 1980
5.000
Tahun 1979
1.175.00
0
475.000

140.000
Modal saham
700.000 Laba yang ditahna
2.610.000 Jumlah Pasiva

1.500.000
244.000
2.610.000

PT KARYA BHAKTI SEMARANG
Perhitungan Rugi-Laba untuk periode tahun buku 1981
Penjualan
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan per 1 Januari 1981
pembelian
potongan
Barang yang tersedia untuk dijual
Persediaan barang per 31 Desember 1981

2.500.000
100.000

Penjualan
angsuran
600.000

Penjualan
reguler
1.850.000

Jumlah
2.450.000

390.000
210.000

1.400.000
450.000

1.790.000
660.000

105.000
105.000

450.000

105.000
555.000
75.000
630.000
500.000
130.000
26.000
104.000

600.000
2.400.000
3.000.000
1.210.000

Laba Kotor Penjualan
Dikurangi: laba kotor penjualan angsuran tahun-1981
yang belum direalisasi (lampiran)
Laba kotor yang direalisasi untuk penjualan tahun 1981
Ditambah: realisasi laba kotor penjualan Angsuran 1980 dan 1979 (lampiran)
Jumlah realisasi laba kotor dalam tahun 1981
Macam-macam biaya usaha (termasuk penyusutan)
Laba bersih sebelum pajak perseroan
Pajak perseroan 26%
Laba bersih setelah pajak perseroan

Masalah Pertukaran (Trade In) di dalam Penjualan
Angsuran
• Pertukaran adalah penjual menyerahkan barang-barang
baru dengan perjanjian angsuran, sedang pembayaran
pertama dari pembeli berupa penyerahan barangbarang bekas.

Perbedaan antara estimated cost dengan harga pertukaran dicatat dalam
rekening “cadangan perbedaan harga pertukaran”.

• Contoh :
• Seorang pedagang mobil memiliki sebuah mobil baru dengan harga
pokok Rp 1.000.000,00 dijual kepada seorang pembeli dengan
perjanjian penjualan angsuran seharga Rp 1.500.000,00. Sebagai
pembayaran pertama pembeli menyerahkan sebuah mobil bekas dan
setuju dihargai Rp 400.000,00. Diperkirakan biaya-biaya yang
diperlukan untuk perbaiakna mobil bekas tersebut berjumlah Rp
50.000,00, sedang harga penjualan normal setelah diperbaiki adalah
Rp375.000,00. Pedagang mobil tersebut mengharapkan laba normal
sebesar 25% dari harga penjualan mobil-mobil bekas.

Perhitungan- perhitungan :
Harga pertukaran mobil bekas

Rp 400.000,00

Harga penilaian terhadap mobil bekas :
Harga jual sesudah diperbaiki

Rp 375.000,00

Dikurangi :
Ongkos perbaikan

Rp 50.000,00

Laba normal yang diharapkan dalam penjualan
kembali mobil bekas (25% x Rp 375.000,00)
Rp 93.750,00
Rp 143.750,00
Rp 231.250.00
Perbedaan harga pertukaran (terlalu tinggi)

Rp 168.750,00

Persediaan barang dagangan mobil bekas .............. Rp 231.250,00
Cadangan perbedaan harga pertukaran
(Over Allowances on installment Sales Trade Ins)
................................................................................. Rp 168.750,00
Piutang penjualan angsuran..................................... Rp1.100.000,00
Penjualan angsuran.................................................................. Rp 1.500.000,00
Harga pokok penjualan angsuran ........................... Rp 1.000.000,00
Persediaan barang dagangan mobil baru ................................ Rp 1.000.000,00

Masalah Pembatalan Kontrak dan Pemilikan Kembali
Apabila si pembeli
gagal untuk
memenuhi
kewajibannya seperti
yang tercantum di
dalam surat pejanjian
angsuran, maka
barang-barang yang
bersangkutan ditarik
dan dimiliki oleh si
penjual.

• Dalam hal ini pencatatan yang harus
dilakukan dalam buku-buku si penjual,
akan menyangkut :
Pencatatan
pemilikan kembali
barang dagangan

Menghapuskan
saldo piutang
penjualan

Menghapuskan
saldo laba kotor
yang belum
direalisasi

Pencatatan
keuntungan atau
kerugian

Contoh 4:
• Pada tahun 1982, seorang langganan PT Karya Bhaktipada contoh no. 2, telah gagal dan tidak dapat
memenuhi kewajibannya. Langganan tersebut membeli barang-barang pada tahun 1981 seharga Rp
20.000,00. Dari jumlah harga tersebut telah dibayar oleh langganan yang bersangkutan sebesar Rp
10.000,00.
• Barang-barang kemudian ditarik dan dimiliki kembali oleh PT Karya Bhakti dan nilainnya ditaksir
sebesar Rp 9.000,00 dengan sudah memperhitungkan cadangan untuk perbaikan-perbaikan dan
keuntungan normal diharapkan apabila dijual lagi.
Pencatatan yang dilakukan dalam buku-buku PT Karya Bhakti Semarang, adalah sebagai
berikut :
Persediaan barang dagangan pemilikan kembali Rp 9.000,00
Laba kotor yang belum direalisasi tahun 1980
Rp 3.500,00
Laba karena pemilikan kembali
Piutang penjualan angsuran tahun 1981

Rp 2.500,00
Rp10.000,00

Perhitungan :
Jumlah kas yang telah diterima ................................................................ Rp 10.000,00
Dik : Rugi penurunan harga
Harga pokok barang dagangan (65% x 20.000,00)
= ........................................................................... Rp 13.000,00
Nilai pada saat pemilikan kembali ......................
Rp 9.000,00
Rp 4.000,00
Laba atas barang yang ditarik kembali .............................................. Rp 6.000,00
Laba yang telah diakui sebelumnya ( 35% x Rp 10.000,00 ) ................... Rp 3.500,00
Laba pemilikan kembali ...................................................................... Rp 2.500,00

Masalah Bunga pada Penjualan Angsuran
Kebijaksanaan pembayaran bunga secara periodik pada
• Dalam perjanjian penjualan
umumnya dilakukan dalam bentuk seperti berikut:
angsuran, biasanya penjual
di samping
1. Bunga sisa harga kontrak
memperhitungkan laba
2. Bunga setiap angsuran
juga memperhitungkan
3. Pembayaran angsuran periodik
beban bunga terhadap
4. Bunga secara periodik diperhitungkan
jumlah harga dalam
kontrak yang belum
berdasar dari (sisa) harga kontrak.
dibiayai oleh pembeli.

Contoh :
• Misalnya pada tanggal 1 januari 1980 telah dijual sebuah mesin
dengan harga Rp 1.250.000,00 atas dasar perjanjian penjualan
angsuran. Uang muka (down payment) ditetapkan sebesar Rp
350.000,00 sedang sisanya dibayar dalam waktu 1 tahun
dengan 6 kali angsuran (setiap 2 bulan) dan bunga ditetapkan
sebesar 12% setahun. Harga pokok mesin tersebut adalah Rp
750.000,00.

Pembayaran yang akan dilakukan sesuai dengan 4 (empat)
cara seperti diterangkan di depan,akan tertera seperti
perhitungan dan pencatatan berikut ini.
Perhitungan :
Harga jual mesin ........................................................................

Rp 1.250.000,00

Uang muka (down payment) .....................................................

Rp 350.000,00

Dibayar 6 kali angsuran tiap-tiap 2 bulan ..................................

Rp 900.000,00

Besarnya pembayaran setiap kali angsuran ...............................

Rp 150.000,00

Bunga Periodik diperhitungkan dari
sisa harga kontrak pada setiap awal
periode angsuran

*)
**)

• Pada saat cara ini beban bunga diperhitungkan berdasar jangka
waktu yang sama untuk setiap angsuran, yaitu 2 bulan.

1 januari 1980
1 januari 1980
1 maret
1980
1 mei
1980
1 juli
1980
1 september 1980
1 nopember 1980
1 desember 1980

Bunga atas saldo
harga kontrak pada
awal
periode
angsuran
Rp 18.000,00
Rp 15.000,00
Rp 12.000,00
Rp 9.000,00
Rp 6.000,00
Rp 3.000,00

Jumlah

Rp 63.000,00

Tanggal pembayaran

Angsuran
atas Jumlah pembayran
harga kontrak

Sisa harga kontrak

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

Rp 1.250.000,00
Rp 900.000,00
Rp 750.000,00
Rp 600.000,00
Rp 450.000,00
Rp 300.000,00
Rp 150.000,00
NIHIL

350.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00

Rp 1.250.000,00

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

350.000,00
168.000,00
165.000,00
162.000,00
159.000,00
156.000,00
153.000,00

Rp 1.313.000,00

Atas dasar perhitungan dalam daftar tersebut maka pencatatan di dalam
buku-buku si pembeli dan si penjual akan ternyata sebagai berikut :
Ttransaski
Buku- buku si pembeli
1
januari
1980 1. Mesin-mesin
1.250.000,00
penjualan
angsuran
Hutang pembelian
sebuah mesin seharga
Angsuran
1.250.000,00
Rp
1.250.000,00 2. Hutang pembelian
dengan uang muka Rp
Angsuran
350.000,00
350.000,00
Kas
350.000,00

1 maret 1980
Pembayaran angsuran pertama
sebesar 150.000 bunga 12%
setahun dari saldo harga kontrak
sebesar 900.000
1 mei 1980 pembayaran
angsuran kedua sebesar150.000
bunga 12% setahun dari saldo
harga kontrak sebesar 750.000

Hutang pembelian
Angsuran
Biaya bunga
Kas
Hutang pembelian
Angsuran
Biaya bunga
Kas

Buku-buku si penjual
1. Piutang penjualan angsuran 1.250.000,00
Penjualan angsa
1.250.000,00
2. Kas
350.000,00
Piutang penjual angsuran
350.000
3. Harga pokok penjualan mesin 750.000
Persediaan mesin-mesin
750.000

150.000
18.000
168.000
150.000
15.000
165.000

Kas

168.000
Piutang penjualan angsuran 150.000
Pendapatan bunga
18.000

Kas
165.000
Piutang penjualan Angsuran
‘Pendapatan bunga

150.000
15.000

Bunga diperhitungkan dari setiap angsuran yang harus dibayar
atas dasar jangka waktu angsuran yang bersangkutan
• Pembayaran yang harus dilakukan akan terlihat seperti di dalam draf berikut :
Tanggal pembayaran
1 januari
1980
1 januari
1980
1 maret
1980
1 mei
1980
1 juli
1980
1 september 1980
1 nopember 1980
31 Desember 1980
Jumlah

*)
**)

Harga
dari
tanggal
transaksi sampai dengan
tanggal pembayaran (1%
per bulan)
Rp 3.000,00
Rp 6.000,00
Rp 9.000,00
Rp 12.000,00
Rp 15.000,00
Rp 18.000,00
Rp 63.000,00

Angsuran
harga
kontrak
Rp 350.000,00
Rp 150.000,00
Rp 150.000,00
Rp 150.000,00
Rp 150.000,00
Rp 150.000,00
Rp 150.000,00
Rp1.250.000,00

Jumlah pembayaran

Sisa harga kontrak

Rp 350.000,00
Rp 153.000,00
Rp 156.000,00
Rp 159.000,00
Rp 162.000,00
Rp 165.000,00
Rp 168.000,00
Rp1.313.000,00

Rp1,250.000,00
Rp 900.000,00
Rp 750.000,00
Rp 600.000,00
Rp 450.000,00
Rp 300.000,00
Rp 150.000,00
NIHIL

Pencatatan di dalam buku-buku si pembeli dan si penjual akan nampak
sebagai berikut :
Transaksi
1 Januari 1990
Penjualan angsuran sebuah mesin
seharga :
Rp. 1.250.000,00 dengan uang
muka :
Rp. 350.000,00

Buku-buku si pembeli

Buku-buku si penjual

1) Mesin-mesin
1.250.000,00
1) Piutang Penjualan
Hutang Pembelian
Angsuran
1.250.000,00
Angsuran
1.250.000,00
Penjualan
2) Hutang Pembelian
Angsuran
1.250.000,00
Angsuran
350.000,00
2) Kas
350.000,00
Kas
350.000,00
Piutang Penjualan
Angsuran
350.000,3) Harga Pokok Penjualan
Mesin
750.000,00
Persediaan
Mesin-mesin
750.000,00

1 Maret 1980
1. Pencatatan bunga yang
masih harus di
perhitungkan (accrued
interest) selama 2 bulan
dari sisa harga kontrak
sebesar : Rp. 900.000,00
1. Pencatatan pembayaran
angsutan pertama
sebesar :
Rp. 150.000,00 dan bunga
12% setahun, selama 2
bulan dari Angsuran yang
bersangkutan

1. Buiaya Bunga
18.000,00
Bunga yang Akan
di bayar atas
Pembelian Angsuran
18.000,00

1. Bunga yang akan
diterima atas penjualan
Angsuran 18.000,00
Pendapatan
Bunga
18.000,00

2. Hutang Pembelian
Angsuran
Bunga yang dibayar
atas pembelian
Angsuran
Kas

1) Kas
153.000,00
Piutang Pen
jualan Angsuran 150.000,00
Bunga yang Akan
Diterima atas
Pemjualan
Angsuran
3.000,00

150.000,00
3.000,00
153.000,00

Perubahan-perubahan daripada saldo bunga uangmasih diperhitungkan
itu dapat diikhtisarkan sebagai berikut (dipandang dari sudut pembeli):
Tanggal Pembayaran

1 – 3 – 1980
1 – 5 – 1980
1 – 7 – 1980
1 – 9 – 1980
1 – 11 – 1980
1 – 12 – 1980

Kenaikan bunga yang Pengurangan bunga Saldo bunga yang
diperhitungkan
yang
dibayar
akan dibayar atas
(kredit)
(Debit)
pembelian
(angsuran)
Rp. 18.000,00
Rp. 3.000,00
Rp. 15.000,00
Rp. 15.000,00
Rp. 6.000,00
Rp. 24.000,00
Rp. 12.000,00
Rp. 9.000,00
Rp. 27.000,00
Rp. 9.000,00
Rp.12.000,00
Rp.24.000,00
Rp. 6.000,00
Rp.15.000,00
Rp. 15.000,00
Rp. 3.000,00
Rp. 18.000,00
NIHIL

Pembayaran angsuran periodik dilakukan dalam jumlah yang sama,
dimana di dalamnya sudah diperhitungkan angsuran pokok dan bunga
Dalam jumlah tersebut sudah diperhitungkan :
a. Pembayaran bunga atas sisa Harga kontrak, dan

“metode
anited”
pembayaran
angsuran dari
periode ke
periode
jumlahnya
tetap sama.

b. Angsuran atas harga kontrak utu sendiri
Adapun rumus faktor anueter tersebut adalah sebagai berikut :

Apabila sudah diketahui faktor anuitetnya, maka jumlah pembayaran cicilannya
dihitung sebagai berikut :

Jumlah
pembayaran
angsuran =

𝑆𝑖𝑠𝑎𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑘
𝐹𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟𝐴𝑛𝑢𝑖𝑡𝑒𝑡

Pada contoh di muka, maka dapat dicari faktor anuitetnya
sebagai berikut :
= 5,601.431*

Sedang besarnya setiap
kali angsuran adalah :

* Dapat pula dilihat pada tabel anuited di
bawah kolom 2% dan pada baris n = 6 (12%
setahun sama dengan 2% setiap bulan).

Daftar pembayaran angsuran dan alokasi setiap pembayaran di antara
beban bunga dan angsuran harga kontrak sebagai berikut :
Tanggal pembayaran
1 Januari 1980
1 Januari 1980
1 Maret 1980
1 Mei 1980
1 Juli 1980
1September1980
1Nopember
1980
31 Desember 1980
Jumlah

Pembayaran
Angsuran
350.000
160.673
160.673
160.673
160.673
160.673
160.673
1.314.038

Bagian
Bagian
pembayaran yang pembayaran yang
merupakan beban
dipakai untuk
bunga yang
melunasi Harga
diperhitungkan
Kontrak
350.000
18.000*)
142.673
15.146**)
154.527
12.236
146.437
9.267
151.406
6.239
154.434
3.150
157.523
64.038
1.250.000

*)

12% x x Rp. 900.000,00 = Rp. 18.000,00

**)

12% x x Rp. 757.327,00 = Rp. 15.146,00

Sisa Harga
Kontrak
1.250.000
900.000
757.327
511.800
463.363
311.957
147.523
NIHIL

Dari daftar tersebut, maka pencatatan pembayaran angsurannya akan tertera pada
masing-masing buku pembeli dan penjual antara lain sebagai berikut :
Transaksi

Buku-buku si pembeli

Buku-buku si penjual

1 Maret 1980
Pembayaran angsuran pertama Biaya Bunga 18.000,00
sebesar :
Hutang Pembelian
Rp. 160.673,00 untuk
Angsuran
pembayaran bunga Rp.
Kas
18.000,00 dan pelunasan harga

Kas
142.673,00
160.673,00

160.000,00

Pendapatan
Bunga
18.000,00
Piutang Penjualan
Angsuran
142.673,00

kontrak sebesar : Rp.
142.673,00
1 Mei 1980
Pembayaran angsuran kedua
sebesar Rp. 160.673,00 untuk
bunga Rp. 15.146,00 dan
pelunasan harga kontrak
untuk :Rp. 145.527,00

Biaya Bunga15.146,00
Hutang Pemberian
Angsuran
Kas

Kas 160.673,00
Pendapatan bunga
142.527,00
Piutang Penjualan
160.673,00

Angsuran

15.146,00
145.527,00

Bunga secara periodik diperhitungkan berdasar dari sisa harga hontrak
• Apabila contoh di muka diterapkan pada metode ini, maka dapatlah disusun daftar
pembayaran angsuran sebagai berikut:Bunga diperhitungan atas dasar (sisa) harga
kontrak.
Tanggal pembayaran

Bunga yang
didasarkan atas

Angsuran atas
harga kontrak

harga kontrak

Jumlah
pembayaran

Sisa Harga
Kontrak

1 Januari 1980
1 Januari 1980
1 Maret 1980
1 Mei 1980

18.000
18.000

350.000
150.000
150.000

350.000
168.000
168.000

1.250.000
900.000
750.000
600.000

1 Juli 1980
1 September 1980
1 Nopember
1980
31 Desember 1980

18.000
18.000
18.000
18.000

150.000
150.000
150.000
150.000

168.000
168.000
168.000
168.000

450.000
300.000
150.000
NIHIL

Jumlah

TE RIM A K ASIH

Judul: Akuntansi Keuangan Lanjutan

Oleh: Arif Hidayat


Ikuti kami