Akuntansi Musyarakah.docx

Oleh Jumriani Nur

16 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi Musyarakah.docx

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Akuntansi musyarakah diatur di dalam PSAK 106 tentang Akuntansi
Musyarakah. Berdasarkan PSAK 106 tersebut, memuat pengakuan dan pengukuran
tentang transaksi musyarakah baik dari sisi mitra aktif maupun mitra pasif. Sebelum
dibahas mengenai pengakuan dan pengukuran akuntansi musyrakah, akan dijelaskan
terlebih dahulu mengenai pengenalan akun-akun yang terkait dengan musyarakah
baikyang di sajikan pada laporan posisi keuangan (neraca) maupun laporan laba rugi.
Menurut PSAK 106, mitra aktif adalah pihak yang mengelola atas namanya. Adapun
mitra pasif adalah pihak yang tidak ikut mengelola usaha. Mitra aktif adalah pihak
yang bertanggung jawab untuk melakukan pengelolaan sehingga mitra aktif yang
akan melakukan pencatatan akuntansi, atau jika dia menunjuk pihak lain untuk ikut
mengelola usaha maka pihak tersebut yang akan melakukan pencatatan akuntansi.
Bank syariah berada pada posisi sebagai mitra yang pasif (tidak menjalankan
kegiatan usaha musyarakah).
Dalam menentukan nisbah, bank syariah mempunyai 2 (dua) cara atau
alternative yaitu:
1.

Pembagian keuntungan proporsional sesuai modal
Dengan cara ini, keuntungan harus di bagi diantara para mitra secara
proporsional sesuai modal yang disetorkan, tanpa memandang apakah jumlah
pekerjaan yang dilaksanakan oleh para mitra sama ataupun tidak sama.

2.

Pembagian keuntungan tidak proporsional dengan modal
Dengan cara ini, dalam penetuan nisbah, yang dipertimbangkan bukan hanya
modal yang disetorkan, tapi juga tanggung jawab, pengalaman, kompetensi,
atau waktu kerja yang lebih panjang.

1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Musyarakah
Musyrakah dapat juga di istilahkan dengan al-syirkah secara bahasa
berarti al-ikhtilah (pencampuran) atau persekutuan dua orang atau lebih, sehingga
antara masing-masing sulit dibedakan atau tidak dapat dipisahkan (Afzalur
Rahman). Istilah lain dari musyarakah adalah sharikah atau syirkah atau
kemitraan.
Dewan Syariah Nasional MUI dan PSAK No.106 mendefiniskan
musyarakah sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu
usaha tertentu, di mana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana
dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan
kerugian berdasarkan porsi konstribusi dana. Dana tersebut meliputi kas atau aset
nonkas yang diperkenankan oleh syariah.
Para mitra bersama-sama menyediakan dana untuk mendanai suatu usaha
tertentu dalam musyarakah, baik usaha yang sudah berjalan maupun yang baru.
Selanjutnya, salah satu mitra dapat mengembalikan dana tersebut dan bagi hasil
yang telah disepakati nisbahnya secara bertahap atau sekaligus kepada mitra lain.
Investasi yang diserahkan oleh para mitra dapat diberikan dalam bentuk kas,
setara kas, atau asset nonkas.
Oleh karena setiap mitra tidak dapat menjamin dana mitra lainnya, maka
setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk menyediakan jaminan atas
kelalaian atau kesalahan yang di sengaja, kelalaian atau kesalahan yang disengaja,
kelalaian atau kesalahan yang disengaja dari setiap mitra dapat berupa:
1. Pelanggaran terhadap akad , antara lain: penyalagunaan dana investasi,
manipulasi biaya dan pendapatan operasional;
2. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.

2

Usaha yang dilakukan oleh para mitra dapat memberikan keuntungan atau
kerugian. Keuntungan usaha musyarakah di bagi diantara para mitra secara
proposional sesuai dengan dana yang disetorkan baik berupa kas maupun asset
nonkas atau sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh para mitra. Sebaliknya,
apabila terjadi kerugian maka dibebankan secara proporsional sesuai dengan dana
yang disetorkan (baik berupa kas maupun asset nonkas).
Apabila salah satu mitra memberikan konstribusi atau nilai lebih dari
mitra lainnya dalam akad musyarakah maka mitra tersebut dapat memperoleh
keuntungan yang lebih besar daripada mitra lainnya. Bentuk keuntungan lebih
tersebut dapat berupa pemberian porsi keuntungan yang lebih besar dari porsi
dananya atau bentuk tambahan keuntungan lainnya. Adapun porsi jumlah bagi
hasil untuk para mitra ditentukan berdasarkan nisbah yang disepakati dari hasil
usaha yang diperoleh selama periode akad, bukan dari jumlah investasi yang
disalurkan.
2.2.

Jenis-jenis Musyarakah
Akad musyarakah berdasarkan eksistensinya terbagi menjadi 2 (dua) yaitu
syirkah al-milk dan syirkah al-‘uqud.
1. Syrikah Al-Milk mengandung arti kepemilikan bersama (co-ownwership) yang
keberadaannya muncul apabila dua orang atau lebih memperoleh kepemilikan
bersama (joint ownership) atas suatu kekayaan (aset).
2. Syirkah Al-‘uqud yaitu kemitraan yang tercipta dengan kesepakatan dua orang
atau lebih untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Syirkah
Al-‘uqud dibedakan menjadi:
a. Syirkah Abdan (syirkah fisik)
Adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dari kalangan
pekerja/profesional di mana mereka sepakat untuk bekerja sama
mengerjakan suatu pekerjaan dan berbagi penghasilan yang di terima.

3

b. Syirkah Wujuh
Adalah kerja sama antara dua pihak di mana masing-masing pihak sama
sekali tidak menyertakan modal. Mereka menjalankan usahanya
berdasarkan

kepercayaan

menyumbangkan

nama

pihak
baik,

ketiga.

reputasi,

Masing-masing

credit

worthiness,

mitra
tanpa

menyetorkan modal.
c. Syrikah ‘Inan
Adalah bentuk kerja sama di mana posisi dan komposisi pihak-pihak yang
terlibat di dalamnya tidak sama, baik dalam hal modal maupun pekerjaan.
Tanggung jawab para mitra dapat berbeda dalam pengelolaan usaha.
d. Syirkah Mufawadah
Adalah bentuk kerja sama di mana posisi dan komposisi pihak-pihak yang
terlibat di dalamnya harus sama, baik dalam hal modal, pekerjaan, agama,
keuntungan maupun risiko kerugian. Masing-masing mitra memilki
kewenangan penuh untuk bertindak bagi dan atas nama pihak yang lain.
Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK), akad
musyarakh terbagi menjadi 2 (dua) yaitu musyarakah permanen dan
musyarakah menurun.
1. Musyarakah Permanen
Adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana setiap mitra ditentukan
saat akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad (PSAK No. 106
par. 04)
2. Musyarakah Menurun
Musyarakah menurun adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana
dalah satu mitra akan dialihkan secara bertahap kepada mitra lainnya
sehingga bagian dananya akan menurun dan pada akhir akad mitra lain
tersebut akan menjadi pemilik penuh musyarakah tersebut.

4

2.3.

Siklus Akad Musyarakah
Berikut ini akan digambarkan alur prosedur dari akad musyarakah, yaitu:

1. Negosiasi dan Akad
Musyarakah

Bank Syariah
(mitra pasif)

4a. Menerima porsi
laba
5. Menerima
kembalian modal

Nasabah
(mitra aktif)

2. Pelaksanaan
Usaha
Produkstif

3. Membagi hasil usaha
 Keuntungan dibagi sesuai nisbah
 Kerugian tanpa kelalaian nasabah
tanggung sesuai modal.

4b. Menerima porsi
laba

di

Sumber: Yaya, Rizal. Dkk. 2009. Akuntansi Perbankan Syariah
Penjelasan dari gambar alur akad musyarakah adalah sebagai berikut:


Pertama, di mulai dari pengajuan permohonan investasi musyarakah oleh
nasabah dengan mengisi formulir permohonan pembiayaan. Selanjutnya,
pihak bank melakukan evaluasi kelayakan investasi musyarakah yang
diajukan nasabah dnegan menggunakan analisis 5C (Character, Capacity,
Capital, Commitment, dan Collateral).

5



Kedua, bank dan nasabah mengonstribusikan modalnya masing-masing
dan nasabah sebagai mitra aktif mulai mengelola usaha yang disepakati
berdasarkan kesepakatan dan kemampuan terbaiknya.



Ketiga, hasil usaha dievaluasi pada waktu yang ditentukan berdasarkan
kesepakatan. Keuntungan yang diperoleh akan dibagi antara bank dengan
nasabah sesuai dengan porsi yang telah disepakati.



Keempat, bank dan nasabah menerima porsi bagi hasil masing-masing
berdasarkan metode perhitungan yang telah disepakati.



Kelima, bank menerima pengembalian modalnya dari nasabah. Jika
nasabah telah mengembalikan semua modal milik bank, usaha selanjutnya
menjadi milik nasabah sepenuhnya.

2.4.

Rukun dan Ketentuan Musyarakah
Prinsip dasar yang dikembangkan dalam syirkah adalah prinsip kemitraan
dan kerja sama antara pihak-pihak yang terkait untuk meraih kemajuan bersama.
Unsur-unsur yang harus dalam akad musyarakah atau rukun musyarakah ada
empat, yaitu:
1.

Pelaku terdiri atas para mitra.

2.

Objek musyarakah berupa modal dan kerja

3.

Ijab kabul/serah terima

4.

Nisbah keuntungan
Berikut ini adalah penjelasan akad musyarakah:

1.

Pelaku
Pelaku adalah para mitra yang cakap hukum dan telah balig.

2.

Obyek musyarakah
Obyek musyarakah merupakan suatu konsekuensi dengan dilakukannya
akad musyarakah yaitu harus ada modal dan kerja.

6

a. Modal
1) Modal yang diberikan harus tunai
2) Modal yang diserahkan dapat berupa uang tunai, emas, perak, aset
perdagangan atau aset tidak berwujud seperti lisensi, hak paten dan
sebagainya.
3) Apabila modal yang diserahkan dalam bentuk nonkas, maka harus
ditentukan nilai tunainya terlebih dahulu dan harus disepakati
bersama.
4) Modal yang diserahkan oleh setiap mitra harus di campur.
5) Dalam kondisi normal, setiap mitra memiliki hak untuk mengelola
asset kemitraan.
6) Mitra tidak boleh meminjam uang atas nama usaha musyarakah,
demikian juga meminjam uang kepada pihak ketiga dari modal
musyarakah, menyumbang atau menghadiahkan uang tersebut
kecuali mitra lain telah menyepakati.
7) Seorang

mitra

tidak

diizinkan

untuk

mencairkan

atau

menginvestasikan modal itu untuk kepentingan sendiri.
8) Pada prinsipnya dalam musyarakah tidak boleh ada penjaminan
modal, seorang mitra tidak bisa menjamin modal mitra lainnya,
karena musyarakah didasarkan pada prinsip al ghunmu bi al
ghurmi hak untuk mendapat keuntungan berhubungan dengan
risiko jaminan dan baru dapat di cairkan apabila mitra tersebut
melakukan kelalaian atau kesalahan yang disengaja.
9) Modal yang ditanamkan tidak boleh digunakan untuk membiayai
proyek atau investasi yang dilarang oleh syariah.
b. Kerja
1) Partisipasi

para

mitra

pelaksanaan musyarakah.

7

dalam

pekerjaan

merupakan

dasar

2) Tidak di benarkan bila salah seorang diantaranya menyatakan tidak
ikut serta menangani pekerjaan dalam kemitraan tersebut.
3) Meskipun porsi kerja antara satu mitra dengan mitra lainnya tidak
harus sama, mitra yang porsi kerjanya lebih banyak boleh meminta
bagian keuntungan yang lebih besar.
4) Setiap mitra bekerja atas nama pribadi atau mewakili mitranya.
5) Para mitra harus menjalankan usaha sesuai dengan syariah.
6) Seorang mitra yang melaksanakan pekerjaan di luar wilayah tugas
yang mereka sepakati, berhak mempekerjakan orang lain untuk
menangani pekerjaan tersebut.
7) Jika

seorang

mitra

mempekerjakan

pekerja

lain

untuk

melaksanakan tugas yang menjadi bagianya, biayanya harus di
tanggung sendiri.
3. Ijab kabul
Adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/rela diantara pihak-pihak pelaku
akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau
menggunakan cara-cara komunikasi modern.
4. Nisbah
a. Nisbah di perlukan untuk pembagian keuntungan dan harus disepakati
oleh para mitra di awal akad sehingga risiko perselisihan di antara para
mitra dapat di hilangkan.
b. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
c. Keuntungan harus dapat dikuantifikasi dan ditentukan dasar perhitungan
keuntungan tersebut, misalnya bagi hasil atau bagi laba.
d. Keuntungan yang di bagikan tidak boleh menggunakan nilai proyeksi,
akan tetapi harus menggunakan nilai realisasi keuntungan.
e. Mitra tidak dapat menentukan bagian keuntungannya sendiri dengan
menyatakan nilai nominal tertentu karena hal ini sama dengan riba dan

8

dapat melanggar prinsip keadilan dan prinsip untung muncul bersama
risiko.
f. Pada prinsipnya keuntungan milik para mitra namun di perbolehkan untuk
mengalokasikan keuntungan pihak ketiga bila disepakati , mislanya untuk
organisasi kemanusiaan tertentu atau untuk cadangan (reserve).
Apabila terjadi kerugian akan dibagi secara proporsional sesuai dengan
porsi modal dari masing-masing mitra. Dalam musyarakah yang berkelanjutan
(going

concern)

dibolehkan

untuk

menunda

alokasi

kerugian

dan

dikompensasikan dengan keuntungan pada masa-masa berikutnya. Nilai modal
musyarakah tetap sebesar jumlah yang disetorkan dan selisih dari modal
merupakan keuntungan atau kerugian.
Akad musyarakah akan berakhir, jika:
1.

Salah seorang mitra menghentikan akad.

2.

Salah seorang mitra meninggal, atau hilang akal.

3.

Modal musyarakah hilang/habis. Apabila salah satu mitra keluar dari
kemitraan baik dengan mengundurkan diri, meninggal, atau hilang akal
maka kemitraan tersebut dikatakan berakhir.

2.5.

Pengakuan dan Pengukuran
Pengakuan dan pengukuran Investasi Musyarakah
Biaya parakad akan terjadi akibat akad musyarakah (biaya studi
kelayakan) tidak dapat diakui sebagai bagian investasi musyarakah kecuali ada
persetujuan dari seluruh mitra musyarakah. Investasi musyarakah diakui pada saat
pembayaran asset nonkas kepada mitra aktif. Adapun rekening investasi
musyarakah dapat diukur dalam bentuk kas maupun asset nonkas:
1.

Investasi musyarakah yang diserahkan dalam bentuk kas dinilai sebesar
jumlah yang dibayarkan .
Jurnal yang harus dibuat oleh bank syariah untuk mencatat investasi
musyarakah dalam bentuk kas adalah :

9

Rekening
Dr. Investasi Musyarakah

Debit

Kredit

xxx

Cr. Kas

xxx

Pengakuan dan Pengukuran Keuntungan/Kerugian
Dari investasi musyarakah, dapat diperoleh keuntungan dan kerugian dari
usaha yang di jalankan. Berikut adalah jurnal yang dapat di buat oleh bank
syariah, meliputi:
1.

Apabila dari investasi musyarakah diperoleh keuntungan, maka jurnal
yang harus dibuat oleh bank syariah adalah:
Rekening

Debit

Dr. Kas/Piutang

xxx

Cr. Pendapatan Bagi Hasil
2.

Kredit
xxx

Apabila dari investasi musyarakah yang dilakukan diperoleh kerugian,
maka jurnal yang harus dibuat oleh bank syariah adalah:
Rekening

Debit

Dr. Kerugian

Kredit

xxx

Cr. Penyisihan Kerugian

xxx

Pengakuan dan Pengukuran pada Akhir Akad
Ketika akad musyarakah berakhir, asset nonkas akan dilkuidasi/dijual
terlebih dan keuntungan atau kerugian dari penjualan asset ini (selisih antara nilai
buku dengan nilai jual) didistribusikan kepada setiap mitra usaha nisbah. Jurnal
yang harus dibuat oleh bank syariah untuk mencatat jurnal penjualan asset nonkas
yang mengalami keuntungan adalah:

10

Rekening

Debit

Dr. Kas

Kredit

xxx

Cr. Investasi Musyarakah

xxx

Cr. Keuntungan

xxx

Sebaliknya, apabila dalam penjualan investasi musyarakah mengalami
kerugian, maka jurnal yang harus di buat bank syariah adalah :
Rekening

Debit

Dr. Kas

xxx

Dr. Kerugian

xxx

Kredit

Cr. Investasi Musyarakah

2.6.

xxx

Contoh Kasus Transaksi Musyarakah
Pada tanggal 2 Juni 2012, Nashirudin menandatangani akad pembiayaan
usaha pembuatan produk rumah tangga dari alumunium dengan Bank Syariah
Tegar (BST) dengan skema musyarakah sebagau berikut:
a. Nilai Proyek

: Rp100.000.000,00.

b. Konstribusi Bank

: Rp60.000.000,00 (pembayaran tahap pertama

sebesar Rp30.000.000,00 dilakukan tanggal 10 Juni dan pembayaran tahap
kedua (tahap final) sebesar Rp30.000.000,00 dilakukan tanggal 10 Juli)
c. Konstribusi Nashirudin

: Rp40.000.000,00

d. Nisbah Bagi Hasil

: Nashirudin 80% dan BST 20%

e. Periode

: 10 Bulan

f. Biaya Administrasi

: Rp600.000,00 (1% dari pembayaran bank

syariah)
g. Objek Bagi Hasil

: Laba Bruto (Selisih harga jual dikurangi harga

pokok penjualan)

11

h. Skema Pelunasan Pokok

: Musyarakah permanen- dilunasi pada saat

akad berakhir tanggal 2 April 2013.
i. Skema pelaporan dan pembayaran porsi bagi hasil bank di lakukan setiap
tanggal dua perbulan. Pelaporan dan pembayaran pertama dilakukan pada
tanggal 2 Juli 2012.
Berikut beberapa jurnal yang harus dicatat oleh Bank Syariah Tegar (BST)
berkaitan dengan transaksi musyarakah diatas.
a. Pada tanggal 2 juni 2012, jurnal yang harus dibuat oleh Bank Syariah tegar
(BST) pada saat penandatanganan akad ada 2 (dua) yaitu: (1) mencatat
kewajiban komitmen dan (2) mencatat penerimaan biaya administrasi dari
nasabah. Jurnal yang harus dibuat oleh Bank Syariah Tegar (BST) untuk
mencatat adanya kewajiban komitmen pembiayaan adalah:
Tanggal

Rekening

Debit

Kredit

02/06/12 Dr. Pos Lawan Kewajiban Komitmen Rp60.000.000,00
Administratif Pembiayaan
Cr. Kewajiban Komitmen

Rp60.000.000,00

Administratif Pembiayaan
Selain itu, Bank Syariah tegar juga membuat jurnal untuk mencatat
penerimaan biaya administrasi dari nasabah yaitu:
Tanggal
02/06/12

Rekening

Debit(Rp)

Dr. Kas/Rekening Nasabah

Kredit(Rp)

Rp600.000,00

Cr. Pendapatan Administrasi

Rp600.000,00

b. Misalnya, pada tanggal 10 Juni 2012 Bank Syariah Tegar merealisasikan
tahap 1dana musyarakah kepada nasabah sebesar Rp30.000.000,00. Pada
tahap realisasi atau pencarian dana, pihak bank syariah membuat 2 (dua)

12

jurnal yaitu (1) membalik rekening kewajiban komitmen pembiayaan , dan (2)
mencatat pembayaran investasi musyarakah kepada nasabah. Jurnal yang
harus dibuat oleh Bank Syariah Tegar (BST) pada tanggal 10 Juni 2012
adalah:
Tanggal

Rekening

Debit

10/06/12 Dr. Pos Lawan Kewajiban Komitmen

Kredit

Rp30.000.000,00

Administratif Pembiayaan
Cr. Kewajiban Komitmen

Rp30.000.000,00

Administratif Pembiayaan
Dr. Investasi Musyarakah

Rp.30.000.000,00

Cr. Kas Rekening Nasabah

Rp30.000.000,00

Selanjutnya, sesuai dengan skema akad sebelumnya, Bank Syariah Tegar
(BST) melakukanpembayaran tahap final (tahap 2) yang dilakukan pada
tanggal 10 Juli 2012 sebesar Rp30.000.000,00 kepada nasabah. Jurnal yang
harus dibuat oleh Bank Syariah Tegar untuk mencatat pembayaran tahap 2
(dua) adalah:
Tanggal

Rekening

Debit

10/07/12 Dr. Pos Lawan Kewajiban Komitmen

Kredit

Rp30.000.000,00

Administratif Pembiayaan
Cr. Kewajiban Komitmen

Rp30.000.000,00

Administratif Pembiayaan
Dr. Investasi Musyarakah

Rp.30.000.000,00

Cr. Kas Rekening Nasabah

Rp30.000.000,00

c. Nasabah mempunyai kewajiban untuk melakukan pembayaran dan pelaporan
pada setiap bulan setiap tanggal 2 sebagaimana tertuang dalam skema akad

13

musyarakah dengan Bank Syariah Tegar (BST) selama periode akad 10 bulan.
Terdapat 2 (dua) alternative dalam hal ini yaitu (1) pelaporan dan pembayaran
dilakukan pada saat yang bersamaan oleh nasabah, dan (2) pelaporan dan
pembayaran berbeda waktunya artinya pembayaran dilakukan setelah nasabah
melaoparkan hasil usahanya kepada Bank Syariah Tegar.
Alternatif 1: Pada tanggal 2 juli 2012 nasabah melakukan pelaporan dan
pembayaran kepada Bank Syariah Tegar (BST) secara bersamaan. jurnal yang
harus dibuat Bank Syariah Tegar

pada tanggal tersebut jika nasabah

melaporkan laba kotor sebesar Rp10.000.000,00 dengan porsi bank syariah
sebesar 20% adalah:
Tanggal
02/07/12

Rekening

Debit(Rp)

Dr. Kas/Rekening Nasabah

Kredit(Rp)

Rp2000.000,00

Cr. Pendapatan Bagi Hasil Musyarakah

Rp2000.000,00

Alternatif 2: Pada tanggal 2 juli 2012 nasabah melakukan pelaporan hasil
usahanya kepada Bank Syariah Tegar dengan laba kotor sebesar
Rp12.500.000,00. Nasabah baru melakukan pembayaran bagi hasil yang
merupakan hak bank syariah pada tanggal 20 Agustus 2012. Jurnal yang harus
dibuat oleh Bank Syariah Tegar pada tanggal 2 Agustus 2012 adalah:
Tanggal

Rekening

Debit(Rp)

02/08/12

Dr. Tagihan Pendapatan Bagi Hasil
Musyarakah

Kredit(Rp)

Rp2.500.000,00

Cr. Pendapatan Bagi Hasil
Musyarakah - Akrual

Rp2.500.000,00

Selanjutnya, pada saat nasabah melakukan pembayaran bagi hasil ke Bank
Syariah Tegar pada tanggal 20 Agustus 2012, Bank Syariah Tegar akan
membuat jurnal sebagai berikut:
Tanggal

Rekening

Debit(Rp)

14

Kredit(Rp)

20/08/12

Dr. Kas/Rekening Nasabah

Rp2.500.000,00

Cr. Tagihan Pendapatan Bagi Hasil
Musyarakah

Rp2.500.000,00

d. Pada tanggal 2 Aoril 2013 saat akad berakhir terdapat 2 alternatif pencatatan
yaitu (1) apabila nasabah mampu mengembalikan modal musyarakah, dan (2)
apabila nasabah tidak mampu mengembalikan modal musyarakah.
1) Apabila Nashiruddin mampu mengembalikan modal musyarakah, maka
jurnal yang harus dibuat oleh Bank Syariah Tegar untuk mencatat
pengembalian modal musyarakah adalah:
Tanggal
02/04/13

Rekening

Debit(Rp)

Dr. Kas

Kredit(Rp)

Rp60.000.000,00

Cr. Investasi Musyarakah

Rp60.000.000,00

2) Apabila Nashiruddin tidak mampu mengembalikan modal musyarkah,
Bank Syariah Tegar akan mencatatnya sebagai piutang musyarakah jatuh
tempo. Jurnal yang harus dibuat oleh Bank Syariah Tegar apabila
Nashiruddin tidak mampu melunasi modal musyarakah adalah:
Tanggal
02/04/13

Rekening

Debit(Rp)

Dr. Piutang Musyarakah-Jatuh Tempo
Cr. Investasi Musyarakah

Kredit(Rp)

Rp60.000.000,00
Rp60.000.000,00

BAB III

15

PENUTUP
1.1. Kesimpulan
Dari uraian di atas pemakalah dapat menyimpulkan bahwa :
Pertama,

Dewan

Syariah

Nasional

MUI

dan

PSAK

No.106

mendefiniskan musyarakah sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih
untuk suatu usaha tertentu, di mana masing-masing pihak memberikan
konstribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan
kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi konstribusi dana.
Kedua, Akad musyarakah berdasarkan eksistensinya terbagi menjadi 2
(dua) yaitu syirkah al-milk dan syirkah al-‘uqud. Di mana syirkah al-‘uqud,
terdiri dari Inan, Wujuh, Abdan dan Mufawadah. Sedangkan, Berdasarkan
Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK), akad musyarakh terbagi
menjadi 2 (dua) yaitu musyarakah permanen dan musyarakah menurun.
Ketiga, adapun rukun dan ketentuan musyarakah yaitu Pelaku terdiri atas
para mitra (mitra aktif dan pasif), Objek musyarakah berupa modal dan kerja,
Ijab kabul/serah terima, Nisbah keuntungan. Dan
Keempat, Akad musyarakah akan berakhir, jika: Salah seorang mitra
menghentika akad,

Salah seorang mitra meninggal, atau hilang akal, Modal

musyarakah hilang/habis. Apabila salah satu mitra keluar dari kemitraan baik
dengan mengundurkan diri, meninggal, atau hilang akal maka kemitraan tersebut
dikatakan berakhir.

DAFTAR PUSTAKA

16

Salman, Kautsar Riza. 2012. Akuntansi Perbankan Syariah Berbasis PSAK Syariah.
Jakarta: Akademia Permata.

17

Judul: Akuntansi Musyarakah.docx

Oleh: Jumriani Nur


Ikuti kami