Akuntansi 4

Oleh Agus Sopyan

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Akuntansi 4

1. Makro Ekonomi
Ilmu Ekonomi Makro adalah ilmu ekonomi yang mempelajari kehidupan ekonomi nasional
sebagai suatu keseluruhan. Analisis bersifat global dan tidak memperhatikan kegiatan
ekonomi yang dilakukan oleh unit-unit kecil dalam perekonomian.
Ekonomi makro atau makroekonomi adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan.
Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang memengaruhi banyak rumah tangga
(household), perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis
cara terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi
stabilitas harga tenaga kerja dan pencapaiankeseimbangan neraca yang berkesinambungan.
Ekonomi Makro, mengkaji mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat
(keseluruhan). Variabel-variabel yang juga berdampak atas beragam tindakan pemerintah
tersebut, antara lain: pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah
uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional.
Ruang lingkup kajian ekonomi makro adalah usaha masyarakat dan pemerintah dalam
mengelola faktor produksi secara efisien. Landasan kajian ekonomi makro adalah teori
Keynes Ekonomi makro memusatkan perhatian pada usaha masyarakat sebagai satu kesatuan
untuk melakukan efisiensi dalam menggunakan faktor-faktor produksi yang tersedia.
Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target
kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian
keseimbangan neraca yang berkesinambungan. Dalam makro ekonomi, kita akan membahas empat
komponen, yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga, investasi perusahaan-perusahaan,
pengeluaran konsumsi dan investasi pemerintah, dan ekspor-impor.
perspektif konvensional
Dalam ekonomi konvensional, konsumen diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh
kepuasan(utility) dalam kegiatan konsumsinya semata. Utility secara bahasa berarti berguna,
membantu atau menguntungkan. meliputi barang tahan lama dan barang tidak tahan lama. Barang
konsumsi menurut kebutuhannya, yaitu : kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan
tersier.
perspektif islam
Dalam pendekatan ekonomi islam, menurut MA Manan(1997;44) perbedaan ilmu ekonomi
konvensional dan ekonomi islam dalam hal konsumsi terletak pada cara pendekatannya dalam
memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata-mata dari
pola konsumsi konvensional.
Islam adalah agama yang ajarannya mengatur segenap prilaku manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Demikian pula dalam masalah konsumsi, Islam mengatur bagaimana manusia
dapat melakukan kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemashlahatan
hidupnya. Seluruh aturan Islam mengenai aktivitas konsumsi terdapat dalam al-Qur’an dan asSunnah. Prilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan al-Qur’an dan as-Sunnah ini akan
membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan hidupnya.
Perbandingan Perilaku dan Prinsip konsumsi antara Konvensional dan Islam
Dalam kerangka teori ekonomi konvensional, munculnya ilmu atau perilaku ekonomi
didasarkan kepada jumlah sumber daya (resource) yang terbatas dengan kebutuhan
(needs) yang tidak terbatas. Fenomena keterbatasan tersebut melahirkan suatu kondisi
yang disebut kelangkaan (scarcity). Munculnya kelangkaan mendorong berbagai

permasalahan dalam memilih (problem of choices) yang harus diselesaikan guna
mencapai suatu tujuan yang dinamakan kesejahteraan (welfare). Menurut sebuah buku
digital: Principles of economics Welfare adalah The study of how the allocation of resources affects
economic well-being diperjelas oleh Case/Fair dalam Principles of
Economics yang mengatakan bahwa kriteria penilaian pencapaian hasil ekonomi
berdasarkan kepada:
Efficiency (allocative efficiency): menghasilkan apa yang dibutuhkan masyarakat dengan
biaya yang serendah-rendahnya
Equity: fairness (keadilan)
Growth: peningkatan total output dalam perekonomian
Stability: kondisi output yang tetap atau meningkat dengan tingkat inflasi rendah dan tidak
ada sumber daya yang menganggur.
1. Prinsip Konsumsi
Alokasi Pendapatan
Dalam ekonomi konvensional tujuan konsumsi ditunjukkan oleh bagaimana konsumen
berperilaku (consumer behavior). Dalam mempelajari consumer behavior ada tiga
langkah yang dilakukan oleh ekonomi konvensional (Pyndick):
1. Mempelajari consumer preferences: mendeskripsikan bagaimana seseorang lebih memilih suatu
barang terhadap barang yang lain. Asumsi dasar dalam konsumsi Preferences are complete pilihanpilihan menyeluruh.
Preferences are transitive pilihan-pilihan bersifat konsisten A>B, B>C, maka A>C.
Consumers always prefer more of any good to less: konsumen selalu memilih sesuatu yang
banyak dibandingkan yang sedikit.
2. Mengetahui keberadaan budget constraint (keterbatasan anggaran/sumber daya).
3. Menggabungkan antara consumer preferences dan budget constraint untuk menentukan pilihan
konsumen atau dengan kata lain kombinasi barang apa saja yang akan dibeli untuk memenuhi
kepuasannya.
Telah dijelaskan dalam ekonomi konvensional, bahwa perilaku konsumsi mencakup kegiatan
kegiatan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan baik jasmani maupun rohani guna
mencukupi kelangsungan hidup. Perilaku konsumsi individu berbeda beda, perbedaan tersebut
disebabkan adanya perbedaan pendapat dan latar belakang.
Dalam perspektif ekonomi konvensional dikatakan lebih banyak selalu lebih baik. Sementara
dalam islam ada beberapa etika ketika seorang muslim berkonsumsi :
Menurut M.A. Manan :
1. Prinsip Keadilan
Berkonsumsi tidak boleh menimbulkan kedzaliman, berada dalam koridor aturan atau hokum
agama, serta menjunjung tinggi kepantasan atau kebaikan. Islam memiliki berbagai ketentuan
tentang benda ekonomi yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi.
2.

Prinsip Kebersihan
Bersih dalam arti sempit adalah bebas dari kotoran atau penyakit yang dapat merusak fisik dan
mental manusia, sementara dalam arti luas adalah bebas dari segala sesuatu yang diberkahi

Allah. Tentu saj benda yang dikonsumsi memiliki manfaat bukan kemubaziran atau
bahkan merusak.
3.

Prinsip Kesederhanaan
Sikap berlebih-lebihan (israf) sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal dari berbagai
kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna melebihi dari kebutuhan
yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya terlampau kikir sehingga
justru menyiksa diri sendiri. Islam menghendaki suatu kuantitas dan kualitas konsumsi yang wajar
bagi kebutuhan manusia sehingga tercipta pola konsumsi yang efesien dan efektif secara individual
maupun sosial.

4.

Prinsip Kemurahan hati.
Dengan mentaati ajaran Islam maka tidak ada bahaya atau dosa ketika mengkonsumsi bendabenda ekonomi yang halal yang disediakan Allah karena kemurahanNya. Selama konsumsi ini
merupakan upaya pemenuhan kebutuhan yang membawa kemanfaatan bagi kehidupan dan peran
manusia untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah maka Allah elah memberikan anugrahNya
bagi manusia.

5.

Prinsip Moralitas.
Pada akhirnya konsumsi seorang muslim secara keseluruhan harus dibingkai oleh moralitas yang
dikandung dalam Islam sehingga tidak semata – mata memenuhi segala kebutuhan.
Menurut Yusuf Qardhawi
1. Membelanjakan harta dalam kebaikan dan menjauhi sifat kikir.
Harta diberikan Allah SWT kepada manusia bukan untuk disimpan , ditimbun atau sekedar
dihitung-hitung tetapi digunakan bagi kemaslahatan manusia sendiri serta sarana beribadah kepada
Allah. Konsekuensinya, penimbunan harta dilarang keras oleh Islam dan memanfaatkannya adalah
diwajibkan.

2.

Tidak melakukan kemubadziran.
Seorang muslim senantiasa membelanjakan hartanya untuk kebutuhan-kebutuhan yang
bermanfaat dan tidak berlebihan (boros/israf). Sebagaimana seorang muslim tidak boleh memperoleh
harta haram, ia juga tidak akan membelanjakannya untuk hal yang haram. Beberapa sikap yang
harus diperhatikan adalah :

3.

Menjauhi berutang.
Setiap muslim diperintahkan untuk menyeimbangkan pendapatan dengan pengeluarannya.
Jadi sberutang sangat tidak dianjurkan, kecuali untuk keadaan yang sangat terpaksa.

b. Menjaga asset yang mapan dan pokok.
Tidak sepatutnya seorang muslim memperbanyak belanjanya dengan cara menjual asset-aset
yang mapan dan pokok, misalnya tempat tinggal. Nabi mengingatkan, jika terpaksa menjual asset
maka hasilnya hendaknya digunakan untuk membeli asset lain agar berkahnya tetap terjaga.

a. Tidak hidup mewah dan boros.
Kemewahan dan pemborosan yaitu menenggelamkan diri dalam kenikmatan dan bermegahmegahangat ditentang oleh ajaran Islam. Sikap ini selain akan merusak pribadi-pribadi manusia juga
akan merusak tatanan masyarakat. Kemewahan dan pemborosan akan menenggelamkan manusia
dalam kesibukan memenuhi nafsu birahi dan kepuasan perut sehingga seringkali melupakan norma
dan etika agama karenanya menjauhkan diri dari Allah. Kemegahan akan merusak masyarakat
karena biasanya terdapat golongan minoritas kaya yang menindas mayoritas miskin.
4.

Kesederhanaan.
Membelanjakan harta pada kuantitas dan kualitas secukupnya adalah sikap terpuji bahkan
penghematan merupakan salah satu langkah yang sangat dianjurkan pada saat krisis ekonomi
terjadi. Dalam situasi ini sikap sederhana yang dilakukan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat
luas.

Perbedaan perilaku konsumen muslim dan konsumen konvensional adalah konsumen muslim
memiliki keunggulan bahwa harta yang mereka peroleh semata mata untuk memenuhi kebutuhan
individual (materi) tetapi juga kebutuhan social (spiritual). Konsumen muslim ketika ia mendapat
penghasilan, ia menyadari bahwa ia hidup untuk mencari ridha allah, maka ia menggunakan sebagian
hartanya di jalan Allah, tidak ia habiskan untuk dirinya sendiri. Dalam islam, perilaku seorang
konsumen muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah ( hablu mina allah) dan
manusia (hablu mina annas).
Selain itu islam memandang harta bukan sebagai tujuan, tapi juga sebagai alat untuk memupuk
pahala demi tercapainya falah (kebahagiaan dunia dan akhirat). Harta merupakan pokok kehidupan
Surat An-Nisa (4) : 5, yang merupakan karunia Allah surat an-Nisa(4):32. Islam memandang segala
yang ada di bumi dan seisinya hanyalah milik Allah, sehingga apa uang dimiliki adalah amanah. Oleh
karena itu, manusia dituntut untuk menyikapi harta benda untuk mendapatkannya dengan cara yang
baik dan benar, proses yang benar, pengelolaan dan pengembangan yang benar.
Sebaliknya, dalam perspektif konvensional, harta merupakan hak pribadi, asalkan tidak
melanggar hukum atau undang undang, maka harta merupakan hak penuh pemiliknya. Sehingga
yang membedakan adalah cara pandang dalam melihat harta, islam melihat melalui flow concept
sementara konvensional melihat dengan cara stock concept.
1. J.M. Keynes
Terkenal dengan Absolut Income Theory (Teori pendapatan absolut). Keynes menyatakan
tentang hubungan pengeluaran konsumsi dengan pendapatan nasional yang diukur berdasarkan
harga konstan.
Jadi :
C=f(Yd)
C = Konsumsi
F = Fungsi
Yd = Disposible income (pendapatan yang benar-benar dapat dinikmati oleh rumah tangga).
Yd = Y – Tx + Tr

Tx = Pajak ; Tr = Transfer Payment (seperti Subsidi)
Dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa besarnya konsumsi sangat tergantung pada
besarnya pendapatan (Yd). Semakin besar pendapatan, maka semakin tinggi pula konsumsi (Yd )
dan sebaliknya.

Keynes mengatakan: Apabila pendapatan makin tinggi atau meningkat MPC tetap sedangkan
APC akan menurun. Jadi makin tinggi income, makin kecil APC.
Besarnya konsumsi adalah :
C = a + bYd atau
C = Co + bYd
a atau Co adalah konsumsi terendah. Jadi meskipun pendapatannya nol, konsumsi tetap ada sebesar
a atau Co.
b = MPC = Marginal Propensity to Consume
Yd = Disposible Income

Catatan :

C
MPC =
Y
APC = (Avarage Propensity to Consume) = C/Y
MPC + APC = 1
Besarnya MPC = 0 sampai 1 atau 0 < MPC < 1

Dalarn pendekatan model keseimbangan pendapatan nasional, zakat, infak dan
shadaqah dapat dijelaskan melalui model maslahat/kesejahteraan umat manusia yang lebih
luas. Dalam ekonomi konvensional, keseimbangan pendapatan nasional:
Y=C
Dimana Y = pendapatan dan C=konsumsi
Sedangkan dalam ekonomi islam,
Yi=Cd+Ca
dimana :
Yi = pendapatan nasional dalam ekonomi islam
Cd = konsumsi untuk kepentingan dunia
Ca = konsumsi untuk kepentingan akhirat, yang terdiri dari konsumsi zakat (Cz)
ditambah dengan konsumsi infak dan sadaqah (Cis), Ca = Cz + Cis
Sebagai contoh jika diasumsikan bahwa fungsi konsumsi C = 25 + 0,75 Y, di mana dengan
zakat sebesar 2,5 % ditambah infak dan shadaqah. sebesar 2,5 % justru akan
meningkatkan pendapatan nasional. Secara. matematis efektifitas zakat, infak dan sadaqah
dapat dibuktikan melalui persamaan keseimbangan pendapatan nasional.
a.Dalam ekonomi k.onvensional keseimbangan terjadi pada saat Y = C
Y=25 +0,75Y
Y - 0,75 Y = 25 >>>Y =100 (keseimbangan)
b. Dalam ekonomi islam, kondisi muzakki (pembayar zakat, infak dan shodaqoh)
telah memiliki tambahan pendapatan untuk mustahiq (penerima zakat yaitu orang
miskin). Dalam teori konsumsi islam terdiri dari konsumsi dunia (Cd) dan konsumsi
akhirat (Ca), Ci = Cd + Ca. Karena konsumsi akhirat (Ca = Cz + Cis), maka konsumsi

Islam menjadi:
Ci= Cd+ Cz + Cis
Cd=25 +0,75Y
Cz = 0,025 Y
Cis = 0,025Y
Dalam ekonomi islam keseimbangan terjadi Y = Cd + Ca
Cd=a+bY(1-z-is)
= 25 + 0,75 (Y —0,025Y
= 25 + 0,75 (0,95Y)
=25+0,7125Y
Ca= Cz + Cis
=0,025Y + 0,025Y
=0,05Y
Ci= 25 + 0,7125 Y + 0,05Y
= 25 + 0,7625 Y
Karenadalam konsumsi islam Y = Ci, maka:
Y = 25 + 0,7625 Y
Y = 105,26316, dimana
Cd = 25 + 0,7125 (105,26316)
=100 (muzakki)
Ca = 0,05 (105,26316)
= 5,26136 (mustahiq)
Pemisahan antara konsumsi zakat (Cz) dengan konsumsi infak dan shadaqah
dikarenakan antara. zakat dengan infak dan shadaqah memiliki perbedaan konsep dalam
pungutan dan penyalurannya. Zakat merupakan kewajiban bagi muslim yang memiliki
kekayaan yang telah mencapai nishab dan haul, sedangkan infak dan shadaqah merupakan
idle fund yang tidak terikat nishab dan haul maupun besaran jumlah persentase yang
hams disalurkan. Semakin besar infak dan shadaqah yang disalurkan, maka semakin besar
pula dampak multipliernya bagi perekonomian.
Contohnya pada tahun 1930 dunia mengalami masalah pengangguran di kalangan tenaga
kerja dan sumber daya lainnya, begitu juga tahun 1940 dunia mengalami masalah merealokasikan
sumber daya yang langka dengan cepat antara kebutuhan perang dengan kebutuhan sipil. Tahun
1950 terjadi masalah inflasi, tahun 1960 terjadi kemunduran pertumbuhan ekonomi, tahun 1970 dan
awal tahun 1980 terjadi kasus biaya energi yang meningkat (harga minyak yang meningkat sepuluh
kali dibandingkan dekade sebelumnya) (Lipsey, et. al. 1991), memasuki akhir tahun 2008 sampai
dengan saat ini krisis finansial global yang dimulai di Amerika Serikat sejak 2007 yang dipicu
macetnya kredit perumahan (subprime mortgage) juga telah menimbulkan permasalahan yang
mendunia.
Dampak yang dirasakan Indonesia antara lain karena perekonomian dunia melemah sehingga pasar
ekspor bagi produk Indonesia menjadi sangat menurun, nilai tukar rupiah terdepresiasi sehingga
hutang luar negeri pemerintah maupun swasta menjadi beban yang cukup berat. Sejarah Indonesia
dalam kurun waktu yang panjang sebagai negara jajahan bangsa asing karena alasan ekonomi
bahwa Indonesia merupakan sumber hasil bumi yang sangat penting bagi dunia juga mempelihatkan
bahwa
masalah
ekonomi
adalah
masalah
yang
penting
bagi
suatu
negara.
Dari uraian diatas, kita dapat melihat bahwa persoalan-persoalan ekonomi selalu muncul dari
penggunaan sumberdaya yang langka untuk memuaskan keinginan manusia yang tak terbatas dalam
upaya meningkatkan kualitas hidupnya. Akibat kelangkaan, maka terjadi perebutan untuk menguasai

sumberdaya yang langka tersebut. Perebutan menjadi penguasa atas sumber daya yang langka bisa
menimbulkan persengketaan antar pelaku ekonomi bahkan bisa memicu perang baik antar daerah
maupun antar negara.Permasalahan ekonomi ini perlu diatur agar pemanfaatan sumber daya yang
terbatas dapat berjalan dengan baik dengan prinsip – prinsip keadilan. Hukum ekonomi merupakan
salah satu alat untuk mengatasi berbagi persoalan tersebut.
Pasal 33 UUD 1945 ayat 2 menyebutkan bahwa negara menguasai cabang-cabang produksi
yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dan juga bumi, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya untuk dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. BUMN (Badan
Usaha Milik Negara) adalah salah satu dari pelaksanaan pasal tersebut dimana terdapat PT.
Pertamina, PT. Aneka Tambang, PT Pertani, PT Pupuk Kaltim, PT Pertani dan lain-lain. Dalam era
privatisasi yang pada mulanya dilakukan untuk efisiensi dan terbukanya modal asing yang masuk ke
Indonesia perlu diwaspadai agar jangan sampai cabang- cabang produksi yang penting dan
kekayaan alam yang ada di Indonesia menjadi milik asing dan hanya memperoleh sedikit keuntungan
atau royalti dan jangan sampai Indonesia hanya sebagai penonton di negeri sendiri. Peranan hukum
disini adalah untuk melindungi kepentingan negara perlu dibuat agar dapat terwujud bangsa yang
sejahtera
dan
menjadi
tuan
di
negeri
sendiri.
Hukum Ekonomi Indonesia juga harus mampu memegang amanat UUD 1945 (amandemen) pasal 27
ayat (2) yang berisi : “Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan”. Negara juga memiliki kewajiban untuk mensejahteraan rakyatnya, sehingga
perekonomian harus dapat mensejahterakan seluruh rakyat, sementara fakir miskin dan anak yang
terlantar juga perlu dipelihara oleh Negara. Negara perlu membuat iklim yang kondusif bagi usaha
dan bagi masyarakat yang tidak mampu dapat diberdayakan. Sementara yang memang tidak dapat
berdaya seperti orang sakit, cacat perlu diberi jaminan sosial (Pasal 34 UUD 1945). Tugas negara ini
dalam kondisi sekarang tidaklah mudah dimana kemampuan keuangan pemerintah sendiri juga
terbatas. Konsep perekonomian yang baik perlu dilaksanakan.

Tujuan Ekonomi Makro
Tujuan yang ingin dicapai dalam bidang ekonomi adalah mencapai tingkat kesejahteraan
yang sebesar-besarnya dalam segala aspek kehidupan dengan mendapat ridha Allah SWT.
Setiap kebijakan ekonomi bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang
dihadapi. Tujuan ilmu ekonomi makro adalah untuk memahami peristiwa ekonomi dan untuk
memperbaiki kebijakan ekonomi. Tujuan Akhir Ekonomi Makro menurut Thomas (1997:448) ada
empat variabel ekonomi makro. Inilah yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia
secara keseluruhan, sehingga prilakunya perlu diamati dan dikendalikan.

Ilmu ekonomi makro

mempelajari variabel-variabel secara keseluruhan

(agregat). Variable yang dipelajari antara lain pendapatan nasional,kesempatan kerja
atau

pengangguran,

jumlah

uang

yang

beredar,

laju

perekonomian, investasi, dan neraca pembayaran internasional.

inflasi,pertumbuhan

Judul: Akuntansi 4

Oleh: Agus Sopyan


Ikuti kami