Makalah Akuntansi Keperilakuan "filosofi Riset Dalam Bidang Akuntansi Keperilakuan"

Oleh Namira Aninda

24 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Akuntansi Keperilakuan "filosofi Riset Dalam Bidang Akuntansi Keperilakuan"

MAKALAH AKUNTANSI KEPERILAKUAN
“FILOSOFI RISET DALAM BIDANG AKUNTANSI
KEPERILAKUAN”

Dosen Pengampu : Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si

Disusun Oleh :
Namira Putri Aninda (C1C018098)
R-10 AKUNTANSI 2018

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI TAHUN AJARAN 2020/2021

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayahNya, terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami bisa
menyelesaikan makalah mata kuliah “Akuntansi Keperilakuan”. Shalawat serta
salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah
memberikan pedoman hidup yaitu Al-Qur’an serta sunnah untuk keselamatan
umatnya di dunia ini.
Makalah ini dibuat karena merupakan salah satu tugas mata kuliah
Akuntansi Keperilakuan di program studi Akuntansi pada Universitas Jambi.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang kepada Bapak Wirmie Eka
Putra, S.E., M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Akuntansi Keperilakuan dan
kepada segenap pihak yang sudah memberikan bimbingan serta arahan selama
proses penulisan makalah ini.
Penulis menyadari jika terdapat banyak kekurangan didalam penulisan
makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan sebuah kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jambi,06 Oktober 2020

Penulis

i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………...…………………………………………….…. i
Daftar Isi …………………………………………………………………….... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……….………………………………………………….. 1
B. Rumusan Masalah ….……………………………………………………. 1
C. Tujuan Masalah …………………………………………….……………. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pergeseran Arah Riset ...................................…………………………… 2
B. Filosofi Paradigma Metodologi Riset........................................................2
C. Berbagai Paradigma Metodologi Riset.......................................................3
D. Peluang Riset Akutansi Keperilakuan Pada Lingkungan Akuntansi...........9
E. Pertumbuhan riset akuntansi ....................................................................11
F. Perkembangan Riset Akuntansi Keperilakuan .........................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………………….. 13
B. Saran ……………………………………………………………………… 13
Daftar Pustaka ........................................................................................ 14

ii

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perkembangan riset akutansi Indonesia di bidang keperilakuan masih merupakan hal yang relatif
baru dibandingkan dengan riset akutansi lainnya. Misalnya, bila dibandingkan dengan penelitian
di bidang akutansi keuangan, dengan topik penelitian pada kemampuan rasio-rasio keuangan
memprediksi harga saham, kebangkrutan, dan lain-lain maka riset akutansi di bidang
keperilakuan masih dapat dikatakan tertinggal (Kuang dan Tin, 2010). Akutansi keperilakuan
adalah cabang akutansi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem
akutansi (Hudayati, 2002).
Saat ini, kurikulum nasional sudah memasukkan mata kuliah Akutansi Keperilakuan sebagai
mata kuliah pilihan. Sebagai konsekuensinya, diperlukan sumber daya (akuntan) yang siap untuk
mengembangkan dan mengajarkan mata kuliah tersebut. Pengembangan bidang akutansi
keperilakuan tentu saja sangat tergantung pada hasil-hasil penelitian yang dilakukan. Penelitian
dapat dilakukan untuk suatu ide yang baru maupun melanjutkan penelitian sebelumnya untuk
memperkuat atau menantang hasil penelitian terakhir. Oleh karena itu informasi, mengenai arah
perkembangan riset di bidang akutansi keperilakuan menjadi sangat berguna bagi para akutan
yang tertarik melakukan penelitian di bidang ini (Kuang dan Tin, 2010).
Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, teori-teori akutansi keperilakuan dikembangkan dari
penelitian empiris atas perilaku manusia di organisasi. Dengan demikian, peranan penelitian
dalam pengembangan ilmu itu sendiri sudah tidak diragukan lagi. Ruang lingkup penelitian di
bidang akutansi keperilakuan sangat luas sekali, tidak hanya meliputi bidang akutansi
manajemen saja, tetapi juga menyangkut penelitian di bidang etika, auditing, sistem informasi
akutansi bahkan juga akutansi keuangan (Hudayati, 2002)
Rumusan Masalah
1. Bagaimana terjadinya pergeseran pendekatan dalam riset akuntansi?
2. Apa saja asumsi – asumsi yang berdasarkan filosofi paradigma metodologi riset?
3. Apakah Paradima strukturalisme radikal mempunyai kesamaan dengan fungsionalis?

Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui asumsi – asumsi apa saja yang berdasarkan filosofi paradigma
metodologi riset
2. Untuk mengetahui persamaan antara paradigma strukturalisme dengan fungsionalis
3. Untuk mengetahui bagaimana Paradigma akuntansi kritis dipandang melalui refleksi dari
ilmu sosial kritis
1

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pergeseran Arah Riset

Pendekatan klasikal lebih menitikberatkan pada pemikiran normatif yang mengalami
kejayaannya pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an terjadi pergeseran pendekatan dalam riset
akutansi. Alasan yang mendasari pergeseran ini adalah pendekatan normatif yang telah berjaya
selama satu dekade ini tidak dapat menghasilkan teori akutansi yang siap digunakan dalam
praktik sehari-hari. Alasan kedua yang mendasari usaha pemahaman akutansi secara empiris dan
mendalam adalah “gerakan” dari masyarakat peneliti akutansi yang menitikberatkan pada
pendekatan ekonomi dan perilaku.
Rochester dan Chicago mengembangkan teori akutansi positif yang menjelaskan mengapa
akutansi itu ada, apa yang dimaksud dengan akutansi, mengapa akutan melakukan apa yang
mereka lakukan, serta apa pengaruh fenomena ini terhadap manusia dan penggunaan sumber
daya. Pendekatan normatif maupun positif masih mendominasi riset akutansi hingga saat ini.
Hampir semua artikel yang terbit di jurnal The Accounting Review maupun Journal of
Accounting Research dan Journal of Business Research menggunakan pendekatan utama degan
ciri khas model matematis dan penggunjian hipotesis.
B.

Filosofi Paradigma Metodologi Riset

Suatu pengetahuan (knowledge) dibangun berdasarkan asumsi-asumsi filosofis tertentu. menurut
Burrel dan Morgan (1979), asumsi-asumsi tersebut adalah ontologi (ontology), epistemologi
(epistemology), hakikat manusia (human nature), dan metodologi (methodology). Ontologi
berhubungan dengan haikat atau sifat dari realitas atau objek yang akan diinvestigasi.
Epistemologi berhubungan dengan sifat ilmu pengetahuan, bentuk ilmu pengetahuan tersebut,
serta cara mendapatkan dan menyebarkannya. Epistemologi ini memberikan perhatian pada cara
menyerap dan mengomunikasikan ilmu pengetahuan. Pendekatan subjektivisme (anti-positivism)
memberikan penekanan bahwa pengetahuan bersifat sangat subjektif dan spiritual atau
transendental yang didasarkan pada pengalaman dan pandangan manusia. Hal ini sangat berbeda
dengan pebdekatan objektivisme (positivism) yang berpandangan bahwa pengetahuan itu berada
dalam bentuk yang tidak berwujud (intangible). Asumsi mengenai sifat manusia merujuk pada
hubungan antara manusia dengan lingkungannya.
Burrel dan Morgan memandang bahwa filsafat ilmu harus mampu melihat keterkaitan antara
kehidupan manusia dengan lingkungannya. Pendekatan voluntarisme (voluntarism) memberikan
penekanan pada esensi bahwa manusia berada di dunia ini untuk memecahkan fenomena sosial
sebagai makhluk yang memiliki kehendak dan pilihan bebas (free will and choice). Manusia
pada sisi ini dilihat sebagai pencipta dan mempunyai perspektif untuk menciptakan fenomena
sosial dengan daya kreativitasnya. Sebaliknya, pendekatan determinisme memandang bahwa
manusia dan aktivitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan tempat dia berada. Asumsiasumsi tersebut berpengaruh terhadap metodologi yang akan digunakan. Metodologi dipahami
sebagai suatu cara menentukan teknik yang tepat untuk memperoleh pengetahuan. Pendekatan
ideografik yang mempunyai unsur utama subjektivisme menjadi landasan pandangan bahwa
seseorang akan dapat memahami dunia sosial (social world) dan fenomena yang diinvestigasi,
2

apabila ia dapat memperolehnya atas dasar pengetahuan pihak pertama (first hand knowledge).
Sebaliknya, pendekatan nomotetik (nomotethic) mempunyai sistem baku dalam melakukan
penyelidikan yang biasanya disebit sistem protokol dan teknik.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Burrel dan Morgan (1979) mengelompokkan
pengetahuan dalam tiga paradigma, yaitu fungsionalis interpretif (functionalist interpretive),
radika humanis (radical humanist), dan radikal strukturalis (radical structuralists). Akuntansi
sebagai pengetahuan manusia juga dapat dipandang menurut paradigma-paradigma tersebut.
Dillard dan Becker (1997) mengembangkan paradigma tersebut dalam kaitannya dengan riset
akuntansi, khususnya akuntansi keperilakuan. Pembahasan ini menekankan pada paradifma yang
telah dikembangkan oleh Dillard dan Becker dalam mengembangkan kerangka paradigma Burrel
dan Morgan yang diilhami oleh artikel Birnberg dan Shields (1989) dalam “Three Decades of
Behavioral Accounting Research: Search for Order” yang mengidentifikasikan sosiologi
keorganisasian sebagai salah satu alternatif dengan paradigma berbeda dan memberikan
beberapa argumentasi teoritis serta riset empiris dari akuntansi keperilakuan yang berhubungan
dengan setiap paradigma tersebut. selain itu, artikel tersebut juga membahas mengenai
paradigma posmodernisme (postmodernism) sebagi salah satub aliran yang menjadi salah satu
alternatif., tetapi tidak dapat dimasukkan sebagai salah satu paradigma Burrel dan Morgan.
C.

Berbagai Paradigma Metodologi Riset

1.

Paradigma Fungsional

Paradigma fungsionalis sering disebut fungsionalis struktural (structural fungsionalist) atau
kontinjensi rasional (rational contigency). Paradigma ini merupakan paradigma yang umum dan dominan
digunakan dalam riset akuntansi dibandingkan dengan paradigma lain sehingga diserbut paradigma utama
(mainstream paradigm). Secara ontologi, paradigma utama sangat dipengaruhi oleh realitas fisik yang
menganggap bahwa realitas objektif berada secara bebas dan terpisah di luar diri manusia. Realitas
diukur, dianalisis, dan digambarkan secara objektif, sehingga konsekuensinya adalah jarak antara objek
dan subjek (Lubis, 2014:129).
Pemahaman tentang realitas akan mempengaruhi cara pemerolehan ilmu pengetahuan yang benar. Secara
epistemologi, akuntansi utama melihat realitas sebagai realitas materi yang mempunyai suatu keyakinan
bahwa ilmu pengetahuan akuntansi dapat dibangun dengan rasio dan dunia empiris. Berdasarkan
keyakinan tersebut, peneliti akuntansi utama sangat yakin bahwa satu-satunya metode yang dapat
digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan akuntansi adalah metode ilmiah. Suatu penjelasan
dikatakan ilmiah apabila memenuhi tiga komponen dibawah ini:
a. Memasukkan satu atau lebih prinsip-prinsip atau hukum umum.
b. Mengandung prakondisi yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan hasil
observasi.
c. Memiliki satu pernyataan yang menggambarkan sesuatu yang dijelaskan.
Pengujian empirirs dalam filsafat dinyatakan dengan dua cara, yaitu:
3

a.Dalam aliran positivis dan sepernagkat pernyataan hasil observasi independen yang digunakan untuk
membenarkan atau memverifikasi kebenaran teori (pendekatan hypothetico deductive)
b.Dalam pandangan Popperian, karena pernyataan hasil observasi merupakan teroi yang dependen dan
dapat dipalsukan (falsible), maka teori-teori ilmiah tidak dapat dibuktikan kebenarannya, tetapi
memungkinkan untuk ditolak.
Metodologi riset yang digunakan oleh para fungsionalis mengikuti metodologi yang digunakan
dalam ilmu alam. Penganut aliran ini melakukan deskripsi atas variable, membangun dan menyatakan
hipotesis, mengumpulkan data kuantitatif, serta melakukan analisis secara statistika. Beberapa riset
empiris dalam akuntansi keperilakuan yang menggunakan pendekatan paradigma fungsionalis ini
(menggunakan pengumpulan data survei atau kuisioner dan analisis statistik) yang dijelaskan oleh Dillard
dan Becker dengan masalah risetnya (Lubis, 2014:130).
Beberapa kelemahan metodologi fungsionalis dalam riset akuntansi keperilakuan mulai dirasakan
oleh para peneliti. Mereka mulai mempertanyakan apakah pandagan ontologi realitas fisik adalah tepat
untuk memahami fenomena sosial. Pemikiran akuntansi utama tidak memberikan perhatian pada
perdebatan filosofi antara pemikiran Popper, Lakatos, Kuhn dan Feyerbend.Masalah lain yang timbul dari
pemikiran akuntansi utama adalah pernyataan dari peneliti akuntansi tentang relevansi filosofi ilmu
pengetahuan alam (natural science) sebagai dasar metodologi riset akuntansi yang seharusnya lebih
benyak mendekati ilmu sosial. Kelemahan metode utama tersebut menyebabkan para pemikir akuntansi
mulai mencari metode-metode lain atau metode alternatif yang dapat secara tepat digunakan dalam
memecahkan masalah sosial (Lubis, 2014:131).
2. Paradigma Interpretif
Paradigma ini juga disebut interaksionis subjektif (subjective interactionist). Pendekatan
alternatif ini berasal dari filsuf Jerman yang menitikberatkan pada peranan bahasa, interpretasi dan
pemahaman dalam ilmu sosial. Menurut Barrel dan Morgan, paradigma ini menggunakan cara pandang
para nominalis yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya merupakan label, nama atau
konsep yang digunkan untuk membangun realitas. Hal itu bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan
hanyalah penamaan atas sesuatu yang diciptakan oleh manusia atau merupakan produk manusia itu
sendiri. dengan demikian, realitas sosial merupakan sesuatu yang berada dalam diri manusia itu sendiri
sehingga bersifat subjektif, bukan objektif sebagaimana yang dipahami oleh paradigma fungsionalis.
Pendekatan ini bersifat pada subjektif dunia sosial dan berusaha memahami kerangka berpikir objek yang
sedang dipelajarinya. Fokusnya ada pada diri individu dan persepsi manusia terhadap realitas, bukan pada
realitas independen di luar mereka. Paradigma interpretif tidak menggunakan ilmu pengetahuan untuk
menjelaskan (to explain) dan memprediksi (to predict), tetapi untuk memahami (to understand) (Lubis,
2014:132).
Berkaitan dengan sistem pengendalian dan akuntansi manajemen, terdapat dua perbedaan antar
paradigma fungsioanlis dengan interpretif, yaitu:
a. Paradigma interpretif tidak hanya memusatkan perhatian pada cara membuat perusahaan berjalan
dengan baik, tetapi juga cara menghasilkan pemahaman yang luas dan mendalam mengenai cara

manager dan karyawan dalam organisasi memahami akuntansi, berpikir tentang akuntansi dan
berintraksi dan menggunakan akuntansi.
4
b.
Para interaksionis tidak percaya pada keberadaan realitas organiasi yang tungal dan konkret,
melainkan pada situasi yang ditafsirkan organisasi dengan caranya masing-masing. Hal yang lebih
penting adalah pemahamn mereka menjadi nyata karena mereka bertindak untuk suatu peristiwa dan
situasi atas dasar makna pribadinya.
Paradigma interpretif memasukan aliran etnometodologi (ethonemethodology) dan interaksionisme
simbolis fenomenologis (phenomenological symbolic interactionism) yang didasarkan pada aliran
sosiologis, hermenetis dan fenomonologis. Tujuan pendekatan interpretif adalah menganalisis reaitas
sosial dan cara realitas sosial tersebut terbentuk. Berikut dua aliran riset dengan pendekatan interpretif:
a.
Tradisional, yang menekankan pada penggunaan studi kasus, wawancara lapangan dan analisis
historis.
b.
Metode foucauldian, yang menganut teori sosial dari Michael Foucalt sebagai pengganti konsep
trasioanal historis yang disebut “ahistorical” atau “antiquarian” (Lubis, 2014:132).
3. Paradigma Strukturalisme Radikal
Paradima strukturalisme radikal mempunyai kesamaan dengan fungsionalis, yang mengasumsikan bahwa
sistem sosial mempunyai keberadaan ontologis yang konkret dan nyata. Pendekatan ini berfokus pada
konflik mendasar sebagai dasar dari produk hubungan kelas dan struktur pengendalian, serta
memperlakukan dunia sosial sebagai objek eksternal dan memiliki hubungan terpisah dari manusia
tertentu (Lubis, 2014:132).
Riset-riset yang diklasifikasikan dalam paradigma strukturalisme radikal (radical structuralism) adalah
riset yang didasarkan pada teori Marxisme tradisional. Argumnetasi teori yang dikemukakan oleh Coper
(1983) menelaah dan mengkritik karya-karya yang didasakan pada teori agensi. Dia mengusulkan adanya
penggunaan perspektif radikal dalam riset akuntansi manajemen. Cooper dan Sherer (1984) mengusulkan
suatu ekonomi politik akuntansi untuk pemahaman lingkungan ekonomi, sosial dan politik dalam
lingkungan dimana akuntansi digunakan (Lubis, 2014:133).
4.

Paradigma Humanis Radikal

Jika didasakan pada teori kritis dari Frankurt Schools dan Habermas, riset-riset akan dikasifikasikan
dalam paradigma humanis radikal (radical humanist). Pendekatan kritis Habermas melihat objek studi
sebagai suatu interaksi sosial yang disebut “dunia kehidupan” (life world), yang berarti interaksi
berdasarkan pada kepentingan kebutuhan yang melekat dalam diri manusia dan membantu untuk
pencapaian yang saling memahami. Interaksi sosial dalam dunia kehidupan dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu:
a.
Interaksi yang mengikuti kebutuhan sosial alami, misalnya kebutuhan akan sistem informasi
manajemen.

b.
Interaksi yang dipengaruhi oleh mekanismen sistem, misalnya pemilihan sistem yang akan dipakai
atau konsultan yang diminta untuk merancang sisitem bukan merupakan interaksi sosial yang alami
karena sudah mempertimbangkan berbagai kepentingan.
5
Macintosh menyatakan humanis radikal memiliki visi praktik akuntansi manajemen dan sistem
pengendalian yang berorientasi pada orang (people-oriented), yang mengutamakan idealisme humanistik
dan nilai-nilai dibandingkan dengan tujuan organisasi. Argumentasi teoritis dalam paradigma humanis
radikal dikemukakan oleh Laughin (1987), yang menyajikan suatu diskusi dari aplikasi teori
kritis Habermas dalam riset akuntansi. Laughin menunjukan teori kritis Habernas akan sangat berguna
dalam meneliti “saling keterkaitan” (interrelationship) antara teknologi akuntansi dengan asal mula
sosialnya. Roset akuntansi yang mengguankanpendekatan ini antara lain, Broadbent et al (1991) yang
mneunjukan kerangka Hibermasian dalam menganalisis aplikasi akuntansi pada industri pelayanan
kesehatan di AS. Mereka menemukan bahwa walaupun akuntansi tidak diterima secara penuh sebagai
teknologi manajemen dalam sektor pelayanan kesehatan, tetapi akuntansi mempengaruhi tindakan dengan
cara memberikan arti atau makna dalam suatu dilema moral di sekitar alokasi sumber daya pelayanan
kesehatan. (Lubis, 2014:133).
5. Paradigma Posmodernisme
Posmodernisme menyajikan suatu wacana yang sedang muncul yang meletakan dirinya diluar paradigma
modern, bahkan dapat dikatakan bahwa paradigma posmodernisme merupakan opsisi dari paradigma
modern. Beberapa pemikir posmodernisme meliputi Baudrillad, Jacues Derrida, Latorur dan Michael
Foucault. Namun karya yang paling banyak digunakan sebagai dasar aliran posmodernisme adalah karya
Derrida dan Foucalut. Foucoult terkenal dengan metode arkeologis (archeological) dan geonalogis
(genealogical). Menurut Foucault, istilah arkeologis dimaksudkan untuk mencari asal-usul pengetahuan
dan digunakan untuk menunjukan suatu usaha arkeologis, yaitu ciri khas pemikiran yang menyangkut
tujuan, metode dan bidang penerapan. Foucault melakukan studi tentang periode-periode sejarah
pemikiran untuk menemukan epistemologi yang mendasari disiplin ilmu tertentu dan ciri pengetahuan
yang menentukan di setiap periode (Lubis, 2014:134).
Tujuan metode arkeologis adalah menetapkan serangkaian diskusi yaitu sistem wacana, serta menentukan
suatu rangkaian dari awal sampai akhir bagi pemikiran Foucault. Wacana global dan universal yang
dibentuk oleh paradigma modern merupakan bentuk logosentrisme yang memiliki kuasa yang dapat
menciptakan kegagalan dalam kehidupan manusia, serta menyebabkan timbulnya rasisme, diskriminasi,
pengangguran dan stagnasi. Dengan metode genealogis, Foucoult melakukan kritik terhadap pengetahuan
yang tertindas oleh pengetahuan yang berkuasa. Kegagalan ini merupakan konsekuensi logis dari
ketidakmampuan modernisme untuk melihat manusia secara utuh. Hal itu tercermin dalam pandangan
keilmuan yang cenderung logosentrisme. Berikut ciri utama logosentrisme.
a. Pola pikir oposisi biner (dualistik dikotomis) yang hierarkis, seperti esensi-eksistensi, bahasa lisantulisan, konsep metafora, jiwa-badan, makna-bentuk.

b. Aspek keilmuan. Ilmu-ilmu positif produk modernisme banyak menekankan pada aspek praktis dan
fungsi, dan sebaliknya melecehkan aspek nilai (etika). Hal ini terlihat dari pernyataan ilmu0ilmu positif
yang mengklim bahwa ilmu pengetahuan harus netral dan bebas darri nilai.
c. Aspek praktis, yaitu bentuk standar dan praktik akuntansi yang mengklaim bahwa praktik akuntansi
harus berlaku secara univerrsal atau internasional. Klaim ini diwujudkan dalam gerakan yang disebut
harmonisasi akuntansi (harmonization of accounting).
6
Bagi pemikiran Foucoult, wacana global dan universal tersebut memiliki hubungan timbal-balik antara
kuasa dan pengetahuan.Foucault beranggapan bahwa kuasa tidak hanya terpusat dan terkonsentrasi pada
para penguasa yang sedang berkuasa dalam organisai-organisasi formal, tetapi juga pada semua aspek
kehidupan masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan (knowledge). Postmodernisme versi Foucault
diartikulasikan dalam bentuk kekuasaan pengetahuan yang secara jelas mengatakan bahwa terdapat
hubungan timbal balik antara kuasa dan pengetahuan (Lubis, 2014:135).
Dillard dan Becker membahas mengenai beberapa argumentasi teoritis dan beberapa riset akuntansi yang
didasarkan pada teori Foucault, diantaranya Hopwood (1987) yang megembangkan suatu arkeologi
sistem akuntansi dengan pemahaman yang lebih baik dengan proses perubahan akuntansi, yaitu arkeologi
foucaldian dapat menghasilkan berbagai macam faktor sosial yang direplikasikan dalam perubahan
akuntansi. Analisis Loft (1986) mengindikasikan bahwa akuntansi merupakan suatu aktivitas sosial yang
secara fundamental dan tidak dapat digambarkan maknanya hanya dari perspektif teknis. Miller dan
Oarley (1987) dalam makalah seminarnya menggunakan metode arkeologi penganggaran dan sistem
penentuan harga pokok standar.
6. Paradigma Akuntansi Kritis
Paradigma akuntansi kritis dipandang melalui refleksi dari ilmu sosial kritis. Paradigma ini dikemukakan
pertama kali oleh Mattessich (1964) melalui sebuah derivatif filosofi fungsionalis dalam sistem ekonomi
kapitalis. Karena itu, teori ini tidak berkaitan dengan penyelesaian masalah keterasingan, melainkan
dengan proses teknis penilaian, dimana penilaian didefinisikan sebagai nilai objektif yang didasarkan
pada konsep ekonomi margin alis (Lubis, 2014:135).
Berdasarkan perspektif akuntansi tradisional tidak ada kesadaran tentang kesalahan, krisis, atau aksi
transformatif; tidak ada pengakuan terhadap kebaikan sosial, kecuali dalam keyakinan yang samar dan
terdistorsi. Semuanya bisa dipenuhi dengan baik oleh perulangan sistem kapitalis. Matessich
menghendaki akuntansi dipadukan dalam bidang ilmu manajemen, yang meliputi metode ekonomi dan
analitis dari adminstrasi dan manajemen entitas (Lubis, 2014:135).
Transaksi ekonomi merupakan fenomena empiris dalam lingkup positif da merepresentasikan komponen
mendasar dari akuntansi. Karakteristik pertimbangan ini terkait dengan perubahan objek ekonomi.
“Asumsi dasar” didefinisikan sebagai hipotesis yang memiliki kemungkinan untuk mengambil banyak
nilai, didasarkan pada situasi spesifik yang dipertimbangkan. “Asumsi” ini adalah “aturan” teknis untuk
menjalankan sistem dengan sepuluh asumsi dasar pertama. Penilaian disini berkaitan dengan nilai yang
diberikan pada sebuah transaksi akuntansi. Realisasi disini menunjukan kapan nilai bisa ditetapkan.
Klasifikasi ini berkaitan dengan transaksi yang bisa ditetapkan dalam sistem. Durasi berkaitan dengan
panjang “periode akuntansi”. Eksistensi merupakan kemampuan mengonsolidasikan sistem. Materaialitas

berkaitan dengan “jika dan kapan” suatu transaksi dijalankan. Sementara alokasi berhubungan dengan
dekomposisi entitas menjadi subentitas (Lubis, 2014:136).
Kerangka Mattesich berfokus pada penilaian dan tidak mengandung dasar untuk mengkritik tatanan
ekonomi, sosial, atau politik. Sistem ekonomi dipandang berdaulat dan peran akuntansi dalam hal ini
adalah untuk memahami dan mengakomodasi sistem yang ada. Secara implisit, hal ini mengasumsikan
bahwateknologi bebas darri konteks yang berkaitan dengan masalah moral atau erika.
7
Teknologi mencerminkan sebuah realita, selain dari pengaruh politik dan budaya (Lubis,
2014:137).Namun, Mattesich mempunyai pandangan yang agak sempit terhadap dogma dan tidak kreatif
dalam menspesifikasikan skala nilai. Solusi ini didasarkan pada teknologi dengan asumsi filosifi dasar
yang sama. Kesempitan ontologi dan epistemologi ini tidak menghilang begitu saja (Lubis, 2014:137).
Teori Mattesich mencerminkan sosioekonomi yang ada sehingga menjadi sarana untuk mengulangi
kesadaran yang salah dalam menyatakan bahwa tidak ada perspektif lain selain yang didominasi oleh
kapitalis. Krisis, pendidikan dan tindakan transformatif bukanlah bagian dari perspektif fungsionalis.
Fakta menunjukan bahwa ketiganya masih terhambat oleh teori aksiomatis dari akuntasi. Dengan
mengetahui ladasan fungsionalis dan asumsi filosofi yang mengikutinya, suatu teori dapat ditempatkan
berkaitan dengan potensi emansipasi atau kurangnya potensi tersebut.
Akuntansi kritis merupakan bagian dari teori akuntansi yang memandang bahwa akuntansi memiliki
peran yang sangat penting dalam mempertimbangkan dan memutuskan konflik antara perusahaan dan
konstituen sosial, seperti tenaga kerja, para pelanggan dan publik. Hal ini berkaitan langsung dengan
peran kegiatan sosial dari akuntan. Akuntansi kritis merupakan penggabungan dua atau lebih area
akuntasi yang berkembang pada tahun 1960-an dan meliputi akuntansi kepentingan publik dan akuntansi
sosial.
Akuntansi kepentingan publik berkaitan dengan pekerjaan bebas pajakdan penasihat keuangan bagi
individu-individu, kelompok-kelompok dan perusahaan kecil yang tidak mampu membayar untuk jasa ini.
Akuntansi sosial yang disinggung berusaha mengukur laporan laba rugi perusahaan dengan
memperhitungkan biaya eksternal seperti biaya polusi yang merupaka kerugian bagi masyarakat, tetapi
tanpa pembebanan kepada pihak yang menghasut.
Akuntansi kritis lebih luas dibandingkan dengan akuntansi kepentingan publik dan akuntansi sosial. Niat
para peneliti akuntansi kritis adalah untuk bergerak dari akuntansi kepentingan publik dan akuntansi
sosial ke kepentingan riset akuntansi utama dengan mengadopsi “...suatu konflik berdasarkan
perspektif...”
Akuntansi kritis berbeda dengan seluruh riset akuntansi di seluruh area riset lainnya sebagaimana
didiskusikan sebelumnya. Arah riset sebelumnya diasumsikan sebagai sesuatu yang jelas bagi para
peneliti dan bidang investigasinya. Sebagai contoh, para peneliti akuntansi positif dan para ilmuan
keperilakuan percaya bahwa mereka mealporkan secara sederhana berdasarkan perilaku dan subjek yang
mereak uji. Walaupun diungkapkan secara terus terang oleh para peneliti normatif, sebagaimana dalam
aliran model keputusan, penelitian melibatkan suatu realitas yang independen dari peneliti itu sendiri.
Dengan demikian, penemuan mereka dilibatkan dengan berbagai cara untuk dilaporkan berdasarkan

operasi dan keseharian dari bisnis dan entitas lainnya. Para peneliti akuantansi kritis meskipun yakin pada
realitas dalam pandangan dan penyelidikan, mereka juga membantu membentuk realitas.

8
D.

Peluang Riset Akutansi Keperilakuan Pada Lingkungan Akutansi

Dengan menelaah riset akuntansi keperilakuan sebelumnya secara khusus, dapat diperoleh suatu kerangka
analisis dan diskusi yang dibatasi pada peluang, terutama pada hasil potensi subbidang dan implikasinya
untuk subbidang akuntansi yang lain.
1.

Audit

Penjelasan dari ini berorientasi pada pembuatan keputusan dalam audit, dan telah memfokuskan riset
terakhir pada penilaian dan pembuatan keputusan auditor, seperti perbedaan penggunaan laporan audit
dan meningkatkan perkembangan yang berorientasi kognitif. Secara persuasif, Libby dan Federick (1990)
menjelaskan pentingnya pemahaman mengenai bagaimana variabel-variabel psikologi, seperti
pembelajaran, pengetahuan faktual dan persedual, serta pengaruh memori dalam pembuatan keputusan.
Pencerminan dari riset terakhir dan riset mendatang fokus terhadap:
a.
Karakteristik pengetahuan yag dihubungkan dengan pengalaman (yang meliputi bagaimana
pengetahuan itu diperoleh)
b.

Pengujian atas bagaimana pengetahuan berinteraksi degan variabel organisasional atau lingkungan.

c.

Pengujian pengaruh kinerja terhadap pengetahuan yang berbeda.

Pengalaman berperan penting dalam orientasi kognitif riset akutansi keperilakuan. Ada dua alasan untuk
hal ini, yaitu:
a.

Pengalaman merupakan ekspektasi yang berhubungan dengan keahlian kerja.

b.
Manipulasi sebagai suatu variabel independen telah menajadi efektif dalam mengidentifikasikan
domain karakteristik dari pengetahuan spesifik.
Riset audit menyarankan suatu hubungan yang kompleks antara pengelaman dan kinerja yang belum
dpahami dengan baik. Riset ini menyarankan bahwa terhadap suatu peluag yang berhubungan degan
pemahaman dan evaluasi hasil keputusan audit. Salah satu kesulitasn dengan riset yang berorientasi pada
keputusan dalam audit adalah kurangnya kriteria variabel yang dapat diamati terhadap penilaian kinerja
auditor sehingga peneliti sering melakukan studi atas konsensus penilaian dan konsistensi. Variabel
kriteria tersebut anatara lain, generally accepted accounting prinsiples (GAAP) dan generally accepted
accounting standards (GAAS).

2.

Akutansi Keuangan

Pentingnya riset akutansi keuangan yang berbasis pasar modal dibandingkan dengan audit menunjukkan
kurang kuatnya permintaan ekternal terhadap riset akutansi keperilakuan dalam bidang keuangan. Hal itu
dijadikan alasan untuk tidak melakukan diskusi yang lebih lanjut oleh sebagian besar kantor akutan
publik. Karena pemakai informasi keuangan membuat keputusan individuan dan dalam kelompokkelompok kecil, riset akutansi keperilakuan dapat membuat suatu kontribusi penting pada bidang ini.
Alasan riset akutansi keperilakuan dalam bidang keuangan mungkin memberikan kontribusi yang lebih
besar di masa mendatang.
9
a.
Riset pasar modal saat ini adalah konsisten dengan beberapa komponen pasar modal dengan
ekspektasi naif.
b.
Alasan riset akutansi keperilakuan dalam bidang keuangan berpotensi memberikan kontribusi yang
besar berhubungan dengan keuntungan dari riset akutansi keperilakuan dalam bidang audit.
Dua alasan dari riset akutansi keperilakuan dalam bidang keuanga di atas telah mampu memberikan
kontribusi yang lebih besar karena keunggulannya yang melebihi riset akutansi keperilakuan dalam audit.
a.
Terdapat jumlah tugas dari informasi akutansi keuangan yang merupakan input langsung untuk
keputusan pinjaman bank, negosiasi kontrak tenaga kerja, prediksi laba, dan rekomendasi saham.
Konsekuensinya, akutansi keuangan mempertimbangkan lingkup pengujian kemampuan generalisasi dari
pengaruh variebel perilaku, seperti variabel psikologi sebagai struktur kognitif dan kemampuan
“pemecahan masalah” dengan variabel lingkungan, seperti insentif dan ketidakpastian melalui konteks
keputusan berdasarkan pengetahuan.
b.
Keuntungan riset akutansi keperilakuan dalam bidang keuangan meliputi beberapa tugas seperti
prediksi laba yang telah definisikan dengan baik dan mempunyai sifat berulang. Hal ini merupakan
kerugian yang relatif dalam audit, di mana tugas-tugas audit yang jarang dilakukan auditor dapat
menimbulkan kesulitan untuk mempelajari hubungan antara pengalaman audit dan kinerja.
3.

Akutansi Manajemen

Pada awalnya, analisis ini menunjukkan bahwa riset akutansi keperilakuan dalam bidang akutansi
manajemen merupakan pertimbangan yang lebih luas dibandingkan dengan riset yang sama dalam
akutansi keuangan dan memungkinkan pencerminan tradisi lama yang berbeda dari riset akutansi
keperilakuan dalam bidnag audit. Riset akutansi keperilakuan dalam akutansi manajemen melakukan
investigasi atas seluruh variabel lingkungan dan organisasional yang telah diidentivikasi sebelumnya dan
riset mendatang diharapkan akan meningkatkan perluasan pengetahuan yang mendasari hubungan dan
pengujian dalam konteks yang baru.
Riset akutansi keperilakuan dalam bidang akutansi manajemen cenderung fokus pada variabel lingkungan
dan organisasional yang mengandalkan teori agensi, seperti insentif dan variabel asimetri informasi.
Domain pengetahuan khusus merupakan karakteristik akutansi manajemen dan si pembuat keputusan
yang menggunakan akutansi manajemen. Dengan variabel lingkungan organisasional yang menyarankan
perluasan riset akutansi keperilakuan dalam bidang akutansi manajemen dengan variabel-variabel tersebut

yang meliputi interaksi dengan variabel kognitif. Riset akutansi keperilakuan dalam bidang akutansi
manajemen hanya merupakan subbidang akutansi yang telah memperluas pengujian dari pengaruh fungsi
akutansi terhadap perilaku.
4. Sistem Informansi Akutansi
Keterbatasan riset akutansi keperilakuan dalam bidang sistem informasi akutansi adalah kesulitan
membuat generalisasi meskipun berdasarkan pada studi sistem akutansi yang lebih awal sekalipun.
Informasi akan mendorong penggunaan keunggulan teknologi saat ini, pencitraan data, jaringan, dan
akses data dinamis melalui sistem pengoperasian menyarankan pertimbangan atas peluang riset akutansi
keperilakuan dalam bidang sistem akutansi.
10
Dengan semakin luasnya penggunaan jaringan komputer untuk komunikasi interpersonal, interaksi
kelompok dan pengiriman informasi mengusulkan bahwa terdapat dua bidang riset akutansi keperilakuan
dalam sistem akutansi yang relevan terdapat subbidang akutansi yang lain. analisis alternatif dari betukbentuk presentasi informasi adalah untuk komunikasi yang efektif dan efisien. Pemakai terhadap format
sistem informasi yang lebih umum menunjukkan hasil bidang ini untuk akutansi keperilakuan.
Potensi riset lainnya adalah peran dari sistem pendukung kelompok dalam memfasilitasi proses
kelompok. Sebagai contoh, kemungkinan yang paling signifikan dari perubahan teknologi untuk kantor
akutan pada beberapa tahun mendatang akan menguntungkan kecanggihan komunikasi jaringan.
5. Perpajakan
Riset akutansi keperilakuan dalam bidang perpajakan telah memfokuskan diri pada kepatuhan dengan
melakukan pengujian variabel psikologi dan lingkungan. Variabel-variabel yang sering diuji dengan hasil
campuran menyarankan bahwa pelaku kepatuhan pajak adalah hasil yang kompleks. Riset akutansi
keperilakuan dalam bidang perpajakan saat ini telah membentuk bermacam-macam perilaku pengetahuan
dari riset akutansi keperilakuan dalam bidang audit.
Pada teori agensi, riset menemukan bahwa subjek memilih sendiri kontrak pekerjaan menurut faktor yang
sesuai dengan konpensasi yang diharapkan. Wajib pajak dapat mempengaruhi kemungkinan audit secara
efektif melalui keputusan pelaporannya. Potensi lain untuk riset akutansi keperilakuan dalam bidang
perpajakan dan audit merupakan studi perilaku yang jarang dilakukan. Audit oleh kantor pajak jarang
dilakukan untuk wajib pajak, tidak seperti audit atas kesalahan laporan keuangan oleh auditor. Terdapat
pengecualian bahwa berbagai literatur psikologi tersebut tidak ditujukan untuk riset khusu pada bidang
perpajakan atau audit.

E.

Pertumbuhan riset akutansi

Indikasi penting dari pertumbuhan minat dalam pendekatan perilaku teradap akutansi merupakan
pengaruh dari paradigma perilaku. Untuk menangani dimensi ini, Dyckman (1998) memelih untuk
menentukan presentase penulisan dan artikel yang diterbitkan oleh dua jurnal utama, yaitu journal of
accounting research dan the accounting review. Secara substansial, presentase penulis artikel lebih besar
daripada pesentase yang berhubungan dengan staf pengajar sebagai calon perilaku. Terdapat beberapa
kombinasi dari tiga faktor utama berikut.

a.
Para peneliti yang menggunakan paradigma perilaku menghasilkan lebih banyak artikel yang
diterbitkan oleh kedua jurnal diatas.
b.
Beberapa artikel yang ditulis oleh para peneliti yang sementara dilakukan dalam bidang ini, belum
ada calonnya.
c.

Minat pembaca pada bidang ini telah meningkat.

Secara keseluruhan, hasil ini menyatakan bahwa pengaruh terhadap literatur di atas dapat diperkirakan
berdasarkan jumlah identifikasi staf pengajar dengan minat perilaku.
11
F.

Perkembangan Riset Akuntansi Keperilakuan

Wawasan dalam riset akuntansi keperilakuan saat ini bisa diperoleh dengan dua cara, yaitu:
1.

Survei publikasi utama dari riset akuntansi keperilakuan

2.
Klasifikasi topik artikel yang dipublikasikan dan pemetaan publikasi terhadap model perilaku
individu.
Bumper (1993) telah mengidentifikasi riset akuntansi keperilakuan yang diterbitkan selama periode 19871991 di Accounting Review, Comtemporery Accounting Research, Journal of Accounting Research,
dan Accounting, Organization, and Society. Jurnal-jurnal tersebut umumnya dipilih karena merupakan
jurnal yang paling banyak menerbitkan bagian riset ini dengan metodologi yang terbuka untuk seluruh
subjek akuntansi. dari keempat jurnal tersebut, Accounting, Organization, and Society merupakan jurnal
yang isinya cenderung fokus pada riset akuntansi keperilakuan meskipun jurnal tersebut juga menerbitkan
jenis riset lainnya. Dewasa ini, tema yang paling banyak digunakan dan diterbitkan dalam Behavioral
Research in Accounting dalam bidang riset keperilakuan adalah audit. Secara relatif, riset keperilakuan
dalam bidang audit juga paling baik dipresentasikan dalam artikel yang secara umum merupakan hampir
setengah dari total penerbitan Behavioral Research ini Accounting. Selanjutnya, urutan berikutnya
diduduki oleh bidang akuntansi manajemen yang hampir mencapai seperempat dari tota penerbitan,
sementara sisanya merupakan subbidang lainnya. Spesialisasi dalam jurnal menjadi lebih penting
untuk Behavioral Research ini Accounting.
Dyckman (1993) telah menggunakan Hasselback’s Directory untuk menghitung jumlah staf pengajar
akuntansi yang dipilih dan mengidentifikasi mereka yang mempunyai minat terhadap bidang perilaku
selama tiga periode.

12

Kesimpulan
Pada tahun 1970-an terjadi pergeseran pendekatan dalam riset akutansi. Dikarenakan pendekatan
normatif tidak dapat menghasilkan teori akutansi yang digunakan sehari-hari. Terdapat beberapa
paradigma metodologi riset akutansi keperilakuan diantaranya paradigma fungsionalis, paradigma
interpretif, paradigma strukturalisme radikal, paradigma humanis radikal, paradigma posmodernisme, dan
paardigma akutansi kritis. Peluang riset akutansi keperilakuan pada lingkungan akutansi yaitu audit,
akutansi keuangan, akutansi manajemen, sistem informasi akutansi, dan perpajakan. Wawasan dalam riset
akutansi keperilakuan bisa diperoleh dengan dua cara yaitu survai publikasi utama dari riset akutansi
keperilakuan dan klasifikasi topik artikel yang dipublikasikan dan pemetaan publikasi terhadap model
perilaku individu. Dari uraian diatas dapat masing-masing paradigma metode sebagaimana yang
dipaparkan fungsionalis sebagai paradigma dianggap metodologi yang paling akuntansi mainstream ini
diangg memisahkan antara subyek den ipahami keunggulan dan kelemahan pada metodologi penelitian
dalam akuntansi keperilakuan leh Dillard dan Becker (1997). Paradigma ang paling dominan dalam
akuntansi karena obyektif (ilmiah). Namun sebagai ilmu sosial, p juga mempunyai kelemahan karena
dengan an obyek penelitian, maka akuntansi sebagai ilmu sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya
(sebagai produk sosial) tidak dapat memahami arti lingkungan yang mempengaruhinya. Beberapa
metodologi alternatif muncul sesuai dengan perdebatan aliran-aliran dalam filsafat yang telah ada
semenjak jaman pra Sokrates. Burrell dan Morgan (1979) dengan karyanya yang berjudul Sociological
Paradigm and Organizational Analysis berhasil memetakan pemikiranpemikiran teori organisasi ked
interpretif, humanis radikal, da] Morgan tersebut menjadi dasar r lam empat paradigma, yaitu
fungsionalis, i strukturalis radikal. Pemikiran Burrrel dan jukan dalam bidang akuntansi dan ilmu sosial
lainnya. Salah satunya nampak dalam artikel Dillard dan Becker (1997) yang mengkaitkannya dengan
akuntani keperilakuan yang menggunakan pendekatan sosiologi organisasional. Artikel tersebut
memberikan gambaran yang lebih detail tentang argumentasi teori dan penelitian-penelitian empiris
dalam setiap paradigma yang ada.

Saran
Perlu adanya metode penilitian lebih lanjut akan upaya peningkatan diskusi terhadap
pemuda mengenai filosofi riset dalam bidang Keperilakuan Akuntansi sebagai salah satu cara
memaksimalkan potensi genarasi dalam dirinya.

13

DAFTAR PUSTAKA
Hudayati, Ataina. 2002. Perkembangan Penelitian Akutansi Keperilakuan: Berbagai Teori Pendekatan
dan Pendekatan yang Melandasi. Jurnal Akutansi dan Auditing Indonesia. Vol.6. No.2: 81-96.
Kuang, Tan Ming dan Se Tin. 2010. Analisis Perkembangan Riset Akutansi Keperilakuan Studi Pada
Jurnal Behavioral Research In Accounting (1998-2003). Jurnal Akutansi. Vol.2, No.2: 122-133.
Lubis, Arfan Ikhsan. 2014. Akutansi Keperilakuan. Edisi 2. Salemba Empat. Jakarta.

14

Judul: Makalah Akuntansi Keperilakuan "filosofi Riset Dalam Bidang Akuntansi Keperilakuan"

Oleh: Namira Aninda


Ikuti kami