" Integrasi Paradigma Akuntansi: Refleksi Atas Pendekatan Sosiologi Dalam Ilmu Akuntansi "

Oleh Heristiawati Sekar Widoretno

18 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip " Integrasi Paradigma Akuntansi: Refleksi Atas Pendekatan Sosiologi Dalam Ilmu Akuntansi "

Ulasan Jurnal

“Integrasi Paradigma Akuntansi: Refleksi atas Pendekatan Sosiologi
dalam Ilmu Akuntansi”
Penulis: Aji Dedi Mulawarman
Jurnal: Jamal Vol 1 No.1 tahun 2011
Oleh:
Heristiawati Sekar Widoretno (PMA BB)
166020301111033
Ringkasan Jurnal
Selama ini, ilmu (science) yang telah kita ketahui adalah seperangkat teori-teori
beserta konsep yang telah ditetapkan yang dianggap sudah solid, absolut, dan paling benar.
Seringnya, ilmu hanya terpatok pada satu cara pandang saja. Ambil contoh pada akuntansi.
Oleh sebagian besar praktisi maupun akademisi, akuntansi sering dimaknai, dipahami,
dijabarkan dan dideskripsikan hanya dari satu cara pandang saja, yaitu cara pandang yang
berasal dari filsafat positivisme oleh Aguste Comte. Cara pandang inilah yang disebut
sebagai aliran “mainstreem”, dimana yang berlaku umumlah yang memang dianggap paling
benar, yang empiris, yang kongkret, yang benar-benar ada lah yang diakui sebagai suatu
kebenaran. Para penganut aliran ini berfikiran bahwa alirannya lah yang paling benar,
menyangkal berbagai aliran yang tidak sejalan dengan alirannya
Dari ketidakpuasan terhadap aliran mainstreem itu tadi, maka muncullah suatu istilah
yang disebut “paradigma”, yang sebenarnya, definisi dari kata itu berbeda-beda dari setiap
ilmuwan sekalipun. Sebenarnya, munculnya paradigma sendiri adalah suatu bentuk protes
dari cara pandang “ilmu” sebelumnya yang dianggap telah absolut kebenarannya. Disini
munculah aliran “non-mainstreem”, menganggap bahwa ada berbagai macam cara pandang
untuk dapat memahami, menggambarkan, menjelaskan dan mendeskripsikan suatu fenomena
atupun suatu simbol secara utuh. Setiap paradigma punya kelebihan dan kekurangannya
masing-masing, malah justru dapat melengkapi satu sama lain, dan sifatnya memang bukan
saling meniadakan.
Para ilmuan yang merumuskan paradigma keilmuan barat (dikatakan “barat” karena
memang para pemikir dan pencetusnya adalah orang-orang barat yang pada kenyatannya,
secara tidak langsung, melalui keilmuan sekalipun, telah teradopsi pada kehidupan
masyarakat Indonesia yang merupakan orang “timur”) pun memiliki pendapat masingmasing, seperti Burrel dan Morgan (1979) yang mengatakan bahwa paradigma keilmuan
barat tersusun dari empat paradigma, yaitu fungsionalisme, interpretif, radikal humanis dan
radikal struktural. Lain halnya dengan Chua (1986) yang berpendapat bahwa hanya ada tiga
paradigma, yaitu positif, interpretif dan kritis. Begitu juga dengan Muhadjir (2000) membagi
paradigma menjadi positivis, post-positivis (kombinasi interpretif dan kritis), dan postmodernis. Mulawarman menjelaskan lebih lanjut mengenai paradigma dalam lima kelompok,
yaitu:

1. Paradigma positif
Paradigma ini secara tegas membedakan antara subyek dan obyek. Pengetahuan
didapat dari meniadakan subyektivitas terhadap obyek, sehingga obyek dapat
ditemukan realitasnya secara murni dan berdiri sendiri. Penelitian dengan paradigma
ini selalu menggunakan ukuran-ukuran yang akurat dengan kuisioner sebagai
instrumen untuk memperoleh data. Metodologi yang digunakan adalah metodologi
kuantitatif dengan teknik statistik.
2. Paradigma Interpretif
Paradigma ini menghantarkan peneliti untuk memahami. Dalam memahami dan
memaknai suatu fenomena ataupun simbol, peneliti dijadikan sebagai aktor atau
pemeran didalam suatu kelompok sosial. Sehingga, peneliti dapat memahami dan
menginterpretasikan suatu fenomena atupun simbol berdasarkan cara pikir pelaku.
Berbeda dengan paradigma positif, paradigma ini sangat kental dengan subyektifitas.
3. Paradigma kritis
Paradigma ini sangat bertentangan dengan paradigma positif. Paradigma ini melihat
pada realitas sosial dan perspektif kesejarahan. Paradigma kritis pun memakai
pendekatan obyektivitas dan subyektivitas.
4. Paradigma postmodernisme
Paradigma ini muncul karena kekecewaan terhadap modernitas. Karakter utamanya
adalah dengan paradigma ini, peneliti menciptakan suatu dekonstruksi dalam semua
bentuk logosentrisme yang dibuat oleh modernisme, dimana disposisi subyek dan
obyek ditolak.
5. Paradigma religius
Paradigma religius (Islam) didefinisikan oleh empat tokoh muslim (Maulana AlMaududi, Syaikh Atif Al-Zain, Sayyid Qutb dan Seyyed Naquib Al-Attas) sebagai
pandangan hidup Muslim tentang realitas dan kebenaran serta hakikat wujud yang
berakumulasi dalam alam pikir dan memancar dalam seluruh aktifitas kehidupan
manusia. Paradigma ini bermuara pada Tuhan, Allah. Apa yang benar apa yang salah,
apa yang baik apa yang buruk, mengetahui, memahami, dan menjelaskan segala
sesuatu dengan berdasarkan pada kitab suci Al-Qur’an dan hadist. Paradigma religius
memandang akuntansi sangat sarat akan nilai. Akuntansi selama ini sarat akan nilai
egoistik: self interest, kekuasaan dan relatifitas.
Pendapat Pribadi Mengenai Jurnal
Jurnal ini unsur subyektifitasnya sangat tinggi. Dikatakan sangat tinggi karena
memang jurnal ini berusaha untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomena yang terjadi
dari sudut pandangnya sendiri. Namun, sekali lagi, sudut pandang setiap orang pun tidak bisa
disalahkan, karena memang setiap orang memiliki peranan dalam kehidupan sosial. Nilainilai benar-salah baik-buruk akhirnya menjadi suatu kerelativan.
Selain itu, yang menurut saya aneh adalah, bagaimana ceritanya lirik-lirik lagu bisa
dimasukkan ke dalam suatu jurnal? Ini sangat aneh menurut saya. Namun, kembali lagi,
“aneh” bukan berarti salah, “aneh” bukan berarti buruk. Tidak sama sekali. Hal ini lah yang
membuat jurnal yang seperti ini menjadi menarik untuk dibaca, mengingat selama ini kita

selalu dicekoki dengan jurnal-jurnal yang bentuknya itu-itu saja (yang mana inilah yang
dianggap “normal”).
Ada satu topik pembahasan p ada jurnal ini yang sangat berkesan bagi saya, dan
mungkin dapat dikatakan “sealiran” dengan pemikiran dan keyakinan saya, yaitu paradigma
religius dalam penelitian akuntansi. Saya terbawa kembali pada masa-masa saya menyusun
skripsi tahun lalu, tahun dimana aliran pemikiran saya berubah. Saya ceritakan sedikit. Pada
waktu itu saya ingin meneliti, apa sih makna laba jika dilihat dari perspektif islam? Laba
dalam akuntansi adalah sesuatu yang sensitif, selalu menjadi isu yang seksi. Selama ini saya
diajarkan dalam bangku kuliah bahwa laba hanya diartikan dan dimaknai sebagai selisih
antara pemasukan dan pengeluaran dan dimaknai sebagai materi untuk memenuhi kebutuhan
dan tujuan kehidupan manusia. Sudah. Itu saja. Laba selama ini dimaknai sebagai materi.
Lalu, apakah tidak ada bentuk lain? Tidak ada makna lain? Pada waktu itu sebenarnya lebih
pada rasa keingintahuan saya, ya kebetulan saya beragama Islam, maka saya ingin tahu
bagaimana agama saya memandang laba, murni karena saya ingin tahu, rasanya tidak seperti
penelitian. Dan hasilnya pun, masyaAllah sekali. Melalui penelitian skripsi saya itu, secara
tidak langsung, saya melakukan perjalanan spiritual secara religius. Tidak dapat
terdeskripsikan rasanya. Sampai pada satu titik dimana saya yakin bahwa, “ya. Allah berhak
ada dalam setiap seluk beluk kehidupan, sudah waktunya memang Allah “diadakan”, tak
terkecuali dalam penelitian. Saya ingat sekali, pada waktu saya ujian komprehensif, saya
dibabat habis-habisan oleh dosen penguji saya, dan dikatakan bahwa “penelitian mu ini tidak
ada kontribusinya”. Namun alhamdulillah, kedua dosen penguji saya berbaik hati dan
memberi arahan-arahan selanjutnya.
Kembali pada konsep paradigma religius. Akan banyak timbul pernyataan, “agama itu
kan keyakinan. Ya sangat tidak cerdas dan bodoh jika dimasukan ke dalam penelitian ilmiah,
tidak ada gunanya”. Ya kembali lagi pada keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Ada
peneliti yang memang meyakini bahwa agama tidak cocok dimasukkan penelitian ilmiah,
karena takut tidak “ilmiah” lagi. Ya sah-sah saja bagi mereka yang meyakini itu. Namun,
bagi peneliti yang meyakini bahwa Allah adalah tujuan utamanya dalam berkehidupan,bahwa
dirinya ini fana, bahkan tidak ada dirinya dalam dirinya, tidak ada “aku” dalam aku, yang ada
hanya Allah, diri ini adalah Allah, maka pemisahan antara Allah dengan kehidupan, termasuk
penelitian, adalah suatu “penyiksaan”, suatu “pelecehan”, suatu “keegoisan”. KEDONYAN.
Allah itu sebenarnya selalu ada dalam seluk-beluk kehidupan kita, namun manusia saja yang
malah justru ingin meniadakan Allah. Setidaknya selama ini, itulah yang saya rasakan. Justru
adalah suatu kebodohan dan kesia-siaan jika ilmu pengetahuan yang kita buru dalam dunia
ini tidak mampu “menyatukan” diri kita pada Allah. Sia-sia.
Jurnal ini makin membantuk pemikiran saya untuk dapat lebih terbuka dengan
berbagai sudut pandang dalam memaknai, memahami, dan menjelaskan suatu fenomena
ataupun simbol. Secara keseluruhan, jurnal ini menarik dan unik. Topik paradigma religius
lah yang paling menonjol. Ya tak apa, toh diantara berbagai macam paradigma yang
dijelaskan, saya paling sepemikiran dengan paradigma tersebut. Terutama karena makin
meningkatkan keyakinan saya untuk terus “mengadakan” Allah dalam seluk beluk kehidupan
saya, memancarkan kasih sayang Allah terhadap umat manusia melalui penelitian akuntansi
dari paradigma religius.

Judul: " Integrasi Paradigma Akuntansi: Refleksi Atas Pendekatan Sosiologi Dalam Ilmu Akuntansi "

Oleh: Heristiawati Sekar Widoretno


Ikuti kami